Prince Devil

Inspirasi dari berbagai Komik ( bila ada kesamaan tempat, nama dan sebagainya, memang disengaja )

Author : Naruhina Sri Alwas
Naruto milik Masashi Kishimoto Sensei
Pairing : NaruHina
Ganre : -
Rated : T+ semi M
Warning : Typo(s), EYD, OOC, AU, Dll.

.

.

.

Bagaimana jadinya bila keluargamu bangkrut, dan semua hutang keluargamu harus kau bayar dengan tubuhmu?

.

.

.

Chapter sebelumnya

"Diamlah." bisik Naruto ditelinga Hinata, membuat tubuh Hinata menegang.

"Ta-Tapi..." Hinata mulai ingin lepas dari cengkraman Naruto, namun lagi-lagi Naruto tidak bisa ditolaknya.

"Suttt..." telunjuk kanan ditaruh diatas Bibir Hinata.
"Diamlah, nanti ketahuan." bisik Naruto menggoda Hinata, menyentuh tubuh Hinata yang sensitif.

"Hai, Kalian sedang apa?!" seru seseorang yang tengah berjalan di koridor sekolah, sepertinya seorang guru, yang tengah memergoki ulah sang Namikaze muda.

Chapter 2

"Lagi-lagi kalian... Apa kalian tidak tahu, ini jam berapa!?" ujar orang yang menghentikan mereka.

"Tahu?!" ujar Naruto santai.
"Lalu kenapa?" seringainya terbentuk diwajah tampannya

.

"Cih... Berani sekali kau meremehkanku!" ujar guru yang kiler disekolah KHS.

"Na-Naruto." Hinata mundur dibelakan Naruto, dia takut bahwa guru itu akan menghukum mereka.

"Lalu?" satu alis Naruto naikan, dan dia dengan santainya meninggalkan guru tersebut.

"Hai!" seru guru itu saat melihat gelagat Naruto yang akan pergi begitu saja.
"Dasar SAMPAH!" teriak guru tersebut saat Naruto berjalan meninggalkannya.
Dan sepontan kaki Naruto berhenti, dan membalikan tubuhnya kearah guru tersebut.

"Kau bilang apa?" kepala Naruto tertunduk, dan suaranya dia rendahkan.

"Cih, sudah malas, tuli pula..." Sindir guru itu menyeringai senang, karena melihat murid yang sangat sulit di takhlukan tertunduk takut, begitu pikirannya.

"Berani sekali kau..." ujar Naruto mengangkat kepalannya sambil tersenyum, tepatnya menyeringai kearah guru disekolahnya.
"Berkata aku 'sampah'!" ujar Naruto kesal, dan menatap tajam orang didepannya.

"Na-Naruto-kun!?" Hinata benar-benar dibuat takut, apa mereka akan benar-benar dihukum oleh guru itu, tapi sepertinya Hinata tidak perlu merasa takut bila berada disamping Naruto. Tapi, harus merasa takut kalau berada disamping prince devil ini. Karena sangat mengerikan bila dia benar-benar mengamuk.

"Lalu? Kau ingin dibilang apa!?" ujar guru itu lagi sambil mengantongi tangannya.

"Aku tak butuh ucapanmu!" ujar Naruto.
"Dan kau mengatakan aku sampah? Berarti kau lebih buruk dari sampah!" ujar Naruto lagi, sambil menyeringai senang, saat melihat tatapan guru itu yang akan marah padanya.

"Kau! Berani sekali..." ujar guru tersebut berjalan kearah Naruto, namun Naruto segera menyeret Hinata dari koridor yang mulai ramai karena ingin melihat perdebatan mereka.

"Hinata... Ayo!" Naruto menarik tangan Hinata, dan menerobos kumpulan manusia yang tengah menonton mereka.

.

"Na-Naruto-kun?" ujar Hinata saat melihat tempat apa yang didatangi Naruto dan dirinya.

"Apa?" cemberut Naruto dan berjalan kearah tempat duduk yang sudah tersedia.

"I-Ini diatas gedung sekolah... Kita Ti-tidak boleh ada disini." ujar Hinata sambil menunjuk lantai yang dia pijaki.

"Memangnya siapa yang akan melarang kita... Hinata!" ujar Naruto, lalu duduk dibangku yang terbuat dari campuran semen itu.

Menepuk-nepuk tempat disampingnya, Naruto menyuruh Hinata untuk duduk disampingnya. Dan Hinata yang melihat itu segera duduk disamping Naruto.

"Ki-kita benar-benar bolos?" tanya Hinata, dan mendapatkan seringai menyebalkan diwajah Naruto.

"Kau sudah tau jawabannya." dan detik itu juga Naruto menyandarkan kepalannya diatas pangkuan Hinata.

"Tapi... Apa tidak apa-apa?" gumam Hinata, sambil memandang wajah Naruto yang mulai tertutup, dan menghela nafas berat.

"Jangan melakukan itu lagi!" ujar Naruto yang masih menutup matanya.

"Melakukan apa?" tanya Hinata yang heran karena dia tidak mengerti apa yang Naruto maksudkan.

"Menghela Nafas didepan wajahku yang tampan ini." ujar Naruto sambil membuka matanya, membuat orang didepannya, ingin tertawa terbahak-bahak.

"Hamm... Haha..." Hinata berusaha menahan tawanya dengan kedua tangannya yang menutup mulutnya, namun lagi-lagi dia tidak bisa menahannya, sehinggal lolos begitu saja suara tawa, yang geli karena mendengan kenarsisan tuannya.

"Kau!" ujar Naruto langsung duduk, dan menatap Hinata yang sedang menahan tawa.

"Ha...ha... Go-gomen..." ujar Hinata sambil menahan tawa yang akan pecah.

"Berhentilah tertawa!" ujar Naruto, sambil cemberut, sambil memandang wajah Hinata.

"Go-go hahaha..." tawa Hinata benar-benar pecah, tidak mampu dia tahan lagi.

Naruto yang melihat itu menghela nafas, lalu menarik wajah Hinata kearahnya, dan detik selanjutnya tawa Hinata dihentikan dengan ciuman sekilas Naruto.

Blussh

Wajah Hinata memerah karena ulah Naruto.

"Sudah puas tertawanya?!" ujar Naruto menyeringai, dan ingin menatap wajah merah Hinata, entah demam atau Hinata kepanasan, itulah pikir Naruto.

"Go-gomen." ujar Hinata sambil menunduk, menahan getaran perasaan dihatinya.

"Kau tahu, tadi aku sedang kesal, kau marah menghela nafas didepan wajahku." ujar Naruto, membuat Hinata menatap wajah Naruto.

"Eh?" heran, Hinata bener-benar dibuat binggung oleh Naruto.

"Dasar... Kau tidak lihat guru menyebalkan tadi meremehkanku!" ujar Naruto kesal, karena Hinata tidak menangkap apa yang dimaksudkannya.

"Owh, masih yang tadi toh..." ujar Hinata santai, dan menatap langit-langin sambil bertumpu dengan kedua tangannya yang jadi tumpuan dibelakangnya.

"Iya, berani sekali dia bilang aku 'sampah'!" Naruto sangat kesal atas apa yang diucapkan guru terkiler di sekolahnya.
"Kalau saja aku bisa melenyapkannya, aku pastikan dia lenyap olehku!" ujar Naruto lagi, sangat bersemangat.

"Ka-kau jangan melakukan itu, bila dia lenyap siapa yang akan menjadi objek kebencian orang lain?" ujar Hinata menaseati, sepertinya Hinata tidak tahu bahwa dia mulai menjerumuskan Naruto, agar dia tidak perlu menghabisi, atau melenyapkan guru tersebut, namun tetap menjadi tempat kebencian para murid di KHS.

"Benar juga yah..." ujar Naruto menerawang.
"Kau aku seorang author, dan mendapatkan orang seperti guru kiler itu, mungkin aku akan dihina lebih banyak lagi yah?!" ujar Naruto membuat Hinata binggung.

"Author?" heran Hinata, mencoba bertanya pada Naruto.

"Author, seorang penulis amatir, masih kalah dengan aku yang hebat ini." ujar Naruto kalem, dengan kesombongan tingkat dewanya.

"Eh, Na-Naruto-kun tahu dari mana, author itu seorang penulis?!" lagi-lagi Hinata bertanya dengan polosnya kearah Naruto.

"Kau ingin ku bunuh Hinata!" Ujar Naruto menyeringai saat Hinata mulai ketakutan karena ulahnya.

"Ti-Tidak..." ujar Hinata yang memposisikan tubuhnya meringkuk ketakutan. Sebenarnya Naruto hanya ingin menggertak, dan Hinata terpancing untuk takut.

"Bagus... Jadi secara singkat, ada author dan ada reder." ujar Naruto memberi tahukan kepada Hinata, sesuatuhal yang dia tahu karena dia sering membaca cerita-cerita karangan author terkenal, didunia perFanfickan.

"Iya?" Hinata masih mendengarkan cerita Naruto.

"Mereka menulis cerita, kau ingat ucapanku setahun yang lalu... Hinata?!" ujar Naruto melirik Hinata yang sedang berpikir.

"Kata-kata yang mana?" heran Hinata sambil menatap wajah Naruto.

"Seorang author tidak mendapatkan material apapun untuk suatu cerita, namun mereka sering mendapatkan kritikan pedas dari reder yang kurang suka dengan alur ceritanya, namun ada reder juga yang mendukun author tersebut untuk maju." ujar Naruto menjelaskan.

"Jadi, ternyata ada juga yah orang yang tidak menghargai karya orang lain." ujar Hinata sambil tersenyum.

"Mereka bukan tidak menghargai, tapi mereka hanya mencari sensasi, dan mencari perhatian, agar author tersebut memperhatikan mereka." Naruto menatap Hinata, untuk melihat ekspresi yang terpampang jelas diwajah Hinata, kaget, binggung tercetak jelas diwajah ayu Hinata.

"Ke-kenapa mereka melakukan itu?" Hinata langsung merespon dari kalimat Naruto yang sedikit dia mengerti.

"Kalau manusia yang egois, dengan pemikiran egois, hidup didunia yang egois, akan jadi apa Hinata?!" ujar Naruto bertanya lagi kepada Hinata, tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.

"Akukan sedang bertanya, kenapa tidak menjawab dulu pertanyaanku." kesal Hinata.
"Dan lagi perumpamaan apa yang Naruto-sama gunakan!" sambil meremas rok yang digunakannya, Hinata cemberut.

"Haha... Kau ini manis sekali Hinata!" seringai Naruto terlihat, saat melihat wajah manis Hinata, yang tengah cemberut didepannya.

"Ja-Jangan tertawa Naruto-sama..." ujar Hinata sambil menutupi mukannya yang memerah.

"Apa hak mu Hinata!" senyum lagi-lagi melekat diwajah tampan Naruto.

"Ta-tapi..." lagi-lagi ucapan Hinata terpotong karena tarikan yang Narut lakukan.

Cup

Satu kecupan mendarat di pipi kanan Hinata, membuat orang yang dikecup merona hebat.

"Ka-kau melakukannya lagi..." ujar Hinata sambil menyentuh bagian yang dikecup.

"Kau ingin aku mengecup disini lagi." sambil menyentuh bibir Hinata, Naruto tertawa lepas, sepertinya dia sudah lupa dengan kekesalannya.

"Ta-tapi aku tidak suka." ujar Hinata sambil memalingkan mukannya kesal.

"Owh... Jadi kau suka aku mengecup dibibirmu?" pertanyaan Naruto membuat Hinata merona hebat.

"Jangan katakan apapun lagi, aku mau pulang..." Hinata langsung berlari menuju pintu satu-satunya atap sekolah, dengan wajah yang merona dan mendengarkan tawa yang sangat keras dari arah tuannya, Hinata sangat malu dibuatnya.
"Dan jangan menertawakanku!" sebelum pintu ditutup Hinata berteriak lantang pada tuannya itu.

"Kau sudah berani Hinata!" ujar Naruto sambil berdiri dan bersiap-siap berlari mengejar Hinata, Hinata yang melihat segera menutup pintu dan berlari sekuat tenaga untuk bersembunyi dari Naruto.

"Hai! Jangan kabur kau Hinata." sambil membuka pintu yang telah tertutup Naruto melai mengejar Hinata, mengeliling sekolah yang sudah ditinggal penghuninya karena waktu telah menunjukan pukul 5 sore.

T.b.c

Maaf gak ada lemon, atau es jeruknya... #wkwkwk

Naru lagi nyari rival buat Naruto nih...

Menurut senpai-senpai, cocokan siapa buat chapter depan sebagai rival untuk memperebutkan Hinata.

1. Kiba
2. Sai
3. Gaara
4. Sasuke

Author newbi ini tidak terlepas dari kesalahan, jadi mohon dibantu untuk memperbaikinya.

Ada kata menyerah didalam kamus, tapi ada juga kata pantang menyerah...

Naru paling suka dipuji, tapi bukan berarti naru nggak suka dihina...#digamvar

Maaf... Ternyata updetnya super kilat, sekilat petir yang menggelegar...#ditimpuk

Naruhina Alwas Shipper