Jangan karena ada adegan sasuino sedikit udah pada ngambek. Kalo kayak begitu mendingan cari fict lain yang udah pasti sasusaku dan BUKAN sad ending. Juga untuk para flamers, kalo menurut kalian fict ini sampah, berarti review yang anda kirim dengan bahasa kasar itu apa?

Kalo ga suka mendingan ga usah dibaca. Simple, kan?

.

.

Naruto and all characters belongs to Masashi Kishimoto

.

.

Half A Heart belongs to me, Ezra Malik

.

.

Editor, Meguharu Yuka

.

.

Chapter 3

.

.

(Don't like don't read)

.

.

Enjoy! :3

.

.

Pagi yg cerah. Kicau burung-burung menyapaku. Kelopak bunga sakura yang berguguran karena tertiup angin dan remang sinar mentari yang menerobos di antara ranting-rantingnya kembali menentramkan dan menghapus bekas-bekas retakan jiwaku yg merana.

Aku melangkah ringan di atas rerumputan hijau. Harum mawar putih membangkitkan kembali kenangan-kenangan yang telah lama terabaikan. Tiga tahun yang lalu di taman inilah aku bertemu dengan Sasuke. Hari ini, tepat hari jadi kami yang ketiga.

Andai saja Sasuke ada disni. Banyak hal yang ingin kukatakan. Aku ingin kembali menghabiskan waktu-waktuku bersamanya. Berjalan, berbicara, tertawa, ataupun menangis dalam pelukannya. Apapun yang kulakukan bersama Sasuke semuanya sangat berarti.

Setelah cukup lama berjalan, aku beristirahat di bangku taman yang terletak tepat di bawah pohon sakura. Kupejamkan kedua mataku erat-erat. Membayangkan kalau Sasuke juga disni saat ini.

"Sakura.."

Aku terkejut ketika ada seseorang yang memanggil namaku. Seketika, kubuka kedua mataku. Dan untuk kedua kalinya aku kembali terkejut.

"Itachii!" Teriakku histeris.

Wajah Itachi tepat di hadapanku saat ini dan hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Spontan aku berdiri. Dengan membelalakkan mata, aku mendampratnya habis-habisan.

Itachi hanya tertawa. Ia merasa menang karena berhasil mengejutkanku. "Sudahlah, Sakura. Kau juga dulu sering mengagetkanku, bukan? Anggap saja ini balsan." ujarnya dengan mata berair dan nafas terengah-engah karena tertawa.

"Sedang apa kau disini, hah?!" Aku menjawab dengan galak.

Itachi menaikkan sebelah alisnya. "Aku? Hmm.. Aku sedang mencari kadal pink pemakan kotoran tikus." Senyum jahil mengembang di wajah Itachi.

"Urusai!" Pipiku bersemu merah. Itachi kembali tertawa. "Enyalah kau!" teriakku lagi.

Aku benar-benar gemas sekarang. Rasanya aku ingin meninju keras wajahnya dan merontokkan gigi-giginya. Tapi, aku tak menyangka Itachi masih mengingat kadal pink pemakan kotoran tikus. Sebenarnya itu hanyalah mahluk bualan. Dulu aku benar-benar takut dengan mahluk itu. Saat kanak-kanak, aku pernah bermimpi bertemu dengan mahluk itu di taman ini-taman yang memang dari dulu sering kukunjungi. Kuceritakan mimpi aneh itu kepada Itachi. Karena itu, ia sering kali mengejekku dengan nama mahluk yang tak terbayang bentuknya itu.

Padahal sudah lewat dua belas tahun dari masa-masa menyenangkan tersebut. Saat dimana aku dan Itachi masih sangat dekat, baik sebagai tetangga, teman sekelas sekaligus sahabat. Namun, semenjak SMA kami jarang bertemu. Dan ketika kuliah, kami juga sibuk dengan tugas masing-masing. Ini adalah pertemuan pertama semenjak empat tahun yang lalu. Mengingat itu rasa kesalku hilang seketika.

Tiba-tiba sebuah lengan merangkulku hangat. "Hoi, kenapa jadi melamun?"

Aku memalingkan wajahku, seolah mengatakan bahwa aku masih kesal.

"Ohh, jangan begitu. Aku tau Sakura, kau pasti sangat gembira karena bisa bertemu lagi dengan Itachi yang tampan ini kan?" Goda Itachi.

Apa? Baru saja aku melupakan rasa jengkelku, dia malah membuatku bergidik geli. Aku melepas rangkulannya dan bersiap-siap pergi. Sebenarya, aku tidak benar-benar akan pergi. Aku hanya ingin sedikit mengerjainya. Namun hal yang tak terduga terjadi. Saat aku akan melangkahkan kakiku pergi, Itachi menggenggam pergelangan tanganku. Ia memelukku dari belakang. "Aku merindukanmu. Sejak berpacaran dengan Sasuke, kau tak pernah peduli lagi denganku." Itachi meletakkan dagunya di pundakku.

Dapat kurasakan dengan jelas hembusan nafasnya yang hangat menembus pori-pori kulitku. Aku menghela nafas dan tersenyum. "Aku juga merindukanmu." Gumamku pelan.

Tp kurasa.. Itachi mendengarnya.

.

.

.

Pagi berlalu. Gelap kembali menyelimuti langit kota Tokyo. Suasana kota di malam hari benar-benar indah, meskipun tak lepas dari kebisingan dan lalu lalang kendaraan. Alunan musik jazz mulai terdengar, memanjakan telinga para tamu cafe yang salah satunya adalah aku, juga Itachi.

Saat aku sedang asyik-asyiknya menikmati suasana malam sembari menyeruput kopi panas, Itachi yang baru kembali dari toilet tiba-tiba saja mengambil cangkir kopiku dan menukarnya dengan jus buah. "Minum jus saja. Lebih sehat." Ujarnya setelah duduk di kursi kosong di hadapanku lalu meneguk kopi panas milikku dengan cepat. Aku hanya memandanginy heran.

Itu kan kopi panas..

Dan benar saja. Dalam hitungan detik, kopi itu kembali dimuntahkannya ke lantai dan mulai mengipas-ngipaskan lidahnya dengan menggunakan tangan. Untung saja lidahnya tidak bengkak karena panas kopi tadi.

"Bodoh. Kau bodoh sekali." Ujarku sambil menahan tawa.

Itachi meringis. "Kenapa kau tidak bilang kalau kopi itu panas, hah? Menyebalkan." Balas Itachi gemas.

"Kau yang menyebalkan. Lagipula kenapa kau tiba-tiba mengambil kopiku? Sekarang kau kena kamarnya, Itachi."

Itachi berdiri. Seperti hendak mengajakku berkelahi. Aku pun tak mau kalah dan ikut berdiri. Kami beradu mulut. Cafe yang semula tenang berubah menjadi gaduh karena ocehan-ocehan kami. Tak ada satupun pegawai cafe yang berani menghentikan kami.

Karena terlalu serius bertengkar, Itachi sampai terpeleset kopi panas yang dimuntahkannya tadi ke lantai. Tidak hanya sampai disitu, ia juga terjerembab sehingga membuat meja di hadapannya ikut terodorong. Aku berusaha menahan agar meja itu tidak menimpaku, namun hal yang tak terduga lagi-lagi terjadi. Karena posisi tubuh bagian atas Itachi yang terlalu mencondong ke depan, Itachi kehilangan keseimbangannya dan alhasil, bibirnya pun mendarat mulus di bibirku.

Sesaat kami mematung dalam posisi seperti ini. Tapi tak lama kemudian aku tersadar dan cepat-cepat mendorong tubuh Itachi menjauh.

Wajah kami memerah. Semakin memerah dan rasanya seperti terbakar kala seisi cafe bersiul-siul ataupun bertepuk tangan.

Sungguh memalukan.

.

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang kami hanya terdiam. Peristiwa tadi membuat kami merasa canggung. Masing-masing mulut kami terkatup rapat. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian, membuat suasana semakin terasa kaku.

Itachi menghela nafas. "Aku tidak tahan lagi.." Ia mendongak menatap langit yang kosong tanpa adanya bintang yang menghias. "Maafkan aku, Sakura. Soal kejadian tadi, aku.. Benar-benar tidak sengaja." Ucapnya sembari tak menatapku.

Aku menoleh kearahnya. Walau hanya sebagian wajahnya yang terlihat. Sebuah ide jail tiba-tiba saja terbesit di benakku. "Lupakan saja. Aku tidak terlalu mempedulikannya." Jawabku ringan. "Lagipula.. Sebenarnya.. Aku sangat senang," lanjutku dengan nada yang terkesan gugup.

Kulirik, Itachi langsung menatapku tak percaya. Ia membelakkan mata dan mulutnya sedikit terbuka.

Aku tertawa lepas. "Wajahmu itu lucu skali, Itachi! Hhaha! Aku hanya bercanda! Kau kan tau, aku masih dengan Sasuke." Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan keras.

Sesaat Itachi mematung. Namun tak lama kemudian dia sudah bersikap normal. "Sakuraa!" Itachi berteriak dengan gemas. Suaranya kencang sekali. Kurasa teriakannya itu sudah mencapai Surga.

Melihat Itachi yang geram, aku segera memasang ancang-ancang untuk berlari. Kutinggalkan dia sendiri di belakang. "Awas kau, Sakura.." Geram Itachi sembari mengejarku.

Kami berlari sepanjang jalan, saling berteriak satu sama lain. Rasanya seperti kembali ke masa anak-anak jika berada bersamanya. Tetapi, tak lama, aku mulai sulit bernafas. Dadaku sesak sekali. Rasa sakit itu kembali menyerangku. Aku berusaha untuk terus berlari, namun sia-sia. Kekuatanku sudah terkuras. Aku terduduk lemas di atas tanah.

Sesaat kemudian Itachi datang. Ia berjongkok di depanku dan menyentuh pipi kananku lembut. Wajah ehem-keriputnya-ehem dipenuhi dengan keringat habis berlari. "Kau kenapa?! Jangan-jangan-"

"Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan." Ujarku memotong perkataan Itachi.

Itachi terdiam beberapa saat. Lalu memutar tubuhnya. "Naiklah." Itachi menawarkan punggungnya.

"Tidak usah, aku masih bisa ber-"

"Cepat naik " kepalanya menoleh kebelakang dan menatapku tajam.

Karena terus didesak, akhirnya aku menyerah dan naik ke punggungnya. Lagipula, aku juga sudah tidak kuat lagi. Rasanya sakit sekali. Tenggorokanku seperti diikat kuat sehingga setiap oksigen yang akan masuk tertahan.

Aku memeluk leher Itachi erat. Kulihat keringat mulai menetes dari pelipisnya. Jika diperhatikan, sebenarnya keringatnya jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

"Emm.. Aku tidak berat, kan?" Tanyaku ragu.

Itachi tertawa. "Yaampun.. Kau berat sekali. Rasanya seperti membopong seekor anak gajah. Atau bahkan, kau mungkin lebih berat."

Aku terdiam. Bukan karena kesal maupun kesakitan. Mataku terpaku, pada sosok yang tengah berdiri tak jauh di hadapanku dan Itachi. Tubuhku serasa kaku dan mati rasa.

.

.

.

.

Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu Sasuke disini. Sasuke terlihat marah padaku sekarang. Terlebih, tadi Sasuke sempat terlibat pertengkaran kecil dengan Itachi. Beruntung Itachi menyikapinya dengan tenang. Tetapi, meskipun sedang marah, Sasuke tetap mau menggendongku di punggungnya.

Entah sudah berapa lama kami berjalan. Rasanya waktu berjalan lamaa sekali. Tak ada yang berbicara. Hanya aura marah Sasuke saja yang dapat kurasakan.

Bosan akan keheningan, akhirnya kuputuskan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Menerima apapun nanti balasannya. "Sasuke-kun.."

Sasuke tak bergeming. Ia tetap terus melangkah.

"Sasuke-kun.." Kupanggil sekali lagi.

Namun Sasuke tetap terdiam. Sehingga, kuputuskan untuk berhenti berusaha.

Sepertinya ia sedang tidak mau diganggu.

Malam semakin larut. Sekeliling kami hanya diterangi oleh sejumlah lampu jalan. Cahayanya pun sangat minim.

Di tengah-tengah cahaya yang remang, aku berusaha mengenali tempat dimana kami berada saat ini. Tetapi, aku tetap tidak bisa. Bukan masalah cahaya, melainkan karena tempat ini memang belum pernah kudatangi sebelumnya.

Dari kejauhan, aku melihat pantulan cahaya bewarna kejinggaan. Aroma rerumputan pun mulai tertangkap oleh indra penciumanku. Tak lama kemudian, kami telah sampai di tempat bercahaya tadi.

Sasuke mendudukanku di kursi kayu yang dihiasi dengan mawar-mawar putih. Aku memandangi sekeliling dengan takjub. Rumput-rumput dihiasi dengan nyala ratusan lilin kecil juga puluhan kunangkunang yang berterbangan.

Indah.

Sasuke duduk di sebelahku. Ia melepas mantel yang dikenakkannya lalu memakaikannya padaku.

"Sebelumnya aku ingin bertanya. Apa yang kau lakukan seharian ini bersama Itachi?" Sasuke menatapku. Ternyata ia cemburu. Senang rasanya mengetahui kalau Sasuke cemburu. Itu berarti, dia masih menyayangiku.

"Hmm.. Kami tidak sengaja bertemu. Karena sudah lama tidak bertemu, kami pergi ke cafe dan jalan-jalan sebentar." Jelasku.

Sasuke berdecih. "Jangan terlalu dekat dengannya. Ingat, kau ini masih milikku." Lanjutnya beberapa saat kemudian. Aku beralih menatapnya.

"Aku juga mau bertanya.." ujarku ragu. "Kenapa.. Kau mencium Ino waktu itu?"

Sasuke balas menatapku. Kami saling bertatapan sekarang. Cukup lama kami terdiam.

Sasuke menghela nafas berat. "Ino memintaku membuktikan padanya bahwa aku memang benar-benar mencintainya. Tadinya aku ingin membuktikannya dengan cara lain, tetapi, Ino memintaku untuk menciumnya." Sasuke mengacak-acak rambut bagian belakangnya dengan gusar.

Hatiku sedikit lega. Pikiran-pikiran negatif yan sebelumnya berkecambuk dalam pikiranku lenyap sudah bersama angin malam.

"Aku terpaksa melakukannya.. Kau, tentu tidak ingin Ino mengetahui rahasia ini, kan?" Sasuke menatap lurus ke depan. "Gomen.." Mimiknya tetap datar dan tenang. Nada bicaranya pun tetap biasa. Hanya saja, aku bisa mengetahuinya. Bahkan tanpa menatap matanya sekalipun. Aku tau kalau Sasuke memang tidak berniat melakukannya ataupun berniat menyakitiku.

"Sudahlah. Itu bukan sepenuhnya sa-" kalimatku terpotong karena Sasuke tiba-tiba saja sudah melumat bibirku lembut. Seperti biasa, aku selalu terkejut. Sasuke memang selalu menciumku tiba-tiba.

Kupejamkan mataku. Merasakan setiap kehangatan yang terus mengalir. Kami menyudahinya ketika aku terlebih dahulu kehabisan nafas. Dalam keheningan dimana hanya suara nafasku yang terdengar, kami berdua saling bertatapan. Ia mendekatkan kembali wajahnya kearahku, kemudian mengecup bibirku lama.

Saat kubuka mata, ia sedang menyeringai. "Sekarang sudah impas kan? Jadi kau tidak perlu cemburu lagi."

Aku mendegus. "Bukankah kau juga?"

Dia mendecih.

"Oh ya, kau membuat semua kejutan ini dalam rangka hari jadi kita yang ketiga?" Tanyaku.

"Hn. Tadinya, aku mau mengajakmu berlomba mematikan lilin, tetapi hanya duduk seperti ini juga menyenangkan. Mengingat kita sudah lama tidak mengobrol." Sasuke tersenyum tipis. Merapat kearahku, lengannya yang kokoh merangkul pinggangku.

Malam ini, setiap hal yang kami rindukan terbayar sudah. Saling bercerita, tertawa bersama dan melakukan hal lain layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Seandainya bisa, aku ingin menekan tombol pause dan terus menikamti saat-saat seperti ini. Saat dimana aku bersama dengan seseorang yang aku cintai.

Banyak hal yang tak terduga terjadi hari ini. Kembalinya Itachi, juga melihat Sasuke yang cemburu. Bersama mereka, semuanya terasa menyenangkan. Tentu saja, semua menjadi jauh lebih menyenangkan jika kita lakukan bersama orang yang berharga.


To Be Continue


Oke, waktunya balas review :D yang log-in bisa cek ke PM ya..

.

Anonymous: ga kok.. Sasu tetep sayang sama Saku sampai akhir hidupnya dan selamanya ;) di chapter ini ada Itachi :)

Panda merah: makasih ya :3 ga kok, pengorbanan Saku ga sia-sia.

Akira Uchiwa : oke.. Makasih untuk sarannya :)

UchihaHaruno Citra: bukan.. Akhirnya jauh lebih ga terduga lagi. Makanya baca terus ya, hehe. Mungkin di chap ini kamu akan mengerti kenapa Sakura menderita.

Savers: maaf udah buat sedih :(

Salmonella T: Terima kasih atas pujiannya :) [editornya ga dipuji? :'] /nak

Fujio Karin: Oke, akan diusahakan :D

Akira Fly: oke, nanti akan ditambahin momen Sasusaku-nya :D

Emeralyna Cherry: Di chap ini udah dijelasin :D kalau pembenci dan pendendam itu pasti engga kok. Oke, makasih atas sarannya :)

Light Yagami: :v mau ngomong apa ya? Tebakannya salah tuh :v tapi untuk ending sasusaku emang engga. Hehehe, jangan sok tau ya :D

Ai: Coba bayangin kamu jadi Sakura, terus ngeliat di depan mata kepalamu sendiri pacar ama sahabatmu ciuman, ya sebagai manusia normal kita pasti sedikit sakit hati lah. Walaupun, mereka berpacaran karena permintaan kita sendiri. Disini udah dijelasin kenapa Sasuke nyium Ino kan?

Shin Mitsuna: Terimakasih atas sarannya, disini udah dimasukin loh ;) [Itasaku~] /editor ganggu ah -.-/

.

.

Special Thanks:

, Hanna Hoshiko, savers, UchihaHaruno Citra, Akira Uchiwa, Panda Merah, Guest, Anonymous, Shin Mitsuna, Ai, Emeralyna Cherry, Akira Fly, zielavienaz96, Fujio Karin, Salmonella T, Meguharu Yuka.

.

.

Terima kasih karena telah tetap mau membaca fic ini meskipun sudah tahu ending-nya seperti apa. Oh ya, sekedar info, chapter 3 di pubblish dari hp, jadi kalo berantakan tolong dimaklumin :D

.

Mind to Review? :3