Kim Jaejoong yang ditunangkan dengan dua orang dengan kepribadian berbeda. Shim Changmin yang periang dan serampangan, dan Jung Yunho yang sedikit sadis namun memiliki sisi lain yang tak diketahui semua orang. Siapakah yang akan dipilih oleh Jaejoong? Changmin yang memeriahkan harinya, atau Yunho yang penuh dengan kejutan?
.
.
Terinspirasi dari karya Wataru Mizukami dengan judul yang sama
.
Let's Get Married!
.
.
Pair: YunJaeMin
.
Warning: YAOI/ BOY X BOY/ BL, typo (s), OOC
.
Happy Reading
.
"Jae-hyung, good night."
Changmin menaikkan selimutnya dan bergegas untuk tidur—membuat Jaejoong menyipitkan sebelah matanya. Perlahan Jaejoong menoleh ke arah kanan—dimana Yunho berada.
"Yun, dia makan apa sehingga memanggilku hyung?" tanya Jaejoong innocent. Yunho hanya mengendikkan bahunya dan berbalik memunggungi Jaejoong.
"Haaaah kau juga aneh, kenapa tiba-tiba dingin padaku?"
"Tidurlah, Jae, kau besok ada inspeksi seragam bukan?" ucap Yunho acuh sambil memejamkan kedua matanya.
"Ah! Kau benar, aku harus mencari dasiku."
Baru akan Jaejoong menuruni tempat tidur sampai sebuah—eh dua buah tangan menahannya. Jaejoong sedikit terlonjak saat menyadari kalau tangan tersebut milik Yunho dan Changmin.
"Tidurlah. Sudah malam, besok pagi saja mencarinya." Ucap Changmin dan Yunho bersamaan.
DEG
Tanpa menunggu lama Jaejoong kembali menidurkan badannya di tempat tidur. Meskipun Changmin dan Yunho masih memunggunginya, akan tetapi mereka belum benar-benar terlelap rupanya.
Tak bisa Jaejoong pungkiri, ia merasa spesial saat ini. Wajahnya memanas saat mengingat kembali bagaimana Yunho dan Changmin memegang tangannya barusan. Changmin memiliki jari yang lentik dan kurus, sedangkan Yunho memiliki jari yang kuat dan indah.
"Ugh...aku rasa aku akan sulit untuk tidur." Lirih Jaejoong sebelum benar-benar terlelap ke alam mimpi-_-
.
—keesokan paginya—
.
"Adjhumma, dimana Jaejoong?"
Yunho menelusuri setiap sudut ruang makan akan tetapi tak menemukan Jaejoong dimanapun.
Nyonya Kim tersenyum manis, meskipun baru saja Yunho bersikap kurang sopan, yaitu tanpa memberi salam terlebih dahulu. Alasannya tak lain tak bukan karena Yunho menanyakan anaknya di pagi hari begini.
"Ia baru saja izin untuk pergi ke apartemennya. Lagipula, cukup panggil aku eomma, jangan adjhumma begitu..."
"Ah arasseo eomma." Ucap Changmin tiba-tiba.
Yunho menoleh dan mendapati namja jangkung itu tengah menguap lebar tak jauh di belakangnya. Ah, ia lupa membangunkannya tadi. Mungkin karena mendapati Jaejoong sudah tak ada di tempat tidurnya?
"Well, pagi ini Jaejoong meminta dengan sangat kalian berangkat duluan, baru nanti siang kalian menjemputnya, nde?" ucap Tuan Kim.
Yunho dan Changmin hanya mengangguk-angguk dan duduk di meja makan untuk menikmati sarapan mereka pagi ini.
—Another side—
"Hyaaa dimana dasiku? Aigo!"
Jaejoong mengobrak-abrik lemari kecilnya. Saat ini sudah pukul tujuh akan tetapi Jaejoong belum juga menemukan dasi miliknya, sedangkan inspeksi dilakukan sekitar lima belas menit lagi.
"Apa aku bolos saja? Ah tapi siang ini kan ada ulangan biologi."
Jaejoong mencari di setiap sudut kamar apartemennya dan tak menemukan apapun. Ia sebenarnya bisa saja berangkat tanpa dasi akan tetapi gurunya yang galak minta ampun itu akan menghukumnya tanpa ampun pula.
Tahun lalu saja segerombolan anak dijemur di lapangan dari berangkat hingga pulang sekolah dengan posisi hormat pada tiang bendera. Tentu ia tak ingin kulitnya yang halus itu jadi kusam karena sinar matahari.
"Huwee benar-benar tidak ada! Matilah aku! Matilah kau Kim Jaejoong!"
"Ini."
Jaejoong tersentak mendapati sebuah lengan terulur dengan dasi berwarna biru kotak-kotak putih ke arahnya. Jaejoong mengambilnya ragu dan saat ia menatap obsidian itu...
DEG
Namja itu. Ya, tentu Jaejoong sangat mengenalnya.
"Y-Yun? Bagaimana bisa kau kemari? Dan dari mana kau mendapat dasi ini?"
"Ada di rumah, lebih tepatnya di lemarimu, kau kan memang tak pernah memakainya setahun belakangan. Kata eommamu sih."
Jaejoong segera berdiri,
"Y-Yun teri—"
"Lagian kau itu bodoh sekali, masa dasi begitu saja kau tak lihat. Padahal persis di bawah tumpukan baju hangatmu. Sampai mencari kemari segala..."
Ucapan Yunho ditambah dengan gayanya yang mengesalkan—tangan terlipat di dada dan tatapan meremehkan olehnya—membuat kata-kata mutiara yang baru saja akan dilontarkan Jaejoong tertelan begitu saja. Digantikan dengan umpatan-umpatan yang nyaris meluncur keluar.
Jaejoong sungguh heran pada Yunho, kemarin malam ia merasa kalau Yunho—dan Changmin—begitu memperhatikannya, bahkan sampai barusan saat Yunho mengantarkan dasi padanya. Namun sekarang? Ugh ingin rasanya Jaejoong memaki namja ini.
"Kalau kau tak ada urusan lain, pergilah, aku harus inspeksi sepuluh menit lagi. Oh iya, terima kasih."
Jaejoong sengaja menekan dan memperlambat kata 'terima kasih' akan tetapi Yunho hanya mengendik tak peduli. Sebenarnya Yunho ingin tertawa melihat ekspresi Jaejoong saat ia mengejeknya barusan. Ia tahu kalau Jaejoong ingin mengucapkan terima kasih dengan lembut, akan tetapi ia memilih menghindarinya. Entah mengapa, ia merasa mungkin saja pertahanannya akan runtuh jika Jaejoong bersikap lembut dan manis padanya. Eh tapi kenapa ia berpikiran begitu? Apa ia mulai membuka hatinya pada Jaejoong?
Agak lama mereka berdiri dalam kecanggungan. Lebih tepatnya Jaejoong yang merasa canggung karena Yunho tak segera pergi, bahkan merespon kata-katanya pun tidak. Dan ketika ia mendengar derap langkah, Changmin sudah berada di ambang pintu.
"Kau curang hyung, masa kau kemari sendiri dan meninggalkanku." Ucap Changmin sambil menatap tajam ke arah Yunho. Ia mendekat ke arah Yunho dan Jaejoong dengan langkah tegas.
Meskipun Jaejoong dapat merasakan aura hitam mengelilingi Changmin, ia lebih kaget saat mendengar kata-kata Changmin.
"E-eh, kau kemari naik apa Yun?"
Jaejoong baru menyadari kalau dandanan Yunho sedikit berantakan dan tangan yang ia gunakan untuk memberinya dasi tadi dingin—seperti terkena angin. Lambat sekali kau berpikir, Kim Jaejoong.
"Sepeda motor." Jawab Yunho datar—menghindari kontak mata dengan Jaejoong.
"Eh? Milik siapa?"
"Milikku lah, aku menyuruh Changmin berhenti saat melewati rumahku."
"Tapi kalian kan tidak memakai seragam, memang kalian mau kemana?" ucap Jaejoong polos. Yunho tidak berniat menjawab, jadi Jaejoong menatap Changmin.
"Mencarimu hyung, kau kan tidak membawa handphone. Di sekolah pun kau belum datang, dan Yunho-hyung malah memaksa pulang ke rumahnya. Untung saja aku masih sempat curiga jadi kubuntuti dia." Changmin mencibir .
Jaejoong menatap Yunho—yang malah mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Yun, kenapa kau tahu apartemenku?"
"Aku bertanya pada appa kemarin lusa, aku tahu kau akan mencari dasimu di sini, kau kan memang tinggal di sini sebelum perjodohan itu."
"A-appa?"
"Abeoji-mu. Kim-adjhussi."
DEG
Rona merah terpatri di pipi Jaejoong saat ini. Rasanya aneh Yunho memanggil abeoji nya dengan sebutan 'appa'. Tapi yang lebih aneh adalah Yunho yang biasanya menyebalkan, jadi terlihat semanis ini di depan Jaejoong saat ini. Apa ini mimpi? Tapi sungguh, ini begitu menyenangkan bagi Jaejoong.
"E-eh terimakasih Yun... dan aku jadi mengerti mengapa kau membuatku kesal tadi. Kau pasti merasa tak enak meninggalkan Changmin karena itu kau tak mau menerima rasa terimakasihku."
'Bukan karena itu, meski bisa dibilang begitu juga.' batin Yunho. Ia masih menatap tak acuh ke arah jendela. Tak berniat sedikit pun membalas perkataan Jaejoong.
Sejenak hening diantara mereka. Dan daripada suasana menjadi jauh lebih canggung, akhirnya Changmin membuka suara...
"Jae-hyung, kami telah memutuskan..."
Jaejoong mengangkat wajahnya menatap Changmin—yang sedikit kesal karena merasa diacuhkan sedari tadi oleh Jaejoong.
"—untuk serius dalam perjodohan ini."
Jaejoong membulatkan matanya mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari Changmin. Ia menatap horor pada Yunho dan Changmin. Changmin menyenggol lengan Yunho—cukup keras—dan menggerakkan dagunya ke arah Jaejoong.
"J-jadi kalian?"
Yunho mengangguk sebagai jawaban, dan keheningan kembali menyelimuti mereka bertiga. Meninggalkan Jaejoong yang tengah ternganga, tak peduli lagi dengan inspeksi seragamnya.
.
.
TBC
Bonus Chapter: Changmin & Yunho side
"Mianhae, Vict-noona. Kita cukup sampai di sini."
Changmin menutup panggilannya dengan sepihak—tak peduli seorang yeoja tengah panik di seberang sana, memanggil-manggil namanya.
Ia berada di posisi yang sulit, bahkan lebih sulit dari yeoja yang sudah dipacarinya sejak tiga tahun yang lalu tersebut. Saat ia akan mengenalkan yeoja tersebut pada sang appa, appanya malah bertingkah egois dan menjodohkan dirinya, dengan namja pula.
Apalagi saat ia melihat namja itu, yang tak jauh lebih cantik dari kekasihnya, Song Qian atau biasa ia panggil Victoria. Ia merasa begitu kesal, hingga menjadi dingin pada pertemuan pertamanya dengan namja tersebut. Meski begitu, namja itu, Kim Jaejoong tak pernah benar-benar serius marah padanya. Dan entah mengapa hal itu membuat Changmin merasa nyaman berada di sisinya.
Sebenarnya Changmin cukup beruntung, jika ia mundur dari perjodohan tersebut—atau membuat Jaejoong membencinya dengan terus bersikap dingin, Jaejoong secara otomatis akan berubah haluan menjadi tunangan Yunho. Mereka—Yunho dan Jaejoong—bisa jadi pasangan yang kekanakan dan romantis. Begitu menurut Changmin.
Akan tetapi saat ia berada diantara mereka, entah sejak kapan perasaan lain mulai menyusup dalam hati Changmin. Perasaan itu tumbuh begitu cepatnya, hingga Changmin mulai lupa daratan, menghapuskan norma-norma yang pada awalnya ia ikatkan kuat pada dirinya. Dia menyadari, saat namja itu, Jaejoong, berada di sisinya dan mencurahkan perhatiannya, seribu sayap kupu-kupu mengepak kuat dalam dadanya. Sangat manis dan memabukkan. Perasaan yang sama seperti saat bersama Victoria dahulu, akan tetapi lebih kuat.
Changmin tersenyum kecil, menyadari bahwa ia tak mungkin lari dari takdirnya. Takdir yang mengikat kuat dirinya, Kim Jaejoong, dan Jung Yunho.
'Sudah kuputuskan, aku akan serius pada Jae.'
Dengan langkah pasti ia bergabung dengan Yunho dan Jaejoong yang tengah melangkah keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Mwo?! Abeoji, ini pasti kerjaan abeoji!"
Dan teriakan itulah yang mengawali perjuangan Changmin yang sesungguhnya.
.
.
"Aku... apa aku harus serius padamu Jae?"
Yunho mendudukkan dirinya di sofa, menatap kosong pada Changmin dan Jaejoong yang tengah bercengkrama di ruang tengah. Mereka sungguh cocok, jadi mengapa ia tak pergi saja dan Changmin bisa bersama Jaejoong?
Namun sebagian kecil hatinya tak rela. Ya, sebagian kecil, selama ia masih menganggap dirinya bukanlah seorang gay. Ia merasa dirinya normal, bahkan ia merasa Changmin dan Jaejoong itu normal. Akan tetapi perjodohan ini membuat semuanya yang normal perlahan-lahan berubah menjadi tidak normal.
Apa detak jantung Yunho juga diperhitungkan? Saat ia menatap Jaejoong, tak ada perubahan dalam dirinya. Selama Jaejoong tak balik menatapnya dengan doe eyes nya, selama Jaejoong tak tersenyum dan memanggil namanya dengan manis, selama Jaejoong tak—
"Yun, kau melamun?"
—berada sedekat ini dengannya.
Deg deg deg
Yunho diam saja, malahan mata musang itu menatap tajam pada obsidian Jaejoong. Mencoba mengacuhkan segala keindahan yang ada di dalamnya. Beruntung Yunho cukup kuat untuk hal itu.
"Aku hanya sedang berpikir mengapa kau gendut sekali."
Ctak! Satu jitakan kecil mendarat pada jidat Yunho—membuat empunya mengerang kesal. Namun tidak lebih kesal dari Jaejoong tentunya. Namja itu berbalik meninggalkan Yunho dan kembali duduk di samping Changmin dengan bibir mengerucut dan alis yang bertaut. Imut sekali.
Deg
Ya, mungkin Yunho akan segera menjawab pertanyaan Changmin.
"Changmin-ah... Aku juga serius dalam perjodohan ini."
Changmin tersenyum dan menyambut rivalnya itu ke dalam sebuah pelukan. Mungkin untuk terakhir kalinya mereka bisa melihat satu sama lain sebagai seorang 'teman'. Ya, sebelum perasaan mereka berdua dipertaruhkan.
"Jung Yunho, kau melamun terus. Dan asal kau tahu, aku sudah kurus lagi jadi kau tak perlu melamunkan kelebihan lemak yang ada padaku..."
Sekali lagi doe eyes itu mengagetkan Yunho. Namun bukanlah kekesalan seperti yang biasa ia lontarkan, ia malah menaikkan sebelah bibirnya—membentuk seringaian.
"Kau memang sudah kurus, dan pantatmu masih rata."
Mata Jaejoong membulat dan dengan segera ia melayangkan tangannya untuk memukul Yunho. Akan tetapi, gerakan Yunho lebih gesit. Ia segera beranjak sebelum Jaejoong membuatnya terkapar seperti waktu pertama mereka bertemu dahulu.
"Jung Yunho! Kemari kaaau!"
Review's replied:
NaraYuuki: kkkk mereka masih normal sih(?) belum bisa sepenuhnya menyadari kecantikan Jae :3 dukung author aja nikah sama Changmin \^^/ #digampar gomawo sudah review :)
Jung Jae YJ: yeee reader baru ^^ salam kenal juga chingu :) gomawo sudah review :)
Aku suka ff: ah ne author salah mianhae jadi namanya fudanshi ya chingu? Gomawo ya sudah mengingatkan ^^ ne sudah dilanjut ^^ gomawo sudah review :)
Trilililili: ne mian menunggu lama ^^ threesome? O/O kkkkk mungkin ya mungkin #plak ne gomawo sudah review :)
Karinaps: ne sudah ^^ gomawo sudah review :)
Shin Je Seok: ne sudah lanjut :) iya chingu kkkk gomawo sudah review :)
Doki doki: kkkk pasti bakal ada kok, secara Min masih jadi tunangan Jae juga ^^ youngmin itu temennya ortu YunJaeMin, temen semasa muda dulu :) gomawo sudah review :)
Yunjaeshipper: kkkk yunjae emang enak ya mau digimanain XD #plak gomawo sudah review :)
YuyaLoveSungmin: yaah belum tau juga loh XD kkkk iya dari nakayoshi hehe ^^ gomawo sudah review :)
Flo Cassiopeia: jinjja chingu? Aih aih kalau begitu akan author lebih perjelas ne ^^ kekasih Min udah kejawab kan di sini? :D nah...ini sudah update, mian lama gomawo sudah review :)
Jaejungmin: kkkk di chap ini sebenernya sudah kejawab kan? :D hehehe gomawo sudah review :)
Lee Jinwu: *peluk Jinwu juga* kkkkk :3 sama2 Jinwu-ssi terimakasih sudah membaca XD belum tau juga sih soalnya author juga rada2 lupa sama cerita aslinya(?) #plakplak gomawo sudah review :)
Riana: annyeong ^^ salam kenal juga Riana-ssi ^^ kkk author juga penasaran(?) gomawo sudah review :)
*lirik kanan kiri* *ngumpet*
Hwaaaa mianhae baru update skrg... author UAS dari tanggal 1 dan baru kelar kemarin Sabtu... update pun Cuma segini TAT
Mianhae besok author usahain update yg banyak dan kilat deh, oke reader? ^^
Anw kemaren author buka lagi cuap2 author di chap 1 kok emot senyum author ga ada semua ya 3-| padahal setiap ada yg review author bakal kasih emot :) hweeeee jadi ga enak hati sama para readers
Yang jelas... jeongmal gamsahamnida yg udah review~bagi yg belum yuuu bagi review nyaa buat author biar author semangat ngelanjutin cerita ini ne? Kkkk
Sign,
Shikshin97
