Pairing : NaruSaku and SasuHina
Warning : AU, Typo, OOC, Ide Pasaran.
Disclaimer : Standard applied
Don't like? Don't read!
Inspirated by
New York Nights 2
.
.
.
Di pagi hari Ino memutuskan untuk memasak sarapan. Ia menyalakan kompor dan mengambil beberapa telur untuk di goreng, membaliknya beberapakali dan mencium aroma telur itu.
"Sudah matang." gumamnya pelan.
Ia mengambil spatula dan piring berisi satu lembar roti yang dalamnya terbuka lalu memasukannya. Bersamaan saat ia menaruh piring di meja terdengar ketukan pelan pintu.
"Sebentar!" serunya berjalan menuju pintu.
Cklek.
Ino membuka pintu, mulutnya setengah terbuka hendak berbicara tapi begitu melihat tamu tidak diundang membuatnya terbelalak, "Naruto! Sasuke!"
Gadis berambut pirang itu seakan tidak mempercayai teman kekasihnya itu. Penampilan mereka terkesan keren untuk remaja dengan celana jeans pendek gombrong serta sepatu snakers hitam berlambang papan Skateboard.
Naruto hendak berbicara tapi terintrupsi ucapan Ino, "Kalian ingin bertemu Sakura dan Hinata, kan?"
Kedua pria itu mengangguk pelan.
"Tunggu sebentar!" Ino menutup pintu sedikit keras membuat pria muda itu tersentak sebentar dan saling menatap bingung satu sama lain.
"Terima kasih untuk ..." Pria berambut biru dongker itu bingung mau berbicara apa.
"Sasuke, kita tidak diijinkan masuk?" tanya Naruto dengan polosnya.
Ino berlari tergesa-gesa memasuki kamar dan kembali menutup pintu kasar.
Brakk!
"Bangun!" Tangan Ino mengguncang cepat bahu kedua gadis yang sedang asyik tidur itu.
Mereka tesentak sebentar bergumam pelan dan menarik selimut lebih tinggi.
"Bangun!" Suara Ino terdengar tidak sabar, menyingkap selimut putih polos kasar. Terpampanglah dua wanita muda berambut merah jambu dan indigo sedang memeluk guling.
"Ck, masih pagi Ino." masih dalam keadaan mata tertutup Sakura mendecak kesal menarik selimut yang sempat tersingkap sampai sebatas lehernya.
"Benar," sahut Hinata menutup kembali mata lavendernya. Ia terlihat sangat lelah sehabis di 'culik' oleh Sasuke semalaman dan baru pulang pukul tiga pagi.
Salahkan dirinya sendiri yang asyik belajar bermain ice skating dekat apartemen Sasuke sampai tidak sadar tertidur di apartemen pria dingin itu karena kelelahan.
"Di depan ada pria yang menunggu kalian." omel Ino mengetukkan sandal beludrunya pada lantai kayu.
Kedua iris mata gadis itu terbelalak, "Aku lupa!"
Mereka menyingkap selimut dan melompat dari ranjang secara bersamaan dan berlari menuju westafel untuk mencuci muka.
"Eh? Bereskan tempat tidur!" Ino menggetok kepala mereka dengan pensil pelan.
"Siap! Brother!"
:: New York Nights ::
Sementara pemuda yang sedang menunggu 'calon' kekasih saling menatap 'aneh' satu sama lain.
Naruto yang merasa tidak suka diam akhirnya berkata, "Sasuke kenapa kau ada disini?"
"Bukan urusanmu Naruto," jawab Sasuke dingin.
Jawaban itu lantas membuat bibir Naruto menyeringai seksi, "Tadi kau ingin bertemu gadis bernama Hinata. Pacarmu, eh?"
Brakk!
Pria itu menoleh saat mendengar suara pintu begitu keras.
"Maaf aku tidak tahu kau sudah datang." kata Hinata dan Sakura lagi-lagi bersamaan.
Pria penggila Ramen itu ternganga melihat wanita 'merah jambu'nya memakai high boots hitam selutut, "Sakura ... Kau salah kostum?"
Sakura yang berdandan super kilat terkejut, sebuah perempatan muncul di dahinya, mata emeraldnya berkilat penuh kemarahan, "Naruto, coba ulangi lagi."
Naruto yang tidak peka dengan amarah wanita yang dicintainya begitu polos mengulangi perkataanya, "Kau salah kost ... Auw!" ucapannya terpotong oleh pukulan Sakura tepat di perut.
Sementara Hinata menatap Sasuke penuh penyesalan, "Ma-maaf, aku tidak tahu k-kau sudah sampai. Lagipula kau t-tidak kirim email padaku."
Dahi pria dingin itu berkerut. Ini bukan pertama kalinya Hinata melupakan jajinya, "Bukankah aku sudah bilang kemarin, eh?"
"Eh? Maaf aku tidak ingat," sesal Hinata memainkan jarinya.
"Sudahlah …"
Sasuke mengenakan helm berbentuk seperti kelapa butir lalu duduk di jok kulit hitam motor Harley Davidson miliknya, mengulurkan helm pada Hinata.
Sakura terpana melihat motor Harley Davidson yang sedang Naruto duduki. Motor itu memang sangat mahal dan hanya orang yang memiliki dompet cukup 'tebal' bisa membelinya. Seingatnya Naruto hanya bekerja sebagai karyawan biasa, mungkin semenjak putus darinya jabatan pria itu sudah naik. Entahlah.
"Bekerja di Los Angels membuatmu kaya, Naruto? Bisa membeli motor mahal ini."
"Hei, kau tidak betapa kerasnya usahaku membeli motor ini," bantah pria itu setengah tertawa.
Wanita itu ikut tertawa walaupun tidak lucu saat duduk memakai helm lalu tangannya terulur membelit perut Naruto dan menyederkan kepala miring ke punggung pria itu mencoba mendengar detak jantungnya.
"Ayo ... Ke pusat kota."
Naruto menarik sudut bibir dan menoleh pada Sasuke yang berada di belakangnya lalu kembali berfokus pada rambu jalan Queens, New York. Ia merenggangkan otot serta kepala sedikit keras hingga menimbulkan suara kecil akibat tulangnya yang terasa pegal.
"Pegangan erat-erat. Kita akan ke pusat kota ..." Ia memberi jeda agak lama. "Los Angels!"
Uwa ... Pelan-pelan bodoh!" Teriak Sakura kalap mencengkram pinggang Naruto kencang.
"Ayo, Sasuke kau membuat ini terlalu mudah!" Seru Naruto menambah kecepatan.
"Naruto aku tidak mau berkencan denganmu lagi!"
"Tidak apa-apa nanti kau juga jadi istriku! Hahaha ... Adaw!"
Semua pengendara menoleh pada pasangan heboh itu, terlihat pria pirang sedang memegangi sebelah pinggangnya sementara kekasihnya pipinya merona merah menahan malu akibat ucapan konyolnya.
Sasuke yang berada di belakang mendecak kesal karena terkena asap motor sahabatnya bahkan Hinata sampai terbatuk-batuk karenanya, "Hinata pegangan yang erat."
Mata lavender gadis itu perlahan terbelalak, "Sa-sasuke jang ... Uwaa!" Terlambat pria muda itu sudah melesat meninggalkan apartemen Ino.
Sepertinya Sasuke terpancing tantangan sahabatnya terlihat dari mata onyx yang berkilat tajam dan marah.
:: New York Nights ::
Perjalanan memakan waktu hampir setengah hari. Mereka menyetujui usul Hinata untuk makan karena tadi tidak sempat mengisi perut.
Wanita berambut indigo gelap itu membuka helm dan segera berlari menuju toilet terdekat, wajahnya yang mudah merona berubah putih pucat layaknya hantu.
Sasuke yang merasa ada yang aneh dengan keadaan Hinata pun segera menyusulnya, "Kalian duluan."
"Kau mau pesan apa?" tanya Naruto hendak mengikutinya.
Tangan pria itu terulur kebelakang pertanda tidak usah mengikutinya, "Coke Diet,"
"Tidak seperti biasanya." namun pria itu mengangkat bahu tinggi-tinggi dan berjalan menuju kafe.
Sasuke memasukkan tangan dalam saku celananya yang gombrong, telinganya mendengar samar-samar suara muntahan dalam bilik toilet. Semakin dekat dengan pintu dimana Hinata berada suara itu semakin terdengar jelas.
'Apa dia muntah?' pikirnya.
Pria itu mengetuk pelan pintu, "Hinata kau baik-baik saja?"
Terdengar suara Hinata menggema dalam bilik, "Iya,"
Meski menjawab seperti itu keadaannya sangat jauh berbeda. Sekarang ini ia sedang terengah-engah sehabis muntah, tangannya berpegangan erat pada sisi westafel untuk menahan seluruh berat tubuhnya agar tidak merosot jatuh. Setelah pemandangan mata lavendernya tidak berputar-putar seperti tadi dia mengadah melihat replika dirinya.
Gadis berambut indigo itu kulitnya sangat pucat, ia tidak begitu menyukai warna kulitnya karena selalu jadi bahan ejekan temannya sewaktu sekolah dan selalu menjadi korban bully. Gadis ini bisa saja mencari pria sebagai pelindung tapi dia terlalu malu untuk berdekatan pada lawan jenis.
Ia mengerutkan dahi ketika pemikirannya melintas tentang lawan jenis. Sasuke seorang pria dan dia tidak malu meski beberapakali memandangnya sambil melamun. Neji pernah bilang padanya jika berteman dengan pria di Amerika maka akan terus terikat dan tanpa disadari cinta datang menghampiri. Pria Amerika selalu terang-terangan ketika mendekati gadis incarannya, waktu adalah kuncinya.
Hal yang membuatnya takut adalah berhubungan intim sebelum menikah dan itu adalah sesuatu yang biasa terjadi di Negara ini.
"Hinata?" Ia mendengar suara pelan Sasuke dari luar.
Hinata memutar keran dan membasuh wajahnya serta mulutnya beberapakali dan berjalan sedikit terhuyung-huyung sambil memegangi perut datarnya. Wanita itu tidak akan sadar ada sedikit noda merah yang membuatnya berakhir kesalahan fatal yaitu kalah taruhan.
"Hei." sapanya pada Sasuke.
"Kau muntah? Aku akan mengurangi kecepatan kalalu begitu." kata Sasuke terdengar khawatir.
Wanita muda itu menggeleng pelan.
Jika mengurangi kecepatan maka mereka akan tertinggal jauh dari Naruto dan Sakura. Lalu berakhir berdua memilih kesuatu tempat. Ia tidak mau menjalin hubungan serius dengan pria Amerika.
Dahi Sasuke berkerut kakinya bergerak maju menghimpit tubuh wanita muda itu. Dan tentu saja yang dihimpit tidak menyukainya, mendorong dada bidang itu meski terus gagal.
"S-sasuke apa yang ..."
Pria pecinta tomat itu tidak memperdulikannya, tangan besarnya terulur menyematkan sedikit anak rambut indigo wanita itu kebelakang telinga.
Sasuke berbisik seksi, "Kau ingat pertandingan kemarin?"
Wanit itu tersentak, tubuhnya seperti terseret jauh ke masa lalu.
Flashback On
Hinata Pov
Aku cemberut mengadah memandang Sasuke yang sedang tersenyum mengejek padaku, "Sasuke k-kau curang, masa membuang Ice Cream. T-tentu saja aku kalah."
Kami memang bertanding memakan Ice Cream sampai habis jika kalah harus membayar biaya bahan bakar mobil Ferrari miliknya.
"Kau sendiri bilang boleh melakukan cara apapun, eh?"
"Ta-tapi tidak harus membuangnya juga," bantahku melipat tangan didepan dada.
Aku membuang wajah perlahan dan terbelalak melihat sepasang kekasih duduk beberapa meter dari kami sedang berciuman mesra seperti dunia hanya milik berdua. Buru-buru aku menunduk dan menutupi sedikit wajahku yang terasa mulai panas dengan syal rajutan putih polos dari Sakura untukku.
"Ada apa?" tanyanya padaku.
"Ti-tidak a-aku ..." tak lama aku terdiam bingung mau berbicara apa.
"Pasangan seperti itu sudah jadi pemandangan biasa bagi kami." ungkap Sasuke melipat tangan di atas meja.
Eh?
Aku menangadah.
"Kau seperti anak kecil," ungkapnya membuat bibirku tertekuk kebawah. "polos, tidak mengetahui kehidupan kami."
"S-sudah kubilang aku tidak po-polos," bantahku menggembungkan pipi.
Sasuke menunjuk sudut mulutku, "Ayo, bertaruh. Jika aku melihat noda disudut mulutmu lagi," Ia menyeringai aneh padaku. "maka ucapanku benar dan berikan aku deep kiss."
Aku tersendak saat menelan buah cherry begitu dia mengucapkan kalimat terakhir yang menurutku sangat konyol. Aku mengambil vodka milik Sasuke dan di hadiahi tamparan pelan dari tangannya.
"Kau masih sembilan belas tahun," katanya menatap tajam ke arahku. "kalau sudah berusia 23 tahun baru kau boleh meminumnya. Ini peraturan Negara kami."
"S-sejak kapan kau patuh dalam peraturan?"
Sasuke menatap tajam ke arahku sedetik dan kembali menatap patung Liberti yang berkilauan tertimpa cahaya rembulan meski sedikit tertutup oleh salju namun tidak mengurangi keindahannya.
Aku menyukai patung itu karena ada arti dari semuanya. Tangan memegang obor menandakan Negara mereka sudah merdeka dan tangan sebelah yang memegangi buku bertanda meski menganut Individual mereka memiliki pendidikan. Aku tersadar ketika Sasuke berdehem sedikit keras, buru-buru aku menunduk.
"Ma-maaf."
"Oke, bagaimana taruhanku?"
Mendengar ucapannya membuat pipiku panas kembali mengalahkan suhu dinginnya salju yang sedang turun sedikit deras.
"Tidak mau," tolakku halus.
"Aku akan mengajarimu bermain Ice Skating dan Skateboard, bagaimana?"
Mataku berbinar-binar,seraya mengangguk cepat, "T-tentu saja! Ta-tapi ada satu lagi. Kau t-tidak boleh mengucapkan aku polos lagi, ya?"
Sasuke mengangkat bahu dan mengulurkan tangan, "Oke."
"Oke."
Flashback Off
"Sudah ingat?"
Hinata menelan ludah dengan susah payah, ia tahu pasti ada sedikit noda disudut mulutnya, "B-bagaimana kalau a-aku memberimu beberapa Coke Diet?"
"Aku tidak tertarik," Ia mengelus pipi Hinata yang merona merah. "aku suka rona merah wajahmu."
Ketika mendengarnya wanita muda itu seperti terhipnotis dengan mata onyx kelam itu hingga tidak menyadari jika bibir mereka sudah menyatu, saling bertaut satu sama lain. Tak lama baginya untuk membalas ciuman pria itu, memegangi pundak Sasuke untuk mencegah agar tidak mendesah ketika pria itu sesekali menggigiti bibir atasnya.
Kepala mereka saling miring sesekali membuka mulut untuk mengambil napas, berpagut dan menghisap kembali seakan tidak pernah puas. Hingga …
"Ehem … Minuman pesananmu sudah siap Sasuke."
Mendengar suara cempreng Naruto lantas membuat mata Hinata terbuka dan mendorong Sasuke hingga mundur beberapa langkah, menyudahi ciuman panas mereka. Ia langsung berlari menuju kafe dengan pipi sudah melebihi warna buat tomat tanpa mengatakan sepatah kata pun, sibuk mengusap bibirnya yang basah.
Sasuke menatap tajam pria pengganggu kesenangannya sementara yang ditatap hanya nyengir tidak berdosa.
:: New York Nights ::
Sakura yang sedang menyantap makanan berhenti sejenak ketika merasakan deruan napas tidak beraturan dibelakangnya. Ia mengadah melihat penampilan sahabatnya yang jauh dari kata baik.
"Hinata kau baik-baik saja?"
Wanita muda itu duduk, menghela napas berkali-kali seraya membenarkan pakaian atas bagian belakang yang tersingkap karena tangan Sasuke sempat berusaha menyusup kedalam. Seharusnya ia memakai jaket sangat tebal ketika bersama pria dingin itu.
Hinata mengangguk, "A-aku tidak apa-apa."
"Kau yakin?" tanya Sakura dan Hinata kembali mengangguk pelan. "Oke, tapi kau terlihat lelah sekali."
"A-aku tidak apa-apa Sakura. Sungguh," jawab Hinata meyakinkan.
"Hm," Sakura mengangguk, tidak bertanya lagi dan kembali makan sambil melihat pemandangan pinggiran kota New York.
Hinata mendengar suara kursi sampingnya bergeser perlahan. Ia tahu siapa itu membuatnya tertunduk lebih dalam menahan malu.
Sakura merasa aneh melihat tingkah saling diam antara Sasuke dan Hinata, pasti ada sesuatu yang terjadi. Demi Tuhan, Hinata pasti akan menceritakannya tapi untuk petama kalinya dia tidak bercerita
"Hei, kenapa saling berdiam begini?"
"Tidak ada apa-apa Sakura,"
Jawaban itu lantas membuat Sakura menggeram kesal dalam hati. Sekarang semua sudah mulai suka bermain rahasia-rahasiaan padanya? Masa ia harus memaksa sahabatnya buat cerita? Yang benar saja! Tapi dia sangat penasaran dengan aksi saling diam itu apalagi tadi Hinata berlari dengan pipi merona.
Rasa penasaran itu membuatnya kesal dengan segera ia mengambil jus dan meminumnya sampai habis tanpa peduli Naruto yang terbelalak melihat jusnya diminum.
"Bisakah kita percepat acara makan ini?"
Semua terkejut mendengar ucapan Sasuke terkecuali Hinata yang masih tertunduk. Untuk pertama kalinya ia mengucapkan hal ini. Meski sudah terbiasa dengan acara makan yang begitu lama tapi kali ini dirinya merasa tidak nyaman apalagi wanita disebelahnya melancarkan aksi diam ke arahnya secara terang-terangan.
"Ah ... Iya. Kita harus sampai sore ini." Naruto menepuk keningnya dan berlari menuju meja kasir.
"Oi! Naruto tunggu aku!"
Setelah mereka berdua pergi Sasuke berkata pelan, "Maaf soal tadi."
Masih dalam keadaan tertunduk Hinata menjawab, "T-tidak apa-apa,"
Sasuke mengulurkan tangan berlapis sarung tangan biru tua, "Kuharap kita masih berteman."
Hinata masih ragu, untuk beberapa lama tangan Sasuke mengambang hingga dirinya mengulur dan menjabat tangan itu.
"Baiklah."
:: New York Nights ::
Selama perjalanan Hinata dan Sasuke benar-benar terdiam, tangan pucat wanita itu tidak lagi melingkar di sekitar pinggang melainkan beralih ke pundak.
Sakura sedari tadi selalu memperhatikan tingkah mereka apalagi sewaktu keluar dari kafe yang biasanya berjalan saling berdekatan bahkan bersentuhan kulit menjadi sangat jauh seperti magnet yang saling menolak satu sama lain.
"Naruto kau tidak merasa aneh dengan mereka?"
Ketika mendengar pertanyaan Sakura bibirnya menyeringai. Betapa penarasaran wanita yang dicintainya ini tentang berbau misteri dan gossip. Ia sangat mengenal dekat Sakura semenjak di Junior High School. Tipe khawatir ketika ada temannya terkena masalah bahkan jika terlibat dia bakal ikut campur. Friends for life!
"Hm, tidak …"
"Aku tahu pasti terjadi sesuatu antara kalian." potong Sakura cepat.
"Hm?"
"Buka mulutmu Naruto!"
Pipi Sakura memerah menahan amarah. Ini bukan pertama kalinya mantannya ini membuatnya kesal, dirinya sudah sering bertengkar setelah saling mengenal bahkan saat menjadi kekasih pun juga karena masalah kecil yaitu tempat untuk berkencan. Gezz ...
Naruto mengurangi kecepatan melihat rambu lalu lintas berubah menjadi merah, ia melirik Sakura melalu kaca spion dan berusaha menahan tawa melihat wanita itu menggerutu kesal.
"Oke, akan aku ceritakan tapi buang dulu wajah masammu."
Ia dapat melihat jelas Sakura memutar bola mata kesal, "Apa ini bagian dari permainanmu?"
"Aku melihat Sasuke dan Hinata berciuman." ungkap Naruto.
Mata emerald Sakura membulat, ia menyederkan kepala pada bahu kiri pria itu agar bisa mendengar jelas karena jalanan begitu ramai dan berisik.
"Tapi sayang aku datang dan mengacaukan semuanya, " Naruto berusaha menahan tawa ketika bayangan kesal Sasuke terlintas dikepalanya. "aku merasa bersalah."
Pemikiran Sakura mulai berkerja, Hinata dan Sasuke berciuman? Ini perkembangan bagus! Melihat dari segi beberapa bulan ini pasangan itu sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda keseriusan hanya sekedar kencan biasa. Tapi tunggu dulu mengacaukan? Jadi ini sebabnya mereka saling berdiam karena kepergok berciuman?
"Secara teknis memang salahmu. Mungkin jika tidak kesana mereka sudah menjadi sepasang kekasih."
Dirinya dapat melihat tubuh pria di depannya menegang terlihat dari jaket kulit hitam berlambang papan Skateboard bergaris oranye yang di pakaian Naruto banyak lekukan hilang secara perlahan.
"Sudahlah nanti juga mereka baikan kembali."
"Kau tipe pria tidak bertanggung jawab, eh?"
Dahi Naruto berkerut pertanda tidak suka, ia sedikit memainkan gas sebagai tanda ketidaksukaan dan tersenyum puas melihat wajah wanita itu terkejut mengeratkan pelukan pada pinggangnya.
"Tenang saja, semua akan kubereskan di perkumpulan. Aku bukan tipe seperti itu, kau pasti mengenal baik diriku. Woho … Los Angels kami datang!"
.
.
.
TBC
.
.
Fergie's Note :
Patung Liberti, motor Harley Davidson, Los Angels, Queens, semuanya impian saya Dattebayo!#buagh
Udah apdet lama, ceritanya lebih sedikit, datar lagi#dibantai
Saya unggulkan SH disini karena chap selanjutnya mungkin full NS. Saya sempat cengo, bagaimana pula ini cerita kenapa SH perkembangannya jauh lebih cepat? Mungkin terpengaruh fic DMAC saya kalee ya ._.
