Ruangan gelap, sunyi dan dingin itu dihuni oleh seorang namja berambut raven yang terduduk dilantai dengan kedua kaki yang ditumpu beban berat atau kita namakan sebuah pasung. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan aliran air yang terus keluar dari kedua mata indahnya. Tatapan mata yang kosong itu seakan mati, bibir pucatnya bergetar menahan isak yang seakan mencoba keluar dari bibir mungilnya.
Badan kurusnya bergetar menahan dinginnya malam dan juga lantai yang ia duduki, ia bahkan hanya memakai kemeja putih dan celana sekolahnya. Pergelangannya kakinya lecet karena berusaha keluar dari belenggu pasung.
"mommy, tolong Guki" lirihnya meremas kedua tangan miliknya dipangkuannya.
"itu milik Jungkook?" langkah kaki seorang pelayan yang telah berumur sekitar 50an terhenti ketika suara sang tuan muda terdengar menanyakan makanan yang ia bawa.
"ne, tuan muda Taehyung" jawab pelayan Jung, menatapa nampan yang ia bawa.
"hmmm" gumam Taehyung, lalu akan beranjak menuju kamarnya, namun suara pelayan Jung membuatnya berhenti.
"a-apa tuan m-muda tidak ingin melihat tuan muda J-Jungkook?" ucap pelayan Jung ragu. anggap dia tidak sopan, namun ia merasa kasihan terhadap tuan mudanya yang lain.
"a-anni" ucap Taehyun lalu masuk ke kamarnya.
Pelayan Jung menghelakan nafasnya, menatap pintu kamar Taehyung sedih. Ia melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan dimana Jungkook berada.
Ia membuka pintu berwarna putih itu pelan lalu memasukinya. Ia melihat Jungkook yang terduduk dilantai bawah jendela dengan menyenderkan punggungnya ke tembok, dan menundukkan kepalanya dalam.
Pelayan Jung mendekati Jungkook sambil membawa nampan berisikan nasi dan minuman. Ia berhenti disebelah Jungkook yang belum mau mengangkat kepalanya. Pelayan Jung merendahkan kepalanya dan mencoba melihat Jungkook, apakah ia tertidur atau tidak.
Namun, apa yang ia lihat membuat hatinya sakit seketika. Tuan mudanya tidak tidur, namun air mata yang terus membasahi wajah manisnya membuat wajah Jungkook kacau. Tatapan kosong membuat pelayan Jung merasa bahwa tuan mudanya kini berada diujung batasnya.
"Jungkookie, apa kau lapar hmm? Bibi membawa makanan kesukaanmu, kau makan sedikit ne" ucap pelayan Jung mengelus surai raven Jungkook.
Pelayan Jung dan Jungkook memang dekat untuk ukuran seorang pelayan dan tuan muda. Jungkook memang memanggil pelayan Jung dengan bibi dan ia meminta pelayan Jung memanggilnya dengan namanya saja.
"Bibi, Guki lelah" lirih Jungkook menatap pelayan Jung dengan mata sembab dan merahnya. Pelayan Jung merasa tertohok tepat dihatinya. Ingin rasanya ia melepa pasung dikedua kaki Jungkook lalu membawanya kabur dari keluarganya sendiri.
"Guki lelah? Lalu,Guki ingin apa hmm?"
"menghilang. Bisakah Guki menghilang saja?" dan inilah batas pelayan Jung menahan air matanya. Ia tidak bodoh tidak mengerti maksud menghilag yang dikatakan Jungkook.
Pelayan Jung membawa Jungkook kepelukannya, ia ingin Jungkook membagi rasa sakitnya padanya. Ia sangat menyayangi Jungkook karena Jungkook sama umurnya dengan anaknya yang berada di Busan, dan ia adalah anak yang baik dan ceria, namun entah kemana kata ceria yang seharusnya melekat pada Jungkook kini.
Sudah dua hari sejak Jungkook dipasung, dan Jungkook tetap tak memakan makanan yang dibawa pelayan Jung. Ia hanya dia menatap kedua tangannya, terkadang ia bergumam dan bersenandung. Dua hari itu juga ia tak tidur sehingga kedua matanya kini terdapat lingkaran hitam yang besar.
Jeon Seunghwan kini berada diruang kerjanya. Ia menatap sebuah surat yang ia dapat dari anak buahnya yang menjaga gerbang depan mansionnya. Ia menatap tajam dan mengerutkan dahinya. Aura kemarahan yang terpancar dalam dirinya kini memuncak.
Seseorang mengirimnya sebuah surat ancaman dan selembar foto Taehyung yang terikat dan tak sadarkan diri.
'bagaimana jika kita melakukan pertukaran? Kau berikan Jungkook kepadamu dan aku kembalikan Taehyung kepadamu. Datang ke daerah XXX,besok malam dan jangan mencoba melapor polisi atau kau tahu sendiri apa yang akan aku lalukan.'
Seunghwan bingung, bagaimanapun ia mmperlakukan Jungkook dengan buruk, Jungkook tetaplah darah dagingnya. Tapi Taehyung, anak kesayangannya sedang dalam bahaya. Apa yag harus ia lakukan?
"sayang, Taehyun belum pulang, nomor ponselnya juga tak aktif. Aku khawatir" Seohyun masuk ke dalam ruang kerja suaminya dengan memegang sebuah handphone ditangannya.
"ia tak pernah seperti ini. Jika ia keluar ia pasti ia menelphonku dulu. Sayang, coba kau hubungi dia lagi" ucap Seohyun panik, lalu tak sengaja ia melihat foto di meja kerja sang suami dan tenu saja ia kaget dan langsung ketakutan melihat foto anaknya yang terikat.
"a-apa i-ini sayang? Ke-kenapa Tehyung..."
"tenanglah, Seohyun. Aku akan membawa Taehyung kembali" ucap Seunghwan dingin.
Yena kini sedang duduk di tepi ranjang rumah sakit. Ia kini boleh pulang oleh dokter, namun bukan seharusnya senang ia terlihat khawatir. Jungkook tak menghubunginya tiga hari dan Yena merasa ada sesuatu yang terjadi terhadap Jungkook.
Yena merogoh tasnya dan mengambil foto dengan dua anak laku-laki disana. Satu dengan mata sipit dan satunya dengan gigi kelincinya. Ia tersenyum menatap foto anaknya dan Jungkook.
Jungkook dan Jimin sangat akrab kala itu, mereka sering bermain bersama di dalam rumah sakit. Ia ingat saat Jimin mengatakan bahwa ia sudah tak kuat melawan penyakitnya dan juga ingin memberikan jantungnya untuk sahabat kecilnya Jungkook.
Namun seketika ia mengepalkan tangan kanannya menginga bahwa ayah dari Jimin tak pernah peduli terhadapnya dan lebih memilih pekerjaannya. Bahkan saat saat terakhir Jimin-pun ayahnya tak pernah datang.
"hhh, Guki kau kemana? Apa kau baik-baik saja hmm?"
Seunghwan menaiki tangga menuju kamar dimana jungkook dipasung. Pandangannya gelisah dan kalut, dan pikirannya kacau. Ia berdiri didepan pintu berwarna putih itu, lalu membukannya pelan. Seunghwang berjalan pelan menuju Jungkook, dan berhenti tepat di depan Jungkook.
"Jungkook.." panggil Seunghwan lirih namun tak ada tanggapan dari pemilik nama. Seunghwan tahu jika Jungkook tidak tidur karena, walaupun Jungkook tak menanggapi panggilannya, ia dapat merasakan tubuh Jungkook yang menegang.
"kkajja, kita keluar dari sini" ucap Seunghwan pelan membuka gembok pasung dan melepaskan kaki Jungkook dari pasung itu.
Jungkook mengangkat kepalanya menatap sang appa bingung namun binar sedikit terlihat dari kedua matanya. Ia merasa lega karena akhirnya sang appa membebaskannya dari pasung tersebut. Namun, melihat pandangan gelisah sang ayah ia tahu bahwa ada sesuatu dibalik ini semua. Apa ia benar-benar akan menghilang? Jungkook tak tahu, karena kini hidupnya berada ditangan sang appa.
TBC
