Mine
Cast: Choi Hansol, Lee Seokmin, Boo Seungkwan, Choi Seungcheol and others
Genre: Drama, Angst
Summary: Rasa dendam, obsesi dan cinta yang menyatu
dalam jiwanya menjadikannya seorang pria egois yang
melalukan cara apapun untuk hal yang diinginkannya.
WARNING! YAOI, MPREG, DLDR
.
.
.
Suara jarum jam menjadi satu-satunya pemecah keheningan malam, baik Seungcheol dan Seokmin duduk di kursi dalam diam, Seungcheol berada di samping kanan Hansol sementara Seokmin berada di seberang Seungcheol. Bahkan dalam jarak sedekat ini kecanggungan tak juga hilang, tak satu pun di antara keduanya yang berniat mengeluarkan suara.
Pikiran Seokmin mengembara mengingat beberapa kejadian yang baru di alaminya, kejadian malam kemarin hingga ucapan Seungkwan soal dirinya yang memergoki Seokmin memasuki kamar Hansol. Kedua tangan Seokmin terkepal erat, bagaimana bisa Seungkwan diam saja padahal ia melihatnya?
"Adikku seorang wanita."
Seokmin yang sejak tadi menunduk dengan cepat mengangkat kepalanya demi menatap Seungcheol. Yang di tatap kini sedang melihat sang adik sembari mengusap lembut rambut adiknya.
"A-apa?"
"Jika dia laki-laki, aku tidak akan semarah ini... mungkin kau lupa karena kau mabuk."
Seokmin menggelengkan kepalanya, "Tunggu dulu, dia adalah laki-laki kan? Kita sekolah di asrama khusus laki-laki Hyung."
"Ayahku tidak menginginkan anak perempuan, perempuan itu lemah dan jalang... katanya."
Lidah Seokmin menjadi kelu, hal konyol apa yang sedang dibicarakan Seungcheol sekarang.
"Ibuku berselingkuh saat kami masih kecil, bukan hanya sekali. Walau ayah begitu kaya dan sering memanjakannya dengan harta tapi ibu kami tetap saja berdusta."
Seokmin masih tidak bereaksi apapun, ia mengalihkan pandangannya ke arah Hansol yang masih belum juga sadar.
"Sejak umur 5 tahun, ayah kami mengatakan, kau anak laki-laki Hansol, jangan panggil kakakmu dengan oppa, kau harus memanggilnya hyung... dia mendidik kami dengan keras, Hansol dipaksa melakukan operasi saat usianya 12 tahun... itu... itu karena Hansol wanita."
"Ba-bagaimana dengan... err..." Seokmin memutus perkataannya, rasanya ia tidak bisa mengatakan hal tersebut.
"Apa kau pernah melihatnya ke toilet umum bersama-sama?"
"Apa?"
"Rahangnya terlihat tegas karena operasi plastik, semua ciri-ciri fisiknya sebagai pria ia dapatkan dari operasi dan suntik hormon tetapi... dia tetap wanita."
.
.
.
'Bagaimana ini? Bagaimana?' Seungkwan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tenanglah, setelah Hansol siuman maka semuanya akan baik-baik saja. Bahkan Seungcheol menyuruh kita pulang kan?" kata Jeonghan sembari mengusap pundak Seungkwan.
"Itu benar, kita hanya perlu menghibur Hansol dan Seokmin agar mereka tidak mengalami trauma, lalu kita ajak mereka pergi ke gereja untuk bertaubat." Sahut Joshua yang langsung dihadiahi tatapan tajam Jihoon.
"Masih saja, dasar pendeta!" umpat Jihoon sebal.
"Semua ini salahmu Seungkwan!"
"Soonyoung!" tatapan tajam Jihoon kini beralih ke arah Soonyoung.
"Apa? Aku mengatakan yang sesungguhnya, kalau dia tidak pura-pura salah lihat dan mau mencegah Seokmin maka semua ini tidak akan terjadi." Cerocos Soonyoung dengan jengkelnya.
"Tidak, Seokmin juga salah, dia bukan anak kecil lagi, bagaimana bisa ia langsung memakan permen yang disodorkan ke arahnya?" tanya Jeonghan membela Seungkwan.
"Ah gila! Kau samakan permen dengan bir?"
"Itu perumpamaan bodoh! Dan tidak ada yang tahu minuman apa yang diminum sepupumu itu!" kata Jihoon seraya memukul kepala Soonyoung dengan kasarnya.
"Sudahlah, ini sudah jam 1 pagi, kita butuh istirahat." Kata Joshua berusaha menengahi.
"Iya, lupakan saja, Seokmin juga kaya raya, kalau keluarga Choi menuntut uang kompensasi pasti ia sanggup membayarnya." Kata Soonyoung remeh, sepertinya otaknya sudah akan meledak saking pusingnya.
"Ah iya benar, kita jangan terlalu ambil pusing, orang bilang hidup sudah susah jadi jangan dibikin tambah susah." Kata Jeonghan yang langsung disahuti anggukan oleh teman-temannya.
"Tapi... Hansol mungkin saja hamil." Kata Seungkwan dengan suara bergetar, suasana menjadi hening, empat pasang mata menatap Seungkwan dengan tidak mengerti, pasalnya meskipun mereka semua gay tetapi mereka paham betul bahwa laki-laki tidak mungkin hamil.
"Hari ini pasti sangat berat untukmu." Joshua menepuk-nepuk pelan bahu Seungkwan.
"Jaljayo!"
Soonyoung berdiri disusul Jihoon, Jeonghan dan Joshua, mereka semua hendak kembali ke kamar mereka masing-masing.
"Ha... Hansol itu... wanita."
"APA?"
.
.
.
Suara kicauan burung terdengar memanjakan telinga, sinar hangat mentari masuk lewat celah-celah jendela, sepasang mata lentik itu terbuka perlahan-lahan dan memamerkan manik cokelatnya yang indah.
"Hansol?"
Hansol mengerjapkan matanya agar terbiasa dengan cahaya yang memaksa masuk lewat jendal ruang rawat pribadinya, dilihatnya Seungcheol berdiri dan menghalau sinar tersebut, dengan senyum hangat ia menatap Hansol penuh kasih sayang.
"Syukurlah kau sudah sadar."
Bola mata Hansol berputar melihat ke sekelilingnya, di tolehkannya kepalanya demi melihat Seokmin yang tertidur tepat di sampingnya, di atas kursi yang sama dengan tempat yang diduduki sang kakak, ada perasaan senang yang menjalari hatinya.
"Hyung, apa dia menungguku semalaman?"
Demi semua kucing yang menjadi koleksinya dan Hansol, mengapa kalimat pertama yang diucapkannya malah pertanyaan tentang Lee Seokmin? Nyaris saja Seungcheol menjitak kepala adiknya jika ia tidak ingat bahwa adiknya baru saja siuman.
"Aku menjagamu semalaman sampai sulit tidur."
"Kalau dilihat-lihat dia juga baru tidur." Hansol menujuk wajah Seokmin dengan polosnya, membuat Seungcheol semakin gemas dibuatnya.
"Ya, ya baiklah, aku ketiduran dan waktu aku bangun dia masih terjaga jadi aku menyuruhnya tidur."
"Woah hebat, kalian sudah akrab ya Hyung?"
"Bicara apa kau ini?"
Hansol tertawa menanggapi pertanyaan Seungcheol, Seungcheol tidak kaget lagi, ia sudah hapal betul kalau adiknya ini masokis, meskipun begitu bukan berarti Seungcheol bisa menghilangkan rasa takut dan khawatirnya terhadap adik bungsunya.
Hansol memang berbeda, didikan keras ayahnya tak membuatnya menjadi lemah, meskipun ia dipaksa mengingkari jati dirinya sebagai wanita hingga dipaksa masuk asrama pria, walau jiwanya pernah terguncang Hansol tetaplah anak yang riang.
"Hyung, aku ini male pregnant."
"Hush jaga bicaramu!"
"Tapi benarkan? Aku ini pria yang bisa hamil, kalau aku hamil, habislah dia~ hihihi~"
Seungcheol menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hansol, entah rencana apa lagi yang sedang dibuat Hansol kali ini.
"Apa ini semua rencanamu?" tanya Seungcheol berbisik.
"Apa?" Hansol mengerjapkan matanya polos, "Aku tidak merencanakan apapun, aku sedang menghibur diriku sendiri dari traumaku."
Seungcheol menghela napas berat, ia tidak bisa menebak jalan pikiran Hansol yang jelas Hansol mewarisi sikap sang ibu yang penuh ambisi dan tidak mau kalah, setidaknya itu lah yang dikatakan ayahnya.
"Hyung, aku haus."
"Iya, iya."
"Selamat pagi."
"Ah Doyoon hyung, annyeong!"
"Hei pelankan suaramu Hansol."
Hansol menjulurkan lidahnya ke arah Seungcheol, untuk saja gelas berisi air yang tengah dibawa kakaknya itu tidak disiramkan ke kepalanya. Doyoon menatap kejadian di depannya dengan tidak percaya, Hansol terlihat baik-baik saja meskipun wajahnya pucat, Seokmin tertidur dalam posisi duduk di sebelahnya, juga Seungcheol yang terlihat kurang tidur.
"Kau sudah siuman rupanya." Kata Doyoon seraya meletakkan parcel buah-buahan yang dibawanya.
"Ne." Jawab Hansol yang kemudian menenggak habis minumnya.
"Kau baik-baik saja kan? Apakah rasanya sakit?" tanya Doyoon yang langsung dijawab dengan anggukan lemah.
"Tanganku sakit sekali Hyung, kepalaku juga pusing, aku jadi ingin dipeluk pria tampan."
"Yaa!"
Doyoon terkekeh mendengar rengekan manja Hansol, tanpa mempedulikan kekesalan pacarnya ia memeluk Hansol erat-erat dan mengusap rambutnya lembut.
"Jangan lakukan itu lagi Hansol-ah, kau membuat kami semua khawatir, apalagi Seungcheol."
Hansol mendongakan kepalanya demi menatap wajah Doyoon, "Apa dia menangisiku Hyung?"
"Tidak!" sahut Seungcheol cepat.
"Ya ampun kalian ini, kadang bertengkar, kadang saling mengkhawatirkan, benar-benar membuatku pusing." Protes Doyoon yang hanya ditanggapi kekehan dari Choi bersaudara.
Doyoon sudah hapal betul sikap keduanya karena dia lah teman yang paling lama bersama dengan keduanya, itu lah mengapa Doyoon ingin sekali berbicara berdua saja dengan Seokmin, tapi pria itu tidur dengan sangat lelap, ia tidak terganggu sama sekali bahkan dengkuran halus terdengar darinya.
.
.
.
"Soonyoung, kau baik-baik saja?"
"Kenapa pagi-pagi sekali berkunjung ke kamarku?"
"Apanya yang pagi-pagi sekali? Ini sudah jam 10 tahu."
Minghao dan Chan menyembulkan kepala mereka dan menemukan kelompok vokal berada di kamar tersebut.
"Woah sedang ada pesta piyama ya?" tanya Chan dengan polosnya.
"Ada murid baru berambut panjang juga." Sambar Minghao membuat Jeonghan menjadi canggung mendengarnya.
"Maaf Jun, kami baru saja tidur makanya Soonyoung bilang ini masih terlalu pagi." Kata Joshua dengan senyum tipis khasnya.
"Yaa! Kemarin tidak latihan, sekarang mau bolos lagi? Kau ini ketua kelompok dan sebentar lagi kita akan ikut kompetisi." Cerocos Jun yang tidak begitu mempedulikan permintaan maaf Joshua.
Soonyoung menjambak rambutnya sendiri gemas kemudian menarik ketiga teman keluar, "Aku akan latihan, nanti sore, sekarang ada hal yang sangat penting, oke?"
"Kalau kau mau masuk kelompok vokal katakan saja Hosh!"
"Aish Jun Hyung, ini bukan masalah ekskul, ini masalah lain, mereka tidak sengaja terbawa dalam masalahku."
"Memangnya masalah apa?" tanya Minghao.
"Eum... lebih baik kalian juga tidak terbawa dalam masalah ini."
"Ya terserah saja, awas kalau sore nanti kau tidak datang lagi."
Soonyoung mengangguk paham dan kembali ke kamarnya, di lihatnya Jihoon, Joshua, Jeonghan dan Seungkwan tengah bersiap-siap dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya, mungkin keempatnya sudah membasuh wajah mereka selagi Soonyoung berbicara dengan teman-temannya tadi.
"Biar aku ke rumah sakit sendirian saja."
"Mwo? Ada apa?" Joshua mengernyitkan keningnya.
"Kalian sudah terlibat terlalu jauh, aku juga tidak yakin Seokmin dan Seungkwan masih bisa berhubungan lagi setelah ini."
Seungkwan menundukan kepalanya, sikap tidak bersahabat Soonyoung sudah terlihat sejak kemarin, ia hanya bisa maklum dan menerima karena toh ia juga merasa bersalah.
"Kau akan katakan apa pada Seokmin jika Seungkwan tidak ikut? Hanya Seungkwan lah yang tahu rahasia Hansol. Kau bisa tidak mengajakku, Joshua hyung dan Jeonghan hyung tapi tidak dengan Seungkwan."
"Kalau begitu kau ikut juga, aku bisa saja emosi melihatnya."
"Yaa!"
Soonyoung mengabaikan teguran Jihoon dan berlalu begitu saja. Jeonghan menepuk pundak Seungkwan demi memberinya semangat, Seungkwan hanya tersenyum pasi dengan sorot mata yang penuh penyesalan.
Akhirnya Seungkwan benar-benar pergi bersama Soonyoung dan Jihoon, perasaannya kacau, sepanjang perjalanan yang dilakukannya hanya dia dan menatap jendela yang memamerkan pemandangan pinggir jalan. Tidak ada suara karena ketiganya enggan berbicara.
"Maafkan aku, Hansol-ssi."
Hansol menatap Seokmin begitu lekat, kondisi Seokmin sepertinya lebih kacau dibandingkan dirinya, Seungcheol dan Doyoon sedang keluar mencari makan dan meninggalkan Hansol yang katanya mau tidur siang, siapa sangka Seokmin malah terbangun sesaat sebelum Hansol memejamkan matanya.
"Maaf juga Hyung, seandainya aku tidak mengajakmu masuk ke kamarku... tapi asal tahu saja, kau sudah merenggut masa depanku."
Seokmin tercekat, ia jadi ingat perkataan Seungcheol semalam, penjelasan tak masuk akal yang membuatnya terjaga semalam suntuk itu kembali dilontarkan kepadanya.
"..." Seokmin menahan dirinya untuk berbicara, otaknya sibuk memilah kata apa yang akan disampaikannya, kejadian kemarin sudah cukup membuktikan bahwa Hansol adalah pria yang nekat dan mengerikan.
"Aku ini male pregnant, kau pernah dengar tidak?" tanya Hansol mendahului.
Seokmin menggelengkan kepalanya, meskipun Seungcheol telah menjelaskannya tetapi ia juga ingin mendengar langsung dari Hansol.
"Ada sepasang suami istri di mana suaminya lah yang hamil, dia disebut male pregnant, sesungguhnya pria itu adalah wanita yang masih memiliki rahim," Hansol tersenyum demi melihat wajah terheran-heran Seokmin, "Iya, pria itu adalah wanita yang melakukan transgender, ia mendapatkan donor sperma yang entah bagaimana caranya bisa membuatnya hamil."
Seokmin merasa bahwa cerita Hansol sangat konyol, bahkan lebih konyol dari cerita Seungcheol semalam.
"Tapi kalau aku ini belum melalukan operasi transgender loh Hyung~ kau masih ingat rasanya kan?"
"Apa?"
"Hahahaha..."
.
.
.
Seungcheol dan Doyoon berpapasan dengan Soonyoung, Seungkwan dan Jihoo. Soonyoung menatap tajam Seungcheol seolah tatapannya itu bisa membebaskan Seokmin dari dosanya, Seungcheol tertawa meremehkan dan bertanya apa tujuan ketiganya datang.
"Adikmu," Soonyoung menunjuk kamar rawat Hansol yang berada di seberang jalannya, "Adikmu itu, seorang wanita kan?"
Ekspresi Seungcheol mengeras, matanya menatap tajam Soonyoung dan Seungkwan bergantian, "Seungkwan, kalau kau tahu banyak hal, lakukan hal yang benar, bukan menyampaikannya saat segalanya sudah terlambat."
"Jadi benar?" Jihoon menatap Seungcheol tidak percaya.
"Tenanglah dulu, kita perlu tempat yang nyaman untuk berdiskusi."
"Tidak perlu Doyoon, aku sudah memberitahu Seokmin semalam," Seungcheol menggenggam tangan Doyoon, hendak mengajaknya masuk sembari menatap ketiga temannya "Jadi kalian bertiga pulanglah saja. Buat apa jadi pahlawan kesiangan?"
BRUK. Seungcheol menutup pintu kamar rawat Hansol, dilihatnya Hansol dan Seokmin yang saling beradu pandang dalam diam, tidak ada siapapun yang bersuara sampai Doyoon menegur Hansol untuk tidur siang, menyuruh Seokmin untuk segera makan.
"Oh iya Seokmin, coba kau tengok keluar, tadi sepupumu dan Seungkwan datang."
"Doyoon."
"Biarkan dia menyelesaikan masalahnya Seungcheol-ah."
"Tidak perlu."
"Seokmin?"
Seokmin tersenyum ke arah Doyoon untuk kemudian menunduk dan menggelengkan kepalanya, ia sempat menoleh saat ada ketukan pintu tapi malah meminta tak siapapun membukakan pintu untuk sepupu dan pacarnya.
Doyoon menatap tidak percaya, dihampirinya Seokmin seraya bertanya, "Ada apa Seokmin-ah?"
"Tidak ada."
.
.
.
"Peraturan kamar?"
"Just in case."
"Apa maksudmu?"
"Pokoknya kau tidak boleh bawa pria lain, kecuali Seungcheol kakakku, tidak boleh tidur seranjang denganku dan dilarang ngintip saat aku mandi, itu kan sangat mudah."
"Maksudku, buat apa aturan konyol ini kau buat?"
Hansol menghela napas dan menyipitkan matanya, menatap Seungkwan –teman sekamarnya, dengan kesal.
"Apa kau tipe orang yang banyak bertanya?"
Seungkwan tertawa dengan kerasnya, "Banyak bicara malah."
"Petaka."
"Ada apa sih? Jangan-jangan kau wanita hahaha."
"Kalau iya bagaimana?"
"..." Seungkwan mematung di tempatnya berdiri, kertas peraturan itu terlepas dari genggamannya.
TBC
Halo~ lumayan panjang kan? /nyengir polos/ ngetiknya masih dalam keadaan galau nih /ya terus?/
KEJUTAN! Hansolnya cewe wkwkwkwk ntar chap depan ditambain warn TG deh XD
Terus terang aja aku tertarik baca berita aneh-aneh dan yang diceritain Hansol ke Seokmin itu emang beneran ada tapi aku lupa siapa naanya, dia tetep disebut pria hamil karena statusnya sekarang pria. Hansol juga tetep pria kok bisa? Lebih jelasnya lagi akan terungkap di chap-chap depan ya ^^v dan mari kita masuk ke section~
Q&A
Q: Hansol & Seungkwan saingan?
A: Nanti juga ketauan kok XD
Q: Adegan NCnya kurang jelas?
A: Sengaja hehehe biarkan fantasi liar readers yang melanjutkannya /GAK
Q: Buatin SeokSol yang banyak
A: Siap~ ^^d
Q: Jadiin Joshua UKE?
A: Yah aku dari zaman JiSol eksis /?/ sukanya Joshua SEME, Joshua memang satu~ macamnya yang beda... haruskah kita lantas pisah meski sama-sama suka Joshua? /ditabok
Ya sudah, akhir kata terimakasih dan mohon review lagi~ yang banyak ya, biar aku makin semangat nulisnya ^/\^
