Halo! Makasih buat semua yang udah baca, review, alert, fave story ini! :)

thnks to...

SHARA NAMIKAZE

NAMIKAZE KUSHINA

NAMIKAZE RESTA

RITARD S QUINT

KAZUKI NAMIKAZE

DRAQUILL

ARIGATOU

FUYU-YUKI-SHIRO

I'M CHICKEN

BLACKCURRENT626

HANY-CHAN DNH E3

AND ALL SILENT READERS! :D

OK, moga-moga para pembaca suka sama chap ini...

WARNING! TYPO! OOC maybe, DONT LIKE DONT READ!

Enjoy :)


DIFFERENT

.

.

.

.

.

Kushina mendekati Minato secara perlahan. Dada Minato berdetak semakin kencang setiap kali kaki mulus Kushina yang panjang melangkah mendekatinya.

"T-tung…" Entah mengapa, lelaki tampan yang mempunyai cukup pengalaman akan wanita itu merasa gugup ketika Kushina Uzumaki berkata bahwa dia akan menciumnya. "T-tunggu dulu, Kushina!"

"Kau keras kepala sekali," senyum lebar mengembang di bibir Kushina ketika jarak wajahnya hanya tinggal beberapa senti dengan jarak wajah Minato. Lelaki berambut pirang itu sempat melongo ketika mendengar ucapan Kushina. Dia keras kepala? Bukankah Kushina Uzumaki sendiri yang keras kepala? "Tapi…" tiba-tiba jari Kushina mendarat di wajahnya. Jari lentik itu menari dengan bebas di wajahnya sesaat, membuat Minato meneguk ludah. "… aku menyukai sifatmu itu."

Seakan-akan terdengar bunyi 'klik' di kepalanya, Minato sadar bahwa ucapan Kushina sejak tadi hanyalah berupa dialog. Tentu saja, pikirnya dengan pahit. Tidak mungkin Kushina menyukai sifatku.

Kushina mengerutkan kening sesaat ketika sadar bahwa inilah saatnya dia membenturkan bibirnya di bibir Minato secara paksa. Mata violetnya menjelajahi wajah Minato sekilas. Lelaki itu tampak panik. Sepertinya dia belum siap untuk berciuman dengannya sekarang. Kushina meneguk ludah. Dia bisa saja menarik ucapannya. Dia bisa saja membatalkan niatnya untuk mencium Minato, seperti yang dia lakukan dulu. Tapi, jauh di lubuk hatinya, Kushina sadar bahwa dia hanya lari dari kenyataan. Dia sudah menandatangani kontrak yang tidak bisa dia hindari. Dia harus melakukan tugasnya dengan sepenuh hati. Dia juga adalah seorang bintang professional. Masa dia mundur begitu saja gara-gara harus melakukan adegan ciuman dengan lelaki yang tidak disukainya?

Kushina meneguk ludah. Aku bukan amatiran. Akan kutunjukkan pada dunia kalau aku bisa melakukan ini secara professional. Kushina bisa merasakan desah napas panas Minato ketika jarak wajah mereka semakin dekat. Kushina memejamkan matanya erat-erat. Aku adalah Misaki Kouza, batin Kushina bergema. Aku mencintai Toujo Andou dan sedang berusaha menarik hatinya. Seakan-akan menghipnotis dirinya sendiri, Kushina mulai memasang topeng Misaki Kouza. Tubuhnya bergerak secara alami ke arah Minato. Tangannya jatuh ke dada Minato yang tegap. Dia meletakkan kakinya di antara lutut lelaki itu. Bibirnya membentuk senyuman lebar. "Kau milikku," bibirnya berbisik penuh dengan kemenangan.

Tiba-tiba, tangan kekar Minato melingkar di sekeliling bahu Kushina. Dengan paksa, dia membawa wanita itu di pelukannya. Kushina tersentak. Topeng Misaki Kouza yang dikenakannya sejak tadi langsung hancur berantakan. "He-hei! L-lepaskan!" Kushina meronta dengan panik ketika dia sama sekali tidak bisa melepaskan dirinya dari pelukan Minato.

"Jangan," Minato berbisik pelan di dekat telinga Kushina, membuatnya tersentak. "Aku tahu apa yang kau lakukan. Kau memaksakan dirimu untuk menjadi Misaki," Minato menepuk kepala Kushina perlahan. "Aku tahu kalau perbuatanmu itu adalah bukti kalau kau itu professional. Artis professional tidak akan mempedulikan perasaan mereka. Mereka hanya akan melakukan tugas mereka dengan sempurna, yaitu berakting. Tapi…" Minato melepaskan pelukannya dan menatap Kushina dalan-dalam. "Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Jika kau terus melakukan itu, kau akan lupa pada karakter aslimu. Kau akan melupakan jati dirimu tanpa kau sadari. Kau hanya akan menjadi robot bertopeng yang bisa berakting dengan sempurna. Kau tidak akan menjadi Kushina Uzumaki lagi…"

Kushina hanya bisa terpaku ketika Minato menjauh darinya. Matanya masih tidak bisa lepas dari sepasang permata sapphire yang sejak tadi menatapnya dengan lembut. "Aku ingin kau menikmati pekerjaanmu yang sekarang, seperti kau bekerja sebagai model dulu." Senyum Minato mengembang. "Lagipula… aku tidak mau kau menjadi gila karena terus memaksakan dirimu menjadi Misaki Kouza. Banyak artis yang menjadi gila gara-gara terlalu memaksakan diri mereka, lho!" Minato menyeringai.

"T-tapi kalau aku tidak melakukan ini bisa-bisa media…"

"Jangan terlalu pusing dengan masalah media." Minato tersenyum. "Kita pasti bisa menyelesaikan semua adegan dengan tepat waktu. Sekarang, bagaimana kalau kau mencoba untuk menyukaiku sedikit saja?" Dia sengaja menekankan kata 'sedikit' supaya amarah Kushina tidak meledak.

"Maksudmu?" Kening Kushina berkerut.

"Setidaknya, kalau kau menganggapku sebagai teman, kau bisa berakting dengan santai. Kau tidak masalah 'kan, mencium seseorang yang kau anggap sebagai partner-mu?"

Kerutan di kening Kushina semakin mendalam. "Aku tidak masalah sih, tapi…"

"Kalau begitu semuanya beres!" Minato memotong Kushina. "Malam ini aku akan menjemputmu dan kita akan makan malam, oke?"

Kushina langsung melongo. "Makan malam?" dia bertanya dengan nada melengking yang nyaring. "Bersamamu? Berdua?" Kushina langsung membayangkan dirinya dan Minato duduk berhadapan di dalam sebuah restoran mewah. Dia membayangkan Minato yang melancarkan rayuan gombal seperti 'kau terlihat cantik' atau 'warna matamu membuatku terhanyut' dan semacamnya. Dia membayangkan Minato yang menuangkan wine di gelasnya dan mereka berdua bersulang di balik kegelapan malam yang dihiasi bintang-bintang di langit.

Bulu kuduknya langsung berdiri begitu saja.

Memang, Minato bukan tipe cowok gombal yang selama ini mengajaknya kencan, tapi semua kenangan pahit dan menakutkan yang dia alami di dalam restoran mewah membuatnya merasa ragu untuk menerima tawaran Minato.

"Well…" Minato menggaruk rambutnya. "Kalau kau tidak mau berduaan denganku kau bisa membawa Lacter."

Mata Kushina terbelalak. "Membawa Lacter? Memangnya ada restoran yang mengijinkan anjing untuk masuk?" Kushina membayangkan para pengunjung yang melompat dan menjerit kaget ketika melihat anjing besar seperti Lacter masuk ke dalam restoran.

"Mmm, sebenarnya tidak boleh sih…" gumam Minato. "Tapi aku bersahabat baik dengan pemilik tempat itu, jadi seharusnya baik-baik saja," Dengan santai, Minato mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol dengan cepat. "Halo, selamat siang! Ini aku, Minato!" Lelaki berparas tampan itu tertawa sesaat. "Boleh aku ke sana malam ini? Aku akan membawa seorang teman bersamaku. Sepertinya aku juga akan membawa anjing ke sana. Boleh?"

Kushina mulai berusaha membayangkan sosok pemilik restoran yang mengijinkan seekor anjing memasuki restorannya.

"Ah, terima kasih! Lalu, bisakah aku meminta tempat yang agak terpencil dari pengunjung lain? Yah… semacam privacy ," Minato tekekeh. "Terima kasih!" Dia langsung mematikan ponselnya. "Sukses," Minato tersenyum lebar ke arah Kushina. Wanita berambut merah itu memicingkan matanya, menatap Minato dengan tatapan tidak percaya.

"Kau dekat sekali dengan pemilik restoran itu," gumam Kushina.

"Yah, begitulah…" Minato menganggukkan kepala dengan puas. Dengan begini seharusnya tidak ada keluhan dari mulut Kushina.

Kushina berpikir dengan keras pada waktu singkat itu. Haruskah dia menerima tawaran Minato? Dia tidak mau berduaan dengan lelaki ini, tapi dengan keberadaan Lacter seharusnya tidak ada masalah. Selain itu, tidak akan ada media atau paparazzi yang tahu karena Minato sudah memesan tempat yang agak terpencil. Dia memang tidak suka pada Minato, tapi dia juga sadar bahwa dia harus mendekatkan hubungan dengannya demi pekerjaan.

Yaah… hanya makan malam saja tidak ada salahnya 'kan? Hati kecilnya berbisik.

"Baiklah," Kushina menjawab. Nyaris saja Minato menjerit girang ketika mendengar jawaban Kushina. Dia ingin sekali membuat wanita ini berhenti membencinya dan malam ini adalah kesempatan yang paling bagus.

"Kalau begitu… kujemput sekitar jam tujuh malam nanti?" tanya Minato dengan senyuman lebar.

Kushina mengangguk. Sebelum Minato keluar dari rumahnya, Kushina teringat akan satu pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya. "Oh ya! Apakah ada semacam dresscode di restoran itu? Pakaian apa yang harus kukenakan nanti? Gaun atau apa?"

Minato terpaku sesaat di depan pintu. Dia menatap Kushina dengan tatapan kosong, seolah-olah butuh waktu untuk mencerna pertanyaan Kushina. Tiba-tiba, lelaki tampan itu tertawa. "Oh, terserah," dia menyeringai. "Pakai saja pakaian yang menurutmu nyaman untuk dipakai. Lagipula, tidak banyak orang yang bisa melihat kita." Minato masih menyeringai.

Kushina mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa Minato bisa menyeringai selebar itu. Apakah pertanyaannya selucu itu?

"Oke, baiklah. Aku pulang dulu sekarang. Sampai jumpa nanti," sambil terkekeh, Minato melambaikan tangan ke arah Kushina. "Bye, Lacter!" Minato menyeringai ke arah anjing labrador itu. Lacter menggonggong riang sebagai jawaban. Kening Kushina masih berkerut ketika dia menutup pintu.

"Dia benar-benar aneh!" Kushina menghempaskan tubuhnya di sofa putih yang lebar dan empuk yang terletak di ruang tamu. "Belum pernah sekali pun ada cowok yang mengajakku kencan seperti itu!" Kushina mendengus.

Tunggu dulu.

Keningnya kembali berkerut. Kencan? Apakah ini kencan? "Ah, tidak mungkin! Kan ada kamu, Lacter!" Kushina merentangkan tangannya sambil tersenyum lebar. Seakan-akan mengerti apa maksud Kushina, anjing cerdik itu melompat ke atas sofa, meletakkan kedua kaki depannya di pangkuan Kushina. "Maaf, hari ini aku sempat marah padamu," Kushina berbisik pelan sambil mengelus bulu anjing kesayangannya. Dia mengingat kembali perilaku Minato tadi. Padahal dia sudah benar-benar menjadi 'Misaki Kouza' yang sempurna. Dia nyaris berhasil berciuman dengan Minato kalau bukan karena lelaki itu yang langsung memeluknya tiba-tiba, membuyarkan konsentrasinya.

"Cowok aneh…" gumam Kushina. Belum pernah dia menemui aktor yang menyuruhnya untuk menikmati pekerjaannya. Bagi aktor-aktor lain yang selama ini bekerja sama dengannya, ketenaran itu sangatlah penting. Mereka ingin memerankan peran yang sangat sempurna sehingga nama mereka menjadi terkenal. Itulah penyebab mengapa Kushina tidak terlalu tertarik dengan menjadi seorang aktris yang hanya berakting setiap hari. Dia ingin menikmati pekerjaan, bukan menyiksa diri dengan berakting. Namun, hari ini nyaris saja dia membuang prinsip yang ada di kepalanya itu. Nyaris saja dia berakting demi ketenaran. Dia terlalu fokus dengan sesuatu yang disebut 'professional'.

Kushina merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku secara tiba-tiba. "Lacter, mungkin aku memang gila, tapi aku merasa kalau aku ingin berterima kasih dengan lelaki yang kubenci itu…"

Lacter hanya menggonggong sebagai jawaban. Dia tidak mengerti mengapa majikannya harus berpikir sejauh itu. Tiba-tiba, moncong Lacter terbuka lebar dan di detik kemudian, dia sudah meletakkan kepalanya di atas pangkuan majikannya. Kushina tiba-tiba merasa ngantuk melihat Lacter yang tertidur, tanpa sadar, wanita berambut merah itu memejamkan mata dan terbawa alam mimpi dalam sekejab.

.

.

.

.

.

Kushina Uzumaki menatap lemari pakaiannya dengan tatapan kosong. Dia teringat ucapan Minato akan pakaian yang harus dia kenakan malam ini.

Pakai saja pakaian yang menurutmu nyaman untuk dipakai.

Kushina mengerutkan kening. Tangannya meraih strapless dress yang biasanya dia kenakan jika seseorang mengundangnya untuk makan malam. Gaun berwarna merah terang itu sangat cocok dikenakannya. Kushina teringat akan para lelaki yang langsung memuji kecantikannya ketika dia mengenakan pakaian itu.

"Mmm…" gumam Kushina. Haruskah dia memilih pakaian ini? Kushina melempar dress tersebut di ranjangnya dan kembali menatap kumpulan gaun yang dimilikinya. Matanya tertuju pada black dress yang terbuat dari satin. Kushina melepaskan handuk putih di tubuhnya dan mengenakan dress tersebut. Gaun itu melekat dengan sempurna di tubuhnya yang ramping. Dress yang hanya sebatas paha itu memamerkan kakinya yang putih mulus. "Mmm…" Kushina kembali bergumam. Merasa tidak puas dengan dress yang ada di tubuhnya ini, dia kembali meraih sepotong gaun. "Atau sheath dress ini?" gumam Kushina sambil menatap gaun dengan bentuk v-shaped itu. Kushina mengerang lagi ketika matanya terpaku pada jam dinding di kamarnya. Sebentar lagi Minato akan menjemputnya dan dia masih belum bisa memutuskan gaun apa yang akan dikenakannya.

Kenapa aku sibuk memilih gaun seperti ini? Kushina nyaris saja melempar gaun yang ada di tangannya. Tingkahnya ini seperti anak remaja yang sedang bingung memilih pakaian yang pantas untuk kencan pertama mereka. "Argh! Sudahlah! Aku tidak mau memilih lagi!" Dia tidak suka Minato. Untuk apa dia susah-susah memilih gaun? Seperti orang konyol saja. Lagipula Minato pasti sama seperti lelaki yang selama ini mengajaknya kencan. Gaun apa pun yang dia kenakan akan membuat setiap lelaki terpana. Kushina sudah hafal dengan jalan pikiran para lelaki. Melontarkan pujian gombal, mencoba menarik perhatian dengan memberi hadiah, lalu mencoba menciumnya setelah itu… "Seks," Kushina mendengus sambil melempar gaun yang ada di tangannya.

Minato Namikaze tidak akan ada bedanya dengan para lelaki itu.

Pakai saja pakaian yang menurutmu nyaman untuk dipakai.

Tiba-tiba suara Minato terngiang-ngiang di kepalanya. Kushina terdiam. Tidak, anggapannya salah. Minato bisa jadi sangat berbeda dengan lelaki lain. Di saat Minato punya kesempatan untuk menciumnya, dia malah menolak, menyuruhnya untuk tidak memaksakan dirinya dalam berakting. Kushina menghela napas panjang. "Apa yang harus kupakai?"

.

.

.

.

.

Minato Namikaze menekan tombol bel rumah Kushina dengan dada yang berdebar kencang. Entah mengapa, dia merasa sangat bersemangat akan makan malam yang akan mereka jalani ini. Dia masih tidak percaya kalau Kushina menerima ajakannya. Jujur saja, baru kali ini dia menghadapi wanita seperti Kushina. Wanita lain akan menerima ajakannya dengan senang hati, namun Kushina hanya menerima tawarannya kalau Lacter ikut bersama mereka. Minato terkekeh sesaat. Dia teringat akan wanita-wanita yang selalu mengenakan potongan pakaian yang sangat tipis untuk menggodanya. Dia berusaha membayangkan pakaian seperti apa yang akan dikenakan Kushina.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan mata Minato langsung terbelalak ketika dia melihat sosok Kushina. Wanita berambut panjang itu menatap Minato melalui bulu matanya yang lentik. Dia sadar bahwa Minato terkejut ketika melihat penampilannya. "Bukan salahku kalau aku berpakaian seperti ini!" Dia mendengus. Wajahnya sedikit memanas karena mata Minato yang menempel di pakaiannya. "Kau yang bilang supaya aku mengenakan pakaian yang menurutku nyaman untuk dipakai!"

Senyum Minato melebar ketika menatap t-shirt putih polos di tubuh Kushina. Jeans panjang hitam menyelimuti kakinya. Kushina juga hanya mengenakan sepatu kets putih yang biasanya dia kenakan jika mengajak Lacter jalan-jalan. Kushina menatap raut wajah Minato dengan bingung. Padahal dia mengira kalau Minato akan kecewa melihat pakaiannya, namun lelaki itu malah tersenyum lebar.

"Cocok untukmu," dia menyeringai. Sesuai dugaannya, Kushina sangatlah berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini kencan bersamanya. Kushina juga tidak mengenakan parfum yang sangat menyesakkan. Minato hanya bisa mencium aroma shampoo dari tubuhnya. "Kau baru selesai mandi?" tanyanya. Nyaris saja Minato menyatakan bahwa dia menyukai aroma Kushina, namun dia cepat-cepat menelan kembali ucapannya sebelum amarah Kushina muncul.

"Ya," Kushina menatap Minato. Lelaki tampan itu mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan sweater putih tipis di baliknya. Jeans hitam yang dikenakannya sewarna dengan jeans Kushina. "Kau hanya akan mengenakan itu?" Kushina mengerutkan keningnya. Dia membayangkan Minato datang dengan kemeja atau blazer, namun pakaian Minato jauh lebih simple dari bayangannya.

"Tentu saja. Pakaian ini nyaman dipakai," Minato tersenyum. "Siap untuk berangkat?"

Lacter menggonggong riang, menerjang Minato lagi. Lelaki tampan itu tertawa geli sambil menepuk kepalanya.

"Kurasa kau lelaki pertama yang disukai Lacter sampai begitu," Kushina bergumam, mengingat kejadian ketika Lacter menggeram ke salah satu lelaki yang pernah datang ke rumahnya. Tentu saja lelaki tersebut tidak berani mengunjungi Kushina lagi.

"Dia anjing yang menyenangkan," Minato tersenyum ke arah Kushina.

"Tentu saja!" Wanita berambut merah itu tersenyum riang, senang karena Minato memuji anjingnya. Minato tersenyum puas dan membawa Kushina dan Lacter di mobilnya.

"Hei, sebenarnya kau mau membawaku ke restoran mana, sih?" tanya Kushina tiba-tiba. "Restoran itu biasanya menghidangkan apa? French food?" tanyanya lagi. Kushina sudah terbiasa diajak makan di restoran terkenal seperti itu meski pun dia tidak menyukai makanan yang disajikan.

"Tenang saja," jawab Minato. "Aku tahu kalau kau tidak suka french food," Minato tersenyum sambil menggerakkan setir mobilnya. "Aku akan membawamu ke tempat yang sangat kau sukai." Lelaki pirang itu tersenyum misterius.

Kushina hanya bisa mengerutkan kening. Dia tidak pernah menyukai restoran mewah mana pun. "Memangnya kau yakin kalau aku bisa masuk ke restoran itu dengan pakaian ini?" tanya Kushina. Minato tertawa.

"Tentu saja bisa! Kalau Lacter saja bisa masuk, tentu kau juga bisa,"

Tiba-tiba, mobil Minato berhenti. Kushina menengok ke seluruh arah, mencari-cari bangunan restoran yang mewah, namun dia tidak bisa menemukan bangunan tersebut. "Sebenarnya aku ingin bertanya padamu. Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan membawamu ke restoran mewah?" tanya Minato sambil tersenyum.

Kushina tersentak. "Hah? Mmm, karena selama ini aku selalu dibawa ke restoran mewah jika ada yang mengajakku makan malam?"

Minato tertawa lagi. "Kalau begitu, malam ini akan menjadi malam yang berbeda untukmu," Minato keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Kushina. Wanita itu hanya bisa menatapnya dengan bingung. Namun, sekali dia keluar dari mobil, dia mengerti apa maksud Minato.

"Pantas saja kau tertawa ketika aku bertanya 'gaun apa yang harus kupakai' tadi siang…" Kushina mendesis dari sela-sela giginya. Tawa Minato mengeras. Kushina menatap tulisan Ichiraku di papan nama sebelah kedai makan tersebut. Aroma ramen yang lezat membuat perut Kushina berbunyi dalam sekejab. Beberapa tamu yang sedang menikmati ramen mereka menoleh ke arah mobil Minato yang mencolok. Minato meraih sesuatu dari balik jaketnya.

"Untukmu," Minato tersenyum sambil menyelipkan topi tersebut di kepala Kushina. Minato meraih tudung jaketnya dan menyelimuti rambut pirangnya. "Bisa repot kalau orang tahu bahwa artis terkenal Kushina Uzumaki berada di sini,"

Kushina memalingkan matanya dari tulisan Ichiraku dan menatap Minato dengan tatapan tidak percaya. "I-ini kedai ramen yang dulu ada di seberang sekolah kita itu, kan?" Kushina mulai mengingat masa lalunya, di mana dia selalu mampir ke kedai itu hampir setiap hari untuk memakan ramen. Namun, ketika dia pindah kota, dia tidak bisa menemukan ramen dengan kelezatan yang sama seperti Ichiraku. "Aku ingat dengan jelas! Ketika aku kembali ke Tokyo, aku mencari kedai ini dan aku sama sekali tidak bisa menemukannya!"

Minato tersenyum, senang ketika melihat wajah merona Kushina. "Teuchi-san pindah rumah. Tempat sewa di depan sekolah itu sudah naik, jadi dia sengaja pindah ke tempat yang lebih murah harga sewanya," Minato menyeringai. Tentu saja dia tahu kalau Kushina sangat menyukai ramen. Dia selalu mengawasi wanita yang dulu dia sukai itu. "Kuharap kau masih menyukai ramen buatan Teuchi-san,"

"You've got to be kidding me!" Kushina menyeringai lebar ke arah Minato. "Tentu saja aku masih menyukai ramen itu! Ayo masuk sekarang juga, dattebane! Aku mau naruto yang banyak!" Wanita itu menarik tangan Minato dengan semangat. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Teuchi, paman pembuat ramen yang sangat disenanginya itu. Sesampainya di dalam kedai, mereka berdua disambut oleh aroma ramen yang hangat dan nikmat. Kedai itu tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman dan bersih. Mata Kushina tertuju pada lelaki setengah baya yang sedang sibuk memotong sayuran.

"Oh, kau datang juga!" Seorang pembuat ramen yang sudah berumur menyapa Minato dengan hangat. "Inikah temanmu itu? Pacar yang cantik, Minato!" Matanya tertuju pada Kushina. Memang, dia tidak bisa melihat wajah Kushina dengan jelas karena topi di kepalanya, namun kecantikan Kushina sangat kentara.

"Teuchi-ossan!" Kushina berseru seketika. Wajah pembuat ramen itu memang sudah mulai berkerut di beberapa bagian, tapi dia masih mengenal paman ramah pembuat ramen itu. "Astaga! Aku mencarimu setengah mati, dattebane!" Dia melepaskan tangan Minato dan bergegas menuju Teuchi. Teuchi menatap Kushina dengan mata terbelalak.

"Anu... maaf kalau aku kurang sopan, tapi ojou-san mengenalku dari mana?"

Kushina melongo. "Ini aku! Masa kau tidak mengenalku lagi, dattebane? Aku selalu makan di tempatmu nyaris setiap hari!"

Minato tertawa melihat adegan itu. Dia dengan cepat mendorong Kushina. "Kita duduk dulu di tempat yang disediakan Teuchi-san, oke? Para pengunjung sudah melihat kita dengan curiga,"

Kushina masih memanyunkan bibirnya, tapi dia menurut saja. Teuchi masih bingung. Dia yakin kalau dia belum pernah bertemu wanita secantik Kushina. Namun, sebelum pergi ke tempat duduknya, Minato membisikkan sesuatu di telinga Teuchi. "Dia itu bocah berambut merah panjang yang selalu meminta ekstra naruto setiap kali makan di tempatmu. Kushina Uzumaki, ingat?" Sambil terkekeh, Minato pergi menjauh dari Teuchi. "Teuchi-san! Aku pesan seperti yang biasa ya!"

Teuchi masih tidak bisa mengenali Kushina, namun setelah mengingat sekuat tenaga, dia ingat akan bocah berambut merah gembul yang selalu meminta ekstra naruto dan selalu menyerukan 'dattebane'.

"Astaga! Wanita cantik itu adalah bocah gembul itu!" Teuchi berteriak nyaring.

"Teuchi-san! Hati-hati! Pisau di tanganmu!" salah satu pengunjung menjerit.

Nyaris saja Teuchi memotong jarinya sendiri.

.

.

.

.

.

"Sudahlah, Kushina, Teuchi-san sudah meminta maaf, kan?" Minato masih saja tertawa ketika mereka keluar dari kedai makanan. Makan malam tadi berlangsung dengan sukses. Karena tempat duduk mereka yang sangat terpencil, tidak ada seorang pun yang sadar bahwa dua bintang terkenal itu berada di sana. Lacter juga puas, Teuchi memberinya beberapa tulang dan daging sebagai makan malam.

"Tapi dia masih tidak percaya kalau aku adalah Kushina!" Wanita itu masih merengut ketika mereka berjalan menuju mobil. "Kalau bukan karena warna rambutku yang merah darah ini pasti dia tidak akan mengenaliku!"

Minato meringis. Sebenarnya dia sendiri tidak percaya kalau Kushina yang sekarang ini adalah Kushina gembul yang dulu. "Sudahlah, dia memberimu naruto yang sangat banyak sebagai permohonan minta maaf, kan?"

Kushina mendengus. Sebenarnya dia masih kesal, namun perasaan senang dan puas yang ada di dadanya mengalahkan perasaan kesal tersebut. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua berbincang sesaat. Sebagian besar percakapan mereka adalah tentang Lacter. Kushina sekarang tahu kenapa Minato bisa dekat dengan anjingnya.

"Aku juga punya peliharaan dulu," ujar Minato. "Sayangnya bukan anjing. Aku punya hamster betina yang mungil sepuluh tahun yang lalu."

"Oh ya? Pasti lucu," Kushina tersenyum. Wanita pencinta binatang itu memang menyukai anjing dari segalanya, namun dia juga suka pada hamster. "Namanya siapa?"

"Ah, namanya Shi…" tiba-tiba ucapan Minato terputus. Wajahnya merah padam dalam sekejab.

"Shi?"

"Mmm, iya, Shi! Hahaha!" dia memaksakan tawa. Dalam hati Minato bersyukur karena kegelapan di dalam mobil ini. Bisa gawat kalau Kushina melihat wajahnya yang merona. Dia membeli hamster itu sepuluh tahun lalu, ketika dia menyukai Kushina. Dia ingat dengan jelas kalau dia memilih hamster yang berbulu kemerah-merahan dan menamainya Shina.

"Aku membeli Lacter ketika dia masih berusia dua bulan," Kushina langsung beceloteh. Diam-diam Minato menghela napas lega. Bisa gawat kalau Kushina terus bertanya soal hamsternya.

Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan gedung condominium tempat Kushina tinggal. Minato mengantar Kushina sampai ke lantai tempat dia tinggal. "Hari ini menyenangkan," Minato menyeringai. Kushina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sebelumnya, dia menyangka kalau Minato akan seperti lelaki lain, mengajaknya ke hotel dan semacamnya. Namun, Minato langsung mengantarnya pulang ke rumah. Selain itu, Minato juga membawanya ke tempat makan yang sangat disukainya.

"Mmm, terima kasih," bisiknya pelan. "Aku sangat menikmati hari ini," Kushina tersenyum lebar sambil mengembalikan topi hitam yang kebesaran itu. Minato meraih topinya sambil menyeringai.

"Aku juga menikmati hari ini. Kapan-kapan kita ke Ichiraku sama-sama. Bersama Lacter tentunya," Minato cepat-cepat menambahkan. Lelaki itu sangat terkejut ketika dia melihat Kushina yang menganggukkan kepala. Apakah ini berarti kalau Kushina setuju untuk kencan bersamanya lagi?

Kushina terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka kalau dia pernah membenci Minato sebelumnya. Minato adalah lelaki yang menyenangkan. Dia sopan dan baik. Mungkin apa yang diucapkannya tadi siang itu benar. Kejadian sepuluh tahun lalu hanyalah kesalahpahaman. "Hei, mmm, Minato? Bolehkah aku memanggilmu Minato?"

Minato tersentak. Baru kali ini Kushina memanggilnya dengan namanya sendiri. Biasanya Kushina memanggilnya 'pirang sialan' dan semacamnya.

"Sepertinya aku sudah bisa menciummu sekarang. Bukan paksaan, tapi dengan perasaan yang biasa saja," Dia menatap Minato dengan malu-malu. Entah mengapa, dia merasa gugup. "Aku… sudah tidak membencimu lagi… seharusnya…"

Minato terdiam. "Jadi, maksudmu…"

"Supaya pekerjaan kita lancar kita harus latihan," Kushina memotongnya. "Aku tidak keberatan kalau kau sekali-kali menciumku. Kalau aku sudah terbiasa menerima ciuman darimu pasti aku bisa melakukan kissing scene dengan lancar, tanpa ada paksaan sedikit pun,"

Minato mengusap kepalanya dengan kikuk. Dia tidak menyangka kalau Kushina sendiri yang meminta supaya dia menciumnya. "Mmm, kalau begitu maumu, aku tidak keberatan," Minato menundukkan wajahnya. Tubuh Kushina langsung menegang ketika dia melihat mata biru Minato yang tajam terpaku pada matanya. Entah mengapa, dia tidak bisa memalingkan matanya dari warna biru langit itu. Desah napas Minato yang panas menerpa wajahnya, membuatnya bergidik sesaat. Perlahan-lahan, Kushina menutup matanya, siap untuk menerima ciuman Minato. Namun, dia tidak merasakan apa pun di bibirnya, melainkan sebuah kecupan singkat yang menempel di pipinya. Kushina membuka matanya dan menatap Minato dengan bingung.

"Maaf, untuk saat ini ciuman di pipi saja ya?" Minato tersenyum kecil. Memang, dia menyukai Kushina dan dia sangat ingin mencium wanita itu, tapi dia tahu bahwa tindakannya tidak benar. Kushina tidak mencintainya dan dia tidak mau memaksakan ciuman pada wanita itu. "Aku tahu bahwa kau sedang dalam tahap untuk melupakan kebencianmu padaku. Kau masih belum sepenuhnya menganggapku sebagai partnermu. Jadi, tidak perlu terburu-buru." Minato tersenyum lagi. Lelaki berambut pirang itu menepuk kepala Kushina sesaat dan dia melambaikan tangannya. "Sampai jumpa besok di studio!"

Kushina menatap punggung lelaki yang semakin lama semakin menjauh itu. Pelan-pelan, wanita itu menyentuh pipinya yang terasa hangat. Dia sudah sering berciuman dengan aktor lain. Menerima ciuman di pipi juga sudah seperti makanan sehari-hari baginya. "Aneh…" gumamnya sambil menyentuh dadanya yang berdetak dengan kencang. Kushina sendiri sadar bahwa sekarang wajahnya terasa sangat panas. Wanita itu tidak mengerti mengapa kecupan singkat yang ditinggalkan Minato di pipinya bisa membuat wajahnya terbakar sampai seperti ini.


TBC

segitu dulu deh... :)

moga2 para pembaca suka sama chap ini!

makasih udah baca! :D

silahkan tanya kalau ada pertanyaan, sebisa mungkin kujawab lewat PM :)

Arigatou!

Mind to review?