Wanita muda berpakaian modis ala gadis masa kini itu awalnya bingung.

Sebab, samar-samar ia mendengar suara desah nikmat seseorang dibalik earphone dan bising suara kereta, suara memalukan milik seorang pria yang -mungkin- beberapa langkah di balik punggungnya.

Namun ia mencoba tidak peduli. Wanita kantoran itu mengidikkan kedua bahu, setelahnya ia mengibaskan dan menyematkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga, kemudian kembali menikmati alunan lagu dari player music dan kembali larut dalam kegiatan sebelumnya: surfing on internet.

Tapi tidak bertahan lama, karena kembali ia mendengar sayup-sayup rengekan seorang remaja lelaki yang manja dan diakhiri desahan keputusasaan. Setelahnya terdengar tawa kikikan beresonansi rendah ala pria dewasa.

Kembali ia merasa aneh, bingung, sekaligus malu hingga rona merah menjalar ke telinganya. Tapi kembali pula ia cuek dan menghayutkan diri pada sebuah website berisi artikel tentang kencantikan dan hal-hal berbau kewanitaan.

Ketika pada di lintasan rel yang berbelok, telapak tangan kanan wanita tersebut akan mengerat pada ring bulat untuk menjaga agar ia tidak jatuh, resiko tidak mendapatkan tempat duduk di kondisi sesibuk dan sepadat ini.

Suara derik-derik kereta berbaur dengan beragam suara lain yang diciptakan para penumpang, entah itu sebuah siulan lirih, suara obrolan para wanita yang sibuk bergosip ria, para sekumpulan karyawan dan pegawai kantoran pria yang membicarakan pekerjaan atau bahkan serba-serbi tentang bosnya...

... Dan diantara semua bising murni khas ruang tertutup -suara yang agak menggema dari ujung sisi gerbong sebelah kanan hingga ujung sisi gerbong sebelah kiri- suara desah manja ala anak remaja kembali mengalun, menggoda sepasang telinga wanita pribumi tersebut.

"ng-ngaaah! Pa-paman..!"

Wanita muda itu merasa tidak bisa lagi untuk tidak peduli, belum lagi ketika ia mendengar sedikit lebih jelas desah tertahan tersebut dari sebelum-sebelumnya, dadanya berdebum kencang dan tekanan dari rasa penasaran membuatnya memutuskan untuk mencari tahun siapa yang bersuara sedemikian berbahayanya, sekaligus menemukan sumber suara tersebut.

Selama lima menit ia melirik-lirik dan menolehkan kepala ke kanan-kiri hingga sedikit menjinjitkan kakinya yang dipeluk erat wedges berwarna peach magenta, barulah ia mengetahui darimana suara desah itu menggoda telinganya.

Hanya saja, ia benar-benar terkejut sedemikian kejutnya tatkala sumber suara desah itu berasal dari dua orang yang berdiri tepat di belakangnya. Dua orang berjenis kelamin sama, dengan yang berusia muda mengenakan seragam sekolah menengah atas dan yang berusia dewasa mengenakan suit ala pekerja kantoran, yang sedang menempelkan tubuh masing-masing sebegitu intimnya.

Sepasang iris asian-nya membelalak, spontan membekap mulutnya agar ia tidak menjerit, begitu indera penglihatannya melorotkan pandangan ke bawah, ke selangkangan sang lelaki muda yang sedang dijamah oleh lelaki dewasa.

Namun fokus pandangnya kembali berubah begitu ia mendengar dehaman bernada ketidaksukaan, yang ternyata tercipta melalui kerongkongan si lelaki dewasa yang melakukan kegiatan foreplay pada remaja sekolah. Begitu sang wanita dan lelaki dewasa tersebut saling memandang dengan ekpresi berbeda, tanpa suara, sang lelaki dewasa berucap untuk sang wanita muda dengan tatapan tidak sukanya.

"Maafkan aku, tapi bisakah kau memberi kami privasi dan berpura-pura tidak mengetahui hal ini..?"

.

.

.


Students and Office Workers

.

Screenplays!Sulay

.

M

.

I don't own anything, except storyline

.

Akai Momo

.

Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ Alternative Universe with much baby typos

.

No like, don't read!

.

Summary! :

Zhang Yixing, pemuda tujuh belas tahun yang memiliki sifat nakal, dengan berani dan nekatnya melakukan pelecehan seksual kepada Kim Joonmyun, sang pegawai kantoran di sebuah kereta, hingga berujung permainan panas mendebarkan di toilet stasiun pemberhentian mereka.

Naughty-student!Yixing and Kinky-Office-Workers!Joonmyun

.

.

.


"I want your loving,

And i want your revenge,

You and me caught on a bad romance." (Bad Romance (c) Lady Gaga)

.

.

.


1.) Happy Bornday untuk Lovara!

2.) Minta dipanjangin word-nya..? Maaf, aku lagi sakit dan akhir-akhir ini aku nggak suka yang panjang-panjang, suka kecapekan padahal baru diawal-awal. *eh?*

3.) kuharap di chapter ini, kalian biasa terpuaskan rasa hausnya. :v

4.) RNR biar aku update cepat! ^^

.

.

.


Chapter 3 of 4

.

.

.


Bibir bagian bawah Yixing terlepas dari cengkraman kuat giginya, hanya untuk mengalunkan desah tertahan ketika penis menggembung dalam celana milik Joonmyun menubruk kembali belahan bokong sintalnya, bahkan berhasil mencium tak langsung pada bibir lubang anal perawan sang pelajar nakal yang cantik.

Membuat tubuhnya berjengit seperti tersetrum listrik, matanya yang agak menyayu menjadi sedikit melotot lucu dan spontan kaki sebelah kanannya terangkat dan dibiarkan menggantung di dinding pintu kereta.

Tapi ia tidak menyangka jika ada sesi istirahat, sebab tiba-tiba Joonmyun menghentikan serangan pada penisnya dan hanya mengedus-endus mesra kulit lehernya. Yixing yang telah terangsang akibat permainan tangan luar biasa ala pria dewasa tersebut, hanya pasrah sambil memberikan izin dengan menelengkan kepalanya yang terkulai di bahu kiri Joonmyun.

Hanya saja tak berselang lama ia terheran-heran begitu sang paman tampan incarannya mengucapkan beberapa patah kata dengan nada ketidaksukaan yang mengalir kental dari bibirnya.

Maka dari itu, sambil menetralkan deru nafas yang sebelumnya terengah-engah akibat menikmati rangsangan pada tubuh, Yixing bertanya pada Joonmyun dengan serak bernada lirih. "Ada apa, paman..? Kenapa kau berkata seperti itu..?"

"Ah, tidak apa-apa." Joonmyun berbisik di telinga Yixing, sambil mengigit gemas daun telinganya. "Tidak perlu kau pikirkan, baby sugar." kembali Joonmyun menjawab sambil mengawasi apakah wanita muda yang sempat memergoki mereka akan bertidak diluar perintahnya atau tidak. Dan mungkin ia selamat saat ini karena wanita itu mengangguk pela dengan wajah syok sambil kembali menghadap depan. "Dan ngomong-ngomong apa kau merasa lelah, hem..?"

"Da-daripada lelah..," kini wajah manis Yixing saling berhadapan dengan wajah tampan Joonmyun, hanya beberapa sentimeter jaraknya. "Aku lebih merasa ngilu di penisku." bibir bengkak berwarna menggoda milik remaja Zhang mengecup-ngecup pucuk hidung Joonmyun. "Jadi, ayo, pamaaaaan~ lanjutkan yang tadi, nde..?" rengeknya nakal.

Joonmyun menyeringai lebar ketika Yixing menggerakkan tangannya yang masih menangkup penis mungil dan berkedut miliknya dengan tangan sang remaja tersebut. Sebuah perintah tubuh agar tangan Joonmyun melakukan apa yanh direngekkan Yixing. Dan karena sibuk menggerak-gerakkan tangan Joonmyun itulah, membuat Yixing tidak melihat seringai licik dari pria dewasa pegawai kantoran di belakangnya.

Beruntung bagi Joonmyun yang hari ini membawa tas selempang, sehingga tangan sebelahnya yang menganggur ia arahkan untuk merayap di tubuh Yixing menuju puting sang remaja nakal, puting yang mencuat lucu dari balik kain seragam putihnya yang agak basah dibanjiri keringat.

Lalu, begitu sampai di tempat yang dituju, tanpa sungkan Joonmyun menggoda puting menegang milik Yixing, menghasilkan geraman manja dan gerak meliuk gelisah dari tubuh Yixing.

"Ho..?" sebelah alis Joonmyun terangkat, kebiasaan jika dirinya sedang memandang remeh lawan pandangnya. "Memang kenapa aku harus melakukannya lagi pada penismu ini," dan tangan Joonmyun menggaruk gemas permukaan penis Yixing yang urat-uratnya samar menyembul sombong. "Hm, baby sugar..?"

"A-aah-aah-aah-oh-yeah~" lagi, Yixing menggeliat gelisah. Ia benar-benar terjerumus jatuh ke dalam permainan tangan ala orang dewasa yang dipersembahkan Joonmyun padanya. "Oh-yeah-oh-yeah~~ mmh-mmh-nggh-aah-ah-ah.. Yaah.." tubuh Yixing bergetar-getar juga berjengit-jengit, suhunya kembali memanas, kulitnya kembali memproduksi peluh, pipinya pun kini mulai memerah hampir sama merahnya dengan bibir yang ia bekap dengan punggung tangannya.

Yixing benar-benar menyerah sukarela dan suka-nikmat pada apa yang Joonmyun lakukan di penisnya. "Ka-ka-karena aku menyukainya paman -ouh!-, permainan tangan ala orang dewasa -ah-ah-aah-hh-ah- benar-benar nikmat begini. Hhh-ouh-ouh-oh-yes-hh-yes!"

Jari jemari Joonmyun sangat lihai bercumbu mesra dengan penisnya, baik itu meremas-memijat-mengusap-menggesekan dengan jari tepat di lubang pucuknya-mencubit dan bahkan hingga menggaruk gemas, godaan terselubung pada urat penis yang memang akan menyembul apabila dimainkan sehebat mungkin.

"Benarkah..? Kau menyukai permainan tangan ala orang dewasa pada penismu," deru nafas yang panas menerpa telinga Yixing yang memerah hebat. "Atau kau Menyukai permainan tangan ala Kim Joonmyun pada penismu, hem..?"

Lirihan penuh rasa nikmat tak terhingga kembali meluncur deras dibalik punggung tangan. "Ah-ah-oh-ooh-ohh-ah-ngg~ du-du-dua-duanya kurasa -ah!-yah!- lebih cepat, paman, kumohooonn.. Hhaaa-hhaa-hh-aaahh~"

Mendengar jawaban jujur yang disertai desahan sensual Yixing, seringai licik Joonmyun sedikit melebar. Sepasang mata pria Kim tersebut berkilat-kilat cantik penuh misteri, maka, sambil mengikuti apa yanh direngekan sang remaja tujuh belas tahun dalam dekapannya, ia menambahkan kecepatan permainan tangan yang -ungkapnya- disukai Yixing.

"Oh-oh-hhaa-hhaa-aah-hh-a-ak-aku akan.. Oh-paman-ah-paman Joonmyun-ah-hhaa-sebentar lagi aku akan-a-a-aa-aarrghh..!" inginnya Yixing menjerit bebas, namun yang biasa ia lakukan mengingat saat ini ia berada di tempat umum yang ramai, jadi untuk melampiaskan kekesalan akan ulah menyebalkan Joonmyun pada penisnya adalah mencubit gemas paha sang pegawai kantoran. "A-a-arrgh-sakit! A-ap-apa yang -argh!- paman lakukan, argh..?!"

Namun Joonmyun tidak menjawab.

Ia memilih memasukkan kembali penis Yixing yang siap-sedia-menyembur-sperma ke dalam celana seragamnya, tak lupa merapikan penampilan tubuh sang remaja yang kini menampilkan tatapan kekesalan dibalik wajahnya yang menyiratkan rasa lelah dan rasa sakit teramat sangat. Bahkan pusing, membuatnya memutuskan untuk mendaratkan lebih lama kepala dan tubuhnya pada bahu dan tubuh Joonmyun.

Dan setelah dirasa telah rapi sedia kala, Joonmyun terkekeh sadis tepat ditelinga Yixing, dan setelah ia mengigit juga menjilat gemas telinga si remaja Zhang, ia berbisik dengan nada mengesalkan dan seakan tak ingin -tak bisa- dibantah.

"Kenapa..? Tentu saja selain untuk membalaskan apa yang aku rasakan atas ulah tanggung jawabmu, itu karena kereta ini sudah sampai di stasiun pemberhentian terakhir, baby sugar."

Yixing melototkan matanya. Tiba-tiba, tubuhnya yang semula diterbangkan tinggi-tinggi, kini dihempaskan hanya dengan sekali tarikan kuat.

Entah karena ucapan Joonmyun atau kareta kecepatan kereta yang mulai perlahan memasuki stasiun pemberhentian akhir dan suara customer service wanita yang menggema di sana. Atau mungkin keduanya.

"Kau tidak lupa 'kan, tujuan utamaku dan tujuan utamamu untuk apa kita naik ke kereta..?

Jadi, kita berpisah di sini, dan sampai jumpa lagi kalau memang kita bisa berjumpa lagi nanti."

.

.

.


To Be Continued

.