My Cute Ghost
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SASUNARU
Genre : Romance
Rate : T
Summary : Naruto mulai menjadi butler Sasuke. Sebuah kejadian membuat Sasuke tidak mempercayai arti kata "Teman". Apa yang terjadi? Dan apa yang akan diminta Sasuke kepada Naruto? RnR please~
Author's Note : Apakah ada yang tahu arti dari pembunuh? Hanya itu saja. Semoga kalian menikmati cerita ini.
.
.
.
Chapter 3 : I'll Find the Murder
Cerita Sebelumnya
"Aku ingin berterima kasih padamu, dan sebagai gantinya aku akan mengambulkan tiga permohonanmu. Tetapi, aku tidak bisa mengabulkan permohonan yang menyangkut tentang perasaan dan nyawa seseorang, maksudku menghidupkan seseorang dari kematian." Ketika mengucapkan kalimat terakhir, Sasuke menyadari raut wajah Naruto berubah. Berubah antara marah, sedih, dan bersalah.
Sasuke sejenak berpikir, apa yang akan ia minta sebagai permohonan pertamanya. Jarang-jarang ada orang member tiga permohonan tanpa ia perintah—baca : paksa—.
'Hm, apa yang harus kuminta? Uang, tidak. Senjata? Oh ayolah, kan gak lucu seorang Uchiha ditangkap hanya karena meminta senjata. Pelayan, tidak. Aku tid—' tiba-tiba ia menyeringai dan menunjuk Naruto tepat di hidungnya.
"Aku ingin…kau jadi butler pribadiku!"
"Ha'i, Sasuke-sama,"
.
.
.
"Jadi, otouto, kau bertemu dengannya dimana?" Tanya Itachi sambil melirik Naruto sekilas yang berada di samping Sasuke. Sasuke memakan makanannya dengan tenang.
"Bukan urusanmu. Yang jelas, dia adalah butler pribadiku sekarang." Sasuke segera menyelesaikan makan malamnya.
"Dobe, ayo."
"Baik, Sasuke-sama." Naruto tersenyum sekilas dan membungkuk hormat pada Itachi lalu menyusul Sasuke. Itachi melongo melihat dua orang tersebut.
"Gila! Itu cowok apa cewek?! Cantik banget," sepertinya, Itachi sudah jatuh cinta pada sang butler baru. Tapi sekeriput-keriputnya Itachi, ia tak akan merebut seseorang yang disayangi Sasuke.
'Sasuke tak akan membiarkan siapapun menjadi butler pribadinya bila bukan benar-benar orang yang ia percayai dan ia sayangi.' Batin Itachi sambil menyeruput kopinya yang sempat ia abaikan.
Nagareru namida ga shizuka ni. Nanika no owari wo shiraseru. Miageta kumoma ni aozora. Kitto yamanai ame nante nai.
Itachi mengalihkan perhatiannya pada ponselnya yang tengah berbunyi, pertanda ada telepon masuk. Ia melihat sebuah nama di ponselnya dan segera mengangkat telepon tersebut,
"Moshi-moshi, Uchiha Itachi disini,"
"Itachi! GAWAT!" ujar sebuah suara di seberang sana.
"Tenangkan dirimu dulu, lalu jelaskan padaku." Ujar Itachi sambil menghela nafas. Orang di seberang sana terdengar mengambil nafas dan menghembuskan nafasnya.
"Aku memiliki berita buruk untukmu. Ralat. Berita yang sangat buruk." Suara di seberang sana terdengar ragu untuk mengatakan sesuatu, Itachi mengerutkan keningnya. Penasaran berita apa yang terjadi,
"Apa maksudmu?" tanya Itachi dengan nada penasaran yang tak bisa ia sembunyikan
"Orang tuamu…ketika perjalanan menuju ke rumah kalian…mengalami insiden dan…meninggal."
KLOTAK!
Ponsel di tangan Itachi jatuh ke lantai dengan dramatis. Itachi membeku, pikirannya kosong, wajahnya sangat pucat.
'Ini…bercanda kan?! KAMI-SAMA KATAKAN INI BERCANDA! SHIT!' tanpa pikir panjang, Itachi segera mengambil ponselnya kembali dan mengambil kunci mobil. Ia menuju ke tempat orang yang tadi meneleponnya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli bila nanti ditangkap. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah keadaan orang tuanya.
.
.
.
Sasuke kini tengah mengerjakan tugas sekolahnya. Entah mengapa sejak tadi perasaannya tidak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu yang mengejutkan baginya.
"Dobe,"
"Maaf, Sasuke-teme-sama, saya sudah bilang berULANG KALI, nama saya UZUMAKI NARUTO,"
"Hn, boleh aku bertanya?" Sasuke tidak mempedulikan peringatan Naruto
"Silahkan," Naruto heran melihat tingkah tuannya yang langkah ini. Naruto duduk di atas kasur Sasuke.
"Apakah sebelum kau terkurung di buku tua itu…kau memiliki kehidupan?" Sasuke berdiri dari duduknya dan duduk di samping Naruto. Menatap Naruto penuh rasa penasaran. Naruto melongo mendengar dan melihat ekspresi Sasuke.
"Ya, kehidupan yang…rumit. Indah namun menyakitkan dalam waktu bersamaan," Naruto mendongak, memandang langit-langit kamar dengan tatapan sendu dan senyum miris. Ok! Sasuke benar-benar penasaran sekarang. Ia hanya diam menunggu Naruto melanjutkan ceritanya.
"Dulu aku juga hidup di sini, di Konoha. Bersama Anikiku, Kaasan, dan Tousan. Begitu menyenangkan bersama mereka. Namun, hari-hari indah itu tiba-tiba berubah ketika aku melihat pertengkaran antara aniki dan kedua orang tuaku. Tousan yang sering memukuli aniki entah karena apa, kaasan yang selalu menyalahkan tousan dan aniki." Naruto member jedah pada ceritanya lalu menghela nafas berat.
"Lalu?" tiba-tiba Sasuke mendapat dorongan—entah darimana—untuk memeluk tubuh ramping Naruto. Sedangkan Naruto, Naruto entah mengapa membiarkan Sasuke memeluknya, malahan dia menempelkan kepalanya di dada bidang Sasuke.
"Pada suatu malam, aku kabur karena sudah tak tahan melihat keluargaku. Aku masuk ke dalam hutan lebat, hutan yang terlarang untuk di masuki di dekat kuil."
"Hutan yang di atas bukit itu?" Tanya Sasuke sambil mengelus kepala Naruto pelan
"Iya. Ternyata tempat itu masih ada ya. Aku masuk ke dalam sana. Di sana, aku bertemu dengan seseorang yang memakai tudung hitam sambil membawa buku. Orang itu mananyakan sesuatu, menyakan apakah aku mau membuat perjanjian dngannya." Setetes air mata jatuh melewati pipi tan Naruto
"Dia menanyakan apa?" Tanya Sasuke, Sasuke dengan gentlenya menghapus air mata Naruto
"Dia bertanya, apakah aku mau menuruti perkataannya? Dan sebagai imbalannya ia akan membuat aniki kesayanganku bahagia. Tanpa berpikir panjang aku meng-iyakannya. Dia pun berkata, aku akan menjadi hantu di dalam buku untuk menukarkannya dengan kebahagiaan kakakku." Naruto meremas pakaian Sasuke, ia menangis. Melepaskan perasaan sakit yang ia tahan selama berates-ratus tahun. Sasuke memandang miris Naruto
'Sebegitukah menderitanya kau, Naruto?' batin Sasuke sambil mengeratkan pelukannya
"Ne, Sasuke-sama, tolong jangan kasihani aku." Ucap Naruto pelan dalam pelukan Sasuke yang hangat. Sasuke hanya mengangguk dan mengajak Naruto tidur. Naruto tertawa geli,
"Aku pikir kau tak mau tidur dengan butler sepertiku." Goda Naruto sambil mendusel-dusel dada Sasuke.
"Hn, seandainya saja boleh minta sesuatu darimu yang benar-benar kuinginkan, tapi jelas tidak bolehkan. Karena ini menyangkut perasaan," ujar Sasuke ambigu. Naruto hanya mengangkat bahu tak peduli.
"Ngomong-ngomong Itachi-san kemana?"
"Entah. Ayo tidur."
.
.
.
Keesokan Paginya
Sasuke terbangun dari tidur nyenyaknya, ia bangun dan merenggangkan tubuhnya. Diarahkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kamarnya, bermaksud mencari sosok yang menyita perhatiannya sejak pertama kali bertemu.
"Anda sudah bangun, Sasuke-sama?" Tanya sosok yang dicari Sasuke. Sosok itu adalah Naruto yang baru masuk dari pintu sambil membawakan nampan berisi sarapan untuk Sasuke.
"Sebaiknya, anda segera makan dan bersiap-siap untuk menghadiri upacara pemakaman," lanjut Naruto tanpa menunggu balasan dari Sasuke. Wajahnya tampak begitu sedih mengatakan hal barusan. Sasuke mengernyit heran,
"Orang tua anda…mengalami kecelakaan dan tak terselamatkan." Ujar Naruto seakan mengetahui apa yang dipikirkan Sasuke. Otak Sasuke—yang tumben-tumbennya—lemot mencerna perkataan Naruto, namun semenit kemudian, mata onyxnya membelalak lebar. Seakan kedua matanya akan keluar.
"Naruto, kau jangan bercanda. Tidak lucu." Ujar Sasuke mendekati Naruto dan mengelus pipi tan tersebut. Sayang, sang pemilik pipi tan itu hanya berwajah datar dan mata sapphirenya menorotkan kesedihan mendalam.
"NARUTO! KATAKAN INI HANYA GUYONANMU SAJA! INI PERINTAH!" bentak Sasuke frustasi dan menggoyangkan bahu Naruto keras
"Kkh…Gomenne, Sasuke-sama," ringis Naruto kesakitan, dipalingkannya wajah manis itu ke arah lain. Kemana pun saat ini asal tidak bertemu pandang dengan Sasuke. Sasuke yang melihat gelagat Naruto mulai sadar, bahwa, apa yang diucapkan Naruto adalah benar adanya. Sasuke menggertakan giginya, pertanda menahan amarah. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap.
"Kau juga harus ikut," ujar Sasuke di depan kamar mandi, Naruto memiringkan kepalanya dan bertanya dengan innocent
"Ikut ke kamar mandi?"
"Terserahlah," Sasuke sedang tidak ingin bercanda, si Uchiha ini langsung masuk kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi. Naruto memandang Sasuke kosong,
'Kenapa hatiku sakit melihatnya seperti itu?' batin Naruto miris, lalu ia ikut masuk kamar mandi.
.
.
.
Sudah satu jam berlalu sejak upacara pemakaman kedua orang tua Itachi dan Sasuke. Setelah upacara tersebut selesai, Itachi segera kembali ke kantor untuk mengurusi masalah-masalah yang terjadi, dan tentunya ia tengah bersiap untuk menjadi pengganti ayahnya. Sasuke? Sasuke belum bergerak dari tempatnya, ia masih di depan nisan kedua orang tuanya dengan pandangan kosong. Seakan langit mengerti kegundahan yang dialami Sasuke, tiba-tiba awan menjadi mendung, dedaunan beterbangan ditiup oleh angin, seteted demi setetes air hujan mulai membasahu tanah bumi ini. Sasuke menengadahkan kepalanya dan tersenyum miris.
"Sasuke-sama, aku akan menemukan pelakunya untukmu," tiba-tiba Naruto yang sejak tadi membisu akhirnya bersuara dan tiba-tiba ia memeluk Sasuke lembut, seakan takut bila Sasuke pergi dan menyusul kedua orang tuanya ke 'alam sana'.
"Tidak perlu. Aku akan menyimpan dua permintaan terakhirku untuk yang lebih pent—"
"Ini kemauanku sendiri! Jadi kau masih punya dua permintaan lagi, aku tak mau melihatmu seperti ini! Kembalilah seperti Sasuke-sama yang kukenal," bentak Naruto sambil menangis, memotong ucapan Sasuke yang ia yakini akan menyayat hati Naruto lebih dalam dan menyakitkan. Sebenarnya, Naruto sudah tahu siapa pelakunya—ingat dia hantu yang tahu segalanya—namun ia tidak ingin memberitahu Sasuke siapa orang itu tanpa bukti pasti. Dalam hatinya, ia berjanji akan menyiksa orang itu.
Sasuke membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan Naruto, lalu keberanian menyelimuti Sasuke, tanpa aba-aba ia mencium puncak kepala Naruto. Ciuman itu tak berhenti di situ, ia mencium kening Naruto, lalu turun ke kelopak mata, turun lagi ke hidung dan kedua pipi Naruto secara bergantian. Terakhir, ciumannya berhenti di bibir ranum Naruto. Hanya menempel, tidak lebih.
'Tuhan, biarkan tetap begini saja. Sebentar saja, biarkan hujan tetap turun.' Batin keduanya bersamaan.
_TBC_
Balesan buat review :
Uzumaki Scout 36_Ini sudah lanjut~
Satsuki Naruhi_Di chapter ini, permintaan kedua belum di utarakan, mungkin di chapter berikutnya.
Hanazawa Kay_Emh, apakah ini sudah panjang?
RyanfujoshiSN_Hahaha, baru tahu klo pantat ayam tuh mesum? Ini udah lanjut,
_Ini udah updet~
Sheren_Gomenne~
Poechin_Untuk permintaan ada limitnya, limitnya adalah, ketika buku tersebut dimiliki oleh orang lain. Misalnya, yang pertama pemiliknya adalah Sasuke, lalu tiba-tiba buku itu ada di tangan Itachi, maka permintaan Sasuke hangus.
Onyx SapphireSEA_Ini udah updet~#gemetaran
Indahyeojasparkyuelfsarangha e Kim Hyun Joong_Maaf, ini sudah saya panjangin
Kkhukhukhukhudattebayo_Di chapter ini dijelaskan penyebab Naruto terkurung dibuku itu.
NamikazeNoah_Ini udah di panjangin.
Kim Victoria_Ini udah updet~
URuRuBeak_Ini udah updet~
Snow Yukina_Ini sudah saya panjangkan sudah saya updet,
MermutCS_Dia mah kecil ama besar sama-sama mesumnya -_-
Aoi-chan_ Ini sudah saya panjangkan sudah saya updet,
