Pairing : NaruSaku And Other Pairings
Rate : T-Semi M
Warning : AU, Typo, OOC, Ide Pasaran, Chara Death.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Don't Like? Don't Read!
.
.
.
Enjoy!
.
.
"Whoa jadi ini yang di namakan pasar swalayan?" Ujar Sakura berbinar-binar melihat ruangan yang begitu besar dan luas berlantai lima yang di setiap sudut-sudut terdapat begitu banyak penjual beraneka macam.
"Ya, ini yang di sebut pasar swalayan." Ujar Naruto masih sedikit kaget saat mengetahui Sakura tidak tahu apa itu pasar swalayan, "ayo kita beli perlengkapan pakaian untukmu."
Saat ini Sakura hanya mengenakan celana jeans pendek selutut dengan atasan jaket orange kesayangan Naruto. Awalnya Naruto bingung memilih pakaian yang cocok untuk Sakura, ia tidak mungkin meminta tetanga sebelah karean akan membuat gosip yang tidak-tidak tentangnya. Akhirnya Sakura hanya memakai pakaian seadanya.
Mereka memasuki sebuah toko pakaian khusus wanita dan berjalan menuju kasir , "A-ano, Ino bisakah kau memilih pakaian yang cocok untuk gadis di sebelahku?"
Naruto memang tidak mengerti pakaian wanita yang ia tahu hanya wanita tergila-gila dengan fashion. Dia pernah mengantar ibunya belanja pakaian yang menghabiskan waktu berjam-jam padahal hanya membeli dua dress untuk hadiah ulang tahun temannya.
Wanita penjaga kasir berambut pirang yang tadi disebut Ino itu tersenyum ramah kearah mereka berdua, "Ayo, nona ikut aku."
Saat Ino hendak memegang tangan Sakura, ia menghindar dan bersembunyi di belakang punggung Naruto. Entah kenapa Sakura takut melihat wanita berambut pirang yang mengingatkannya pada seseorang, "A-aku, dengan Naruto saja. "
Naruto menaikan sebelah alisnya, "Kenapa aku? Aku tidak berpengalaman dengan pakaian wanita Sakura-chan. Kau dengan Ino saja ya? Aku tunggu disini."
Sakura menggeleng, "Tidak, kalau kau disini aku juga disini."
Naruto mendecak pelan dan menggiring Sakura ke tempat pakaian tanpa mengatakan apa-apa. Sementara Ino terkikik geli melihat tingkah konyol Sakura.
_Mysterious Girl_
Acara percobaan pakaian pun selesai selama satu jam. Terkadang Naruto merona merah melihat tampilan feminim Sakura, ia sempat bilang pakaian yang dikenakannya cocok namun Sakura menolak, bayangkan saja dia harus memakai dress selutut berwarna putih polos tanpa lengan dengan ukuran yang sangat pas dengan tubuhnya. Akhirnya Sakura memilih kaus putih polos dengan celana jeans pendek lima senti di atas lutut di padukan sepatu boots cokelat berbulu di tanpa hak tinggi, layaknya koboi di Texas.
"Sepertinya ada yang lupa tapi apa ya?" Gumam Naruto melihat penampilan Sakura dari atas hingga bawah.
"Akh, iya aku lupa pakaian dalam." Sahut Ino menepuk keningnya.
Blush.
Ucapan Ino barusan membuat Naruto merona merah, otaknya mulai berfikir yang tidak-tidak, "Sakura-chan kurasa bagian itu kau dan Ino saja ya?"
Ino terkikik geli melihat Sakura menggelengkan kepalanya, " Wah, Naruto kau bertapa di mana heh? Sehingga membuat gadis cantik ini terus menempel padamu?"
"A-aku ti-tidak ber-tapa I-ino!" Bantah Naruto salah tingkah.
Tanpa mereka sadari dua orang berpakaian serba hitam bertubuh besar memperhatikan kegiatan mereka sedari tadi.
"Apa itu benar nona Sakura?" Tanya pria bertato ungu di sekitar wajahnya menoleh ke partner di sampingnya.
"Tidak salah lagi, kita harus mengambil sesuatu di tubuhnya," Sahut pria berambut orange, "dan membawanya secara paksa."
_Mysterious Girl_
"Tidak! Naruto tidak!" Teriak Sakura kencang.
Naruto tampak lelah dengan sifat keras kepala Sakura, "Sakura-chan, Ino hanya mengukur ehem…," Naruto berdehem denganpipi merona merah. "dadamu masa mesti aku yang me-mengukurnya?"
"Sudahlah Naruto kau ukur saja! Lagipula hanya menempelkan tanganmu saja," Ujar Ino yang tak kalah lelah dengannya habis mengejar Sakura yang terus berlari menghindar.
Srutt.
Greep.
Dengan cepat Sakura menangkap anak panah mainan yang meluncur kencang ke arah belakang kepala Naruto. Ia menoleh kesumber dimana anak panah itu melesat, ternyata hanya seorang anak kecil berambut hitam jabrik berdiri diluar toko nyengir tidak berdosa ke arahnya, "Tangkapan yang jitu kakak."
Sakura tersenyum dan mengembalikan anak panah mainan itu, "Jangan memanah orang sembarangan lagi ya?"
Anak kecil bermata onyx itu mengangguk dan berbalik berlari cepat menuju elevator untuk turun sambil menggumamkan sesuatu dengan riang, "Permen! Aku ingin permen."
Naruto menoleh kearah Sakura yang memandang kosong elevator, "Ada apa Sakura-chan?"
"Tidak ada apa-apa," Sakura kembali berjalan ke arah Naruto dan memegang tangannya lalu menuntun menuju dadanya, "ukurannya berapa Naruto?"
Croot! Brukk.
"Naruto!"
_Mysterious Girl_
"Ini permen untukmu adik kecil. Sana pergi ke tempat ibumu," Ujar pria berambut orange mengodorkan permen lollipop berukuran besar pada anak kecil yang tadi hampir memanah kepala Naruto.
"Tentu paman, terima kasih." Anak itu berlari secepat kilat menuju pasar swalayan begitu mengambil permen untuknya.
"Bagaimana?"
"Kecepatan juga ketepatannya tidak berubah meski dia hilang ingatan. Pantas nona Tsunade sampai menyuruh kita untuk menangkapnya." Sahut pria berambut orange datar.
_Mysterious Girl_
"Fyuuh… hari yang begitu berat," Keluh Naruto mengambil pistol milik Sakura yang tadi sempat tersita oleh petugas keamanan pasar ke saku celana jeans hitam, "ayo, Sakura-chan kita pulang."
Naruto dan Sakura hendak melangkah namun terintrupsi oleh ucapan petugas bertubuh gendut sedang memakan keripik kentang rasa barberque, "Oh, iya tuan sekarang ada penutupan jalan Shibuya karena ada presiden akan melewati jalan itu. Saya hanya mengingatkan karena di sana begitu ramai, anda bisa berputar karena ke belakang pasar ini karena di sana begitu sepi."
"Hm," Naruto berguman dan berjalan kearah belakang gedung.
Tak jauh dari mereka pria yang sedari tadi memperhatikan mereka ikut mengikutinya dengan jarak yang cukup jauh.
_Mysterious Girl_
Naruto melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, siapa yang menyangka jika memutar jalan untuk menghindari orang banyak memakan waktu yang lama. Di tambah lagi dia merasa tidak nyaman seperti ada yang mengikuti mereka sedari tadi.
Ya, Naruto memang menyadarinya begitu juga dengan Sakura yang sedang menggigiti bibir bawahnya dengan tubuh gemetar, "Sakura- chan kuhitung sampai tiga kita lari, ya?"
Sakura mengangguk dan menggengam tangan Naruto bahkan menyelipkan jari-jarinya dengan erat.
"Satu… Dua… Tiga!"
Dengan cepat Naruto berlari diikuti Sakura. Saat mereka berlari kedua pria itu terkejut bukan main ternyata rencana mereka gagal, "Ikuti mereke, Kankurou kau berlari di samping sana sendangkan aku di belakang mereka. Dan menyudutkannya."
Naruto berlari semakin cepat dugaan kalau kedua pria berubuh besar itu kalau mengikutinya benar. Hanya satu yang mengganjal pikirannya saat ini. Apa mau mereka? Padahal Naruto sudah melepas semua belanjaan serta dompet miliknya, ia pikir mereka mengincar uang ternyata bukan. Lalu apa yang mereka incar?
Naruto dan Sakura sampai di sebuah persimpangan, tanpa berfikir panjang ia berbelok ke kiri tanpa melihat kedua pria itu yang sudah berpencar untuk memojokkan mereka.
"Kankuro mereka berbelok kekiri segera susul mereka," Ujar pria berambut orange itu melalui earphone yang terpasang di telinganya yang penuh pearching.
'Oke, Pein.'
Pria bernama Pein itu mengambil sesuatu di jaket hitamnya. Sebuah pistol kedap suara dengan moncong yang sedikit panjang. Menarik pelatuknya
Dorr! Dor! Dor!
Sayang semua tembakan yang diarahkan ke kaki Naruto meleset mengenai aspal putih, sulit melakukannya di saat ia sedang berlari kencang seperti ini, meskipun penembak jitu sekalipun.
Tembakan yang di lancarkan Pein membuat Naruto semakin panik, "Sakura-chan ayo lari lebih cepat!"
Naruto dan Sakura berhenti berlari begitu melihat Kankuro berdiri di depan mereka berjarak lima puluh meter darinya. "Sial!"
Tanpa berfikir panjang Naruto menarik Sakura berbelok ke gang kecil yang membuat Pein tersenyum penuh kemenangan dan berjalan perlahan ke arah mereka, "Kena kau."
Naruto dan Sakura berhenti begitu melihat sebuah tembok besar tepat di depan mereka, membuat Naruto menggeram kesal memukul tembok bata merah itu, "Sial! Sial! Sial!"
"Naruto bagaimana ini?"
Naruto memejamkan mata shappirenya percuma ia melampiaskannya dengan kekesalan. Ia mencoba berfikir mencari jalan keluar untuk dirinya juga Sakura.
'Pistol!'
Dengan cepat ia mengambil pistol dari sakunya dan mundur beberapa langkah mendongak melihat apa yang bisa ia panjat. Mata shappirenya seketika cerah melihat sebuah balkon kamar berlantai tiga. Ia mengarahkan moncong pistol itu dan menarik pelatuknya perlahan.
"Naruto apa sampai?" Tanya Sakura yang mendongak melihat balkon kamar itu. Harapan satu-satunya untuk menyelamatkan diri.
"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya."
Dor!
Srutt.
'Kumohoh sampai, sampai.' Inner Naruto tak henti-hentinya berdo'a.
5cm…
4cm…
3cm…
2cm...
Srutt.
Pein yang berdiri beberapa meter dari mereka tersenyum penuh kemenangan dan mengarahkan pistol itu ke punggung Naruto. Sementara Kankuro yang sudah berada di atas gedung menyeringai mengarahkan pistol rifflenya ke arah kepala Naruto.
Gigi Naruto bergemeretuk dan memeluk pinggang Sakura yang bergetar hebat, "Tidak sampai, kita gagal."
"Sungguh mengesankan seorang seorang pembunuh berteman akrab dengan polisi," Pein memiringkan kepalanya dengan senyum meremehkan.
Mata shappire Naruto membulat mendengar ucapan Pein tadi. Jadi, benar dugaannya jika Sakura bukan gadis biasa. Tapi…
Brukk.
"Sakura-chan!" Teriak Naruto kaget begitu Sakura duduk berlutut memegangi kepalanya dengan mulut terengah-engah dan keringat yang bercucuran di sekitar wajahnya.
"Ada apa nona Sakura? apa kau sudah mengingatku?" Tanya Pein menarik sudut bibirnya.
"Hentikan!" Sakura berteriak kehilangan kendali, perlahan-lahan penghliatan Sakura memudar, "A-aku sebe-benarnya siapa?"
"Kau tidak bisa terus mengindar dari ingatan masa lalumu, cepat atau lambat akan kembali pulih." Ujar Pein menarik pelatuk pistol perlahan.
Naruto mengepalkan tangannya erat-erat mencoba menahan amarahnya. Dia bingung harus melakukan apa untuk melarikan diri. Memanjat tembok sekitar sepuluh meter dari tingginya sangat tidak mungkin apalagi ditambah harus menggendong Sakura. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Permintaan terakhir?"
Tubuh Sakura menegang mendengar ucapan Pein, ia semakin mencengkram kepalanya yang pusing, "Akh, hentikan!"
Flashback
.
.
Brakk.
"APA? kau gagal mencuri permata di museum suna, Kabuto?" Teriak wanita berambut pirang ikat dua ke belakang menggebrak meja hingga hancur.
Kabuto yang sedang berlutut tubuhnya bergetar begitu mendengar suara keras, dia sudah berhasil membuat Tsunade marah, "Maaf nona Tsunade kami tidak bisa membobolnya. Bahkan banyak anak buah kita yang tewas."
"Sakura urus dia." Perintah Tsunade pada gadis yang berdiri di sampingnya.
Mata emerald sang gadis yang sedari tadi terpejam, terbuka perlahan tampak pupil matanya melebar perlahan. Gadis itu melangkah pelan dengan wajah datar membuat Kabuto bergidik ngeri melihatnya, "Kumohon, jangan bunuh aku nona Tsunade."
Tsunade tidak memperdulikannya, dia malah melangkah keluar menuju pintu, "Habisi dia."
Kabuto berbalik dan berlari menuju pintu begitu cepat saat mendengar jawaban Tsunade. Ia tidak ingin mati sia-sia.
Sakura berhenti berjalan dan mengambil pistol kesayangannya di balik selimut putih yang menutupi tubuhnya, mengarahkan ke leher Kabuto yang sibuk mendobrak pintu.
Dor!
Pengait berbentuk bintang itu mengenai tepat leher bagian depan Kabuto. Menancap begitu dalam hingga mengalirkan darah.
Tubuh Sakura tertarik begitu cepat seiring tali besi itu menggulung ke dalam pistol miliknya ke arah Kabuto yang mengerang kesakitan akibat tubuh Sakura membuat pengait itu menancap begitu dalam menyentuh tulang tenggorokan.
"Permintaan terakhir?" Tanya Sakura tepat di belakang Kabuto.
Keringat mulai bermunculan di pelipis Kabuto, ia menelan ludah dan melirik Sakura melalui bulu matanya, "Kumohon jangan bunuh aku, aku akan membayarmu lebih besar dibanding dia."
Sakura memejamkan matanya, menaruh kedua tangannya di sisi kepala Kabuto, "Tawaran bodoh."
"AKHH!"
Kepala Kabuto terlepas dan terlempar beberapa meter dari tubuhnya yang berlutut karena Sakura menaruh kaki kanannya di bahu kiri Kabuto dengan kedua tangan dicengkram erat oleh tangan Sakura.
Sakura memelintir tangan Kabuto dan menarik paksa hingga terlepas dari tubuh atas Kabuto melemparnya ke sembarang arah.
Croot!
Darah terciprat kemana-mana saat tangan itu terlepas hingga mengenai selimut yang di pakai Sakura.
Sakura menelentangkan tubuh Kabuto yang sudah tidak bernyawa lagi dan mengambil pisau kecil di balik selimut lalu menggoreskan ke dada kiri Kabuto membentuk kelopak sakura berukuran sedang yang ternoda cairan merah seiring pisau itu membentuknya.
Setelah selesai Sakura mengambil pistol dan mengarahkannya di tengah kelopak sakura yang ternoda darah lalu menembaknya.
Dor!
"Sempurna," Ujar Sakura membungkuk mengambil pistol kesayangannya yang tadi terjatuh saat memisahkan kepala Kabuto, "oh, iya Shizune buang tubuh itu ke belakang untuk jadi santapan hiu."
Blam.
Wanita yang sedari tadi diam meliat adegan pembunuhan yang begitu sadis, menatap iba tubuh yang terkoyak itu, "Maaf Kabuto."
Ia berujar pelan dan berjalan kearah tubuh itu menuruti perintah Sakura.
Flashback Off
.
.
Sakura bangkit berdiri menatap tajam Pein, "Tidak, Naruto kau tidak perlu berbicara permintaan terakhirmu."
"Hahaha… Kalian itu terpojok, jangan sombong!" Pein tertawa lepas mengarahkan moncong pistol ke Sakura, "Good bye Sakura."
Dor!
Sakura memanjat tembok menghindar dari tembakan Pein kearahnya, dia berputar miring di tembok gedung.
Dor! Dor! Dor!
Ctik. Ctik.
Tembakan demi tembakan di lancarkan Pein namun gagal mengenai kaki Sakura yang berputar. Pein mengambil peluru di balik jaket hitamnya untuk mengisi pistol yang kosong dengan senyum penuh kemenangan tetap tersungging di bibirnya.
Sakura berdiri di samping rak botol kosong, ia mengerjapkan matanya beberapakali akibat efek dari putaran yang dilakukannya tadi membuatnya sedikit pusing.
Setelah beberapa detik kepalanya normal kembali, Sakura mengambil botol kosong di sampingnya.
Prang.
Ia membenturkan bagian bawah botol sehingga menjadi lebih runcing dan mengarahkannya tepat di kening Pein yang sedang sibuk mengisi peluru.
Jleb.
Tepat saat Pein mengarahkan moncong pistol kearah Sakura, botol itu menancap tepat di keningnya. Mata Pein terbelalak saat melihat cairan merah berbau karat turun perlahan mengenai hidungnya.
Brukk.
Tubuh Pein terjatuh tepat di depan Sakura yang sedang berdiri menatapnya datar. Pistol yang di pegang Pein perlahan terlepas, bergeser dan berhenti tepat di tumit kaki kiri Sakura.
Kankuro yang melihat adegan itu, segera mengarahkan rifflenya ke kepala Sakura yang berdiri memunggunginya.
Dor.
"Akh…," Sakura memegang lengan kanannya akibat tembakan jarak jauh Kankuro.
Sayang tembakannya meleset karena tangannya yang bergetar hebat melihat aksi Sakura tadi, "Sial!"
Sakura berbalik dan mendongak melihat Kankuro yang sedang mengarahkan riffle tepat di jantung Naruto, "Naruto berjongkok kataku!"
Dor.
Tepat saat Kankuro menembakan peluru berikutnya, Naruto berjongkok memegangi kepalanya.
Sakura berlari ke arah Naruto, mengambil pistol di tangannya dan melompat bertumpu di bahu Naruto. Mengarahkan moncong pistol tepat di balkon kamar berlantai tiga.
Dor!
Srutt. Krakk.
Tubuh Sakura tertarik ke atas, ia berputar dan mendarat di balkon kamar itu, "aku akan membunuhmu."
Kali ini Sakura mengarahkan moncong pistolnya kearah kawat pagar Yang terbuat dari besi.
Dor!
Srutt.
Kankuro semakin panik saat melihat Sakura berputar dan mendarat tepat beberapa meter darinya. Ia mengarahkan mengarahkan riffle ke kaki Sakura.
Tembakannya meleset lagi mengenai lantai. Kankuro mengisi peluru riffle namun berkali-kali tidak masuk akibat tangannya yang bergetar hebat.
Sakura menendang riffle yang berada di tangan Kankuro dengan kaki kiri, dia berputar membentuk huruf O. Tubuhnya bertumpu pada tangan kanan kanan serta kaki kanan dan mengambil riffle yang berputar di kaki kirinya dengan tangan kiri yang menganggur.
Sakura berdiri mengarahkan riffle itu tepat di jantung Kankuro, "Sekarang siapa yang terpojok? Huh?"
Kankuro menggeram kesal, merasa kalah menghadapi gadis yang lebih muda darinya. Dengan cepat dia menampar pistol itu hingga jatuh ke bawah gedung dan melayangkan tinjunya epat di perut Sakura.
Dengan lincah Sakura menghindari pukulan yang di lancarkan ke perut dan pipinya. Sakura berputar di punggung Kankuro yang setengah membungkuk hendak memukul perut Sakura.
Ia mencekal leher Kankuro dengan lengan kanannya begitu kencang, "Apa hanya ini kemampuanmu? Kau preman baru huh?"
"Ughh… Kemari kau gadis sialan!" Erang Kankuro kesakitan.
Sakura mengelus pipi bertato Kankuro beberapa kali menggunakan punggung jari kirinya, "See you around."
Krakk!
"AAGGGHHH!"
Kankuro berteriak kesakitan saat memutar kepalanya hingga tulangnya patah. Meski begitu tidak ada darah yang keluar dari tubuh Kankuro.
Brukk.
Tubuh Kankuro limbung. Sedangkan Sakura hanya memandang kosong tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
Naruto yang melihat adegan itu mulutnya menganga, keringat bermunculan di sekitar pelipisnya.
Baru kali ini dia melihat adegan pembunuhan yang sadis seperti itu. pekerjaannya sebagai polisi dia hanya melihat mayat yang sudah terbunuh sadis namun melihatnya langsung seperti ini dia bisa menyimpulkan gadis misterius ini benar-benar berbahaya. bagaimana jika ingatannya pulih sepenuhnya?
Sakura mengerjapkan mata emeraldnya beberapakali. Pupil matanya yang tadi melebar kembali seperti semula. Ia memandang tangannya dengan mata emerald yang bergetar, "Apa yang telah aku lakukan? Aku telah membunuh dua orang."
"Argghh!" Sakura memegangi kepalanya, ingatan masa lalunya begitu kelam terus meracuni pikirannya.
Naruto yang berada di bawah kaget mendengar Sakura berteriak histeris seperti itu, dia memanjat tembok dan berlari menuju gedung tua yang sudah tidak terpakai lagi tempat di mana Sakura berada, "Tenang, Sakura-chan aku akan ke sana!"
Dalam perjalanan Naruto terus memikirkan Sakura. Masa setelah membunuh langsung berteriak histeris seperi itu. Apa mungkin dia melakukannya tidak sadar. Kemungkinan itu kecil, karean dia menyadarkan untuk berjongkok menghindari tembakan pria bertato ungu itu atau dia refleks melakukan hal itu. Entahlah.
Brakk!
Pintu di dobrak paksa oleh Naruto yang terengah-engah berlari ke atas atap. Naruto berjalan perlahan kearah Sakura yang meringkuk di lantai memegangi kepalanya.
"Sakura-chan?" Guman Naruto pelan begitu tepat di belakang punggung Sakura.
"Naruto, a-aku sudah membunuh orang." Sesal Sakura.
"Sakura-chan berdirilah," Naruto memegang bahu Sakura. "kau melakukan itu untuk melindungi dirimu. Sekarang ayo kita pulang ke apartemen, kau pasti lelahkan?"
Sakura hanya diam saat Naruto memakaikan jaket orange yang tadi dia pakai untuk pergi ke pasar swalayan.
"Ng… Sakura-chan apa kau melakukannya dengan sadar?" Tanya Naruto yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Yang kupikirkan saat itu hanya ingin membunuh kedua pria itu." Sahut Sakura pelan.
"Hm."
Tanpa mereka sadari ada dua orang wanita memperhatikan sedari tadi.
Salah satunya seorang wanita berambut merah darah melempar sesuatu di ke punggung Sakura sebuah benda berbentuk bulat kecil berkedip-kedip senada dengan rambutnya, "Aku tidak menyangka Pein dan Kankuro tewas. Ini harus di laporkan ke nona Tsunade."
"Kau benar, kita harus melaporkannya. Apa kau sudah menaruh alat pelacaknya, Karin?" Tanya seorang wanita bermata orange.
"Sudah kutempelkan di punggung nona Sakura. Apa kau tidak sedih melihat Pein tewas, Konan-senpai?" Tanya Karin memainkan rambut merahnya.
"Tidak. Tapi aku akan balas dendam nanti," Jawab Konan dingin berbalik meninggalkan Karin yang terkesima melihat partnernya.
Karin menutup matanya dengan senyum tersungging di bibir merahnya, "Aku tahu kau sangat mencintainya senpai."
"Sudahlah ayo, hari sudah malam." Ujar Konan datar.
"Tunggu! Apa kita menginap di onsen?" Tanya Karin berbinar-binar.
"Terserah kaulah."
"Yeiiy!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Jujur aku nulis capter ini sampe gemetaran loh, entah karena ceritanya yang menegangkan*?* atau karena saya ngenet sampe 2 jam gak berhenti-henti.
Jangan tampol saya kalau ceritanya datar banget dan sejak kapan Pein sama Kankurou satu tim?
Kalo sempat mampir ke fic saya New York Nights apa lagi kalau riview#nyengir ga jelas
Yang udah riview : Wi3nter, Miya-hime Nakashinki, Kanami Gakura, yahiko namikaze, Deidei Rinnepero13, chocovic-chu, Rio Praditya Dika, Rinzu15 The 4th Espada, Saqee-chan, gui gui M.I.T, Rey619, dan ebbie-chan and jeclien-chan.
-See you bebe-
