Disclaimer : KnB (c) Fujimaki Tadoshi sensei

Warning : Typo, OOC, Au, Dsb.

Genre : Supernatural n Fantasy

Pair : HIMITSU ;)

.

.

Chapter 3

"Tadaima."

Tetsuya menutup pintu apartemennya lalu menghidupkan lampu di genkan. Setelah matanya dapat melihat dengan jelas ia mendapati sepasang sepatu di rak.

Pemuda itu menuju ke ruang tengah. Seseorang sedang bersantai tidur-tiduran di sofa sambil membaca sebuah light novel.

"Kau cepat sekali, seharusnya kalau kuhitung jam pulangmu dan jarak dari sini ke sekolah, kau seharusnya baru pulang lima belas menit lagi. Jadi kau memakai teleport?"

Chihiro melirik sebentar Tetsuya sebelum menggumam sebagai jawaban iya. Dengan acuh pemuda yang memakai sweater krem itu kembali pada novelnya.

Tetsuya menghela nafas panjang. "Kau seharusnya tidak boleh begitu. Terlalu ceroboh. Bagaimana kalau ada yang melihat?"

"Tenang saja, aku waspada kok. Lagian aku sedang malas." Chihiro tidak mau repot-repot memandang Tetsuya. Dia tahu kalau bertingkah dan bertindak layaknya manusia adalah hal yang harus dilakukan, namun dia sedang malas menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk pulang.

Tetsuya tak mau berkomentar lagi. Dia mengambil tempat duduk di sofa kecil yang satu lagi karena yang panjang sudah dikuasai Chihiro.

"Jadi apa kau sudah bertemu Akashi?" tanya Tetsuya membuka pembicaraan.

"Sudah."

"Bagaimana?"

Chihiro kini mengalihkan pandangan dari buku dan menatap Tetsuya. Satu alisnya naik. "Bagaimana apanya?"

Tetsuya memutar bola mata malas, "Bagaimana menurutmu tentang dia?"

Sebuah seringai terbit di wajah Chihiro. "Sepertinya semua akan menarik."

Tetsuya ikut menarik sudut bibirnya keatas. "Menikmatinya?"

Chihiro menggumam sambil kembali pada novelnya. "Lihat saja nanti, tergantung seberapa hebat Akashi dan seberapa keras Lucifer nanti."

"Kau memang suka tantangan ya."

Chihiro tersenyum dari balik bukunya. "Kenapa tidak boleh? Melepaskan semua dan menggila, seru bukan?"

Tetsuya tersenyum kecil memaklumi. Chihiro adalah salah satu Patron terbaik. Kemampuan bertarungnya sangat bagus. Baik itu jarak dekat maupun jauh karena penguasaanya pada senjata juga luar biasa. Jarang ada Patron selevel dengannya.

Mungkin hal itu juga yang membuat dia cocok ditugaskan untuk mengawasi dan menjaga Akashi.

Sedangkan Tetsuya lebih berbakat pada pengendalian energi serta manipulasi ingatan. Tetsuya sendiri termasuk jajaran Patron dengan bakat yang jarang. Keduanya adalah partner kerja yang baik.

"Bagaimana dengan mu sendiri?"

Tetsuya berdiri hendak ke kamar. "Kurasa memang akan jadi tugas yang menarik. Kagami sepertinya kemampuannya mulai tumbuh. Aku dapat merasakan alirannya dari tubuhnya." Pemuda bersurai biru itu menghilang dari balik pintu.

Chihiro ikut bangkit dari sofa. Lalu membuka pintu kamar Tetsuya dan seenaknya mengacak koleksi novel partnernya.

"Kau punya Tokei-jikake no Ringo to Hachimitsu to Imouto?"

Tetsuya mendecak lalu mendorong punggung Chihiro keluar dari kamarnya. "Tidak, koleksimu lebih banyak dariku jadi jangan mengacau. Lebih baik kau awasi Akashi atau apalah."

Chihiro mendengus malas. "Kita baru sampai dan langsung kerja?"

"Jangan malas dan sana kerja saja!" usir Tetsuya dan langsung membanting pintu.

"Ha'i, Ha'i." Chihiro melempar kedua tangan ke udara tanda menyerah. Ia segera berjongkok di kusen jendela. Pemuda itu menggumamkan sebuah kata.

"Byeonhwa."

Dan sweater krem itu berubah menjadi baju terusan berwarna putih pucat yang mencapai lututnya, celana bahan putih yang longgar, lengannya juga panjang menutupi setengah dari jemari milik Chihiro. Sebuah topeng yang hanya menutupi bagian atas wajahnya berbentuk burung hantu tanduk bertengger di wajah pucat tersebut.

Chihiro mendongak menatap langit senja. Hamburan warna merah dari matahari yang hendak terbenam. Seperti warna yang disapukan kuas pelukis pada kanvas raksasa. Warna merah yang temaram dan pekat.

'Seperti darah,' batin Chihiro. Dan sesasaat kemudian ia menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus.

.

.

Chihiro muncul mendadak di atas gedung di tepi jalan yang penuh akan toko-toko. Matanya menelisik pertokoan yang berjejer rapi dikanan kiri jalan. Menemukan setitik warna merah yang menelusuri trotoar.

Akashi baru pulang dan sedang berjalan. Chihiro agak bingung kenapa dia pulang jalan kaki padahal anak orang kaya.

Chihiro memangkukan tangan pada pagar pembatas. Belum ada sama sekali ia menemukan hal yang keliatannya menganggu keseimbangan dunia gaib dan manusia. Tapi dia tak menampik aura yang menguar dari Akashi sangat tidak biasa. Berbahaya dan gelap.

Tiba-tiba saja tubuh Akashi ditarik kedalam gang sempit yang gelap. Chihiro menyipitkan mata memandang tiga orang berpenampilan preman yang mengerubungi Akashi. Tapi pemuda itu tampak tenang saja dikelilingi oleh orang-orang yang jauh lebih besar darinya.

"Kau! Berikan uang yang kau punya!" ucap salah satu dari mereka dengan nada mengancam. Akashi hanya memandangnya tanpa bergeming.

"Kau tuli ya?!" ucapnya lagi dengan emosi. Akashi masih diam.

"Atau kau ingin dihabisi?" tanya yang lain sambil meremas jari-jarinya dengan mata mengejek serta seringai menyebalkan.

"Kenapa aku harus menuruti perintah orang-orang rendahan seperti kalian?" Akashi akhirnya buka suara. Kata-katanya yang bernada tenang dan datar namun berkesan merendahkan itu menyulut emosi ketiganya.

"Apa kau bilang, bocah?!"

Akashi tersenyum, dingin. Bahkan Chihiro bergidik. Mata heterokromnya berkilat dan ketiga orang itu jatuh terduduk. Akashi melangkah dengan dagu terangkat kearah para preman tersebut. Mereka meneguk ludah, wajah Akashi terlihat gelap karena tak tertimpa cahaya tapi matanya menyala.

Sebuah senyum mengerikan terlukis jelas di bibirnya. "Kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa. Jaga saja nyawa kalian. Aku tidak menjamin umurmu panjang."

"Bocah sialan." Geram salah satu dari mereka lalu bangkit berdiri untuk menyerang Akashi. Tapi dia terkejut saat tau-tau saja Akashi telah berada dibelakangnya dan memelintir tangannya dengan keras sehingga ia memekik.

"Aku bukan orang lemah," ucap Akashi dengan dingin lalu menghempaskan orang itu pada dinding, kepalanya membentur tembok lalu tak sadarkan diri. Dengan keras. Chihiro tahu pasti akan hal tersebut. Oh ayolah, dia dapat melihat darah yang mengalir deras dari luka kepala orang itu.

Akashi berbalik menghadap kedua orang lainnya yang terdiam, tercengang melihat teman mereka pingsan. "Jangan pernah macam-macam padaku," ujarnya dengan raut keras.

Kedua orang itu bergidik lalu cepat-cepat berdiri dan lari. Akashi tersenyum puas. Matanya kembali bersinar, membentuk garis putih disekeliling pupil vertikalnya. "Shi ne!" desisnya terbawa angin.

Chihiro mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu menoleh kejalanan saat terdengar deru kendaraan. Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dan tak terkontrol. Wajah sang supir terlihat panik.

"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba remnya tak berfungsi?" telinga Chihiro yang tajam mendengar seruan panik sang supir yang berusaha mengendalikan kendaraanya. Dan tepat pada saat itu kedua preman tadi menyebrang.

BRAK!

Kedua orang itu terlempar setelah menghantam tubuh truk dan terkapar di aspal dengan darah merah yang menggenangi mereka.

Chihiro cukup shock.

Orang-orang berlarian ke arah tempat itu. Berseru dengan panik dan ketakutan.

Chihiro mengalihkan pandangan dari kerumunan itu pada Akashi yang keluar dari gang dan menoleh, seringai tipis dapat tertangkap Chihiro sebelum pemuda berambut merah tersebut berbalik. Berjalan dengan raut dingin dan tidak peduli.

Apa Chihiro bisa menganggap ini sebuah kebetulan?

.

.

Tetsuya sedang duduk di kursi ruang tengah sambil membaca sebuah novel. "Ah, okaeri Chihiro." Ucapnya berpaling pada jendela saat merasakan kehadiran seseorang.

Chihiro sedang berjongkok di kusen jendela. Pemuda berambut kelabu itu membuka topeng dan menampilkan raut serius.

"Aku rasa aku mengerti kenapa Shuuzo mengatakan kalau 'dia' sangat berbahaya."

.

.

Tbc.

A/N:

Byeonhwa = berubah.

Ai: "Hai Minna, kapan ya terakhir kali nge-update fic di fandom ini? Lagi asyik ama project buat fandom lain."

Chihiro: "Terus maksudnya kita mau dianggurin gitu?"

Ai: "Wah, ada yang ngambek."

Tetsuya: "Udah ah, sudah lama gak ketemu malah berantem. Kita ngapain ya disini? Tiba-tiba aku mikirin hal ini."

Ai: "Aku juga nggak tahu. Hehe. Di chap ini aku mau ngasih hint buat kemampuan Akashi. Ini masih sebagian kecil. Aku masih mikirin detailnya. Dan gak tau tuh kapan kemampuan Kagami kuperlihatkan. Hehe."

Chihiro: "Lu banyak hehe doang."

Ai: "Bodo!"

Tetsuya: "Mending kalian pergi berantem aja jauh-jauh. Aku mau tutup ini fic dulu. Terima kasih telah membaca dan mohon kesedian reviewnya." /bungkuk sopan.