Pair : SasuSaku slight GaaSaku
Rate : T semi M (jaga2)
Naruto © Masashi Kishimoto
Just be mine © CbiellUchiha1
AU, Alur kecepetan, OOC, GaJe , (miss) typo? dan gangguan lainnya yg berefek samping.
.
.
.
Karena masih newbie, mohon bimbingannya senpai ^^. *kecup syariah
Happy Reading ...
.
.
.
Sakura POV
Haaaaaahhhhhh ...
Aku kembali menghembuskan nafas gusar dan hanya mengaduk-aduk jus strawberry-ku tanpa berniat meminumnya – setidaknya sampai aku lelah dan haus. Aku sudah melakukan hal yang sama hampir sepuluh menit ini dan aku berani bertaruh – demi jidat lebarku – kalau Ino-pig menghabiskan waktunya memperhatikan tingkahku yang tak biasanya. Untung hanya kami berdua dimeja ini tanpa gangguan Shika-nas dan Gaara-panda. Shika di ruang OSIS dan Gaara di aula. Anggap saja mereka sedang sibuk.
Aku tak tahu kenapa aku begitu gugup bahkan kini masih 8 jam lagi sebelum aku menyumbangkan suara 'emas'ku secara perdana untuk didengar orang lain selain Sasori-nii. Aku bahkan tak berani membayangkan jika Ino akan mencekik dan menarik paksa pita suaraku kalau seandainya dia tahu aku akan menghancurkan sebuah bangunan dikota ini. Hiperbolis? Tidak kurasa, karena tidak ada yang mustahil bagi gadis yang masih menatapku ini.
"Apa kau lihat-lihat?" semburku langsung. Risih juga jika kau tahu netra aquamarine miliknya terang-terangan mengawasimu sepuluh menit tanpa ada niat bertanya. Oke, aku memang berharap Ino tidak akan bertanya, tapi setidaknya aku berharap bisa mencongkel kedua mata indahnya dan memasukkannya ke dalam jus-ku agar dia tidak bisa lihat apa-apa. Kejam? Iya, aku memang kejam.
"Tidak. Aku hanya heran saja kenapa setiap aku melihatmu berpikir, jidatmu makin lebar saja. ah, jika aku punya jet pribadi, boleh ya aku lepas landas disini?" ucapnya tanpa dosa sambil mengusap-usap jidatku dengan telunjuk lentiknya. Berani sekali dia. Biar lebar begini, hasil usaha orang tuaku juga 'kan. Dari sekian banyak hanya aku yang terpilih memiliki jidat 'mewah' ini.
Kutepis tangannya dan menyeruput jus strawberry-ku langsung dari gelas. "Boleh saja. Asal kau kuruskan dulu badanmu, pig. Aku pikir jet-nya tidak akan kuat lepas landas dengan timbunan lemak didalamnya" ejekku dengan seringai licik. Kena kau 'kan sekarang.
"Terserah. Kau kenapa sih? Kau sedang datang tamu? Dari tadi kau kelihatan kesal sekali" tanya Ino akhirnya. Yah, walau kutahu sebenarnya dia berusaha mengalihkan pembicaraanku menyinggung berat badannya yang naik 5 kg karena terlalu sering mengunyah keripik kentang. Dia menularkan kebiasaan Chouji, penanggung jawab klub surat kabar sekolah kami.
"..."
"Jidat"
"..."
"ji~dattt" panggilnya lagi. Kali ini dengan sedikit nada nakal.
"..."
"Jawab aku, JIDAT" Oh, seandainya aku bisa menyumpal mulutnya dengan kaus kaki Chouji, aku akan melakukannya dengan senang hati.
"Baiklah. Tapi apa kau janji tidak akan mencekikku?" tanyaku dengan wajah yang disedih-sedihkan.
"Iya" dan Ino menjawab dengan wajah yang dimanis-maniskan.
"Apa kau janji tidak akan berteriak diwajahku?" tanyaku lagi.
"Tentu" kali ini gadis blondie ini menjawab sedikit tidak sabar.
"Apa kau janji kau tidak akan menarik ... pita suaraku?"
"Tentu saja tidak, Sakura" Oh, tidak. Ino baru saja menyebut namaku. Aku sudah menggali kuburanku. Seandainya memang ada, aku akan masuk dengan suka rela.
"Mm, sebenarnya aku ..."
"Ya" aku bisa dengan sangat jelas melihat matanya berbinar. Bahkan semut yang merayap di dinding pun tahu kalau dia ratu gosip sejati.
"Aku baru saja ... menyetujui ... kalau aku bersedia ..." aku sengaja menggantungkan kalimat terakhirku, tidak siap dengan apa yang akan menyerangku. Sial.
"Kau bersedia? Menikah dengan Gaara?"
"Ck, bukan pig"
"Kau bersedia menjadi simpanan Shikamaru?" demi apapun, yang benar saja.
"Ishh, bukan. Itu sih kau" ujarku memutar mata bosan
"Jadi apa jidat? Kau membuatku hampir mati penasaran" tuntutnya.
Jujur, aku belum siap. Ino sebenarnya tak berhak menarik pita suaraku – jika itu terjadi – kalaupun dia marah, tapi Ino sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri seperti aku dan Sasori-nii. Aku merasa gila jika tidak mengatakan satupun rahasia memalukanku pada gadis Yamanaka ini. Entah sudah berapa buah buku yang digunakannya hanya untuk menuliskan rahasiaku dengan alasan agar ia bisa mengingatku dengan mudah jika suatu hari nanti ia hilang ingatan. Alasan macam apa itu? Tapi aku memang berharap dia hilang ingatan hari ini saja.
"Aku menyetujui untuk menjadi vokalis band Sasori-nii" ucapku tanpa putus dengan satu kali tarikan nafas. Aku merasa oksigen dibumi benar-benar menipis. Aku sesak sekarang.
Aku lihat Ino hanya diam dengan mulut sedikit menganga. Aku berinisiatif membuatnya tetap anggun dan menjulurkan tangan kananku kembali menautkan kedua bibirnya agar kembali tertutup. Kau boleh terkejut pig, setidaknya kau harus tetap normal.
"Oke, lupakan kata-kataku tadi. Sekarang buka mulutmu" ucapnya tiba-tiba dan berusaha meraih wajahku. Aku tahu ini akan terjadi dan bersiap melarikan diri. Untung hari ini aku memakai sepatu sneaker, jadi aku bisa berlari tanpa takut slip diubin sekolah yang lumayan licin.
Kulihat Ino mengejarku dengan wajah setengah tertawa dan setengah licik. Pig, seharusnya kau jadi Laverna saja, kau tidak cocok menjadi barbie dengan rambut pirang itu. Ingatkan aku mencatatnya untuk peran jahat pada drama sekolah nanti. Tapi sekarang aku harus menyelamatkan diri dulu.
Sepertinya kau kesulitan dengan sepatu flat bertumitmu, Ino. Selamat berjuang.
"Aku duluan ya, pig. Daaaa"
"Sial. Seharusnya aku pakai sepatu roda sekarang" samar dapat kudengar umpatan Ino dibelakangku. Aku hanya terkikik dan melanjutkan acara Survival game-ku.
.
.
.
Yang benar saja. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan itu artinya aku harus ikut Sasori-nii untuk latihan pertama kami di studio pribadi milik temannya, Kirin Record.
"Sakura, ayo cepat!" Sasori-nii menarik tanganku menuju mobilnya dan melaju meninggalkan garasi kediaman kami menuju Kirin record. Perjalanan menuju Kirin hanya memakan waktu sekitar dua puluh lima menit jika jalanan tidak padat seperti jam sibuk dipagi hari. Aku tak banyak bicara, hanya mendengar ocehan kakakku yang sebagian besar menceritakan tentang adik temannya yang tampan.
Awalnya aku tak tertarik, tapi ketika Sasori-nii bilang kalau Sasuke – adik temannya – baru saja lulus dari British Internasional High School, aku langsung memasang telinga mendengarkan. Aku hanya dapat melebarkan mata dan kagum sendiri mendengar penuturan kakakku tentang si Sasuke itu. Dia bahkan menolak beasiswa dari Inggris hanya untuk dapat berkuliah di Jepang, ditempat yang sama dengan kakakku dan kakaknya. Universitas Tokyo.
"Apa memang ada orang dengan otak seencer itu?" tanyaku antusias. Bukannya apa-apa, tapi dari waktu aku masih didalam badungan, aku sudah bermimpi dapat bersekolah di SMA kenamaan Inggris itu. Tapi siapa sangka aku tidak lulus tes karena nilai bahasa inggrisku yang mengenaskan. Padahal kedua orang tuaku selalu bepergian kebanyak negara yang mengharuskan mereka berbahasa internasional itu dan salah satu alasan juga bibi setengah buleku diterbangkann dari Australia.
"Aku juga awalnya tak percaya dengan cerita Itachi. Tapi setelah melihat sendiri kertas-kertas hasil ulangan yang dikirim Sasuke ke Jepang, aku tidak bisa menutup mulutku" terang Sasori-nii. Aku dapat membayangkan bagaimana ia kepo sana sini bertanya tentang si Sasuke itu.
"Bagaimana orangnya?" aku penasaran dengan penampilan Sasuke itu. aku sering melihat difilm-film kalau orang dengan otak diatas rata-rata itu selalu berpenampilan culun dan kutu buku. Tidak keren dengan kaca mata tebal tahun 60-an. Rambut klimis tipis dan sedikit terlihat tua dengan beberapa uban karena selalu berpikir yang menguras kehitaman rambutnya. Uhhh, semoga saja tidak.
"Bagaimana ya? Aku tidak bisa menjelaskan detail padamu, yang jelas dia itu mempunyai rambut seperti ... apa yah? Merpati? Ah,bukan. Elang? Itu matanya. Mm, ayam?"
Aku sedikit haus. Kukeluarkan sebotol isotonik dari tas kecilku dan membuka segel tutupnya ketika kakakku mengatakan sesuatu yang membuatku tersedak.
"Benar, dia ayam Sakura" ujar kakakku itu setengah berteriak. Apa tadi? Ayam? Manusia mana seperti ayam yang dibilang tampan? Sial, aku menyemburkan minumanku ke dashboard mobil Sasori-nii. Salahkan dia.
"Uhuk, apa kau bilang? Ayam? Ayam mana yang akan berjodoh denganku, baka?" semburku setengah terbatuk. Dia bilang kalau aku akan jatuh cinta dengan ayam? Demi mulut ember Ino, itu keterlaluan.
"Bukan, sista. Maksudku rambutnya seperti pantat ayam. Rambutnya, bukan dia. Bersihkan dashboard-nya" Sasori-nii mengerang frustasi dengan cara kerja otakku, tapi perintahnya tetap jalan.
"Chicken butt maksudmu?" tanyaku sambil membersihkan bekas semburanku dengan tisu yang ada dimobil.
"Yap dan kita sudah sampai" Sasori-nii memasuki sebuah tempat dengan gedung yang tak bisa dibilang kecil yang mempunyai parking area luas. Kutebak gedungnya terdiri dari empat lantai dilihat dari tinggi rata-ratanya yang juga tak bisa dibilang sangat tinggi. Intinya, sedang-sedang saja tapi mewah.
Aku turun dan melihat Sasori-nii sudah berjalan menuju pintu masuk sambil berjabat tangan dengan seorang pemuda tampan dengan rambut yang dikuncir rendah. Dia pasti bukan Sasuke jika dilihat dari rambutnya, apalagi kakakku memanggilnya dengan sebutan 'itachi'. Oh, dia kakak si Sasuke itu.
Pemuda itu melirik padaku dan mengedipkan sebelah matanya nakal sambil tersenyum manis yang mendapatkan deathglare kakakku.
"Sakura-chan, ayo sini" panggilnya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil berjalan pelan mendekati mereka. "Wah, ternyata kau aslinya sangat manis ya. Terlihat lebih dewasa dibanding foto yang diberikan Sasori" ucapnya. Foto? Foto mana? Kulirik kakakku satu-satunya itu yang sudah buang muka dan pura-pura tidak tahu sambil memainkan jari-jarinya lihai mengetikkan sesuatu di layar ponsel pintarnya.
Tak berapa lama suara notif terdengar dari ponsel yang digenggam Itachi-nii. Dia hanya tersenyum tanpa berniat mengetikkan balasan kepada si pengirim. Aku yakin Sasori-nii sudah mengancam mahkluk tidak berdosa dihadapanku ini. Sok bossy sekali kakakku itu.
Pertemuan sesaat itu berlanjut saat kami melangkah memasuki studio yang terkesan sederhana namun elegan ini ke ruang latihan yang dipenuhi berbagai macam alat musik. Disanalah aku melihatnya. Ayam yang dikatakan Sasori-nii itu jauh dari dugaanku. Dia bukan ayam sembarangan, dia ... menakjubkan.
Oke, aku memang mengagumi ketampanannya, tapi aku juga tidak akan mau melakukan hal norak yang biasa dilakukan fans Gaara. Aku mengakui ia tampan dan makin terlihat 'wah' dengan wajah seriusnya yang sedang me-stem gitar di samping set drum yang diduduki pemuda kuning jabrik dengan wajah tak kalah tampannya. Bedanya pemuda jabrik yang kuketahui bernama Naruto – setelah Itachi-nii memanggilnya – itu terlihat lebih hangat dan bersahabat. Sasuke lebih kepada dingin dan acuh.
"Hai, Sakura-chan. Kenalkan aku Naruto Uzumaki" sapa Naruto memperkenalkan diri dengan cengiran lebar yang kutanggapi dengan memberinya senyuman terbaikku. Aku suka dengan sifat Naruto.
"Ah, hai Uzumaki-san. Aku tahu kau sudah tahu namaku, jadi ... begitulah" ucapku sopan dan sedikit kikuk yang membuat pemuda hangat itu terkikik geli.
"Panggil saja aku Naruto. Tidak perlu formal padaku" ujarnya
"Aa, Naruto?" ucapku mencoba panggilan baru itu, terdengar sedikit aneh bagiku. Apalagi kami baru kenal.
"Nah, begitu. Kenalkan juga, ini Sasuke Uchiha. Dia temanku sejak kami bersekolah di TK sampai lulus SMA juga ditempat yang sama. Keren 'kan?" terang saja aku membulatkan mata mendengar penuturan Naruto. Mereka bahkan sekolah di SMA yang sama, itu berarti di Inggris 'kan? Oh, aku benar-benar malu sekarang. Oke, mode normal.
"Ah, hai Uchiha-san. Aku Sakura Haruno. Senang berkenalan denganmu" ucapku dengan tersenyum manis dan masih kikuk. Sial.
"Hn"
"..."
"..."
WTF? Hn? Jawaban macam apa itu?
"Um, apa kau tidak berniat memperkenalkan diri? Ah, maksudku –"
"Untuk apa? Kau sudah tahu namaku 'kan?" Sial. Apa dia menyela perkataanku dan sekarang berbicara tanpa melihat padaku? Apa dia tak pernah mendapat pendidikan sopan santun selama hidup? Oh, tuhan makhluk jenis apa yang sudah kau ciptakan?
"Ano, Sakura-chan, maklum ya Sasuke memang orangnya seperti itu" Naruto berbisik padaku. Ku tebak dia tahu kalau aku sedang kesal dan aku memang sangat kesal.
"Aa. Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menghadapi manusia beku" sindirku terang-terangan. Apa dia mengibarkan bendera perang? Baik, aku layani kau ayam. Aneh memang, aku baru mengenalnya dan ia sudah mengajakku berperang.
Kurasa dia mendengar kalau aku menyindirnya. Sasuke menoleh dan meletakkan gitar pada tatakannya dan berjalan kearahku yang hanya berjarak 3 langkah darinya. Naruto hanya mengerang frustasi sambil menjambak rambut pirangnya.
"Oh, benarkah? Aku juga sudah biasa dengan gadis cerewet gila sepertimu" ucapnya sambil menyentuh daguku lembut. Aku bertahan, tak ingin tampak lemah dihadapannya. Dia baru saja menyebutku cerewet dan gila dan itu perpaduan yang buruk sekali. Aku akui aku memang cerewet dan Ino pun pernah mengatakannya tapi aku tidak gila. Kalau saja dia tidak menjadi musuhku saat ini aku pasti sudah menghambur memeluknya.
Sial. Kau sudah punya panda, Sakura. Kau tidak butuh ayam, kandangnya juga tidak ada.
"Itu keterlaluan sekali, tuan. Kau akan menyesal menyebutku gila" tantangku padanya sambil mendorong dadanya dengan telunjukku. Jarak kami sudah sangat dekat kalau aku tidak melakukan itu. aku baru sadar kalau Naruto sudah tak berada diruangan ini. Entah dia pergi mencari para aniki atau apa aku tak tahu. Aku sedang sibuk dengan ayam ini.
"Bagaimana mungkin aku akan menyesal, Nona? Kalau kau tetap memilih untuk menjadi vokalis kami, kau benar-benar akan gila"
"Bisa kau jelaskan kenapa aku harus percaya padamu?" tuntutku tak mau kalah. Kulihat chicken butt itu menyeringai licik. Dia mendekatkan wajahnya dan berhenti disamping telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku melebarkan emerald ku tidak percaya. Apa yang dipikirkannya? Atau apa ia benar-benar berpikir sebelumnya? Maksudku, kami benar-benar baru kenal.
"Gaara akan benar-benar menyesal membiarkanmu menjadi bagian dari Red Cloud. Pikirkan yang kukatakan tadi, sayang" dia bahkan masih bisa tersenyum licik bahkan setelah mengatakan hal itu padaku. Apa dia benar-benar manusia? Tuhan, bunuh aku sekarang. Dia bahkan mengenal Gaara jauh sebelumku.
.
.
.
Aku sudah gila, persis seperti apa yang pantat ayam itu inginkan. Ini latihan pertamaku bersama Red Cloud dan aku sudah beberapa kali melakukan kesalahan. Walaupun Itachi-nii dan Sasori-nii memaklumi kalau ini masih hal baru bagiku, tapi tetap saja aku tidak ingin mengecewakan mereka. Apalagi setelah kulirik Sasuke, dia seperti puas membuatku salah tingkah dan tidak fokus dengan menyeringai nakal dan kalian kalau bertanya padaku secara normal, aku menyukai seringaiannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit menjelang tengah malam, mataku tak memiliki cukup daya untuk tetap menyala tiga puluh menit kedepan. Mungkin Sasori-nii akan menggendongku, siapa tahu? Nyatanya? Aku harus menerima kenyataan yang bertolak belakang.
"Sakura, aku tidak bisa langsung mengantarmu pulang sekarang" tiba-tiba Sasori-nii muncul dan menyampaikan berita bencana bagiku. Emerald-ku melotot meminta penjelasan, bisa-bisanya kakakku itu berkata dengan wajah tanpa dosanya.
"Hehe, aku belum bilang ya?"
"Sama sekali" ketusku.
"Begini, aku harus pergi menemani Itachi menjemput mobilnya yang diderek karena mengalami pecah ban. Naruto juga akan ikut denganku karena ada janji akan mampir sebentar kerumah kekasihnya. Kebetulan tempatnya berada didaerah sekitar bengkel tempat Itachi menitipkan mobil" jelas Sasori-nii panjang lebar. Baiklah, itu alasan yang masuk akal. Tapi aku pulang dengan siapa?
"Lalu? Aku pulang jalan kaki, begitu maksudmu?" arghh, rasanya ingin sekali kujambak rambut merah itu kalau saja tak ada seseorang yang menjawab pertanyaanku.
"Kau pulang denganku" aku menoleh slow motion kearah datangnya suara yang berasal dari koridor samping sebelum kepala berhelaian raven itu muncul. Yang benar saja, aku pulang dengannya?
"Ap-apa?" apa aku terkejut? Demi kepala ayam itu, tentu saja.
"Nah, maksudku kau pulang dengan Sasuke, Sakura. Tolong ya, Sasuke" Ini mimpi buruk. Kakakku bahkan menyerahkanku pada pemuda ini. Apa yang dikatakannya pada Sasori-nii baka itu?
"Hn"
"Sasori-nii, kau bercanda 'kan? Kau tidak benar-benar menyerahkanku pada pantat ayam ini 'kan?" bisikku pada baby face dihadapanku, sialnya dia adalah kakakku.
"Tentu saja aku tidak bercanda"
"Apa?"
"Sudah, ayo pulang" tiba-tiba Sasuke menarik pergelangan tanganku dan menyeretku pergi. Sasori-nii hanya tersenyum sambil melambaikan tangan padaku. Apa dia pikir aku butuh lambaian laknat itu?
Siapa saja tolong aku!
Sasuke melepaskan tanganku dan memberikan sebuah helm full face hitam seperti miliknya padaku setelah kami sampai disamping motor sport Kawasaki ZR14R hitammiliknya. Aku tak tahu kenapa, tapi hatiku sedikit mencelos ketika ia sendiri yang melepas genggaman tangannya pada tanganku. Seharusnya skenario yang terjadi, aku yang menarik tanganku dan membentaknya dengan marah. Di film-film memang seperti itu 'kan?
Aku sedikit kesulitan memakai helm karena memang aku jarang naik kendaraan roda dua, jadi aku kurang mengerti penggunaan benda bulat ini selain meletakkannya dikepala. Aku terbiasa dengan safety belt dan mengendarai mobil sendiri yang sekarang sudah disita Sasori-nii untuk satu minggu kedepan. Aku merengut kesal saat Sasuke menarik sudut bibirnya menampakkan senyum tipis melihatku kesulitan mengaitkan pengait helm sial itu.
"Setidaknya kau bisa membantuku mengaitkan benda ini" bentakku padanya.
"Kau tidak minta" balasnya polos. Jawaban macam apa itu?
"Baiklah, tolong" harga diriku~
"Tolong apa? Kau ingin aku menolong menciummu?" pantat ayam brengsek. Mesum juga dia rupanya.
"Dasar pantat ayam mesum. Ya, sudah aku jalan kaki saja" ucapku mengancam berharap dia akan menghalangi jalanku.
"Hati-hati. Kau bisa kembalikan helm-ku kalau begitu" WTF? Dia bahkan tidak mencegahku. Harga diriku benar-benar dipermainkan. Lihat saja kau. Akan kubalas kau lain waktu. Dengan berat hati aku berbalik dan melihatnya menyandar di badan motor sambil melipat tangan didada. Menyeringai.
"Seharusnya kau mencegahku, baka. Lelaki macam apa kau membiarkan gadis jalan kaki sendirian?"
"Kau sendiri yang ingin jalan kaki" ucapnya masih dengan berpangku tangan.
"..."
"Hah, ya sudah. Sini, pakai helm-mu" Sasuke mengalah. Ia berdiri tegak kemudian menggenggam bahuku untuk memperpendek jarak kami agar dia mudah mengaitkan helm-ku dan memasang helm-nya sendiri. Sekilas aku mencium wangi Gillette after shave yang menguarkan aroma segar yang tak terlalu keras. Aku suka dengan wangi Sasuke.
"Kau wangi" ucapku jujur yang membuatnya menoleh dan tersenyum singkat dibalik helm. Setelah selesai dengan prosedur keselamatan, aku menaiki motornya dan bersiap jalan ketika mendengar perintahnya.
"Pegangan. Aku tidak suka bawa motor pelan" Oh, bagus sekali. Aku akan terbang sekali ia tancap gas. Walau sedikit enggan, kupegang juga ujung jaketnya.
"Kubilang pegangan" oke, cukup. Keselamatanku lebih penting, buang dulu egomu Sakura. Nanti kau bisa pasang lagi. Akhirnya kupeluk juga pemuda di depanku ini seakan aku akan terbang jika tidak melakukannya.
Ternyata Sasuke memang menjalankan kata-katanya. Dia menggeber motor seperti pembalap dan menyalip kiri kanan selama perjalanan pulang yang mempertaruhkan nyawaku. Aku tak bisa mengendurkan pelukanku, jika orang awam melihat pasti mereka mengira aku dan Sasuke berpacaran. Sial, memikirkan kata itu saja membuat mukaku seketika panas. Ingat Gaara. Ingat Gaara. Ingat Gaara. Begitu ulangku dalam hati.
Tak berapa lama kami sampai di kediamanku setelah kuberi panduan arah. Aku turun dan melepaskan helm-ku dan menyerahkannya pada Sasuke. "Terima kasih sudah mengatarku, Uchiha. Aku – "
"Sasuke. Panggil aku seperti kau memanggil Naruto" potongnya.
"Sasu-ke? Uhm, terima kasih" ucapku kikuk. Apa aku salah tingkah? Tidak mungkin.
"Hn. Aku pulang" ujarnya bersiap pergi.
"Tu-tunggu. Ha-hati-hati" Bodoh. Kenapa aku gugup begini sih? Dia hanya baru mengantarmu pulang, bukan mengajakmu berkencan, baka.
"Apa kau menghawatirkanku? Hahaa, aku suka. Jangan lupa kata-kataku tadi, Sakura" jawabnya sambil mengacak-acak rambutku sebelum benar-benar pergi menghilang ditelan gelapnya malam.
"Ahh, Gaara, Gaara, Gaara, Gaara ... aku cinta Gaara" ulangku sampai masuk rumah dan menghempaskan tubuh lelahku di ranjang empukku. Aku menerawang sejenak dan mengusap pipiku yang terasa panas. Kata-kata Sasuke kembali terngiang-ngiang dikepalaku. Apa yang dipikirkannya?
"Siapa kau Sasuke Uchiha? Hanya dalam satu malam kau berhasil membuatku setengah gila" bisikku sebelum benar-benar hanyut dalam mimpi.
.
.
.
"Kau akan benar-benar akan gila karena keberadaanku dan ucapkan selamat tinggal pada pandamu. Bye Gaara"
.
.
.
Waaaaaa, jariku keriting .
Nah, pertemuan SasuSaku rada gimana gitu, yah? Hehehe ..
Sebelum pergi, tinggalin review dong Yank *ditimpuked* biar ada Feedback dari kalian semuanya jadi biel bisa mutusin jalan cerita selanjutnya gimana. Karena ada beberapa reviewers yang pengen Gaara begini, Sasuke begini dan yang begini begitu *apasih* .. hehehe^.^
Oke, terima kasih banyak buat yg udah follow, favorite, sama ngasih review .. karena satu kata di review kalian sangat berarti bagi seorang author *yg author ngertilah yak* .. hehehe dannnnn ...
Cipok satu satu dulu .. Muaaahhhhhhhh *cupcuppeyukpeyuk*
