CRAZY IN LOVE

[CHAPTER 2 – That Girl]

Adapted from: Drama Goblin.

Chanlove – 2018

*

"Sehun-ah, kau belum berangkat?"

Heechul baru saja keluar dari kamarnya dengan pasangan kemeja formal berwarna hitam yang membalut tubuh kurusnya. Pria separuh baya itu melihat keponakannya yang masih berkutat dengan kertas-kertas penting di meja makan. Anak itu seharusnya berangkat lebih pagi untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus. Bukannya malah menumpangkan kaki di atas kursi sambil menuliskan sesuatu di atas kertasnya dengan terburu-buru.

"Oh, ahjussi?" Sehun segera menurunkan kakinya ke lantai dan terkekeh canggung. "aku harus membuat surat permohonan kerjanya terlebih dahulu. Baru setelah itu aku akan berangkat ke perusahaan." Katanya.

Heechul mengangguk paham, "Kau ingin melamar di perusahaan mana?"

"Global Games," jawab Sehun cepat. "aku ingin menyalurkan bakatku di sana."

"Huh? Bakat? Memangnya bakat seperti apa yang kau punya?" Luhan keluar dari kamarnya dengan dress formal berwarna hitam. Gadis itu langsung melontarkan pertanyaan yang terkesan meremehkan bagi Sehun.

"Aku bisa memainkan beberapa alat musik dan membuat instrumen. Bagaimana denganmu? Apa yang bisa kau lakukan?" tanya Sehun balik.

"Makan dan tidur." Sela Heechul cepat hingga menimbulkan tawa keras dari Sehun.

"Benarkah, ahjussi? Pffttt..." tanya Sehun dengan tawa tertahan.

"Abeoji... Kenapa kau mengatakan hal itu kepadanya? Ini memalukan!" rengut Luhan.

"Memang begitu kenyataannya, Luhan-ah. Sudahlah, ayo berangkat sebelum turun hujan!"

"Ahjussi, kalian ingin pergi ke mana?" Sehun bertanya saat Heechul ingin melangkahkan kakinya.

"Kami ingin mengunjungi makam Ibu Luhan."

Sehun terdiam sejenak, "O-oh, baiklah. Aku akan berangkat setelah kalian pulang."

"Tidak perlu." Balas Heechul. "Bawa saja kuncinya. Aku akan bawa kunci cadangan. Oh ya, jangan lupa siapkan makan malam untuk Baekhyun. Ia akan pulang terlambat hari ini."

"Nde, ahjussi. Hati-hati di jalan."

*

Baekhyun keluar dari dalam lift sembari menarik vacum cleaner yang akan digunakannya membersihkan kamar hotel. Langkahnya terdengar menggema di keheningan lorong. Kedua mata sehatnya menelisik satu per satu pintu kamar yang berderet rapi beserta nomor yang terpajang di atasnya. Tujuannya kali ini adalah kamar nomor 2089.

"2086, 2087, 2088..."

Kakinya terhenti di depan sebuah pintu berwarna abu yang kokoh dan besar. Baekhyun kemudian menekan tombol intercom di dekat sana dan menyampaikan pesan kepada penghuni kamar tersebut.

"Annyeong haseyo, Tuan, Nyonya, aku salah satu petugas kebersihan yang diminta untuk membersihkan kamar ini. Apakah Anda ada di dalam?"

Menunggu selama beberapa menit dan Baekhyun sama sekali belum mendapatkan jawaban. Ditekannya sekali lagi tombol intercom tersebut dan mulai menyapa seseorang di dalam sana.

"Annyeong haseyo—"

Biipp!

Pintu terbuka tiba-tiba. Seorang wanita berpakaian serba merah berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman tipis. Satu kata yang dapat Baekhyun ucapkan untuk mendeskripsikan wanita di hadapannya adalah... wangi.

"Eoh? Joeseonghamnida, agasshi. Aku petugas keb—"

"Arra-yo. Kau baru saja mengatakannya lewat benda itu," Wanita di hadapannya itu mengarahkan dagunya ke tombol intercom yang terpasang di samping pintu. Hal itu membuat Baekhyun tertawa canggung karena menyadari kebodohannya.

"Ummm... aku—"

"Byun Baekhyun," potong wanita itu lagi. "namamu Byun Baekhyun, bukan?"

Baekhyun tergagap, "Oh, bukan, agashhi. Nama lengkapku Kim Baekhyun."

"Ah, maaf, mungkin aku salah dengar tadi." ucap si wanita.

Salah dengar? Apakah dia yakin kalau Baekhyun sudah menyebutkan nama sebelumnya?

"Masuklah! Ada beberapa baju kotor yang harus di laundry. Bisakah kau mengantarkannya untukku?"

"Ye, agasshi. Akan kuantar pakaian Anda ke laundry hari ini juga."

"Aku akan pergi keluar sebentar. Jika sudah selesai, titipkan saja kartunya di meja resepsionis. Aku akan ke sana untuk mengambilnya."

"Ye, agasshi. Umm... Semoga hari Anda menyenangkan!" Baekhyun membungkuk hormat.

Si wanita hanya tersenyum misterius lantas melangkahkan kakinya menuju pintu lift di ujung lorong. Sementara itu, Baekhyun masih berdiri di tempatnya karena hidungnya senantiasa mencium wewangian yang tak kunjung hilang, meski wanita tadi telah menghilang dari hadapannya.

Ini aneh.

*

"Abeoji, kenapa kita harus pergi ke pemakaman hari ini? Bukankah dua minggu yang lalu kita sudah mengunjungi pemakaman Ibu?"

Kim Luhan bertanya kepada Ayahnya ketika mereka berada dalam perjalanan naik taksi menuju pemakaman yang di maksud. Heechul yang semula sibuk memperhatikan jalanan kini menoleh pandang dengan alis berkerut kesal.

"Kau harus sering-sering mengunjungi makam Ibumu mulai sekarang, Kim Luhan."

"Geureonde, bagaimana jika nanti aku menangis lagi?"

"Justru itu! Kau harus sering-sering menemui Ibumu supaya kau tidak menangis lagi di hadapannya."

Luhan terbungkam. Ia memang kerap kali menangis tanpa sebab apabila tiba di pemakaman Ibu kandungnya. Gadis itu berpikir bahwa ia memiliki kesalahan besar di masa lalu sehingga munculah sebuah rasa bersalah yang selama ini terpendam dalam hatinya dan ia sama sekali tidak dapat mengungkapkannya. Yang ia tahu, Ibunya meninggal beberapa jam setelah melahirkannya akibat pendarahan yang tak kunjung berhenti. Saat itu Luhan hanyalah seorang bayi mungil yang tidak mengerti apa-apa. Dan hal itu justru membuat rasa bersalahnya semakin bertambah karena hingga sekarang, Luhan sama sekali belum bisa mengucapkan maaf kepada Ibunya secara langsung.

Oleh karena itu, Heechul berniat mengajak Luhan pergi ke pemakaman Ibunya selama dua minggu sekali supaya gadis itu bisa melawan rasa bersalahnya serta mencurahkan kasih sayangnya secara langsung kepada sang Ibu.

"Bagaimana jika aku tetap menangis?" Luhan bertanya lagi kepada Heechul.

"Ini baru percobaan. Jika nanti kau masih menangis di pemakaman, aku akan meninggalkanmu dan membiarkanmu tidur dengan hantu-hantu di sana." Balas Heechul sadis.

"Abeoji..." rengek Luhan.

"Berjanjilah padaku bahwa kau akan memerangi rasa bersalahmu dan mengucapkan isi hatimu kepadanya. Jangan jadi anak cengeng!" Sepasang mata Heechul yang semula melotot tajam kini berubah sendu, "Dia pasti ingin sekali melihat anak gadisnya yang sudah tumbuh dewasa." Lanjutnya bergumam.

*

Sebuah ambulance dan beberapa mobil polisi berderet di pekarangan Hotel Metro. Hotel itu kini dipenuhi oleh wartawan yang ingin meliput peristiwa yang terjadi di sana. Kim Baekhyun yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya tentu merasa heran karena saat ini lobby dipenuhi oleh banyak kamera dan wartawan yang berkeliaran.

Baekhyun mencoba bertanya kepada teman-temannya tetapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu mengenai kedatangan rombongan wartawan tersebut.

Sementara itu, di tempat lain, Park Chanyeol keluar dari kamarnya. Ia baru saja menutup pintu ketika seorang gadis berjalan cepat melewatinya diikuti oleh seorang laki-laki yang mengucapkan kata maaf berulang-ulang untuk ditujukan kepada gadis tersebut.

Chanyeol menghembuskan napas perlahan-lahan sebelum mengenakan fedoranya dengan benar. Langkahnya kemudian berlanjut mengikuti sepasang kekasih yang kini tengah berdebat di ujung lorong.

"Apa? Kau ingin menjelaskan apa lagi? Semuanya sudah jelas di mataku bahwa kau selingkuh dengan wanita sialan itu!" teriak si gadis.

"Aku tidak selingkuh dengannya! Ia hanyalah—"

"Kim Jongdae, Kim Minseok." sela Chanyeol cepat.

Keduanya terbungkam seraya menatap Park Chanyeol dengan aneh. Laki-laki berfedora itu lantas melanjutkan ucapannya dengan tenang dan datar.

"Kim Jongdae... meninggal pada 30 April 2016 pukul 11.45, penyebab kematian: kecelakaan maut." Chanyeol melirik sekilas ekspresi Jongdae yang makin membisu di tempatnya, begitu pula dengan gadis di sebelahnya. "Kim Minseok: meninggal pada 30 April 2016 pukul 13.40, penyebab kematian: gantung diri."

[FLASHBACK]

Kim Minseok mendesis kesal melihat kekasihnya kini tengah duduk berduaan dengan seorang wanita tua yang memang belakangan ini kerap kali mengganggu hubungannya bersama Jongdae. Minseok sudah sering mengingatkan bahkan mengancam wanita itu untuk tidak mendekati kekasihnya lagi, namun sepertinya semua ancaman itu hanya dianggap angin lalu olehnya.

Hari ini Minseok tidak akan tinggal diam. Oleh karena itu ia bergerak mendekati keduanya dan menumpahkan segelas jus anggur yang berada di atas meja ke wajah si wanita. Jongdae terkejut melihatnya sebelum sebuah tamparan mengenai pipi sebelah kirinya dan membuatnya memerah. Suasana Kafe itu menjadi ramai seketika. Kim Minseok menangis dan melontarkan kata-kata kasar di hadapan kekasihnya tersebut.

"Kau sudah berjanji tidak akan berpaling dariku, sialan!" pekik Minseok.

"Minseok-ah, i-ini tidak seperti yang kau pikirkan. Ia adalah—"

"Aku ingin kita putus."

"Mwo?!"

Kim Minseok kemudian membalikkan tubuhnya dan meninggalkan keadaan kacau di Kafe. Ia menangis sepanjang perjalanan menuju hotel tempat tinggalnya tanpa menyadari bahwa Jongdae mengikutinya dari belakang.

Pria itu berlari mengejar kekasihnya tanpa mempedulikan wanita tua yang tadi bersamanya.

Kendaraan yang berlalu lalang membuat Jongdae kehilangan jejak kekasihnya. Beberapa pengendara bahkan tak segan mengumpatnya karena menyeberang sembarangan. Jongdae berkali-kali meminta maaf kepada mereka hingga tidak menyadari sebuah truk minuman tengah melaju kencang ke arahnya. Kemudian pemuda itu terpental jauh dengan mulut mengeluarkan banyak darah.

Sementara itu di Metro Hotel, Minseok menumpahkan tangis sejadi-jadinya. Dia mencintai Jongdae sepenuh hatinya, dia bahkan meninggalkan keluarganya dan memilih hidup bersama kekasih yang menjadi satu-satunya orang berharga bagi Miseok saat ini. Namun ternyata Jongdae sama sekali tidak menghargai pengorbanannya. Dan hal itu membuat Minseok merasakan sakit hati yang begitu mendalam.

Karena merasa sangat frustasi, akhirnya ia memutuskan untuk menggantung dirinya sendiri di langit-langit kamar hotel hingga seorang petugas kebersihan menemukannya dalam keadaan tak bernafas.

[FLASHBACK END]

Park Chanyeol duduk menatap sepasang kekasih yang masih saja asik berdebat di hadapannya. Teh penghilang ingatan yang dituangnya ke dalam mangkuk tampak mendingin karena uap panasnya telah hilang terbawa oleh angin. Sekali lagi Chanyeol memperhatikan pasangan ini dengan datar sebelum berniat menginterupsi.

"Kenapa kau tidak berbalik saja waktu itu?! Kau tidak tahu jika aku merasa melayang-layang dan kesakitan? Kau seharusnya menolongku bukannya malah bertindak bodoh!" seru Jongdae.

Minseok jelas tidak ingin kalah, "Aku merasa sangat marah kepadamu! Lagipula aku tidak tahu jika kau mengejarku! Aku pikir kau lebih memilih wanita sialan itu dan menerima kata putusku dengan lapang dada!"

"Berhenti menyebutnya wanita sialan!" bentak Jongdae.

"Kenapa kau terus membela wanita itu bahkan di saat kita sudah mati seperti ini?!"

"Kim Jongdae,"

Sebuah suara berat yang sarat dengan ketenangan itu membuat keduanya menoleh.

"Silahkan minum tehmu,"

"Untuk apa aku meminumnya?"

"Teh ini akan menghilangkan segala ingatanmu tentang dunia ini. Dengan begitu, kau akan hidup tenang di alam sana."

"Kenapa hanya ia yang kau berikan tehnya?" tanya Minseok tiba-tiba. Merasa heran karena hanya tersedia satu cangkir teh di atas meja tersebut.

"Laki-laki ini sudah melakukan hal yang terbaik dalam hidupnya. Dia sangat menghormati kedua orang tuanya meski mereka sudah meninggal. Ia tidak pernah berselingkuh darimu. Semua yang kau lihat beberapa waktu lalu hanyalah kesalahpahaman. Wanita tua yang sering bersama dengannya adalah bibi angkatnya yang baru kembali ke Korea." Jelas Chanyeol membuat Minseok begitu tercengang.

"Mwo?"

"Dan kau, Kim Minseok, kau adalah seseorang yang tidak bisa menghargai waktu yang telah diberikan oleh Dewa kepadamu. Kau tidak bersikap hormat kepada orang-orang yang lebih tua darimu, kau juga... melupakan keluargamu dan lebih memilih kekasihmu yang kau tuduh berselingkuh. Kau ditakdirkan untuk mengingat setiap dosa-dosa yang kau lakukan di dunia ini."

Sepasang kekasih itu terdiam mendengar penuturan Chanyeol. Terlebih Minseok—yang kini menunduk dengan wajah penuh penyesalan.

"Minumlah. Tehnya sudah dingin sejak tadi." Ucap Chanyeol kepada Jongdae.

Jongdae kemudian mengangkat mangkuk tehnya dengan ragu sebelum meneguknya perlahan-lahan.

"Jongdae-ya, mianhae... Jeongmal mianhae..." isak Minseok tiba-tiba.

"Semuanya sudah terlambat. Kau sudah terlanjur masuk ke dalam lubang malapetaka bersama dengan dosa-dosa yang telah kau buat. Mungkin kau tidak akan menyesal lagi nanti karena... kau akan tahu alasan kenapa kau harus diberi hukuman."

*

Heechul dan Luhan tiba di rumah saat matahari telah terbenam di ujung Barat. Keduanya terlihat lelah karena seharian ini hanya berdiam diri di pemakaman. Aneh memang, namun nyatanya Heechul berkata bahwa dia tidak akan membiarkan Luhan kembali ke rumah sampai anak itu bisa berziarah ke makam ibunya seorang diri. Dan hal itu benar-benar terjadi saat ini.

Mereka tiba di rumah menjelang malam karena Luhan masih tetap pada pendiriannya. Anak itu menangis tanpa disuruh lalu merengek meminta pulang sambil menyusut ingusnya berkali-kali. Heechul tak tega sebenarnya, tapi sekuat mungkin dia mencoba mengeraskan hatinya untuk tidak mudah terbujuk oleh wajah memelas milik anaknya. Luhan belum pernah mengunjungi makam sang Ibu semenjak dia lahir dan hal itu membuat Heechul mau tidak mau memaksa anaknya untuk datang meski dengan tangis yang memilukan seperti tadi siang.

Heechul bahkan tidak bekerja seharian ini. Dia menunggu Luhan menangis di pemakaman tanpa merasa malu karena menjadi pusat perhatian. Kemudian setelah Luhan menghentikan tangisnya dan melamun seperti orang bodoh, barulah Heechul bergerak membawanya pulang.

Mata indah Luhan tampak bengkak. Hidungnya merah dan bibirnya mencebik kesal sepanjang perjalanan. Sampainya di rumah, mereka menemukan Sehun yang tengah duduk bersantai di ruang tamu sambil menatap layar televisi yang menampilkan acara komedi. Pria itu tampaknya tidak menyadari kedatangan Paman dan saudari sepupunya sampai Luhan sendiri yang menjatuhkan tubuhnya di sebelah Sehun.

Sehun refleks menoleh dan terkejut melihat wajah sembab Luhan, matanya melirik ke arah Luhan dan Heechul bergantian sebelum menyerukan sebuah pertanyaan mencemooh. "Ada apa dengan wajah jelekmu itu, huh? Tidak sadarkah kalau kau semakin jelek dengan wajah seperti itu?"

Heechul berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, untuk sementara dia akan membiarkan Luhan menenangkan diri setelah apa yang dia alami seharian ini. Dan Sehun ternyata bukanlah orang yang tepat untuk membuat Luhan tenang meskipun sedikit.

"Kau berpikir kalau dengan menangis seperti ini akan membuatmu terlihat cantik, begitu? Hah! Jangan harap, Kim Luhan! Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah menjadi Jeon Jihyun—yang selalu tampak cantik dalam drama walau sedang menangis. Bahkan wajah sembabnyapun akan terlihat manis dan lucu!" Sehun mendelik ke arah Luhan. "Kau jangan menyama-nyamakan dirimu dengan idolaku itu, ya!"

"Yak! Tidak bisakah kau diam!?" Luhan berteriak kencang hingga membuat Sehun sontak menutup kedua telinganya yang hampir pecah. Apa-apaan gadis ini? Sehun 'kan hanya ingin menghiburnya tapi kenapa seolah dia hanyut akan ucapan jeleknya?

"Kau pasti mengalami hal yang sama seperti sebelumnya, ya 'kan?" Sehun merendahkan suaranya. Baritone seksi itu mengalun di telinga Luhan yang membuat gadis ini sedikit meremang.

"Dari mana kau tahu?" Luhan balik bertanya. Ekspresi wajahnya masih tampak kesal meski kedua mata rusanya menatap aksi lucu para komedian yang menghibur di layar televisi.

"Baekhyun noona, siapa lagi?"

Luhan mendengus, "Baekhyun eonni tidak akan memberitahumu begitu saja kalau bukan kau duluan yang bertanya! Sekarang kau mau bilang aku apa? Cengeng? Penakut? Atau apa, hah? Katakan saja itu, Oh Sehun!"

"Kau memang penakut dan cengeng. Tanpa kutegaskan sekalipun semua orang memang sudah tahu, 'kan?" sindir Sehun dengan seringai sinis di wajahnya.

"Beraninya kau... Oh Sehun!" Luhan menggeram keras.

Kerrtakkk!

"Awwwhh! Tulang keringku!"

Luhan cepat-cepat berdiri dan berlari kecil ke arah dapur untuk menghindari kemurkaan saudara sepupunya itu.

"Awas kau, Kim Luhan!"

*

Sesampainya di hotel, Chanyeol langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kemudian duduk bersantai di ruang TV. Layar berukuran 32 inchi itu menampilkan sebuah berita hangat yang terjadi di Seoul. Salah satunya adalah berita kematian Kim Minseok.

"Ye, pemirsa. Mari kita tanya dengan beberapa pegawai yang bekerja di hotel ini. Annyeong haseyo, agasshi, bisakah kau ceritakan sedikit mengenai kasus bunuh diri yang terjadi di hotel ini?"

Merasa bosan dengan nama Kim Minseok, laki-laki itupun berniat menggantinya dengan channel lain ketika...

"Annyeong haseyo, joneun... Kim Baekhyun imnida. Saya adalah salah satu petugas kebersihan di hotel ini."

...tanpa sengaja mendengar sebuah nama yang tidak asing lagi baginya.

.

.

.

Baekhyun-ah, sudah sejak lama aku mencarimu...