Heads
Chapter Three
theredwood
Disclaimer: Harry Potter belongs to JK Rowling
.
Draco Malfoy tengah duduk di Sofa Merah ruang rekreasi. Walaupun perapian menyala namun wajahnya tetap pucat seperti orang kedinginan. Ia sedang berkutat dengan beberapa lembar perkamen dan pena. Sesekali ia menggaruk garuk kepalanya, terlihat seperti orang kebingungan.
Hermione keluar dari kamarnya, menuruni tangga, memasuki ruang rekreasi ketua murid, dan duduk di sofa merah seberang Draco. Tangannya memegang nampan dengan Teko dan dua cangkir, kemudian ia letakkan dimeja sebelah sofa merah. Hermione menuangkan teh kesalah satu cangkir itu. Sebelum cangkir kedua, ia menoleh kearah Draco.
"Kau mau teh malfoy?"
Draco meliriknya. Teh yang dibuat Hermione benar benar harum. Namun ada hal yang lebih penting harus ia kerjakan.
"Tidak usah, terima kasih"
Hermione kemudian tidak jadi menuangkan kecangkir satunya.
"Baiklah, tapi kalau nanti kau mau bilang padaku" Hermione kemudian meletakkan tekonya di meja dengan pelan. Draco tersenyum kecil kearah Hermione.
"Terima kasih"
Hermione menyesap Earl Grey tea yang ia buat. Membuka lembaran witch weekly. Udara malam hari yang biasanya dingin dapat hilang karena perapian yang menyala. Namun itu sepertinya tidak terlalu berdampak pada Draco.
Hermione menatap Draco diseberangnya. Wajah Hermione bingung menatap Draco yang seperti orang frustasi.
"Kau ini kenapa, Malfoy?" tanya Hermione. Pandangan Draco beralih ke beberapa buku referensinya, yang tak kunjung membuatnya berhenti frustasi.
"Dasar buku-buku tak berguna. Aku belum menyelesaikan tugas Ramuan essai dua perkamen, Granger. Kau sudah?" Draco balik bertanya. Hermione hanya mengangguk. Dia sudah mengerjakannya dari lama sekali. Hermione dan otak pintarnya.
"Buku-buku ini sama sekali tidak memberiku ide" Draco menggerutu. Dia menutup muka dengan telapak tangannya. Dia begitu menyerah dengan tugas ini. Walaupun dia tidak seharusnya begitu. Dia adalah murid terpintar kedua di Hogwarts, setelah Hermione tentunya.
Hermione menaruh gelas tehnya ke meja kecil disebelahnya. Dia kemudian bangkit, dan berjalan kearah rak buku kecil di ruang rekreasi. Hermione terlihat mencari-cari sebuah buku, kemudian menemukannya. Buku yang lumayan tebal. Buku itu berjudul Poison and Potion. Hermione kemudian menyerahkan buku itu kearah Draco. Kemudian Draco mengambilnya.
"Bacalah, aku mendapat inspirasi dari situ" jelas Hermione. Draco kemudian meneliti buku itu. Membukanya bolak balik.
"Terima kasih" kata Draco kemudian. Hermione kembali duduk di sofa merah dan membaca witch weekly. Sementara Draco mulai serius dengan perkamen-perkamen nya. Mengingat tugas itu harus dikumpulkan 3 hari lagi. Bagaimana dengan Hermione? Tentu saja dia sudah menyelesaikan tugas itu dari lama. Seorang Hermione Granger tidak pernah mengabaikan tugas. Sesekali Hermione melirik kearah Malfoy. Dia tampak buru-buru mengerjakannya. Hermione pun terkekeh.
"Santai saja Malfoy"
Draco menoleh.
"Santai? Santai katamu?"
"Iya. Kerjakan saja pelan-pelan. Daripada kau mengerjakan seperti itu nanti akhirnya kau malah tidak tahu apa yang kau tulis" jelas Hermione. Draco terdiam sebentar.
"Benarkah?" tanya Draco tidak terlalu percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Hermione. Selama ini dia selalu mengerjakan tugas dengan ngebut.
"Sudahlah percaya saja"
Draco menaikkan sebelah alisnya.
"Baiklah"
Hermione mengangguk angguk.
"Tapi kalau akhirnya tugas ini tak selesai?" tanya Draco dengan nada panik. Hermione tertawa.
"Aku akan membantu mu"
Jam dinding ruang rekreasi menunjukkan pukul 11 malam. Draco masih mengerjakan tugas ramuannya. Selembar perkamen telah selesai ia buat. Draco begitu semangat sampai menghabiskan satu teko Earl Grey Tea buatan Hermione. Buku yang Hermione pinjamkan padanya benar benar membantu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Dan diikuti oleh suara langkah kaki menuruni tangga. Draco memperhatikan.
"Granger? Kukira kau sudah tidur" Draco terkejut dengan siapa yang datang.
"Aku memang sudah tidur, aku terbangun karena haus" jelas Hermione. Draco hanya mengangkat kedua alisnya, kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Hermione memicingkan matanya.
"Kau masih mengerjakan tugas? Apa dari tadi belum selesai?" tanya Hermione kemudian melirik jam dinding. Jam sebelas.
Draco melirik kearah perkamennya.
"Sebentar lagi selesai" Katanya. Hermione hanya mengangguk.
"Kau lapar?" tanya Hermione. Draco menaikkan sebelah alisnya. Dan wajah Hermione terlihat seperti orang yang menunggu jawaban.
"Ya, aku agak lapar" jawabnya kemudian.
"Baiklah, terus kerjakan tugasmu, aku akan bawa sesuatu" Hermione berbalik menuju pantry. Draco hanya bisa tersenyum memandanginya. Kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Dia kembali membuka buku yang Hermione pinjamkan. Semua sumber yang ia butuhkan ada didalamnya. Dan tak butuh waktu lama tugas Draco sudah selesai. Ia kemudian merapikan beberapa lembar perkamen yang sudah berserakan. Setelah rapi, tak lama Hermione kembali dari pantry dengan pirin ditangannya.
"Ginger cookies" kata Hermione sambil meletakkan piring itu di meja. Hermione menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Tangannya kemudian meraih ginger cookies kemudian memakannya.
"Makanlah" kata Hermione sambil mengunyah ginger cookies yang masih hangat itu. Hermione memanaskannya tadi.
Draco kemudian mulai memakan cookies itu dan lama kelamaan menjadi semakin lahap.
Hermione hanya bisa tertawa memperhatikan cara makan Draco. Dan draco langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya draco.
Hermione tetap tertawa sambil memandangi Draco.
"Tidak ada" senyum Hermione semakin lebar. Untuk kedua kalinya Hermione bisa kenyang tanpa makan.
.
Draco Malfoy dengan semangatnya bersiap-siap menuju kelas Ramuan. Bagaimana tidak? Tugas ramuan essai dua perkamen sudah rampung dibuatnya. Beberapa hari yang lalu Blaise dengan bangganya memamerkan tugas ramuan yang sudah selesai dia buat. Draco kemudian menyeringai. 'Lihat saja nanti Blaise. Kutempelkan perkamen ini nanti diwajahmu itu' batinnya, kemudian tertawa. Draco memakai kemeja, dan juga jubahnya. Kemudian dia memakai sepatu. Sesaat matanya melirik kearah buku yang dia pinjam dari Hermione, kemudian tersenyum. Dia benar-benar harus berterima kasih pada orang itu.
Draco bangkit, kemudian mengambil buku itu. Ia membuka pintu kamar untuk keluar. Samar-samar tercium harum Honey Tea. Pasti Granger yang membuatnya, batin Draco. Draco turun menuju meja makan kecil didekat pantry. Ada dua gelas Honey Tea disana. Draco duduk disalah satu kursinya, kemudian menyesap teh buatan Hermione itu.
Draco menunggu Hermione turun untuk mengembalikan buku padanya. Namun Hermione tak kunjung turun juga. Draco sesekali melirik jam. Akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikannya langsung saja.
Draco berjalan menuju kamar Hermione. Kemudian tanpa mengetuk terlebih dahulu, Draco membuka pintu kamar Hermione yang tidak terkunci.
"Granger terima kasih atas bu-"
Draco dan Hermione terdiam sangking kagetnya. Ternyata Hermione sedang mengganti bajunya. Dia hanya memakai pakaian dalamnya. Semburat merah mewarnai wajah Hermione karena malu. Ditambah lagi Draco yang hanya diam kaku di pintu kamarnya.
"Malfoy keluar!" jerit Hermione kemudian langsung menarik selimut untuk menutupi badannya.
Draco tersadar. "Ah, iya! Maaf maaf! Aku keluar" kemudian dia menutup pintu kamar Hermione. Draco bersandar didinding, dengan napas masih terengah engah. Kemudian memukul mukul kepalanya.
'Dasar bodoh, bodoh!"
Pikiran Draco masih sama. Dia terus saja membayangkan kejadian barusan. Yang sangat konyol tentunya. Ceroboh.
Hermione masih terdiam dikamarnya sangking kagetnya. Kemudian buru-buru memakai bajunya. Hermione lalu duduk dipinggir kasurnya. Dengan telapak tangannya ia menutup wajahnya yang memerah. Dasar bodoh! Mengapa lupa mengunci pintu? Batinnya. Hermione merasa sangat sangat malu sekarang. Draco sudah melihatnya hanya dengan pakaian dalam.
Beberapa saat kemudian Hermione turun menuju ruang rekreasi. Dia mendapati Draco sedang duduk disana, di salah satu sofa merah. Mukanya terlihat tegang, sama seperti Hermione saat itu juga. Hermione kemudian berjalan menuju pintu untuk keluar. Tiba tiba Draco memanggilnya dengan suara kecil. Sangat kecil.
"Granger, aku.."
Walaupun sebenarnya Hermione mendengar, tapi ia lebih memilih untuk berpura pura tidak mendengar. Dia tetap berjalan keluar dari ruang rekreasi itu. Dia terlalu malu untuk berbicara lagi dengan Draco. Mengingat kejadian memalukan tadi. Hermione benar benar malu.
Didalam, Draco sedang menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Sepertinya Hermione sedang marah padanya. Draco memukul mukul kepalanya lagi. Bagaimana dia bisa begitu bodoh sih? Kenapa tadi dia lupa mengetuk pintu.
"Aarrgghh"
Draco menggeram. Setelah mengambil tas nya, ia berjalan keluar dari ruang rekreasi ketua murid, menuju kelas Ramuan Profesor Slughorn hari ini.
.
Profesor dengan rambut putih itu mengelilingi kelas sambil memberikan penjelasan.
"Veritaserum adalah ramuan untuk mengungkapkan kejujuran.."
Draco tidak dapat fokus mendengarkan profesor Slughorn berbicara. Pikirannya masih terbayang kejadian di asrama tadi. Bagaiman ia dengan bodohnya langsung membuka pintu kamar Hermione. Bagaimana ia melihat Hermione hanya dengan pakaian dalamnya.
'Arrghh' Draco menggeram. Dia begitu frustasi karena otaknya hanya mengulang ulang kejadian tadi. Bagaimana tadi mata Draco hanya memperhatikan tubuh Hermione. Bagaimana matanya tertuju pada lehernya yang putih dan jenjang. Perutnya yang rata. Dan dadanya yang menggunakan bra berwarna hitam. Bagaimana tadi selama sepersekian detik matanya tak lepas dari kaki hermione yang panjang.
'Arrghh' Draco kembali menggeram. Dia mengacak acak rambutnya frustasi.
"Mister Malfoy?" Profesor Slughorn bersuara mengagetkan Draco yang sedari tadi melamun. Draco kemudian mendongak.
"Kau sakit?" tanya Profesor Slughorn. Draco mengusap usap matanya.
"No sir, aku tidak apa-apa" jawab Draco. Profesor Slughorn mengangguk, kemudian kembali melanjutkan penjelasannya. Draco menoleh kearah kanannya karena merasa ada sesuatu memperhatikannya.
Benar saja. Hermione sedang menatapnya. Dan ketika Draco menangkap pandangannya, wajah Hermione langsung memerah dan dengan cepat membuang mukanya. Pandangan Draco juga berbalik dan dia merasa sangat canggung sekarang.
"Kau kenapa, mate?" Goyle sedari tadi menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya ini. Draco terus saja melamun dengan tangan didagunya. Dan sebelah tangannya mengaduk aduk makanannya. Pansy yang sedari berisik disebelahnya tidak digubris oleh Draco. Dia terus saja melamun.
"Drac?" Sekali lagi Goyle mencoba memanggil Draco. Dan laki-laki berambut pirang platina itu hanya terus saja diam.
"Draco Malfoy!" Goyle sedikit berteriak. Dan Draco langsung bereaksi. Dia mendongak menatap sahabatnya itu.
"Oh Goyle, ada apa?" tanya Draco. Goyle mengangkat sebelah alisnya tanda bingung. Kemudian meneliti ekspresi Draco.
"Kau ini sebenarnya kenapa mate?" tanya Goyle dengan nada penasaran.
Kenapa? Oh Blaise asal kau tahu saja aku sedang bingung bagaimana bisa seorang Draco Lucius Malfoy menjadi begitu pendiam hanya karena melihat tubuh seorang perempuan, batin Draco. Yah, Draco sudah seringkali berhubungan dengan berbagai perempuan, tapi entah kenapa begitu berbeda ketika ia melihat Hermione. Itu hal yang biasa kan? Batinnya dalam hati.
"Draco makanlah" Pansy mulai bersuara. Draco menoleh.
"Oh iya Pans, aku akan makan" jawab Draco. Kemudian dia dengan malas menggerakkan sendok makan menuju mulutnya. Pikirannya masih tetap sama.
.
"Hermione?"
Gadis berambut cokelat itu masih terdiam sambil menutup mukanya dengan telapak tangan.
"Kau kenapa Hermione? Ada masalah?" Ginny bertanya sekali lagi. Hermione kemudian menoleh kearahnya. Ginny menatapnya dengan begitu penasaran. Hermione kemudian menghela napasnya, dan memukul mukul keningnya.
"Aku benar-benar bodoh"
"Hermione?"
"Yaampun, aku malu sekali"
Ginny menatap Hermione dengan semakin bingung. Dari tadi Hermione hanya mengeluh-ngeluh sendiri tanpa bercerita padanya apa yang terjadi.
"Hermione, ada apa sebenarnya? Daritadi kau mengeluh seperti, aduh aku benar-benar bodoh, aku malu sekali" Ginny menirukan suara Hermione. Tapi versi Ginny lebih dibuat-buat. Hermione tersenyum kecil melihat tingkah temannya ini.
"Nah ada apa?" sekali lagi Ginny bertanya. Hermione terdiam. Dia tidak bisa bilang kalau dia baru saja dilihat oleh Draco Malfoy hanya dengan pakaian dalam. Astaga itu benar-benar memalukan! Hermione berpikir sebentar, kemudian mendapatkan sesuatu.
"Aku hanya memikirkan tugas" jawab Hermione singkat. Kini giliran Ginny yang terdiam.
"Really?"
"Tentu saja, memangnya kau kira apa?" ujar Hermione berpura pura santai. Ginny kemudian tertawa.
"Kau tidak pandai berbohong Hermione"
Hermione terkejut mendengar ucapan Ginny.
"Aku tidak berbohong Ginny" bantah Hermione. Ginny kemudian melipat tangannya.
"Baiklah kalau kau sudah mulai bermain rahasia denganku" ujar Ginny. Hermione kemudian terkekeh. Temannya ini mudah sekali merajuk, pikirnya. Hermione kemudian mendekati Ginny.
"Jangan marah, Gin" kata Hermione sambil menahan tawanya. Ginny masih berpura-pura marah. Dia mengerti kalau Hermione butuh privasi. Dia hanya bercanda saja.
"Aku tak akan marah" kata Ginny kemudian. Hermione tersenyum lebar. "Really?"
"Belikan aku Pumpkin Juice" ujar Ginny. Hermione terbahak. Diikuti dengan senyuman Ginny.
"Apapun yang kau mau"
.
Sudah satu minggu berlalu semenjak Hermione dengan bodohnya lupa mengunci pintu kamarnya dan akhirnya Draco Malfoy masuk kekamarnya dengan tiba-tiba. Semenjak hari itu Draco dan Hermione menjadi saling diam. Tidak ada yang menyapa, tidak ada lagi acara minum teh, tidak ada lagi hermione memukul Draco karena memanggil sahabatnya Scarhead dan Weasel. Mereka berdua menjadi sangat canggung.
Begitu juga dengan pagi ini. Biasanya Draco selalu melihat Hermione menyisir rambutnya di cermin ruang rekreasi, sekarang tidak. Hermione lebih memilih buru buru berangkat ke kelas daripada bertemu dengan Draco.
Laki-laki berambut pirang platina itu keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang rekreasi untuk memakai sepatunya. Setelah itu dia berkaca sebentar kemudian berjalan kearah pantry untuk sarapan. Draco berniat untuk memanasakan cokelat. Dia mulai mencari cangkir pribadinya yang ia bawa dari manor. Tapi Draco tidak dapat menemukannya. Draco melirik kearah meja makan.
Draco kemudian tertegun. Cangkirnya ada disana, berisi Green Tea yang masih hangat. Pasti Hermione, pikir Draco. Dia kemudian mengambil duduk di kursi, kemudian menyesap teh buatan Hermione. Setiap Draco meminum teh itu dia mengingat Hermione. Dia masih sempat membuatkannya teh. Walaupun keadaan mereka berdua masih canggung. Dimana Hermione selalu pulang lebih dulu dan mengunci diri dikamar. Draco jadi merasa bersalah. Pasti Hermione merasa begitu malu karena dirinya. Bodoh sekali aku, batinnya.
Green Tea buatan Hermione sudah habis Draco minum. Ia kemudian mengambil tasnya lalu berjalan kearah pintu ruang rekreasi. Kemudian menuju ke kelas Transfigurasi Profesor McGonagall.
Draco berjalan gontai meninggalkan kelas Transfigurasi. Pelajaran hari ini terasa membosankan baginya. Ditambah lagi tadi saat Draco melirik Hermione, gadis itu hanya diam. Padahal Draco sangat yakin kalau Hermione tahu sedang diperhatikan olehnya. Itu malah membuatnya makin merasa bersalah.
.
Draco berjalan menuju asrama ketua murid. Saat sudah berada didepannya, ia membuka pintu asrama. Dan saat dia masuk keruang rekreasi, suasananya sangat sepi.
Draco menaiki tangga menuju kamarnya. Dan saat dia melirik kekamar sebelahnya, kosong. Berarti Hermione belum datang.
Draco masuk kekamarnya, kemudian mengganti bajunya. Ia kemudian berpikir, dia harus minta maaf pada Hermione.
Draco berjalan turun kearah pantry dan memanaskan cokelat kesukaanya. Kemudian dia membawanya keruang rekreasi. Dia menjatuhkan tubuhnya di Sofa merah, menunggu sampai Hermione datang.
Benar saja. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, dan langkah kaki. Hermione masuk ke ruang rekreasi. Dan saat mendapati ada Draco disana, wajah Hermione menjadi tegang. Namun dia langsung berjalan menuju tangga, menuju kamarnya. Tapi sebelum itu Draco menghentikannya.
"Granger"
Hermione terus berjalan.
"Granger!" Draco sedikit mengeraskan suaranya. Hermione menghentikan langkahnya, kemudian membalikan badannya, menghadap Draco.
"Ada apa?"
Draco berdiri, kemudian berjalan kearah Hermione. Dan saat sudah berada didepannya, Draco malah menggaruk garuk kepalanya. Kebingungan.
"Granger, aku tidak tahu harus mulai dari mana"
Hermione diam saja. Draco kemudian menarik nafasnya.
"Aku minta maaf Granger"
Hermione menatap mata abu-abunya, dan Draco menangkap manik hazel Hermione.
"Aku benar-benar tidak sengaja. Maafkan aku" kata Draco kemudian. Hermione masih terdiam.
"Granger?"
"Aku maafkan. Tidak apa-apa. Salahku juga tidak mengunci pintu" jelas Hermione. Draco tersenyum lega. Setelah itu, mereka tetap diam. Draco maupun Hermione tidak harus berkata apa. Hingga akhirnya Hermione membuka suaranya.
"Oh ayolah, kenapa masih canggung? Buatkan aku cokelat sekarang!" perintah Hermione sambil memukul pundak Draco. Saat hermione melangkah kearah Ruang Rekreasi, Draco memandanginya sambil tertawa.
Tak lama Draco datang dari pantry menuju ruang rekreasi. Dengan segelas cokelat ditangannya. Kemudian memberikannya pada Hermione. Gadis itu tersenyum kemudian menyesap cokelat itu perlahan. Draco duduk di Sofa Merah.
"Tumben kau pulang duluan, Malfoy" kata Hermione.
"Aku sengaja menunggumu" jawab Draco. Hermione menaikkan sebelah alisnya.
"Kau terus menghindari ku. Bagaimana caranya aku bisa minta maaf?" kata Draco. Hermione terbahak.
"Kenapa?" Draco bingung menatap Hermione.
"Ternyata kau sadar kalau aku menghindarimu" Hermione kembali tertawa.
"Tentu saja! Kalau kupanggil kau selalu berpura pura tidak dengar"
Hermione makin terbahak.
"Kasihan sekali kau"
Draco terlihat sedikit sebal. Hermione hanya nyengir menatapnya.
"Bagaimana tugas ramuanmu?" tanya Hermione kemudian.
"Sudah selesai. Berkat bukumu tentunya"
Hermione tersenyum. Dia lega, artinya Draco sudah bisa segera tidur dengan tenang. Soalnya sudah beberapa hari k Draco terlihat seperti zombie dengan kantung matanya yang membesar. Hermione juga sudah pernah mengalaminya. Saat sehari sebelum ujian Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. "Baguslah kalau begitu" kata Hermione kemudian, berpaling menuju kamarnya sendiri.
Dan untuk kedua kalinya Draco memandang Hermione sambil tersenyum lega. Perasaan bersalahnya sudah menghilang.
.
"Malfoy!"
Hermione menggedor gedor pintu kamar Draco dengan keras karena sedari tadi ia belum berhasil membuat orang itu keluar.
Matahari semakin bersinar, namun Draco sepertinya masih dialam mimpinya. Hermione yang sedari tadi meminum teh nya dengan santai diruang rekreasi sebelum berangkat ke kelas, mulai merasa bingung mengapa Draco belum turun juga. Biasanya ia tidak pernah terlambat.
"Malfoy bangun! Kau mau terlambat hah?!"
Hermione kembali menggedor pintu kamar Draco dan kali ini lebih keras. Hermione kemudian mencoba menggerakan kenop pintu kamarnya dan ternyata tidak terkunci. Hermione langsung masuk kedalam dan mendapati Draco dengan nyenyak tidur dikasurnya.
Hermione berjalan mendekati Draco kemudian menepuk nepuk pipinya.
"Malfoy, cepat bangun"
Draco membuka matanya perlahan. Kemudian menutupnya lagi dan itu tentu saja membuat Hermione kesal. Gadis itu langsung memukul pundak Draco kesal berusaha membuat orang itu bangun sepenuhnya. Draco kemudian meringis kesakitan. Kemudian lelaki bersurai pirang platina itu menyipitkan matanya, mencoba melihat siapa orang dihadapannya itu. Rambut dan matanya berwarna cokelat.
"Engg, Granger?"
Draco meregangkan tubuhnya kemudian menguap lebar. Dan selanjutnya dia malah menarik selimutnya lagi.
"Aku sedang tidur, mau apa kau?" Draco kembali memejamkan matanya. Hermione membelalakan matanya, kemudian berteriak.
"Mau apa?! Membangunkanmu Ferret! Kau bisa terlambat pirang! Kau lupa hari ini ada ujian Arithmancy?" Hermione mulai mengoceh. Mendengar itu, Draco langsung membuka matanya lebar-lebar. Kemudian bangkit dari kasurnya dengan wajah begitu terkejut. Hermione melipat tangannya. Konyol sekali orang ini, pikirnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Draco kemudian. Hermione melirik jam tangannya.
"Jam 7:40, kau punya waktu 20 menit lagi sebelum ujian arithmancy" jelas Hermione. Draco langsung berlari menyambar handuknya.
"Kenapa tidak dari tadi membangunkanku sih?!" kata Draco kemudian berlari menuju kamar mandi.
Hermione terkejut.
"Apa katamu?! Dari tadi aku terus saja membangunkanmu kau tahu!" teriak Hermione kearah Draco. Lelaki itu diam saja, tidak ingin membuang waktu untuk menjawab Hermione karena lebih baik ia segera bersiap menuju kelas Arithmancy. Hermione menatap Draco kemudian sambil terkekeh.
Lihat siapa yang panik sekarang?
Hermione kemudian menyeringai. Seperti Draco.
Beberapa saat kemudian Draco berjalan dengan tergesa-gesa menuju Ruang Rekreasi ketua murid. Dengan secepat kilat dia langsung memakai sepatunya. Sementara Hermione dengan santai duduk di sofanya. Membaca sebentar buku pelajaran arithmancy sebelum ujian sebentar lagi. Sementara berburu-buru mengikat tali sepatu, Draco teringat sesuatu.
"Ah iya, aku belum ke aula besar untuk sarapan" katanya, lalu melirik jam di dinding. Pukul 07.50. Dia sudah tidak punya banyak waktu untuk pergi ke Aula besar sekadar untuk sarapan sedikit saja.
Hermione kemudian melirik kearah partner ketua muridnya yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu dengan wajah bingungnya.
"Kenapa? Tidak sempat sarapan? Coba sana ke meja dekat pantry, sepertinya sandwich ku masih ada" jelas Hermione dengan mata masih tertuju ke halaman witch weekly nya. Wajah Draco pun langsung berseri seri seperti anak yang baru diberi kado natal.
"Benarkah?" tanya draco seperti tidak percaya. Gadis itu menutup witch weekly nya. Hermione hanya memutar bola matanya sambil memberi muka malasnya.
"Iya, sudah cepat sana" perintah Hermione dengan tangan menunjuk pantry. Dan tiba-tiba Draco dengan senyuman lebarnya memegang tangan Hermione.
"Terima kasih! Astaga kau baik sekali" Draco langsung berlari girang kearah pantry kecil asrama. Dan langsung menyantap sandwich buatan Hermione dengan lahap. Dia butuh energi untuk hari ini bukan?
Ruang rekreasi. Wajah Hermione memerah seperti kepiting rebus. Pipinya juga terasa hangat. Hermione kemudian menyentuh tangannya yang barusan digenggam pria iris abu-abu itu. Senyum kecil terulas dibibir Hermione.
Hermione bangkit dari sofa nya, kemudian mengambil tasnya, lalu merapihkan sedikit rambutnya. Hermione melirik kearah pantry sebentar.
"Malfoy, aku berangkat duluan" hermione berteriak.
"Apa? Sebentar, sebentar"
Gadis itu langsung menghentikan langkahnya menuju pintu.
Hermione mendegar Draco berbicara dengan sandwich dimulutnya. Menjijikan, dia jadi seperti Ron saja. Kemudian Draco datang dari pantry menuju ruang rekreasi, dan langsung mengambil tasnya, lalu merapihkan dasinya sebentar. Hermione bingung.
"Ada apa?" tanya Hermione. Draco mengambil gelas berisi air dari meja sebelah sofa, kemudian menenggak isinya.
"Aku juga sudah selesai, ayo kita berangkat" kata Draco kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya. Hermione tertawa. Jadi karena ini dia buru buru? Ada ada saja.
Hermione berjalan mengikuti Draco menuju kelas Arithmancy.
"Pelan-pelan jalannya, Malfoy"
.
Hermione menghabiskan sisa waktunya siang ini untuk mengobrol santai di bangku koridor bersama Ginny, Parvati, dan Luna.
Tiga teman Hermione itu mengobrol dengan asyiknya, kecuali Hermione lebih banyak diam. Dia hanya memperhatikan koridor yang sangat ramai hari ini. Hingga akhirnya Ginny menyadari Hermione hanya diam saja sedari tadi.
"Hermione? Kau kenapa?"
Hermione mengerjapkan matanya kemudian menoleh kearah Ginny.
"Hah? Kenapa?"
Ginny menghela napas.
"Kau melamun? Tidak biasanya"
Hermione hanya tersenyum.
Ginny kemudian bertanya lagi. "Ada yang sedang kau pikirkan?"
Hermione tertawa kemudian menepuk nepuk pundak Ginny.
"Ayolah, apa aku terlihat seperti orang frustasi?" Hermione tersenyum lebar. "Tidak ada yang sedang kupikirkan. Nothing" kata Hermione lagi. Ginny hanya mengangguk angguk.
Yah, sejujurnya Ginny benar. Ada yang sedang Hermione pikirkan. Hal yang membuat Hermione saat memikirkannya tersenyum seperti orang bodoh. Saat dia memikirkan Draco memegang tangannya. Sial, kenapa aku jadi seperti orang bodoh? Batin Hermione, kemudian terkekeh sendiri. Sudah beberapa kali Hermione memikirkan hal itu dan hal itu lagi. Di kelas, di aula besar, di perpustakaan, dan sekarang saat sedang bersama Ginny, Parvati dan Luna.
Tiba-tiba Ginny bangkit dari bangku.
"Hermione, aku mau ke asrama Gryffindor, kau mau ikut?" tanya Ginny.
Hermione sangat merindukan asrama lama nya itu. Ia juga merindukan saat saat dimana ia, Harry, dan Ron mengobrol diruang rekreasinya. Ah, Hermione jadi ingin bertemu dengan dua sahabatnya itu.
Ginny melirik kearah Hermione yang masih berpikir. "Bagaimana? Kau mau?" tanya Ginny.
Hermione tersenyum lebar.
"Sure. Ayo cepat" Hermione menggandeng Ginny menuju Asrama Gryffindor dengan begitu semangatnya.
"Hermione!"
Harry langsung beranjak dari sofanya dan berjalan kearah sahabat perempuannya itu kemudian menepuk nepuk pundaknya. Hermione tersenyum lebar. Sudah beberapa hari ini ia tidak menghabiskan banyak waktu dengan kedua sahabatnya. Banyak yang harus ia kerjakan, tugas pelajaran juga kewajibannya sebagai Ketua Murid perempuan.
Ginny tiba tiba menyentuh punggung Hermione. Gadis itu menoleh.
"Aku mau keatas dulu" kata Ginny yang disambut dengan anggukan dari Hermione. Ginny langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Harry langsung menyuruh Hermione untuk duduk disofa.
"Aku pikir kau sudah lupa untuk main kesini Hermione" kata Harry. Hermione memasang muka sedihnya. "Tidak seperti itu juga Harry" katanya sambil cemberut. Harry tertawa.
"Aku tahu Hermione, hanya bercanda"
Hermione langsung tersenyum lega mendengarnya. Tiba-tiba Ron meletakan buku yang sedari tadi dibacanya.
"Hermione tak sempat kesini Harry, dia sibuk dengan 'teman barunya' " kata Ron. Hermione menaikkan sebelah alisnya bingung. Begitupula dengan Harry. Ron kemudian membuka mulutnya, "Malfoy tentu saja"
Harry tertawa lagi. Dan kali ini Hermione juga ikut.
"Apanya yang lucu?" tanya Ron. Tidak suka dengan cara Harry tertawa.
"Kau cemburu, Ron" kata Harry kemudian yang membuat tawa Hermione makin keras. "Aku tidak begitu!" bantah Ron. Hermione menggeleng kearah Ron.
"Aku tetap sahabatmu Ron" kata Hermione. Ron hanya mengangkat kedua alisnya.
Hermione kemudian membetulkan cara duduknya agar lebih nyaman.
"Lagipula aku jarang kesini bukan karna Malfoy. Memangnya aku dekat dengan dia?" tanya Hermione. Kenapa semua orang menghubungkanku dengan si Pirang Uban itu sih? rutuk Hermione dalam hati.
"Ya ampun Hermione. Pergi Yule Ball bersama, satu asrama, aku juga sering melihatmu bercanda dengan Malfoy saat patroli. Jangan jangan kau menyukainya ya Mione?" tanya Ron tiba tiba dan membuat wajah Hermione mengeluarkan semburat merah kecil. Hermione langsung memukul lengan Ron, sementara sahabatnya itu hanya tertawa bersama Harry. "Apa maksudmu sih Ron?" tanya Hermione dengan muka kesalnya. Ron menyeringai.
"Kau seperti Malfoy saja" kata Hermione.
Hening.
"Buahahahahah"
Harry dan Ron langsung terbahak. Muka mereka terlihat seperti orang bodoh yang sedang bahagia. Sementara Hermione memasang muka bingungnya.
Dan dua sahabatnya itu tetap saja tertawa. Harry berhenti lebih dulu.
"Kau bahkan memperhatikan bagaimana cara si malfoy itu menyeringai, hermione" kata Harry kemudian sambil memegangi perutnya. Wajah Hermione memerah lagi. Dia baru sadar kalau selama ini dia memperhatikan bagaimana Draco menyeringai, bahkan bisa menirunya. Hermione sedikit geli dalam hati. Sebenarnya bukan hanya caranya menyeringai, Hermione mulai tahu lebih banyak hal tentang teman seasramanya itu. Mulai bagaimana caranya berjalan, makan (yang menurut Hermione parah sekali kalau partnernya itu sedang kelaparan), caranya menahan kantuk saat mengerjakan tugas, dan caranya meletakan dasi dan jubahnya sembarangan di sofa ruang rekreasi. Mungkin karena selama ini dia punya peri rumah di manornya, dia jadi sembarangan seperti itu.
"Serius Hermione, kau menyukai si pirang itu ya?"
Kata Harry seperti mengulang pertanyaan Ron tadi dan langsung memancing kekehan teman berambut merahnya itu. Hermione menoleh kearah Harry dan menyipitkan matanya. Antara malu dan marah. Yah, beda tipis.
"Omong kosong. Kau ini bicara apa sih, Harry? Musang Pirang itu? Kau mengada-ada" bantah Hermione. Dia lagi-lagi merutuk dalam hati kenapa orang-orang mulai curiga tentang dia dan Malfoy. Serius deh, tidak ada apa-apa diantara mereka. Setidaknya itu pikiran Hermione.
"Bicaramu, Mione. Lihat saja, kau bahkan membantah dengan wajah memerah malu seperti itu. Siapa yang akan percaya? Seriously, kau tidak pandai berbohong" kata Ron.
Hermione menghela napasnya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa empuk ruang rekreasi Gryffindor yang selama ini dirindukannya. Asrama merah yang selalu disukai Hermione karena kenyamanannya. Sangat ramai, dan Hermione seringkali tersenyum senang merasakan keramaian itu. Dan sekarang, sialnya ia harus satu asrama dengan Draco Malfoy. Suasana Asrama ramai sudah sangat jarang ia temukan. Diasramanya, hanya ada dia dan Malfoy. Selain itu juga Malfoy kadang membuatnya kesal, walaupun sudah lumayan berkurang. Hermione rasa partnernya itu sudah sedikit berubah. Minimal, tak pernah memanggilnya dengan sebutan yang selalu bisa membuat darahnya naik ke ubun-ubun, marah.
Sekarang Draco selalu memanggilnya Granger. Yah, kadang-kadang Draco memanggilnya dengan sebutan aneh seperti keriting, berang-berang, rambut mengembang, dan lainnya. Seperti Hermione yang selalu memanggil Draco dengan sebutan Pirang, Musang, yang setelah Hermione pikir benar-benar konyol. Hermione tertawa dalam hati.
Namun dari semua hal konyol yang pernah dilakukan seorang Draco Malfoy, ada satu yang paling konyol sekaligus memalukan. Dan itu adalah saat.. si bodoh itu membuka kamarnya dengan tiba-tiba disaat Hermione sedang mengganti bajunya.
Urrgh, asal kau tahu saja itu benar-benar memalukan. Draco dan Hermione menjadi saling diam beberapa hari karena hal seceroboh itu.
Dan untungnya kecanggungan diantara mereka sudah menghilang karena Draco akhirnya meminta maaf karena kecerobohannya. Hermione tertawa geli dalam hati mengingat betapa merahnya wajah Draco waktu itu.
"Harry lihatlah, sahabatmu itu tersenyum senyum tidak jelas" celetuk Ron tiba-tiba. Hermione menghentikan lamunannya, dan menyadari kalau sedari tadi ia tersenyum sendiri seperti orang aneh.
"Sepertinya dugaan kita benar, Ron" timpal Harry. Wajah Hermione mengeluarkan semburat merah kecil.
"Kalian berdua memang menjengkelkan" Hermione melemparkan bantal sofa ke wajah dua sahabatnya itu, kemudian tertawa terbahak bahak.
.
Hermione melangkah menuju asramanya, Asrama Ketua Murid. Saat tiba didepan lukisan, Hermione menggumamkan kata sandinya. Pintu asrama terbuka dan Hermione masuk kedalamnya. Sofa merah menjadi terlihat sangat menggiurkan bagi Hermione yang merasa sangat lelah hari ini.
Setelah beberapa saat terdiam, Hermione teringat tugas Rune Kuno nya. Hermione bangkit dan berjalan menuju kamarnya, kemudian mengambil beberapa perkamen untuk tugasnya. Kemudian, ia turun kembali menuju ruang rekreasi, dan meletakkan lembaran perkamen itu di meja ruang rekreasi. Hermione membalikkan badannya kemudian berjalan menuju pantry. Hermione menyeduh earl grey tea untuk ia minum selagi mengerjakan tugas. Itu dapat membantunya lebih serius mengerjakan tugas.
Hermione membawa cangkir dan teko teh nya menuju ruang rekreasi, kemudian meletakannya di meja. Hermione menuangkan earl grey tea ke cangkir, kemudian menyesapnya perlahan. Setelah itu ia mengambil pena nya, dan mulai mengerjakan tugas.
Baru beberapa saat Hermione mulai mengerjakan tugas Rune Kuno nya, terdengar suara langkah kaki. Itu pasti Malfoy, batin Hermione.
Seseorang membuka pintu rekreasi, Draco Malfoy muncul dari sana.
Mata Hermione membulat.
Penampilan Malfoy benar-benar kacau. Parah.
Draco malfoy memegang sebelah tangannya, mukanya terlihat benar-benar kesakitan. Dia bahkan mendesis kesakitan. Sudut dahinya mengeluarkan darah yang kemudian mengalir menuju pelipisnya.
Draco mendongakkan kepalanya, menatap Hermione. Dia mendesis lagi.
"Granger.."
Draco masih mengenakan seragam Quidditch nya.
Hermione kaget. Dia sampai melompat begitu melihat sosok didepannya.
"Malfoy?!"
to be continued
Don't forget to leave your review
xoxo,
-theredwood-
Ps: Are you a sheerio?
