copyright © 2016 by crownacre

BEAUTIFUL DISASTER

seperti sebuah dosa yang manis

Park Jimin and Min Yoongi fanfiction


[ NOTE ]

Terinspirasi dari beberapa karya semacam novel berseri Passionate of Love karya Santhy Agatha atau mungkin Fifty Shades Trilogy atau drama Her Lovely Heels atau entah apapun yang pernah aku baca atau tonton; bahkan mungkin dari fiksi di AFF atau FFN atau manapun yang (juga) pernah aku baca.

[ WARNING ]

OOC for all cast maybe ; GS for some cast ; T+ to M Rated

Terdapat beberapa kalimat kasar dan dirty talk yang mungkin akan menganggu


Yoongi sudah siap dengan pakaian di hari pertamanya bekerja, kali ini membiarkan kakinya yang kecil putih terpamerkan karena ia mendapatkan peraturan berseragam yang melarang stocking digunakan. Rasanya aneh hanya menggunakan celana pendek sebagai dalaman flared skirt hitamnya, tapi ia pikir ia tidak seburuk itu tanpa stocking. Senyuman terkembang di wajahnya saat mendapati pantulan dirinya di cermin dengan pakaian yang sudah rapi, ia cukup percaya diri untuk berangkat ke tempat kerjanya kali ini.

"Semangat untuk hari ini, Yoongi!" Ia bermonolog sebelum akhirnya meraih tasnya dan melakang menuju halte bus.

"Seokjin-ah, aku berangkat dulu," ia berpamitan pada teman satu apartemennya yang mendapat jawaban untuk berhati-hati di jalan, juga semangat untuk hari yang mungkin akan melahkan.

Ia berangkat satu jam sebelum jam kerjanya dimulai karena memang letak rumah dan kantornya cukup jauh. Ia bisa menghabiskan setengah jam perjalanan, sementara sisanya ia gunakan untuk berjaga-jaga jika mungkin ada halangan ketika berangkat. Datang pagi dan jadi pegawai teladan adalah tekadnya agar tidak dipandang remeh dan menjadi pilihan untuk dipecat jika si pemilik perusahaan tengah ingin mengganti pegawai sesuka hatinya.

Begitu mendapatkan tempat duduk di dalam bus, ia menarik ke luar ponselnya dan menemukan pesan singkat dari Hoseok. Ia tersenyum cerah melihat bagaimana isi pesan sahabatnya yang begitu menyenangkan.

From: Hosiki

Hari ini hari pertama kerja? Di Park's House? Wow, sahabatku memang yang terbaik! Ambil hati manajermu dan dapatkan promosi secepatnya! Semangat! Kau tahu kan aku selalu mendukungmu?

Ia tersenyum cerah dan segera menulis balasan untuk sahabatnya itu. Menggerakkan jarinya dengan bibir yang merekah lebar mengingat tiap kalimat yang Hoseok tulis pada pesannya. Manis dan begitu menyejukkan, ia sampai tersipu tiap mendapat pesan dari sahabatnya itu.

To: Hosiki

Terima kasih, Hoseok-ah, aku tahu kau memang selalu di sisiku. Hari ini aku berangkat dan berharap banyak pada sambutan baik di sana. Jangan lupa kau pun perlu semangat untuk memimpin perusahaan, oke? Aku selalu mendukungmu juga.

Terkirim. Senyumnya masih terpatri baik di wajahnya meski ponselnya sudah ia masukkan ke dalam tas. Ia selalu merasa bahagia dan bersyukur meski hidupnya terkadang terasa berat, masih ada Hoseok yang siap sedia menjadi penyemangat. Sahabatnya itu memang sebagian hidupnya. Tidak perlu kekasih sekalipun, Yoongi pikir hidupnya akan tetap berjalan baik karena sosok Hoseok yang selalu di sebelahnya.

.

Setibanya di kantor, ia mendapat sambutan resepsionis dengan senyuman cerah. Sosok itu bertanya dan menjelaskan ke mana ia harus pergi setelah Yoongi mengatakan dirinya adalah pegawai baru yang bekerja di divisi pemasaran. Ia menggumamkan terima kasih setelah itu dan lalu langsung melangkah menuju tempat yang diberi tahu si resepsionis.

Langkahnya tiba di ruangan dengan pintu tanpa daun yang cukup besar, ia mendapati seseorang berkulit putih dengan tubuh tinggi yang otaknya kenali sebagai sosok yang berada di tengah saat menjalani interview beberapa hari lalu. "Kau pegawai baru?" Suaranya terdengar tegas dan berat namun begitu mengagumkan hingga Yoongi terkesima beberapa saat. "Aku Oh Sehun, manager pemasaran yang bertanggung jawab penuh pada divisi pemasaran. Senang melihatmu datang sepagi ini, siapa namamu?" itu tersenyum cerah seperti matahari hingga matanya lenyap dan berubah menjadi bulan sabit yang memantulkan cahaya hingga Yoongi merasa silau; terkagum.

"Min Yoongi, saya Min Yoongi," ia bersuara sopan dengan senyuman yang ia buat seramah mungkin; ia sulit tersenyum jika itu tidak untuk Hoseok atau Seokjin.

"Nama yang indah," ujar pemuda bernama Sehun itu tulus. "Baiklah, biar aku panggilkan ketua staf divisi pemasaran dan biarkan dia menjelaskan segala sesuatu tentang divisi ini. Kau bisa tunggu di sini," Sehun melangkah menjauh untuk menghampiri seorang perempuan cantik yang ada di balik meja tengah mengerjakan sesuatu dengan lembaran bercecer di hadapannya.

Yoongi tersenyum tipis saat melihat gadis itu —ia pikir itu gadis karena wajahnya yang terlihat masih cukup muda— melangkah menghampirinya. Tubuhnya tinggi dengan kaki panjang yang mengagumkan. Ia menggunakan rok yang pas membalut kaki hingga menyisakan sepertiga pahanya dan membuat Yoongi setengah mati iri mendapati kaki yang panjang itu.

"Hei," gadis itu menyapa Yoongi dengan senyuman. Yoongi harus mendongak untuk menatap gadis yang ternyata sangat tinggi dengan tambahan high heels yang makin membuatnya menjulang. "Aku Choi Yuna, kepala staf divisi pemasaran. Boleh aku tahu namamu?" Gadis itu tersenyum manis.

"Ah—," Yoongi tersadar dari lamunan sesaatnya. Ia tersenyum kemudian membungkuk kecil. "Saya Min Yoongi, Yuna–ssi. Anda bisa panggil saya Yoongi."

"Kau manis," Yuna berkomentar sambil terkekeh kecil setelah melihat penampilan Yoongi yang memang terlihat seperti gadis cilik. Caranya berpakaian sungguhan menggemaskan meski kemejanya terlihat cukup formal. "Omong-omong, panggil aku Yuju. Ada Yuna yang lain di sini dan aku takut kau tertukar."

"Terima kasih," Yoongi tersipu setengah mati karena pujian tulus yang sudah ia dapat dua kali di pagi ini. Ia kemudian menggaruk tengkuknya merasa gugup. "Baiklah, Yuju–ssi."

"Jangan terlalu formal," Yuna atau yang biasa dipanggil Yuju itu tersenyum, cantik. Terlampau cantik hingga Yoongi berpikir bahwa tempat yang pantas untuk gadis itu jelas bukan kantor, tapi sebuah catwalk dengan spotlight yang menyorot dirinya; ia terlalu indah untuk sekedar berurusan dengan tumpukan kertas. "Panggil aku Yuju, baru setelah itu kau akan aku antar berkeliling tempat yang sekiranya akan kau butuhkan untuk urusan kantor, juga menjelaskan beberapa tugasmu."

Tentu saja Yoongi terkekeh, merasa geli bagaimana ia justru harus mengurangi sifat formalnya untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ia kemudian mengangguk dengan senyuman, "baiklah, Yuju. Beri tahu aku semua yang perlu aku tahu. Jadi aku bisa berterima kasih pada jasamu yang kau berikan cuma-cuma."

"Itu tidak cuma-cuma," sosok tinggi itu terkekeh kecil. "Kau harus membayarnya dengan pekerjaan memuaskan karena Oh Sehun yang tampan itu tidak suka cela dalam pekerjaan pegawainya."

"Oh," ia kembali tersipu saat Yuju mengerling pada sosok tinggi Sehun yang tengah mengobrol dengan seorang wanita di sisi yang sedikit jauh darinya. Membayangkan wajah tegas dengan rahang tajam yang mungkin bisa melukai jari itu memang membuatnya agak malu, caranya menatap orang tadi benar-benar dalam di balik mata sipitnya yang indah. Ia kemudian tertawa canggung untuk mengikuti alur candaan Yuju yang sedikit sulit untuknya; Yoongi adalah orang yang terlalu serius kadang. "Aku akan membuatnya tersenyum cerah melihat pekerjaanku, Yuju-ya. Apa itu cukup untuk membayar jasamu setelah ini?"

"Tentu!" Yuju tersenyum sekali lagi, membiarkan gigi putihnya yang rapi dan kecil-kecil itu terpamerkan secara sempurna. "Aku akan sangat bangga dan menjamin dirimu mendapat promosi segera kalau kerjamu mengagumkan. Kau bisa jadi staf inti kalau promosimu mendapat dukungan besar dari banyak pihak."

"Aku akan berusaha untuk mendapatkan promosi secepat mungkin," suaranya tedengar penuh dengan tekad kuat. "Jadi, ayo segera antar aku dan buat aku tahu di mana tempatku akan bekerja. Aku akan berusaha untuk yang terbaik."

Semua orang selalu senang melihat tekad kuat dari orang lain yang juga menguntungkan diri mereka sendiri. Jadi, Yuju pun mengangguk dan segera membawa Yoongi berkeliling, menjelaskan tentang ini–itu juga apa saja yang ada di lingkungan kantor. Sekalian mengenalkan beberapa staf lain yang mereka temui, membuat Yoongi mendapatkan beberapa teman baru di hari pertama ia bekerja.

Yuju benar-benar cantik dan mengagumkan, terbukti dari beberapa staf laki-laki yang tiap Yuju lewat memberi tatapan kagum dan terpesona; begitu pikir Yoongi. Yoongi pun nyaris merasa seperti kurcaci kecil yang jelek berdiri di sebelah tuan putri bernama Choi Yuna atau dikenal dengan Yuju.

"Kau sepertinya menarik banyak perhatian," Yoongi bersuara hati-hati, takut menyinggung sosok tinggi yang menuntun arahnya berjalan.

Yuju terdiam sebentar, memikirkan makna kata Yoongi yang kemudian tertawa kecil. "Kau tahu? Mereka semua memperhatikanmu, bukan aku."

Yoongi terkesiap, terkejut pada kalimat yang dikatakan oleh Yuju juga merasa tidak mengerti. "Maksudmu?"

"Aku jarang merasakan tatapan seperti itu," ia tersenyum simpul. "Tapi saat berjalan bersamamu hampir semua staf laki-laki di sini jadi menatapi ke arahku—atau lebih tepatnya ke arahmu. Kau tidak menyadari itu untukmu?" Yuju kemudian terkekeh kecil. "Kau terlihat manis dan polos, tentu saja sangat menarik bagi sebagian laki-laki."

"Oh! Presdir Park!" Seseorang bersuara seperti tercekat melihat seseorang yang baru turun dari eskalator dengan pakaian luar biasa rapi yang membalut pas tubuhnya.

Yoongi terkagum pada sosok yang melangkah angkuh dengan kaki berbalut celana bahan dan sepatu pantofel yang mengkilap mahal dengan seseorang yang mengikuti langkahnya. Auranya yang luar biasa mengagumkan membuat Yoongi nyaris tersedak ludahnya sendiri karena menelannya kala bernapas. Ia mengagumi bagaimana Tuhan memahat wajah itu dengan sangat sempurna; melupakan fakta bahwa beberapa menit lalu ia mengatakan managernya adalah seseorang yang sangat–amat–tampan dan memesona, orang yang tengah berjalan itu ternyata jauh lebih mengagumkan.

Saat menyadari langkah sosok itu mendekat dan beberapa staf di sana membungkukan badan, ia pun segera melakukan hal serupa. Mendapat tawa meledek lirih dari Yuju yang ia simpulkan sebagai ledekan karena harus terkesima terlebih dahulu.

Sosok itu melewati mereka semua dengan angkuh, membiarkan beberapa sisa keharumannya seperti aroma parfum mahal yang pernah digunakan Hoseok dengan bau menenangkan namun begitu kuat dan mendominasi seluruh indera pernapasan. Baginya Hoseok yang sangat lembut tidak pantas menggunakan parfum seperti itu, tapi sosok yang punggungnya kini menghilang di tikungan terasa sangat pas. Ia dominan yang luar biasa tampan, parfum yang aromanya seperti menendang habis semua bau lainnya untuk memenuhi satu partikel udara sudah sangat cocok untuknya.

"Dia Presdir Park. Tampan, 'kan?" Yuju berbisik sambil masih menahan geli. "Aku tidak perlu jawaban, kelakuanmu beberapa menit lalu sudah menjelaskan semuanya. Yeah, dia memang sangat tampan! Sialnya, dia bukan seseorang yang bisa dikejar."

Yoongi mengerjap, menatap Yuju bingung dengan ekspresi blank yang manis. "Aku seperti pernah melihatnya."

"Benarkah?" Yuju memasang ekspresi terkejut yang sangat anggun, cantik dan membuat Yoongi berteriak iri; dia sungguhan seperti seorang yang seharusnya bernasib menjadi model namun menyia-nyiakan kesempatan itu dan membuangnya di kantor tanpa membiarkan banyak orang mengirimkan puja–puji padanya.

Ia mengangguk ragu, memasang ekspresi berpikir yang menggemaskan namun cukup untuk membuat Yuju memberinya ekspresi penasaran. "Oh!" Ia tiba-tiba memekik kecil, menyadari wajah itu sudah terlihat di neuronnya. "Aku—pernah menabraknya saat mendaftar. Pantas saja masih terasa segar."

"Aah, kau orang itu? Yang terjatuh?" Gadis itu tertawa kecil. "Astaga, aku sempat bersumpah kau sangat menggemaskan dan aku ingin merangkulmu karena ekspresi terkejut dan gugupmu itu sangat menarik perhatian. Astaga, ternyata orang itu kau? Hahaha, rahasiakan itu, Yoongi-ya."

"Kau… melihat saat aku jatuh?"

Yuju mengangguk kecil. "Aku melihat dari arah belakangmu, menemukan ekspresi Presdir Park yang menahan geli melihatmu terjatuh dan bergerak gelisah karena gugup sudah cukup untuk membuatku ingin tertawa."

Yoongi sungguhan tidak tahu ternyata bukan hanya seseorang yang ia tabrak yang melihatnya, tapi juga Yuju. Duh, bahkan sebelum menjadi pegawai saja sudah ditertawakan geli. "Sudahlah, lupakan itu. Anggap saja itu bukan aku," ujar Yoongi setengah mati menahan malu.

Yuju kembali memberi anggukan kecil. "Tentu. Jadi, ayo kita lanjutkan tour kita!"

.

Setelah melakukan perjalanan cukup panjang untuk sekedar memberi tahu bagian yang sekiranya akan ia lewati, Yuju kemudian memberi tahu dirinya di mana tempatnya untuk bekerja. Ia mendapat sebuah meja kosong dengan beberapa laci yang sekiranya akan berguna. Tempatnya terlihat nyaman karena ia dengan beruntung mendapatkan bagian dekat jendela yang bisa melihat ke arah luar kapan saja; pemandangannya tidak akan membosankan jika otaknya tiba-tiba terasa penuh dengan tugas. Yuju mengatakan ia akan segera mendapat notebook dari kantor untuknya bekerja, secepatnya; yang mungkin sudah bisa ia dapatkan besok.

Yoongi tersenyum cerah sambil menata beberapa barang pribadinya yang sudah ia bawa dari rumah, meletakkannya pada laci paling kecil karena ia pasti tidak memerlukan banyak ruang untuk itu. Hanya keperluan yang normalnya perempuan butuhkan, juga beberapa obat yang sekiranya bisa membantu kala sakit; tidak banyak dan tidak memenuhi ruang.

Ia tiba-tiba teringat pada sosok Presdir tempatnya bekerja, wajahnya yang tampan dengan rahang tegas, tulang pipi tinggi, dahi sempit yang indah, mata sipit, hidung bangir, dan bibir agak tebal. Ia bertanya-tanya bagaimana Tuhan begitu sempurna memahan sosok itu. Pikirnya, daripada bekerja untuk berurusan dengan perusahaan yang sangat melelahkan, sosok itu lebih pantas menjadi seorang aktor dengan peran sebagai orang kaya yang sukses dan digandrungi. Atau mungkin ia bisa menjadi tokoh idola sebuah group band ternama. Lebih cocok.

Tapi mengingat beberapa majalah bisnis yang pernah ia baca saat bermain ke rumah Hoseok, saat membicarakan seorang pemilik Park's House Korea, sosok itu dijelaskan dengan sangat baik sebagai orang yang memang pintar dan cerdas dalam mengatur perusahaan. Mungkin ia mencoba memanfaatkan kesempurnaan otaknya lebih maksimal daripada kesempurnaan wajah yang hanya akan bertahan beberapa lama sebelum berubah menjadi keriput. Ia waktu itu tidak benar-benar memperhatikan wajah yang ada di potret majalah itu dan karena itu ia cukup terkejut menyadari bahwa pemilik perusahaan ternama se Korea Selatan—atau mungkin hingga Asia atau bisa juga Dunia, Yoongi tidak yakin—ternyata adalah sosok yang sangatlah tampan.

.

.

.

Pukul tiga sore dan Hoseok berjanji akan menjemputnya. Hari ini ia tidak ada kerja part–time, tapi cukup merasa bersalah karena harus membuat Hoseok memilih pulang dan mengajaknya berjalan-jalan. Ia tahu Hoseok adalah orang sibuk, nyaris tiap hari ia mengomel dan menggerutu tentang sosok itu yang selalu membuang waktunya untuk bermain bersamanya. Meski sudah menolak hampir tiap kali di ajak pergi, sosok itu akan tetap memaksa dan mengatakan dirinya lebih penting daripada pekerjaan yang bukan apa-apa.

Saat dirinya sudah turun ke bawah dan melangkah ke parkiran, ia tidak sengaja berpapasan dengan atasannya. Presdir Park yang sangat tampan. Sosok itu terlihat baru saja keluar dari mobil setelah tadi pagi-pagi sekali ia melihat sosoknya lewat untuk turun ke bawah, berpikir bahwa mungkin sang presdir ada keperluan dan baru menyelesaikannya beberapa waktu lalu kemudian kembali ke kantor karena ada urusan lain di kantor; pemilik perusahaan memang selalu terlihat selalu sibuk—kecuali jika si pemilik perusahaan adalah Jung Hoseok.

Ia tersenyum sesopan mungkin setelah membungkuk cukup dalam, memberi penghormatan sepenuhnya pada sosok tampan dengan sosok yang ia sumpilkan sebagai tangan kanannya yang selalu mengiringi langkahnya. Jimin memberi senyuman memesona hingga Yoongi kembali terkesima namun mencoba menahan kesadarannya tetap pada tempatnya.

"Selamat Sore, Presdir Park," ujarnya sopan sambil melangkah minggir memberi jalan bagi sosok tampan itu.

Sang presdir mengangguk penuh wibawa, "sore," jawabnya dengan suara tenang yang dalam; menusuk sel saraf Yoongi hingga ia merasa tubuhnya berhenti bekerja begitu saja.

Yoongi tersadar saat sosok Jimin sudah cukup jauh beberapa langkah darinya, tangannya terangkat untuk mencubit pahanya; membawa kesadaran penuh agar segera berlalu daripada terpaku bodoh di tengah jalan. Ia mengedarkan matanya sambil berjalan, menemukan mobil Hoseok yang sudah sangat ia hapal angkanya. Langkahnya ia bawa ringan dengan senyuman lebar, selalu merasa begitu senang jika bertemu dengan Hoseok.

"Yoongi!" Hoseok memanggil saat tubuh kecil Yoongi terlihat dari sudut matanya. Sosok itu sudah beberapa langkah lagi sampai ke mobilnya, jadi ia membukakan pintu dan melambai kecil. "Masuk," ujarnya saat tubuh kecil itu sudah dekat.

Yoongi masuk dan menutup pintu, mengatakan senang kembali melihat Hoseok setelah pesta daging kecil-kecilan mereka waktu itu. Ia memasang sabuk pengaman dengan baik lalu menepuk pahanya; kebiasaan.

Ia melirik sosok Hoseok yang terkekeh kecil setelah memperhatikan dirinya dari atas ke bawah. "Ada apa?" Ia bertanya penasaran.

Hoseok tersenyum sambil menepuk kepala dengan rambut hitam yang begitu lembut. "Sudah kukatakan 'kan kalau stocking itu hanya menyembunyikan keindahanmu? Lihat sekarang, kau terlihat begitu manis."

Yoongi mendengus, ia memukul lengan kekar Hoseok yang terasa keras karena ototnya yang terbentuk dengan baik. "Bicara apa kau ini."

Laki-laki itu pun tertawa kecil, "aku sudah membelikanmu sepatu dengan hak. Aku pikir di hari pertamamu bekerja kau akan langsung menyadari bahwa flat–shoes sungguhan bukan hal yang cocok, jadi aku meminta sekretarisku membantu memilih sepatu yang pas. Ini," ia meraih sebuah kantong plastik yang menyimpan sebuah kardus di dalamnya, meletakkannya di pangkuan Yoongi kemudian menjalankan mobilnya. "Aku tidak terima penolakan," ujarnya sambil fokus pada jalan.

"Hoseok…," Yoongi melirik sosok Hoseok dan kardus sepatu yang ada di pangkuannya bergantian. Ia selalu benci saat Hoseok seperti ini, mebelikan sesuatu dan memaksanya memakai barang itu. Terkadang Hoseok akan mengatakan dirinya ingin membeli barang untuk perempuan tapi tidak tahu harus memberikannya pada siapa karena kekasihnya adalah laki-laki, kemudian akan menyerahkannya tanpa meminta persetujuan dan memaksa dirinya menggunakan barang itu. Hanya saja Yoongi mencoba biasa, memaklumi sahabatnya yang selalu bersikeras ingin barang pemberiannya diterima dengan senang hati. Ia menghela napas lirih, "terima kasih."

Hoseok tersenyum menyadari Yoongi tidak menolak kali ini. "Buka dan lihat, kau tidak akan merasa terbebani memakainya."

Yoongi menurut, ia mengeluarkan kardus itu dan membuka isinya. Menemukan sebuah sepatu dengan hak rendah sekitar tiga sampai lima senti. Berwarna hitam dengan bentuk selop yang manis, belum lagi ada sebuah pita kecil yang menghiasi bagian depannya. Indah. Yoongi menggumamkan kata wah lirih karena terkagum pada sepatu itu, tersenyum senang karena Hoseok memang selalu tahu kesukaannya.

"Ini keren," decak kagum Yoongi membuat yang tengah menyetir itu tersenyum senang. "Terima kasih banyak, Hoseok-ah!"

"Senang rasanya kalau kau suka," jawab Hoseok dengan senyuman tipis. "Gunakan itu. Kau perlu membeli koleksi heels macam lebih banyak lagi atau kau akan terus menjadi mungil dan menggemaskan hingga orang akan menabrakmu karena tidak melihatmu."

"Hey!" Satu pukulan mendarat pada lengan Hoseok hingga yang dipukul tertawa kecil.

Hoseok selalu senang tiap sahabat perempuannya memekik kesal, ia terlihat lucu dan manis. "Omong-omong bagaimana hari pertamamu, Yoongi-ya?"

"Kita bicarakan itu di tempat makan saja atau kita akan kehabisan topik," Yoongi terkekeh kecil. "Kita akan makan, 'kan?"

"Kau benar," Hoseok tertawa kecil mengikuti Yoongi. "Ceritakan padaku nanti, semuanya!"

.

Setibanya di tempat makan, Yoongi langsung melompat turun dengan senyuman. Hoseok membawa mereka ke kedai kopi dan coklat yang selalu menjadi favorit bagi mereka berdua, berharap banyak pada kopi dan susu yang akan membuat hari mereka jadi lebih menyenangkan setelah menyeduhnya dengan kue coklat yang lembut; khas kedai langganan mereka.

Yoongi dan Hoseok masuk bersamaan, membuat suara lonceng tipis menyambut mereka dan ucapan selamat datang dari seorang pegawai yang menatap mereka berdua.

"Hoseok–hyung, Yoongi–noona," sosok dengan wajah bulat yang manis ke luar dari balik meja untuk menghampiri mereka. Hoseok segera merangkul sosok itu dan membisikkan sesuatu hingga sang pemuda di rengkuhan Hoseok merona tipis; Yoongi terkekeh kecil melihat rona itu.

"Jihoon-ah," Yoongi menyapa, memberi senyuman terbaiknya pada sosok kecil—yang tetap lebih besar darinya—pada lengan Hoseok. "Senang melihatmu lagi."

Sosok bernama Jihoon itu mengangguk manis, "bangku dekat jendela masih kosong, tunggu di sana dan biarkan aku membawakan pesanan kalian."

"Tapi kita belum memesan," Hoseok menyela, matanya memberi tatapan yang menggoda pada Jihoon.

"Kalian ingin ganti pesanan?" Jihoon mengerjap, terlihat sangat lugu dan manis. Ia kemudian mengeluarkan pulpen dan kertas dari kantung besar di bagian perutnya, persis seperti kantung kanguru atau mungkin tokoh kartun doraemon. "Biar aku catat."

Yoongi terkekeh melihat keluguan Jihoon. "Apa menjadi kekasih Hoseok selama hampir dua tahun tidak membuatmu paham juga kalau Hoseok ini sangat senang menggoda orang?" Suara Yoongi terdengar seperti menahan geli. "Kita pesan seperti biasa, secepatnya karena aku sangat rindu pada kopi racikanmu."

Jihoon tersipu kembali mendengar ucapan Yoongi, terlihat sangat menggemaskan hingga Yoongi membatin sosok itu sungguhan anak kecil yang manis—ia dan Jihoon memiliki perbedaan umur lima tahun, jadi Yoongi selalu memanggil Jihoon dengan anak kecil.

"Kau mudah tersipu jika di dekat Hoseok," komentar Yoongi. Ia tahu bagaimana Jihoon yang galak dan suka memukul orang, sangat berbeda dengan Jihoon yang akan berubah manis dan lugu kala berada di rangkulan Hoseok.

"Noona!" Jihoon memekik kecil, ia kemudian melepas rangkulan tangan kekar Hoseok pada bahunya. "Yasudah, biar aku buatkan pesanan kalian dulu. Tunggu di tempat biasa dan pesanan kalian akan segera datang."

Setelah duduk dan menunggu pesanan datang, Hoseok langsung memasang ekspresi penasaran pada Yoongi. "Ceritakan padaku bagaimana pekerjaan di hari pertamamu."

Yoongi memberi tawa kecil sebagai tanggapan untuk Hoseok, ia kemudian menarik napas dan menceritakan betapa tampannya Presdir Park yang kemudian disetujui oleh Hoseok. Setelah itu Yoongi teringat pada sosok Yuju yang cantik seperti model, juga pernyataannya tentang dirinya yang menarik perhatian beberapa staf laki-laki.

"Hoseok, apa menurutmu aku menarik?" Ia bertanya dengan raut bingung, masih teringat bagaimana staf laki-laki menatap ke arahnya—yang ia pikir ke arah Yuju namun Yuju mengatakan tatapan itu tertuju padanya.

"Kau?" Hoseok mengerjap.

"Iya, apa menurutmu aku menarik?"

Hoseok terkekeh kecil. "Sangat, Yoongi-ya. Kau manis dan lugu, wajahmu juga menunjukkan kesan polos yang menarik. Ada apa?"

Kening Yoongi mengerut. "Aku tidak pernah tahu aku begitu."

"Sekarang kau tahu," Hoseok tersenyum lebar.

"Tapi menurutku aku tidak seperti itu," Yoongi menjawab dengan ekspresi yang lucu.

"Pesanan datang!" Suara ceria Jihoon membuat perbincangan mereka buyar, sosok manis itu meletakkan dua cangkir berisi latte buatannya, juga dua buah kue coklat ke masing-masing orang di meja. Ia tersenyum lebar sambil menatap Hoseok serta Yoongi bergantian. "Selamat menikmati," ujarnya.

"Terima kasih Jihoon-ah," Yoongi tersenyum manis. "Tidak bergabung bersama kita?"

Jihoon menggeleng, "hari ini ramai. Pagawaiku bisa tiba-tiba tumbang kalau aku membiarkan mereka bekerja sendiri. Nikmati makanannya, noona-ku yang cantik."

"Kau mulai genit," Hoseok memicingkan mata sambil menatap Jihoon. "Aku akan mencatatmu itu."

Yang diberi tatapan justru terkekeh kecil sambil menjulurkan lidahnya. Setelah itu berlalu meninggalkan meja.

Yoongi terkekeh, "kekasihmu itu lucu."

"Ya, dan sangat menarik untuk aku tiduri."

"Hey, kau berniat meniduri seorang bocah?"

Hoseok mengangat bahunya, "dia tidak sebocah itu. Ia pun sudah melewati umur legal Korea."

Yoongi memutar bola matanya, "terserah kau juga sih. Itu pilihan kalian."

Hoseok terkekeh kecil, "geurae. Yasudah, makan kuemu dan minum kopimu, kau pasti sangat merindukan buatan Jihoon setelah sebulan ini ia harus pergi ke luar negri dan tidak membuatkanmu makanan itu. Siksahasaeyo!"

Mereka kemudian makan sambil sesekali mengobrol dan bergurau bersama.

To Be Continue…


Rasanya jatuh cinta sama Hoseok, duh. Dia macam tipikal laki-laki idaman banget enggak sih? Hahaha sayangnya dia gay :p

Lagi-lagi aku suka banget sama pertemanan YoonSeok di sini. Mereka manis, macam pertemanan yang bakal awet dan enggak ada yang namanya saling nyakitin karena mereka berdua tau satu sama lain. Iya enggak? Hahaha

Omong-omong kemarin yang minta Yoongi cepet ketemu Jimin, ini udah ada loh. Masih sedikit sih, yeah, karena aku masih coba fokus sama kehidupan Yoongi dulu. Lagi, di sini aku enggak cuma bawa genre romance, tapi aku pikir aku mau bawa friendship juga. Jadi ya mungkin ada beberapa bagian isinya tentang pertemanan gini haha. Dan lagi, aku mau buat ff ini sedikit panjang, mungkin sekitar 10–15 chapter, aku kurang yakin, tapi yeah, sekitar belasan lah.

Oh iya, soal Jihoon… kenapa aku pilih Jihoon? Entahlah. Random aja sebutnya. Tapi juga karena waktu itu ada yang bilang 'siapa pacar hoseok? jihun?' sama ditambah timeline roleplayer aku ada rp hoseok yang couplenya jihun, jadi aku pilih jihun hehe

Buat kalian yang berharap Jimin kasar, tolong kubur harapan itu karena aku mau buat Jimin perannya cukup ramah, tapi ya tetep aja angkuh dan banggain uang. Sedikit semacam Joowon (bener kan namanya joowon?) di secret garden; tapi enggak senorak dia.

Ya, mungkin segitu aja sih buat chapter ini. Mungkin aku boleh minta review chapter ini, gimana pendapat kalian tentang ini? Aku terima masukan dan saran juga loh! Sampai jumpa di chapter depan!