Until You Know
chapter 3
disclaimer: masashi kishimoto
Warning: Karakter yang ada di fanfic ini mengarah ke OOC, pairnya slight SasuKarin, dan alur maju mundur.
Terkadang cinta itu lambat untuk disadari. Dan ketika engkau sadar, ia sudah pergi. Terlambat. Dan yang tersisa hanya penyesalan.
.
.
.
Karin tak mampu berbuat apa-apa ketika melihat pria itu pergi meninggalkan dirinya sendiri. Ia menangis. Ah, wanita itu memang terkadang rapuh jika sudah dihadapkan pada sifat buruk keturunan Uchiha. Bukan apa-apa. Hanya saja mereka sudah sepakat. Sasuke sudah menyanggupi keinginannya. Tapi kini akhirnya semua berantakan. Ia ditinggalkan dalam keadaan yang menyedihkan.
Bukan Karin tak menyadarinya. Ia hanya tak ingin mendengar, tak ingin tau, bahwa di hati pria itu ada orang lain. Ia tak ingin peduli. Berusaha tak peduli dengan perasaan pria itu dan wanita lain yang ada di hatinya. Ia takut ditinggalkan. Terkesan egois. Toh, bukankah cinta itu memang egois? Ia harus memilikinya, tak peduli bagaimanapun caranya. Kejam? Bahkan ia tertawa jika mendengar kata-kata itu. Ia kejam? Tidak. Ia sama sekali tidak kejam. Ia tidak merebut siapapun. Sasuke bukan kekasih siapapun. Dan Sasuke sendirilah yang memintanya untuk menemani pria bermarga Uchiha itu. Jadi ia tidak salah. Hanya saja, ia tidak pernah tau bahwa Sasuke adalah suami orang lain. Suami seorang wanita yang tak ia tau dan kenal. Suami dari wanita yang kini tak terdengar kabarnya, entah masih hidup atau sudah mati.
"Ikut denganku! Aku membutuhkanmu!" Itu perintah bukan ajakan. Karin masih ingat dengan jelas kata-kata itu. Dan dengan penuh tanda tanya, ia menyanggupi. Hingga akhirnya, mereka terjebak disini.
.
.
.
Sasuke tak pernah menyangka jika perasaannya akan sekacau ini. Ia pikir ia akan baik-baik saja setelah meninggalkan segalanya, melupakan semua tentang gadis itu. Ia pikir semua tak akan serumit ini. Tapi nyatanya, kini hatinya terasa begitu sesak. Ia tak tau mengapa. Tapi seluruh pikirannya tertuju pada Sakura. Gadis yang setahun lalu ia nobatkan sebagai seorang Uchiha. Ini gila. Sasuke hampir frustasi karenanya. Ia mengacak-ngacak rambut ravennya seraya menenggelamkan wajahnya di meja.
.
"Menikahlah denganku!" Sakura mengerjap tak percaya mendengar ucapan rekannya itu. Jelas ia tak percaya. Sasuke mengucapkan itu dengan nada datar dan tanpa ekspresi.
"Sasuke-kun, kau demam, ya?" tanya Sakura sambil meletakkan tangannya di dahi Sasuke. Lelaki itu menepisnya. Sakura mundur sesaat, terkejut.
"Iya. Atau tidak?" Tatapan Sasuke menuntut, memaksa.
"Kenapa?" tanya Sakura lirih. Ia menundukkan wajahnya, membuat Sasuke heran. "Kenapa aku, Sasuke-kun?"
Lelaki itu mendengus sebal. Gadis dihadapannya ini memang sangat menyebalkan. Apa semuanya membutuhkan alasan? Ia sendiri tak memiliki alasan logis kenapa ia mengatakan hal itu. Ia hanya menuruti kata hatinya. Ini bukan kebiasaannya. Tapi entahlah, ia hanya yakin bahwa pilihannya tepat.
"Sakura..."
Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap obsidian Sasuke. Iris mata itu menatapnya lembut. Dan perasaan Sakura menghangat. Ia tau, tiap kali mata itu menatap matanya, maka jantungnya akan berdetak tak karuan. Tapi ia tak pernah merasa segila ini sebelumnya. Perasaan yang dialaminya sekarang ini sungguh memabukkan. Ini pertama kalinya Sasuke menatapnya dengan tatapan yang sedemikian dalamnya.
"Percayalah padaku." Sakura mengangguk. Ia refleks melakukan itu. Ah, sungguh Uchiha itu memang penghipnotis ulung.
.
Sasuke mengangkat kepalanya. Tatapan matanya kosong sekosong hatinya. Ia tak menyangka bahwa sekarang ia begitu merindukan sosok itu. Ia menginginkan Sakura ada disini. Ingin memeluknya, menciumnya, dan tak ia lepaskan sedikitpun. Tapi semuanya kosong. Ia tak menemukan apapun selain kehampaan.
Pria berusia 23 tahun itu beranjak dari tempatnya duduk. Ia berjalan menuju ranjangnya. Menatap ranjang itu mengingatkannya pada malam pertamanya dengan Sakura.
.
Ini pertama kalinya Sakura berada dalam satu ruangan yang ia sebut sebagai kamar bersama dengan seorang laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suaminya. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Sakura tak tau harus bersikap seperti apa dan Sasuke pun demikian, meski terlihat cuek. Yang terjadi malah sebaliknya. Sasuke berbaring di ranjangnya tanpa berbicara sedikitpun pada Sakura yang masih berdiri menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun gestur gadis itu terlihat sedikit tak nyaman.
"Tidak mau tidur?" tanya Sasuke dengan nada perhatian. Pipi Sakura bersemu merah. Terlihat menggemaskan. Sasuke yang sedang duduk itu langsung memalingkan wajahnya yang mungkin ikut memerah. Ia berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang kian menggila. Shit! batinnya kesal. Bagaimana bisa ia merasakan perasaan yang begitu hebatnya ini? Bahkan otak jeniusnya seperti tak berfungsi. Logikanya tak bisa menjawab. Dan ini pertama kalinya bagi seorang Uchiha. Oh God. Ia lebih memilih berhadapan dengan seribu atau bahkan jutaan musuh daripada harus menghadapi seorang gadis yang baru saja menjadi istrinya dan, kau bisa bayangkan ia hanya berdua dengan gadis itu dalam satu kamar.
Sakura berjalan perlahan mendekati ranjang suaminya. Ia duduk di pinggir ranjang dengan posisi membelakangi Sasuke. Jantungnya pun tak karuan. Wajahnya memerah membayangkan hal yang seharusnya dilakukan oleh suami istri di malam pertama mereka. Tangannya bahkan gemetar dan berkeringat. Ia berkali-kali mengusap-usap tangannya demi menghilangkan kegugupannya. Dan hening.
.
.
"Sakura..."
"Hnn..."
"Arigatou..." Sesaat sebelum mereka berdua terlelap, pria itu mengecup kening wanita yang berbaring di pelukannya. Lama. Dan penuh perasaan. Perasaannya menghangat. Ruang yang kosong itu telah terisi kembali. Ia jelas tak bisa memahami semua ini. Hanya saja ia menyukainya. Ia menyukai sensasi perasaan yang seperti nikotin ini. Membuatnya kecanduan. Memabukkan.
Uchiha Sasuke tak bisa lepas dari Haruno Sakura. Ya, barangkali kini marga wanita itu sudah berubah. Ia tersenyum tipis. Pipinya merona mengingat kejadian beberapa jam lalu. Ia sudah membuat seorang gadis menyerahkan kesuciannya padanya. Ada rasa bangga tak terlukiskan yang kini ia rasakan. Ia menjadi satu-satunya pria yang dicintai oleh Sakura dan ia pula satu-satunya pria yang mendapatkan harta berharga dari gadis itu. Sasuke tersenyum tulus sambil membelai lembut rambut wanita itu. Dan mereka pun sama-sama terlelap.
.
Ia berharap semua ini hanya mimpi. Dan saat ia terbangun, semua akan kembali seperti sediakala. Ada ayah, ibu, serta kakaknya yang menemaninya sarapan pagi. Namun semua ini bukanlah mimpi. Keluarganya telah pergi lebih dulu meninggalkannya. Ia sendiri. Meski beberapa waktu yang lalu ia memiliki teman yang seperti keluarganya sendiri, tetap saja kini ia sendiri. Karena ia yang memilih pergi. Termasuk pergi dari sisi wanita yang biasa mengisi kekosongan hatinya selama beberapa bulan belakangan ini.
Pria itu mencoba memejamkan matanya. Namun nihil. Berkali-kali ia berganti posisi. Ke kanan, ke kiri, telentang, bahkan tengkurap pun sudah ia lakukan. Namun ia tetap tak bisa tidur. Ia kembali bangkit sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tampak frustasi. Lalu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Mengacak-ngacak rambutnya. Dan untuk ke sekian kalinya, ingatanya membawa dirinya pada kejadian itu. Kejadian dimana ia harus dengan tega meninggalkan istrinya.
.
Hari itu tepat hari ulang tahun Sasuke. Sebagai seorang istri, Sakura sudah menyiapkan makan malam spesial untuk merayakan hari jadi suaminya itu. Sejak pagi ia sangat sibuk menata meja makan dan rumahnya. Lelah pun tak ia hiraukan. Yang terpenting baginya adalah Sasuke bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Dan sebuah kejutan pun siap ia berikan untuk Sasuke. Ia tersenyum tipis saat mengingat hadiah yang akan ia berikan pada Sasuke.
Sambil menunggu sang suami pulang, Sakura membaca sebuah buku kedokteran mengenai bedah mata. Ia duduk di sofa ruang depan rumahnya, berjaga-jaga agar cepat membukakan pintu saat Sasuke pulang. Ia ingat. Dulu Sasuke hampir buta karena luka parah di matanya. Ia berusaha mati-matian untuk menyelamatkan pria itu. Bahkan ia sempat ingin mendonorkan matanya, namun dicegah oleh Tsunade. Beruntung Sasuke. Entah karena takdirnya atau memang ia terlalu mujur, matanya baik-baik saja sampai sekarang. Karena itu Sakura sangat berminat tentang hal-hal yang berhubungan dengan mata. Ia kembali tersenyum penuh semangat sambil matanya menelusuri satu persatu kalimat berhuruf kanji itu.
Krieeet...
Suara pintu dibuka. Sakura menolehkan kepalanya menuju pintu itu. Sasuke pulang. Wanita itu langsung berdiri, berlari pelan menghampiri pria itu sambil tersenyum dan mengucapkan, "Okaeri, Sasuke-kun."
Tak ada jawaban.
Ia langsung berjalan tanpa memandang Sakura sedikitpun bahkan saat jarak mereka hanya beberapa senti. Wanita itu menatap heran punggung yang berjalan perlahan menjauhinya. Jauh. Jarak itu entah mengapa terasa begitu jauh, sama seperti saat dulu ketika pria itu hendak pergi meninggalkannya. Dadanya sesak seketika kala mengingat itu. Namun buru-buru ia menepis rasa yang entah mengapa begitu menyakitkan.
Sakura berlari mengejar Sasuke ke kamarnya. Ia berusaha bersikap seperti biasa. Namun langkahnya terhenti. Senyumnya memudar kala mendapati pria itu tengah memasukkan pakaiannya ke dalam tas ransel yang biasa ia bawa saat pergi jauh.
"Kau... mau kemana, Sasuke-kun?" tanyanya parau. Sakura merasa ada mencekat tenggorokannya saat itu. Bagai ditimpa berton-ton beban, dadanya terasa amat sesak.
Hening.
Kembali tak ada jawaban. Hanya suara detak jam yang berusaha memecah kebisuan diantara mereka berdua.
Lelah dengan keadaan ini, Sakura menghampiri Sasuke. Menatap pria bermata hitam kelam itu lekat-lekat. Mencari jawaban atas semua tanya yang ada di benaknya saat ini. Namun Sakura tak menemukan apapun. Tatapan itu begitu dingin, menusuk hingga ke relung hati Sakura. Kehangatan yang dulu ia rasakan ketika menatap mata itu sirna dalam sekejap. Sakura mundur, menundukkan wajahnya.
"Ini hari ulang tahunmu, bukan?" Wanita itu kembali tersenyum, mengusir segala gundah di hatinya, menatap pria bermarga Uchiha itu sekali lagi.
"..."
"Aku sudah menyiapkan makan malam spesial untukmu, Sasuke-kun. Kau pasti lapar, bukan?" Sakura menghela napasnya.
"Tidak." Satu kata berisi penolakan dengan nada dingin khas Uchiha itu sukses menohok Sakura. Mata hitam itu menatap tajam mata istrinya, seolah-olah istrinya itu adalah musuh yang hendak dimusnahkannya.
Dengan tatapan tak pedulinya itu, Uchiha Sasuke memakai ranselnya berjalan menuju pintu meninggalkan Sakura. Langkahnya pelan namun tegas. Sakura terdiam. Airmatanya menetes sesaat sebelum akhirnya dia berlari mengejar Sasuke.
"Sasuke-kun!"
Tak menghiraukan suara Sakura yang memanggilnya, Sasuke terus berjalan keluar hingga sebuah kalimat menghentikan langkah Sasuke.
"Aku hamil, Sasuke-kun." Suara Sakura terdengar bergetar, menyayat. Suara itu menembus pertahanan hati Sasuke, mengiris pedih hati yang ia kunci rapat-rapat itu.
Ia diam.
"Aa. Sebenarnya sudah sejak seminggu lalu aku mengetahuinya. Hanya saja, aku ingin ini menjadi hadiah di hari ulang tahunmu. Aku berniat memberitahukannya padamu saat kita makan malam," lanjut Sakura dalam sekali napas. Airmatanya berhenti menetes. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Tapi sepertinya semua rencanaku berantakan. Haha," tawa wanita itu hambar. Wajahnya kembali tertunduk. Sasuke tak bergeming.
"Aku berharap bisa membuatmu senang Sasuke-kun," lirihnya. Matanya nampak berkaca-kaca. Namun lagi-lagi Sasuke tak merespon. Ia hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Tangannya mengepal kuat disana.
"Sayangnya..." berhenti sejenak seraya menolehkan kepalanya, menatap tajam mata emerald Sakura. "Aku tidak senang sama sekali."
Dingin.
Semilir angin malam yang berhembus melalui pintu yang terbuka membuat aura di sekitar mereka makin mencekam. Sakura membelalakkan matanya, menatap tak percaya ucapan pria di hadapannya itu.
Dan Sasuke berbalik pergi. Lagi. Jauh. Airmata Sakura mengalir deras. Ia menangis, namun tak terisak, tak bersuara. Menyebabkan dadanya sesak. Emosinya meluap. Ia marah. Kesal. Semua rasa itu menjadi satu, siap meledak.
"Tidak senang?" tanya Sakura dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. Sasuke kembali menghentikan langkahnya.
"Kau bilang tidak senang, Sasuke-kun?" ulangnya sedikit merendah. "LALU KENAPA KAU MENIKAHIKU? KENAPA SAAT ITU KAU MELAMARKU? BAHKAN SAAT KUTANYA ALASANNYA, KAU HANYA MENYURUHKU UNTUK PERCAYA!" Suara itu nyaris berteriak. Emosinya meluap, menyebabkan napasnya terengah. Airmatanya meluncur tak tertahan.
Tak ada jawaban.
"Sejak awal aku memang bodoh. Aku terlanjur percaya padamu. Padahal jelas-jelas aku tau kau sama sekali tidak mencintaiku," lanjut Sakura pelan. Nyaris saja ia terisak. Namun ditahannya. "Kau membuatku percaya, Sasuke-kun."
Isaknya terdengar jelas di telinga Sasuke. Ia menundukkan kepalanya diam. Entah ekspresi apa yang dipasang oleh pria itu. Tak ada yang tau.
"Kau bersikap seolah-olah kau menyayangiku. Kau selalu bersikap manis padaku. Membuat asaku melambung tinggi. Namun kini, dalam sekejap kau menjatuhkanku. Menghempaskanku hingga ke dasar lautan," lanjut Sakura tak tertahan. Ia terisak. Bahunya bergetar.
"Aku tak pernah memaksamu," jawab Sasuke membela diri. Emosi wanita itu makin meluap.
"Kau..." geram Sakura. Giginya bergemeletuk menahan amarah. Ingin rasanya ia meninju pria itu. Kalau perlu membunuhnya. Sadis? Jangan salahkan Sakura yang berpikiran seperti itu. Ini salah Sasuke yang sudah membuat dirinya hampir kehilangan akal sehatnya. Sakura mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi hatinya tetap tak bisa terima dengan perlakuan Sasuke.
"Bagaimana dengan anak ini, hah? Bagaimana bisa kau lari tanggung jawab? Bukankah kau yang menginginkannya?" tanya Sakura yang mati-matian menahan amarahnya. Bagaimanapun juga, Sasuke tetaplah suaminya. Ia harus menghormatinya. Meski hatinya benar-benar terluka, siap hancur saat itu juga.
"Aku tak menginginkannya. Dan tidak akan bertanggung jawab," jawab Sasuke dingin, sinis. Emerald Sakura membulat. "Kalau kau tak bisa menjaganya, mudah saja Sakura..." Kembali Sasuke menatap Sakura tegas. "Gugurkan saja!"
Demi apapun di dunia ini, itu kata-kata terkejam yang Sakura dengar. Airmata yang berusaha ia tahan sejak tadi akhirnya mengalir deras bersamaan dengan Sasuke yang melangkah pergi. Seketika perutnya terasa nyeri, seperti ada yang meremas-remasnya. Ia meringis tertahan. Lututnya terasa lemas. Dan Sakura terjatuh. Pandangannya buram. Namun ia masih melihat dengan jelas saat-saat pria itu keluar dari rumahnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Sesaat sebelum kesadarannya menghilang, Sakura sempat berucap, "Aku membencimu, Sasuke. Demi Tuhan, aku sangat membencimu."
.
Tetes airmata itu mengalir begitu saja dari sudut matanya yang kelam. Wajahnya tertunduk tertutupi oleh helaian rambutnya yang hitam. Suaranya terisak pelan. Ia meremas dadanya yang begitu sakit. Menyesal sekarang pun sudah tak ada gunanya. Ia telah salah melangkah. Dan kini rasa bersalah seakan ingin membunuhnya.
"Maaf. Maafkan aku," sesalnya disela tangisannya yang nyaris tak bersuara. Seseorang itu mendekatinya, memeluknya erat seakan ikut merasakan perasaan pria itu. Betapa kini ia menyadari bahwa pria itu rapuh. Ia pun ikut menangis. Karena kini ia berada di posisi yang sama dengan pria itu. Karin dan Sasuke sama-sama kehilangan. Karin telah kehilangan hati itu yang ia kira untuknya. Dan Sasuke telah kehilangan satu-satunya keluarganya. Ia kehilangan Sakura dan tak pernah tau apakah ia akan kembali menemukan wanita itu atau tidak.
.
.
.
To Be Continued
Dua tahun saya ga apdet fic ini. Hahaha #digeplak
Sedikit agak gak nyambung sama chapter sebelumnya. Soalnya ini saya buatnya sambil kerja di tengah tumpukan faktur yang bikin lieur. ==" Dan mungkin juga menjawab pertanyaan para readers tentang apa yang sebenarnya terjadi. Belum semuanya terungkap sih. Tapi kan seenggaknya udah ketauan tuh siapa yang nikah sama Sasuke. Haha.
Saya gamau Karin sama Sasuke. Gak tega sama Sakura. Coz saya udah buat dia terlalu menderita di fic ini. #pelukSaku
Perihal apa yang terjadi sama Sakura nanti, apa dia koma atau mati atau masih hidup, itu rahasia Ilahi #dilempar Wkwkwk
Yang jelas, saya mau menyiksa ketiga tokoh utama yang ada di fanfic ini. #lirikSakuSasuKarin #dichidori
Tapi terima kasih buat semuanya. Saya gak bisa sebutin satu-persatu. Tapi percayalah, berkat kalian juga saya mampu menyelesaikan fanfic ini #terharu
Dan terakhir, jika berkenan, bolehkan saya minta reviewnya? Hehehe ^^
.
.
Selesai di Tangerang Selatan, 08 Mei 2013 (2.241 words)
