Arunasachi
Proudly Present
"Chandelier"
Fairytail ©Hiro Mashima
Lucy tertegun melihat apa yang telah terjadi. Kobaran api yang semakin membesar tengah membakar apartemennya saat ini.
Membakar Apartemennya.
.
.
Lucy masih menangis. Sebelumnya ia kehilangan pekerjaannya, sekarang ia malah kehilangan tempat tinggalnya. Sepertinya Kami-sama sedang membenci nya saat ini. Namun setidaknya Lucy mempunyai teman yang baik, Levy mengajak Lucy untuk tinggal di rumahnya untuk sementara. Tak ada yang tersisa selain pakaian yang dikenakannya saat itu dan tas yang biasa ia bawa kerja.
Levy merasa sangat kasihan dengan sahabatnya ini. Terlalu banyak masalah yang mendatanginya. Levy mencoba untuk mengajak Lucy tersenyum, mencoba untuk menghibur nya. Namun tak seulas senyum tipis pun berhasil terpahat di wajahnya, sudah tiga hari sejak saat itu, Lucy masih menjalani aktivitasnya dengan baik. Tapi ini berbeda, matanya kosong, Lucy tak seceria dulu lagi.
"Lu-chan, apa kau sudah selesai menyusun buku yang disebelah sana ?" tanya Levy sambil mendekati Lucy.
"Iya, aku sudah selesai" jawab Lucy datar.
"Kalau begitu, ayo kita pulang" Ajak Levy
.
.
Kedua gadis manis itu berjalan di sepanjang trotoar menuju rumah mereka, rumah Levy tepatnya. Tak satu pun dari mereka berbicara, suasana yang terbentuk terasa begitu canggung dan aneh. Kenapa aneh ? karena biasanya mereka akan selalu bicara, membicarakan banyak hal bersama, terkadang terdengar tawa kecil di sela-sela pembicaraan mereka. Namun kali ini tidak, tak satu pun pembicaraan.
Sesampainya di rumah Levy, Lucy langsung mandi. Mencoba untuk menenangkan kembali dirinya dari keterpurukan dalam beberapa akhir ini.
Levy yang melihat tingkah Lucy akhir-akhir ini pun merasa sangat khawatir dengan keadaan Lucy. Levy tidak tahu harus berbuat apalagi agar Lucy bisa kembali lagi seperti dulu. Ah ! Levy baru ingat sesuatu !
Dengan segera Levy mengambil Handphone nya, dan memencet beberapa nomor disana, lalu dengan sigap menekan tombol 'call'.
"Halo Levy-chan~" terdengar sebuah suara dari seberang sana.
"Juvia-chan, aku perlu bantuan mu " ucap Levy tanpa perlu membalas sapaan pemilik suara itu, Juvia Locksar.
"bantuan ? bantuan apa ?" tanya Juvia
"aku ingin kau…."
.
.
Seorang gadis bersurai pirang tampak sibuk memilih sayur-sayuran di sebuah supermarket. Sesekali keningnya berkerut melihat selembar kertas berisi daftar belanjaan yang dititipkan Levy seorang gadis berambut biru dengan kulit putih pucat mendekatinya.
"Lucy-san ?" ucap gadis berambut biru itu padanya.
"Juvia ?" ucap Lucy sedikit terkejut ketika melihat Juvia sekarang ada di depannya.
.
.
"aku turut bersedih atas kebakaran yang terjadi pada apartemen mu, Lucy-san" Ucap Juvia dengan wajah sedih.
Saat ini mereka berada di sebuah café yang tak jauh dari supermarket tempat mereka bertemu.
"Tak apa Juvia, aku baik-baik saja" balas Lucy
"sekarang kau tinggal dimana ?" tanya Juvia
"sekarang aku tinggal bersama Levy, untunglah Levy berbaik hati mengizinkan ku untuk tinggal bersamanya" jawab Lucy dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Juvia mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas nya. lalu meletakkan berkas tersebut di atasdan menyodorkannya pada Lucy. Lucy sedikit kebingungan apa maksud Juvia menyodorkan berkas itu padanya.
"ini apa Juvia" tanya Lucy yang tidak mengerti.
"Bacalah Lucy-san" ucap Juvia sambil membuka halaman pertama dari berkas tersebut.
"i-ini….." Lucy sedikit terkejut saat ia membaca halaman pertama dari berkas itu.
"ini adalah berkas pendaftaran sekretaris di perusahaan temannya Gray-sama, kau bisa mengikuti nya Lucy-san, jika kau diterima kau akan mendapatkan pendapatan yang cukup untuk menyewa sebuah apartemen baru, hanya inilah yang bisa ku lakukan untuk mu Lucy-san" Jelas Juvia
Lucy hanya terdiam mendengarkan apa yang Juvia jelaskan. Memang benar ia sangat ingin bekerja di sebuah perusahaan, tapi saat ini dia sudah bekerja di Perpustakaan Kota bersama Levy.
"cobalah kau pikirkan lagi Lucy-san, kesempatan ini tak akan datang dua kali" ucap Juvia lagi, kemudian mulai beranjak dari duduk nya.
"kalau begitu Juvia permisi Lucy-san" ucap Juvia kemudian pergi dari dari café itu.
Lucy tetap terdiam memandangi kertas pendaftaran yang saat ini dihadapannya. Memang benar ini adalah kesempatan yang bagus, apalagi ini adalah keinginannya sejak lama. Ia pikir sepertinya ia harus membicarakan ini dengan Levy-chan.
.
.
"kalau menurut ku, lebih baik kau mengikuti pendaftaran tersebut Lu-chan" ucap Levy setelah mendengar cerita Lucy yang bertemu dengan Juvia.
"tapi Levy-chan, bagaimana dengan pekerjaan ku di Perpustakaaan Kota ?" tanya Lucy
"kau tenang saja, aku akan mengurusnya untuk mu" ucap Levy tenang.
Lucy berpikir sejenak.
"jadi, apa aku harus ikut mendaftarkan diri ?" tanya Lucy sedikit ragu dengan ucapannya sendiri.
Lucy merasa pesimis jika dia nanti mendaftarkan diri, apakah ia bisa diterima atau tidak. Apalagi syarat yang di berikan di form pendaftaran itu tidak boleh terikat oleh pekerjaan lain. Berarti jika ia ingin mendaftarkan diri disana, maka ia harus berhenti dari Perpustakaan Kota. Tentu saja ia bisa lega kalau diterima, tapi kalau tidak berarti ia harus mencari pekerjaan baru lagi. Ini keputusan yang cukup berat.
"Baiklah ! sudah ku putuskan, aku akan mengikuti pendaftaran ini" ucap Lucy dengan penuh semangat.
Levy tersenyum penuh arti ke arah sahabatnya itu, ternyata meminta bantuan Juvia adalah pilihan yang tepat. Ia tau Lucy butuh sesuatu yang dapat mengalihkan pikirannya dari insiden kebakaran apartemen nya itu.
.
.
Pagi hari yang sibuk untuk kedua gadis berambut pirang dan biru ini. Gadis berambut biru yang bernama Levy tengah sibuk menyiapkan pakaian yang akan dipakai Lucy nanti. Yap, hari ini adalah hari pendaftaran sekaligus wawancara yang akan diikuti Lucy di perusahaan temannya Gray. Untunglah Evergreen dengan senang hati meminjami Lucy salah satu stelan pakaian kerja nya.
"Yosh, Lu-chan kau harus segera memakai pakaian mu. Nanti kau bisa terlambat " ucap Levy pada Lucy yang baru selesai mandi.
"Ku dengar dari Juvia mereka mengadakan pendaftaran dan wawancaranya di sebuah hoyel berbintang loh Levy-chan" ucap Lucy dengan mata berbinar-binar membayangkan ia akan memasuki hotel megah nanti.
"wahh, sepertinya perusahaan temannya Gray adalah perusahaan yang sangat besar ya. Aku tidak menyangka orang seperti Gray bisa punya teman seorang Pemimpin perusahaan" ucap Levy
"ya, aku juga tidak menyangkan Gray punya teman sehebat itu" ucap Lucy yang baru selesai memakai pakaiannya.
"sini Lu-chan, aku akan membantu mengikat rambutmu" Levy mengambil sebuah sisir dan menyuruh Lucy untuk duduk di depan meja rias. Lucy menurut, dan duduk di depan meja rias.
Levy dengan lihai membenahi rambut Lucy, membuat sanggul yang sangat cantik. Membuat Lucy tambah cantik dengan rambutnya. Lucy tersenyum menatap dirinya sendiri di cermin rias itu. Levy juga ikut tersenyum melihat sahabatnya yang sudah mulai kembali ceria.
"apa kau tidak apa-apa pergi sendiri Lu-chan ?" tanya Levy memastikan
"tak apa Levy-chan, aku sudah diberi alamatnya oleh Juvia. Dan dia akan menunggu disana " jelas Lucy kemudian pamit pada Levy
.
.
Akhirnya Lucy sampai juga di depan sebuah hotel mewah yang sangat besar itu, Lucy sempat tertegun memandangi bangunan itu. Lucy melangkahkan kakinya memasuki hotel itu dengan sedikit gemetar, namun itu tak lama setelah ia melihat Juvia berdiri di lobi hotel.
"Juvia" panggil Lucy, Juvia pun melihat ke arah panggilan dan mendapati Lucy yang sangat cantik dengan stelan baju kerja itu.
"L-Lucy-san ?" ucap Juvia sedikit terbata, ia tahu kalau Lucy itu cantik namun kali ini dia kelihatan lebih cantik lagi.
"apa kau sudah lama menunggu ku ?" tanya Lucy diiringi senyumannya.
"tidak, aku juga baru saja sampai " ucap Juvia membalas senyuman Lucy.
"Lucy-san, apa kau sudah mengisi formulir pendaftaran itu ?" tanya Juvia
"oh, sudah" jawab Lucy, sambil memberikan berkas yang Juvia berikan waktu itu pada nya.
Juvia menerima berkas itu dan mengeceknya.
"Yosh, kalau begitu ikuti aku Lucy-san" ajak Juvia.
Lucy pun menurut, mereka menaiki lift yang sedikit sesak oleh peserta lainnya. Namun itu tak lama, karena lift berhenti di lantai 3. Mereka memasuki sebuah ruangan yang besar dimana disana telah tersedia banyak kursi untuk para peserta. Di sudut atas bagian kiri ruangan terdapat pintu menuju ruangan wawancara seperti yang dikatakan Juvia saat mereka duduk bersama peserta lain di kursi yang telah disediakan.
Juvia telah memberikan formulir pendaftaran Lucy pada panitia sebelum memasuki ruangan tadi. Lucy merasa sangat gugup ketika satu persatu peserta mulai di panggil namanya untuk sesi wawancara. Lucy meremas ujung roknya karena terlalu gugup, Juvia yang menyadari tingkah Lucy menggenggam erat tangan Lucy, dan tersenyum padanya berharap ini dapat mengurangi kegugupan Lucy.
"Kau pasti bisa Lucy-san" ucap Juvia sambil tersenyum manis.
Lucy membalas senyuman Juvia. Juvia benar dia pasti bisa, bukankah dia sudah memutuskan semuanya. Dia pasti bisa.
Tibalah saatnya Lucy yang dipanggil untuk melakukan sesi wawancara. Lucy berdiri dari duduk nya, lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Lucy mulai melangkah dengan pasti menuju ruangan wawancara.
' Aku pasti bisa ! ' itulah pikirnya
.
.
Sudah seminggu sejak Lucy mengikuti pendaftaran itu. Namun masih belum ada kabar dari Juvia tetang ia diterima atau tidak. Sejak saat itu Lucy sudah tak bekerja lagi di Perustakaan Kota, jadi dia hanya menunggu rumah sementara Levy bekerja. Bagi Lucy hari-hari nya selama seminggu ini sangatlah membosankan, apalagi dia merasa tidak enak pada Juvia, Lucy merasa kalau dia sudah terlalu merepotkan Juvia.
"Lu-chan, Tadaima~" teriak Levy bersemangat yang baru pulang kerja.
"Okaeri, Levy-chan" jawab Lucy senang akhirnya Levy pulang juga, karena ia merasa sangat bosan sendirian.
"ne ne, Lu-chan ! aku tadi beli cake loh, ayo kita makan bersama" ajak Levy senang sambil memperlihatkan bungkusan cake yang ia bawa.
"ah, baiklah" jawab Lucy.
Mereka berdua pun memakan cake bersama. Tiba-tiba handphone Lucy berdering. Dengan cepat Lucy mengambil Handphone nya dan menjawap panggilan itu.
"Halo" sapa Lucy
"Lucy-san ! selamat kau diterima di perusahaan temannya Gray itu, waahh selamat ya" ucap Juvia sangat senang dari seberang sana.
Lucy sedikit terkaget dengan apa yang dikatakan Juvia. Dia apa ? di terima ? dia diterima ?
"Waahh, benarkah ? kau tidak sedang bercandakan Juvia ?" tanya Lucy senang.
"tentu saja aku tak bercanda Lucy-san, kau bisa mulai bekerja besok, aku akan mengirim alamat kantornya padamu, jaa ne" ucap Juvia lalu menutup telponnya.
"jadi, kau diterima Lu-chan ?" tanya Levy yang entah sejak kapan sudah berada di samping Lucy.
" Um" angguk Lucy pasti. Dia sangat senang dia tak menyangka diantara begitu banyak peserta dia lah yang diterima.
.
.
Yap, disinilah Lucy di depan sebuah gedung besar nan tinggi. Ini adalah hari pertamanya bekerja disini, hari pertama bekerja di sebuah perusahaan sebagai sekretaris. Dengan langkah mantap Lucy memasuki gedung itu, Juvia bilang kalau dia akan di tunggu seseorang di lobbi, namanya Kinana. Kata Juvia. Kinana itu adalah sepupunya.
Seperti yang dikatakan Juvia, di lobbi memang tampak seorang gadis tengah menunggu seseorang. Lucy pun menghapiri gadis itu.
"apa kau Kinana-san ?" tanya Lucy memastikan.
"Ah, kau pasti Lucy hearthfilia-san " ucap Kinana
"iya" jawab Lucy sambil tersenyum
"kalau begitu, ikut aku Lucy-san" ajak Kinana.
Kinana dan Lucy menaiki lift menuju lantai teratas dari gedung itu. Lucy memang sangat takjub dengan gedung 24 lantai ini, tapi ia tak pernah menduga kalau dihari pertama ia langsung di ajak menuju lantai teratas.
Akhirnya mereka sampai juga di lantai paling atas, di lantai ini tampak tak terlalu banyak karyawan. Kinana mengajak Lucy menuju sebuah ruangan di mana telah terdapat sebuah meja kerja.
"ini adalah ruangan kerja mu Lucy-san, dan itu adalah ruangan Pimpinan Perusahaan ini" jelas Kinana pada Lucy. Lucy hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kinana.
"sebelumnya ini adalah ruangan kerja ku, namun sekarang aku telah di pindahkan ke salah satu cabang perusahaan, jadi aku harap kau dapat menjalani pekerjaan mu dengan baik" jelas Kinana lagi.
"iya aku akan melakukan yang terbaik" ucap Lucy yakin.
"oh iya, sebaiknya kau temui Pimpinan Perusahaan dan jangan lupa untuk memanggilnya 'Tuan', kalau begitu aku permisi" ucap Kinana lalu meninggalkan ruangan itu.
Lucy merasa sangat gugup untuk memasuki ruangan itu, tapi dia harus memasuki nya. Lucy menarik nafas panjang, kemudian dengan perlahan Lucy membuka pintu itu.
Seorang pria berambut salmon tengah duduk dengan angkuh di depan meja kerjanya, seulas senyum licik terpahat di wajah sempurnanya. Mata Lucy membola besar mengetahui siapa pria berambut salmon itu.
Sebuah kesalahan besar.
Satu hal yang tak Lucy perhatikan sedikitpun maupun ia sadari. Tentang perusahaan yang akan menjadi tempat kerjanya, Lucy tak mengetahui nya sama sekali. Benar-benar suatu kesalahan fatal baginya. Perusahaan temannya Gray itu adalah Dragneel Group.
.
.
To be Continue…
Hai, hai ~~
Chappy kali ini udah runa panjangin sesuai permintaan readers semua^^, gomen kalau ada typo yang terselubung *plakk XD
Please RnR yaaa minna…..
