Title : Past, Now and Future

Author : V.D_Cho

Cast : Tao, Kris dan teman-teman ^^

Genre : Fantasy, Romance, Drama

Type : GS

Warning : It's a GS fanfict. As you see in other ff. DLDR. Don't be a plagiator, make your own story don't take my idea or any plot in this ff. This is all pure my own imagination. Please appreciate my hard work. Take with full credit. ^^

V.D Entertainment

.

.

Proudly Present

.

.

:::Past, Now and Future:::

.

.

.

Chapter 3: Time's Secret

.

.

.

Dimasa lalu, namanya adalah Goo Hee Su. Dia kekasihku yang sangat tampan, baik, sedikit dingin namun perhatian…

.

Sekarang, namanya adalah Wu Yifan. Dia tetap menjadi kekasihku, meski dunia kami berbeda…

.

Dimasa depan, namanya adalah Kris Wu. Wajahnya sangat mirip dengan kekasihku. Orangnya sangat dingin dan cuek juga tertutup. Meski begitu, dia peduli padaku. Dan dia bukan kekasihku. Belum…

.

.

.

Perkenalkan, namaku adalah Huang Zitao. Usia 22 tahun. Saat ini aku tinggal di Korea Selatan, tepatnya di Seoul bersama adikku Sehun. Kedua orang tuaku sudah hidup dengan tenang di surga sana sejak usiaku 10 tahun. Pekerjaanku?

Aku adalah seorang Time Traveller…

.

.

.

Seperti biasa, aku akan terbangun pukul 6 lewat 45 menit. Ketika aku terbangun, aku melihat tanganku yang ternyata masih di genggam oleh Kris dan tersenyum tipis. Ku edarkan pandanganku kesekelilingku, "Yifan?" panggilku. Tak ada sahutan darinya. Aku menghela nafas pelan, dia pasti sedang berjalan-jalan pagi saat ini. Aku menarik tanganku perlahan dari genggaman Kris dan ternyata itu membuat Kris bergerak tak nyaman meski dia tidak terbangun dari tidurnya.

'Apa yang harus kulakukan sekarang?' Pikirku. Yifan tidak ada dan aku tidak mungkin meninggalkannya disini begitu saja.

Setelah berpikir cukup lama, aku berdiri dan berjalan menuju dapur. Aku akan membuatkan sup untuk Kris. Aku yakin dia pasti akan terbangun dalam keadaan hangover parah karena minum terlalu banyak semalam. Sup yang kubuat selesai bersamaan dengan suara 'bedebam' keras dari arah ruang tamu. Aku segera berlari kesana dan mendapati Kris sedang meringis kesakitan dilantai. Ku tebak, dia pasti terjatuh dari sofa.

Kris menoleh kearahku dan matanya menatapku bingung sedangkan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku melihatnya. Rambutnya terlihat acak-acakkan dan pakaiannya sedikit berantakan bibirnya juga agak bengkak.

"Apa benar kau Kris Wu?" lagi-lagi terlontar pertanyaan yang sebelumnya pernah ku tanyakan padanya ketika aku mengembalikan dompetnya beberapa waktu yang lalu.

"Dan siapa kau?" tanya Kris balik. Aku meniup poniku pelan.

"Aku yang membawamu pulang semalam. Berterima kasihlah."

"Oh. Terima kasih, sekarang kau bisa pergi." Dan ternyata Kris juga memberikanku jawaban yang sama.

Aku melepas apron biru muda yang ku kenakan dan mencampakkannya begitu saja ke lantai dengan kesal. "Memangnya yang memintaku untuk jangan pergi semalam siapa?" sinisku.

"Siapa yang menyuruhmu untuk menuruti perkataan orang yang sedang mabuk?" balas Kris.

"Baik. Aku akan pergi, tapi setelah kau menjawab pertanyaanku."

"Kau paparazzi?"

"Bukan. Aku hanya orang biasa, bukan paparazzi. Memangnya kenapa? Kau artis?" tanyaku balik.

"Bukan juga, sih."

"Oh, kukira kau itu seorang artis. Lagi pula, tidak mungkin kau itu seorang artis, aku tidak pernah melihat wajahmu sama sekali meskipun aku menonton televisi selama 24 jam."

Kris menatapku malas, "Lupakan. Apa kau akan segara pergi begitu aku menjawab pertanyaanmu?"

"Ya, sepertinya."

"Baik, apa pertanyaanmu?"

"Passwordmu itu…" Aku berucap dengan nada menggantung dan sepertinya itu cukup untuk membuatnya mengerti. Hei, Heesu, Yifan dan Kris itu memang terkadang menyebalkan tapi mereka tidak bodoh.

"020592. Aku tidak tahu itu tanggal lahir siapa atau angka dari mana, yang jelas ketika aku ingin merubah passwordku, deretan angka itulah yang terpikir olehku. Kenapa?"

"Aku tidak bilang kau boleh bertanya balik padaku, kan?"

"Kau boleh bertanya padaku kenapa aku tidak boleh bertanya padamu?"

"Karena, kalau ku jawab pertanyaanmu tadi, ceritanya pasti akan panjang. Lalu, tentang kau yang bertemu denganku di mall kemarin siang?" tanyaku lagi.

"Aku tidak sengaja bertemu denganmu ketika sedang menemani ibuku berbelanja. Aku menghampirimu dan kau mengatakan bahwa kau tidak mengenaliku. Sekian." Jawabnya.

Aku memejamkan mataku, mencoba untuk berfikir lagi. Kira-kira, apa yang terjadi sampai-sampai aku tidak bisa mengenali Kris?

Ketika aku membuka mataku, aku melihat Yifan yang baru saja masuk ke rumah dengan cara menembus pintu. Aku lalu melirik kearah jam tanganku, ini masih jam 7 lewat 23 menit. Tumben sekali dia pulang cepat.

"Oke, karena kau sudah menjawab pertanyaanku, aku akan pergi sekarang. Oh ya, aku juga sudah membuatkanmu sup. Kepalamu sakitkan? Kalau begitu makanlah, semoga hangover-mu cepat berlalu. Aku pergi dulu." Pamitku.

Di lift, aku masih terus berfikir. Yifan menyarankan agar aku segera bertanya pada Sehun setibanya di rumah kakek nanti dan aku menurutinya. Kami tiba di rumah kakek sekitar setengah jam kemudian dan langsung di sambut dengan tampang panik Sehun dan Kai.

"Kemana saja kau? Aku hampir menyuruh Kai untuk menjemput bibi Fany ke New Jersey jika kau belum pulang-pulang juga." Omel Sehun.

"Memangnya ada apa?"

"Luhan!"

Satu kata yang keluar dari Sehun langsung membuatku sadar. Bagi seorang time traveler, tidak ada masalah jika ia melakukan perjalanan waktu mundur ke tahun berapapun, tapi untuk melakukan perjalanan waktu ke masa depan, semuanya butuh perhitungan. Karena, jika kau melangkah terlalu jauh, akan berakibat fatal. Karena kau bisa menua dengan cepat dan meninggal jika melakukan perjalanan terlampau jauh seperti yang dilakukan oleh Luhan. Well, kita kan tidak tahu kapan kita akan meninggal, so, untuk berjaga-jaga itu sebabnya aku hanya maju 3 tahun dari sekarang.

"Dimana dia?"

"Dikamarnya, bersama kakek." Jawab Kai.

Tanpa banyak basa-basi, kami semua langsung menuju ke kamar Luhan. Kulihat Luhan sedang menangis di atas ranjangnya dengan kakek yang berusaha untuk menenangkannya. Aku juga melihat beberapa helai rambut Luhan mulai memutih meski wajahnya masih terlihat seperti biasanya.

"Hei, Luhan…" Panggilku. Kakek menjauh dari Luhan dan membiarkanku duduk di sebelah gadis itu. Luhan menatapaku masih dengan air mata berlinang.

"Kau akan baik-baik saja. Aku berjanji. Kau akan kami antar kembali ke tempatmu." Ujarku padanya. Aku beralih pada Sehun, "Kau sudah mengetahui dari tahun berapa Luhan berasal?" tanyaku.

Sehun mengangguk, "Yah, meski sedikit sulit karena memori Luhan mengalami kekacauan akibat perpindahan waktu tiba-tiba yang dilakukannya, aku akhirnya berhasil. Luhan berasal dari tahun 1746." Jawab Sehun.

"Lokasi tepatnya?"

Kali ini Sehun menggeleng, "Aku tidak tahu."

"Lu, kau tahu dimana rumahmu, kan?" tanyaku.

Tangisan Luhan semakin kencang, "Aku tidak bisa mengingatnyaaaa! Maafkan aku… Huweee~"

"Kakek, bagaimana ini?"

"Kakek juga tidak tahu, Tao. Kakek belum pernah mendengar tentang kerajaan Xi sebelumnya."

"Yifan?"

"Aku juga tidak pernah membaca tentang kerajaan itu sebelumnya." Jawab Yifan.

Aku mengerang frustasi, "Sehun, berapa lama lagi waktunya?"

"Dia hanya memiliki waktu sampai tengah hari besok."

Aku mengangguk mengerti lalu pergi kekamarku dengan diikuti Yifan. Aku harus menemui seseorang. Setibanya dikamar, aku mengunci pintunya dan duduk di pinggir ranjang sembari menutup mataku untuk berkonsentrasi. Tak lama kemudian, sebuah suara menyapa pendengaranku.

"Ada apa, Tao sayang?"

Aku membuka mataku dan tersenyum, "Aku membutuhkan bantuanmu, papa."

:::Past, Now and Future:::

Luhan berasal dari Cina, dan Cina itu luas. Baik Sehun, kakek maupun Yifan tak ada yang pernah mendengar tentang kerajaan Xi. Itu membuat semuanya tambah sulit. Kembali ke tahun 1746 itu mudah, tapi mengantarkan Luhan ke rumahnya, itu yang sulit.

Begini, jika seorang time traveler melakukan perpindahan waktu secara tiba-tiba atau tak sengaja seperti Luhan tanpa ada perhitungan sebelumnya, dia akan mengalami kekacauan pada bagian memorinya. Beberapa memorinya bisa jadi ada yang terhapus sementara –bisa jadi juga permanen– atau tak berurutan letaknya. Dan Luhan mengalami hal itu. Itulah yang jadi penyebab kenapa Sehun agak sulit untuk melihat masa lalu Luhan. Kami bisa saja mencarinya secara manual dengan mencari informasi ke beberapa orang atau menjelajahi daerah di Cina dengan bantuan Kai, tapi itu membutuhkan waktu yang lama dan juga, aku tidak bisa membiarkan Kai tertangkap oleh para Shadow Army ditengah pencarian kami nantinya. Jadi, harapanku hanyalah satu. Aku harus bertemu dengan seseorang yang sudah melakukan time traveler lebih lama dan lebih ahli dariku, Papa ku.

Yah, Papa ku dan Mama ku memang sudah meninggal, tapi terkadang mereka masih sering menemuiku secara langsung dan lewat mimpi untuk Sehun. Papa ku dulunya bekerja sebagai seorang ahli sejarah dan Mama ku adalah seorang arkeolog. Dan, jika bakatku sebagai seorang time traveler diturunkan oleh ayahku, maka bakatku sebagai mediator diturunkan oleh ibuku padaku. Dulu, setelah papa dan mama meninggal, aku sering bertemu dengan mereka dalam mimpi ku dan ketika aku bisa melihat Yifan, saat itu jugalah aku mulai bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata seperti hantu dan mulai bisa berkomunikasi secara langsung dengan papa ataupun mamaku.

"Apa papa tahu tentang kerajaan Xi?" tanyaku.

"Kerajaan Xi? Kalau tidak salah letaknya di bagian selatan Negara Cina. Ada apa?"

"Ada seorang time traveler yang terdampar di zaman ini. Dia berasal dari sana dan kami akan mengantarnya kembali, tapi, kami tidak mengetahui letak pasti rumahnya."

"Jauh juga. Dia mengalami kekacauan pada memorinya, ya?"

Aku mengangguk.

"Baiklah, papa akan mengantarkan kalian kesana."

"Benarkah?"

"Tentu saja." Jawab papa. Pandangan ayahku lalu beralih pada Yifan yang duduk di dekat rak buku.

"Yifan, kau tidak ingin menyapaku?" tanya papa. Yifan buru-buru menutup buku yang sedang di bacanya dan membungku hormat pada papa.

"Maaf, kulihat kalian sedang serius, jadi aku berencana untuk menyapa anda nanti." Jawab Yifan. Kulihat papa menatap Yifan tajam.

"Apa yang kukatakan tentang berbicara formal padaku?"

"Ah! Iya, maaf lagi, paman." Jawab Yifan kikuk. Aku terkekeh melihatnya.

"Apa Sehun masih belum bisa melihatmu?"

"Belum, paman."

"Hahaha… Sudah papa duga. Sehun itu seperti bibimu, Tiffany. Bibimu itu tidak bisa melihat hantu seperti kita ini. Sehun sepertinya tidak berbakat menjadi mediator." Ujar papa.

"Yah, sepertinya." Timpalku.

"Jadi, kapan kita akan berangkat?"

"Secepatnya kalau bisa, pa. Kata Sehun, Luhan hanya memiliki waktu sampai tengah hari besok."

Papa mengangguk lalu menyuruhku untuk memanggil Luhan dan yang lainnya. Dan setelah semua berkumpul, kami langsung menuju ke tahun 1746, tahun dimana Luhan seharusnya berada. Kami tidak mengalami kendala yang berarti di sepanjang perjalanan karena ada Kai yang dapat membuat kami berpindah tempat dalam sekejap mata. Yah, meski dibutuhkan kewaspadaan extra ketika melakukan teleportasinya. Kami tidak tahu apakah di tahun ini sudah ada makhluk yang bernama Shadow Army atau tidak, tapi, berhati-hati ketika bertindak tidak ada salahnyakan?

Kami tiba kembali di rumah kakek setelah mengalami beberapa kejadian tak terduga dan perpisahan yang mengharukan dengan Luhan. Dan hal yang paling aku tandai adalah perubahan raut wajah Sehun. Dia terlihat seperti orang yang tidak bersemangat dan tampangnya juga lebih dingin dari biasanya. Setelah papa kembali ke tempatnya di atas sana, Yifan pun ikut menghilang. Kakek kembali ke kegiatan berkebunnya sedangkan aku, Sehun dan Kai berjalan berdampingan ke ruang tamu.

Aku merangkul bahu Sehun, "Kau kenapa? Sedih karena ditinggal Luhan? Mau kucarikan Luhan yang baru untukmu?"

"Kau kira dia barang?" ujar Sehun sarkatis.

"Kau tahu maksudku, Sehun. Luhan 2014."

"Tidak usah. Kalau dia memang takdirku aku akan bertemu dengannya suatu saat nanti tanpa perlu kau carikan dia untukku."

"Woah~ dapat darimana kau kata-kata tadi?"

Jujur, aku sedikit kaget melihat Sehun yang mendadak bisa bersikap melankolis dan puitis seperti ini. Aku mendorong Sehun kearah Kai.

"Kai, aku titip Sehun, ya? Kau kan sahabatnya, aku yakin kau bisa memperbaiki otaknya yang sedang agak konslet itu." ujarku sambil berjalan meninggalkan ke dua bocah yang sepertinya bingung dengan maksud perkataanku tadi.

Tapi, kemudian aku kembali lagi dan menarik Sehun, mengajaknya duduk di lantai beralaskan karpet lembut yang diimpor langsung dari Turki oleh kakek. Kai juga ikut duduk disamping Sehun.

"Kenapa?" tanya Sehun.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Tentang?"

"Apa yang terjadi padaku dalam rentang waktu 2014 sampai 2017?" tanyaku.

Sehun mengangkat sebelah alisnya bingung, "Aku tidak melihat apa-apa tentangmu. Memangnya kenapa?"

"Kris bilang, dia bertemu dengan diriku kemarin siang di mall. Padahal kemarin siang aku masih berada di rumah kakek. Itu berarti dia bertemu dengan diriku yang hidup di tahun 2017. Dan anehnya, diriku yang itu mengatakan bahwa dia tidak mengenali Kris. Kau tahu kalau itu tidak mungkin terjadi, kan?" ucapku panjang lebar.

"Memang. Tapi sungguh, aku tidak melihat apapun. Kalau ada sesuatu yang terjadi padamu dalam rentang waktu itu aku pasti mengetahuinya, tapi aku tidak melihat apapun."

"Memangnya itu penting ya?" ujar Kai.

"Tentu saja penting. Ini tentang keberlangsungan masa depanku nantinya." Jawabku.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak memeriksanya sendiri saja?"

Aku terdiam mendengar usulan Kai. Benar juga. kenapa tidak ku cek saja sendiri?

"Kau pintar Kai. Tapi aku lelah, mungkin besok aku baru akan melakukannya."

:::Past, Now and Future:::

Untuk kesekian kalinya aku mengerang frustasi pagi ini. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi padaku sekarang. Aku sama sekali tidak bisa masuk ke tahun 2015 dan 2016, aku juga tidak bisa masuk ke waktu-waktu sebelum aku bertemu dengan Kris di tahun 2017. Bahkan, aku juga tidak bisa pergi ke masa yang hanya berjarak satu bulan dari sekarang.

"Coba ke 2018." Ujar Yifan yang sedang duduk dengan santainya di ranjangku.

"Akan ku coba."

Semenit kemudian aku kembali berteriak kesal. Tidak terjadi apapun. Aku tidak bisa kemana-mana. Satu-satunya masa depan yang bisa kudatangi hanyalah tahun 2017.

BRAKK…

Lagi-lagi Sehun membuka pintu kamarku dengan kasar dan jangan lupakan tampang datarnya itu. kali ini dia tidak sendirian. Ada Kai disebelahnya.

"Apa?" tanyaku.

"Kapan pulang?"

"Nanti siang. Kenapa?"

"Tidak bisa sekarang?"

"Memangnya ada apa?" tanyaku lagi.

"Ada seseorang yang harus kami temui." Jawab Kai.

"Siapa?"

"Luhan." Jawab Sehun to the point dan sebelum aku bertanya lagi, Sehun sudah menjelaskannya secara singkat.

"Baekhyun noona menemukan seorang gadis yang sangat mirip dengan Luhan." Jelas Sehun.

"Darimana dia tahu kalau gadis itu Luhan? Dia bahkan belum pernah bertemu dengan Luhan." Timpalku.

"Dia pernah melihatnya, di SNS-ku sebelum foto Luhan bersamaku yang ku-update disana menghilang."

Aku mengangguk mengerti, sepupuku Baekhyun memang memiliki ingatan yang bagus, dia bisa mengingat apapun yang ia dengar dan dia lihat meski sekilas hingga ke detail terkecilnya sekalipun dalam jangka waktu yang panjang. Setelah itu aku diam di tempatku sambil merentangkan tanganku kearah seluruh barang-barang yang ku bawa dari rumah. Sehun dan Kai membalasku dengan tatapan 'Apa?'

"Aku ingin mengikuti kalian untuk pulang sekarang tapi kalian lihat sendiri kan, aku sama sekali belum membereskan barang-barangku."

"Lalu?"

"Bereskan barang-barangku untukku…" ucapku dengan nada yang dibuat seimut mungkin. Sehun dan Kai menghela nafas mereka sedangkan Yifan terkekeh melihat ekspresi mereka.

:::Past, Now and Future:::

Setibanya di rumah, Kai dan Sehun hanya membantuku membawa masuk barang-barangku ke kamar lalu mereka pergi lagi untuk menemui Baekhyun. Aku sebenarnya sudah melarang Kai keluar dari rumah untuk mengurangi intensitas kemungkinan diketahuinya keberadaan dirinya saat ini oleh para Shadow Army tapi Sehun terus-terusan merengek dengan cara yang menyebalkan akhirnya dengan berat aku mengizinkan mereka berdua pergi.

"Mau kemana?" tanya Yifan padaku.

"Ke kolam renang. Mau ikut?"

Yifan menggeleng, "Aku mau jalan-jalan ke luar saja. Jangan kemana-mana sampai aku kembali nanti. Awas saja kalau aku mendapatimu tidak ada dirumah saat aku pulang…"

Aku menghela nafas pelan dan menjawab oke. Setelah memberikanku sebuah kecupan singkat di pipi, Yifan menghilang. Aku berjalan menuju ke kolam renang outdoor yang terletak di belakang rumahku dan duduk di tepinya sambil memasukkan kedua kakiku sebatas lutut ke dalamnya. Ku pejamkan mataku dan ketika kubuka kembali mataku, papa sudah duduk di sebelahku.

"Kenapa aku tidak bisa bergerak maju sama sekali selain ke tahun 2017?" tanyaku.

Papa tersenyum, "Tao, dengar, meskipun kau adalah seorang time traveler, tetap ada tempat yang tidak dapat kau datangi. Itu semua adalah rahasia dari waktu dan akan terungkap jika waktunya telah tiba. Sampai waktu itu tiba nanti, yang harus kau lakukan hanyalah bersabar." Jelas papa.

"Baiklah, terimakasih, papa. Maaf Tao selalu mengganggu papa."

Papa mengelus rambutku lembut masih sambil tersenyum, lalu perlahan sosoknya mulai menghilang dari pandanganku. Tepat setelah papa menghilang sepenuhnya, diriku di dorong kuat oleh seseorang dari belakang hingga tercebur ke dalam kolam. Dengan cepat aku berenang menuju kepermukaan dan naik ke tepi kolam renang. Aku terbatuk beberapa kali karena air kolam yang sempat tertelan olehku.

"Hai, Panda~" sebuah suara berat yang berasal dari belakangku membuatku menoleh pada seorang pria yang kini tengah berdiri di tepi kolam renang yang bersebrangan denganku. Aku menatapnya tajam.

"Apa maumu?"

"Dimana kau sembunyikan bocah teleporter itu, heh, panda favoritku?"

"Enyahlah, Chanyeol. Kau tahu kalau aku tidak akan memberitahukan apapun padamu." Ujarku. Kulihat Chanyeol tersenyum tipis.

"Aku tahu. Tapi, kau juga tahu bukan, meskipun ini adalah operasi penangkapan para teleporters tapi tak menutup kemungkinan untuk tetap menangkap para mutan lainnya yang berhasil kami temui, Time Controller sepertimu contohnya…"

Dalam sekejap mata, Chanyeol sudah berada dihadapanku dan mencekik leherku. Aku melakukan perlawanan dengan menendangnya lalu berlari menghindar dari Chanyeol yang mengejarku. Tepat ketika aku membuka pintu, aku menabrak Baekhyun hingga kami berdua terjatuh. Chanyeol juga langsung berhenti ketika melihat Baekhyun.

"Pergilah." Kata Baekhyun pada Chanyeol ketika dia sudah berhasil berdiri dan juga membantuku untuk berdiri. Chanyeol menatap kami dengan tatapan tak suka.

"Kau beruntung kali ini, Panda."

"Kau tidak apa-apa, Tao?" tanya Baekhyun.

"Ya. Hanya sedikit basah dan sesak nafas. Mana dua bocah yang tadi mengunjungimu itu? dan kenapa kau bisa ada disini?" tanyaku balik.

"Mereka di kantor papaku, menguntit gadis bernama Xi Luhan itu. Aku disini untuk menemui sepupuku tentu saja, memangnya tidak boleh?"

"Bukan begitu. Ayo masuk…"

"Kenapa dia mengejarmu?"

"Dia mencari Kai."

"Mana Yifan?"

"Biasa, jalan-jalan. Kutinggal dulu, ya. Aku harus mengganti bajuku." Baekhyun menjawabku dengan anggukkannya.

Kami ngobrol cukup lama sampai-sampai tak terasa kalau hari sudah beranjak sore. Yifan sudah pulang dari tadi tapi tidak dengan Sehun dan Kai. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang mereka lakukan sampai selama ini?

"Kalau nanti Chanyeol datang lagi, segera hubungi aku. Atau, kau ingin aku menginap disini?"

"Memangnya kenapa? Apa hubunganmu dengan Chanyeol?" tanyaku.

"Chanyeol itu tunanganku…"

:::Past, Now and Future:::

.

.

.

Namaku Huang Zi Tao. Ternyata, terlalu banyak hal yang tak ku ketahui. Bahkan sepupuku Baekhyun bertunangan pun aku tidak tahu. Entah karena aku yang terlalu cuek atau karena aku yang terlalu sering ber-time travelling sampai-sampai tidak mengetahui hal itu, aku tidak tahu.

Dan tentang diriku yang tidak mengingat Kris dimasa depan, aku akan berusaha untuk bersabar menunggu semuanya terbongkar pada waktunya nanti. Seperti kata papa, waktu itu menyimpan banyak rahasia…

.

.

.

To Be Continued…

Author's Note: Akhirnya~ setelah sekian lama akhirnya Grey update juga FF ini. Maklum, Grey lagi sibuk jadi baru ada waktu sekarang buat update. Dan buat kalian para pembaca Love Is Abnormal, mungkin FF itu bakalan update sekitar 2 atau 3 hari lagi gegara filenya ilang , sabar ya…

Daaan satu lagi. Kenapa aku gak menceritakan tentang kisah mereka ketika mereka mengantarkan Luhan kembali, itu karena aku bakalan menceritakan kisahnya di side story FF ini yang sedang ku kerjakan. ^^

Jja, jangan lupa reviewnya…

See you at next chapter yau~

Review's Reply:

Choujiro21: Annyeonghaseyo~ Kyaaa~! Ternyata kamu tahu juga novel itu… iya, ini juga ada ngambil beberapa ide dari sana. ^^

Nasumichan Uharu: Iya. Tao dimasa depan entah kenapa jadi gak tahu apa-apa. ini lanjutanya ^^

Ochaken: Lucu ya. Jadi, kalau FF ini sengaja kebuka, kamu gak bakalan suka dong? semua pertanyaan kamu bakalan terjawab nanti. Kalau Grey jawab sekarang, gak asik lagi dong… ^^

SukiYJ57: Salam kenal juga, Suki^^. Eumm… kenapa ya? Mau tahu aja atau mau tahu banget? Hayoooo~ #plakk. Yap, gak mungkin banget Tao ngelupain Kris di masa depan. Itu terjadi karena sesuatu hal yang tak akan Grey kasih tahu disini, NYAHAHA XD

Riho Kagura: Panggil Grey aja. Mian ya, ini updatenya lama gegara otak Grey rada-rada konslet sedikit beberapa hari ini. Tapi, Grey janji, kedepannya Grey gak bakalan update lama-lama lagi ^^

Ayp: Udah ngerti? Kalau begitu silahkan review ^^

Huang Mir: Omo O.O NC? NC ya? APUWAH? NC? *Heboh bener* Ehehe… Bukannya Grey gak mau buatin, tapi meskipun mata dan otak Grey sudah terkontaminasi sama yang namanya NC #plakk, namun kesepuluh jemari Grey ini masih innocent semua. Grey belum siap buat nulis yang begituan, ntar ya, Grey latihan dulu… *apa coba? ambigu*

Onkey Shipper04: Ini next chapternya~ ^^

Simbarella: Cinderella di cium juga kan? Kalau gak berarti Grey salah lagi #plakk. Di atas udah dikasih tau, kalau papanya Tao masih bisa ngunjungin Tao ^^ kenapa ya? Itu ada penyebabnya kok. Tapi gak bakalan Grey jelasin disini, sabar ya ^^

Pradita Panda: Grey gak kepikiran bikin triangle love ._. hehehe… ^^

Lvenge: Grey juga ada rencana buat cerita tentang itu sebagai flashbacknya nanti, tunggu aja ^^

Xyln: Aduh, satu lagi yang minta NC nih… Grey belum pernah buat NC, makanya Grey bikin gitu aja. Ini next chapternya ^^

Coffe Latte: Kyungsoo ya? Ada kok. Nanti dia juga bakalan muncul di chapter depan. Ini lanjutannya ^^

Junghyema: Benarkah? Hati-hati jangan terlalu besar ngakaknya ntar di kira stress lagi… Hehehe :v

Dandeliona96: Oke, Grey bakalan jelasin. Gini, Heesu ditahun 1927 itu kan usianya 24, terus dia meninggal di tahun 1928 pada usia 25 tahun. Terus, setelah itu muncullah hantunya, yaitu Yifan. Kris terlahir kembali pada tahun 1991 yang mana itu berarti 63 tahun setelah Heesu meninggal. Kris itu reinkarnasi dari Heesu. Dan, reinkarnasi itu gak harus nunggu hantunya Yifan menghilang dulu baru Kris ada. Ih, ribet ya? Grey agak susah sih ngejelasinnya gimana. Intinya, Heesu meninggal dimasa lalu dan 63 tahun kemudian Kris lahir dan hidup dimasa depan, sedangkan Yifan si hantu tamvanlah yang bertugas mengisi hari-hari Tao di masa kini selagi Tao belum bertemu dengan Kris. ^^

Time To Argha: Konfliknya bakalan muncul perlahan-lahan, tungguin aja ^^

ShinJiwoo920202: Yap, ini next chapternya. Terimakasih sudah mau menunggu ^^

Cindy Han: Untuk sekarang, mungkin bakalan banyak moment Yifan-Tao dibandingin Kris-Tao, tapi nanti Grey bakalan buat banyak moment mereka juga kok ^^

KrisTaoTao: Gomawo reviewnya ^^ Ne, ini udah di lanjut, meski gak ASAP. ^^

Yunie Onnie: Sabar ne, ntar member EXO yang lain juga bakalan muncul. ^^

Misha Haruno: Kalau masalah kenapa Tao gak bisa inget Kris dimasa depan, itu rahasia dan biarkan dia terungkap ketika waktunya tiba. Ini lanjutannya ^^

GaemGyu92: Jadi Time Traveler itu emang enak. Grey juga kepingin jadi Time Traveler. Iya dong, Tao kan orangnya setia~ ^^

TKSit: HunHan pasti jadian, tenang aja. Dan untuk Kai, Kyungsoo bakalan muncul di chapter depan ^^

Jeongmal gomawo buat yang udah nge-review, nge-favorite, dan nge-follow FF ini dan buat SiDers yang udah nyempatin diri buat ngebaca FF ini. ^^

Ittabwayo, chinggudeul ^^