Sakura dapat merasakan jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari biasanya. Napasnya tercekat di tenggorokan, menghentikan segala aktifitas seluruh organ tubuhnya. Wajahnya memucat, bahkan lebih pucat dari lengan yang menyentuhnya.

Lengan itu, ia tahu itu bukan lengan Sasuke atau siapa pun yang dikenalnya. Sebelum ia sempat berbalik dan menemukan pemilik lengan tak berlemak, Sakura merasakan sakit di dadanya. Mungkin karena jantungnya yang malang menerima serangan besar sehingga ia tidak dapat bertahan lagi.

Sakura jatuh tersungkur di depan bangku yang menjadi awal dari mimpi buruknya.

.

.

Kuchisake-Onna

Chapter 3

.

.

Sakura membuka matanya dan menemukan dirinya terbaring di atas bangku yang ia amati beberapa waktu lalu. Ia melirik jam tangan merah mudanya, masih menunjukkan waktu pukul sebelas pagi. Berarti ia sudah berbaring di sana kurang lebih... Tidak. Tidak penting mengetahui sudah berapa lama ia terbaring di sana. Yang lebih penting adalah mengapa ia bisa terbaring di sana.

Sakura tergelonjak dan berdiri secara spontan saat ia menyadari apa yang telah dialaminya. Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara menginterogasi ruang bawah sadarnya.

"Anda sudah sadar?"

Pertanyaan yang muncul dari balik punggung Sakura tentu saja sangat merenggut perhatiannya. Sakura tergelonjak sedetik dan ia mulai merasakan detak jantungnya bertambah cepat lagi. Oh, ini buruk! Kali ini ia tidak boleh kehilangan kesadarannya lagi, tidak sebelum ia menemukan siapa pemilik suara yang baru saja menanyainya.

Sakura mengelus-elus dadanya, berupaya untuk menenangkan dirinya sebelum ia membalikkan tubuhnya untuk menemukan sosok yang bertanya ke padanya, atau mungkin sosok itu juga pemilik lengan yang tadi telah menyentuhnya.

Setelah Sakura memutar tubuhnya 180 derajat, ia menemukan sosok pemuda berkulit pucat, sepucat salju. Ia memiliki rambut hitam pekat, sewarna dengan kemeja berlengan pendek yang ia kenakan. Pemuda itu menyunggingkan senyuman kepada Sakura, sebuah senyum yang sangat aneh bagi Sakura. Ia akan mulai berbicara sebelum akhirnya sosok pemuda itu bersuara terlebih dahulu.

"Maaf, saya membuat Anda terkejut lagi, Nona," ujar pemuda itu dengan bahasa yang sangat formal.

Sakura menatap pemuda itu dengan tatapan sedikit menginterogi. Lagi-lagi, sebelum ia melayangkan sebuah pertanyaan, pemuda itu kembali berbicara.

"Saya adalah Sai, pengurus kebun ini. Tadi saya melihat Anda berdiri di sini sendirian, karena itulah saya menghampiri Anda. Tapi saya malah membuat Anda terkejut sampai-sampai Anda tidak sadarkan diri," pemuda itu menjelaskan seolah-olah ia mengetahui isi pikiran Sakura yang akan menanyakan tentang dirinya dan apa yang ia lakukan.

Untuk beberapa saat, Sakura hanya terdiam di tempat. Pemuda yang bernama Sai itu memberikan isyarat ke padanya agar ia segera duduk di bangku. Sakura menerima tawaran itu, tetapi tatapan interogasinya masih ia lemparkan ke pada Sai yang kini tengah duduk di sampingnya.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Sai, tenang seolah-olah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sakura sedikit menggeram mendengar pertanyaan pemuda itu. Tidakkah seharusnya pemuda itu merasa sedikit bersalah karena telah membuatnya terkejut setengah mati? Bagaimana kalau seandainya kejadian tadi itu benar-benar membuatnya mati karena penyakit jantungnya kambuh?

"Sedikit," dengusnya sembari menghembuskan napas kesal. Sakura memang merasa jauh lebih baik setelah ia mendudukkan dirinya di atas bangku panjang itu.

Sai tersenyum dengan senyum seperti saat pertama kali Sakura melihatnya. Merasa gadis itu menatapnya dengan dahi dikerutkan, Sai tidak dapat menahan diri untuk bertanya, "Kenapa menatap saya seperti itu?"

Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau tersenyum seperti itu. Sakura menggerutu di dalam hati.

Menyadari tidak memperbaiki mood gadis itu, Sai mengangkat tangannya bertanda ia menyerah. "Baiklah, baiklah, saya tidak akan bertanya lagi. Maaf,"

Sakura memutar mata emerald-nya dari pemuda di sampingnya itu, kemudian ia menatap lurus ke depan, ke arah tempat tinggalnya. Tiba-tiba saja ia merasa perlu bertanya. Ia harus mengetahui siapa pemuda bernama Sai itu. "Ngomong-ngomong, kau ini siapa?

Pemuda berkulit pucat itu mengalihkan pandangannya setelah ia mendengarkan pertanyaan yang terlontar dari bibir gadis itu. Ini kali pertama ia mendengar gadis itu bersuara sejak pertemuan mereka. "Nama saya Sai—"

"Selain nama?" potong Sakura.

Sai mengangkat telunjuknya dan menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. "Saya belum selesai berbicara, Nona."

Sakura berdecak, "Baiklah, lanjutkan! Katakan kenapa kau berada di sini!"

Lagi-lagi pemuda itu tersenyum, membuat kekesalan Sakura merambat hingga ke atas tanah yang ditelapakinya. Berselang beberapa detik kemudian, pemuda itu melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

"Tadi saya melihat Anda berdiri sendirian di sini, karena itu saya bermaksud menanyai Anda. Tapi saya malah membuat Anda terkejut seperti itu, maaf."

Entah ada angin apa yang membuat Sakura tiba-tiba tersenyum, menghilangkan kekesalan yang sedari tadi muncul di balik raut wajahnya. Ia melirik wajah polos pemuda di sampingnya itu dengan senyuman yang masih mengukir di wajahnya.

"Lalu, apa yang membuatmu datang ke kebun ini?" tanya Sakura tiba-tiba setelah keheningan mengisi ruang waktunya dengan pemuda itu beberapa detik lalu.

"Saya bekerja di sini," jawab Sai enteng.

Sakura menoleh dan menatap mata onyx pemuda di sampingnya itu lekat-lekat. Pemuda itu bekerja di sini? Sakura berani bersumpah bahwa pemuda itu masih sebaya dengan dirinya. Bagaimana bisa seorang pemuda semuda itu bekerja sendirian di kebun seluas itu? Lagi-lagi ia menatap pemuda itu, tetapi ia sama sekali tidak menemukan adanya kebohongan yang tersirat di balik bola matanya.

"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk kembali berrtanya.

"Sejak rumah ini dibangun," sekali lagi pemuda itu menjawab dengan singkat.

"Oh," gumam Sakura sambil menganggung-anggukkan kepalanya. Berarti pemuda itu sudah bekerja bertahun-tahun di sini.

Keheningan kembali mengisi kekosongan di antara Sai dan Sakura, sebelum akhirnya Sai memutuskan untuk membuka percakapan kembali. "Jadi, kenapa tadi Anda berdiri sendirian di sini?"

Sakura melirik Sai sejenak sebelum pandangannya ia layangkan ke arah yang tidak jelas. Ia kembali teringat tujuannya datang ke taman belakang itu. Suatu keberuntungan ia bertemu dengan Sai. Dengan begitu, ia bisa bertanya ke pada orang yang mungkin mengetahui lebih banyak tentang rumah ini. Karena itulah ia memutuskan untuk balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Sai ke padanya.

"Apa kau tahu sesuatu tentang rumah ini? " tanya Sakura lugas.

Sai mengangguk dan lagi-lagi ia menjawab dengan simple, "Tentu saja." Sakura tampak mengembangkan senyum lega di wajahnya, sebelum Sai kembali berbicara. "Tapi sebelum itu, Saya ingin tahu siapa nama Anda."

"Aku Sakura, Sakura Haruno," jawab gadis itu tanpa berpikir panjangnya. "Tolong ceritakan semua yang kau ketahui tentang rumah ini!"

"Baiklah Nona Sakura, Saya tidak tahu kenapa Anda ingin mengetahui tentang rumah ini, tapi saya akan menceritakan semua yang saya ketahui tentang rumah ini." Sai menarik napas dalam kemudian menghembuskannya sebelum ia mulai bercerita. "Rumah ini di bangun empat tahun yang lalu dan baru selesai tiga tahun yang lalu."

Sakura memperhatikan setiap gerak-gerik bibir pemuda itu yang bercerita ke padanya.

"Lalu, sebulan kemudian, rumah ini mulai ditempati oleh pemiliknya. Namun, pemiliknya itu meninggalkan rumah ini beberapa bulan setelah itu. Baru setelah itu rumah ini disewakan ke pada orang lain. Orang yang pertama kali menempati rumah ini setelah ditinggalkan oleh pemiliknya adalah seorang pemuda warga desa ini. Tapi..."

Sai tercekat di tengah ceritanya, membuat rasa penasaran Sakura semakin meluap-luap. "Tetapi apa?" tanyanya sambil berusahanya menyembunyikan nada mendesak dalam suaranya.

"Tapi, pemuda itu meninggal bunuh diri. Mayatnya ditemukan tergantung di kamar mandi."

Sontak saja wajah Sakura langsung memucat setelah mendengar perkataan Sai.

"Lalu, sebulan setelah itu, sebuah keluarga menggantikan mahasiswa itu untuk menempati rumah ini. Baru beberapa hari setelah itu, salah satu dari keluarga mereka menghilang dan ternyata telah mati tenggelam di dalam bak mandi kamarnya sendiri. Setelah itu, keluarga itu pun meninggalkan rumah ini dan kembali ke kota mereka. Dan yang terakhir menempati rumah ini adalah seorang gadis yang berasal dari luar negeri yang sedang melakukan penelitian di desa ini. Namun, lagi-lagi sebuah kejadian tragis terjadi. Gadis itu ditemukan tergeletak di dapur rumah itu dengan kondisi kepala nyaris berpisah dari badannya. Setelah kejadian itu, orang-orang menganggap rumah ini sebagai rumah kutukan karena kejadian tiga kematian tragis beruntun itu dan tidak ada yang berani mendekatinya. Baru sekitar kira-kira tiga bulan yang lalu rumah ini kembali di bersihkan dan disewakan kembali dan kalianlah orang pertama yang menempati rumah ini setelah tiga tahun berlalu."

Sai berhenti berbicara dan melihat wajah Sakura yang sudah benar-benar memucat. Ia tampak berkeringat dingin dan mengelus-elus dadanya. Sai baru menyadari bahwa gadis itu sedang kesakitan setelah ia mendengar erangan yang keluar dari bibir gadis itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sai khawatir.

Sakura mengangkat sebelah tangannya yang memberikan sinyal bahwa ia tidak apa-apa. Ia lalu menarik napas sekuat-kuatnya dan bersender di punggung kursi.

"Aku tidak apa-apa," kata Sakura setelah ia menemukan kembali suaranya. "Ini sudah sering terjadi kalau jantungku sudah berdegup terlalu kencang."

"Oh," Sai baru menyadari bahwa gadis itu mengalami kelainan jantung. Itulah alasan kenapa gadis itu tak sadarkan diri saat Sai tanpa sengaja mengejutkannya tadi. Wajah Sai mulai terlihat cemas dan merasa bersalah. "Maaf, seharusnya saya tidak menceritakan hal-hal itu."

Sakura menoleh ke arah pemuda itu. Ia dapat melihat raut cemas mengalir di wajah Sai. Kini, ia menyadari bahwa pemuda itu benar-benar seorang pemuda yang baik, tidak seperti apa yang ia pikirkan tadi saat pertama kali ia bertemu. "Tidak apa-apa, malahan aku merasa sedikit tenang karena sudah mengetahui tentang rumah ini."

Sai tersenyum. Rasa khawatirnya kini mulai berkurang. "Ngomong-ngomong, kenapa Anda ingin tahu tentang rumah ini?"

Sebelum Sakura sempat menjawab pertanyaan Sai, ponselnya tiba-tiba saja berdering dan ia segera mengeluarkan benda itu dari saku roknya.

.

.

Sakura benar-benar harus menyudahi pembicaraannya dengan Sai setelah kakaknya menelepon dan memintanya segera kembali ke rumah. Tapi sebelum itu, ia sudah membuat janji untuk berbicara lagi dengan Sai suatu waktu. Tapi kali ini, Sakura harus benar-benar berada di rumah sebelum ia mendapatkan sebuah jitakan dari kakaknya.

Tepat setelah Sakura membuka pintu belakang rumah, ia dikejutkan oleh sosok kakaknya yang telah berdiri tepat di depan di depannya. "Kau mengejutkanku, Onii-chan."

Sasori mengangkat sebelah tangannya yang dapat diartikan sebagai permintaan maaf. Matanya lalu beralih dari Sakura ke pemandangan di belakang Sakura. "Mana temanmu?"

"Temanku?" Sakura mengernyitkan dahi sebelum akhirnya ia mengerti maksud kakaknya. "Oh, dia ada di..."

Sakura melirik ke belakangnya dan menatap bangku yang berjarak kira-kira lima puluh meter dari tempatnya berdiri. Ia sedikit kecewa karena tidak menemukan sosok Sai di sana. Tampaknya pemuda itu telah pergi. Padahal ia ingin memperkenalkan pemuda yang baru ditemuinya itu kepada kakaknya agar kakaknya percaya ke padanya. Toh, saat di telepon tadi, Sasori terdengar panik karena khawatir Sakura sedang bersama dengan orang yang tidak baik. Karena itulah Sakura ingin memperkenalkan Sai ke pada kakaknya.

"Mana?" tanya Sasori lagi saat melihat Sakura terdiam.

"Sepertinya dia sudah pergi," sambung Sakura. "Tapi bisa kupastikan kalau dia itu adalah orang yang baik, jadi kau tidak perlu khawatir."

Sasori memutar matanya, lalu berbalik pergi. Namun, baru beberapa meter ia melangkah, ia berbalik kembali. "Sakura, apa kau melihat Sasuke?"

Sakura tertegun mendengar pertanyaan kakaknya. Beberapa jam yang lalu Sasuke tengah bersamanya dan beberapa saat kemudian pemuda itu berlari ke dalam rumah. Hingga saat ini, pemuda itu belum menampakkan batang hidungnya setelah ia meminta Sakura menunggunya di luar. Apa yang terjadi?

Sakura dengan cepat menggeleng sebelum kakaknya bertanya kembali. "Tadi dia bersamaku, tapi tidak lama kemudian ia kembali lagi ke rumah."

Sasori mengangkat bahu. "Baiklah. Oh, aku membeli bento untuk makan siang. Sebaiknya kita makan dulu karena sudah tengah hari. Nanti sore aku akan mengajakmu keluar untuk berkeliling desa ini."

Sakura mengangguk sambil tersenyum. Namun, di balik semua itu, Sasuke masih menghantui pikirannya.

.

.

Sakura telah menyelesaikan makan siangnya dan kini ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamarnya saat ia mendapati darah yang mengalir didindingnya. Noda darah itu menggenang tepat dari lukisan di kamarnya. Sambil bergetar, Sakura berjalan ke arah lukisan itu.

Sakura tercekat dan tidak dapat menemukan suaranya kembali saat ia menyadari bahwa darah yang mengucur itu berasal dari mulut gadis di dalam lukisan. Tampak gadis di dalam lukisan itu kini dalam kondisi yang mengerikan, dengan mulut terkoyak sampai ke telinganya.

Pemandangan itu membuat tubuh Sakura tiba-tiba saja melemah. Ia jatuh terduduk dengan seluruh tubuh yang bergetar. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa sedikit tenang, tetapi kini ia harus terguncang lagi. Sakura merutuki nasibnya dalam sebuah tangisan tanpa suara. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan yang bergetar.

Namun, beberapa saat kemudian, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi. Gadis yang berada di dalam lukisan itu tampak bergerak-gerak dan kini sosok itu mengulurkan kedua lengannya ke depan, seolah-olah ingin menjangkau Sakura yang kini terduduk kira-kira satu meter dari lukisan itu. Sakura hanya bisa menggeleng dan memejamkan matanya. Air matanya kini tidak hanya membasahi wajahnya, tetapi juga membasahi lantai tempatnya berada saat ini. Lengan gadis di dalam lukisan itu semakin memanjang dan kini hampir meraih Sakura. Tepat di saat itulah Sakura menemukan suaranya kembali dan ia pun berteriak sekuat yang ia bisa.

.

.

TBC

.

.

Akhirnya update juga, meskipun tidak sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan (dan banyak typo) . Seminggu yang lalu, saya mengalami kecelakaan yang membuat saya batal-batal-batal update.

Oh, saya baru menyadari bahwa fic ini lolos nominasi teknis tahap 2 IFA 2013. Haha... Entah siapa yang menominasikan, tetapi saya mengucapkan jutaan terima kasih. Berarti ada yang suka dengan karya yang menurut saya kurang memuaskan ini. :')

Hn... terus di reviews ada yang nanya kapan saya meng-update fic yang lain. Sebenarnya saya ingin meng-update fic yang lain juga secepatnya. Namun, karena kesibukan yang tidak kunjung mereda, maka harus ditunda dulu. Tapi Insya Allah gak bakal discontinue kok.

Saya balas reviews dulu ya.

FT Lovers: Nggak. Saya lagi membuat lanjutannya. Semoga sudah bisa update beberapa hari ke depan.

hanazono yuri, Always Sasusaku19, Tohko Ohmiya, sherlock holmes, cruderabelica, Guest : Terima kasih atas reviews-nya. Semoga gak jenuh membacanya ya.

HanRiver : Iya, ini fic lama yang di-publish ulang dengan penggubahan 90%. Hhe...

Dan juga terima kasih buat silent readers sekalian.

Akhir kata, terus majukan fiksi fan Indonesia.