Regret?


Aku pernah mendengar sebuah kata bijak "kau baru sadar telah memiliki sesuatu saat sesuatu itu telah pergi darimu". Bukankah ini salah satu bentuk penyesalan? Apakah aku menyesali kepergianmu? Yah, bisa jadi aku menyesalinya atau bisa jadi aku tidak, karna semua yang terjadi padaku sekarang adalah kesalahan yang aku perbuat di masa lalu, ini adalah hukuman bagiku dan aku pantas untuk menerimanya. Jika boleh berangan-angan, aku ingin menyambut tanganmu, membalas perasaanmu, menggenggam hatimu dan mencintaimu dengan segenap hatiku. Tapi sayangnya aku tak pernah melakukannya di masa lalu. Maafkan aku.

Hey, kau tampak bahagia akhir-akhir ini. Tapi kenapa hati ini terasa pedih. Bukankah aku yang tak ingin menerimamu dahulu. Saat ini aku hanya bisa mengenang masa masa dimana kau selalu datang padaku, dengan senyuman diwajahmu, menghiburku saat aku sedang sedih, tertawa bersamaku saat senang. Apa aku merindukanmu? Padahal aku selalu bertemu denganmu setiap harinya, kenapa aku masih merindu?

Hey, setiap malam aku kembali teringat akan kisah itu. Dimana kau katakan cinta padaku untuk pertama kalinya, mukamu sangat merah seperti seseorang yang sedang demam, ucapanmu patah patah, aku hampir saja tak mengerti dengan kata cintamu karna susah sekali melontarkan 3 kata ajaib itu dari mulutmu. Walau dengan segala kesulitan untuk mengutarakannya, tapi kau sanggup melaluinya. Keberanianmu benar benar membuatku takjub. Tapi apa yang aku perbuat saat itu? Aku mengacuhkan perasaanmu dengan mengatakan bahwa aku tak mencintaimu sebagaimana kau mencintaiku.

Hari hari berlalu setelah itu, kau tetap bersamaku, dan sifatmu sama sekali tak berubah, kau selalu menjadi yang paling terdepan dalam mengerti segala keinginan dan kebutuhanku, kau selalu menjadi orang pertama yang membantuku di setiap kesulitanku, dan kau adalah orang yang paling bahagia jika mendapatkan kabar baik dari ku. Hey, kenapa perasaanmu tak berubah walau sudah kukatakan padamu aku tak mencintaimu?

Aku akhirnya mempertanyakannya padamu. Kenapa kau tak menjaga jarak dariku? Apa kau tak tersakiti olehku yang sudah mengabaikan perasaanmu? Tapi kau hanya tersenyum dan berkata "cinta tak harus memiliki, cinta adalah saat kau bahagia melihat orang yang kau cintai bahagia". Kau tau, betapa tersentuhnya aku dengan kalimat kalimat manismu itu. Tapi aku masih tak bisa menerimamu. Aku malah memberikan luka lain padamu saat ku katakan bahwa aku mencintai orang lain.

Sama sekali kau tak menyerah mendekatiku, padahal aku tau kau selalu tersakiti saat aku mulai membuat pergerakan pada orang yang aku cintai. Kau bahkan memberikan jalan padaku agar aku tetap bisa dekat dan terus bersama orang yang kucintai. Hey, kenapa kau bisa berbuat sejauh ini? Aku bisa lihat raut muka sedihmu setiap kali kau menolak pergi bertiga dengan berbagai alasan yang kadang tak masuk akal, tapi orang yang aku cintai terlalu bodoh untuk menganalisa setiap alasanmu.

Aku bahagia kala itu karna kau selalu menyediakan ruang bagiku untuk terus berjuang dengan cintaku. Aku mulai mengabaikan lukamu karna sudah terlarut dalam bahagiaku. Hey, tidakkah kau membenci keegoisanku ini?

Tahun ajaran baru menjelang. Tak ada yang berubah dari sikapmu, selalu saja kau memberikan yang terbaik padaku walau hatimu teriris pedih melihatku yang selangkah lagi dalam mengejar cintaku. Langkah terakhirku hanyalah menyatakan cinta, aku harusnya sudah melakukannya sejak dulu, tapi aku tak seberani dirimu. Aku terus bertanya padamu dan meminta pendapatmu tentang saat yang tepat untuk menyatakan cintaku, kau tersenyum pahit dan memberikan pendapat terbaikmu. Hey, sampai kapan kau akan tetap mencintaiku?

Aku hendak melakukannya hari itu. Tapi pengumuman penutupan sekolah mengubah segalanya. Aku rasa bukan saat yang tepat menyampaikan cintaku, lagian orang yang kucinta terlalu tertekan mendengar kabar ini. Dia mulai mencari cara agar sekolah tidak akan ditutup. Aku lihat tekadnya sangatlah besar hingga aku bersedia melakukan apapun untuk membantunya, termasuk membujukmu untuk setuju dengan semua ide gilanya. Hey, saat itu aku tau bahwa kelemahan terbesarmu adalah aku.

Waktu berlalu, kau makin disibukkan karna sekarang kau menambah tanggungjawabmu untuk klub baru yang didirikan oleh orang yang kucintai. Tak hanya kau harus merangkai kata untuk kami, kau juga mengambil tanggungjawab untuk melatih kami. Tidakkah kau lelah? Kau bahkan memiliki segudang kegiatan lain selain dari yang kau lakukan untuk kami sekarang. Hey, tidakkah kesibukanmu sekarang membuatmu sudah melupakan perasaanmu terhadapku? Entah kenapa disatu sisi aku sedikit kesepian saat perhatianmu mulai bekurang padaku.

Tapi kau menagkis anggapanku saat sore itu, kau katakan padaku bahwa perasaanmu padaku sama sekali belum berubah. Senangkah aku mendengarnya? Tapi kenapa aku tak mengatakannya? Mengatakan bahwa aku mulai kesepian, mengatakan bahwa aku sangat senang menerima perhatianmu. Kau lalu bertanya "Apakah memang tak ada ruang bagiku di hatimu?". Hey, mungkin aku memang jahat. Karna kukatakan padamu kau memang tidak memiliki kesempatan karna aku masih mencintainya. Kau tersenyum getir, matamu berkaca kaca, aku tau. Aku harusnya memelukmu dan meminta maaf, tapi aku hanya biarkan kau berlalu tanpa sedikitpun niatan untuk mengejarmu.

Sampai saat itu pun aku masih berpikir bahwa kau akan kembali padaku. Kenyataannya memang kau kembali padaku, kau masihlah tetap sebaik dan seramah dulu. Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda yang aku sendiri tak tau kenapa. Hati ini kadang sakit hanya karna melihat senyum pahitmu padaku. Apa aku mulai merasa bersalah?

Hey, kau akhirnya jadi sering menghabiskan waktu diruang musik bersama seorang komposer muda yang mahir dalam melantunkan nada nada indah. Aku sering melihatmu begitu akrab dengan komposer muda itu dan lihatlah wajahnya, merona pink dan terlihat malu malu saat kalian sedang bersenda gurau hanya berdua saja. Aku bisa lihat dari raut wajahnya bahwa dia sangat menghargai waktunya saat bersamamu. Semakin hari aku tau bahwa juniormu ternyata telah memendam cinta untukmu. Sayangnya kau terlalu bodoh untuk menyadarinya, kau sama saja bodohnya dengan orang yang kucintai.

"Kotori, Maki menyatakan cintanya padaku. Ini sudah yang ke tiga kalinya. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku mencintaimu, tapi dia tak mau menyerah dan terus berjuang untuk cintaku"

"Bagus untukmu, Umi-chan. Kau tak boleh terus terusan menggantungnya. Jangan menjadi seorang penjahat sepertiku. Kau akan lebih baik jika bersamanya, kau lebih layak mendapatkan Maki disisimu"

"Apa aku benar benar tak bisa bersamamu?"

"..." aku menggelengkan kepalaku diiringi perasaan tercabik cabik dihatiku. Hey, perasaan sakit apa ini? Aku tak pernah merasakan sesakit ini sebelumnya.

Dan kau pun menerimanya, semua anggota club tau tentang kabar membahagiakan itu. Dan penderitaanku makin bertambah karna setelah kau mengumumkan hari jadimu dengannya, orang yang kucintai juga mengumumkan hal yang sama, sayangnya orang yang memiliki hatinya bukanlah aku, melainkan siswa kelas 3 SMA UTX, yang juga merupakan leader dari school idol A-Rise. Kau tau aku sangat tersakiti dengan pengumuman mendadak dari orang yang ku cintai, tapi taukah kau bahwa sakit yang kuterima dari nya tak pernah bisa sebanding dari rasa sakit yang ku terima darimu. Aku sendiripun heran kenapa hal ini bisa terjadi. Harusnya tak seperti ini.

Walau kau sudah dimiliki orang lain, kau masih saja berbaik hati menghiburku di hari hari sedihku. Aku bukannya tak peka, aku tau bahwa kekasihmu menatap cemburu padaku. Hingga akhirnya aku menyuruhmu untuk tidak lagi peduli padaku karna semua perhatianmu padaku hanya akan membuat diriku tambah sakit. Dengan bentakan itu, kau akhirnya benar benar pergi dariku. Kau memulai lembaran baru dengannya, kau benar benar tampak memberi kesempatan untuknya agar mencurahkan semua cintanya untukmu. Dan kau pun mulai bisa mengekspresikan syukurmu karna memilikinya dalam hidupmu. Kau tampak bahagia sekarang, jauh lebih bahagia saat aku masih menggenggam hatimu.

Hey, apakah aku menyesalinya sekarang? Kenapa perasaan ini baru muncul setelah kau menyerah mendapatkan hatiku. Kenapa aku mencintaimu saat kau telah bahagia dengannya? Sepanjang malam aku terus bermimpi dimana aku menyambut kata cinta milikmu dengan kata cinta milikku. Tapi semua itu hanyalah mimpi yang takkan pernah menjadi nyata.

Maafkan aku. Maafkan aku, Umi.

xxx


Inspirated by : Rossa – Aku Bukan Untukmu