Yeeyy Rika-chan mau up-date lagi. Meski ffn ini ngawurnya parah, tapi nggak papa kan ya dilanjut/plakk

Ah, entah gimana caranya biar kemalasan Rika ini hilang -,- kok susah banget gitu lho, padahalkan Cuma tinggal ngetik.

Udah ah, selamat membaca...

.

.

Warn:

Angel Shun, Rui, Iku

Demon Hajime, Haru, Kakeru

Human Kai, Yoru, You, Aoi, Arata, Koi

Untuk chara lainnya bakal nyusul sesuai jalan cerita~

[dalam hati]

"percakapan langsung"

.

.

Mutsuki Hajime masih menatap bola kristal di depannya. Mencari dengan teliti di mana choker milik Shimotsuki Shun berada. Serta mencoba mengabaikan Yayoi Haru yang terus mengejeknya. Berkata bahwa Hajime seperti anak ayam kehilangan induknya. Padahal ia sadar betul hajime tidak kehilangan induk, ia hanya kehilangan cintanya-ups.

Bosan, Haru mengayunkan langkah mendekati Hajime. Kemudian menumpukan dagunya pada bahu si malaikat jatuh. Sedang yang jadi tumpuan sama sekali tidak peduli. Bahkan saat Haru sengaja bernapas di telinganya.

"Oh, lihat itu. Ada kapal yang menuju ke pulau tempat cintamu dibekukan." Haru bersuara dengan nada terkejut yang dibuat-buat. Yang langsung mendapat cengkraman dari Mutsuki Hajime. Lantaran si tangan kanan berbicara dengan nada tinggi tepat di telinganya.

"ITAI ITAI ITAI-" Haru terus mengucap kata itu seperti mantra.

Hajime tak mempedulikan rengekan Haru. Dan dengan serius mengawasi kapal yang menuju pulau tak bernama. Ia bisa melihat kapal itu hanya berisi beberapa orang saja. Dan saat berlabuh di pantai, enam orang diturunkan, bersamaan dengan banyak barang. Lalu kapal itu berputar arah, kembali menjauh dari pulau. Meninggalkan enam orang saja.

"Kita awasi enam manusia ini. Aku punya insting bagus soal mereka." Hajime berucap seraya melepas cengkramannya.

"Oh? Kalau begitu kita ajak Shiwasu Kakeru sekalian?" Haru merespon ucapan Hajime.

"Kakeru?"

"Kau tidak lupa kan? Kalau manusia itu punya nafsu sebanding dengan iblis. Mana bisa mereka menolak succubus setingkat Kakeru?"

"Ah begitu rupanya. Memanfaatkan nafsu seksual manusia itu ya? Ini akan sangat mudah untuk mengontrol mereka nantinya." Hajime mengulas seringaian licik dengan mata berkilat. Yaoi Haru bahkan berani bertaruh kalau ia kalah licik dengan pemimpinnya ini.

.

.

"Kita benar-benar melakukannya. Aku tak percaya ini," Aoi pundung di bawah pohon kelapa. Mengabaikan tawa bahagia Kai yang akhirnya bisa jalan-jalan.

Melihat sahabatnya yang hampir-hampir seperti mayat hidup, Arata menghampirinya dan menepuk pelan bahu Aoi. Hanya untuk dibanting di atas pasir dan perutnya di duduki. Ditambah kerah bajunya dicengkram kedua tangan si teman masa kecil.

"Kau! Gara-gara kau! Aku! Satsuki Aoi harus ikut bersama kalian para idiot untuk mempertaruhkan nyawaku di pulau ini!" Aoi melampiaskan kekesalannya

Suasana yang tegang itu tiba-tiba rusak saat Fuduki Kai bersiul panjang.

"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu Kai-san." Haduki You bicara sambil menyembunyikan tawa.

"Ahaha, aku tak tahu kalau Aoi bisa membanting Arata. Aku mulai berpikir kalau mungkin saja Aoi yang bakal jadi seme mu, bukan uke mu, Arata~ hehehe," Fuduki Kai membuat ekspresi serius saat mengatakan itu. Tanda bahwa ia benar-benar serius soal kata 'berpikir' nya.

"Oh oh oh coba lihat siapa yang posisi semenya terancam?" Kisaragi Koi menyipitkan mata mengejek.

"Are~ akankah kita memanggilnya Arata-chan mulai sekarang?" Haduki You membuat gerakan menutup mulut seperti ibu-ibu tukang gossip.

Memang sialan mereka bertiga, begitu pikir Arata. Di saat ia dalam keadaan yang begitu mengenaskan, teman sesama semenya malah asyik membicarakannya. Uduki Arata lalu menatap Aoi dan dengan sungguh-sungguh berkata,

"Aoi, kau tidak boleh melakukan ini pada seme mu. Mengerti?" yang berbuah tamparan di pipi kanan dan kiri si maniak stoberi.

Dan tawa puas dari Kai, You, dan Koi. Tapi tawa itu berhenti saat Nagatsuki Yoru menyuarakan pikirannya.

"Kalau Aoi-san bisa jadi seme Arata-san. Artinya aku pasti akan bisa membalik keadaan."

"Eh? Apa maksudmu Yoru?" You bertanya bingung.

"Aku akan membuat You jadi uke ku! Yosh! Aku akan berjuang!"

"TIDAKKK."

Dan Kai serta Koi kembali tertawa terbahak-bahak. Oh, jangan lupakan Arata yang juga terkikik. Merasa ia punya teman seperjuangan. Setidaknya, bukan ia sendiri yang terancam posisi semenya.

.

.

Mutsuki Hajime tengah terbang tenang mengawasi. Keenam sayapnya sesekali mengepak untuk menjaganya tetap di udara. Di belakang si malaikat jatuh, terbang dua bawahannya. Yayoi Haru dan Shiwasu Kakeru.

"Oh, lihat mereka. Si rambut coklat itu punya tubuh menjanjikan," Shiwasu Kakeru berucap sambil menjilat bibir bawahnya.

"Ya, kau benar Kakerun. Ah, lihat yang di sana! Si rambut pink itu tipe favoritmu Kakerun." Yayoi Haru menunjuk seorang berambut pink yang asyik beradu mulut dengan seorang berambut hitam

"Mereka semua menarik. Aku tak akan komplain saat salah satu dari mereka diberikan padaku."

"Oy, kalian. Kita di sini untuk mengawasi mereka. Bukan membicarakan masalah kebutuhan seksual kalian." Hajime yang gerah karena dari tadi Shiwasu Kakeru dan Yayoi Haru membicarakan enam orang manusia itu ke arah aktivitas intim.

"Kau jangan terlalu kaku Hajime-san~ lagipula kau ini sebenarnya punya kualitas super untuk jadi dominan. Aku hanya terkejut kalau ada manusia yang hampir menyamai kualitasmu." Kakeru menjawab santai.

"Oh? Siapa?" Tak elak Hajime penasaran juga.

"Si tinggi berambut coklat. Ia akan jadi saingan terberatmu jika saja manusia ini jatuh cinta pada Shimotsuki Shun." Haru lah yang menjawab, dengan nada bercanda yang menjengkelkan.

Kakeru hanya terkikik geli. Saat ia melempar pandangan ke bawah, matanya menatap dua orang bersayap tengah terbang cepat.

"Lucky~," Kakerun bergumam, membuat Hajime dan Haru menatapanya bingung lalu mengikuti arah pandang si succubus.

Kaget. Hajime tak menyangka kalau anak didik Shimotsuki shun akan ikut turun dari surga. Menukik turun Hajime mengejar dua malaikat pelatihan ia kenal sebagai Kannaduki Iku dan Minnaduki Rui.

Langsung saja Hajime menghadanganya. Membuat dua junior itu berhenti mendadak. Meneliti cepat Hajime memaku pandang pada benda emas di tangan Rui. Choker milik cintanya.

"Serahkan choker itu!"

"Anda... Mutsuki Hajime...-san?" Iku bertanya tidak yakin.

"Kau... iblis?" Rui juga tidak yakin.

Hajime hanya diam. Menengadahkan tangannya meminta choker itu. Ia benar-benar tidak ada niatan untuk meladeni mereka. Iku yang punya firasat buruk segera menarik tangan Rui untuk kabur dari Hajime. Berbalik, ia dihadang oleh iblis berambut hijau semu. Memutar arah, ia dihadang lagi. Kali ini oleh iblis berambut pirang.

Merasa terpojok, Rui mendekap choker itu. menutup mata dan melagukan beberapa nada. Seketika choker emas itu menghilang.

""APA YANG KAU LAKUKAN!"" Iku dn Hajime berteriak panik bersamaan.

"Menteleportasikannya. Setidaknya, para iblis ini tidak akan mendapatkannya dengan mudah."

Kesal. Hajime kemudian segera terbang tak tentu arah. Mencoba melacak keberadaan choker emas tersebut. Entah beruntung entah sial. Ternyata Rui tak cukup tenaga untuk memindahkan choker gurunya jauh.

Hanya mampu sekitar sepuluh meter dari mereka. Tepat jatuh mengenai kepala berambut merah jambu.

.

.

"Aduh!" Koi reflek mengaduh saat kepalanya terasa sakit kejatuhan sesuatu.

"Kenapa?" insting keibuan Yoru memanggil.

"Tidak, sepertinya benda ini tiba-tiba saja jatuh di atas kepalaku. Apa ini emas?" Koi menjawab.

Yang lain segera menghampirinya. Sama-sama penasaran. Belum ada sepuluh detik, ada tangan bercakar yang merebut benda emas itu. Kaget, enam manusia itu menatap seorang serba hitam bersayap gagak tiga pasang tengah menyeringai. Tak lama sosok iblis itu kembali terbang menjauh saat sosok seorang serba putih berambut coklat melesat cepat.

"Ada apa ini sebenarnya?" You berucap bingung saat merasa aura di sekitar nya menjadi berat.

Tanpa di duga, Kai berlari mengejar dua sosok itu. mengerahkan seluruh kekuatannya. Yang mengejutkan adalah Kai berhasil menyamai kecepatan mereka. Selanjutnya secara beruntun tiga sosok ikut mengejar.

.

.

Tiga iblis, dua malaikat, dan seorang manusia itu telah sampai di atas tebing curam asal air terjun. Yang mana di dalam tebing itu Shimotsuki Shun dibekukan.

Saat si malaikat berambut coklat berhasil meraih bahu si iblis bersayap enam, dengan ceroboh iblis itu menjatuhkan choker emas milik Shun.

Dengan dikendalikan insting, Kai mengikuti arah jatuh si benda. Lalu tanpa pikir panjang ikut menjatuhkan diri dari tebing. Tangannya dijulurkan untuk mencapai benda emas, lalu dengan yakin membiarkan dirinya berbenturan dengan air. Meski airnya dalam, tapi jatuh di ketinggian dengan sangat cepat tanpa persiapan sama dengan membenturkan diri di lantai beton.

Yang lain hanya bisa kaget. Manusia ini tidak punya hubungan apapun dengan makhluk macam mereka. Namun, kenapa malah ikut berebut choker emas itu?

.

.

Di atas air sungai dalam yang airnya berasal dari air terjun, melayang lima sosok yang harusnya tidak bisa dilihat manusia.

Dituntut kebutuhan untuk bernapas, Fuduki Kai akhirnya mengeluarkan kepalanya dari air. Dengan napas terengah ia menatap garang pada lima makhluk itu.

"Hei~ serahkan choker itu padaku nee~ nanti akan Kakerun beri ha-di-ah," Shiwasu Kakeru terbang rendah, hingga ikut menceburkan diri di sungai. Dengan manja tangan kanannya mengalung pada Kai, sedang tangan kirinya mengelus paha Kai bagian dalam. Sengaja menggoda.

Namun tidak, yang terjadi bukanlah seperti yang dibayangkan. Kai dengan enteng menolehkan wajahnya. Menatap datar pada Kakeru.

"Apa yang kau lakukan? Aku sama sekali tidak minat padamu," suara Kai setenang angin.

Untuk pertama- tidak- tapi untuk kedua kalinya ia ditolak mentah-mentah bonus tatapan datar. Yang pertama Mutsuki Hajime dan yang kedua Fuduki Kai. Shiwasu Kakeru mulai bertanya-tanya, apa dirinya sudah kehilangan kemampuannya untuk jadi succubus?

Ngambek, Kakeru lalu terbang menjauh. Mencari mangsa untuk pembuktian apakah ia benar-benar sudah kehilangan bakat.

.

.

Sepeninggal si succubus pirang, yang mana menyebabkan atmosphere di sekitar sungai itu menjadi canggung, belum ada yang bersuara.

"Ehm... sebenarnya kita ini ngapain sih?" tadi itu suara Kai.

"Hah! Kau yang tiba-tiba ikut berebut choker itu! sebenarnya apa maksudmu?!" Yayoi Haru tak habis pikir.

"Ya... soal itu... choker ini choker emas kan? Artinya harganya mahal kan? Lagipula aku ke sini sebagai bajak laut. Kalau sampai aku pulang tanpa jarahan artinya aku tidak bisa jadi bajak laut sejati, KAN!"

Selesai mengatakan itu, sebuah batu kerikil sukses mengenai kepala seorang Fuduki Kai. Si pelaku tak lain adalah Haduki You yang baru saja datang bersama rombongan. Ditambah Kakeru yang tengah bermanja pada Koi. Sedang si rambut pink itu hanya nge-blush.

"Ah, mereka semua kejam. Beraninya mengabaikan aura seksi Kakerun. Nee~ Koi tidak akan pernah mengabaikan aku kan~"

"Ha-ha'i..."

Samar terdengar percakapan antara Kisaragi Koi dan Shiwasu Kakeru. Gerah, You berteriak.

"Singkirkan pikiran chuunibyou mu itu Kai!"

"Kenapa? Oh oh aku lupa kalau kata obaa-san dulu, kalau aku sudah dapat jarahan harus diberi darahku biar seterusnya kita dapat jarahan yang lebih mahal lagi." Kai tak mempedulikan You. Ia malah memasang jari telunjuk nya di dahi. Pose berpikir.

"Sudah lupakan saja nasihat sesat itu, Kai-san!" Yoru ikut gemas dengan tingkah Kai.

"Kau tidak akan melakukan hal bodoh itu... kan?" cemas, Hajime bertanya.

Memasang seringaian, Kai menggigit choker emas itu lalu mengangkat tangan kananya. Mengeluarkan pisau lipat dari saku, Kai sengaja menggores telapak tangannya lalu menggegam erat choker itu hingga berlumur darah.

Semua terkejut. Tak menyangka kalau Fuduki Kai bisa sebodoh itu. tapi yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar perkiraan. Muncul cahaya putih kebiruan dari balik air terjun. Diiringi dengan suara retakan. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga mengharuskan untuk menutup mata.

Selang setengah menit. Mereka membuka mata perlahan. Menatap kaget pada sosok putih yang melayang si hadapan mereka. Berambut panjang sewarna salju dengan tiga pasang sayap merpati mengepak lembut. Sosok putih itu terlihat begitu agung, begitu bersih. Hingga membuat manik hijau lemon dan bibir peach nya tampak mencolok menarik perhatian.

"Jadi, siapa yang melakukan kontrak darah denganku, Shimotsuki Shun sang seraphim cantik ini? Hmm~."

.

.

TBC

Aku tahu ini makin ngawur sejalan dengan bertambahnya chapter. Mana chap ini kepanjangan. Yah, tapi ini otak mikirnya kayak begitu sih lanjutannya -,-

Yakk nantikan chap selanjutnya~

RnR pwease.../sok imut/digampar