THE THINGS 2_Ep - 3 : Unexpected

Story Created by : Crypt14

Story Idea by : Cuming


"Beristirahat lah dulu. Kita tunggu Mingyu datang." Ujar Soonyoung seraya menyandarkan tubuh Junghan pada pohon besar di sisinya. Hal sama yang di lakukan juga oleh Jihoon, Seungcheol meringis kembali saat sensasi perih kembali menyerang luka di lengannya. "Apa aku harus menyusul Mingyu?" Jihoon menggeleng cepat mendengar penuturan Soonyoung. Pria bertubuh mungil itu menatap dengan alis bertautnya. "Bukan ide bagus, lagi pula Mingyu tidak menyuruh mu untuk menyusulnya 'kan." Ucap Jihoon sinis, Soonyoung tersenyum tipis seraya menganggukkan kepalanya. Pria itu tau Jihoon begitu mengkhawatirkan dirinya jika ia bersikeras untuk menyusul Mingyu. Lagi pula mana mungkin Soonyoung bersungguh-sungguh akan pergi jika melihat keadaan Seungcheol dan Junghan. Ia menghela nafasnya, kembali mengeluarkan botol air minum miliknya dan menyerahkan benda itu pada Seungcheol.

"Ya tuhan, suhu tubuh Junghan benar-benar rendah. Apa yang harus kita lakukan?" gumam Jihoon kembali, pria mungil itu terlihat menggosokkan kedua telapak tangannya sebelum menempelkannya pada leher Junghan berharap hal yang di lakukannya akan membuat suhu tubuh Junghan kembali normal. Soonyoung beranjak, melepaskan jaketnya. Meletakkan jaket tersebut ke tubuh dingin Junghan. Kedua tangannya meraih telapak tangan Junghan, menggosoknya pelan. "Seungcheol, sebenarnya apa yang terjadi pada Junghan?"

.

.

Kedua manik mata Wonwoo memandang lekat pria yang masih setia berdiri di hadapannya. Ia bernafas lega mengetahui Mingyu-nya berada bersamanya sekarang. Wonwoo berusaha berucap di balik penyumpal mulutnya membuat pria berkulit tan itu merendahkan tubuhnya, berjongkok tepat di depannya. Tangan kanannya terulur menurunkan penyumpal mulut Wonwoo. "Mingyu syukurlah kau datang." Ucap Wonwoo cepat. Sebuah senyum lega terlihat jelas di garis bibirnya. Ia beranjak, menyeret tubuhnya mendekat kearah Mingyu yang hanya menatapnya. "Tolong aku, lepaskan ikatan ini Mingyu." Ujarnya seraya menunjukkan tangannya yang terikat di belakang tubuhnya. Mingyu tak bergeming, masih menatap lekat kekasihnya itu. Setelahnya kekehan pelan terdengar menguar dari bibir pria berulit tan itu. Ia menunduk sejenak, membuat wajahnya tersembunyi di balik poninya setelahnya kembali mengangkat wajahnya. Sebuah seringaian tampak jelas di wajah pemuda itu membuat Wonwoo melunturkan senyumannya sesaat. "Kau bilang apa tadi?" ujarnya dingin. Wonwoo terdiam, memandang dengan alis bertaut pria di depannya. "Melapaskan mu? Yang benar saja." Ujar Mingyu kembali seraya menyapu poni rambutnya ke belakang. Seringaian masih tercetak jelas di wajahnya. Wonwoo menyeret tubuhnya mundur, mencoba menjauh dari Mingyu. Raut wajahnya menunjukkan perasaan bingung sekaligus takut pada pria di hadapannya itu. Mingyu kembali tertawa pelan, menyorotkan lampu senternya tepat ke wajah Wonwoo membuat pria itu menyipitkan matanya berusaha menghindari cahaya yang terasa menyakiti matanya. "Kau tau Jeon Wonwoo, aku tidak akan pernah melepaskan mu." Ujarnya datar dengan raut wajah yang berubah mengeras seketika. Wonwoo menggigit bibir bawahnya ngeri. Perasaan lega yang sebelumnya menghinggapi dadanya kini kembali hilang di gantikan oleh rasa takut yang lebih besar dari sebelumnya. "Kenapa kau menyekap ku Mingyu?" gumamnya pelan, matanya masih berjaga menatap Mingyu dengan sorot ketakutan. Selama Wonwoo mengenal pria di hadapannya kini, ia tidak pernah sekalipun melihat raut wajah Mingyu yang seperti itu. Mingyu tertawa kembali, mendekatkan tubuhnya kearah Wonwoo. "Anggap saja karena aku terlalu mencintai mu, sayang." Bisiknya. Wonwoo kembali menyeret tubuhnya menjauhi Mingyu hingga punggungya berbenturan dengan dinding di belakangnya. "Kenapa? Kau takut dengan ku?" Mingyu menyeringai kembali, menatap lekat Wonwoo. Degup jantung Wonwoo kembali memacu cepat, nafasnya menderu memenuhi ruangan hening itu. Keduanya terdiam, manik mata Wonwoo masih terkunci pada Mingyu, pria yang terus menyeringai kearahnya. Pikirannya terlalu penuh dengan alasan mengapa Mingyu melakukan hal seperti ini padanya. Pria itu tidak bisa mempercayai hal yang terjadi padanya kini, Mingyu-nya bersikap di luar batas kewajaran.

Mingyu mendecih pelan, mengulurkan tangannya guna kembali menyumpal mulut Wonwoo. Pria berkulit putih itu berusaha memberontak agar Mingyu tidak kembali menyumpal mulutnya namun usahanya sia-sia. Ia menggeram, berusaha berteriak kearah Mingyu yang hanya menatapnya dengan wajah datar. Wonwoo masih menggeram, berusaha mengeluarkan suaranya. "Brisik kau bangsat!" Ia terdiam tepat saat Mingyu berteriak di depan wajahnya. Kedua matanya melebar, merasa begitu tidak percaya Mingyu melakukan itu padanya. Pria yang di kenalnya selalu berbicara lembut, meskipun ucapannya kotor Mingyu tidak pernah sekalipun berteriak di depan wajah seseorang terlebih dirinya. Tawa kembali menguar dari bibir Mingyu. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Wonwoo, mengelusnya lembut. Perasaan horror melingkupi dada Wonwoo saat ini, ia merasa tidak bisa menerima apapun yang di lihatnya kini. Ia tau, pria di hadapannya bukanlah Mingyu. "Aku akan bermain-main dengan mu, Wonwoo. Permainan apa yang sebaiknya kita lakukan hm?" ucap Mingyu dengan nada suara lembut. Wonwoo terdiam, pria itu tak beniat membuka kembali suaranya sedikitpun. Kepalanya berdenyut hebat memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Mingyu saat ini.

"Oh aku tau, karena aku begitu mencintai mu Jeon Wonwoo bagaimana kalau kita bermain permainan ini, aku yakin kau akan menyukainya." Wonwoo tetap pada pendiriannya untuk tidak lagi menggubris ucapan Mingyu. Pria berkulit tan itu masih memandang lekat Wonwoo dengan senyuman mengembang di bibirnya. Tangannya terulur meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya, sebuah pisau lipat. Wonwoo tercekat, ia berusaha untuk menghindari Mingyu namun dinding di belakangnya menghentikan segala pergerakkannya. Mingyu terkekeh kembali. "Question and answer. Peraturannya kau harus menjawab pertanyaan ku degan benar jika tidak aku terpaksa harus melukai mu." Ujarnya dengan raut wajah yang di buat menyendu. Kedua alis Wonwoo bertaut, memandang penuh rasa takut ke arah Mingyu. "Baiklah, pertanyaan pertama. Apa kau membenci Junghan?" ucapnya. Wonwoo terdiam sejenak, ia berusaha bicara namun semuanya tersekat oleh penutup mulutnya. "Jawab aku! Kau tuli brengsek?!" Pekik Mingyu yang kembali membuat Wonwoo terdiam. Pria berkulit tan itu memandang Wonwoo dengan raut wajah marah, menancapkan pisau lipat di tangannya pada lengan Wonwoo, membuat pria itu berteriak tertahan. Mingyu terkekeh, menatap wajah kesakitan Wonwoo dengan pandangan puas.

"Pertanyaan kedua, kau dan Jun. Kau ingat Jun bukan? Aku yakin kau masih mengingatnya. Kalian diam-diam berhubungan di belakang ku, bukan?" ucap Mingyu. Raut wajahnya kembali mengeras, kedua alisnya bertaut memandang Wonwoo tajam. Wonwoo menggeleng, berusaha mengeluarkan suaranya yang tertahan. "Kau berbohong Jeon Wonwoo? Kau fikir aku tolol? Kau ingin main-main dengan ku ya?" ujarnya kembali. Wonwoo masih menggeleng cepat. Raut wajahnya memandang takut Mingyu yang kembali berniat menusukkan pisau di tangannya. Namun pria berkulit tan itu justru tersungkur ke belakang sesaat setelah Wonwoo menghantamkan tubuhnya ke arah Mingyu. Mingyu menggeram keras, memandang marah pada Wonwoo yang kini berada di atas tubuhnya. "Sial!" ujar Mingyu tertahan. Wonwoo yang menyadari Mingyu mulai merasa kesal menghantukkan dahinya keras pada dahi Mingyu, membuat pria berkulit tan itu mendorong keras tubuh Wonwoo dari atasnya. Menyentuh dahinya yang terasa begitu nyeri. Wonwoo beranjak, meraih pisau lipat yang tergeletak begitu saja di lantai kayu pavilion itu. Mendorong benda itu dengan kakinya kearah tangannya.

Manik matanya memandang kearah Mingyu yang masih memegangi dahinya. Tangan Wonwoo masih berusaha untuk memotong tali yang mengikat kuat tangannya. Pria berkulit putih itu bergegas, melepaskan sumpalan di mulutnya beserta ikatan yang berada di kakinya. Sesegera mungkin beranjak dari tempatnya, namun tubuhnya tersugkur menghantam lantai saat Mingyu menarik pergelangan kakinya. Wonwoo menoleh, berusaha melepaskan genggaman tangan Mingyu pada kakinya. Ia menendang keras bahu Mingyu, membuat genggaman tangan Mingyu pada kaki Wonwoo terlepas. Wonwoo kembali berlari, keluar dari pavilion itu. Mingyu tampak berlari di belakangnya berusaha untuk kembali menggapainya. Wonwoo tersungkur kembali saat kakinya menyandung sebuah akar pohon. Kekehan kembali terdengar dari mulut Mingyu, pria itu mengeliminasi jaraknya dengan Wonwoo. Menarik pergelangan tangan pria yang lebih kurus darinya itu, menyeret tubuhnya paksa kearah pavilion kembali. Wonwoo memberontak, meninju punggung Mingyu keras membuat Mingyu menoleh ke arahnya dengan pandangan marah setelahnya kembali menyeret Wonwoo.

Tubuh Wonwoo tersungkur menghantam keras lantai kayu pavilion tersebut ia menggeram seraya terus melayangkan pukulan keras pada Mingyu yang kini menduduki perutnya berusaha untuk menangkap pukulannya. Wonwoo berteriak keras, tangannya masih berusaha memberikan tinjuan keras kearah Mingyu. Sebuah cakaran tampak jelas tercetak di leher Mingyu sesaat setelah kuku-kuku jari Wonwoo mengenainya. Mingyu, pria berkulit tan itu menggeram kesal meninju kuat rahang kanan Wonwoo. Suara dengingan terasa memenuhi isi kepala Wonwoo seketika, ia menggerakkan kepalanya menatap sekelilingnya dengan pandangan samar. Nafasnya menderu, merasa sesak sesaat. Wonwoo masih tak bergeming, kepalanya berdenyut begitu hebat karena suara dengingan yang terus memenuhi telinganya. Merasakan tubuhnya terangkat ke udara. Pandangannya tampak buram, ia masih sibuk mengembalikan kesadarannya. Pukulan Mingyu berhasil membuatnya merasa sulit untuk kembali berfikir jernih. Ia meringis saat merasakan tubuhnya terlempar ke dalam lubang cukup dalam, nafasnya tersengal. Kedua matanya menatap Mingyu yang berdiri atas lubang itu. Wonwoo dapat melihat seringaian yang tercetak jelas di wajah kekasihnya itu sebelum pandangannya menggelap kembali.

.

.

"Sooyoung, kenapa Mingyu belum juga kembali? Aku mengkhawatirkan Junghan, tubuhnya semakin dingin." Jihoon kembali mengeratkan jaket yang terbalut di tubuh Junghan. Kulit pria bersurai merah itu tampak semakin memucat. Soonyoung dan Seungcheol memutar otaknya, berusaha mencari jalan keluar. "Aku akan pergi mencari Mingyu sebentar, kalian tetaplah disini." Ujar Soonyoung yang langsung tidak di setujui oleh Jihoon. Pria bertubuh kecil itu menahan paksa lengan Soonyoung, kedua manik matanya menatap tajam Soonyoung. "Aku akan kembali secepatnya, Jihoon. Kita tidak bisa hanya berdiam diri." Ucap Soonyoung lagi seraya memandang lekat pada Jihoon. "Kau gila! Lalu bagaimana caranya aku menjaga Seungcheol dan Junghan!" ia memekik keras pada Soonyoung, masih menahan lengannya. Hening setelahnya, Jihoon masih memandang Soonyoung kesal. Keduanya tampak tak berniat kembali mengeluarkan suara.

"Wonwoo." Baik Jihoon, Seungcheol maupun Soonyoung, mereka menoleh tepat kearah Junghan. Pria itu menggumam pelan, nyaris berbisik menyebutkan nama Wonwoo masih dengan kedua matanya yang tertutup. Seungcheol beranjak, mendekat kearah Junghan. "Junghan, bangunlah." Ucapnya pelan namun pria bersurai merah itu tetap melakukan hal yang sama, hanya terus menggumamkan nama Wonwoo dengan mata tertutup menyisakan kebingungan yang melanda ketiga temannya. Suhu tubuhnya terus menurun drastis, beberapa memar kebiruan kembali timbul di tubuh Junghan, seakan seseorang tengah memukulinya saat ini. "Ya tuhan sebenarnya apa yang terjadi pada kalian!" pekik Jihoon frustasi. Ia mengusap wajahnya kasar, merasa lelah dengan semua kejadian tengah di hadapinya kini.

Derap langkah terdengar begitu jelas di telinga Jihoon, Soonyoung dan Seungcheol. Soonyoung bangkit, beranjak menuju Mingyu yang muncul dari dalam hutan. beberapa luka goresan tampak memenuhi tubuhnya. Wajah serta tubuh pria berkulit tan itu di basahi oleh keringat. Soonyoung membopong tubuh Mingyu menuju teman-temannya. "Apa yang terjadi padamu Mingyu? Lalu dimana Wonwoo?" Jihoon berujar cepat, meraih tangan kanan Mingyu yang tampak lecet menyiramnya dengan air bersih. Mingyu masih terdiam, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal setelahnya terisak pelan. "Wonwoo mati, seseorang membunuhnya." Ujarnya lirih membuat ketiga temannya memandang tak percaya pada dirinya. "Kau.. bercanda?" gumam Jihoon. Mingyu menggeleng, menyeka airmatanya yang bercampur keringat dari wajahnya. Menatap Jihoon dengan matanya yang memerah. "Seseorang membunuhnya, aku sudah berusaha untuk menyelamatkannya tapi aku gagal." Ucap Mingyu kembali, masih mengusap matanya dengan lengan bajunya. Soonyoung menepuk pelan pundak Mingyu, mencoba memberikan semangat pada sahabatnya itu. "Kita harus cepat keluar dari tempat ini, aku rasa orang yang membunuh Wonwoo sedang berusaha memburu kita juga." Ketiga temannya masih terdiam, setelahnya mengangguk menyetujui ucapan Mingyu. Kelima orang itu beranjak kembali menyusuri gelapnya hutan Hoia. Seungcheol menatap Mingyu yang tengah menggendong Junghan di punggungya dengan alisnya yang bertaut. Entah mengapa namun Seungcheol merasa ada sesuatu yang jangal mengenai ucap Mingyu sebelumnya. Wonwoo mati? Benarkah?


chit chat : stay tune and keep review

salam,

Crypt14