"Senpai… Besok aku ke sekolah lo. Nii-san memberiku izin"

"Tidak perlu terlalu memaksakan diri, kau sudah cukup berguna"

"Senang bisa berguna untukmu"

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

PAIRING: ULQUIHIME

WARNING: AU, OOC, GAJE, ABAL, TYPO(S), ect

"SANDARAN"

.

'Grrrhhh….'

Perlahan ku dudukkan tubuhku di bangku panjang yang ada di atap sekolah. Yah, mana lagi tempat pelarianku selain disini? Frustasi! Sisa pemandangan semalam masih terekam jelas di kepalaku, seperti kaset rusak yang terus saja diputar berulang-ulang. Beraninya Ishida sialan itu menyentuh gadisku! Cerocosku dalam hati. Eh, tunggu dulu. Sejak kapan aku membuat pengakuan kalau dia adalah milikku?

'Blussshh'

Panas, sial! Sepertinya wajahku memerah. Frustasi he? Mulai ragu dengan perasaanmu sendiri? Perlahan aku membaringkan tubuhku dengan menempatkan tanganku di atas kepala, guna mengurangi banyaknya cahaya yang masuk ke dalam lensa mataku. Singkat kata, agar tidak silau. Hhhhhh….. Aku menghela napas seberat-beratnya, menghilangkan sisa oksigen yang masih berada di paru-paru, berharap semua terasa ringan kembali. Setidaknya, aku tidak ingin terlihat cemburu melihatnya bersama pria lain, toh tidak ada yang serius diantara kami. Dia hanya membantuku melarikan diri dari masalah dengan para FG-ku, dan tidak pernah ada yang lebih lagi selain itu. Semilir angin perlahan membawaku untuk tenang kembali, memejamkan mata dan mencoba menghapus perlahan segala yang kusesalkan tadi. Tapi, eh? Karamel? Hn, tunggu dulu, sejak kapan kilauan matahari berubah menjadi oranye? Spontan aku membuka mata. Dan,

"O-orihime! K-kau mengagetkanku!" sahutku terkejut dan kembali memosisikan tubuhku kembali duduk.

"G-gomenasai. M-maaf telah mengganggumu senpai. Kenapa kau tidur disini? Apa kau sakit?" tanyanya dengan nada khawatir.

'Cess'

Rasanya seperti ada yang sudah memercikkan kembali api yang tadi sempat membakar wajahku. Gelisah, aku menutup wajahku dengan sebelah tangan.

"Tidak. Aku hanya ingin mencari ketenangan," jawabku sedatar mungkin, berharap dia tidak menyadari warna wajahku sekarang.

"Hn. Sebentar lagi jam pulang. Senpai ingin pulang bareng?" tanyanya dengan wajah bak malaikat itu.

'Blussshh'

Habis sudah kau Ulquiorra. Genderang di hatimu menabuh dengan kuat, sepertinya untuk sepersekian detik darahmu menjadi semakin cepat mengalir. Dan lihat sekarang, wajahmu sepertinya semakin terbakar. Seandainya gadis yang di depanmu itu sensitif, pasti sekarang dia sudah heran melihatmu begini.

"Err.. T-tunggu saja di-di gerbang. Nanti aku me-nyusul" sahutmu terbata. Hh… Ya ampun Ulqui, kapan dirimu berubah jadi gagap?

"Ng.. Kau yakin baik-baik saja senpai? Panas ya? Kenapa wajahmu memerah?" tanya gadis itu innoncent.

"Tidak. Tinggalkan dulu aku sendiri," sahutmu malu.

Terlihat gadis itu heran melihat senpai pujaannya berubah bagai kepiting rebus. Kenapa? Ada apa? Aku salah ya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Membuat gadis manis itu menautkan alisnya di tengah. Untuk sesaat, dia ragu meninggalkanmu. Tapi, mengingat lagi perannya disini hanyalah sebagai seorang pembantu, ia hanya tersenyum. Miris. Tidak ada haknya untuk terlalu ingin tahu semua tentangmu, termasuk keadaanmu. Kau bahkan tak bertanya apakah dia sekarang sudah benar sembuh. Gadis bersurai oranye itu melangkah mundur menjauh dari tempatmu duduk, lalu saat dia berbalik tepat di depan pintu.

"Err… Orihime. Apa kau sudah sembuh?" tanyamu padanya sebalum dia hilang dari pandangan.

Jika kau bisa lihat dengan jelas sekarang, pasti kau melihat bahunya yang bergetar menjawab pertanyaanmu.

"Seperti yang senpai lihat, aku baik-baik saja." jawabnya dengan senyum tulus. Sejurus kemudian ia menghilang dibalik pintu.

Lega. Seluruh sampah yang tadi memenuhi hatimu sepertinya telah hilang bersama senyumannya. Tak lama setelah dia hilang dari pandangan, kaupun tersenyum. Senyum yang mengembang tanpa sadar dari bibirmu sebab ada perasaan senang yang menyelimutimu saat ini. Perasaan yang sama, seperti yang dirasakan gadis itu, bahunya bergetar air matanya turun membasahi pipi, tapi seulas senyum yang tadi dia berikan padamu masih bertahan di bibirnya. Ia menangis, bahagia. Hanya karena pertanyaan sederhana yang menunjukkan padanya, bahwa sedikitnya kaupun juga perduli padanya.

. . . .

Kembali seperti hari-hari sebelumnya, hari dimana kau berjalan pulang berdampingan dengannya. Membiarkan para FG-mu berjalan menepi dan berteriak cemburu melihat kalian berdua, kau meliriknya dan melihat kembali senyuman itu, senyuman yang selalu membuat bunga-bunga bermekaran di taman hatimu. Eh? Sejak kapan? Seperti biasa, kau menjadi pendengar budiman, walaupun sekedar mendengarkan ocehan gadis disampingmu dengan ogah-ogahan tapi taukah kau? Itu sudah cukup membuat gadis bersurai oranye itu merasa bahagia, cukup baginya melihatmu dan membantumu.

"Hn, sudah sampai," sahutmu.

"Hm, cepat sekali ya senpai," jawabnya dengan senyum mengembang. Bisa kau lihat, meski dengan wajah sepucat itu, dia bisa memberikanmu senyum tulus. Ya, hanya untukmu.

Kau terkejut melihat kondisinya. Alismu menaut melihatnya. Cemas? Mungkin. Berjalan pulang sepertinya begitu memakan energi gadis manis itu, wajahnya sekarang pucat tapi mengapa masih bisa tersenyum?

"Mengapa menatapku seperti itu senpai?" tanyanya keheranan melihat tampangmu begitu.

"Apa kau baik-baik saja? Ah, sebaiknya besok kau istirahat saja. Sepertinya kondisimu belum sepenuhnya baik" sahutmu dengan nada datar, meskipun begitu tak dapat dipungkiri lagi ada sebongkah kecemasan disana.

"Hn. Aku baik-baik saja senpai" jawabnya riang. "Besok aku akan tetap bersekolah dan membantu senpai"

Ah, dia keras kepala.

"Tidak perlu terlalu memaksakan diri, kau sudah cukup berguna" sambungmu datar. Upss, Ulqui bodoh. Dari mana kau dapat kata-kata bodoh itu? Baka!

Gadis itu sedikit terkejut dengan ucapanmu. Matanya sendu, dan bibirnya tersenyum simpul. Ah, betapa sakitnya hatinya. Untuk kali ini separtinya dia telah melakukan kesalahan besar. Haruskah dia terluka hanya karena ini? Tidak. Bukan. Seharusnya ia tidak terluka. Toh, ini keinginannya yang tulus untuk membantu pria yang sangat ia sayangi itu. Malang, hanya saja pria yang dihadapannya ini tak pernah menyukainya setulus yang ia lakukan. Ini semua hanya sekedar permainan.

Gadis semanis caramel itu tersenyum lagi. Senyum yang tulus namun sarat akan kesedihan. Dan lihat pria bodoh itu, hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena ucapannya barusan terlalu melukaimu.

"Ia. Baik kalau begitu. Terima kasih senpai telah mengantarku pulang" jawabnya riang dan ah, tentu dengan nada yang terlalu di buat-buat, kau bisa dengar itu kan Ulqui bodoh!

Gadis bersurai oranye itu melangkah meninggalkanmu menuju kediamannya. Apa yang akan kau lakukan Ulqui? Lihat tadi kan? Ia terluka, karna ucapanmu. Apalagi? Minta maaflah segera, hilangkan semua sifat gengsimu itu. Kau.. tak mau dia sedih bukan? Kau.. tak rela lihat senyumnya hilang kan? Segeralah raih ia lagi.

"O-orihim..

"Senang bisa berguna untukmu" gadis yang hendak kau panggil namanya itu menoleh duluan dan memotong kata-katamu.

Kau kaget, matamu membulat tak percaya. Setegar itukah dia? Baka! Kenapa kini kau terdiam? Kenapa tak dilanjutkan kata-katamu tadi? Kenapa? Lidahmu kelu, he? Kau hanya bisa melihat punggungnya yang sedikit bergetar menahan tangis harunya yang sebentar lagi akan pecah, kau hanya bisa melihat langkahnya semakin jauh darimu, langkah kaki yang terlihat lemah dan terlalu dipaksakan. Sejurus kemudian kau hanya bisa melihat tubuhnya limbung jatuh ke tanah.

"ORIHIMEEE….."

. . .

"Vertigo*, gadis ini sudah sering kemari. Dia adalah seorang penderita vertigo. Apa dia belum pernah memberitahu anda?" tanya seorang dokter padamu.

Kau diam dan menggeleng lemah.

"Ah, ia. Saya harap anda sudah menelpon keluarganya. Dan terima kasih karena anda segera mengantarnya kemari. Saya tinggal dulu ya" sahut dokter muda itu sambil meninggalkanmu.

Langkah kakimu lemah, menatap sendu kamar bernomor 176. Tepat di dalamnya, gadis semanis caramel itu sedang tertidur. Terlalu berat untukmu membuka pintu itu, kau takut. Takut terluka melihat kondisinya, kau takut semua ini salahmu. Seperti kehilangan raga, jiwamu gamang melihatnya terbaring. Semuanya kembali terekam di kepalamu. Alasannya mengapa ia sering sekali terjatuh, mengapa sering kali tiap berjalan ia seperti kehilangan keseimbangan. Seharusnya kau mengetahuinya, bahwa ia butuh pegangan, ia butuh sandaran, bukan sebuah dorongan yang hanya akan membuatnya semakin terjatuh. Kau bodoh Ulqui, sangat bodoh. Sekarang kau tahu alasannya, mengapa orang-orang itu menyuruhmu menjauhinya, karena kau.. kau hanya membuatnya semakin terjatuh.

'Semua menertawakanku karena aku selalu terjatuh, haha… aku mungkin terlalu ceroboh ya?'

'Kau memanfaatkan Inoue-chan? Padahal ia begitu tulus padamu?'

'Menghilanglah dari hidupnya. Kau, hanya akan membuatnya semakin sering terjatuh'

Sakit, mungkin juga ini adalah sakit yang sama seperti yang dirasakan gadis baik itu. Kau hanya duduk dan menjatuhkan pandanganmu pada wajah ayu yang sedang tertidur itu. Kenapa? Rasanya ingin sekali meremas tangan mungil gadis di depanmu dan memberinya kekuatan untuk terus berdiri. Membantunya untuk tegar dan tak membiarkannya terjatuh. Tapia pa yang bisa dilakukan oleh pria bodoh sepertimu? Manik hijaumu mulai mengabur, ada setitik rasa haru di hatimu. Sejak kapan? Kau membelai lembut surai oranye gadis yang sedang kau sayangi itu. Ada sedikit lubang di hatimu yang perlahan membesar. Semuanya. Semuanya karena salahmu sendiri. Kaulah yang mempermainkan hati gadis manis itu, kau juga yang mempermainkan hatimu. Kau yang menepis semua rasa yang datang padamu. Sekarang, salahmu sendiri bila kau terluka.

'GREEEEKK'

Kau menghentikan aktifitasmu, memandang siapa yang baru saja datang. Dan lagi kau melihatnya.

"Hime, adikku sayang"

Seorang pria muda menangkup wajah gadis didepanmu. Ada rasa iri hatimu, pria yang biasanya dipanggil Nii-san oleh gadismu begitu bebas menunjukkan rasa kasih sayangnya, mengapa kau tidak bisa. Dan lagi, mengapa juga kau harus melihatnya? Pemuda bernama Ishida menatap gadismu penuh haru, dan penuh rasa sayang. Mengapa kau juga tidak bisa begitu? Mengapa kau tidak bisa memberikan rasa yang seperti itu pada malaikat senja yang selalu membantumu itu?

"Pergilah. Kau boleh pulang. Terima kasih sudah mengantarkannya kemari"

"Baik. Aku permisi pulang… Nii-san" jawabmu ragu.

Pria itu hanya sedikit terkejut, sebabnya dipanggil Nii-san olehmu. Sejurus kemudian pria itu tersenyum simpul.

Kau hanya berlalu. Pemuda berkacamata itu tak pernah mengalihkan pandangannya dari malaikatmu. Kau hanya tersenyum simpul melihatnya. Miris, mungkin kehadiranmu bahkan tidak pernah dianggap 'ada' olehnya. Namun, yang paling kau sesalkan. Sepertinya kau tidak mampu memberikan hati yang luar biasa seperti yang dimiliki pemuda berkacamata itu untuk malaikat senjamu.

Baru saja kau melangkahkan kaki menjauh dari rumah sakit. Senja sudah menyambutmu pulang. Teringat lagi akan malaikat senjamu. Malaikat yang sudah patah sebelah sayapnya, dan rela untuk kehilangan kedua sayapnya untuk mencintaimu. Sekarang dia tak lagi seimbang, tak lagi bisa terbang, tak lagi bisa pergi. Senantiasa menemanimu, merelakan dirinya terluka. Apa yang akan kau perbuat Ulqui? Kau bahkan tak bisa membantunya, apa lagi mengobatinya?

Yang terlintas dibenakmu hanyalah, meninggalkannya. Membiarkan malaikat tak bersayap itu memiliki kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak bisa ia dapatkan bila bersamamu, mungkin Ishida adalah pria yang tepat. Pikiranmu melayang, dan dalam batas senja kau tertawa sembari mengeluarkan butiran penyesalan dari manik hijaumu. Sore itu, kau menjadi bahan bisikan orang lalu lalang. Seorang pria tampan a.k.a bodoh sedang tertawa sambil menangis.

….

*Vertigo merupakan gangguan keseimbangan. Dalam banyak kasus, gejala vertigo menyiratkan adanya suatu gangguan sistem telinga dalam atau sistem vestibular. Gangguan ini menyebabkan penderita sering mengalami pusing, berkunang, sakit akibat gerakan dan lebih sering terjatuh meskipun berjalan di daerah yang datar.

Kuro Nami: Maaf untuk chapter sebalumnya yang alurnya kecepatan ya. Dan maaf juga untuk chap kali ini yang terlalu lama updatenya. *maaf*

Zae-Hime: Maaf gak bisa update kilat… *menyesal*

Ara Nara Tika: Maaf juga gak bisa update kilat.. *mewek*

Hn, chap ini pendek ya? Huhu, maaf Author payah ini, gak tau mau motong adegannya di mana biar seru. Dan lagi, maaf atas lamanya update. Ada banyak tugas yang harus diprioritaskan.

=3=

Maaaaaaaaffff….

Mohon review serta saran yang membangun.
..