Makasih banyak buat: Hinagiku-chan 'cumasatu1nya, Erna bloom, Just ana g login, Kikyo Fujikazu, and'z a.n, Poetrie-chan, namicherry, Chini VAN, Miki Yuiki Vessalius, FelsonSpitfire, elang-hitam, CheZaHana-chan, eet gitu, luna forever, garoo, sasusaku, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Sky pea-chan, Ame Kuroyuki, senayuki-chan, Ichigo Mamochi... berkat feedback-nya, saya jadi semangat nulis ;) Chapter ke-3 ini spesial buat kalian, dan tentu saja buat pembaca setia lainnya :*
[AN] Chapter ini mungkin sedikiiiit-agak panjang, semoga gak bosan ya =)
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Into The New World
© Mila Mitsuhiko. 2011
Chapter #3 'Mansion Uchiha'
Sakura melangkahkan kakinya takut-takut saat memasuki kawasan klan uchiha. Suasana begitu sepi. Satu-satunya suara yang terdengar di telinganya hanyalah suara langkah kakinya sendiri. Keadaan di sini juga bisa dibilang gelap. Rumah-rumah kosong tanpa penghuni yang berjejer di kanan-kiri jalan hanya diterangi sebuah lampu di bagian terasnya. Itupun dengan cahaya remang. Sakura sesekali menelan ludahnya, berusaha keras menghadapi suasana menyeramkan di sekitarnya.
Bersyukur masih ada cahaya keperakan rembulan yang masih mau menemaniku, fikir Sakura. Sakura terus melangkah menyusuri kompleks perumahan yang terasa mati ini. Tak berapa lama, akhirnya Sakura pun sampai di depan rumah paling besar di antara rumah-rumah lainnya. Tapi satu hal yang tak berbeda dari yang lain, rumah ini juga tampak gelap dan terasa mati, seakan tak ada makhluk hidup di dalamnya. Beruntungnya, Sakura adalah seorang ninja, tak sulit baginya untuk merasakan chakra seseorang di dalam sana. Dan dia yakin, chakra itu dimiliki oleh seorang lelaki bernama; Uchiha Sasuke.
Sakura terdiam sejenak, tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Sakura merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, tapi dia tak bisa menyimpulkan apa sesungguhnya yang dirasakannya ini. 'Tidak! Aku tidak panik hanya karena akan bertemu Sasuke 'kan?' sangkalnya dalam hati. "Tenanglah, Sakura, kau harus tenang!" ucapnya pada diri sendiri. Sakura menghela nafasnya pelan-pelan, berusaha menenangkan dirinya yang sedang tak tenang saat ini. Sakura memaksa tangannya untuk bergerak. Entah mengapa, untuk mengetuk pintu di hadapannya saja terasa berat. Sebagian dari dirinya merasa takut untuk melakukan ini. Sakura merasa belum siap untuk bertemu dengan Sasuke, tapi hatinya tak mampu berdusta bahwa; dia sangat merindukannya. Akhirnya dengan sedikit keberanian, Sakura mampu menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu di depannya ini.
Tok tok tok. Suara dentuman terdengar cukup besar-mengingat betapa sunyinya daerah ini. Keringat dingin pun mulai mengucur di dahi Sakura. Sakura segera memejamkan matanya, dia belum siap untuk menatap apa yang akan dilihatnya. Namun selang beberapa menit berlalu, belum juga ada tanggapan apapun. Sakura sempat berfikir; mungkin dia salah memilih rumah, dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi sebelum akhirnya...
Klik. Pintu terbuka.
Dengan sangat lambat Sakura memutar tubuhnya untuk menatap sosok yang membuka pintu itu. Hingga akhirnya, matanya jadenya bertemu dengan onyx lelaki yang berdiri tepat di depannya. Sakura terpaku pada apa yang dilakukannya saat ini. Tubuhnya terasa membeku saat memandangi mata itu. Mata paling indah yang pernah dilihatnya. Mata yang dimiliki oleh lelaki yang dulu pernah dicintainya. Ya, dulu-dan mungkin selamanya.
Sakura terus memandangi sosok yang berada di hadapannya, tak banyak yang berubah di wajah tampannya itu. Kulitnya masih sepucat dulu, matanya masih sehitam dulu. Hanya tatapannya yang semakin tajam. Sakura bahkan tak menyadari berapa lama waktu yang telah dilaluinya, dia seakan terbius dengan kesempurnaan yang hanya berjarak tiga puluh senti dari wajahnya.
Seketika wajah Sakura memerah saat dia menyadari dua hal. Pertama; Uchiha Sasuke, lelaki yang berada di depannya juga balas menatap matanya, memperhatikan kebodohan yang tanpa sadar dilakukannya. Kedua; Uchiha Sasuke yang sedang berada di hadapannya ini tengah bertelanjang dada, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh bagian atasnya. Untungnya masih ada sehelai handuk yang terlilit menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Ah! Ma-maaf, Sasuke!" rasa panik seketika memenuhi diri Sakura. "Aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf!" ucapnya sambil menghalangi pandangannya dengan kedua tangannya.
"Hn," respon Sasuke. Tanpa mengucapkan apapun, Sasuke melangkah masuk ke rumah dan meninggalkan Sakura di luar.
Sakura merasa kesal dengan apa yang dilakukan Sasuke padanya. 'Tidak bisakah dia bilang; silahkan masuk, huh?' rutuk Sakura dalam hati. Namun dia menahan emosinya, berusaha agar tak meninju sampai hancur tembok yang ada di dekatnya. "Tenanglah, Sakura, kau pasti kuat!" ucapnya sangat pelan agar tak didengar orang lain selain dirinya. "Semangat!" Sakura lalu menyusul Sasuke yang telah masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Ikut aku," perintah Sasuke beberapa saat setelah Sakura sampai di dalam. Kali ini tubuhnya telah berpakaian lengkap. Sakura hanya mengangguk dan mengikuti Sasuke yang menyusuri tangga untuk naik ke lantai dua.
Sakura hanya termangu melihat keadaan rumah Sasuke yang begitu rapi dan bersih. Sakura sempat berfikir, apakah Sasuke yang membersihkannya sendirian? dan apakah dalam waktu dua hari dia bisa menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain?
"Aduh!" tanpa sengaja Sakura menabrak tubuh Sasuke yang rupanya telah berhenti saat dia terhanyut dalam lamunannya. "Maaf," ucap Sakura sambil membungkukkan badannya.
"Hn," jawab Sasuke. "Ini kamarmu," ucapnya, "dan kamarku di sana. Kamar mandi ada di samping kamarku."
Sakura hanya mengangguk menyetujui. Namun hatinya kembali memiliki pertanyaan, mengapa kamarnya harus bersebrangan dengan kamar Sasuke? Apa dia ingin melihat dirinya? Atau Sasuke tidak ingin jauh dari dirinya? 'Bodoh! Itu tidak mungkin, Sakura, jangan berfikir berlebihan begitu!' Sakura membatin, menyadari kebodohan yang dilakukannya.
"Selama kau di sini, jangan melakukan hal bodoh apapun. Aku tidak suka ketenanganku diusik," ucap Sasuke datar.
Lagi-lagi Sakura menahan dirinya agar tak meledak. "Ya, kau tenang saja, Sasuke."
"Hn." Sasuke lalu melangkah masuk ke kamarnya.
"Masih jam delapan, aku belum mau tidur," komentar Sakura. "Aha! Aku mau melihat-lihat dulu ah!" ucapnya kemudian mulai berjalan menyusuri mansion Uchiha yang megah ini.
Sakura terhenti di depan sebuah ruangan yang berpintu warna mencolok, yakni merah. Berbeda dengan pintu lainnya yang berwarna hitam. "Ruangan apa ini?" tanya Sakura. "Baiklah, aku akan melihat ke dalam." Sakura membuka pintu itu perlahan, dan saat dia telah sampai di dalam dia disambut oleh puluhan atau bahkan ratusan pigura yang berisikan foto-foto dari anggota keluarga Uchiha berjejer di atas meja dan di dinding. "Waw, hebat."
Sakura memperhatikan satu per satu pigura itu dengan dengan cermat. Hingga dia tertegun saat mendapati satu pigura dengan foto yang terlihat familiar. "Ini Sasuke waktu kecil 'kan?" Sakura mengambil pigura itu dari dinding. "Iya benar, ini keluarga Sasuke. Ini ibunya, sangat cantik. Ayahnya juga tampan. Dan ini," Sakura tercekat, "Uchiha Itachi..." Sakura baru menyadari bahwa keluarga yang tampak bahagia di foto itu hanya tinggal kenangan. "Aku harus pergi dari di sini! Sasuke bisa marah kalau tahu aku di sini." Sakura terburu-buru meletakkan kembali pigura itu di dinding. Membuat foto tak terkait dengan sempurna pada paku di dinding itu. Dan pigura itu pun terjatuh.
Prang.
"Ahh! Piguranya!" Sakura memunguti pigura yang jatuh ke lantai itu. "Syukurlah hanya retak. Aku tidak boleh sampai-"
"Apa yang kau lakukan?" Sakura membatu saat mendengar suara dingin itu.
"S-sasuke, aku minta maaf! Aku benar-benar tidak sengaja-"
Dalam gerakan sangat cepat Sasuke meraih pergelangan tangan kiri Sakura, lalu mendorong tubuhnya hingga menabrak dinding di belakangnya. "Au!" rintih Sakura
"Aku sudah peringatkan untuk tidak melakukan kebodohan di rumahku 'kan?" tanya Sasuke sambil menatap tajam mata Sakura. "Kau benar-benar menyebalkan."
Jantung Sakura kembali berdetak kencang. Bukan hanya karena kemarahan Sasuke, tapi juga karena hal lain; posisi mereka saat ini. Tubuh Sasuke sangat dekat dengan tubuhnya yang tersandar di dinding. Sakura bisa merasakan detak jantung Sasuke di dadanya, bahkan dia bisa merasakan hangat hembusan nafas Sasuke di wajahnya. Dan jika dia bergerak sedikit saja, mungkin bibir mereka akan bertemu.
Wajah Sakura memerah saat memikirkan hal itu.
Sasuke menguatkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Sakura. Dia tak perduli dengan rintihan kesakitan yang meluncur dari bibir Sakura. "Jangan. Pernah. Sentuh. Apapun. Di rumahku," perintah Sasuke, "atau kau akan menyesal selamanya." Dan Sasuke pun pergi meninggalkannya.
Mata Sakura terasa panas, hatinya terasa sakit dan dalam waktu singkat tetesan air mata mengalir di pipinya. "Kami-sama, apakah aku sanggup bertahan di sini?"
-bersambung-
Akankah Sakura sanggup bertahan tinggal bersama Sasuke di rumahnya? Akankah Sasuke terus bersikap dingin padanya?
Temukan jawabannya di chapter yang akan datang.
Buat yang review login, gak masalah 'kan kalo saya Pm kalian pas Fic ini diapdet?
.
Yang mau tau lanjutan cerita ini, mana suaranyaaaahhhh?
