"Jangan menyukainya. Dia tidak cocok untukmu."
Cagalli menghentikan kegiatannya memotong sayuran, kepalanya tertoleh ke arah saudara kembarnya. "Siapa dia yang kaumaksud?"
"Kau tahu siapa, Cagalli," sahut Kira.
Cagalli hanya mengangkat bahu seraya kembali meneruskan pekerjaannya, ada puluhan anak yang tengah menunggunya selesai memasak makan malam. Ia berpura tak acuh, padahal sebenarnya ia gugup luar biasa. Ternyata meski sudah menyembunyikan perasaannya dalam-dalam, tetap saja tercium oleh Kira. Terkadang bagian tersulit dari memiliki Kira sebagai saudara kembar adalah Kira pun ikut merasakan apa yang ia rasakan, sehingga ia sulit merahasiakan sesuatu.
"Dia benar-benar tak cocok, Cagalli," Kira berucap lagi. "Dia populer, gadis-gadis mengikutinya seperti semut mengerumuni gula. Tapi dia tidak menyukai satu pun. Gadis-gadis itu hanya pengganggu bagi Athrun, dan aku tak mau kau menjadi salah satu pengganggu itu. Berhenti menyukainya, kau hanya akan patah hati."
Cagalli memotong kentang dengan sekuat tenaga, satu bagian melompat dan mendarat dengan tak elit di lantai dapur, sedang potongan lain melayang ke arah Kira dan hampir mengenai hidung pemuda itu andai saja Kira tak segera melompat mundur. "Kau tak perlu menasihatiku, Kira. Aku tahu, benar-benar tahu bahwa aku tidak boleh menyukai Athrun. Aku tak sebanding dengannya, ya kan?"
Kira yang tengah memungut potongan kentang di lantai berhenti bergerak, urung memungut kentang pemuda itu malah mendekati Cagalli. "Maksudku bukan seperti itu," pemuda itu berusaha menjelaskan.
Lagi. Cagalli hanya mengedikkan bahu. "Aku mengerti, sungguh. Dan aku sudah memerintahkan hatiku agar berhenti menyukainya." Bibirnya bergetar kala mengatakan itu. Ia menyadari betul bahwa dirinya akan patah hati, bahkan sebelum Kira mengatakannya. Cagalli sadar jika dirinya tak bisa disandingkan dengan Athrun Zala. Ia hanyalah seorang gadis biasa yang terpukau oleh pesona sang pangeran, sehingga ia mengerti bahwa perasaannya tak akan pernah berbalas. Namun, hatinya terlalu bebal untuk mengikuti perintah otak.
.*.
Disclaimer:
Gundam Seed/Destiny ©Masatsugu Iwase, Yoshiyui Tomino, Hajime Yatate Sunrise
(saya hanya meminjam karakter di dalamnya)
*.*
My Precious
(Sekuel dari My Princess)
By
Ann
*.*
Peringatan : AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s), Gaje (Silakan berpendapat sendiri),
Tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati.
.*.
Chap 3
Can I Stop Loving You?
.*.
Kau tahu, sangat sulit membuang perasaan yang bersemayam dalam hati selama bertahun-tahun. Aku pernah mencobanya sekali, dan gagal. Kali ini aku akan mencoba sekali lagi. Kuharap kali ini akan berhasil.
.*.
"Sampai jumpa."
Hanya kata itu yang mampu Cagalli ucapkan sebelum bergegas turun dari mobil Athrun. Kaki-kakinya dengan cepat melangkah di setapak yang mengarah ke beranda, lalu menaiki undakan dengan sama tergesanya. Tak seperti biasa, malam ini ia langsung membuka pintu dan masuk, tanpa sedikit pun berbalik untuk melihat Athrun. Mungkin pria itu menyadarinya, atau tidak. Ia rasa tidak. Jika pria itu tidak bisa mendeteksi perasaannya selama bertahun-tahun, tak mungkin Athrun bisa menangkap detail kecil seperti itu. Lagi pula, pikiran pria itu sekarang pasti tengah terfokus pada orang lain. Tepatnya pada gadis manis bernama Meyrin Hawke.
Meyrin Hawke. Gadis itu cantik, baik, dan menyenangkan. Cagalli tak memiliki keluhan, kecuali bahwa gadis itu telah merebut kesempatannya memiliki Athrun. Tapi benarkah ia memiliki kesempatan itu.
Selama tahun-tahun terakhir ini ia memang menyukai Athrun, mencintainya malah. Namun, perasaan itu hanya tersimpan dalam hati. Tak pernah sekali pun ia mencoba mengungkapkannya. Ia hanya berharap suatu hari Athrun akan menyadari perasaannya dan memberikan respon. Sayangnya, suatu hari itu sepertinya tak akan pernah datang. Pada akhirnya, Cagalli akan mengulang kejadian ketika Athrun bertunangan dengan Lacus; merelakan Athrun untuk gadis lain, tanpa melakukan sedikit pun perjuangan.
.*.
Pagi datang dengan cepat. Biasanya, Cagalli akan senang melihat berkas cahaya matahari yang menelusup di sela-sela tirai jendela. Ia akan langsung melompat turun dari ranjang, membuka jendela, mandi sinar matahari pagi sembari mendengarkan suara merdu kicauan burung, dan menghirup udara pagi yang menyejukkan. Namun, pagi ini ia enggan beranjak dari tempat tidur. Ia malah menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Hari ini ia tak siap menyambut pagi, tak siap jika nanti mendengar dering ponselnya, dan mendengar kabar bahwa Athrun akan menikah dengan Meyrin, atau paling tidak memutuskan menjalin hubungan dengan gadis itu.
Cagalli tak siap dan tak akan pernah siap.
Itu adalah mimpi buruk yang tak ingin ia alami lagi.
Namun, sekeras apa pun ia menolak. Sejauh mana pun ia menghindar. Kenyataan itu akan tetap datang padanya. Sekali lagi ia akan patah hati. Sekali lagi di hatinya akan tertoreh luka yang sama. Tapi kali ini lukanya akan lebih parah, karena ia sempat berharap.
Nyatanya, kedekatan Cagalli dengan Athrun setahun terakhir memang membuatnya berharap. Ia mengira persahabatan yang terjalin baik di antara mereka akan menumbuhkan benih cinta di hati Athrun. Tapi yang terjadi tak seperti keinginannya. Athrun tak sedikit pun menganggapnya lebih dari seorang teman. Ia selamanya hanya akan menjadi sahabat Athrun Zala.
"Cagalli!"
Suara Kira disertai ketukan di pintu kamar membuat Cagalli menyingkap selimut.
"Kau sudah bangun?"
Dengan enggan Cagalli turun dari tempat tidur. Pasti Kira datang untuk menyuruhnya menyiapkan sarapan, karena teringat bahwa hari ini adalah gilirannya memasak. "Ya, aku sudah bangun," sahutnya seraya mengambil handuk dan berjalan ke pintu. Ketika membuka pintu, ia menemukan Kira berdiri di depannya dengan memakai celemek.
"Cepat mandi, aku sudah memasak nasi goreng sosis untuk sarapan," ujar saudara kembarnya itu.
"Eh? Bukannya hari ini giliranku?"
"Tak apa, aku ingin memasak untukmu hari ini. Mumpung hari libur," kata Kira. "Ayo, cepat mandi." Pria itu berlalu sambil bersenandung.
Cagalli mengamati Kira. Akhir-akhir ini saudaranya itu selalu terlihat senang, tak ada lagi raut kesedihan di mata sewarna ladang lavender itu. Bahkan keceriaan Kira berkali lipat karena tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Lacus. Kira terlihat bahagia. Dan itu, membuat Cagalli ikut bahagia. Ia berdoa agar kebahagiaan itu tak pernah direnggut dari Kira selamanya, meski ia tidak bisa mendapat kebahagiaan yang sama.
"Kira."
Langkah Kira terhenti, dan pria itu menoleh. "Ya?"
"Aku senang kau bahagia," katanya. Cagalli berusaha menyunggingkan senyum, tapi anehnya justru air mata yang keluar.
"Hei, kau kenapa?" Kira bergegas menghampiri. "Kau menangis?"
Cagalli menyapu air mata dengan punggung tangan, berusaha menghentikan cairan bening itu keluar dari matanya. Tapi percuma, air mata itu tak mau berhenti mengalir.
"Apa yang terjadi, Cagalli?" tanya Kira lembut sambil membantunya menyapu air mata. Tindakan itu bukannya menghentikan tangis Cagalli, malah membuat tangisannya semakin menjadi. Dan ketika Kira memeluknya, Cagalli terisak di bahu saudara kembarnya.
.*.
Cagalli tak menyangka dirinya begitu cengeng. Ia menghabiskan satu jam terakhir dengan menangis dan menangis. Ketika Kira bertanya ada apa, ia tak menjawab. Cagalli memilih bisu daripada mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya.
"Minum dulu." Kira menyodorkan segelas air putih kepada Cagalli, sambil menggumamkan terima kasih ia menerima gelas dan segera menandaskan isinya. "Lebih baik?" Ia mengangguk menanggapi pertanyaan itu. Kira mengambil gelas dari tangannya dan meletakkan gelas kosong itu di meja samping tempat tidur, kemudian pria itu duduk di sampingnya di tempat tidur.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" Pertanyaan itu diajukan dengan pelan, tanpa desakan, tapi tetap saja Cagalli sulit untuk menjawabnya. "Jangan bilang tidak ada apa-apa, karena aku tahu ada sesuatu yang terjadi. Aku bisa merasakannya. Aku saudara kembarmu, ingat?"
"Tentu saja aku ingat kau saudaraku," sahut Cagalli. Jika Kira menggunakan kata 'saudara' ia benar-benar tak bisa mengelak. "Sampai kapan pun aku tak akan melupakan hal itu."
"Kalau begitu, ceritakan apa yang terjadi. Mungkin dengan membaginya perasaanmu akan lebih ringan," kata Kira.
Cagalli menghela napas. Rasanya benar-benar memalukan harus menceritakan apa yang tengah dirasakannya pada Kira, namun tetap memendamnya pun bukan solusi yang baik. Seperti kata Kira, mungkin dengan berbagi ia dapat mengurangi kepedihan barang sedikit. "Kau ingat, dulu kau pernah menasihatiku agar tidak menyukai Athrun?" Ia memulai.
"Ya, aku ingat," ujar Kira, "dan rasanya aku belum meminta maaf padamu sudah mengatakan hal itu. Aku tak berhak melarangmu menyukai siapa pun, termasuk sahabatku sendiri."
Cagalli tersenyum kecut. "Kenapa harus meminta maaf jika kau melakukan hal yang benar?" Kening Kira berkerut mendengar pernyataannya, mulut saudaranya sudah membuka untuk membahas tetapi ia mendahuluinya. "Kau benar, Kira. Aku seharusnya menghentikan perasaanku selagi bisa. Andai saja, aku memerintahkan hatiku dengan lebih tegas untuk tidak menyukai Athrun, mungkin sekarang aku tidak akan mencintainya, dan patah hati karenanya."
Kira terdiam. Mata pria itu mengarah pada Cagalli dengan tatapan terkejut.
"Kenapa? Tidak menyangka aku masih mencintai sahabatmu itu sampai sekarang?" Cagalli geli melihat ekspresi saudaranya. Senyum samar muncul di bibir Cagalli. Setidaknya, pagi ini ada hal yang membuatnya sedikit terhibur. "Ternyata kaum pria benar-benar tidak peka ya."
"Yah." Kira meringis. "Kupikir masa-masa kau mengagumi Athrun sudah lewat. Hanya cinta monyet masa SMA, seperti gadis-gadis lain. Tak kusangka kau ...," Kira tak melanjutkan kalimatnya.
"Masih menyukainya sampai sekarang, dan harus patah hati karenanya," ujar Cagalli.
Kira merangkul bahu Cagalli, menariknya hingga kepala Cagalli bersandar di bahu pria itu. "Maaf, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sehingga mengabaikanmu," ucapnya. "Astaga! Aku benar-benar bodoh, ya kan?"
"Eh?"
Kira melepas rangkulan, berputar menghadap Cagalli, lalu kedua tangannya mencengkeram bahu Cagalli. "Aku berhutang banyak padamu. Ketika aku patah hati karena pertunangan Lacus dan Athrun, kau juga terluka. Tapi kau malah menghiburku dan mengabaikan lukamu sendiri demi diriku. Kau ... aku benar-benar sudah gagal menjadi saudaramu. Bahkan aku tak menyadari kau mencintai Athrun, sampai kau sendiri yang mengatakannya. Sial! Aku benar-benar─" Kata-kata Kira terpotong karena Cagalli memencet hidungnya dengan keras.
"Kau memang bodoh, tidak peka, dan menyebalkan. Tapi kau tetap kesayanganku. Saudara terbaikku," kata Cagalli. "Lagi pula, saat menghiburmu aku juga menghibur diri sendiri. Aku merasa memiliki teman seperjuangan," lanjutnya.
"Tapi aku tidak tahu," sahut Kira manyun.
"Hey, kenapa mukamu ditekuk seperti itu? Harusnya kau yang menghiburku karena aku sedang patah hati, bukannya kau yang ngambek."
Kira kembali merangkul Cagalli. "Kau yakin kau benar-benar patah hati, bukannya akhir-akhir ini hubunganmu dengan Athrun sangat akrab. Aku bahkan sempat terpikir kalau Athrun mulai menyukaimu."
Cagalli menoleh pada Kira. "Kau bercanda, kan?"
"Aku serius. Selain Lacus gadis yang benar-benar dekat dengan Athrun adalah kau, jadi kupikir mungkin saja dia jatuh cinta padamu," ujar Kira.
Kepala Cagalli tertunduk, menatap jemarinya yang bertaut. "Itu tidak mungkin," bisiknya, "Kalau dia jatuh cinta padaku, dia tak akan memintaku bertemu Meyrin, gadis yang ingin dijadikannya kekasih." Air mata mengancam akan kembali menetes, sehingga ia menengadah, mencegahnya jatuh kembali.
"Si bodoh itu!" geram Kira. "Dia memintamu bertemu gadis yang ingin dipacarinya. Itu keterlaluan! Dan kau juga bodoh, Cagalli. Seharusnya, kau tidak menerima permintaan itu dengan senang hati."
Tak terima Kira mengatainya bodoh─meski sebenarnya ia pun sadar dengan kebodohannya─Cagalli membalas dengan marah, "Siapa bilang aku melakukannya dengan senang hati?! Aku melakukannya dengan terpaksa, Kira. Terpaksa! Kau dengar itu?!" Ia melempar bantal hingga membentur dinding karena frustrasi. "Athrun saja yang bodoh. Tukang PHP! Kalau dia tidak menyukaiku kenapa juga harus memberiku perhatian seperti itu? Dia memperlakukanku seolah aku penting baginya, tapi akhirnya dia malah mencari gadis lain. Dasar Athrun bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Tukang PHP!" Ia meneriakkan semua kekesalannya.
"Apa kau ingin aku menghajarnya?" Pertanyaan Kira membuat Cagalli menoleh, ia memandang saudaranya yang tengah mengepalkan tangan seolah bersiap untuk meninju seseorang. "Aku yakin bisa jatuhkannya dalam beberapa pukulan."
Cagalli mendengus. "Dan kau pun akan jatuh dalam jumlah pukulan yang sama," sahutnya. Ia bersidekap. "Enyahkan pikiran menghajar Athrun dari kepalamu, Kira. Terakhir kali kalian adu jotos, kalian berdua sama-sama bonyok."
Kira mengangkat alis. "Dari mana kau tahu? Bukannya saat itu kau tidur?"
"Aku tidak tidur selama itu. Saat aku bangun, aku bisa melihat bekas-bekasnya di wajahmu dan Athrun," jawab Cagalli.
"Tak masalah jika harus bonyok demi membela saudaraku satu-satunya. Lagi pula, Athrun patut dihajar untuk ketidakpekaannya pada perasaanmu," kata Kira.
Cagalli mendelik. "Kau juga, kan?"
Kira meringis. "Ya, aku juga. Mau menghajarku?"
Cagalli menggeleng. "Itu bukan pembalasan yang tepat, untukmu atau untuk Athrun sekalipun," ujarnya.
"Pembalasan yang tepat adalah dengan move on," kata Kira."Tutup kisahmu dengan Athrun, jadikan itu masa lalu, dan coba buka hatimu untuk menerima cinta yang baru. Kau tahu, di dunia ini masih banyak pria yang lebih baik dari Athrun. Kau hanya belum menemukannya saja."
"Aku hanya belum menemukannya," Cagalli membeo.
"Yup! Jadi, yang harus kaulakukan sekarang adalah pergi keluar dan menemukan pria itu," ujar Kira dengan semangat.
"Tapi─"
Kira melompat dari tempat tidur, lalu menarik Cagalli. "Sekarang pergi mandi, dan bersiaplah. Kita akan berburu Mr. Right hari ini."
"Hei, tunggu du─"
"Cagalli ..." Kira meremas bahu Cagalli. "Kau sudah cukup menangis untuknya, sekarang ikuti aku. Aku akan mencarikan seseorang yang benar-benar pantas mendampingimu."
Cagalli ingin membantah. Namun melihat keyakinan di mata Kira, ia urung. Mungkin sebaiknya aku mengikuti saran Kira, pikirnya.
"Baiklah," ujarnya seraya mengambil handuk. Ia beranjak keluar kamar, hendak menuju kamar mandi. Namun, tepat di ambang pintu ia menghentikan langkahnya, menoleh pada Kira dan tersenyum. "Terima kasih, karena kau selalu ada untukku," ucapnya.
"Salah. Kau yang selalu ada untukku," kata Kira.
.*.
Rencana Kira untuk berburu Mr. Right Cagalli benar-benar mengerikan. Sebagai permulaan, Kira memutuskan untuk me-make over Cagalli, dan Kira meminta bantuan Lacus untuk melakukan itu. Akibatnya, Cagalli diseret masuk ke beberapa toko pakaian, mencoba puluhan pakaian yang rata-rata diperuntukkan bagi kaum feminis, lalu dipaksa mengunjungi salon untuk didandani. Voila! Gadis pirang tomboi itu menghilang, menjelma menjadi sosok cantik nan feminim dalam gaun koktail hijau.
"Kalau begini, kau pasti jadi pusat perhatian," kata Lacus riang. Sementara Cagalli memberengut menatap pantulan dirinya di cermin. Bukannya ia tak menyukai penampilannya, hanya saja mengubah diri untuk disukai orang lain rasanya tidak benar.
"Apa ini perlu?" tanyanya pada Kira yang baru datang sambil membawa dua tas kertas, berwarna merah dan hitam. Saudaranya itu tidak menjawab. Untuk sesaat Kira tercengang melihat penampilan Cagalli.
"Cantik sekali," kata Kira kagum. "Kau melakukannya dengan sempurna." Kalimat terakhir diperuntukkan bagi Lacus.
Wajah Cagalli seketika memerah. "Itu berlebihan, Kira. Kau bukannya belum pernah melihatku seperti ini sebelumnya, aku sudah berkali-kali berdandan seperti ini."
Kira mengangguk-angguk seraya melangkah ke sofa dan meletakkan bawaannya. "Berkali-kali yang kau maksud tidak lebih dari sepuluh, Cagalli."
"Itu karena aku tidak suka berdandan seperti ini," sungut Cagalli. "Merepotkan!"
"Untungnya begitu. Jika tidak aku akan sulit mengusir pria yang berbaris di depan pintu untuk menemuimu," sahut Kira.
Mata Cagalli membelalak ngeri. "Itu─"
"Aku tidak berlebihan, Cagalli. Penampilanmu yang sekarang sanggup membuat pria mengejarmu, mungkin dua atau tiga orang," potong Kira.
"Aku sependapat," ujar Lacus sambil menghampiri tas yang dibawa Kira dan mengeluarkan isinya. "Kau cantik, Cagalli," tambah Lacus, "Luar dan dalam."
Cagalli kembali mencermati penampilannya di cermin. Dirinya kini terlihat benar-benar berbeda; gaun yang jatuh dengan elegan di atas lututnya, polesan make up natural, tatanan rambut side bun di bahu kirinya dengan jepit mutiara. "Aku hanya ingin satu pria mengejarku," bisiknya. Tatapan Cagalli bertemu dengan tatapan Lacus di cermin. Tanpa berkata, tunangan Kira itu sudah memperlihatkan pengertian.
"Kalau begitu buat dia mengejarmu," kata Lacus seraya meletakkan sepasang sepatu di depan kaki Cagalli. Sepatu itu cantik. Cagalli langsung mengaguminya ketika pertama kali melihatnya. Wedge kitten heels, dengan hiasan pita di sisi luarnya.
"Cantik sekali," kata Cagalli kagum.
"Lebih cantik lagi jika kau memakainya," sahut Lacus.
"Kau yakin? Aku ..." Cagalli menggeleng pelan.
"Tentu saja. Aku membelikannya khusus untukmu," ujar Kira.
"Tapi─"
"Cukup ucapkan terima kasih," potong Kira sebelum Cagalli sempat memberi bantahan.
Cagalli langsung memeluk Kira. "Kau memang saudara terbaikku." Kemudian ia mencoba sepatu itu, memakainnya dari yang kanan kemudian kiri. Cagalli takjub dengan betapa pasnya sepatu itu di kakinya. "Terima kasih," ucapnya pada Kira dengan berkaca-kaca.
"Kalau aku tahu sepatu bisa membuatmu sentimental begini, sudah dari dulu kubelikan untukmu," balas Kira.
"Aku serius," kata Cagalli.
"Aku juga," sahut Kira. "Kau benar-benar terlihat cantik." Pria itu mengecup pipi Cagalli. "Sekarang, ayo taklukkan pria bodoh itu!"
"Bukannya kau bilang kita akan berburu Mr. Right untukku, lalu kenapa ...?" Cagalli memandangi saudaranya dengan bingung, kemudian Lacus.
"Pertama-tama kita akan mengincar pria yang kauinginkan," Lacus menjawab dengan penuh semangat. "Kita akan menaklukkan Athrun Zala."
"Jika dia masih bebal dan tak menyadari apa yang telah dilewatkannya, maka dia memang tidak pantas untukmu," Kira menambahkan.
Cagalli memandangi pasangan kekasih yang bersekutu menjadi cupid untuknya.
Yosh! Baiklah, aku akan berusaha menaklukkan Athrun Zala.
.*.
Bersambung ...
.*.
Review's review:
Dinah
Hai, Dinah. Sorry, saya kelamaan update. Terlalu banyak kesibukan membuat saya nggak bisa nulis fanfik sesering dulu, apalagi saya sekarang juga punya hobi baru, yaitu nulis cerpen dan novel. Yah, jadinya waktu banyak tersita. Di chapter 3 saya belum memasukkan percakapan AsuCaga, itu harus menunggu hingga chapter 4 atau 5. Jujur saja, saya punya banyak rencana drama untuk mereka, saya harap dapat mewujudkannya.
Thanks for read and your review, Dinah. Sorry, I can't answer your review in english. My english not good enough.
Alyazala
Makasih dah RnR ya. Ini udah apdet, Sayang~ Moga nggak kelamaan nunggunya.
DDB-NAKITA
Chapter 3-nya di sini! Hehe ...
Makasih sudah baca karya-karya saya dan ninggalin review. 😉
Titania546
Halo, Titania. Makasih sudah mampir ya.
Yep. Cagalli menderita, tapi sekarang bagaimana jika keadaan di balik. Athrun yang dibuat menderita. *evillaugh*
Udah lanjut nih,
Ntar di chapter 4, Zala bakal lebih galau lagi, tenang aja. wkwkwk ...
.*.
Chapter 3 up! Untungnya kali ini nggak selama chapter sebelumnya. Saya akan berusaha, paling nggak ngapdet fic ini sebulan sekali. Jadi, mohon bersabar ya.
Sekian dulu, saya mau lanjut ngetik chap 4, mau bikin Athrun bergalauria. Wkwkwk ...
See ya,
Ann *-*
