Chapter 3

.

.

.

Disclaimer : Aoyama Gosho


"Ran… coba lihat dulu dua kursi dibelakangmu." Sonoko menyenggol lengan sahabatnya. Gadis itu menoleh dan alisnya sedikit berkerut melihat Shinichi sedang duduk bersama Shiho di bangku paling belakang bus.

"Sejak kapan Kudo akrab dengan anak baru itu?"

"Aku tidak tau, Sonoko." Muka Ran keliatan pucat.

Sonoko menatapnya dengan sungguh-sungguh,"Kau tau, gadis itu sangat cantik. Kupikir dia bisa merebut Kudo darimu"

"Aku dan Shinichi cuma teman kok",balas Ran riang. Suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.

Sonoko melihatnya dengan tatapan kau-pikir-aku-tidak-tau-kalau-kau-berbohong dan menghela nafas.

"Terserah kau lah."

Ran menoleh lagi ke belakang. Shinichi sedang membisikkan sesuatu ke telinga Shiho yang dibalas gadis itu dengan tatapan death-glare.

Sepanjang perjalanan pulang ke Tokyo, Ran sama sekali tidak tenang. Dia berkali-kali mencuri pandang ke arah belakang. Shinichi sepertinya sedang tidur dan Shiho membaca novel dengan headphone di telinganya.

Aku harus berbuat sesuatu.

Ran mengepalkan tangannya.

.

.

.

"Sensei!"

Mr. Tatsuya mengangkat matanya dari buku pelajaran yang sedang dikoreksi.

"Ada apa, Kudo?"

"Aku ada sedikit permintaan, sensei. "

"Ya?"

"Miyano ingin pindah tempat duduk. Selama ini dia duduk dibelakangku, dia kesulitan melihat papan tulis karena aku lebih tinggi darinya. Bagaimana kalau kami bertukar tempat?"

"Tidak masalah. Lagipula, thanks, Kudo"

"Untuk apa?" tanya Shinichi bingung.

"Nilai ujian Miyano akhir-akhir ini sangat memuaskan. Kau telah mengajarinya dengan baik. Dia bisa bersaing denganmu untuk peringkat pertama nantinya."

"Umm…Oh iya." Shinichi meringis malu. Gurunya ini tidak tau kalau Shiho adalah siswi jenius yang mungkin lebih pintar dari dia.

"Sampai jumpa di kelas nanti."

"Thanks, Sensei."

Shinichi berjalan menuju kelas dengan wajah gembira. Dia tiba di depan meja Shiho dan tersenyum lebar.

"Sekarang kau pindah ke tempat dudukku dan aku ke tempatmu."

Shiho menatapnya aneh,"Apa maksudmu?"

"Jangan banyak tanya. Pindah aja." Dia menarik tangan gadis itu sambil memindahkan buku dan tasnya ke kursi di depannya.

"Apa ini salah satu dari leluconmu?" tanya Shiho curiga.

"Siapa bilang ini lelucon. Aku tau kau selalu kesulitan membaca papan tulis karena kepalaku menutup pandangan matamu kan?"

Shiho menyipitkan matanya,"Bagaimana kau tau?"

"Aku ini detektif."

"UH…" Shiho memutar bola matanya kemudian duduk di tempat Shinichi. Ran yang dari tadi shock melihat kelakuan mereka, menutup mulutnya dan membalikkan badannya kembali.

Shinichi nyengir lebar. Dia duduk di kursi Shiho dengan riang. Dan menyesalinya beberapa jam kemudian.

Apa karena kepala Shiho terlalu besar? Tidak. Bukan itu. Detektif sekolah ini berusaha memusatkan perhatiannya ke pelajaran alih-alih ke warna rambut gadis didepannya. Lamunannya berkisar ke helaian rambut Shiho yang halus tertiup angin, pundaknya yang kecil, sebagian kecil lehernya yang putih…

Sialan. Aku tak bisa berkonsentrasi.

Sepanjang pelajaran Shinichi tersiksa karena perhatiannya hanya terpusat pada gadis itu. Tak biasanya dia begini.

Sepanjang umurnya yang masih 17 tahun, Shinichi mulai takut dengan perasaannya sendiri. Perasaan ini terasa asing baginya. Dia berusaha menekan perasaan ini sebelum timbul lagi dan butuh beberapa saat sebelum keadaan menjadi normal lagi.

Dan ketika gadis itu menoleh kebelakang untuk menyerahkan hasil ujian yang dibagikan secara berurutan, dia tau usahanya sia-sia begitu melihat matanya yang berkilauan.

KRINGGG

Para murid di kelas serentak mengumpulkan barangnya untuk segera pulang ke rumah begitu lonceng pulang berbunyi. Shinichi sedang menyusun bukunya ketika Ran berdiri di depan mejanya dengan nervous.

"Ada yang harus kubicarakan padamu, Shinichi"

Shinichi melihatnya dengan heran,"Ada apa? Katakan saja disini"

"Umm.. ini agak privat." Shinichi melihat Shiho yang mengambil tasnya dan gadis itu menganggukkan kepalanya kepada mereka berdua kemudian berlalu pulang meninggalkan kelas.

"Bagaimana kalau kita pergi ke taman sekolah saja?" ajak Shinichi.

"Baiklah." Mereka berjalan berdua beriringan tanpa suara.

Shinichi memecah keheningan,"Ada yang aneh dengan dirimu, Ran"

"Menurutmu? " Ran mencoba tersenyum gugup.

"Ran, kita sudah bersahabat dari kecil. Tentu saja aku sangat mengenalimu"

"Um… Apa hubunganmu dengan anak baru itu?" tanya Ran tergagap.

"Anak baru? Maksudmu Miyano?"

"Ya…"

"Tidak ada apa-apa kok. Kami hanya teman biasa", jawab Shinichi cepat. Lebih cepat dari yang diharapkannya.

"Shinichi…" bisik Ran.

"Uh?" Mereka sekarang berhenti di lorong sekolah yang sepi. Ran menatapnya dengan aneh.

"A—Aku… aku suka padamu Shinichi."

Shinichi tertawa lepas,"Kupikir kau mau bicara hal penting apanya. Aku juga suka padamu kok" Dia menjitak kening gadis didepannya sambil nyengir.

"Tidak. Bukan itu maksudku... Aku suka padamu secara special." Wajah Ran sekarang sudah semerah tomat. Dia tak berani menatap Shinichi sedangkan pria itu malah tertegun dan salah tingkah.

"U—Uh itu.."

"Sampai jumpa." Ran segera berlari meninggalkannya. Shinichi hanya bisa berdiri dengan muka bengong. Hatinya terbagi dua antara ingin mengejarnya dan sebagian lagi merasa malu karena mendapat pengakuan cinta dari sahabat masa kecilnya.

Maafkan aku, Ran. Selamanya kau adalah sahabatku, aku tidak bisa melihatmu lebih dari ini…

.

.

.

Shinichi sedang duduk di depan meja belajarnya. Pikirannya fokus ke buku di depannya ketika dia mendengar suara di belakangnya. Dia segera menoleh dan menemukan sosok gadis di ambang jendela kamarnya. Shinichi terkesiap dan segera berdiri.

"Shiho?"

Sejak kapan aku memanggil nama depannya?

Gadis itu hanya tersenyum. Dia mengenakan gaun tidur terusan yang berwarna putih transparan. Bentuk tubuhnya samar-samar terlihat di setiap gerakannya. Wajah Shinichi memanas.

"Sedang apa kau disini?" tanyanya gugup. Gadis itu memberi isyarat supaya diam dengan jari telunjuknya. Dia mendekati Shinichi perlahan-lahan. Langkah kakinya ringan seperti kucing. Dan dia tampak sangat cantik malam ini.

Shiho berhenti tepat didepannya. Shinichi hanya bisa mendongak menatapnya dan tubuhnya gemetar karena kedekatan mereka. Tangannya ragu terulur dan membelai pipi gadis itu perlahan.

Sejak kapan aku seberani ini?

"A—Aku…" tapi gadis itu malah mendekat, kemudian mencium bibirnya. Mata Shinichi terbelalak tak percaya.

Seluruh tubuhnya memanas, tangannya yang gemetaran mulai naik ke atas kepala Shiho dan menekan gadis itu supaya ciuman itu menjadi lebih dalam dan…

KRINGGG

Suara weker berbunyi nyaring.

Shinichi terbangun dalam sekejap. Matanya berkejap-kejap.

MIMPI?

SIAL. CUMA MIMPI!

Sejak kapan aku memimpikan Miyano?

SIAL!

.

.

.

Paginya di sekolah, Shinichi tampak kesusahan berkonsentrasi. Pikirannya melayang-layang. Dia menekankan dagunya dengan tangannya dan memutar penanya bolak balik dengan tangan yang lain.

"KUDO!"

Sandaran tangan Shinichi meleset. Penanya terbanting jatuh ke lantai. Dia mendongakkan kepalanya dan menemukan Mr. Tatsuya sedang menatapnya.

"U—Uh.. ada apa Sensei?"

"Kau menghabiskan 15 menit terakhir dengan senyum-senyum sendiri. Apa yang terjadi, Kudo?" tanya Mr. Tatsuya dengan tegas.

Shinichi menunduk malu. Dia cepat-cepat mengambil penanya yang jatuh kemudian pura-pura membolak-balik buku di mejanya. Anak-anak yang lain bersorak. Sedangkan Shiho yang melihatnya, menyunggingkan senyuman kecil pertanda mentertawakannya kemudian membalikkan tubuhnya lagi.

Sial.

.

.

.

Selama dua minggu terakhir, Shinichi dan Shiho bagai dua orang yang tak terpisahkan. Mereka bertukar kata-kata cemoohan di sekolah dan selalu pulang bareng. Kadang bersama Ran, yang akhirnya mengalah untuk memilih pulang bersama Sonoko daripada harus melihat obrolan Shinichi dan Shiho tentang misteri,forensik dan kasus. Ran yang tak pernah bisa menyesuaikan diri dengan gaya dan pemikiran Shinichi merasa terabaikan dan dia tampak murung sepanjang hari.

Shinichi merasa sangat senang bisa berteman dengan cewek sejenius Shiho dan mereka memiliki ketertarikan yang sama tentang sepakbola. Sungguh keanehan yang mengesalkan sekaligus menguntungkan karena mereka hampir tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Dan anehnya mereka mendukung kedua klub yang saling bermusuhan. Shinichi yang penduduk Tokyo tentu saja mendukung Tokyo Spirits tapi Shiho mendukung seteru abadi Spirits yaitu Big Osaka. Padahal Shinichi yakin kalau gadis itu sengaja mendukung klub yang bertentangan dengannya untuk membuatnya kesal.

Murid-murid sekelas Shinichi sibuk mengganggunya sebagai playboy tapi dia sama sekali tidak mempedulikannya. Setiap istirahat makan siang, Shinichi selalu berbalik untuk makan berdua dengan Shiho, mengabaikan suitan dari murid lain dan tatapan iri Ran.

Shinichi mulai tiap hari memberanikan diri pergi ke rumah Hakase dengan niat untuk bertemu Shiho. Mereka kadang-kadang menghabiskan waktu dengan nonton pertandingan sepakbola bersama.

Shiho merasa sangat beruntung bisa berteman dengan Shinichi. Walau detektif ini narsis, mudah dibuat kesal dan sombong tapi dia teman bicara yang sangat menyenangkan. Dia belum pernah punya teman sesungguhnya dan dia menemukannya pada diri Shinichi.

Sampai pada suatu pagi.

Minggu pagi yang cerah. Burung-burung berkicauan dan bunga sakura bermekaran. Wanginya semerbak memenuhi udara.

"Pagi, Hakase! Miyano dimana?"seru Shinichi riang begitu Professor Agasa membuka pintu depan.

Hakase tersenyum,"Shiho-chan pergi ke Nomate Memorial Park hari ini"

"Dia mengunjungi makam kakaknya lagi? Sepagi ini?"

"Kau tau kakaknya dimakamkan disana, Shinichi ?"

"I—Itu… Aku pernah melihatnya disana"

Hakase hanya tersenyum lagi, dia kemudian masuk dan melanjutkan membaca koran. Shinichi memutar otaknya dan dia memutuskan pergi menyusul gadis itu.

Setibanya di Nomate, suasana pagi sama seperti pertama kali mereka bertemu. Minus hujan tentunya. Shinichi tersenyum kecil ketika teringat kejadian itu. Tamparan Shiho sangat kuat. Belum pernah ada orang yang berani menamparnya. Dan anehnya atau sialnya? Gadis itu sekarang menjadi temannya.

Dia menemukan Shiho sedang berdiri mematung di depan salah satu makam. Baju terusannya yang berwarna putih melambai diterpa angin. Wajahnya terlihat pucat.

"Sedang apa kau disini ?" tanya Shiho tenang begitu mendengar langkah kaki mendekat. Shinichi meringis. Dia menggaruk kepalanya dan nyengir.

"Aku sebenarnya ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini. Hakase yang memberitahuku kalau kau sedang berada disini."

Shiho diam tak menjawab. Shinichi berdiri disampingnya ikut diam. Mereka berdua menemukan ketenangan hati di pagi yang cerah itu.

Dalam diam. Dalam keheningan.

…dan keheningan itu pun usai.

Seseorang datang mendekati mereka. Reaksi Shiho ketika melihat orang itu datang, sungguh priceless. Matanya membesar dan tangannya mulai gemetar.

"Shuichi…Akai…"gumam Shiho hampir tak bersuara.

Shinichi menatapnya heran. "Siapa dia, Miyano?" tanyanya.

Detektif itu memicingkan matanya mengamati sosok itu. Seorang pria tinggi dengan wajah suram. Ada bayangan hitam di bawah matanya.

"Tak kusangka bertemu kau lagi," gumam pria itu.

Shiho memalingkan wajahnya dan mulai berjalan meninggalkan pria itu. Pria itu hanya menghela nafas melihat reaksi gadis itu tapi dia tidak berkata apa-apa atau mengejarnya. Dia hanya berdiri di tempat Shiho berdiri semula. Menatap makam itu dengan wajah tanpa ekspresi.

Shinichi ragu sejenak tapi dia kemudian mengikuti langkah Shiho menjauh.

"Oi, tunggu aku, Miyano," serunya. Tapi gadis itu sama sekali tidak melambatkan langkahnya. Shinichi terpaksa harus berlari untuk menyusulnya.

"Siapa dia, Miyano? Shuichi Akai?" tanya Shinichi sekali lagi. Rasa penasaran masih tergambar jelas di wajahnya.

"Kau tak perlu tau," sahut Shiho ketus.

"Hey, kau tak perlu seketus itu, Miyano"

Shiho tetap berjalan. Langkahnya makin lama makin cepat. Shinichi menyambar pergelangan tangannya.

"Berhenti, Miyano," desaknya.

Gadis itu tersentak dan memalingkan wajahnya menatap Shinichi.

"Bukankah aku sudah memberitahumu kalau jangan ikut campur urusanku?"

"Aku bukannya ikut campur. Tapi aku peduli padamu, Miyano"

"Tak usa peduli padaku. Tak ada orang yang peduli padaku," dengus Shiho sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Shinichi.

"Aku sangat peduli padamu, Miyano, tolong jangan membuat segalanya menjadi lebih sulit"

"Apa yang menjadi lebih sulit? Naluri detektif yang selalu tidak tenang kalau ada orang yang menyembunyikan rahasia darinya bukan? Detektif adalah manusia rendahan yang suka mengorek kesalahan dan rahasia orang lain walau rahasia itu tidak berguna baginya selain untuk kesenangan diri sendiri," sembur Shiho pedas.

Dia marah.

"Miyano. Bukan begitu maksudku. Aku sama sekali tidak peduli dengan rahasia orang lain. Tapi a—aku peduli padamu. Bukankah i—itu fungsi teman?"

"Sejak kapan kau menjadi temanku?"

"Miyano…"

"Lepaskan tanganku!"

Shinichi melepaskan cengkeramannya. Wajahnya tampak sengsara. Matanya menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk. Shiho menyadarinya dan menghela nafas.

"Maafkan aku," bisiknya hampir tak kedengaran.

Shinichi hampir tak percaya mendengarnya. Senyumannya kembali.

"Aku terima permintaan maafmu. Bagaimana kalau kita ke Tropical Park?" tanyanya dengan senyum berseri-seri. Shiho tak tega menghapus senyum itu jadi dia mengangguk.

Shinichi nyengir dan menepuk kedua tangannya.

"Kau akan balik ke Amerika tak lama lagi. Kita harus membuat kenangan yang indah bersama"

Shiho tersenyum ragu tetapi detektif itu membalas senyumannya dengan bersemangat.

.

.

.

Mereka seharian bersenang-senang di Tropical Park. Shinichi menggunakan segala ide yang mampu dipikirkannya untuk membuat Shiho senang. Dia tak tau kenapa dia berbuat begitu. Bukankah itu fungsi teman?

Dan kesenangan mereka sedikit terganggu karena ada kasus pembunuhan yang terjadi di salah satu café disana. Seperti biasa, Shinichi yang yakin dengan kemampuannya, menyeret Shiho bersamanya, menuju lokasi tkp dengan percaya diri. Disana sudah ada Inspektur Megure yang tampak senang melihat Shinichi datang membantunya. Shinichi seperti biasa mampu memecahkannya dengan cepat dan yang membuatnya kagum, kemampuan Shiho dalam hal forensik dan toksin.

"Tak kusangka kau tau banyak tentang curare, alkaloid, strychnine, sianida dan arsenic. Aku tau kau cewek jenius tapi kemampuanmu dalam hal forensik gak kalah dengan ahli FBI yang pernah kukenal ," ujarnya kagum.

"Huh. Kau pikir aku seperti cewek kebanyakan?" sindir Shiho.

Shinichi nyengir. Mereka sedang berjalan-jalan di salah satu sudut taman di Tropical Park. Dia menyelipkan kedua tangannya di saku celananya. Karena setiap melihat tangan gadis itu, tangannya refleks ingin menggenggamnya, mengaitkan jemarinya ke jemari gadis itu…

"Kudo, sepertinya sebentar lagi akan hujan. Kita sama sekali tidak membawa payung," gumam Shiho cemas sambil melihat ke atas langit.

Shinichi ikut melihat ke atas. "Aneh. Padahal cuaca barusan sangat cerah, tak kusangka bisa berubah dengan begitu cepat. Ayo kita mencari tempat berteduh dulu."

Tapi terlambat, tetesan hujan makin lama makin besar.

Shiho segera menaungi kepalanya dengan tangan. Mereka sedang berada di perempatan jalan setapak di seberang taman. Suasana saat itu benar-benar sepi karena semua orang kabur mencari tempat berteduh. Shinichi kemudian menarik tangannya menuju bawah pohon. Mereka berlari kecil dibawah rinai hujan. Lumayan sebagai tempat berteduh sejenak daripada basah kuyup kehujanan. Pohon ini cukup besar untuk menaungi mereka berdua dari terpaan air hujan.

Disana, Shinichi tak melepaskan genggamannya.

Mereka saling tersenyum ketika melihat keadaan masing-masing yang hampir basah kuyup.

"Kau ingat pertama kali kita bertemu, Miyano?" tanya Shinichi tiba-tiba.

Gadis itu menggangguk dan tersenyum kecil," Aku belum minta maaf karena menamparmu, Kudo…"

Shinichi tersenyum kecil mengingat kejadian itu.

Tangan gadis itu terangkat ragu sejenak kemudian menyentuh pipi Shinichi. Sentuhannya mengantarkan aliran listrik ke seluruh tubuh pria itu. Shinichi tertegun tak mampu bergerak.

Matanya menatap gadis itu tanpa berkedip. Jemari Shiho mulai lebih berani, dia membelai pipi pria itu lambat.

"Pipimu basah," ujar Shiho lembut.

Shinichi menggenggam tangan Shiho yang menempel di pipinya dan mencium telapak tangan gadis itu dengan perlahan.

Nafas Shiho terkesiap ketika merasakan bibir Shinichi pada permukaan kulitnya. Sekujur tubuhnya merinding.

Sentuhan tangannya menggetarkan tubuh masing-masing seperti kobaran api yang lembut. Membakar jiwa, menumpulkan pikiran dan hanya mengandalkan insting belaka.

Shinichi mendekatkan wajahnya. Pertama ragu lalu dia memberanikan diri. Hidung mereka nyaris saling bersentuhan.

Kemudian…

Bibir mereka bertemu. Pelan, perlahan dan tidak memaksa.

Dunia sekeliling menghilang. Suara hujan mengabur. Waktu terhenti.

Shinichi menciumnya dengan lembut.

Mereka bisa mendengar debaran hati, desahan nafas, wangi hujan yang membayang, wajah yang memerah, hangatnya sentuhan tangan satu sama lainnya…

Ciuman mereka terhenti.

…dan waktu kembali berjalan.

Mereka saling menatap.

"A—Aku..." gumam Shiho lemah. Kakinya terasa lemah tak mampu berjalan. Belum lagi hatinya berdebar dengan begitu cepat.

Shinichi mengambil nafas. Matanya masih berkilauan akibat efek ciuman itu.

"Shiho…" desahnya lagi.

Dia menyenderkan dahinya ke dahi Shiho dan menutup matanya. Menikmati momen setelah ciuman pertama mereka. Gadis itu membiarkannya.

Tarikan nafas Shinichi masih belum beraturan dan kedekatan fisik mereka membuatnya ingin menciumnya lagi, lagi dan lagi…

Ingin memetakan semuanya dalam ingatannya.

Ingin memakunya dalam memorinya.

Ini terasa nyata bukan seperti mimpi-mimpinya belakangan ini.

…..

"Kau mencuri ciuman pertamaku, Mr Stalker,"gumam Shiho mendadak.

Shinichi membuka matanya dan menatapnya lekat-lekat.

Dan aku akan mencuri ciuman keduamu, ketiga dan seterusnya.

Shinichi tersenyum kecil, kemudian dia memberanikan membelai rambut gadis itu dan memperhatikan helaian demi helaian di tangannya dengan seksama.

Shiho memerah melihatnya.

"Rambutku basah…"gumamnya.

Pria itu tak menjawab.

Kau tau, aku selalu menginginkan untuk melakukannya. Warna rambutmu sangat indah.

"Rambutku masih bau keringat dan basah karena air hujan…" ujar Shiho nervous.

Shinichi diam tak bereaksi. Matanya hanya fokus pada helaian rambut gadis itu yang terasa sangat lembut di tangannya.

"Kau mau menghabiskan waktu memegang rambutku, Kudo?"ujarnya sarkastik dengan pipi merona.

Shinichi tertawa malu. Dia cepat-cepat melepaskan rambut Shiho dan menggenggam tangan gadis itu.

"Panggil aku Shinichi karena aku ingin memanggilmu Shiho," ujarnya cepat.

"Tidak mau"

Shinichi menatapnya kesal,"Kenapa tidak mau?"

"Aku ingin memanggilmu Mr. Stalker untuk seterusnya," ejek Shiho.

Shinichi mencibir," Kau ini, selalu membuat segalanya lebih sulit."

"Suka-suka aku lah," ujar Shiho sambil tertawa.

Tawanya yang baru pertama kali ini terlihat membuat Shinichi terpesona melihatnya. Bibirnya sedikit terbuka dan dia menatap gadis itu tak berkedip.

"Hey, ngapain kau lihat-lihat. Ada yang kau suka, Mr. Stalker?" tanya Shiho sambil mengedipkan matanya.

"U—Uh… Tidak apa-apa,"gumam Shinichi tersipu malu sambil mengatupkan bibirnya. Matanya mengedar ke semua tempat kecuali gadis di depannya.

Shiho tertawa lagi.

"Kau tau, aku ingin mengetahui segalanya tentang kau. Segalanya. Setiap detail masa lalumu…" ujar Shinichi.

Shiho tersenyum,"Kapan-kapan akan kuberitahu jika sempat, Shinichi."

"Tentu saja sempat. Karena kita punya waktu untuk itu," kata Shinichi yakin. Shiho menggelengkan kepalanya dan menarik tangannya dari genggaman pria itu.

"Hujan sudah mulai agak reda. Ayo, kita pulang."

Shinichi mengerutkan alisnya tapi dia menangkap tangan gadis itu lagi dan menautkan jari-jarinya.

Kenapa gadis ini terasa begitu jauh dariku padahal secara fisik dia disampingku?

"Kenapa kau?" tanya Shiho ketika melihat wajah pria itu. Kali ini dia tak melepaskan genggaman tangannya lagi.

"Tidak apa-apa. Yuk. Kita pulang." Shinichi nyengir.

.

.

.

Shinichi tak bisa tidur malam itu. Dia bolak balik terus di tempat tidurnya. Semua kejadian sore itu masih terpampang jelas dalam ingatannya.

Aku bahkan belum menyatakan perasaanku pada Shiho. Apa dia menganggap ciuman itu hanya hal biasa? Apa dia punya perasaan yang sama denganku?

Gadis itu akan pergi ke Amerika dalam beberapa minggu lagi. Aku tak bisa bertemu lagi dengannya.

Sial. Aku tak mau memikirkannya sekarang.

Dan siapa pria itu yang bertemu dengannya tadi? Apa hubungannya dengan Shiho?

Shuichi Akai.

Siapa dia? Kenapa Shiho bereaksi begitu melihatnya?

Pertanyaan demi pertanyaan memutari pikiran Shinichi dan dia bertekad besok pagi akan ke rumah gadis itu dan mencari jawabannya. Dia tidak bisa tenang sebelum meyakinkan kalau gadis itu adalah miliknya.

.

.

.

DING DONG

Hakase membukakan pintu. Wajahnya sedikit terkejut melihat Shinichi. Detektif itu nyengir di depan pintu lengkap dengan seragam sekolahnya.

"Ada apa, Shinichi? Pagi sekali kau datang "

"Shiho ada?"

Hakase menaikkan alisnya mendengar detektif ini memanggil gadis itu dengan nama depannya tapi dia tak berkata apa-apa.

"Shiho-chan sakit demam. Dia baru saja tidur setelah makan obat barusan"

Shinichi cemas. Dia segera berlari menuju kamar gadis itu.

Dia mengetuk pintunya perlahan. Tak ada jawaban. Kemudian dia memutar kenop pintu dan masuk ke dalam.

Suasana kamarnya remang-remang walau ada sebagian cahaya matahari masuk. Shiho sedang tidur nyenyak. Nafasnya terdengar berat mungkin karena demamnya. Detektif itu berjalan pelan-pelan mendekatinya.

Shinichi menaruh tangannya ke dahi gadis itu. Panas. Kemudian dia merapikan selimutnya.

Apa dia demam karena terkena hujan? Sial. Gara-gara aku…

Detektif itu menarik salah satu kursi dan duduk menghadapi gadis itu. Matanya menatap sosok gadis itu terus.

Terdengar ketukan pintu dan Hakase masuk.

"Shinichi. Ran mencarimu. Kau tidak ke sekolah hari ini?"

"Ran? Katakan padanya kalau aku bolos hari ini,"ucap Shinichi tak tertarik. Tatapan wajahnya tak meninggalkan Shiho.

Ran yang mengikuti Hakase masuk, hatinya mencelos ketika melihat Shinichi duduk sambil memandang gadis yang sedang sakit itu. Hatinya terasa nyeri. Shinichi yang dikenalnya, tak pernah seperhatian ini pada seseorang…

"Shinichi…" gumamnya.

Shinichi mendengar suara Ran dan memalingkan wajahnya.

"Aku harus menjaga Shiho, Ran. Aku tidak pergi ke sekolah hari ini," lalu dia kembali menatap Shiho.

Ran mengerti. Dia meninggalkan kamar itu dengan Hakase.

Gadis itu diam-diam menghapus air matanya yang mulai muncul.

Dia tau, dia tau kalau Shinichi hanya menganggapnya sahabat…

Dia seharusnya tau, tau kalau gadis itu telah merebut Shinichi darinya.

Bagaimana bisa seorang gadis yang entah darimana datangnya merebut Shinichi darinya?

Dia yang telah mengenal Shinichi sepanjang hidupnya. Dia yang lebih memahami hati pria itu dari siapapun.

Aku tidak akan menyerah…

.

.

.

Shiho bergerak sedikit dalam tidurnya. Sepertinya dia mengalami mimpi buruk. Dia terus menggumam hal-hal tak jelas. Shinichi segera mendekatkan wajahnya. Cemas.

"Nee-chan… aku tak berniat menipumu… nee-chan…"

"Shiho…" gumam Shinichi pelan.

"Aku tidak..tidak..punya hubungan apa-apa dengannya…" gumam Shiho lagi tanpa sadar.

Shinichi membelai dahi gadis itu yang penuh keringat. Matanya masih tertutup namun terlihat bergerak-gerak dalam lipatan dengan gelisah.

"Shuichi…"desah Shiho dalam mimpinya lagi.

Alis wajah Shinichi terangkat mendengarnya lalu..

"Shuichi… aku mencintaimu…"gumamnya hampir tak terdengar.

Detektif itu merasa seperti ribuan truk menghantam tubuhnya dengan telak. Wajahnya shock tak percaya. Tangannya terasa gemetaran sekarang.

Jantungnya berdebar begitu kencang.

Shiho tidak mencintaiku. Dia tidak mencintaiku.

Tidak.

Pria itu Shuichi.

Jadi apa arti ciuman itu?

Shiho…

.

.

.

To be continued…


AN : Thanks untuk didiong, ichirukilover, Gouto Chiaki, guest, guest, wirna, marutaro, hisazu-chan, Shinichi Miyano, gery o donut, g, kim taeyon, sitidalfalailatulfitrohna, zara zaneta, renesmee, gen shishio, aishanara87 untuk reviewsnya.

kim Taeyon : Umm, kayaknya semua penggemar DC tahu kalo Shinichi-Ran itu canon dan sepertinya pasti akan berakhir bersama kecuali Gosho berubah pikiran di saat-saat terakhir. Btw, Museum Conan di Japan sana sampai ada patung Conan dengan Ran yang bergandengan tangan. Padahal gw pengennya Conan dan Ai yang berpelukan #eaaaa

Zara zaneta : Menurut teori yg gw baca di DCTP forum, nama asli Gin itu Jin Kurosawa {tertera di samping nama Shiho Miyano di kasus putri duyung} tp berhubung gw fansnya Jin Akanishi {personel Kat-Tun} dan dia cute banget, gw pake nama dia haha

Aishanara87 : betul, Shiho aslinya sangat arogan dan sarkas. Dia salah satu karakter yang paling gw suka. Coba bayangin aja, dia dibesarkan dari kecil di organisasi paling berbahaya tentu saja dia pragmatis, realistis, dan menjaga jarak dengan orang-orang sekitarnya karena dia tak ingin orang terluka karenanya. Yang hebatnya dia masih punya hati yang emas, rela berkorban, cewek yang paling tidak egoist di fandom DC yang mungkin kalau tokoh2 wanita lain yang berada di posisinya akan menjadi kejam dan tak punya hati nurani. {gw ga tahan kalo lihat penulis fanfic lain menulis tentang dia yang egois, kekanak-kanakan, mau menang sendiri, berarti mereka sama sekali gak menyelami sifat Ai sesungguhnya}

Ai Haibara adalah epitomi wanita tangguh di DC {bukan secara fisik} karena gw merasa bisa belajar banyak dari sifat dia. Dia juga bukan tipe cewek yang tergantung sama cowok {dalam hal ini Ran, gw gak tau apa yang dia lakukan kalau ga ada Shinichi}, mandiri, rela mengorbankan diri dan perasaannya demi orang yang disayanginya. Satu-satunya kesalahannya adalah membuat APTX 4869 yang merupakan warisan orang tuanya. Yah, dia ga punya pilihan lain, bukan?

Loh, kok malah curhat XD

Menurut gw, hubungan Shinichi-Ran manis pada awalnya tetapi yg akan saling menghancurkan kalau bertahan lama. Seperti hubungan Kogoro-Eri. Sedangkan hubungan Conan-Ai akan saling mendukung, memahami, menyembuhkan satu sama lainnya dan akan awet sampai tua. Sayangnya Gosho udah terlambat mengubahnya. Jadi untung ada fanfiction. HEHEHE.

Seee yaa. Tinggal dua chapter ini. :D