Dating With The Dark
Remake Novel dengan Judul yang sama
Karya Shanty Agatha
Cast
Park Jimin
Min Yoongi
Kim Namjoon
Kim Taehyung
Jung Hosoek
Choi Siwon
Other Cast temukan langsung didalamnya :D
Warning :
OOC, Gs, Mature Content
Rate T – M
Note: Rate mulai naik~^^
Don't like don't read!
.
.
.
Bab 3
Yoongi berada di sebuah kamar, nuansa kamar itu berwarna keemasan. Sprei sutera yang lembut berwarna putih terasa begitu nikmat membelai kulitnya, dia mendesah dan menggeliat dalam kepuasan, hadiah dari tidurnya yang nyenyak Yoongi membuka matanya dan merasa bingung, kamar ini bukan kamarnya.
Kamar ini begitu indah dengan nuansa putih dan keemasan, dan dia sama sekali tidak mengenalnya. Yoongi semakin mengernyit ketika merasakan lengan kekar yang berat, melingkar di pinggangnya.
Lengan seorang lelaki?
Yoongi berjingkat hendak duduk, tetapi lengan lelaki itu menahannya. Lembut tetapi dominan.
Sedetik Yoongi merasa sangat ketakutan, tetapi lengan itu bergerak naik dan jemarinya membelainya dengan lembut...lembut dan menggoda...salah satu ujung jemari lelaki itu menelusuri permukaan lengan Yoongi dengan sentuhan seringan bulu, kemudian kepala lelaki itu menunduk dan menghadiahkan sebuah kecupan di pelipis Yoongi.
Yoongi mengernyit, berusaha melihat wajah lelaki itu, tetapi suasana kamar yang temaram membuat wajahnya samar-samar. Tiba-tiba saja tubuh lelaki itu sudah menindihnya, dan kemudian dengan gerakan mulus yang menggoda, seolah-olah dia sudah melakukan ratusan kali kepadanya, lelaki itu meluncurkan kejantanannya yang menegang keras dan panas, memasuki diri Yoongi. Yoongi terkesiap sekaligus merasakan nikmat yang luar biasa, kenikmatan yang sangat lama dirindukannya, kenikmatan ketika tubuhnya menyatu dengan lelaki itu, merasakan sensasi panas yang nikmat menjalari seluruh tubuhnya, kakinya dengan reflek melingkari pinggul lelaki itu sekuatnya, mendorong lelaki itu membenamkan dirinya semakin dalam ke dalam ke dalam dirinya.
Lelaki itu mengerang, erangan yang dalam dan parau, lalu menggerakkan tubuhnya, membuat Yoongi terkesiap lagi ketika kenikmatan yang dalam itu menghujam tubuhnya, gerakan lelaki itu semakin cepat dan semakin menggoda, membuat tubuh Yoongi semakin panas dan napasnya terengah. Ada sesuatu yang akan meledak di dalam tubuhnya, seperti ombak bergulung semakin lama semakin cepat, napas Yoongi semakin terengah panas, dan gerakan lelaki itu semakin cepat, semakin intens dan dalam, membawa Yoongi semakin cepat menuju pelepasannya.
Yoongi mengerang, merasakan kenikmatan itu meledak ke dalam tubuhnya, jemarinya mencengkeram punggung telanjang lelaki itu kuat-kuat. Punggung basah lelaki itu melengkung dibarengi dengan erangan dalamnya, ketika dia menenggelamkan dirinya semakin dalam dan menikmati pelepasannya sendiri, yang terasa begitu panas, menyirami tubuh Yoongi, jauh di dalam sana.
Napas mereka terengah-engah. Lelaki itu masih menindih tubuhnya, sementara Yoongi masih terbuai oleh sensai nikmat yang melingkupinya, sensai nikmat setelah orgasmenya yang luar biasa. Lelaki itu lalu mengecup pelipisnya lagi, kemudian berbisik pelan di telinganya, bisikan lembut yang seolah-olah dihembuskan dari kegelapan.
"Apakah engkau merindukanku, Yoongi?"
.
.
Yoongi terkesiap kaget dan langsung terduduk. Dia membuka matanya lebar-lebar dengan napas terengah-engah dan tubuh berkeringat. Dia berada di kamarnya sendiri, yang gelap dan temaram karena masih dini hari. dan dia sendirian.
Mimpi itu tadi... Yoongi menghela napas panjang. 'Oh Astaga, kenapa dia bermimpi erotis seperti itu?'Bercinta dengan lelaki yang tidak dikenalnya, dan sekarang dia merasakan pangkal pahanya lembab dan basah. Pipi Yoongi terasa panas sehingga dia merasa perlu menekannya dengan jemarinya.
'Apakah dia menyimpan pikiran kotor di benaknya?' Sehingga tanpa sadar pikiran kotor itu termanifestasi di dalam mimpinya. Oh astaga... Yoongi merasa malu sekali. Tetapi mimpi tadi terasa begitu nyata... dan bahkan masih meninggalkan jejak kenikmatan di dalam dirinya...
Tiba-tiba Yoongi merasa haus, dia melangkah berdiri dan berjalan dengan hati-hati ke dapur, mengambil segelas air dari dispenser dan menegukkanya dengan rakus. Tubuhnya masih terasa menggelenyar, tak tahu kenapa. Suara lelaki itu masih membayang jelas dalam mimpinya, serak dan menggoda dengan logat yang aneh dan khas...
Ya ampun, Yoongi harus membuang pikiran-pikiran itu. Mungkin ini hanyalah manifestasi dari alam bawah sadarnya yang merindukan romansa. Yoongi mengisi gelasnya lagi kemudian meneguknya sampai habis, setelah itu dia termenung dalam kegelapan..
.
.
.
Ketika sedang jam istirahat di kantor, Yoongi membuka-buka beberapa Artikel menyangkut mimpi erotis yang dialami wanita. Ada sebuah artikel yang menarik perhatiannya.
Bahwa kadangkala perempuan juga mengalami mimpi erotis akibat dorongan alam bawah sadarnya, hampir sama seperti mimpi basah pada laki-laki, hanya kalau mimpi basah pada laki-laki diakibatkan oleh pembuangan secara otomatis jumlah sperma yang seharusnya memang dikeluarkan secara berkala, mimpi erotis pada perempuan diakibatkan oleh pelepasan ketegangan seksual yang lama tak tersalurkan.
Yoongi mengernyit dan membaca artikel itu semakin dalam.
Pernahkah anda mengalami mimpi erotis? Para psikoanalisa percaya bahwa mimpi erotis itu sesungguhnya adalah refleksi dari apa yang kita kagumi dan kita rasakah dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan ketika kita merasa suka atau rindu kepada seseorang, maka otomatis orang itu akan hadir dalam mimpi kita. Ketika kita mengalami mimpi erotis maka imajinasi kita sedang terstimulasi, atau menurut Sigmund Freud, otak kita sedang menciptakan skenario
untuk memuaskan hasrat dan gairah bawah sadar. Jika mimpi erotis anda melibatkan penetrasi seksual, itu berarti dalam kehidupan nyata anda kurang mengalaminya atau libido anda kurang mendapatkan pelampiasan. Pada kebanyakan kasus, mimpi erotis adalah hal yang alami, bahkan perlu untuk memenuhi kebutuhan psikologis sebagai manusia.
Yoongi menghela napas panjang dan mengulang membaca baris demi baris. Pipinya memerah ketika memahami bahwa mimpi erotisnya kemungkinan karena libidonya kurang mendapatkan
pelampiasan...astaga...apakah dia mempunyai gairah yang tinggi tanpa sadar?
Selama ini seks tidak pernah menjadi hal penting dalam kehidupan Yoongi, dia terlalu sibuk untuk memikirkan seks, karena itulah mimpinya yang semalam terasa aneh baginya, begitu jelas, begitu eksplisit. Lagipula kenapa dia bermimpi bercinta dengan pria asing? Di artikel itu dikatakan kalau biasanya mimpi kita menyangkut orang yang kita sukai atau orang yang kita rindukan.
Bukankah kalau dia memang akan bermimpi erotis partnernya adalah Namjoon?
Pipi Yoongi langsung memerah dan terasa panas, dia merindukan Namjoon...lelaki itu sudah keluar kota dari dua hari yang lalu dan jarang memberikan kabar, Yoongi menahan diri untuk tidak menghubungi ponsel Namjoon terus menerus...tetapi memang kadangkala dia bertanyatanya bagaimana kabar Namjoon, bagaimana kabar saudaranya yang sedang sakit itu, dan kenapa Namjoon jarang menghubunginya.
Sebuah tepukan di bahunya membuatnya menoleh dan tersenyum, Sulli berdiri di belakangnya sambil mengangkat alis melihat layar komputer Yoongi.
"Mimpi erotis?" suaranya tampak menahan tawa hingga Yoongi setengah membalikkan tubuhnya dan memukul lengan sahabatnya itu supaya tidak menarik perhatian. Dengan malu Yoongi menutup halaman artikel itu dan menyiapkan diri, Sulli pasti akan banyak bertanya. Sahabatnya itu tak akan puas kalau belum mengejar informasi tentang hal yang sekecil-kecilnya.
"Kau bermimpi erotis?" Sulli menarik kursi beroda dari meja sebelah yang kosong, saat ini jam istirahat dan banyak yang makan di luar sehingga suasana lengang. Syukurlah. Kalau tidak Yoongi akan merasa sangat malu ketika Sulli memekikkan kata 'mimpi erotis' tadi.
Yoongi menatap Sharon dengan pipi merona, "Aku tidak pernah mengalaminya sebelumnya." Bisiknya pelan. Sulli terkekeh, "Jangan bersikap seolah-olah itu dosa besar Yoongi, wanita normal boleh-boleh saja mengalami mimpi erotis."
"Tetapi aku tidak pernah berpikiran jorok sebelumnya, dan aku bermimpi dengan orang asing..."
"Kadang aku juga bermimpi berpasangan dengan artis-artis bule yang kekar dan tampan." Sulli memutar bola matanya. "Mimpi itu adalah kebebasan imaginasi, kita tidak bisa mengaturnya Yoongi."
"Kau mengalaminya juga?" Yoongi menatap Sulli penuh ingin tahu, membuat Sulli tertawa. "Kadang-kadang." Gumamnya sambil mengedipkan mata, membuat Yoongi makin penasaran. Yoongi membuka mulutnya untuk bertanya lagi, tetapi ekspresi Sulli berubah serius dan mengalihkan pembicaraan,
"Apakah kau tahu tentang bos besar yang akan datang?"
"Bos besar?" kali ini Yoongi merasa bingung, dia sama sekali tidak pernah tahu informasi ini.
"Memang tidak disebarkan, aku tahu ketika mendampingi Mr. Jung meeting bersama direksi kemarin, mereka membahas akan kedatangan bos baru dari kantor pusat untuk meninjau selama beberapa waktu."
Perusahan mereka adalah perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Jerman. Salah satu pemegang saham terbesar adalah pemegang tertinggi perusahaan dari Korea, dari keluarga Kim. Dan perusahaan tempat Yoongi bekerja adalah kantor cabang yang berlokasi di luar kota. Yoongi pernah mendengar kalau Kim Kangin, seorang pengusaha yang sangat disegani karena naluri bisnisnya yang selalu membawanya dalam kesuksesan, adalah orang nomor satu di perusahaan mereka di Korea.
"Apakah Kim Kangin yang terkenal itu yang akan datang?" Hati Yoongi berdegup kencang, meskipun lelaki itu adalah bos tempat di perusahaan tempat dia bekerja, tetapi Yoongi tidak pernah melihatnya secara langsung, dia hanya pernah melihatnya di artikel-artikel bisnis yang menceritakan betapa jeniusnya Kim Kangin, dan dalam fotonya dia tampak sangat tampan meskipun usianya sudah setengah baya. Yoongi mengagumi Kim Kangin apalagi dari artikel yang dibacanya, dia tahu bahwa lelaki itu adalah seorang family man, yang sangat setia kepada keluarganya.
Tetapi ternyata Sulli menggelengkan kepalanya, "Bukan sang Ayah yang akan datang, tetapi sang anak."
"Sang anak?" Yoongi mengernyitkan keningnya. "Ayolah Yoongi, masak kau tidak pernah mendengar tentang Kim Taehyung?"
Kim Taehyung. Sang pangeran dalam dinasti keluarga yang terkenal itu. Yoongi tahu, bahwa lelaki itu digambarkan sangat tampan seperti malaikat. Tetapi sepertinya sikapnya tidak setampan wajahnya. Lelaki itu dalam semua artikel digambarkan sangat kejam, keras kepala dan angkuh luar biasa, jauh sekali dari Ayahnya yang terkesan bijaksana.
"Aku harus ke salon dan meng highlight rambutku." Sulli menepuk-nepuk rambutnya sambil tertawa, "Bayangkan bos yang setampan itu mengunjungi kantor cabang kita." Yoongi tersenyum miris, "Kudengar dia seorang playboy."
"Tentu saja. Lelaki setampan itu haruslah menjadi playboy." Sulli terkekeh geli, "Meskipun aku kurang yakin dia akan melirik pegawai-pegawai seperti kita mengingat pergaulannya di kalangan jet set. Tetapi setidaknya aku akan berusaha." Sulli bergumam ringan lalu berdiri dari kursi putarnya, "Makan yu, jam istirahat sudah hampir habis, aku lapar." Yoongi menganggukkan kepalanya, mengikuti langkah Sulli menuju kantin kantor.
.
.
Ternyata malam ini Yoongi harus lembur. Dia menghela napas panjang sambil berkali-kali menengok ke arah kiri, tempat dimana bus yang ditunggunya seharusnya muncul. Seharusnya bus itu sudah datang setengah jam yang lalu. Tetapi ini sudah hampir jam sepuluh malam dan bus itu belum tampak juga. Suasana di halte bus itu gelap dan menakutkan, membuat Yoongi merasa tidak nyaman.
Dia memeluk tubuhnya sendiri ketika hawa dingin menerpanya, membuat bulu kuduknya merinding. Udara semakin dingin ketika rintik-rintik hujan mulai turun. Membuat Yoongi semakin cemas. Dia bisa saja menunggu taxi, tetapi bahkan di malam yang senyap ini tidak ada taxi lewat, sementara pengendara kendaraan hanya lalu lalang dengan jarang, sepertinya malam yang dingin dan hujan rintik-rintik membuat orang malas keluar rumah.
Lalu dari sudut matanya Yoongi menangkap segerombolan orang berjalan ke arahnya, ketika semakin dekat, Yoongi cemas karena itu adalah segerombolan pemuda dengan dandanan tidak jelas, tindik di sana sini dan tato yang menghiasi bagian-bagian tubuh.
Yoongi beringsut mulai merasa tidak nyaman. Dia hendak melangkah pergi ketika seorang lelaki dari gerombolan itu menyadari apa yang akan dia lakukan dan tiba-tiba memutuskan
menghalangi jalannya. Yoongi di hadang dari semua sisi, membuatnya bersikap defensif dengan memeluk tasnya di dadanya.
"Mau kemana nona malam-malam begini?" lelaki dengan tindik dihidungnya itu menatapnya dengan tatapan melecehkan, "Kau tidak mau menemani kami dulu?"
Yoongi memelototkan matanya, berusaha tampak galak dan marah, dia hendak melangkah maju, tetapi lelaki itu menghalangi semua jalannya sambil tersenyum melecehkan. Teman-temannya dibelakang Yoongi tampak terkekeh menertawakan.
Yoongi merasa takut, panik dan takut, gerombolan lelaki itu ada kira-kira tujuh orang. Suasana sangat sepi dan lalu lalang kendaraan sangat jarang, kepada siapa dia bisa meminta tolong? Lagipula semua lelaki ini tampak jahat, bahkan ada beberapa yang menatap bagian-bagian tubuhnya dengan nafsu yang tidak disembunyikan.
"Nah Nona...lagipula kau kan tidak bisa kemana-mana, ayo kau temani kami saja." Lelaki yang sepertinya pemimpin gerombolan itu tiba-tiba mencekal tangannya dengan kasar, membuat Yoongi menjerit dan berusaha melepaskan cekalan tangan itu. Semuanya tertawa melihat tingkah dan jeritan Yoongi, seolah-olah menikmati melihat wanita meronta dan ketakutan.
"Lepaskan dia!"
Sebuah suara dingin yang begitu tenang tiba-tiba saja terhembus dari kegelapan. Nadanya begitu intens dan mengancam, sehingga sang pemimpin gerombolan yang sedang mencekal tangan Yoongi tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Mereka semua menoleh, begitupun Yoongi, dan menemukan seorang lelaki bertubuh tinggi memakai mantel hitam yang membungkus tubuhnya, membuat kesan angkernya makin terasa, wajah lelaki itu tidak jelas karena tertutup bayang-bayang kegelapan dari pohon besar di samping dia berdiri.
"Bung! Carilah mangsa sendiri, jangan ambil gadis kami, kami yang menemukannya duluan." Lelaki pemimpin gerombolan itu rupanya memutuskan untuk menantang. Membuat Lelaki misterius bermantel hitam itu melangkah maju dan ketika mendekat, ekspresi wajahnya yang kejam rupanya berhasil membuat lelaki pemimpin gerombolan itu kecil hati karena pegangannya di lengan Yoongi agak mengendor.
"Lepaskan tangan kotormu dari perempuanku." Lelaki misterius bermantel hitam itu bahkan tidak membentak, dia hanya mendesis pelan dan penuh ancaman. Tetapi bahkan Yoongi yang bukan menjadi pusat ancaman lelaki itu merasa merinding ketakutan. Demikian halnya pula dengan lelaki pemimpin gerombolan itu dan teman-temannya. Pada awalnya sepertinya dia memutuskan untuk melawan, tetapi entah kenapa kemudian dia memutuskan untuk menyerah, dilepaskannya cengkeraman tangannya di lengan Yoongi dengan kasar.
"Silahkan ambil kalau kau mau!" serunya kasar, lalu terbirit-birit melangkah pergi diikuti oleh gerombolannya. Yoongi menarik napas lega melihat gerombolan itu menjauh, dia memijit pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram dengan kasar, rasanya sakit dan sepertinya akan memar.
"Kau tidak apa-apa?" Nada suara lelaki itu tenang, membuat Yoongi mendongakkan kepalanya seketika dan langsung bertatapan dengan mata cokelat yang gelap dan dalam. Lelaki di depannya sangat tampan dan jelas-jelas diwajahnya terlihat jika dia berasal dari perpaduan dua negara, tetapi dia sangat fasih mengucapkan kata-kata dalam bahasa sini, hanya menyisakan sedikit logat yang malahan menimbulkan kesan misterius yang seksi.
Seksi? Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya, ada apa dengan otaknya. Kenapa satu hari ini dia selalu menghubungkan segalanya dengan hal-hal mesum? Tetapi dia teringat apa yang dikatakan lelaki itu, dia tadi menyebut Yoongi sebagai 'perempuanku' sungguh kata-kata yang menyiratkan arti dominan dan kepemilikan seorang lelaki, dan itu terasa sangat seksi ketika diucapkan.
Yoongi menghela napas panjang, tentu saja Yoongi tahu bahwa lelaki itu tidak sungguh-sungguh dengan perkataannya, mungkin lelaki itu hanya ingin menegaskan maksudnya dan menggertak pemimpin gerombolan itu.
"Saya tidak apa-apa, terima kasih." Yoongi memutuskan bahwa lelaki ini bukan lelaki jahat, dia tidak berusaha mendekati Yoongi dan hanya menatapnya dari sudut yang agak jauh, "Kalau tidak ada anda yang membantu saya, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada saya tadi." Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Bukankah cukup berbahaya berdiri sendirian di sini saat sudah larut malam?"
Yoongi tersenyum menyesal, "Ada pekerjaan lembur di kantor yang memaksa saya pulang paling malam dibandingkan yang lain..bus yang saya naiki biasanya sudah muncul beberapa waktu lalu, tetapi entah kenapa bus itu tidak datang...mungkin saya sekarang akan naik taxi."
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, "Pastikan kau menaiki taxi yang aman." Dia lalu berdiri sejajar dengan Yoongi.
"Aku akan menunggu di sini sampai kau mendapat taxi."
"Oh." Yoongi menatap lelaki itu dengan terkejut, meski ada kelegaan yang tidak bisa ditekannya ketika mengetahui lelaki itu akan menungguinya. Setidaknya dia bisa menunggu taxi dengan rasa aman dan tidak was-was kalau lelaki itu berdiri di sebelahnya.
"Anda tidak perlu melakukan itu, mungkin ada keperluan lain yang lebih penting yang harus anda lakukan. "Gumam Yoongi berbasa basi. Lelaki itu menampakkan senyum tipis di kegelapan, "Tidak ada kegiatan lain yang lebih penting yang perlu kulakukan."
"Oh." Yoongi terdiam, kehabisan kata-kata, "Kalau begitu terima kasih."
"Sama-sama." Jawab lelaki itu datar, dan entah kenapa ada senyum tersembunyi di sana.
Mereka berdua berdiri dalam keheningan, entah berapa lama karena tidak ada taxi yang lewat. Rintik-rintik hujan semakin besar menerpa mereka, membuat mereka memundurkan langkahnya ke dalam naungan atap halte, mencoba melindungi kepala mereka, meskipun tubuh mereka tetap saja terkena terpaan air hujan.
Yoongi memeluk tubuhnya lagi dengan lengannya untuk melindunginya dari udara dingin yang menggigit, dan lelaki itu sepertinya menyadari kedinginan Yoongi, karena tiba-tiba dia melepaskan mantel hitamnya yang tebal dan meletakkannya dengan lembut di bahu Yoongi.
"Ini akan membuatmu hangat." Gumam lelaki itu lembut. Yoongi mendongakkan kepalanya, menatap mata lelaki itu, "Tapi kau akan kebasahan dan kedinginan."
"Aku seorang laki-laki, aku lebih kuat." Lelaki itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, menciptakan perpaduan wajah yang sangat mempesona. Yoongi baru menyadari betapa tampannya lelaki yang berdiri di sebelahnya ini, tulang rahangnya kokoh dan keras, dengan bibir tebal yang sedikit lancip di ujungnya, dan matanya tampak begitu tajam dan gelap, dilindungi oleh bulu mata panjang yang tak kalah gelap.
"Terima kasih." Bisik Yoongi kemudian, tidak tahu lagi harus mengucapkan apa. Dia melihat lelaki itu menganggukkan kepalanya sambil lalu. Dan kemudian mereka berdiri dalam keheningan lagi, dengan rintik hujan yang semakin deras menerpa mereka, tetapi kali ini ada
kehangatan beraroma kayu-kayuan dan musk yang samar-samar...
sepertinya berasal dari parfum lelaki itu.
Lalu di ujung jalan sana, seperti kedatangan penyelamat, taxi berwarna biru itu tiba-tiba muncul, Yoongi langsung melambaikan tangannya dengan penuh semangat sehingga taxi itu menepi di depannya, dia mendongak dengan penuh syukur kepada penolongnya yang misterius.
"Terima kasih." Bisiknya pelan penuh perasaan. Lelaki itu mengangguk, membukakan pintu taxi untuk Yoongi, dan menunggu Yoongi melangkah masuk dan duduk di dalam taxi.
"Hati-hati." Bisik lelaki itu dengan suara dalam, lalu menutup pintu Taxi itu. Yoongi masih menoleh kebelakang, melihat lelaki itu masih berdiri di halte itu, dengan latar belakang kegelapan, sampai kemudian lelaki itu hilang dari pandangan. Dan kemudian Yoongi menyadari bahwa dia masih mengenakan mantel hitam lelaki itu.
.
.
Ketika Yoongi sampai ke rumah, hujan telah turun dengan derasnya menghujam bumi dengan suara keras dan hempasan air yang bertalian dengan angin. Taxi itu berhenti di depan rumahnya, dan setelah membayar, Yoongi berlari-lari kecil menembus hujan menuju teras rumahnya. Seluruh kepalanya basah kuyup, tetapi tubuhnya terlindung oleh mantel tebal penolong misteriusnya tadi sehingga bisa tetap kering, meskipun mantel itu sekarang basah kuyup dan menetes-neteskan air ke lantai terasnya.
Yoongi mengibaskan rambutnya yang basah dan berusaha mencari kunci rumahnya, dia ingin cepat masuk dan mengeringkan diri, mungkin sambil membuat secangkir susu cokelat hangat untuk diminum. Sebenarnya Yoongi lebih memilih secangkir kopi, tetapi kopi membuatnya tidak bisa tidur, sementara Yoongi harus tidur cukup malam ini. Dia membuka pintu dan melangkah masuk, kemudian mengunci pintu di belakangnya.
Dilepaskannya mantel yang sekarang berat dan basah karena hujan itu dan dipeluknya, aroma kayu-kayuan dan musk masih melingkupinya, membuatnya merasa nyaman. Yoongi berjalan ke arah dapur dan meletakkan mantel itu ke cucian. Dan kemudian dia menyadari bahwa dia tidak tahu apapun tentang penolong misteriusnya itu, bahkan namanya saja dia tidak tahu.
Lalu bagaimana dia akan mengembalikan mantel ini? Mantel ini kelihatannya sangat mahal dan dijahit khusus. Yoongi memang kurang mengerti merek pakaian laki-laki, tetapi dari sentuhan bahannya dan jahitannya, kelihatan sekali kalau mantel ini sangat mahal.
Dan sekarang Yoongi tidak bisa mengembalikan mantel itu. Yoongi merenung, lalu mulai begidik kedinginan hingga dia memutuskan untuk melupakan dulu masalah mantel itu, akan dia pikirkan nanti. Diambilnya handuk yang tersampir di sana, dan digosokkannya ke rambutnya yang basah. Mandi pancuran air hangat terasa sangat menggoda.
Yoongi melepaskan semua pakaiannya, membiarkan semuanya jatuh ke lantai, dan melangkah telanjang ke arah kamar mandinya dengan pancuran air hangatnya. Pertama kali air hangat itu terasa menyengat di tubuhnya yang menggigil kedinginan, tetapi kemudian setiap kucurannya seperti memijat tubuhnya, membuat otot-ototnya terasa lemas. Tak lupa Yoongi mencuci pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh pemimpin gerombolan tadi. Dia mengamati lengannya dan menemukan bekas merah di sana, sedikit perih, tetapi semoga saja tidak menjadi memar. Kalau sampai terjadi memar, Yoongi harus menyiapkan baju lengan panjang untuk bekerja besok supaya memar itu tidak terlihat oleh orang lain.
Selesai mandi, Yoongi mengenakan gaun tidurnya yang tersampir di lemari baju di luar kamar mandi. Gaun tidur itu bukan gaun tidur yang seksi, terbuat dari bahan katun yang nyaman berwarna hijau muda, dengan gambar bunga-bunga kecil di sakunya yang ada di bagian depan baju. Gaun tidur Yoongi tidak ada yang seksi, toh memang tidak ada perlunya berpenampilan seksi sebelum tidur karena Yoongi memang selalu tidur sendirian.
Yoongi menguap menahan kantuk, tetapi tetap memutuskan untuk membuat secangkir susu cokelat hangat supaya perutnya tenang. Dia tidak sempat makan malam lagi, dan ini sudah terlalu larut untuk makan apapun. Secangkir susu cokelat hangat pastilah cukup. Ketika cangkir berisi susu hangat itu sudah jadi, Yoongi duduk di meja dapur dan meneguknya, dia merasa sangat mengantuk. Sangat mengantuk dan lelah. Yoongi menguap lagi, dan merebahkan kepalanya di atas meja dapur. Lalu dia tertidur.
.
.
.
Jimin memutuskan untuk menarik kursi dan duduk diam mengawasi. Dia sekarang berada di dapur di dalam rumah Yoongi yang bisa dia masuki dengan mudahnya. Tadi dia mengira Yoongi sedang tidur pulas di kamarnya, tak disangkanya perempuan itu malahan tertidur dengan posisi tidak nyaman di meja makan dapurnya dengan kepala tertelungkup di sana. Jimin mengamati sejenak dan cukup yakin kalau Yoongi tidak akan terbangun karena tampaknya tidurnya sangat lelap.
Dia kemudian duduk dan mengamati Yoongi, dalam cahaya lampu dapur yang remang-remang.
Tidak bisa menahan dirinya, jemarinya menyentuh untaian rambut Yoongi yang halus, dan kemudian menundukkan kepalanya untuk menghirup aromanya, aroma shampoo strawberry di rambut yang masih setengah basah itu. Jimin tadi mengikuti taxi Yoongi pulang, menyuruh supirnya menunggu di sudut jalan ke rumah mungil Yoongi sementara dia duduk diam di jok belakang dan menanti. Ketika dia yakin bahwa Yoongi sudah tidur, Jimin menyelinap masuk, sebenarnya ingin meninggalkan pesan yang sama untuk Yoongi di meja dapurnya.
Sembilan buah lilin berwarna biru dengan cahaya remang-remang yang menyiratkan pesan penuh arti, dan dia lalu akan mengambil Yoongi, dengan tenang dan cepat seperti biasanya ketika dia melakukannya kepada yang lain.
Tetapi dia kemudian mengurungkan niatnya demi menatap Yoongi yang terpejam dalam damai.
'Bukan sekarang waktunya'. Jimin menyimpulkan dalam hati. Gadis ini mungkin pantas menikmati hidupnya lebih lama, hidup yang diciptakan untuknya dalam drama penuh kebahagiaan dan mimpi bagi seorang perempuan. Jimin berdiri, lalu mengangkat tubuh Yoongi yang lunglai karena pulasnya tidurnya, dan membawanya ke kamar. Dibaringkannya tubuh Yoongi dengan lembut ke atas ranjang, layaknya seorang pangeran dalam adegan-adegan romantis puteri raja.
Setelah itu diselimutinya tubuh Yoongi, perempuan itu menggeliat sedikit, lalu setelah menemukan posisi yang nyaman, dia berbaring dengan tenang. Semakin terlelap dalam tidurnya. Jimin berdiri di sana dan mengamati. Dorongan untuk mengambil Yoongi terasa begitu kuat dan menyiksanya. Menyisakan kepahitan kental yang mendera jiwanya. Tetapi dia menahan diri. Demi Yoongi, agar perempuan itu bisa menikmati hidupnya sedikit lebih lama lagi, sebelum Jimin memecahkannya menjadi hancur dan berkeping-keping.
.
.
Sinar matahari menyelinap melalui gorden warna peach di kamarnya, membuat Yoongi menggeliat dan mengernyitkan keningnya, dia membuka mata dan setengah bingung menyadari bahwa dia berada di atas tempat tidurnya.
'Kapan dia pindah kemari?' Ingatan terakhirnya adalah meminum secangkir susu hangat di meja dapurnya, sepertinya dia tertidur di sana,ataukah dia salah? apakah saking mengantuknya Yoongi tidak menyadari bahwa dia berjalan menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur?
Yoongi lalu melangkah turun dari ranjang dan berjalan hati-hati menuju dapur. Dapurnya sepi, seperti biasanya, cahayanya masih remang-remang karena gordennya tertutup rapat. Yoongi membuka gorden, membiarkan sinar matahari masuk, matanya menoleh ke arah gelas susu cokelat di mejanya yang masih setengah lebih, dibuangnya susu cokelatnya ke wastafel dan dicucinya gelasnya. Kemudian mata Yoongi mengarah kepada mantel hitam itu, teringat akan kenangan semalam, sosok misterius yang ternyata membekas di benaknya.
.
.
"Pagi ini dia akan datang!" Sulli menghampiri meja Yoongi dan berbisik dengan bersemangat. "Siapa?" Yoongi mengerutkan keningnya, dia barusan memeriksa ponselnya dan tetap saja tidak ada pesan dari Namjoon.
'apakah Namjoon sebegitu sibuknya sampai tidak sempat mengabari dirinya?'
"Kim Taehyung." Sulli benar-benar tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya, "Apakah kau tahu dia baru saja putus dengan model Jepang itu? Sekarang dia melajang." Yoongi terkekeh, "Sekalipun dia melajang, orang yang akan mengisi posisi pacarnya nanti pastilah bukan dari kalangan kita-kita." Gumamnya pelan. Sulli menganggukkan kepalanya setuju sambil ikut terkekeh, "Yah tetapi bagaimanapun juga aku bersemangat mengetahui bisa melihatnya secara langsung.
Kau tahu, semua pemberitaan itu mengatakan dia sangat tampan, aku ingin melihat aslinya."
"Sepertinya aslinya juga sama tampannya." Yoongi menghela napas panjang, lalu melirik ke ponselnya lagi. Sulli sepertinya menyadari ada yang mengganggu Yoongi.
"Kenapa Yoongi?"
"Tidak apa-apa."
"Ah. Ayolah, aku melihat beberapa menit ini kau sudah beberapa kali melirik ponselmu? Aku kan sahabatmu, ada apa?" Yoongi mengangkat bahu, bersikap seolah-olah itu bukan masalah pelik.
"Namjoon...dia tidak menghubungiku, ketika dia pertama pergi ke luar kota, dia masih mengirimiku pesan meskipun jarang, tetapi sudah dua hari ini dia tidak menghubungiku sama sekali." Sulli memutar bola matanya, "Kau tak perlu cemas Yoongi, begitulah para lelaki. Lelaki tidak pernah menyadari pentingnya komunikasi. Bagi mereka, selama kau tidak menghubunginya, semua baik-baik saja, dan mereka merasa tidak perlu menghubungi. Berbeda dengan perempuan, komunikasi sangat penting. Mungkin kau bisa menghubunginya duluan?"
"Aku tidak mau terlihat terlalu bersemangat." Pipi Yoongi memerah, membuat Sulli terkekeh. "Apakah kau akan menahan diri terus-terusan seperti ini? Bagaimana kalau Namjoon tidak menghubungimu sampai akhir. Kudengar dia mengambil hak cuti besarnya satu bulan penuh. Itu adalah jangka waktu yang lama."
Yoongi tercenung, lalu menatap Sulli bingung, "Menurutmu pantaskah aku menghubunginya dan menanyakan keadaannya? Tidakkah aku terlihat terlalu mengejarnya?" Sulli menggelengkan kepalanya, "Dia mungkin akan merasa kau perhatian kepadanya, mungkin saja dia sedang sibuk merawat.. katamu saudaranya sakit bukan? Jadi dia tidak sempat menghubungimu duluan." Sulli mendekatkan dirinya.
"Sebenarnya sejauh mana hubungan kalian?" Yoongi menggelengkan kepalanya, mencoba menelaah kedekatan mereka sebelum Namjoon pergi ke luar kota, "Kami dekat, hampir setiap malam kami pulang bersama, makan malam bersama dan menghabiskan waktu bersama di akhir pekan."
"Semua itu hanya dalam beberapa minggu?" Sulli tersenyum kagum, "Chemistry di antara kalian pasti sangat cocok. Dan selama itu dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang lebih seperti mengucapkan cinta misalnya?" Yoongi menggeleng, "Tidak pernah, Namjoon selalu baik, lembut dan perhatian tetapi tidak lebih, dia...dia mengecup pipiku ketika berpamitan akan ke luar kota."
"Mungkin dia memang bukan tipe orang yang terburu-buru." Sulli melirik jam tangannya, "Sebentar lagi yang kita tunggu-tunggu akan tiba, barusan Pak Han terbirit-birit menjemput di bandara." Sulli tersenyum lebar, lalu menepuk pundak Yoongi sebelum berlalu,
"Hubungilah Namjoon duluan, beranikan dirimu."
.
.
.
Dan Kim Taehyung pun tiba di kantor mereka, dia akan berada di sini selama enam bulan, untuk mengevaluasi kantor cabang mereka. Sebuah ruangan paling besar sudah disiapkan untuknya, ruangan itu biasanya dipakai untuk pertemuan dan meeting kecil untuk tiga atau empat orang, dan merupakan tempat meeting paling ekslusif. Kim Taehyung akan menempatinya selama dia berada di kantor cabang ini.
Yoongi cukup beruntung karena atasannya merupakan salah satu yang berkedudukan tinggi di kantor cabang ini. Karena itulah, Kim Taehyung sering mengunjungi ruangan atasan Yoongi, membuat lelaki itu sering lalu lalang melewati meja Yoongi. Hal itu membuat Sulli sangat iri, sahabatnya itu berkali-kali mengirimkan sms dari ruang kerjanya di seberang lorong, mengatakan betapa beruntungnya Yoongi.
Yah, kalau menikmati sebuah mahakarya Tuhan yang luar biasa bisa dianggap suatu keberuntungan, Yoongi memang beruntung. Dalam satu hari ini, Taehyung telah tiga kali melewatinya, meskipun sama sekali tidak melirik kepadanya. Dan seperti yang selalu dikatakan oleh semua artikel tentang Taehyung, lelaki ini memang sangat tampan, semuanya sempurna, dari pakaian yang membalut tubuhnya sampai warna matanya yang menakjubkan.
Biru terang... sangat terang hingga hampir pucat. Yoongi menundukkan kepalanya pura-pura menekuri laptopnya ketika Taehyung keluar dari ruang atasannya, lelaki itu pasti akan melewatinya seperti biasa, seperti yang telah dilakukannya sebelumnya.
Yoongi menunggu langkah-langkah lelaki itu melewatinya kemudian akan mendongakkan kepalanya dan mencuri pandang diam-diam untuk diceritakan kepada Sulli nanti. Tetapi kali ini lelaki itu tidak melewatinya, lelaki itu berhenti di depan Yoongi, kemudian berdiri dalam keheningan mengamati Yoongi, Yoongi mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata biru yang indah itu. Dia menahan dirinya supaya tidak ternganga kagum akan ketampanan lelaki yang berdiri di depannya.
"Kau staffnya Mr. Jung Hosoek?" suara Taehyung mengalun tenang dan dalam, sangat cocok dengan penampilannya. Yoongi menganggukkan kepalanya gugup, "Iya, Saya asisten Mr. Jung Hosoek." Jawabnya cepat, tak tahu harus mengatakan apa lagi. Taehyung tetap berdiri di sana, menatapnya dengan mata birunya yang intens, "Hmmmm...kau amat sangat...mengingatkanku kepada seseorang."
.
.
.
.
.
.
TBC
Fast Update nih Hihi
Yoshhh, jangan lupaa ripyu nya yaa readersdeul~
Tengkyu juga buat yang ripyu kemarin.. mumuahh :*
See u in next chap..
Paipai
Dyah Cho
