Necklace
Disclaimer: Masashi Kishimoto / Shonen Jump
aku memang tidak punya kerjaan sampai updatenya cepat sekali. makasih buat yang sudah review *love
Thanks for read ya semuaaaa :D jangan lupa review~ ;3; (o,ya orang jepang memanggi dokter itu dengan sebutan 'sensei' :D) seperti biasa, mulai chapter 3 ini aku balas review :)
ichi'nyu: sankyuuu gya gya iya disini Gaara dan Sai itu rekan kerja :D Hinata cuma lemah dan menolak makanan aja kok nggak sakit parah.. ^^
uchihyuu nagisa: maaf ya kalau bikin pusing ;w; ah makasih udah di review ^^ will go on!
Sunny: masa lalunya lagi kupikirkan nih /plak.. waah kamu tahu, ya sedikit ada inspirasi, tapi nggak mirip cerita itu ;A; maaf ya mengecewakan. lol...Tapi fic ini sama sekali tidak ada hub-nya dgn ToL :) makasih udah di review :D/
keiKo-buu89: sankyuu will Update As fast as i can!
mayraa: mayraaa *haggu* iya, aku mau coba buat yg begini sesekali :D ah nanti dikasih tahu dia masih hidup atau sudah mati ^o^ Anorexia itu penyakit yang ngebuat orang kurang nafsu makan, padahal lapar, merasa gemuk padahal kurus, begitulah :D dan orphan disease itu bahasa indonya penyakit langka.. ^^
sankyu semua sudah mereview :D
CHAPTER 3
"Aku..Memiliki dosa yang tidak bisa termaafkan." Hinata menunduk lemas.
"Apa itu?" Tanya Sai sabar.
"Gara-gara aku... 'Dia', jadi melupakan semuanya, melupakan teman-temannya, melupakan aku, bahkan... Ia lupa akan dirinya sendiri." Ucap Hinata disertai isak tangisnya. Sai sedikit kaget dengan pernyataan itu.
"Sebuah 'dosa' yang kau bilang itu adalah intuisimu sendiri, apa kau sudah bertanya padanya? Apa dia menuduhmu?" Sai lalu menghapus air mata Hinata dengan tisunya.
"Tidak, aku tidak bisa menemuinya lagi." Hinata terus menangis. Gaara yang berdiri di balik pintu ikut mendengar dengan seksama.
"Kenapa?" Sai mulai memandang Hinata lekat.
"Karena...Aku hampir membunuhnya."
Bukan hanya Sai yang kaget mendengar pernyataan gadis bermata indigo itu, Gaara yang berada diluar ruangan tersebut sempat membelalakan matanya meski sekejap.
"Makanya... Aku.."
"Sudahlah, Hinata-chan." Sai tersenyum dipaksakan dan mengalihkan pembicaraan dengan berlagak menutupi tubuh Hinata dengan selimut putih di kasur itu. "Tidurlah, sudah malam."
Hinata mengangguk lemah dan mengikuti gerak-gerik Sai yang menuju sebuah lampu meja untuk mematikannya.
"Ceritamu itu, ceritalah di saat kondisimu membaik." Sai kembali tersenyum dan keluar dari ruangan itu setelah mematikan lampu kamarnya.
Sai tampak kaget melihat sosok Gaara sedang berdiri di samping pintu seraya menyenderkan tubuhnya di tembok.
"Kucing pencuri dengar." Ucap Sai datar. Gaara hanya memandang Sai sinis. Belum sempat Gaara kembali membuka pintu ruang rawat Hinata, Sai langsung membuka mulutnya segera. "Jam besuk pukul 9 pagi nanti, Gaara-sensei. Jangan lagi-lagi mengganggunya, dia sedang tidur."
Mendengar ucapan datar Sai yang terdengar ketus, Gaara mengurungkan niatnya dan langsung membalikkan tubuhnya menjauhi Sai yang masih berdiri. Gaara ingat benar bagaimana sikap Sai mengetahui pasiennya kembali ke hadapannya dengan basah kuyup dan tubuh yang gemetar.
Ia sangat tahu, Sai adalah Dokter yang sangat bertanggung jawab akan pasiennya. Dan Gaara menyesal karena pasien Sai itu datang beberapa menit, setelah Gaara menceritakan mengenai kejadian dimana Ia bertemu Hinata di hari hujan itu.
'Kenapa kau membiarkannya?' Kata-kata Sai yang rendah dengan nada datar itu selalu terngiang di pikiran Gaara yang segera meninggalkan kamar pasien dimana Hinata tergeletak di atas kasur putih saat itu.
Sudah pukul 7 pagi lewat, Hinata tak kunjung bangun dari tidurnya. Sai yang memang sudah menungguinya dari jam 6 tadi, akhirnya membangunkannya.
"Maaf aku membangunkanmu. Kau harus sarapan dulu, Hinata-chan." Ujar Sai seraya menyodorkan sebuah puding dan roti keju ke hadapan Hinata yang membenarkan posisi tidurnya.
"Terimakasih," Hinata menerimanya dengan seutas senyum tipis.
Sai lagi-lagi menghela nafasnya melihat Hinata hanya memegang kedua makanan tersebut tanpa memiliki niat untuk memakannya.
"Aku akan lunakan roti ini, lalu kau harus memakannya. Ini perintah Dokter." Ujar Sai sedikit tegas tetapi tetap tersenyum. Hinata mengangguk pasrah.
Selagi Sai melunakan roti bulat itu dengan susu putih di sebuah piring kecil, Hinata mulai membuka tutup puding yang diberi Sai perlahan.
"Ini," Sai lalu menyerahkan sebuah piring yang berisi lunakan roti tadi kepada Hinata. "Pelan-pelan saja, jangan dipaksakan, lalu kau harus mengatakan padaku kalau ingin memuntahkannya." Sai menyerahkan sendok kecil pada Hinata yang menurut dengan segala perkataan Dokter itu.
Disaat Hinata memakan makanannya, Sai keluar untuk segera mengambil alat-alat medisnya untuk melakukan pengecekan lagi pada tubuh Hinata. Tanpa ia perkirakan, bahwa ternyata disaat Sai keluar, Gaara segera memasuki ruang rawat Hinata.
"Syukurulah kau bisa makan." Ujar Gaara sedikit berbisik lega.
Hinata yang melihat kehadiran Gaara hanya terdiam mengingat kejadian sebelumnya. "Maaf aku tidak mendengarkan kata-katamu, Sensei."
Gaara menggeleng cepat. "Ng. Maafkan aku. Aku kemari untuk meminta maaf. Karena masih banyak pekerjaan, aku permisi dulu." Ucap Gaara yang langsung segera keluar.
Hinata hanya terdiam lalu tersenyum, lalu ia kembali melahap roti didepannya hingga Sai datang kembali.
"Maaf Hinata, apa kau sudah selesai makannya?" Tanya Sai yang sudah membawa sebuah tas hitam persegi panjang di tangan kirinya dengan beberapa lembaran kertas di tangannya.
"Sudah. Tapi aku tidak sanggup menghabiskannya." Rajuk Hinata merasa bersalah. Sai menengok ke arah piring tadi. Makan? Sedikit itu makan? Hampir tidak terlihat bahwa Hinata menyentuh roti itu. Sai tidak habis pikir kenapa gadis ini bisa menolak makanannya sampai seperti ini.
"Tidak apa. Tapi, berikutnya kau harus makan lebih banyak dari ini setiap harinya, bagaimana?" Tanya Sai ramah seraya menopang dagunya.
"Aku janji."
Setelah melakukan pengecekan terhadap tubuh Hinata, Sai sedikit mengulaskan senyumnya. Ia lihat bahwa berat tubuh Hinata meningkat. Bagi Hinata, meningkatnya berat badan itu bisa dibilang suatu kebahagiaan bagi dirinya yang hampir tidak sanggup untuk menghabiskan setengah roti sedikitpun.
"Berusalah. Kau ingin cepat-cepat sehat agar menemukan kalungnya, kan? Setelah kamu kuizinkan keluar dari RS ini, aku akan ikut membantumu sebisaku. Kita barter. Kau makan yang banyak, dan aku akan membantu mencari kalungmu. Bagaimana?" Sai tersenyum memandang Hinata yang tampak berfikir.
"Baik." Hinata mengangguk semangat dengan tawa kecil menemaninya.
"Hinata!" Panggil seorang laki-laki berambut panjang ditemani gadis cantik bercepol 2 di atas kepalanya.
"Kakak! Kenapa kau baru datang?" Tanya Hinata khawatir.
"Maaf, aku sedang banyak sekali pekerjaan." Neji mengelus kepala Hinata pelan.
"Taraaa! Lihat Hinata, aku membawakan boneka kesukaanmu!" Ujar Tenten riang seraya menyodorkan Hinata boneka panda berukuran sedang dihadapannya.
"Ah, syukurlah. Aku kira Kakak lupa dengan ini," Hinata segera meraih boneka itu dan langsung memeluknya erat.
"Oh, ternyata Hinata menyukai boneka?" Sai menatap Hinata.
"Iya! Khususnya ini. Karena boneka ini adalah pemberian dari Ibuku." Hinata tersenyum lebar.
"O,ya Sensei, kira-kira kapan Hinata bisa keluar dari Rumah Sakit? Aku tidak mau dia terlalu lama tertinggal pelajarannya." Tanya Neji.
"Kalau keadaannya terus membaik 2 hari kedepan, aku rasa Minggu ini Hinata sudah bisa kembali. Demam dan flu-nya juga sudah sembuh." Jelas Sai.
"Syukurlah, kau juga sudah merindukan teman-teman kan?" Neji memandang Hinata yang masih asik dengan bonekanya.
"Ya! Aku juga tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Ino!" Hinata mengangguk semangat.
"Ino? Apa maksud kalian Ino Yamanaka? Karena nama itu jarang sekali ada." Ujar Sai seraya menopang dagunya.
"Iya! Apa Dokter mengenalnya?" Tanya Hinata heran.
Sai mengangguk. "Ya, dia baru masuk Rumah Sakit ini 3 hari lalu karena penyakit lambung. Kemarin baru saja ia melakukan operasi untuk menutup kembali luka dilambungnya." Jelas Sai.
"Ah? luka di lambungnya terbuka lagi? Pasti karena ia terlalu bersemangat." Hinata mencibir.
"Bagaimana kalau kau menjenguknya? Keadaanmu juga sudah membaik bukan? Ah, tapi kakakmu juga baru datang."
Neji segera menggeleng. "Tidak apa, kami juga harus segera pulang karena pekerjaan. Aku menitipkan Hinata padamu."
Setelah Neji dan Tenten berpamitan, Sai langsung membantu Hinata untuk keluar dari ruangannya. Kaki Hinata yang sudah tidak digerakkan hampir seminggu, membuat Hinata tidak sanggup berdiri hingga Sai menawarkan kursi roda yang langsung ditolak halus oleh Hinata. Karena itulah, Sai harus bersabar memapah gadis itu berjalan ke ruang rawat Ino yang berada di bangsal sebelahnya.
"Permisi," Sai membuka pintu dengan nama Yamanaka di depannya.
"Silahkan,"
Sai yang pertama memasuki ruangan tersebut sedikit kaget melihat sosok didepannya. "Eh, ternyata kau yang menjadi penanggung jawab pasien ini, aku lupa."
"Maaf saja, Sai-sensei. Jam besuk nanti jam 9 pagi." Ujar laki-laki dengan rambut berwarna merah marun itu mengulang perkataan Sai dulu.
"Kau.."
"Anu, Sai-sensei, apa aku sudah bisa masuk?" Tanya Hinata yang masih berdiri di balik tubuh Sai.
"Ah, sayang sekali Hinata, ternyata Dokter yang satu ini tidak memperbolehkan kita masuk, iya kan Gaara-sensei?" Sai mendelik ke arah Gaara yang segera membulatkan matanya mendengar nama Hinata.
"Sai..." Gaara lalu memandang Ino yang masih tertidur dan kembali mengecek tubuhnya. "Masuklah, aku masih harus mengecek keadaan pasien ini."
Sai tersenyum menang dan segera mempersilahkan Hinata masuk dan duduk di samping ranjang tempat Ino yang masih terpejam.
"Gaara-sensei, apa dia baik-baik saja?" Tanya Hinata khawatir melihat keadaan Ino, sahabatnya.
"Ng, syukurlah hanya luka kecil yang terbuka." Gaara lalu segera membereskan peralatannya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Sai, bisa kita bicara sebentar?" Terdengar suara Gaara dari arah belakang Sai sebelum keluar dari ruangan itu.
"Apa?" Sai menatap mata hijau emerald milik laki-laki di depannya tegas. Sai lalu menyuruh Hinata untuk tetap disana hingga Sai kembali, dan langsung mengikuti jejak Gaara keluar.
"Biarkan gadis itu keluar dari Rumah Sakit secepat mungkin. Dia ingin segera mencari kalungnya." Gaara menunduk kepalanya dalam.
Sai buru-buru menggelengkan kepalanya pelan. "Hinata masih terlalu lemah untuk keluar dari RS. Dan lagi, aku masih belum memaafkan dirimu yang menelantarkan pasienku yang sedang kuserahkan ke padamu."
"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu."
"Haaaah, yasudahlah. Lagipula, kau sudah tidak ada urusan dengan gadis itu, bukan?" Sai mendelik kearah Gaara.
"Um...Benar," Gaara lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Sai.
"Tapi.." Seru Sai menghentikkan langkah kaki Gaara. "Jenguklah dia sesekali, aku tahu hubungan kalian berdua cukup dekat. Sepertinya kehadiranmu bisa mengurangi kejenuhan Hinata sedikit."
Gaara menatap Sai sedikit kaget, lalu tersenyum tipis. "Aku tahu,"
"Ngh...Apa kau gurita!" Seru Ino di bangun tidurnya.
"I...Ino..Kau mimpi apa?" Tanya Hinata sedikit kaget melihat sahabatnya yang langsung terbangun dengan cara seperti itu.
''Loh! Hinata-chan, kenapa aku disini?" Ino memutar kepalanya tampak melihat keadaan sekelilingnya.
"Bukankah kau habis operasi lambungmu?" Hinata mengingatkan.
"Ah benar juga. Ah, jangan-jangan Rumah Sakit ini tempat kau dirawat juga ya. Syukurlaah." Ino langsung memeluk Hinata erat. "Kau gemukkan!" Seru Ino. Bagi orang yang tidak terlalu memperhatikan keadaan Hinata, pasti tidak akan bisa membedakan hal ini, Ino tidak termasuk kedalamnya, dia bisa melihat perbedaan fisik Hinata dengan detail, beda dengan yang lainnya.
"Benarkah? O,ya Ino jangan terlalu memaksakan dirimu, kau kan baru operasi kemarin." Saran Hinata.
"Ah, sudah bangun?" Ujar Sai yang kembali memasuki ruangan Ino.
"Jangan-jangan dia ini Dokter penanggung jawabmu? Kereen. Aku belum lihat Dokter yang menjadi penanggung jawabku." Ujar Ino histeris.
Sai yang mendengarnya langsung tertawa kecil. "Sayang sekali, penanggung jawabmu lebih keren dibandingkan aku.'' Sai lalu mengecek kembali keadaan Ino atas permintaan Gaara sebelum benar-benar meninggalkannya tadi.
"Aku sudah sembuh!" Seru Ino semangat saat Sai sedang mengecek kembali infus yang masih berada di lengan Ino.
"Jangan banyak bergerak dan berteriak, kalau kena guncangan, berteriak, atau bersin yang berlebih tekanan di perutmu akan meningkat , nanti bagian luka nya akan terasa nyut-nyutan." Jelas Sai pelan seraya tersenyum.
Ino lalu menatap Sai tajam. "Yang tersenyum hanya di bibir saja, kenapa matamu tidak?"
Sai yang mendengarnya segera menatap Ino kaget.
"Ah maaf Sensei! Aku ini orangnya memang terlalu peka pada sesuatu! Maaf ya!" Ino lalu mengalihkan pandangannya pada Hinata, merasa bersalah. Sai hanya terdiam seraya menulis pada selembar kertas mengenai kondisi Ino untuk disampaikan pada Gaara.
"Jangan dipikirkan." Sai lalu berjalan ke arah Hinata. "Bagaimana? Sudah puas bertemu dengan sahabatmu? Aku juga harus mengecek kembali keadaanmu." Sai mengulurkan tangannya.
"Iya, besok aku akan menjengukmu lagi, Ino." Hinata lalu kembali dipapah oleh Sai dan segera menuju luar pintu.
"Baiklah." Ino lalu melambaikan tangannya dan menundukkan wajahnya dalam-dalam masih merasa bersalah pada Dokter berambut hitam yang melirik kearahnya sebelum menutup pintu ruangannya.
Hari ini yang biasanya Sai datang sebelum Hinata terbangun tidak ada. Hinata hanya terdiam diatas kasurnya sampai akhirnya seorang Dokter lain segera menghampirinya.
"Maaf, kau Hinata kan? Tadi aku dapat telepon dari Sai, katanya dia mendapat kecelakaan di perjalanannya." Ucap Dokter yang berdiri di hadapan Hinata itu.
"Benarkah! La...Lalu, bagaimana keadaan Sai-sensei?" Seru Hinata khawatir mendengarnya.
"Tenang saja, dia selamat. Kalau tidak, dia tidak mungkin meneleponku. Kau santai saja, kalau masalahnya sudah selesai aku yakin dia akan langsung kemari. Karena seluruh Dokter spesialisasi penyakit dalam penuh semua, jadi aku yang diminta menggantikan Sai sampai Ia datang." Dokter itu lalu segera mengambil sebuah dokumen di atas lemari.
"Dokter..Siapa?" Tanya Hinata.
"Ah, Salam kenal. Namaku Uchiha Sasuke, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Salam kenal." Sasuke lalu membaca sebuah dokumen di atas tangannya yang berisi mengenai keadaan Hinata. Pandangannya serius melihat isi lembaran tersebut.
"Sasuke-sensei, ada apa?" Tanya Hinata bingung melihat keadaan Sasuke yang tidak berdenging.
"Ah, maaf." Sasuke lalu kembali menaruh dokumen tersebut dan menghampiri Hinata. ''Pertama-tama, bisakah aku tahu, kenapa kau menolak makanan, Hinata-san?" Tanya Sasuke yang sudah siap dengan peralatan tulisnya.
"Untuk apa?" Tanya Hinata.
"Aku harus tahu terlebih dahulu penyebab penyakitmu ini." Jelas Sasuke.
"Aku tidak penyakitan." Jawab Hinata tampak tidak senang. Sasuke yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang.
"Baiklah, maafkan aku. Tapi apa dasarnya sehingga tubuhmu tidak bisa menerima makanan? Aku disini sekalian melakukan rehabilitasi padamu." Sasuke lalu duduk dipinggir ranjang tempat Hinata.
"Tidak ada." Hinata menunduk menghindari tatapan Sasuke yang baginya merupakan tatapan sinis itu.
"Kalau kau tidak mau bicara, Sai-sensei juga akan kesusahan. Kau harus sembuh agar dia juga terlepas dari tugasnya." Ujar Sasuke yang langsung membuat Hinata bersalah.
"Kenapa? Apa dia merasa terbebani?" Tanya Hinata. Sasuke menggeleng pelan.
"Entah, tapi apa kau merasa terbebani bila harus merawat orang yang tidak mau berusaha menyembuhkan penyakitnya?" Sasuke menatap Hinata tajam.
"Uh..." Hinata kembali menundukkan kepalanya dalam.
"Hentikan, Sasuke-sensei." Ujar laki-laki yang sedang berdiri didepan pintu ruang rawat Hinata.
"Kenapa? Ini sudah tugasku." Sasuke lalu kembali berdiri dan menghampiri laki-laki berambut merah marun yang masih berdiri di depan pintu itu dan memandangnya sinis.
"Sai tidak memintamu untuk merehabitilasi pasiennya seperti itu." Ucap Gaara tak kalah sinis dari sang Uchiha.
"Padahal aku sudah berbaik hati bersedia menggantikannya." Sasuke lalu mengambil kembali tas-nya dan segera keluar dari ruangan tersebut.
"Dasar," Gaara lalu memasuki ruangan Hinata dan duduk di kursi yang berada di sampingnya. "Maaf, Hinata. Kau tidak apa?"
"Aku mau keluar dari Rumah Sakit ini." Ucap Hinata.
"Perkataan Dokter tadi tidak perlu kau pedulikan." Ujar Gaara menahan Hinata yang tampak ingin menangis.
"Tapi, tidak ada gunanya aku disini kalau tidak bisa sembuh.'' Hinata menatap Gaara dengan matanya yang mulai berkaca.
"Apa maksudmu sembuh? Kau tidak memiliki penyakit apapun." Ucap Gaara.
Hinata yang mendengarnya kembali menatap Gaara. Pertama kalinya Hinata mendengar ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak sakit. Kakak bahkan teman-temannya selalu berkata agar Hinata sembuh. 'Sembuh' apa? Itulah yang Hinata pikirkan selama ini.
"Di... Di dalam pikiranku, aku selalu bertanya..." Hinata menundukkan wajahnya menghindari pandangan Gaara yang mulai serius. "Berfikir 'Kenapa Tuhan terus mengujiku'. Saat menyadari hal itu, aku ingin secepatnya pergi dari dunia ini. Mati dengan tenang, dan tidak merepotkan orang lain."
"Menguji atau tidak, jawabannya tergantung dari diri kita masing-masing. Semua hal tidak akan berlangsung datar-datar saja, benar kan?" Gaara menjawabnya perlahan sedang Hinata yang mendengarkannya langsung menyunggingkan senyumnya yang sudah hampir tidak pernah terlukis diwajah seorang gadis Hyuuga itu.
"Berjanjilah..." Gaara lalu mengulurkan jari kelingking di tangan kanannya di hadapan Hinata. "Berjanjilah, kau tidak akan pernah berniat untuk mati."
Hinata sedikit terkejut dengan tindakan Dokter yang memiliki sebuah tato didahinya itu. Tapi dalam hati Hinata Ia percaya akan Dokter yang satu ini. "Aku berjanji..." Hinata lalu melingkarkan jari kelingkingnya di jari Gaara. "Aku berjanji tidak akan pernah berniat seperti itu."
"Sai, hasilnya sudah keluar."
"Ah, terimakasih Kepala."
"Panggil aku Tsunade! Aku benci panggilan kepala itu! Kau ini, datang ke tempatku, sampai berbohong kau kecelakaan, kalau kejadian bagaimana!" Seru Gadis, atau lebih tepatnya Wanita tua berwajah seperti gadis muda yang berdiri dihadapan Sai.
"Habisnya, aku tidak ada alasan lagi." Sai hanya terekeh kecil.
"Ya, sifatmu memang selalu begitu."
"Baik. Lalu... Gadis itu, bagaimana baiknya?" Tanya Sai sedikit
"Mau tidak mau, gadis Hyuuga itu harus menjalani operasi. Kau bilang hanya menolak makanan! Dia itu terkena pneumonia!"
"Ma..Maaf, aku tidak mengetahui hal itu sejak awal. Beruntung aku langsung menyerahkan hasil rontgen nya kepada anda." Sai membungkuk dalam.
"Kau harus tahu Sai, pneumonia itu karena bakteri, virus, parasit, dan sebagainya. Bisa juga karena terlalu lama terkena di udara luar yang dingin. Gejalanya Demam, flu, sesak nafas, dan lain hal. Kau sudah mempelajarinya bukan?"
''Iya," Sai mengangguk lemah. "Bukankah, sudah ada penyembuhannya?"
Tsunade lalu mengangguk. "Ya! Kau tahu obatnya bukan? Nanti akan kuberikan, Tapi..."
"Ada apa, Tsunade-sensei?"
"Aku ingin mengeceknya secara langsung besok, karena aku tahu dia memiliki penyakit jantung didalam dirinya."
"Ja...Jangan berlebihan! Aku tidak pernah mau berfikir sejauh itu."
"Sai!" Seru Tsunade menghentikan Sai yang tampak tak menerima hasil penelitian Tsunade, seorang Dokter ternama hingga keluar Negeri yang sudah sangat terkenal.
"Bagaimana hasilnya kalau Ia melakukan operasi?" Tanya Sai lagi.
"50 banding 50, kau tahu maksudnya, kan?"
"Ng..." Sai menelan ludahnya tampak kesal. "Mohon bantuanmu, Tsunade-sensei." Ujar Sai pasrah seraya membungkukkan badannya dalam dihadapan Tsunade.
YOKATTAA!
Akhirnya chapter yang lama banget keluar ini selesai juga :D
maaf ya lama sekali ;w; review yaaaa aku juga masih belum tahu akhirnya gimana
Ah iya, ini genre angst, jadi.. ya kalian dapat perkirakan endingnya? ;)
Oke, review yaaa untuk masukan ke Ayaaa !
sankyuuu
