Hanya sebuah cerita romansa yang terinspirasi dari 50 Shades of Grey, Beautiful Disaster, Enraptured, The Hart Family Series, dan With me in Seattle Series.
.
.
.
Dalam fict ini saya menggunakan gaya bahasa novel terjemahan, dan jika ada di antara readers yang tidak dapat feel dalam membaca fict ini karena gaya bahasa saya, sebaiknya hentikan membaca fict saya daripada kalian kecewa, karena saya sama sekali tidak akan merubah gaya bahasa saya. thanks :)
.
.
.
Balasan reviews:
Karena yg reviews nya pada log in , jadi silahkan check PM masing-masing yaaah ;)
.
.
.
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : M
Warning:
OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (banyak), dan banyak cacat lainnya.
Tidak untuk anak dibawah umur (17 plus only)
Mengandung kata-kata kasar dan vulgar.
Tidak disarankan bagi readers penyuka/penikmat Canon dan bagi readers yang tidak menyukai Erotic Novel;)
Attention:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang benar-benar berasal dari imajinasi saya sendiri yang terinspirasi dari beberapa Erotic Novel (dimohon untuk tidak mengcopy fict ini dalam bentuk apapun). Saya mohon maaf bila kebetulan ada kemiripan dalam cerita ini dengan cerita yang lain.
Selamat membaca…
.
.
.
.
.
.
.
Aku berdiri di depan lemari ku yang terbuat dari kayu oak dan kini dalam keadaan terbuka, jantung ku masih berdegup kencang akibat perkataan vulgar dari seorang pria yang kini ada di luar kamar ku. Aku menghabiskan sekitar hampir lima belas menit dengan hanya berdiri di sini dan memikirkan apa yang hampir terjadi pada ku beberapa saat lalu, mulai dari kehadiran Sasori yang hampir memperkosaku hingga Sasuke yang menyelamatkanku. Terima kasih Tuhan.
Aku menghela nafas panjang dan menit berikutnya tangan ku terjulur untuk mengambil kaos longgar lengan panjang berwarna cream dan celana legging hitam yang biasa aku kenakan untuk yoga . Biasanya pada malam hari aku tidak mengenakan apa-apa di balik kaos ku, namun karena malam ini ada seorang pria yang beberapa saat yang lalu telah menyelamatkan ku dari tindak pemerkosaan dan mengingat pria itu menatapku dengan mata yang menyalang karena lapar , aku memutuskan meraih bra dan celana dalam cheeky ku yang berwarna pink. Aku tidak ingin membangukan singa tidur lagi, setidaknya tidak untuk malam ini.
Setelah berpakaian lengkap, aku berdiri di balik pintu kamarku. Aku menarik dan menghembuskan nafasku perlahan dan mencoba mengatur debaran jantung ku, kemudian aku meraih kenop pintu kamar ku dan membuka nya perlahan. Kulangkahkan kaki ku keluar pintu kamar, dan aku mendapati sosok yang beberapa menit lalu berdiri dengan tegang di belakang pintu utama flat ku kini sedang duduk membelakangi ku di salah satu kursi pantry, tangan kanan nya memegang gelas yang berisi cairan berwarna merah yang ku yakin itu adalah red wine yang memang aku simpan di dalam kulkas.
Melihat punggungnya yang condong ke depan dan tidak lagi terlihat tegang, sepertinya sekarang dia sudah merasa relax.
"Hi." Aku yang kini telah berada di sampingnya, mencoba untuk menyapa dan duduk di salah satu kursi yang ada di sebelahnya, dia tidak menjawab sapaan ku bahkan sama sekali tidak menolehkan kepalanya kepadaku, tatapannya hanya tertuju pada gelas yang dia mainkan di tangan kanannya. Aku mulai merasa gugup sekarang, ku fokuskan pandangan ku pada jari-jemariku yang kuletakan di atas meja pantry seraya menggigiti bibirku, itu adalah kebiasaanku ketika rasa gugup sedang melanda ku.
"Jangan bertindak ceroboh seperti tadi lagi."
Aku menengokan kepalaku ke arah pria yang baru saja mengeluarkan suaranya. Dia masih belum mengalihkan pandangannya dari gelas, kemudian Ia meminum wine yang ada ditangannya itu dan menghela nafas panjang.
"Maaf... Aku... " Aku tidak tahu kenapa aku mencoba meminta maaf padanya, namun belum selesai aku menyelesaikan kalimat ku, pria di samping ku ini memotong ucapanku dengan nada dingin.
"Bagaimana jika aku tidak datang?"
Dia kembali menghela nafas panjang dan mendesah gusar, seperti orang yang sedang... khawatir? Aku tidak ada keberanian untuk menjawab pertanyaan nya, jadi aku memutuskan untuk tetap diam. Dia meminum lagi wine nya hingga tidak tersisa lagi di dalam gelas, dan setelah itu baru dia mengalihkan tatapannya kepadaku. Mata kelamnya menatap ku tajam dan intense. Aku tidak sanggup mengalihkan tatapanku dari kedua matanya. Aku seperti terhipnotis. Dia menjulurkan tangan kanan nya untuk menyentuh pipi kiri ku, jari-jemarinya membuat gerakan naik turun di pipi ku, membelainya lembut. Tubuh ku bergetar karena bereaksi terhadap sentuhannya. Aku meremas kedua tanganku yang kini berada di atas pengkuanku karena rasa gugup yang kembali melanda tubuhku dua kali lipat lebih besar dari yang tadi. Tiba-tiba aku merasakan bahwa mata Sasuke kembali menyala, nyaris seperti beberapa waktu yang lalu saat dia melihatku yang hanya terlilit sehelai handuk.
"Berhenti menggigiti bibir mu seperti itu Sakura, kau membuatku nyaris kehilangan kendali untuk yang kedua kalinya."
Aku menahan nafas saat pria di depanku ini mendekatkan wajahnya ke wajahku, aroma maskulin yang bercampur aroma tembakau menguar dari tubuhnya, aku tidak tahu sebelumnya jika kedua aroma itu bercampur maka akan senikmat ini rasanya. Telapak tangan Sasuke yang tadi menyentuh pipi ku kini telah turun dan meremas lembut tengkuk ku dan aku kembali bergetar di bawah sentuhannya, ini kali pertama tubuh ku bereaksi di luar kendali ku, aku takut sekaligus merasa bergairah secara bersamaan. Nafasku sudah tidak beraturan sekarang, kemudian Ia menempelkan kening nya di keningku dengan tangannya yang masih meremas tengkuk ku, aku dapat merasakan nafas pria di depan ku ini juga berat, matanya terpejam dan rahangnya mengetat.
"Sial! Kita harus segera keluar dari flat sial mu ini sebelum akal sehat ku hilang, atau aku akan menyetubuhimu dengan keras di atas meja ini."
Kemudian matanya terbuka dan menampilkan kedua irisnya yang berkobar dan menatap kedalam mataku tajam, kali ini aku yakin seratus persen bahwa itu akibat gairah yang membakarnya. Aku kembali bergetar, kali ini karena ucapan nya barusan, entah mengapa ada rasa senang yang berkembang di hatiku ketika mengetahui bahwa pria di hadapanku ini begitu menginginkan ku. Aku menganggukan kepala ku tanda menyetujui ucapannya.
"Aku tidak mengerti anggukan mu sayang, mari kita perjelas lagi, kita keluar dari sini atau kau ingin telentang diatas meja ini dengan aku yang mengisi dirimu?"
Oh Tuhan! Pria ini benar-benar akan menghilangkan ke warasan ku!
"Keluar." Aku menjawab dengan cepat, dan Sasuke menarik nafas berat.
"Baik, kenakan baju hangatmu dan ku tunggu kau di depan lobby."
Dia turun dari kursi nya dengan cepat dan meninggalkan aku yang masih dalam kondisi belum stabil akibat rasa panas yang beredar hampir di sekujur tubuhku. Kepala ku terkulai lemas di meja pantry , aku kembali mengatur nafasku. Sial, membayangkan aku yang telentang di meja ini dengan dia yang berada di dalam diriku entah mengapa membuat bagian bawahku berdenyut. Ini kali pertama organ intim ku merasakan hal seperti ini. Aku mengerang dan segera beranjak dari kursi untuk mengambil sweater ku dan menyusul Sasuke ke parkiran.
Aku keluar dari lift dan melangkah menuju lobby. Dari dalam kaca besar lobby aku dapat melihat Sasuke yang sedang menyandarkan tubuh nya pada sebuah Audi R8 seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Aku memandanginya sejenak dari sini untuk menikmati ketampanannya, setelah itu baru aku melanjutkan langkah ku keluar. Ketika dia melihat aku melangkah keluar dan menuju kearah nya, dia membuang rokok yang ada di mulutnya, dan menginjaknya kemudian Ia membukakan pintu depan penumpang untuk ku.
"Thanks."
Dia hanya mengangguk lalu menutup pintu di sampingku kemudian melangkahkan kakinya menuju kursi kemudi, dan Audi R8 ini meluncur entah akan di bawa kemana oleh pemiliknya. Di dalam perjalanan baik aku dan Sasuke tidak ada satu pun yang membuka mulut, pandangan Sasuke hanya fokus ke depan, begitu pula dengan ku, sehingga hanya suara Chris Martin (Coldplay) yang yang mengisi keheningan di antara kami.
"Kita mau kemana?"
Aku bertanya beriringan dengan terdengarnya lagu The Scientist.
"Ketempat yang ramai, yang tidak memungkinkan ku untuk bercinta dengan mu, karena apa yang terjadi di flat mu malam ini benar-benar membuatku mengeras."
Aku terdiam mendengar ucapannya, perlahan aku melirikan mataku kearah pangkuan Sasuke, dan oh Tuhan... Walaupun pada saat ini Ia mengenakan celana jeans, itu sama sekali tidak dapat menutupi bukti gairahnya. Aku menahan erangan yang hampir lolos dari bibirku dan kembali menatap kosong ke jalanan yang ada di depan mataku.
Sasuke memarkirkan mobil nya di pelataran parkir sebuah Restaurant Jepang, Jorudan Sushi. Melihat papan nama yang ada di atas sana membuat perutku mengingat kembali rasa lapar yang kurasakan beberapa jam yang lalu.
"Kau belum makan kan?"
"Ya, dan aku sangat lapar."
Dia terkekeh, sepertinya kewarasan pria di sampingku ini telah kembali normal. Kami melangkahkan kaki memasuki restaurant , salah satu pelayan menyambut kami dan menggiring kami menuju salah satu meja di dekat jendela yang memang dipilih oleh Sasuke, dalam langkah kami menuju meja beberapa pasang mata terutama dari kalangan wanita menatap pria di sampingku ini dengan tatapan lapar, kuharap mereka tidak meneteskan air liurnya. Sedangkan pandangan yang mereka tujukan terhadapku, yang hanya mengenakan celana legging dan sweater, aku bisa melihat para wanita itu menatapku dengan sebal bahkan mencemooh. Persetan dengan mereka semua, bagaimana pun cantiknya mereka berdandan hari ini, toh pria di sampingku ini justru mengajak seorang gadis yang berpakaian lebih dari kata sederhana, dan membayangkan hal tersebut membuat hati ku merasa senang seketika. Dan didalam sana, dewi batinku menari-nari gembira.
Kami duduk dalam diam beberapa menit setelah memesan makanan. Aku memperhatikan Sasuke yang sedang berkutat dengan ponselnya, dan menit berikutnya ponsel itu berdering.
"Ya aku sudah membaca emailnya barusan. Aku ingin berkas itu ada di mejaku besok pagi. Hn."
Dia memutuskan sambungan telepon dan mengalihkan tatapannya padaku.
"Jadi, bisakah kau jelaskan padaku siapa pria berambut merah yang nyaris memperkosamu itu?" Nada bicaranya terdengaar dingin dan tatapannya seolah menusukku tajam saat Ia bertanya mengenai Sasori. Aku menengguk ludahku gugup. Sial, kenapa aku harus selalu gugup bila berhadapan dengan pria ini?.
"Ehm, dia mantan kekasihku." Aku mencoba relax dibawah tatapan tajamnya. Dapat kulihat rahangnya berdenyut ketika aku menyebutkan kata mantan.
"Kami berpisah tahun lalu dengan cara yang tidak baik-baik." Aku melanjutkan ucapanku.
"Tidak baik-baik? Bisa kau jelaskan" Aku tahu dia ingin mengetahui detil ceritanya, dan aku tidak ingin memberikan detilnya, tidak untuk saat ini. Seorang pelayan datang membawa pesanan kami dan itu membuatku lega karena saat ini berarti waktunya makan.
Aku telah meraih garpuku untuk mulai makan sebelum akhirnya berhenti karena pernyataan yang dilontarkan oleh Sasuke.
"Kau belum menjawabku Sakura."
Aku mengerang kesal dan menaruh kembali garpuku.
"Aku tidak ingin membicarakan ini sekarang, aku tahu kau telah menyelamatkanku, tapi bisakah kau membiarkanku makan sekarang?" Aku menatapnya kesal, dan aku tahu dari raut wajahnya bahwa Ia tidak suka aku menentangnya. Aku mendesah lelah.
"Please, kau tahu aku lapar kan?" Aku membuat ekspresi wajah yang dibuat-buat. Ia menatapku sesaat dan beberapa detik kemudian Ia menyunggingkan senyumnya padaku.
"Well, makanlah."
"Thanks." Aku memberikan cengiranku padanya dan kembali meraih garpuku untuk mulai menikmati makananku.
Ditengah-tengah acara makan malam ku dengan Sasuke yang tidak pernah di rencanakan sebelumnya, tiba-tiba Ino menelepon ku. Ya ampun! gara-gara semua kejadian malam ini aku jadi melupakannya, dia pasti sudah berada di depan pintu flat kami saat ini!. I'm so sorry Ino. Aku segera menyentuh icon berwarna hijau pada layar ponsel ku.
"Kau di mana Saki? Aku menelepon ke telepon rumah tidak ada jawaban."
Ada nada jengkel sekaligus khawatir dalam kalimat yang teman ku ini lontarkan.
"Oh, sorry Aku sangat lapar dan memutuskan untuk mencari makan."
Dari seberang meja dapat kulihat Sasuke mengangkat alisnya dan menatapku dengan tatapan siapa yang menelepon mu?
"Ino." Aku menggerakan mulutku tanpa bersuara ketika menyebut nama Ino.
"Oh okay, oya aku tidak pulang malam ini, jadi jangan tunggu aku dan... aw tunggu dulu Sai!Tapi...Oh... "
Tiba-tiba suara Ino tidak terdengar lagi dan aku mendengar 'kegaduhan' dari seberang telepon yang di susul dengan suara desahan dan erangan Ino yang berkali-kali menyebutkan nama Sai. Haaaah... Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sebelum telingaku panas gara-gara mendengar desahan yang ku yakin akan lebih menggila lagi dalam hitungan detik di seberang sana, aku segera menyentuh icon merah pada layar ponsel ku, lalu memasukan kembali ponsel ku ke dalam saku sweater, dan setelah itu aku kembali memanjakan perutku dengan makanan yang sempat aku tinggalkan untuk beberapa menit yang lalu.
Setelah makan malam selesai, aku dan Sasuke mengobrol sedikit sambil menunggu makanan yang masuk ke dalam perut kami turun dan menyesuaikan diri dengan perut kami. Aku teringat kejadian tadi di flat ku, kenapa tiba-tiba Sasuke bisa berada di sana?
"Kau membuatku tidak bisa tidur semalam, Dei mengatakan bahwa kau tinggal satu flat dengan Ino, dan sebelum aku menjadi gila karena merindukanmu, aku putuskan untuk segera mendatangimu."
Aku tercengang mendengar jawaban nya, apa dia sebegitu seriusnya tertarik padaku? Atau aku hanya akan menjadi salah satu dari tumpukan Sasu's Barbies? Tapi jika melihat senyum lembut dan tatapan mata nya yang hangat saat ini... Ia berkata jujur. Aku masih berkutat dengan pikiranku hingga pada akhirnya Sasuke memanggil salah satu pelayan untuk menyelesaikan tagihan makan malam kami, dan menit selanjutnya kami berdua segera beranjak keluar restaurant.
Kali ini suasana di dalam mobil tidak se-sepi dan se-menegangkan tadi, Sasuke menanyakan beberapa hal seperti keluarga ku, kuliah ku, dan pekerjaan paruh waktuku sebagai seorang jurnalistik. Aku pun menanyakan beberapa hal yang sama, dan ketika aku bertanya mengenai keluarganya, dia menceritakan bahwa kedua orang tuanya tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat tujuh tahun yang lalu, dan keluarga yang dia miliki saat ini hanya Itachi.
"Aku turut berduka mengenai kedua orang tua mu. Maaf, seharusnya aku tidak menanyakan itu tadi." Aku tidak ingin pertanyaanku tadi membawa kembali kesedihan kedalam diri pria ini.
"It's okay. Thanks."
Dia mengalihkan tatapannya dari jalanan depan untuk menatap ku sebentar dan tersenyum lembut, setelah itu dia kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan yang ada di depan kami. Selanjutnya kami hanya mengobrol ringan, mengingat percakapan terakkhir kami beberapa menit yang lalu, aku memutuskan untuk tidak bertanya mengenai hal yang bersifat pribadi lagi.
oOo
Chopard di pergelangan tanganku menunjukan pukul sepuluh malam ketika R8 milik Sasuke meluncur masuk ke pelataran parkir gedung tempat flat ku berada.
Di bawah tadi aku bersikeras agar Sasuke tidak perlu mengantarku, namun lagi-lagi ucapan pria yang sekarang berdiri tepat di sisi ku dalam lift ini tidak dapat di bantah, sepanjang perjalanan, mulai dari pelataran parkir hingga saat ini, tangan kiri Sasuke selalu bertengger di pinggangku dengan posesif, bahkan ketika tadi aku hampir tersandung gara-gara aku merasa gugup dan canggung, dia dengan gesit menarikku kembali kedalam posisi berdiri.
Setelah tiba di depan pintu flat dan membuka kunci nya, aku menolehkan kepala ku ke samping dan menatap pria yang masih ada di samping ku ini dengan alis mengernyit heran, apa dia mau ikut masuk juga? Seperti mengetahui apa isi kepalaku, dia menaikkan satu alisnya dan menyeringai, seringai yang menyebalkan tapi sekarang aku mulai menyukai seringai nya itu. Namun beberapa detik kemudian seringai di wajah nya hilang dan di gantikan oleh raut wajah yang tegang dan serius.
"Kau pikir setelah kejadian kau yang hampir di perkosa hari ini, lalu aku akan dengan santai meninggalkan mu sendirian di dalam flat mu?" Cengkraman tanganya pada pingganku semakin mengerat posesif.
"Aku akan bersamamu hingga Ino pulang."
Dia membuka pintu yang sudah tidak terkunci dan menggiring ku masuk, setelah kami ada di belakang pintu dia meraih kunci yang ada di tangan ku dan mengunci pintu flat ku.
"Ino tidak pulang malam ini... " Aku berkata ragu dan pelan, nyaris seperti sebuah bisikkan, namun ku yakin pria yang kini sedang membelakangi ku mendengarnya, karena dapat ku lihat punggungnya yang tiba-tiba menegang. Dia menyentuhkan kening nya ke daun pintu dan mengerang. Aku masih berdiri di belakangnya ketika dia membalikan tubuhnya dan menghadap kearahku. Dia menatapku dalam.
"Aku akan menginap di sini."
Satu kalimat dan itu sudah bisa membuat pikiranku memutar beberapa adegan yang terjadi tadi sore, mulai dari saat dia menyentuhkan tangannya ke pipiku di depan meja pantry, ekspresi nya yang menahan gairah, geramannya, ucapannya yang dengan jelas mengatakan ingin menyetubuhi ku di atas meja, hingga perkataan nya mengenai dia butuh tempat ramai untuk menghindari keinginannya bercinta denganku. Astaga dan malam ini dia mengatakan akan menginap di sini? Bersama ku? Dewi batin ku mendadak menari-nari di dalam sana, terlihat sekali bahwa dewi batin ku akan dengan senang hati melebarkan kedua kaki nya untuk pria ini, malam ini juga.
Sasuke melangkahkan kaki nya menuju ke arah ku, ini tidak seperti saat Sasori melangkahkan kaki nya menuju ke arahku, kali ini aku sama sekali tidak merasa takut, aku malah menanti-nantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia menangkupkan kedua tangan nya di kedua pipiku dan menatapku, wajahnya hanya beberapa centi dari wajahku dan kali ini tatapannya sayu, dan aku menahan nafas ku begitu bibirnya ada di depan bibirku. Dia akan menciumku?
"Aku tidak akan memaksamu untuk bercinta dengan ku walau sebenarnya aku sangat menginginkan untuk berada didalam dirimu, tapi ijinkan aku untuk tidur bersama mu malam ini."
Well, ternyata dugaan ku salah, aku segera menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan ketika Sasuke menarik tanganku untuk masuk lebih jauh kedalam flat ku.
oOo
Di sinilah aku berada sekarang, di kungkungan tangan kekar seorang pria yang satu setengah jam lalu memintaku untuk tidur bersama nya, dan selama setengah jam itu pula kedua mataku masih tetap cerah secerah sinar mentari pagi, aku memang over sleep hari ini, tapi bukan itu yang membuatku tidak dapat memejamkan mata, melainkan pria yang sedang melingkarkan tangannya di tubuhku ini yang membuatku masih tetap terjaga hingga detik ini. Aku mulai gelisah sekarang, bagaimana tidak, mencium aromanya dari dekat seperti ini membuat pikiranku kacau, aku lebih baik di hadapkan pada sesi wawancara yang melibatkan tokoh besar atau mantan narapidana sekalian daripada harus merasa tidak karuan seperti ini.
Aku menghela nafas panjang dalam posisi berbaringanku, kemudian ku gerakan tubuhku sedikit agar kepalaku lebih mudah menengadah kearah atas untuk melihat pria yang kini sedang tertidur di sampingku. Jika aku harus mendeskripsikan pemandangan yang ada di depan ku saat ini kedalam sebuah kata, maka aku akan mengatakan, indah. Kedua matanya terpejam dan menampilkan bulu matanya yang panjang, hidungnya macung, kedua bibirnya yang sering kali menampilkan sebuah seringai dan meluncurkan kata-kata godaan bahkan vulgar , kini terkatup ratap.
Ku arahkan pandanganku menuju bawah, leher khas laki-laki, dada nya yang bidang di balik kaos putihnya, bahu yang tegap, sampai akhirnya aku menjatuhkan pandangan ku pada tribal tattoo yang ada di lengan kirinya, aku ingin menyentuhnya. Ku kembalikan pandanganku ke atas sejenak dan menatatap wajahnya sejenak, setelah aku merasa yakin bahwa pria di hadapanku ini benar-benar tidur, perlahan aku menggerakan tangan kanan ku dan mengarahkannya ke tempat tribal tattoo itu berada. Aku membelai nya perlahan, mengagumi sang tribal dan menikmati texture lengan Sasuke.
"Kau ingin aku mati karena menahan gairah secara terus-menerus hm?"
Aku terkejut mendengar suara serak khas bangun tidur yang berasal dari pria yang baru saja aku sentuh, dengan segera aku menarik tanganku dan menatap ke arah atas. Matanya sayu tapi tidak dapat menyembunyikan hasrat laparnya.
"Sorry, apakah perbuatanku membangunkan mu?"
"Kau pikir mudah untuk tidak terbangun di saat seorang wanita yang aku inginkan sejak beberapa minggu lalu menyentuhkan tangannya untuk pertama kali ke tubuh ku?" Suaranya tercekat seperti menahan sesuatu di tenggorokannya.
"Kumohon tidurlah Sakura, kau tidak tahu betapa sengsaranya aku saat ini." Sebuah erangan kesakitan meluncur dari mulut nya, kemudian Ia mengeratkan tangannya di tubuhku dan menarikku erat ke dalam dekapannya. Aku dapat mendengar irama detak jantungnya, mulai dari tempo yang cepat hingga pada akhirnya mulai melambat dan stabil dan lama-kelamaan itu membuatku merasa mengantuk.
oOo
Aku mengerang dan membuka kedua mataku perlahan, ku rasakan lengan yang semalam mendekap ku telah melonggar entah sedari kapan, tapi saat ini jarak tubuh ku dan Sasuke tidak se-erat semalam. Aku menatap pria di hadapanku sejenak, mengagumi wajahnya seperti yang aku lakukan semalam, terbesit kembali keinginan ku untuk menyentuh tribal tattoo yang ada di lengan nya, namun mengingat kejadian semalam, ku kubur jauh-jauh keinginan ku itu.
Perlahan ku pindahkan lengan kiri Sasuke dari pinggang ku, dia menggumam tidak jelas dalam tidurnya ketika aku melakukannya. Ku lihat jam weker berbentuk garfield yang ada di atas meja samping tempat tidurku, pukul 7 pagi. Aku beranjak dari tempat tidurku, memakai sandal rumah ku dan berlalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi.
Sekeluarnya aku dari kamar mandi, pria yang semalam tidur satu tempat tidur denganku masih terlelap dengan posisi yang sama ketika aku meninggalkannya ke kamar mandi. Setelah memandangnya lagi sejanak, aku memutuskan untuk membuat sarapan untuk kami berdua.
Aku menatap ke dalam isi kulkas, pandangan ku tertuju pada susu cair, telur, sekotak strawberry, dan maple syrup. Pancake , itulah yang ada di pikiranku pagi ini. Setelah mengambil ketiga bahan itu dari dalam kulkas, aku meletakkan semua bahan di atas meja dapur dan tanganku meraih ke lemari kitchen set di bagian atas untuk mengambil tepung.
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka pada saat aku telah selesai mencampur semua bahan dan siap untuk menuangkan adonan ke dalam teflon. Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan kulihat Sasuke menghampiri ku dengan rambut yang sedikit acak-acakan khas tampilan orang bangun tidur, tapi itu tidak mengurangi ke sexy'an nya sama sekali.
"Morning, did you sleep well?"
Aku bertanya setelah Ia mendudukan bokong sexy nya di salah satu kursi pantry. Dia menguap sekali, dan mendengus.
"Aku hampir tidak dapat tidur semalam, dan kau tahu kenapa."
Dia turun dari kursi nya dan mendekati ku yang tengah memasukan adonan ke tiga kedalam teflon.
"Wangi nya enak." Dia mengendus ke arah pancake yang sudah jadi dan berada di atas piring.
"Begitu juga dengan wangi mu." Dia berbisik dan mengenduskan hidungnya di sekitaar leherku, seketika bulu halus ku meremang, hampipr saja aku menjatuhkan wadah adonan yang ada di tanganku, apa pun yang di lakukan pria ini selalu berhasil mempengaruhiku. Aku berusaha mengontrol diriku untuk tidak melemparkan tubuhku ke tubuh kekarnya, Oh Tuhan ini masih pagi!
"Hentikan, kau ingin ku masukan ke dalam teflon juga huh?" Aku mencoba bersuara senormal mungkin seolah tidak terpengaruh terhadap kehadirannya di perpotongan leherku, dan sepertinya berhasil karena dia terkekeh lalu menjauh dari ku dan menyandarkan pinggulnya di meja dapur.
"Sebaiknya kau cuci muka dulu, tampangmu terlihat lusuh sekali pagi ini." Aku menuang adonan terakhir ke dalam teflon.
"Yeah, aku tahu, dan kau juga tahu bahwa itu adalah kesalahan mu." Dia menyeringai padaku, dan aku mendengus.
"Ada sikat gigi baru di lemari kecil di atas washtable kamar mandi ku, bergegas lah karena ini hampir siap."
"Yes Ma'am."
Aku mendengus kesal sekaligus geli dengan tingkahnya yang membuat pose hormat saat mengucapkan kata terakhirnya. Sikap nya pagi ini berbeda sekali dengan semalam, dalam waktu kurang lebih satu minggu aku dapat mengetahui bahwa terkadang dia bisa sangat liar, posesif, mengintimidasi, dan pagi ini Ia terlihat kekanakan.
"Oya, kau biasa minum apa di pagi hari?" Aku setengah berteriak ketika Sasuke melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamarku.
"Kopi pahit." Dan dia menghilang di balik pintu kamarku.
Sekembalinya Sasuke dari kamar, aku telah menghidangkan dua porsi pancake, segelas orange juice untuk ku, dan secangkir kopi pahit untuk tamu dadakan ku. Pancake ku telah di hiasi beberapa potongan strawberry dan lelehan maple syrup sebagai topping , sedangkan milik Sasuke masih ku biarkan polos, aku tidak tahu dia suka topping apa.
"Aku belum membubuhkan topping apa pun diatas pancake mu, di sini ada maple syrup dan potongan strawberry, lalu aku juga memiliki ice cream di kulkas, kau mau yang mana?"
Aku bertanya padanya setelah Ia duduk manis di kursinya. Sasuke nampak berpikir sejenak dan menatap ke arahku ragu.
"Kau... Punya tomat?"
Kali ini aku yang menatapnya sejenak, tomat? Tapi aku tidak bertanya atau berkomentar apapun, seingat ku tadi aku melihat masih ada satu wadah kecil tomat cherry yang biasa aku dan Ino gunakan sebagai salah satu bahan untuk salad. Aku beranjak dari kursi ku untuk mengambilnya dari kulkas, mencucinya, memotong masing-masing menjadi dua bagian kemudian membawakannya untuk Sasuke.
"Maple syrup?" Tawarku padanya yang tengah membubuhkan potongan tomat diatas pancake nya. Dia mengambil botol syrup dan menuangkannya sedikit diatas pancake, amat sangat sedikit.
"Kau tidak suka manis ya?"
Aku bertanya sambil memotong pancake ku kemudian menyuapkannya ke dalam mulutku, dan mengunyahnya perlahan, menikmati texture pancake dan rasa asam manis didalam mulutku.
"Yeah, begitulah. Manis membuat perutku mual." Dia meringis sebentar kemudian melanjutkan lagi celoteh pagi nya.
"Tapi jika manis itu berasal dari mu, aku rela merasakan mual seumur hidupku." Dia menyeringai kemudian memasukan potongan pancake kedalam mulutnya, sedangkan aku hanya memutar kedua bola mataku bosan.
Sarapan di pagi ini menyenangkan, ini kali pertama ku terbangun dengan seorang pria di tempat tidur ku, membuatkannya sarapan, dan kini aku sarapan bersamanya di dalam flat ku, hanya berdua. What a sweet morning. Bukan berarti dia pria pertama yang aku buatkan makanan, aku memang pernah beberapa kali membuatkan makan malam untuk Sasori, ah mengingat pria itu membuat perutku mual, tapi dia tidak pernah kuijinkan untuk menginap apa lagi tidur dalam satu tempat tidur, jadi belum pernah ada moment seperti ini sebelumnya. Orang-orang pasti lagi-lagi berpikiran bahwa aku ini kuno, dan seperti gadis perawan saja. Hell yeah, i'm still a virgin!
Aku sedang mencuci perkakas yang tadi aku dan Sasuke gunakan untuk sarapan ketika kudengar bell dari arah pintu.
"Biar aku saja yang buka."
Sasuke yang sedang menonton acara berita di layar televisi, segera melompat dari sofa dan meluncur ke arah pintu depan. Detik berikutnya aku mendengar suara gaduh dari depan, ada apa lagi di depan sana? Aku segera merapihkan pekerjaan ku di dapur dan bergegas ke depan. Kulihat Ino sedang menyilangkan tangannya di bawah dada dan menatap Sasuke tajam, dan Sasuke juga menatap Ino dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian saling tatap seakan ingin saling membunuh begitu?"
Aku yang sudah berada di antara mereka menatap mereka secara bergantian.
"Jelaskan pada temanmu ini bahwa aku tidak memaksamu untuk melebarkan kedua kaki mu untuk ku." Sasuke berkata dingin. Okay sepertinya aku mencium aroma kesalah pahaman di sini, ini kali pertama Ino mendapati ada seorang pria di pagi-pagi seperti ini, dia pasti sudah mengira bahwa Sasuke menginap, tapi yang ada di pikiran temanku ini adalah menginap dalam arti yang lain.
"Kau memang teman Dei, tapi jika kau berniat memangsa dan mempermainkan teman baik ku ini, aku tidak akan memaafkan mu Sasuke." Ino menatap tajam Sasuke.
Aku sudah akan angkat bicara untuk menjelaskan yang sebenarnya, namun sebelum mulutku terbuka, Sasuke segera meraih jacket nya yang menggantung di standing hanger berbentuk ranting pohon yang terdapat di balik pintu.
"Aku pulang. Terimakasih atas sarapannya."
Sosoknya segera menghilang di balik pintu meninggalkan Ino yang masih menatap sinis kepergiannya, dan meninggalkan aku yang berusaha membaca situasi ini. Detik berikutnya aku menghela nafas dan mengajak Ino untuk duduk di sofa, aku menjelaskan semuanya, mulai dari kedatangan Sasori yang hampir memperkosaku, kemunculan Sasuke yang menyelamatkan ku, dan alasan mengapa Sasuke memutuskan untuk menginap di sini.
"Astaga! Kau tidak apa-apa kan Saki?"
Kini raut wajah Ino telah berubah menajdi khawatir, dia menangkup kedua pipiku dan enarikku kedalam pelukannya.
"I'm so sorry Saki."
Aku mengusap lembut punggung Ino, aku tahu dia sangat khawatir padaku, terlebih lagi ini kali kedua aku nyaris di perkosa.
"Yang harusnya kau mintai maaf itu Sasuke, Ino."
Aku mendorong pelan tubuh temanku ini perlahan, menatapnya dan kemudian aku tersenyum. Dia terdiam sesaat, dan menggigit bibir bawahnya. Dia gugup. Aku dan Ino mempunyai kebiasaan yang sama, menggigiti bibir ketika kami berdua dilanda gugup. Aku merasa ada yang ingin dikatakan oleh sahabatku ini, dan naluri ku mengatakan ini berhubungan dengan sikap sinis Ino kepada Sasuke beberapa menit yang lalu.
"Well, yeah kau benar, aku akan meminta maaf sekaligus berterima kasih pada nya nanti, tapi sebelumnya biarkan aku menjelaskan sesuatu yang ku tahu tentang Sasuke padamu."
Okay, aku mulai merasakan perasaan dingin yang menyergapku seketika. Tubuhku langsung menegang begitu mendengar bahwa ini tentang Sasuke, pria yang beberapa jam yang lalu tidur ditemapt tidur yang sama dengan ku dan berbagi kehangatan. Aku tahu ada yang janggal di sini dan melihat ekspersi wajah yang di tunjukan oleh sahabat baikku ini, sepertinya aku harus siap dengan informasi yang lebih mengejutkan lagi mengenai Sasuke.
.
.
.
.
.
-T.B.C-
Weekend ini saya totaaal di rumaaaah :D
Gak ada kegiatan, cuma makan, tidur, berleha-leha, lama-lama bosen, akhirnya ngelanjutin P.J . XD (KSA belum dapet pencerahan *bertapa lagi*)
Untuk yang nunggu adegan lemonnya, di sini saya emang gak akan munculin di awal-awal, bcoz that's too fast. Ini kan alurnya memang slow, yaaa namanya juga drama-drama romance ala erotic novel gitu lah (kan inspirasi nya emang dari situuuh XD). Jadi sabar aja yah minna :D sementara ini harus puas sama yang nyaris-nyaris aja dulu yah XD.
Seperti biasa, untuk yang sudah meninggalkan reviews, para silent readers, dan yang memfollow maupun menjadikan Fict ini sebagai Fave, saya ucapkan banyak terima kasih pada semuanya :)
Mind to review? ;)
Hope you enjoy Minna.
Warm Regards,
Scotty Fold a.k.a Shinichi Haruko.
