/But strangers came, and tried to take them from me./
.
.
.
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Trias Politica © MooMoo
.
.
TRiAS POLiTiCA
/pars pro toto ; taking a part for the whole /
english roses II
.
.
.
Perapian meletup-letup.
Ruangan ditutup, pintu dikunci dan tirai digelar. Setiap celah-celah dicekal, ditambal, disekat rapat agar tak ada satupun pencuri dengar.
Ruangan itu berada di lantai tiga, jauh dari kericuhan pesta. Sekilas seperti ruang kerja, ada rak-rak kaca, ada satu set kursi-meja, ada pula seperangkat sofa. Dindingnya batu, lantainya pualam. Permadaninya agak berdebu, namun ada benang-benang emas tersulam. Jelujur kuning berkilauan disepuh cahaya lampu, merangkai sudut-sudut dalam lingkaran. Bintang David dan segitiga sama sisi dan lingkaran dalam satu formasi.
"Simbol apa ini?" Pemuda itu memperhatikan formasi di bawah kaki, matanya berkilat penuh minat di balik topeng berwarna hangat.
Vash Zwingli, si pemuda, baru pertama kali datang ke rumah ini, mulai dari sekarang akan mewakili ayahnya yang baru mati sebulan ini. Sekarang dia adalah penerus keluarga Zwingli, dia si anak kedua, bukan kakak laki-lakinya yang tak berguna atau adik perempuannya yang masih belia. Vash, putera kedua yang paling berdedikasi. Vash, yang resmi menyandang gelar kepala keluarga Zwingli.
"Magick. Favorit Kirkland, kan?" si tuan rumah mengisap rokoknya. "Bagaimanapun ini bekas rumah mereka."
Seorang pria paruh baya mulai bergidik, menghempaskan pantat pada sofa hingga berderik. "Kenapa tidak kau ganti karpet jahanam ini, Bonnefoy?"
Francis Bonnefoy hanya tersenyum sambil memantik korek, dan biang apinya dibuang tepat di karpet. Karpet itu terbakar dan berlubang, namun serat-seratnya langsung tumbuh sendiri seperti sulur akar tanaman. Adakadabra dan lihatlah semua, permadani itu kembali jadi sedia kala, tanpa bekas maupun noda. Ajaib. Sihir.
Magick.
Semua terhenyak, kecuali tuan rumah yang bosan.
"Astaga—"
"— Tak usah kuceritakan apa yang terjadi jika kita mengganti karpet ini, ya."
Semua terdiam. Si pria paruh baya—Marquis d'Arc tutup mulut.
"Rumah ini penuh Magick." Francis Bonnefoy bercerita, mengendikkan bahu pada benda-benda mencurigakan yang berjejer dalam rak kaca. Botol beraneka warna, piala maupun buku-buku penuh noda. Tidak hanya di ruangan ini—di mana-mana banyak hal berbahaya. "Kusarankan kalian jangan jalan-jalan sembarangan. Terutama di daerah Hedge Maze, ada jebakannya."
Vash mengerjapkan mata, dia langsung siap siaga. Dia teringat kakaknya, Alps Zwingli, yang masih ada di pesta mencari-cari wanita. Meski dia benci kakaknya, namun mereka tetap saudara. Tentunya dia tak mau si kakak terluka. "Kalau begitu kenapa Masquadrennial digelar di sini? Apa tidak berbahaya?"
Asap rokok melenting. Francis tersenyum.
"Tentu saja untuk mengejek keluarga Kirkland, kan?
Bayangkan kita bersenang-senang di atas kuburan mereka—"
.
.
.
.
Trang, tangan pendek milik jam dinding menggapai angka sepuluh. Ah, akhirnya mereka telah sampai—England, Matthew, Alfred dan Sey. Pesta sudah separuh mulai, sayup-sayup di balik pintu lantunan lagu mengiringi ketukan sepatu. Keempat orang itu memasuki ruangan, pelan dan perlahan dan tak ingin menarik perhatian, namun derit di pintu mengabarkan kedatangan tamu baru.
Krieeet, klak, dan beberapa pasang mata pun menoleh—perkumpulan nyonya kaya di sudut itu, tuan-tuan borju dengan saputangan dalam saku, sampai pelayan-pelayan yang mengedarkan alkohol dan es batu.
"—Ah, mereka akhirnya datang."
"Benar-benar memuakkan sekali, ya."
England hampir menggigil melihat pandangan orang-orang, namun bibirnya digigit kuat-kuat dan rasa mualnya ditelan bulat-bulat; tidak, dia tak boleh kalah. Dia harus kuat. Dia terhormat. Walau pandangan mereka terus menggilasnya lumat-lumat.
Kedua adik angkatnya tak jauh berbeda, ikut terpengaruh suasana yang mulai keruh. Mata Matthew menggaris karpet, muram dan jatuh menggelinding di atas lantai marble, dan Alfred terlihat lebih senewen, tangan mengepal-ngepal gatal karena kesal.
Ini menyebalkan. Orang-orang ini semuanya menyebalkan. Apa tak ada yang menyadari kalau pandangan mereka tak sopan?
.
.
Lampu-lampu kristal bersinar cantik dan terang. Cahayanya yang jalang menyorot Sey dan membuatnya telanjang.
Sey berpegang pada ujung setelan Matthew, berusaha mengecil seperti kerikil. Sesak dan terkucil. Rasanya seperti dihidangkan di atas piring, dikuliti dan dikupas sebelum dimakan binatang buas. Isi kepala gadis itu teraduk-aduk dan berkecamuk—dia gugup, dia takut, dia khawatir, dia getir.
Dari sudut matanya, Sey takut-takut melirik. Dua orang nyonya berbaju renda ribut bertukar gosip, menyembunyikan mulut di balik kipas bulu dalam gerakan berbisik, namun suaranya keras dan berisik. Seperti minta didengar. Seperti sengaja.
Seperti mempermalukan.
"—Lihat anak kecil itu? Kulitnya legam, jelas-jelas dia bukan dari Barat. Bonnefoy ambil gundik dari mana?"
" hitam sekali. Jelek seperti abu jelaga."
Kats. Wajah Sey tersulut merah sampai telinga. Malu dan marah. Kulitnya memang jauh dari kata indah, dia tak bisa menyanggah. Dia tak pernah menyanggah. Tapi—tapi—
"Sey—Hei, Sey!"
Derap langkah mungil berbalut sepatu meletup di aula itu. Si gadis kecil kabur keluar, tiba-tiba sudah jauh dari jangkauan. England hampir maju menyusulnya, namun lengan Matthew menghadang jalan. Pemuda itu tersenyum kalut, dan menggeleng pelan.
"Aku saja yang mengejarnya, England."
.
.
.
.
Empat pria duduk di sofa ruangan lantai tiga. Masing-masing merokok, entah dengan cerutu atau pipa, mumpung di ruangan ini tidak ada satupun wanita. Pintu masih ditutup dan jendela tidak terbuka. Sengaja, untuk jaga-jaga. Perapian masih menyala-nyala, satu set gelas kaca dan botol wine lengkap di atas meja.
"Bagaimana kabar anakku Joan, Bonnefoy?"
Pria itu menyalakan rokok keduanya. Isap, embus. Asapnya membumbung dan melambung. "Tentu saja baik, Marquis. Aku selalu memperlakukan istriku dengan baik. "
Semua tertawa dibuat-buat, kecuali Vash yang memang kaku dari sananya.
"Aku lega mendengarnya." Marquis d'Arc ikut mengemut cerutu. Ah, Joan, sudah lama dia tak bertemu anaknya itu. Sayang, hari ini Joan tak bisa ikut pesta— kehamilannya telah sampai bulan kelima. Cucunya yang pertama. Marquis tersenyum gembira. "Joan anak kesayanganku. Sebenarnya aku tak rela melepas bungaku untuk dipetik bangsawan playboy sepertimu, Bonnefoy."
"Ah ah, kau tahu dia yang jatuh cinta padaku."
"Justru karena itu kuizinkan kau menikahin—"
"—Meski Francis Bonnefoy punya empat anak haram?" Seorang pria bermata emas menyela tiba-tiba.
Kali ini Vash tak sengaja ikut tertawa, namun Marquis d'Arc tampak geram.
"Apa pendapat Joan tentang kumpulan anak-anak angkatmu itu, Bonnefoy?" tanya pria itu lagi.
"Dia positif." Mata Francis agak mengawang, merasa agak bersalah. "Dia mengganggap bahwa anakku adalah anaknya juga."
Joan, Joan yang cantik dan baik hati. Joan yang berbudi tinggi. Joan yang tak pantas mendapat dirinya sebagai suami. Joan yang seharusnya berbahagia dengan suami setia, bukan seorang brengsek macam dirinya. Tapi apa mau dikata? Joan teramat mencintainya. Dan dia pun mencintai Joan, sebesar cintanya pada wanita-wanita lainnya.
"Sungguh mulia, hati Joan anak—"
"—Eh? Israel?"
Mereka menoleh heran melihat Israel—si lelaki bermata emas kembali berdiri. Di wajahnya ada seringai, bisa dibilang terlihat keji. Rokoknya dibuang ke permadani dan diinjak agar mati.
"Aku jadi ingin dansa di pesta. Kalian teruskan saja diskusinya."
.
.
.
.
Tidak ada siapapun di taman. Semua orang ada di dalam, dari tamu undangan sampai para pelayan. Hari terlampau malam untuk sekedar jalan keluar, apalagi angin dingin getol mencincang sampai ke celah-celah tulang. Tapi, jikalau ada yang mau teliti, sebenarnya ada satu orang yang bersembunyi di sini, tertimbun bagai rahasia dalam peti. Mengasingkan diri dari kejamnya pesta. Seorang gadis kecil bergaun taffeta dan berkuncir dua. Seorang gadis kecil yang baru saja jadi bahan cerca.
(Kau anak yang tegar kan, Sey? )
"Tapi aku takut, England..." Sey memeluk kedua lutut, sosoknya yang meringkuk tersembunyi rapi di balik tirai-tirai daun di kedalaman taman, di satu sudut tanpa cahaya bulan maupun penerangan buatan. Roknya kusut dan wajahnya merah bercarut-marut, topeng ditanggalkan sembarangan. Si bocah telah lari. Dia telah melanggar janji. Dia tak bisa jadi tegar.
Dia tersedu sedan, menangisi penghinaan yang ia emban. Dia memang bayi berkulit jelaga tanpa mama. Dia memang gadis kecil yang tak pernah tahu siapa ibunya. Sey yang malang, Sey yang anak hilang. Tapi—tapi—
(Kau anak yang tegar kan, Sey? )
" ... Aku takut. Mereka menyeramkan. Mereka menghinaku. Mereka menghina ibuku. Mereka—"
"— Mereka kenapa?"
Isakannya membeku.
Sey menjerit ketika kedua lengan kokoh mengangkat tubuhnya yang mungil. Seorang pemuda, tak diketahui namanya, baru kali ini Sey melihatnya.
Wajah pemuda itu asing, tapi ramah dengan senyum merekah di balik topeng coklat tanah. Manis, seperti mengecap semulut penuh gula-gula. Seragamnya mirip anggota orkestra, licin dengan setelan gelap dan dasi pita, sekuntum mawar mekar di dada. Mawar hitam, tapi indah. Bukan hitam jelaga sepertinya, tapi hitam sekelam kibasan rambut sang malam.
Namun tidak ada cello atau viola. Tak ada Vihuella, gitar berdawai ganda. Tak ada flute. Tak ada alat musik di mana-mana. Di punggung si pemain orkestra malah terpikul garpu taman. Kombinasi yang aneh, antara pemusik dan pelayan.
Sey memiringkan kepala, rasa sedih hilang diganti heran. Senyum pemuda itu masih dikulum.
.
.
Taman yang sepi tanpa penghuni, namun Matthew yakin adik kecilnya itu lari ke sini. Mata violet riuh bergerak-gerak, mencari sosok mungil bergaun biru dan bersepatu perak, kali-kali terselip di antara ranting dan dedaunan. Purnama melihat dari atas, tertawa-tawa melihat sosok Matthew yang kebingungan, menyemburkan ludah-ludah perak yang bantu terangi pemandangan.
"Sey? Seeeey? Seeeeyy!"
Yang hilang itu sebenarnya siapa?
Sey itu jagoan petak umpet. Tikus paling lihai dalam permainan kucing-kucingan. Gesit dan sanggup menjangkau celah-celah sempit. Setiap kali bermain dia selalu menang. Setiap kali bersembunyi dia selalu hilang. Terkadang gadis itu bangga, membusungkan dada di depan saudara-saudaranya yang menyerah kalah. Tapi di saat seperti ini, Matthew mengutuk bakat alami si adik. Sey benar-benar ditelan rimba. Jangankan petunjuk, jejak kaki pun tak ada.
Bulan masih mengikik, makin bersinar makin nyaring tawanya.
"Sey," dia bersandar di batang pohon, tangannya menepuk dahi karena frustasi,
"kamu dimana?"
.
.
.
.
Tik tik tik. Baru tiga puluh menit, atau sudah tiga puluh menit? England berkacak pinggang, adu pelotot dengan tuan jam yang tersalib di dinding. Tak tik tak tiknya berirama pas, tidak cepat tidak lambat. Tak tik tak tik. Diputuskan, sudah tiga puluh menit. Terlalu lama.
Kemana Matthew dan Sey, adik-adiknya yang tak kunjung pulang walau dansa pertama telah lama selesai? Alfred sama gelisahnya, berusaha mengedarkan pandangan kemana-mana, mencari dua saudaranya di tengah lenting tembakau dan parfum wanita. Kali-kali mereka bersembunyi di balik bustle para lady atau asap cerutu kaum priyayi. Tidak ada. Di mana-mana. Saat begini, Alfred ingin punya seribu mata.
Dan Francis—Mana Francis saat kedua anaknya mendadak hilang? England sudah bertanya-tanya pada waiter, katanya si tuan rumah sedang berkumpul dengan para kolega. Urusan penting, katanya. Urusan istana yang tidak bisa ditunda. Saat didesak ruangan mana, si waiter malah kabur ke dapur.
Ayah tidak bertanggung jawab. Tapi kalau dipikir, Francis memang tidak pernah bertanggung jawab.
Khawatir khawatir khawatir. Tak tik tak tik. Waktu lewat semenit lagi. Dan semenit lagi. Tak tik tak tik tik tik. Berapa lama lagi waktu akan terus berdetik?
"England, aku akan ikut cari keluar!" cetus Alfred mendadak.
"Tunggu, Al—!"
Terlambat, sosok itu sudah hilang sebelum matanya sempat tertambat. England mencak-mencak. Kenapa pula jadi dia yang ditinggalkan sendirian? Lantas dia berpikir untuk menyusul Alfred—atau mencari Francis, siapa saja yang terlihat duluan. Siapapun itu, bersiaplah untuk menerima omelan.
Tap tap, tapi baru beberapa langkah dia sudah bertubrukan dengan dada bidang seorang pria. Atau pemuda. Entahlah, di balik topeng itu England tak bisa menerka. Posturnya tinggi, bibirnya melengkung jadi seringai. Kedua bola matanya serupa bongkahan emas, warna kuning yang meleleh panas, namun sorotannya bisa membeku sampai ke ulu. Kulitnya agak kecoklatan.
England tersipu, malu. "Maaf, saya tidak lihat jal—"
"—Tidak apa-apa. Yang tadi itu adikmu?"
Mata hijau mengerjap-ngerjap. Itu bahasa Timur. Suaranya berat, tapi gesit dan fasih. Kenapa ada orang Timur di sini? Imigran? Petualang? Pebisnis? Tamu kehormatan?
"Iya, itu adik saya." jawabnya dalam bahasa serupa.
"Kenapa dia lari keluar tanpa mantel? Cuaca di luar dingin, loh."
"Dia sedang mencari adik-adik saya yang lain."
"Oh. Jadi adikmu tidak hanya satu itu? Memang saudara yang kau bawa ada berapa?"
England tercolek listrik. Bahasa Utara lengkap dengan aksennya, lebih cepat dari yang tadi.
Pria ini sedang menguji.
"Ada tiga," dia menjawab sekenanya, dahinya mengkernyit mencari kosakata, "dua laki-laki dan satu perempuan. Tadi itu adik saya yang tertua."
"Siapa namanya?"
"Alfred."
"Oh."
Kata-kata pria itu sekilas tersusun tanpa makna, memaksa si pendengarnya untuk mengejar maksud si pembicara. Untunglah, sungguh teramat beruntung England rajin membaca di sela-sela waktu luangnya. Paling tidak dia mengerti harus menjawab apa.
"Ngomong-ngomong apa itu bekas melingkar di lehermu?" Ketertarikan yang sopan. Asli atau akting di depan?
"Ah, ini?" Jemari England menyentuh lebam biru itu. Bekas yang sudah ada dari dulu, tak pernah hilang meski waktu berlalu. "Tanda lahir saya, sepertinya."
"Oh ya, maafkan ketidaksopananku." Dia menyodorkan tangannya yang terbebat sarung tangan putih. "Israel Yerushalayim, salam kenal."
Bahasa Selatan. Pria ini mau menguji atau pamer keahlian? Dasar menyebalkan.
Tapi England tetap menyambut. Dia tidak menyukai pria ini, tapi etika adalah nomor satu tanpa terkecuali. Tata krama harus dituruti. Tantangan harus dihormati. "England—"
— Bonnefoy, tapi kata itu tertahan di mulut.
"Hanya England saja?" Alis naik satu.
"England... Bonnefoy. Salam kenal, Tuan Israel."Senyum. Amat terpaksa. Mudah-mudahan mereka tak akan bertemu lagi. Semoga.
Setelah prosesi basa-basi England buru-buru permisi, tidak menyadari bahwa mata pria itu mengikuti. Ah, andai saja England lebih awas, dia akan menyadari sepasang mata kuning yang buas di balik topeng emas. Nyalang menyala-nyala, bagai sepasang mata milik pemangsa.
"Salam kenal juga,
Arthur Kirkland."
Israel menyeringai. Biarlah ini jadi rahasia untuk diri sendiri.
.
.
.
.
"Matthew—"
Tap tap tap. Alfred bertoplakan di jalan setapak. Jalannya berlubang-lubang, membuat langkahnya agak goyang. Pepohonan bergantung murung, memberi bayang-bayang yang timbul-hilang.
Tap!
Matthew tengah beringsut di bawah pohon sambil mengaso. Topengnya dibuang ke tanah, wajahnya kuyu dan lelah. Layu. Capek mondar-mandir kesana-kemari, mencari adik yang hilang tanpa jejak kaki. Dia mendongak, melihat Alfred berkacak pinggang dengan bossy.
"—Matthew! Sudah menemukan Sey?"
Gelengan. Napas dibuang. Haaah. "Tidak. Aku kehilangan jejaknya. Sudah kucari kemana-mana, tapi tidak ada."
"Apa kau yakin Sey benar-benar di taman? Dia itu gesit, loh. Jangan-jangan kau salah."
Matthew melotot. Bisa-bisanya Alfred tak percaya. Kakak macam apa dia?
"Tatap mataku, Al. Ayo. Lihat apa yang ada."
Mereka saling bertatap sekitar lima detik, lalu putus kontak. Oke, oke. Dia kakak yang baik. Kakak yang baik akan percaya pada adiknya.
"Kalau begitu di mana? Sudah cari ke semua tempat?"
"Sudah, kecuali—" telunjuk menuding ke satu arah. Alfred menoleh dan terperangah, rahangnya hampir jatuh ke bawah. "— disana."
Hedge Maze.
Sepi, tanpa penghuni. Burung hantu sibuk bernyanyi. Patung-patung keramik bersebaran di beberapa sisi, wajah mereka yang tertimpa cahaya buatan terlihat lebih mati. Patung dewa-dewi yang seakan mengikik di malam hari. Seram, itu sudah pasti. Alfred menelan ludah, agak pucat pasi. Di pikirannya berkelebat bayangan patung-patung itu bergerak.
Dia kembali berkacak pinggang dan pura-pura tertawa. Mudah-mudahan tidak kelihatan bohongnya. "S-Serius? Masa Sey ada di sana, hahaha—"
"—Tapi cuma tempat itu yang belum kuperiksa, Alfred."
Glek. Alfred panik.
"B-bisa saja bukan di sana, kan— Cari lebih teliti!"
Matthew jadi agak kesal. "Sudah hampir sejam aku cari di taman ini, Alfred! Mulai dari lubang cacing sampai dahan pohon sudah kuperiksa! Aku positif, Sey ada di labirin itu."
Oke, bagaimana bilangnya?—Maaf Matthew, kakakmu ini paling takut tempat gelap. Kakakmu ini paling takut hantu. Buktinya, dia lebih memilih menahan pipis di malam hari daripada ke toilet sendiri. Masa selama bertahun-tahun bersama kau tidak menyadari betapa penakutnya kakakmu ini?
...Mana bisa? Wibawanya sebagai kakak tetap harus dijaga. Bisa-bisa ini jadi aib sampai tua. Dan ups, ups, Matthew tengah menunggu keputusannya.
Glek. Deg deg deg.
Uhu. Uhu.
Ada burung hantu.
Uhu. Uhu.
Oh, sial. Burung hantu sial.
"O-Oke, ayo kita ke sana!
Hero tidak pernah takut!"
.
.
.
.
Di bawah naungan atap gazebo putih, Sey tertawa-tawa tanpa henti. Mengikik geli. Bertepuk tangan riuh rendah dan sibuk memuji-muji. Hebat, hebat, katanya. Fantastis. Sulap! Ayo lagi!
Pemuda bergarpu taman itu tersenyum, mengibaskan saputangan ala pesulap di panggung hiburan. Simsalabim adakadabra, permen beraneka warna pun berjatuhan, rasa coklat, beri dan vanila terus bergelimpangan. Sey berteriak kegirangan dan kembali bertepuk tangan, gulali-gulali itu ditampung dalam pangkuan. Kakak ini sangat menyenangkan!
"Kak Seborga hebat sekali!" pekik Sey. "Seperti pesulap saja!"
Seborga nyengir. "Kakak bukan pesulap, loh! Ini rahasia, tapi kakak itu
—penyihir!"
Sey memiringkan kepala sambil mencecap permen vanila. Enak, murah tapi enak. "Penyihir?" Alisnya mengkerut. Di dongeng-dongeng, penyihir itu jahat, dan selalu berakhir mengenaskan saat semuanya sudah terlambat. Penyihir itu yang buat nyawa si cantik Putri Salju hampir tamat. Jadi kakak ramah ini juga jahat? "Bukankah penyihir itu nenek-nenek yang bawa sapu? Tapi Kakak laki-laki."
"Penyihir itu bisa laki-laki, kok. Malah kawananku kebanyakan laki-laki. Misalnya ada si alis-tebal-dari-neraka Scott, Wales, ada Ben, Jack—"
"—Tapi penyihir kan jahat!" protes Sey.
"Penyihir tidak jahat! Buktinya Kakak tidak jahat, kan?"
Sey menggeleng. Iya sih. Kakak Seborga ini tidak jahat—dia justru teramat baik, menghiburnya di saat sedih. Memberinya permen-permen dan gulali. Menaburinya bunga-bunga warna-warni. Membuatnya tertawa tanpa henti.
Benar, Kak Seborga sangat baik hati—jadi penyihir tidak seharusnya keji?
"Kamu juga bisa jadi penyihir, loh."
Mulut melongo. "Sey juga bisa?"
"Bisa, kok! Tapi sulit juga sih—harus ada persiapannya." Seborga menggaruk hidung, mengingat masa-masa sewaktu dirinya jadi amatiran bingung. "Mungkin Irene mau bantu. Dia pasti senang kalau ada anak Kirkland yang lucu sepertimu. Irene suka mengasuh anak."
Alis Sey mengkerut lagi. "Kirkland yang mana? Kirkland yang sudah musnah?"
Seborga tersenyum. "Kirkland yang sudah musnah!"
.
.
Tap.
"Argh!"
Alfred mengerang melihat pemandangan di depan mata. Jalan buntu untuk keempat kalinya. Mereka berdua mendongak, melihat kegagahan patung marmer itu dari dekat. Dagda, sang dewa besar Celtic yang gagah dan bersahaja, lengkap dengan piala dan kumis lebat. Pada stand tempat patung itu bertahta ada satu tulisan yang terpahat :
—No company ever went away from it unsatisfied.
Alfred melengos. "Sudah keempat kalinya kita sampai di depan patung."
"Benar." Entah Matthew memang tak sadar atau sedang berpura-pura.
"Tadi ada apa saja? Batu, tombak, pedang—dan sekarang om-om berkumis bawa piala—"
"—Hmm...—"
"—Semua sudut sudah kita periksa, tapi Sey tidak ada. Apa kubilang, Matthew? Sudah kuduga kalau Sey tidak ada di sin—"
Matthew tampak berpikir, menggaruk-garuk kepala. Alisnya bertumpuk seakan menyadari suatu fakta—fakta yang sempat terlewat mata. Setelah beberapa lama, dia memungut satu ranting dan menggambar garis-garis berbentuk pola.
"—Matthew?"
"Hush, aku sedang berpikir."
Rantingnya merancang kotak-kotak labirin di atas tanah. Gores kanan-kiri, kadang-kadang tercenung untuk mengukur sudut dan arah. Patung dewa-dewi di masing-masing mata angin, timur dan barat dan utara dan selatan, mudah-mudahan letaknya tak salah. Tak lupa juga, katanya ada gazebo di tengah-tengah.
Selesai. Kotak dengan lima lingkaran. Tengah, atas-bawah, kiri-kanan. Ini membuat Alfred heran.
"Kamu sedang gambar jampi-jampi?"
"Bukan, ini perkiraan pola labirin di taman ini." Wajah Matthew mengkerut, sadar ada yang ganjil. Tidak, tak mungkin—ini mustahil. "Aneh."
Dia terpekur. "Aneh apa?"
"Alfred, kita sudah melewati empat patung itu, kan?"
"Ehem."
"Dan sekalipun kita tidak mencapai gazebo, kan?"
"Ehem."
"Pintu keluar juga—Kita tidak menemukannya, kan?"
Alis naik. "Memang kenapa?"
"Kalau dari luar taman, polanya kira-kira begini—" Mereka merunduk mengikuti ranting yang meliuk-liuk di atas pola labirin. "Dari tadi kita tak pernah capai bagian tengah. Padahal seharusnya kalau ingin mencapai satu patung, kita harus lewati gazebo karena patung-patung itu ada di tiap sudut kotak—astaga!" Ranting itu gemetaran.
Matthew terlihat linglung. Sedangkan Alfred, dia justru makin bingung. Adik yang aneh.
"Oke, Matthew. Aku mengerti sih, tapi tolong jelaskan dengan lebih sederhana."
"Intinya—" Matthew menahan napas. "— Seharusnya dari tadi kita sudah melewati gazebo itu
empat kali."
.
.
.
.
Mereka beradu, bergulat, bergumul dalam nikmatnya candu asmara yang tak usah terikat cinta.
Ini hanyalah permainan satu malam di antara mereka—sang putra bangsawan yang dimanjakan harta dan seorang wanita penggoda. Hedge Maze ini adalah panggung terbaik untuk menyepi; tak kan ada yang bisa dengar desah berkicau atau erang bernyanyi. Si laki-laki suruh wanitanya buka kaki, tak sabar untuk mencecapi. Wanitanya menurut, kakinya yang jenjang terbalut stoking jaring dibelai prianya lembut.
"Ah, sayang—" si pria terkekeh. "Siapa namamu tadi?"
"Christine, Tuan Alps." Jemari lentik berkuku panjang menyentil hidung, wajahnya nakal. Rambut merah bertebaran di tanah. Menyulur seperti akar tanaman mawar. "Ingat baik-baik atau saya akan marah."
"Memangnya kau sering marah?"
"Sesering nenek sihir."
Mereka tertawa, lama. Lelucon yang gila, walau itu kenyataan yang sebenarnya memang ada. Tangan si pria meraba-raba dari dada sampai paha. Ah tidak apa-apa, Irene Kirkland sudah biasa—atau lebih tepatnya telah mati rasa. Toh, dia bukan gadis polos dari desa atau apa. Tangannya membelai-belai rambut si pria, berpura-pura hanyut dalam suasana, senyumnya rekah dan bercahaya.
Wanita yang teramat cantik, pria itu berpikir dengan senyum terukir, aku benar-benar beruntung.
"Apa Tuan Alps tidak apa-apa bersama saya? Katanya para bangsawan ada pertemuan?"
Alis Alps Zwingli berkerut. Seharusnya itu rahasia, tapi kenapa wanita ini tahu akan hal itu? "Dengar dari mana?"
...Nyaris. "Diberitahu pelayan, Tuan."
"Ah, tidak apa-apa." kekehnya. Alps bermain dengan kait di korset. Klik klik klik, baju dalam perlahan-lahan lepas. Irene menarik dasi hingga sepotong kain itu terjuntai lemas."Ada adikku yang keparat itu, toh dia bisa mewakili keluarga. Aku malas berurusan dengan diskusi-diskusi rumit soal istana bersama para bangsawan ksatria."
Dalam gelap, Alps Zwingli tidak melihat bayang-bayang setan mulai merangkak di wajah wanitanya.
"Di mana diadakannya?"
(ayo katakan)
(ayo)
"Di ruang kerja lantai tiga—Tidak penting, tidak penting." Tangannya mengibas lalat yang tak ada di udara. "Di ruangan paling ujung kiri yang sepi. Pelayan saja tidak diizinkan lewat. Untung aku tidak usah ke sana—" Dia mengecup Irene lembut. "— aku lebih suka habiskan sepanjang malam bersama wanita secantik kamu."
Irene tertawa-tawa, tapi nadanya lebih hambar dari biasa. Lalu dia berbisik di telinga, tipis-tipis dan tetap menggoda, "Tuan, saya sebenarnya agak lapar."
"Oh ya?"
"Benar—" Tangannya mengelus kulit di balik celah kemeja. Dari tulang belikat turun ke dada. Datar dan berdetak-detak, sungguh mengundang selera. "—Lapar sekali."
.
.
.
.
Tes.
Kres kres.
Testestestestes—
Kres.
Slurp.
.
.
english roses II end
.
.
next chapter : english roses III
* BERSAMBUNG*
Kenapa Israel muncul-muncul jadi pria ganteng?
Kenapa Wales dan Scott sama sekali kaga muncul?
Apalagi Scott, padahal tokoh utama tapi kenapa cuma muncul sebentar di cerita terus ilang lagi? *dikemplang Scott*
Apakah yang antagonis itu Francis atau Kirkland?
Apakah Matthew dan Alfred selamat dari jebakan taman labirin?
Apakah lebam di leher England?
—tunggu chapter depan untuk batuklebihbanyakmisteribatuk jawabannya. Dan saya jamin, chapter depan harusnya England sama Scott bakal ketemu. HARUS!
Oh ya, saya lupa kasih warn. Di cerita ini BANYAK disturbing imagery+pikiran-pikiran sumbang. Apa itu pikiran sumbang? Errr... Susah jelasinnya. Pokoknya yang pernah baca komik Level 'Under the Rose', kira-kira sebegitu sumbangnya (pengennya sih bikin sumbang yang keren kaya gitu. tapi kalo jatohnya sok emo berarti saya gagal ngarang cerita DX).
Alps Zwingli /Pegunungan Alpen, Joan d'Arc/Jeanne d'Arc, Jack/Union Jack. Sebenarnya ayahnya Joan itu Jacques d'Arc, sih, tapi di sini ditulis tanpa nama aja deh.
Oi oi, saya nganggur nunggu SMPTN UI. Yang lagi ada di Depok, ketemuan yuk! Nanti saya ajak Nami/NatureMature juga deh. Tapi itu kalau dia mau diajak. Huhuu. Dan di bawah ada glossary:)
.
.
G L O S S A R Y :
Bustle : Semacam 'bantal' yang diikat di belakang, berguna untuk menggelembungkan dress, umumnya terbuat dari kain.
Dagda : Salah satu dari dewa-dewi terpenting dari legenda Irish yang tergabung dalam ras Tuatha Dé Danann/ Peoples of the Goddes. Berhubungan dengan piala, salah satu dari The Four Jewels of Tuatha Dé Danann . Selain piala ada juga batu, pedang cahaya dan tombak yang dijaga dewa-dewi lainnya.
Garpu Taman : Mungkin ada yang bingung kenapa Seborga bawa-bawa garpu taman XD Saya pernah baca kalau penyihir laki-laki jaman dulu biasanya terbang pakai garpu taman alih-alih sapu, karena sapu identik dengan pekerjaan rumah (yang notabene dihindari para pria)
Hedge Maze : Yang dipakai adalah dasar pola Roman Maze, yang berbentuk kotak, dengan variasi patung-patung di empat sudut mata angin.
Magick : Pelafalan lama dari magic, digunakan pada masa Early Modern English (sekitar pertengahan akhir abad 15 ke 1650)
Rokok : Bangsawan pria hampir semuanya merokok, hanya saja dilarang merokok dalam ruangan yang ada wanitanya (sumber: Lady Victorian XD)
Taffeta : Bahan yang terbuat dari sutera atau benang sintesis. Yang sutera sering jadi bahan gaun untuk putri-putri bangsawan jaman dulu.
Yerushalayim : Jerussalem
.
.
R E V I E W R E P L Y
LalaChastela : Ya ampun kamu apal banget sama TP yang lama! D: *takjub* *saya aja yang ngarang lupa* Hehehe iya ceritanya jadi beda ama yang lama, kan? Dan saya sebenarnya sama kaya kamu, kayanya sekarang fandom ini ada yang beda, mungkin karena beberapa author lama udah ga ada, ya ;w; Oh kamu baca Tangle juga ya? Pengennya sih penpik itu sayah lanjutin juga, sayang bok udah bikin plot sampe tamat. Mungkin kalo inspirasi DN saya balik saya bakal lanjut Tangle lagi. Makasih ripiunya gan!
