AI (It Begins in One Night)

Title : AI

Author : Fina

Main Cast(s) : Kim Jong In, Oh Sehun, Park Chanyeol

Other Casts : Xi Luhan, Lay Zhang, Wu Yi Fan, Byun Baekhyun

Explanation : Latar pada keruntuhan pemerintahan joseon oleh penjajahan Jepang

WARNING : NO COPAS ! Yaoi, crack pair. (don't like don't read)

Author ….. ?

Annyeong, ini author bawa chapter ke-dua. Mianhamnida, karena udah hiatus terlalu lama di page ini. Tapi setelah denger salah satu nasehat reader, jadinya aku lanjutin dulu cerita ini. Ini ceritanya pas zaman kerajaan Joseon yang runtuh karena penjajahan Jepang. Jadi … agak maksa -,- . Jeongmal minhamnida, karena aku masih baru dalam dunia FF. Maaf banget kalo FF ini ancur dan rusuh ya . Tapi, RCL ya :) karena jujur, aku bener-bener butuh comment kalian :3 . Kamsahamnida *bowbowbowbowbow* saranghae T.T

Mengetahui bahwa Jenderal Park ternyata juga mencintaiku membuat seluruh syarafku berhenti secara tiba-tiba. Aku terlalu terguncang dan tidak siap untuk menerima kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang kuperkirakan. Aku berfikir, apa setelah ini Jenderal Park akan mau menemuiku dan mau menyapaku layaknya masa-masa dulu ?

Kubaringkan tubuhku di ranjang gulung bermotif bunga emas dengan corak biru milikku dengan lemas. Sayangnya, aku benar-benar gagal saat mencoba untuk mengistirahatkan tubuh serta pikiranku. Terlebih pikiranku.

Pikiranku kalut, antara bingung, senang dan ragu. Ragu karena aku takut itu semua hanya jebakan semata untuk memenggal kepalaku. Meskipun aku ragu Jenderal Park bukanlah orang seperti itu.

Mataku mulai tertutup. Aku lelah dengan hari itu, kepalaku serasa mau pecah.

BRAK !

Saat itulah, aku mendengar suara gebrakan yang ternyata adalah suara awal dari kekacauan negeri ini. Tentara Jepang itu datang, membawa sebuah pedang besar di tangannya. Menjambak rambutku dan menyeret tubuhku secara kasar keluar, membuangku di halaman depan di mana aku melihat seluruh keluargaku diperlakukan dengan sama.

"Bawa mereka !"

Saat itulah aku melihatnya, saat aku mendengar salah satu suara bangsaku. Lelaki tinggi bermata elang dengan kulit putih pucat, bekas sabetan di pipi kirinya yang nampak samar, namun tidak bisa disembunyikan. Sangat jelas bahwa dia adalah orang Korea meskipun tubuhnya dibalut dengan pakaian Samurai serba hitam, tapi kenapa dia membantu seluruh tentara Jepang itu ?

Tubuhku dihempaskan pada sebuah kereta keranjang bau yang sudah sangat sesak karea terlalu banyak orang di dalamnya. Seluruh tubuhku tidak dapat bergerak, semuanya terasa kaku , mataku berkunang-kunang.. Dan aku hilang kesadaran.

Aku tidak ingat berapa lama aku kehilangan kesadaranku. Saat aku bangun, aku sudah berada di sebuah penjara bersama orang Korea lainnya. Aku mulai tertatih untuk bangun dan melihat keluar sel-ku.

Tepat di depanku, Jenderal Park dengan kepalanya yang bersimbah darah duduk di pojok sel-nya dengan mata merah, seakan terkubur perasaan amarah yang begitu kuat akan sesuatu. Tapi, ada yang berbeda dengan sel jenderal Park. Selnya kosong, tidak seperti milikku yang di isi oleh lebih dari 5 orang.

Aku hendak memanggilnya, mengatakan perasaanku yang sangat senang karena melihatnya. Tapi, seseorang datang. Dengan baju samurai berwarna merah gagah dan membawa pedang yang ada di pinggulnya, rambut hitam pendek yang agak berantakan menambah kesan bengis padanya.

"hai Chanyeol ?"

Lelaki itu memanggil jenderal Park dengan nada seolah sangat mengenalnya. Aku mengenal suara itu dan postur tubuh itu. Dia lelaki berkulit pucat yang menyeramkan itu.

"kau terlihat seperti hal yang biasa kulihat di penjara ini … apa itu ya ? biar kuingat ? Oh ya, sampah !"

Amarahku memuncak, lelaki itu merendahkan Jenderal Park seakan ia lebih tinggi darinya.

"pengkhianat keji ! kau lebih rendah dari sampah Oh Sehun !"

"haha ! itu dulu, sebelum semua ini terjadi. Sekarang dengarkan aku baik-baik Park Chanyeol, semuanya akan segera berubah"

Lelaki itu memutarkan badannya, sekarang aku dapat melihat jelas wajahnya. Matanya sangat tajam seperti mata elang yang sedang mengintai mangsanya, sangat tegas, dan bengis dan juga tampan. Tapi tidak setampan jenderal Park.

Lelaki itu berjalan meninggalkan sel kami. Langkah sepatunya menggema di seluruh lorong yang ia lewati. Kata-katanya kepada jenderal Park, seolah menyayat hatiku pula. Kutatap kembali Jenderal Park yang masih duduk lesu di ujung selnya. Matanya bertambah merah karena amarahnya pasti sudah memuncak hingga ubun-ubunnya.

"je .. jenderal Park ?"

Panggilku pelan padanya.

Dia menolehkan wajahnya padaku. Warna merah pada matanya memudar, wajahnya terlihat sangat senang saat melihatku.

"Jong In ! Kau di sini ?! Apa kau terluka ?"

"aku tidak apa-apa … aku hanya sangat senang melihatmu di sini"

Dengan lapisan dan jarak antara sel yang memisahkan kita. Aku masih dapat mendengarkan tawanya, melihat senyumnya, dan memanggil namanya. Dia tersenyum padaku dengan wajah yang masih berlumuran darah. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

Aku tidak pernah berfikir bahwa itu adalah saat yang paling tragis yang terjadi di antara Jenderal Park dan aku. Entahlah, aku terlalu bahagia saat itu.

Jenderal Park menatap mataku, tatapannya benar-benar teduh dan menghangatkan hatiku. Aku merindukannya, aku merindukan senyuman hangatnya bukan kondisinya saat ini. Jenderal Park ku yang sangat aku sayangi …

"Jong In … aku … aku minta maaf, aku tidak bisa melindungimu"

Aku tercengang mendengar kata-katanya. Perasaanku sangat sedih saat melihat kondisi Jenderal Park saat ini, tapi kata-katanya membuatku semakin merasa tidak berguna di hadapannya.

"aku harusnya menghentikan mereka saat itu … harusnya aku melindungimu …"

"Jenderal, melihatmu di sini sudah membuatku sangat bahagia. Aku tidak membutuhkan hal yang lain lagi saat ini"

Jenderal Park tersenyum, matanya berbinar senang. Aku senang melihatnya seperti itu. Aku tidak peduli dengan hanbok putih kotor dan lusuh yang dipakainya saat ini, ataupun rambutnya yang sudah berantakan saat ini. Aku hanya sangat senang dengan melihatnya tersenyum seperti itu padaku.

Jam terus berlalu, namun aku dan Jenderal Park masih tidak bisa berbicara secara gamblang di sini. Banyak bangsaku pula yang berada di sini, sedangkan rahasia kami masih harus tetap terjaga.

"Park Chanyeol ! Waktumu untuk dipindah"

Aku terkejut mendengar salah satu pengawal jepang itu berbicara. Aku bisa berbahasa Jepang, aku pernah belajar itu bersama ayahku saat kecil. Tapi, aku tidak akan menunjukkan kemampuanku itu.

"Apa maksudmu ?! aku akan terus berada di sini !"

Jenderal Park membantah dengan tegas menggunakan dialek Tokyo. Pengawal itu terkejut, tapi mereka segera menutupinya dengan perintah lain.

"ini perintah dari Sehun-sama ! Jangan membantah !"

Jenderal Park hanya memelototkan matanya tidak percaya. Kemudian menatapku dengan penuh rasa bersalah. Matanya berkaca-kaca dan berwarna sangat merah. Aku hanya membalasnya dengan anggukan pasrah, aku tidak mau Jenderal Park mempunyai nasib lebih buruk lagi jika tidak mematuhi perintah mereka.

Dengan marah, Jenderal Park menghempaskan rantai yang telah digenggamnya semenjak tadi dan para pengawal itu mulai membawanya pergi.

Jenderal Park sedikit menoleh padaku saat ia akan dibawa pergi, dalam sarat matanya aku melihat sebuah janji besar darinya untukku. Namun aku tidak tahu apa itu.

"Kalian ! kalian akan menemui Sehun-sama, berbarislah !"

Seluruh bangsaku tidak mengerti apa yang pengawal itu ucapkan. Jadi mereka hanya diam sambil menatap satu sama lain. Akupun memilih diam daripada harus menuruti perintahnya.

"Apa kalian tuli ?!"

"sst … mereka tidak akan mengerti apa yang kau bicarakan"

Tepat setelah pengawal itu meneriakkan kemarahannya, suara seorang lelaki muncul diantara lorong gelap penjara. Oh Sehun, laki-laki licik yang telah menghina Jenderal Park.

"aku Sehun dan kalian, sekarang adalah budak dari Yamato Kuresai. Aku adalah satu dari majikan kalian. Mulai sekarang, kalian akan bekerja untukku dan untuk Yamato-sama dan pastikan kalian tidak membuat secuil-pun kesalahan dalam melakukan pekerjaan kalian"

Mulutku membisu namun mengumpat pada laki-laki ini. Aku sangat-sangat membencinya, dia juga orang Korea. Tapi kenapa dia ?!

Kami dipaksa pergi untuk bekerja di bawah terik matahari yang sangat panas. Memanen padi yang ada di padang luas ini. Tanganku serasa sakit karena tidak terbiasa melakukan hal ini kemudian beralih tugas menuju dapur, membersihkan semua perabotan dapur, memetik anggur untuk difermentasi. Badanku serasa pegal, namun lelaki pucat itu terus mengawasiku dan aku harus tetap melakukan pekerjaanku. Andai Jenderal Park di sini, dia pasti akan membuat semuanya lebih baik.

Kami tidak diberi istirahat barang 1 jam pun selama 14 jam. Badanku terasa sangat sakit dan aku sangat kelaparan. Dan coba tebak apa makan malam kita ? hanya air dan semangkuk nasi. Aku sangat mengutuk orang-orang Jepang biadab ini !

Keluarga sebangsaku memakan nasi itu, setidaknya kami harus bersyukur karena itu bukan nasi basi seperti yang diberikan pada sel yang lain. Entahlah, mungkin karena teman-teman satu sel-ku bekerja paling giat di antara mereka.

"Jong In … meskipun nasi ini sudah bau, makanlah … kau sudah bekerja keras hari ini"

Salah seorang paman dari kelompok pemusik yang kebetulan berada di sel ini memberi nasehat yang tidak kumengerti. Apa dia gila ? ini nasi baru, kecuali jika ia mendapat nasi basi seperti yang didapat sel lainnya.

Benar saja, aku membau nasinya dan merasakannya. Ini nasi basi dan rasanya sangat tidak enak. Tapi, ini sangat berbeda dengan milikku. Nasi yang diberikan padaku masih beraroma harum dan sangat lembut.

Kulihat seluruh taman-teman selku yang ternyata juga mendapat nasi basi yang sudah tidak layak dimakan. Ini aneh, sangat aneh. Kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini ?

"paman, sebaiknya aku menanyakan hal ini kepada penjaga. Ini tidak adil"

Kuangkat kedua kakiku dan membusungkan dadaku dengan marah. Aku tidak bisa berada dalam posisi menguntungkan seperti ini, jika keluargaku mengalami nasib mengerikan maka akupun juga harus seperti itu.

Mataku melihat ke seluruh sudut penjara, ada satu penjaga yang senantiasa berdiri dengan posisi siap dan wajah sangar yang menghiasi auranya. Dalam posisi itu, aku tidak bisa diam dan menyembunyikan kemampuan berbahasa Jepangku. Jadi aku tidak punya pilihan lain.

"pengawal ! aku meminta nasi yang sama seperti mereka !"

Aku bisa merasakan orang-orang di selku terkejut dengan pelafalan Bahasa Jepangku yang tanpa cacat. Pengawal itupun juga melakukan hal yang sama, namun tidak lama kemudian dia berjalan mendekat padaku. Menatapku dengan .. entahlah, aku merasa dia seakan menelanjangi tubuhku dengan tatapannya.

"benar kata Sehun-sama … Kau bukan lelaki biasa"

Jawaban yang sangat tidak ada hubungannya dengan permintaan yang aku katakan padanya. Aku tahu itu.

Keningku mengerut penuh tanda tanya dan menatap menyelidik padanya. Namun tatapannya malah semakin mengerikan.

"makanlah apa yang kau dapat"

Ucapnya singkat lalu kembali ke tempatnya bertugas.

Mulutku terbuka lebar dan menatapnya dengan tatapan marah. Bisa-bisanya dia seperti itu.

"Kita hanyalah budak sekarang, Jong In-ah …Terimalah apa yang diberikan padamu, setidaknya kau harus bersyukur"

Air mataku dengan refleks turun dari sumbernya, sangat pahit menerima kenyataan seperti ini. Aku ingin harga diriku kembali.

"makanlah ini paman, kau lebih pantas mendapatkannya"

Paman itu melihatku dengan tatapan bingung, namun kemudian memakan nasi itu secara lahap. Sedangkan aku lebih memilih untuk duduk meringkuk di pojokan, membuat diriku kelaparan dan merenungi semua yang terjadi padaku.

Namun saat itu, aku tidak tahu bila kenyataan yang aku terima harus lebih buruk dari saat ini.

Gebrakan dari pengawal di pintu selku membangunkan tidur pulasku. Dia melemparkan tombaknya pada salah satu dari kami, dan itu berhasil membangunkan semua penghuni sel.

Di luar, aku melihat langit yang masih tampak petang. Ini bahkan belum pagi betul, tapi mereka membangunkan kami layaknya ini sudah tengah hari. Aku bertaruh, waktu tidur kami tidak sampai 3 jam.

"Kim Jong In ?"

Seorang pengawal memanggilku dengan nada ketusnya. Aku heran, apa yang salah denganku atau dengan namaku ? kenapa mereka memanggilnya seperti itu ?

Kubalikkan badanku dan melihatnya, lalu membungkuk secara sopan. Setidaknya, aku masih punya sopan santun. Tapi dia tidak membalasku dan hanya mengisyaratkan jarinya agar aku mengikutinya. Sejujurnya, jantungku berdebar tak karuan dan takut dengan apa yang akan terjadi.

"masuklah, bersihkan badanmu. Ini perintah Sehun-sama"

Aku kembali mengernyitkan keningku sambil bertanya-tanya dalam pikiranku sendiri, apa yang diinginkan orang itu ?

Seorang nenek tengah menungguku dengan kimono tuanya ditemani dengan gadis-gadis jepang lainnya. Dengan hormat dia memintaku untuk masuk ke dalam ember kayu besar berisi air panas.

Sebenarnya, aku malu saat bajuku dibuka oleh beberapa gadis pelayan itu. Namun tidak dengan mereka, mereka tampak sangat santai melakukannya.

"Kami akan membersihkan badanmu dengan sari bunga sakura. Kuharap kau menyukainya, tapi jika aku boleh memuji wajahmu dan badanmu sangatlah anggun bagaikan seorang wanita tuan. Tak ayal Sehun-sama memberikan secuil kebaikannya padamu"

Mataku melebar mendengar perkataan nenek itu. Dia mengatakan dengan penuturan yang sangat halus dan senyum indah di akhir kalimatnya.

Tapi aku semakin tidak mengerti dengan Oh Sehun, kenapa dia melakukan ini padaku ?

Acara membersihkan tubuku selesai dengan sangat lama, tapi juga sangat nyaman. Aku tidak pernah merasa sebersih dan seindah ini. Mereka memakaikanku kimono berwarna merah muda dan putih. Meskipun aku tidak begitu mengetahui tentang kimono, namun satu hal yang aku tahu. Ini kimono wanita.

Rambutku yang sepunggung pun digelung secara anggun. Lagi-lagi, nenek tua itu, memujiku kembali dan mengatakan bahwa rambutku sangatlah halus. Meskipun begitu, aku sedikit tidak menyukai dandananku. Benar-benar terlihat seperti wanita. Tapi harus kuakui bahwa aku terlihat sangat cantik dan menawan.

"mereka akan mengantarmu menuju ruangan Sehun-sama, dia menunggumu di sana"

Dengan langkah kaki pasrah aku mengikuti gadis-gadis Jepang ini menuju suatu paviliun. Langkah kaki mereka begitu pelan dan membunyikan suara senada karena mereka memakai sandal kayu yang sama. Aku berharap perjalanan itu akan lebih lama, tapi tidak. Kami tiba di sebuah paviliun. Paviliun itu cukup besar dan megah, pasti Oh Sehun telah menjadi orang yang sangat dihormati di sini. Cih, dasar ular.

Akupun mulai menaiki anak tangga yang cukup besar untuk mencapai ruang paviliun itu. Hatiku berdebar kencang saat tanganku akan menyentuh daun pintunya.

Dengan perlahan kugeser pintu itu, dan coba kau tebak? Aku melihat seorang lelaki tampan yang memakai kimono berwarna hitam legam. Aku bersumpah dia sangatlah tampan dan … entahlah, terlalu sulit untuk mendeskripsikannya. Dia sedang meletakkan pedang samurainya tepat di sebelah kasur gulungnya.

Saat dia menolehkan wajahnya dan mata kami bertemu pandang, aku terkesiap dan mencoba untuk mengontrol sendi lututku agar tidak roboh. Bekas sayatan di wajah kirinya terlihat, jika boleh aku jujur. Dia terlihat lebih menawan daripada tempo hari yang terlihat oleh mataku.

"akan lebih baik jika kau mengetuk pintunya"

Lamunanku terbuyar oleh suara bassnya yang terdengar menggoda di telingaku. Tapi aku segera menyembunyikan wajah tomatku dengan menundukkan kepalaku.

"tutup pintunya, dan masuklah"

"di mana Jenderal Park ?"

Tanyaku spontan. Karena jujur, dengan seluruh pesonanya itu aku mulai mengingat jenderal Park. Aku melihat sesuatu yang sama antara Jenderal Park dengannya, namun aku tidak tahu apa itu.

Dia meringis, kemudian tertawa ringan sambil menatapku seperti aku adalah orang terlucu yang pernah ia temui.

"duduklah terlebih dahulu"

Aku hanya bisa mematuhinya dengan tetap menundukkan wajahku.

Tapi Sehun-sama memiliki inisiatif lain, dia menepuk-nepukkan tangannya di kasur empuknya yang terlihat sangat hangat. Ia memberiku tanda untuk duduk di sampingnya. Namun aku tidak sebodoh itu dan aku bukan laki-laki murahan. Jadi aku hanya diam di tempat sambil menatapnya penuh amarah.

"wah, kau itu budak tapi memiliki ego yang besar"

Dia memasang ekspresi seakan ia menyanjungku, memujiku. Namun kata-katanya hanya membawa nafsu amarah yang besar pada diriku. Mataku berkaca-kaca, mendengar kata budak membuat hatiku terluka, marah, dan sangat ingin menamparnya.

Matanya menatap tajam padaku, terlepas dari pandangan penuh nafsu. Itu adalah pandangan penuh obsesi yang pernah aku lihat.

"aku tidak suka melihat orang yang kusuka menangis"

Ucapnya tiba-tiba yang membuat seluruh tubuhku bergetar hebat, menatapnya penuh tanda tanya. Namun wajahnya malah menyelidik padaku, seakan mengetahui sesuatu yang janggal padaku.

Sekejap kemudian dia mengangkat pedangnya, dan membukanya seperti bersiap membunuh seseorang. Matanya beralih menatapku tetap dengan pedang di tangan kirinya.

"apa harus kubunuh orang yang sudah merebut hatimu terlebih dahulu itu?"

TBC

Mianhamnda readersdeul, Cuma ini yang bisa aku tulis …. GJ banget sumpah, gue minta maaf banget TT . Tapi, RCL juseyo …. :)