"Heh, kuat juga kau tidak pingsan menerima kejutan ini. Tapi, memang begitulah harusnya milikku." Kekehan Sasuke masih dengan seringai yang setia di bibir tipisnya.
Sakura hanya diam saja karena ia ingin fokus untuk menetralkan kembali dirinya.
"Jadi bagaimana dengan kejutannya, sayang? Apa kau suka?" Mata Sasuke kemudian berubah menjadi merah darah.
.
.
.
.
.
Naruto Milik Masashi Kishimoto, Saya Hanya Menggunakan Tokoh Animenya
.
.
.
Warnings!
OOC, typo(s), gaje, alur kecepatan,jauh dari kata bagus, dll.
.
.
.
.
.
Setelah berhasil menetralkan dirinya sendiri, Sakura menatap tajam ke arah Sasuke.
"Jadi? Apa kau suka?" Tanya Sasuke lagi. Memancing Sakura.
"Kau!" geram Sakura berjalan mendekati Sasuke lalu mendorongnya masuk ke apartemennya dan menutup pintunya.
"Apa yang kau lakukan padaku, sialan?!" Sakura menarik kerah hakama Sasuke.
"Kita sudah terikat kontrak, sayang." Jawab Sasuke santai sambil menyeringai namun matanya berubah kembali menjadi hitam lagi.
"Kontrak?"
"Hn." Sakura melepas kasar cengkraman pada hakama Sasuke. Sungguh, ia masih bingung dengan apa yang dialaminya.
"Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak menerima suatu kesepakatan. Bahkan kita tidak ada membicarakannya." Sakura masih tidak menerima hal ini.
"Ingat ketika tadi aku menciummu? Saat itu kita sudah membuat kontrak." Sasuke menatap dalam mata Sakura.
"Apa?! Kenapa kau seenaknya seperti itu?! Itu tidak adil!" Sakura memukul tembok disampingnya.
"Terima sajalah."
"Tidak!" Sakura kembali menatap tajam Sasuke.
"Kau tidak akan bisa memutuskannya, kecuali atas keinginku." Sasuke mengangkat dagunya, maniknya menatap ke bawah mata Sakura.
"Bohong! Pasti ada cara lain!" Sakura berjalan ke ruang tengah, menjauhi Sasuke.
"Ada sih, tapi itu-" gantung Sasuke sambil berjalan mengikuti Sakura "kematian."
Sakura mengempaskan tubuhnya ke sofa dan menyandarkan kepalanya. Mana mungkin dia mau mati gara-gara hal yang bahkan tidak ia ketahui.
"Jadi, apa isi kontrak kita?" Tanya Sakura masih dengan posisi yang sama. Sepertinya Ia cukup santai menghadapi hal seperti ini.
"Yang paling utama adalah kita akan menikah." Ucap Sasuke santai masih berdiri memperhatikan Sakura. Mendengar itu membuat Sakura langsung balik menatap Sasuke dengan tajam. Mencari kebohongan atas pernyataan yang telah diucapkannya. Namun sayangnya, dia tidak menemukan hal itu. Oh Sakura ingin menarik kata-katanya tadi. Lebih baik ia mati.
Sakura kembali mengempaskan punggungnya kasar pada sofa yang di dudukinya.
"Oh ayolah. Apakah kita sedang syuting film? Kenapa aku harus mengalami drama seperti ini?" Sakura menghela napas kasar.
Hening sejenak. Sakura menatap langit-langit apartemennya sedangkan Sasuke menatap Sakura dalam.
"Kenapa aku?" Sakura pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Karena aku memilihmu."
"Ya, kenapa?"
"Karena kau takdirku."
"Heh, jangan bercanda." Sakura terkekeh lalu memalingkan wajah ke arah jendela luar.
"Aku tidak bercanda!" Seru Sasuke tidak terima kemudian berjalan ke arah Sakura dan berhenti tepat di hadapannya.
"Kalau aku tetap menolak?" Sakura kemudian kembali menatap mata onyx Sasuke.
"Tidak akan bisa."
"Mengapa?"
"Aku menolak penolakanmu." Hening kembali. Mereka terdiam dan bertukar pandang cukup lama hingga Sakura yang memutus kontak lebih dulu.
"Cih, bicara denganmu membuatku lapar saja." Sakura lalu bangkit dan berjalan menuju dapur.
"Apa makhluk sepertimu perlu makan juga?" Sakura bertanya sambil mengambil ramen cup dari lemari persediaan makan miliknya.
"Bisa tidak, bisa juga iya."
"Kau mau makan?"
"Kau mau membuatkannya?"
"Kau tidak mau?"
"Kau tidak akan memasukkan sesuatu? Seperti racun?"
"Aku tidak punya sesuatu seperti itu, tapi aku bisa membuatnya. Kau mau aku menambahkannya ke makananmu?"
"Silahkan. Tidak akan mempan"
"Benarkah?"
"Hn." Sasuke berjalan mendekati Sakura yang saat ini sedang menuang air panas ke dalam dua ramen cup di hadapannya.
"Kau tau? Aku lebih ingin memakanmu daripada ramen yang ada dihadapanmu ini." Bisik Sasuke tepat di telinga Sakura dari belakang.
Sakura yang terkejut mendengar Sasuke berbicara seperti itu reflek mengambil pisau yang ada di hadapannya lalu berbalik arah dan mengarahkan pisau itu tepat di samping leher Sasuke. Mungkin satu centi lagi akan dapat menggores leher Sasuke, jika memang pisau biasa itu dapat melukainya.
"Jangan macam-macam kau denganku!" ucap Sakura dengan penuh penekanan dan menatap tajam Sasuke.
"Heh, memangnya kenapa kalau aku macam-macam? Kau kan' calonku." Sasuke dengan cepat melempar pisau yang ada di genggaman Sakura ke sembarang arah, lalu mengurung Sakura dengan kedua tangannya yang juga menahan tangan Sakura pada pinggiran meja.
Mata Sakura terbelalak kaget saat posisinya sekarang yang benar-benar tidak menguntungkannya.
Sasuke mendekatkan wajahnya kemudian berbisik di telinga Sakura.
"Aku sudah tidak sabar, kau tahu?" Sasuke menggigit kecil telinga Sakura kemudiannya meniupnya.
Sakura yang diperlakukan seperti itu langsung merinding dan sebelum pengendalian dirinya runtuh, dia pun menginjak keras kaki Sasuke. Sasuke pun lengah dan genggamannya pada tangan Sakura pun melonggar.
Kesempatan itu pun tidak mungkin disia-siakan oleh Sakura. Sakura pun langsung menyikut perut Sasuke dan berlari dengan cepat kearah kamarnya, tidak lupa membawa ramen cup miliknya. Ketika sudah masuk kamar, Sakura pun langsung mengunci pintunya.
"Heh, kau kunci pun itu percuma, sayang." Kekeh Sasuke melihat perilaku Sakura yang kabur dan menutup pintu, kemudian Sasuke melirik ramen cup yang mungkin dibuat Sakura untuk dirinya, mengambilnya lalu memakannya di meja makan.
Sedangkan Sakura yang sekarang sudah di dalam kamarnya menatap waspada kearah pintunya. Setelah beberapa menit merasa cukup aman, barulah dia duduk di atas kasurnya lalu memakan ramen cup yang dia pegang daritadi.
"Cih, jadi mengembang karena kelamaan." Batin Sakura menatap ramen yang dia makan dengan sedih.
"Kenapa ramennya tidak aku bawa saja tadi dua-duanya nya ya?" gumam Sakura ketika sudah selesai menghabiskan ramen cup miliknya namun masih merasa lapar.
Karena bingung ingin melakukan apa, Sakura pun memutuskan untuk memainkan ponselnya saja hingga ia pun terlelap karena lelah dengan apa yang terjadi seharian ini.
.
.
.
.
.
Drrrtt drrrtt . . . Drrrtt drrrtt
Alarm ponsel Sakura bergetar, membuatnya terbangun bahkan ketika matahari belum terlalu memancarkan sinarnya. Ya, Sakura memang selalu bangun pagi-pagi hari. Karena sebelum ia berangkat sekolah, ia akan jogging sebenter di daerah sekitar apartemennya dan membuat sarapan.
Namun ketika Sakura membuka matanya dan merenggangkan otot-ototnya, dia merasa ada suatu beban diatas perutnya sehingga membuatnya sedikit sulit bergerak. Dia pun menarik selimutnya dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat ada sebuah lengan disana.
Sakura pun langsung menoleh ke sebelahnya. Keterkejutannya pun bertambah dua kali lipat ketika melihat sosok disebelahnya. Sosok yang dari kemarin mengganggunya. Ia pun ingin bangkit duduk namun tertahan. Lengan diatas perutnya malah mengeratkan pelukannya, membuat napas Sakura tercekat.
"Hei! Bagaimana bisa kau ada di sini?" Sakura berusaha mendorong Sasuke, namun apa daya. Tenaga lelaki pasti lebih besar daripada perempuan. Apalagi yang ada di hadapannya ini bukan manusia.
Bukannya menjawab, Sasuke hanya diam mengabaikan pertanyaan Sakura dan makin mengeratkan pelukannya.
"Hei, bangun! Minggir! Aku lapar!" Sakura masih berusaha mendorong Sasuke, bahkan dengan kakinya.
Alangkah terkejutnya Sakura ketika Sasuke tiba-tiba membuka matanya dan langsung menindih Sakura dan menahan kedua tangan Sakura dengan kedua tangan Sasuke di dua sisi kepalanya. Sakura membelalakkan matanya ketika mata Sasuke berubah menjadi merah.
"Kau tahu? Aku juga lapar sekali karena semalam kau tidak memberikannya. Bagaimana kalau pagi ini saja?" bisik Sasuke dekat sekali sambil menyeringai yang membuat Sakura merinding hebat.
"Oh my, kenapa dari kemarin dia terjebak dengan posisi seperti ini?" batin Sakura miris melihat kondisinya sendiri.
Sakura pun menghantamkan kepalanya ke kepala Sasuke dengan keras yang membuat Sasuke langsung memegang kepalanya dengan sebelah tangan dan tangan satunya mengendur membuat Sakura mengambil kesempatan untuk lari meskipun sempoyongan sambil memegang kepalanya yang juga sakit.
"Sial, bahkan rumahnya pun bukan tempat yang aman." Sakura berlari kearah dapur dan bertumpu pada meja.
Setelah sakitnya mereda, dia pun membuat omelet, tanpa menyadari bahwa ada yang memerhatinkannya dari tadi.
"Hah!"
Ketika sudah jadi dan menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya ia melihat Sasuke yang dari tadi ternyata ada di belakangnya. Untung omelet yang ada di kedua tangannya tidak jatuh.
"Bikin kaget saja. Ini untukmu." Sakura meletakkan satu piring di seberangnya dan satu piring lagi di hadapannya.
"Kau membuatkannya untukku?"
"Kau bilang lapar."
"Bukan ini maksudku."
"Aku tahu." Mendengar itu membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya bingung, kemudian terkekeh. "Milikku memang unik." Sasuke pun duduk lalu mulai memakan.
"Berhenti menggodaku." Ucap Sakura santai, pandangannya focus pada makanan yang ada didepannya.
"Kau benar-benar tidak takut ya?" Sasuke menatapnya dalam sambil menyeringai. Tapi Sakura hanya mendiamkannya dan melanjutkan makannya dengan damai.
Mereka pun makan dengan tenang. Ketika sudah selesai dan Sakura mecuci piringnya, tiba-tiba Sasuke yang masih di meja makan pun bertanya, "Kau tidak jogging?"
Sakura menoleh kearah Sasuke dengan cepat.
"Bagaimana kau tahu kebiasaanku?" Sakura menatap Sasuke horror. Sasuke hanya mengendikkan bahu dengan cuek.
Sakura langsung berlari ke arah kamarnya lagi dan pergi mandi, meninggalkan Sasuke yang terkekeh melihat tingkahnya.
.
.
.
.
.
"Baik, semuanya. Ternyata kelas kita ada murid yang telat masuk karena dia dari luar negeri." Jelas Guru Kakashi, wali kelas 1-A.
"Uchiha-san, silahkan masuk." Setelah mengucapkan itu, muncullah sosok lelaki berambut hitam mencuat panjang sehingga menutup sebelah matanya, namun tidak dapat menutupi akan ketampanannya. Sehingga membuat para siswi berbisik akan dirinya dan para siswa hanya menatapnya cuek, ada beberapa yang iri.
"Perkenalkan. Nama saya Sasuke Uchiha. Mohon kerjasamanya." Ucap Sasuke sambil membungkukkan badannya. Setelah itu matanya pun bergerak ke sekitar dan menemukan objek yang dicarinya dan tersenyum ke orang itu.
Orang yang merasa dilihat pun hanya berdecih dan membuang muka kearah jendela.
"Cih, pintar sekali dia mengarang cerita." Gumam Sakura, orang yang diperhatikan oleh Sasuke. Tanpa sadar bahwa gumamannya didengar oleh orang yang duduk didepannya.
"Hooo . . . Murid dari luar negeri atau luar dunia lain?" Gumam orang itu sambil menyeringai dan menatap lekat Sasuke.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
_-_Author's Note_-_
Ai em kam bek, semuaaaaa :3 /
Terima kasih yang sudah mengikuti sampai chapter ini :) Bagaimana?
Mumpung belum masuk kuliah, saya pengen cepet cepet update, kemarin aja langsung dua hahaha. Soalnya klu udh masuk gk janji bkal cepet update.
Sakokitano : Hahaha thanksss ini udah update, dan untuk ketidakrapian tulisan kemarin itu saya lupa ngecek lagi. Soalnya hbis di pindah dari hp, kirain bkal sama eh malah berantakan T,T tpi sudah saya perbaikan. Thanks udh sempat untuk mereview~
Alya Fadila : Haha sengaja mahh biar pada kepo XD
Khoerun904 : Iya diusahain gk lama kok.
Sekali terima kasih yang sudah review. Ohya sekalian numpang promot fanfic buatan saya yang lain. Judulnya "Never Forget You" ceritanya genderXbender. Yang tertarik silahkan berkunjung dan meninggalkan jejak yaaa XD
.
Sign,
TehMelati_01
