My Sacrifice Ch.3
Cast: Byun BaekHyun
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Kim JongIn
Byun Kevin (Baekhyun's Hyung)
Length: Chaptered
Disclaimer: Semua cast di FF ini adalah milik tuhan, orang tua dan agency nya. But, FF ini murni milik saya. Kalau ada kesamaan jalan cerita atau yang lain, mohon maklum karena otak manusia itu sama.
Warning: Typo (Always)
Summary: Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, orang yang sangat kucintai setelah kedua orang tuaku. Park Chanyeol.
.
.
.
.
Chanyeol berlari memasuki sebuah apartemen menekan beberapa kali bel nya. Tetapi tak ada satupun dari si penghuni apartemen itu yang menyahut atau membukakannya pintu.
"Ayolah Baekhyun! Buka pintunya!" Tak henti-hentinya Chanyeol menekan bel dan menggedor pintu kayu tersebut seolah tak merasa bersalah sama sekali ketika tetangga apartemen Baekhyun yang baru pulang dari kantornya, menegur Chanyeol atas keributan yang dia buat. Chanyeol sudah berusaha menghubungi Baekhyun semenjak malam festival tiga hari yang lalu tetapi selalu teralihkan dan bersambung pada mail box, berratus pesan yang sudah dikirim melalui e-mail untuk Baekhyun. Yang isi dari semua pesannya sama. Yang pada intinya menanyakan keberadaan Baekhyun.
"Jadi kau benar-benar pergi?" Chanyeol bermonolog. Tangannya sudah terkulai di kedua sisi tubuhnya. Sudah lelah sepertinya menggedor pintu. Terbukti tangannya sudah membengkak dan memerah. Berjalan menjauhi apartemen Baekhyun.
Setelah mendengar semua penjelasan Kyungsoo dan pengakuan dari kekasihnya, yang sekarang telah menjadi mantan kekasihnya, Chanyeol tersadar, jika semua yang dikatakan oleh Baekhyun adalah benar adanya. Dan di sangat menyesal tidak mendengarkan semua perkataan sahabatnya sekarang.
Ya karena penyesalan selalu datang terlambat bukan?
.
.
.
.
-FLASH BACK -
Sebenarnya Chanyeol tidak akan pernah percaya pada Baekhyun jika saja kedua matanya tidak melihat secara langsung Kyungsoo yang sedang berpegangan tangan dengan Kai. Bukan hanya berpegangan tangan. Bahkan Chanyeol mengikuti kemana mereka berdua bergi. Beberapa kali dia melihat Kai mencium kening dan bibir Kyungsoo serta melihat wajah Kyungsoo memerah.
Tak tahan dengan pemandangan yang tersaji didepan sana, Chanyeol mengirimkan pesan pada Kyungsoo.
'Jika sudah puas bermesraan dengan kekasihmu, temui aku. Aku akan menunggu di rumahmu'.
Dan Chanyeol dapat melihat dengan jelas wajah terkejut dari Kyungsoo setelah membaca pesan singkat dari Chanyeol dan dia tidak bersembunyi sama sekali ketika Kyungsoo berputar untuk mencari sosoknya. Toh, Chanyeol berada jauh dari keduanya bukan. Dan tak lama Chanyeol mendapatkan pesan masuk.
'Baikla Chan, sebentar lagi aku akan pulang'
Lalu Chanyeol pun juga membalas.
'Tak usah terburu-buru, aku beri kau kesempatan untuk bermesraan dengan kekasih barumu itu.'
.
.
.
.
Kyungsoo memasuki apartemennya dan keadaan didalamnya gelap gulita. Apa Chanyeol belum datang? Padahal dia sudah berusaha untuk pulang secepat mungkin. Kyungsoo mulai merambat mencari saklar lampu nya dan betapa terkejutnya ia ketika seseorang yang pasti Chanyeol itu menerjangnya. Mengurungnya pada dinding yang ada dibelakangnya dan menyesap bibirnya.
"Eumpp"
Kyungsoo bergumam tetapi tangannya tidak diam untuk menerima. Tangan kanannyanya terus memukul dada Chanyeol, sementara tangan kirinya meraba-raba berusaha mencari saklar
'Clock'
Dan akhirnya ruang tengah pun terang tersinari oleh cahaya lampu.
"Umpph!"
Kyungsoo masih memberontak sedangkan Chanyeol makin gencar oleh ciumannya. Kyungsoo bisa melihat banyak emosi yang dikeluarkan oleh Chanyeol, dan ia tidak suka ciuman ini.
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, akhirnya Chanyeol pun terdorong kebelakang.
"Kenapak kau? Kasar sekali" Kyungsoo mengaduh, rahangnya pegal karena Chanyeol mencengkramnya dengan sangat kuat.
"Kau yang kenapa! Ada hubungan apa kau dengan lelaki tadi?" Chanyeol bertanya dengan nada bentakan dan wajah memerah menahan amarah. Ingin rasanya ia menghabisi Kyungsoo saat ini juga. Tetapi dia masih ingat kalau lelaki ini adalah orang yang sangat dicintainya.
"Dia kekasihku! Seperti yang kau katakana dua jam yang lalu dengan ponselmu" Kyungsoo membalasnya tak kalah dingin. Toh diapun sudah ketahuan. Untuk apa menyangkal. "Aku sungguh sangat mencintaimu, Kyung. Tetapi kau tega menduakanku" Nadanya melemah dan mulai menatap sendu seseorang didepannya.
"Tidak, bukan dia selingkuhanku. Tapi kau, Chanyeol." Kyungsoo menunduk, mengumpulkan tenaga untuk menceritakan semuanya pada Chanyeol. "Bukan dia yang kedua, tapi kau. Sebelum Baekhyun datang padaku, Kai sudah lebih dulu menjadi kekasihku."
Chanyeol bingun, tak mengerti apa yang dikatakan oleh Kyungsoo. "Datang padamu? Apa maksudmu?"
"Baekhyun datang padaku dan memberi tahu bahwa kau menyukaiku. Dia menceritakan semua tentangmu dan tentang kalian. Termasuk perasaannya padamu. Baekhyun memintaku, jika nanti kau menyatakan perasaanmu padaku aku harus menerimanya. Karena mungkin dia tidak akan tinggal di Seoul lagi jika sudah lulus dan ingin melihat sahabatnya mendapatkan cintanya. Setiap hari dia mendatangiku dan memohon untuk menerima semua ajakan kencan darimu tentunya karenya dia belum tahu jika aku sudah memiliki kekasih. Melihat kesungguhannya, akupun menerima semuanya. Termasuk untuk menjadi kekasihmu." Kyungsoo berjalan menuju sofa untuk duduk. Dan seolah tersihir, Chanyeol mengikuti dan duduk disamping Kyungsoo.
"Baekhyun sangat memperhatikanmu. Tapi sialnya sahabatnya ini tidak membalas perhatiannya. Aku hampir akan memutuskanmu karena setiap melihat Baekhyun yang juga memperhatikan kita selalu menahan senyumannya agar tidak luntur. Kau tidak sadar dengan semua itu?" Kyungsoo menatap Chanyeol yang hanya terdiam memikirkan semua perkataannya.
"Kau memang lelaki yang tidak peka. Baekhyun mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaanmu. Yang hanya sahabatnya."
"Jadi selama ini aku telah menyianyiakannya? Dan mencintai orang yang salah?" Seketika Chanyeol mengingat kata-kata Baekhyun tempo hari. "Dan sekarang aku kehilangan orang yang sangat mencintaiku."
FLASH BACK END
.
.
.
.
Hari-hari Chanyeol terasa kacau. Sering dimarahi sang ayah karena tidak juga mencari universitas. Setiap hari yang dia lakukan hanyalah mengirim e-mail dan mengecek e-mail. Kalian tahu kan apa yang dilakukan Chanyeol dengan e-mailnya. Keluar kamar hanya jika rasa lapar sudah tidak bisa ditahan.
"Aku merindukanmu" Sepintas senyuman Baekhyun hadir dipikirannya. Dia sangat merindukan sipemilik senyum itu. Dan tanpa sadar, setiap harinya Baekhyun telah mengambil sedikit-sedikit hatinya. Dan sekarang, walaupun tidak yakin, Chanyeol mulai mengakui jika ia mulai mencintai Baekhyun.
Tanpa Chanyeol sadari, ibunya sudah memasuki kamar Chanyeol dan duduk disampingnya.
"Sayang. Ayo makan. Kau belum makan dari kemarin" sang ibu mengelus wajah sang anak yang hanya berbaring sambil terus memegang ponselnya. Chanyeol menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya. "Umma sudah menyiapkan universitas untukmu. Dan nantinya setelah lulus kau akan ditempatkan pada perusahaan appa." Sang ibu terus saja mengelus wajah Chanyeol.
"Kenapa harus kuliah jika nanti aku akan bekerja diperusahaan appa. Aku ini anaknya. Angkat saja aku langsung menjadi CEO" Chanyeol menjawab ketus. "Hei, menjadi CEO tidak semudah yang kau pikirkan. Appa ingin kau mempunyai bekal sebelum kau menggantikan posisi appa." Sunmi terkejut saat melihat anaknya mengeluarkan air mata dan langsung memeluk pinggangnya.
"Ada apa sayang. Ceritalah pada umma. Umma pendengar yang baik" senyuman terus saja merekah pada bibir umma nya. "Aku merindukannya, umma" Lirih Chanyeol. "Jika merindukannya semangatlah untuk mencarinya. Temui Baekhyun" Sang umma mengelus kepala Chanyeol dengan kasih sayang. Tahu bahwa saat ini anaknya telah terkena masalah percintaan. "Dia sangat jauh, umma. Aku tidak bisa menggapainya"
"Berusahalah. Baekhyun mungkin sedang menunggu waktu untuk kembali. Dan saat dia kembali, kau sudah bisa berdiri didepannya dengan gagah dan dewasa. Dan setelah menemukannya, bawa dia langsung kehadapan umma. Umma ingin memeluk seseorang yang dengan beraninya membuat anak umma satu-satunya yang keras kepala ini menjadi cengeng" Sunmi terkekeh memperhatikan anaknya yang sedang merajuk atas godaannya tadi.
.
.
.
.
6 TAHUN KEMUDIAN
-TORONTO, KANADA-
"Carilah kesibukan lain, Shi xun!" Teriakan melengking itu memenuhi kamar dua orang pemuda.
"Aku akan berhenti mengganggumu jika saja kau menerima permintaanku, Baixian" Shi xun atau bisa dipanggil Sehun itu terus saja menggelayut pada dengan Baekhyun dan kedua kakinya melingkari pinggang Baekhyun.
"Kau itu! Lulus kuliah saja belum, sudah meminta untuk jadi asistenku. Minggirlah. Aku harus menyelesaikan desain ini, kau sungguh sangat mengganggu!" Baekhyun berusaha untuk lepas dari kungkungan Sehun. "Hanya asisten, tidak perlu lulus kuliah, hyung". Dan Sehun pun masih belum berhenti merengek. "Berhenti melakukan lah menjijikkan itu! Sana keluar dari kamarku!". "Kau tidak lupa kan, jika ini kamar kita?". Dan dengan segala kekuatannya, Baekhyun berhasil lepas dari Sehun dan berakhir dengan Sehun yang terjatuh menghantam lantai.
"Ah. Kau sangat kasar Baixian. Akan aku adukan pada Tao gege dan Kris gege!" dan setelah itu Sehun keluar dari kamar mereka. "Terus saja mengadu, dasar bocah!"
Baekhyun melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda karena gangguan dari bocah yang selalu merengek menjadi asistennya itu.
Baekhyun berhasil lulus dari universitasnya dengan nilai yang sangat sempurna untuk fakultas yang ia pilih. Dan sekarang, Baekhyun telah memiliki usahanya sendiri. Pemilik sekaligus CEO dari Butik yang dia kelola di Kanada. Cabangnya tersebar seluruh penjuru Negara. Tentu saja dengan bantuan Kris. Awalnya Baekhyun menolak dan ingin berusaha membangun butiknya sendiri mulai dari nol. Tetapi Kris sangat terambisi melihat ketekunan adiknya dan berniat untuk mensukseskan segala usaha adiknya.
Makan malam sedang berlangsung. Sehun yang duduk bersebrangan dengan Baekhyun terus menatapnya dengan senyum kemenangan dan Baekhyun hanya melengos tidak menatap bocah itu.
"Gege. Ayo katakana sekarang" Sehun memulai pembicaraan setelah semua piring kotor telah dibersihkan oleh Baekhyun dan sekarang mereka telah duduk di ruang tengah.
Kris menghela napasnya. "Baiklah-baiklah"
"Baekhyun, mulai besok Sehun akan jadi asistenmu" Ucap Kris.
"Apa hyung? Tidak bisa. Aku tidak ingin pekerjaanku diganggu oleh dia, Kris hyung" Kini Baekhyun lah yang merengek disertai dengan senyum kemenangan Sehun. "Aku yang akan menjamin jika Sehun tidak akan merepotkanmu, Baek" Tao menyahut. Sepertinya kedua sepasang suami istri ini telah dicuci otaknya oleh Setan Sehun itu.
"Ayolah ge. Dia hanya ingin menjadi asistenku karena melihat profil karyawanku yang ada di Cina." Baekhyun memandang sinis Sehun. "Ge, ayolah, kalian kan sudah janji padaku untuk membujuk si kerdil ini agar menerimaku sebagai asistennya, apapun alasannya". Tao dan Kris hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela napas. "Siapa yang kau panggil kerdil, bocah!". Baekhyun berteriak lagi.
"Tawaran pertama akan sangat panjang" Ucap tau terkekeh.
"Untuk satu box susu stroberi?" Kris memberikan penawarannya.
Baekhyun menggeleng.
"Satu box susu stroberi dan satu box buah stroberinya?"
Menggeleng kembali.
"Masing-masing dua box untuk susu dan buahnya?"
Baekhyun mulai bimbang.
"Baiklah, dua box susu stroberi, tiga box buah stroberi dan 5 jam selai stroberi"
Baekhyun mulai menggigit bibirnya, mulai menghayal jika ia memakan semuanya sendirian.
"Dan itu semua hanya untukmu"
Runtuh sudah. "Ah cukup!. Baiklah bocah itu boleh menjadi asistenku." Baekhyun mulai beranjak dari duduknya dan berjalan kekamar. "Tetapi aku mau semua itu sekarang juga. Jika tidak, aku tidak akan mau berpikir dua kali untuk menolaknya lagi" Dan pintu kamar Baekhyun pun tertutup.
"Ini" Kris melemparkan kartu kreditnya pada sehun. "Apa ini ge?" Tanya Sehun heran. "tentu saja kartu kredit."
"Iya, tapi apa hubungannya denganku?"
"Tentu saja kau yang akan membeli semua pesanan Baekhyun." Kris mulai menyalakan TV dengan santainya. "A-apa? Aku?" Sehun menganga. "Tugasku sudah selesai, membeli pesanan Baekhyun tidak ada dalam perjanjian kita Sehun". Kris tertawa terbahak ketika melihat sehun Pingsan –pura-pura- didepannya.
Ya mau tidak mau, Sehunlah yang harus membeli semua itu sendirian.
.
.
.
.
-Hari pertama-
"Sehun, ambilkan manekin di gudang. Aku membutuhkannya"
"Sehun, ambilkan jarum. Cepatlah, kau ini pemalas sekali."
"Sehun, tidak boleh ada bubble tea di butikku, jika baju-bajuku kotor terkena minumanmu bagaimana hah?"
"Sehun, letakkan manekin ini di etalase."
Seharian ini yang Baekhyun lakukan hanyalah memanggil nama Sehun, Sehun dan Sehun. Balas dendam rupanya. Sementara semua pegawai dibutiknya di persilahkan untuk membudakkan Sehun. Namun dibelakang Baekhyun, Sehun mengancam mereka. Dasar bocah nakal.
-Hari kedua-
"Sehun, jangan lakukan ini!"
"Sehun, jangan lakukan itu!"
"Sehun, letakkan yang benar!"
"Sehun, kembali kerumah, aku lupa membawa desain baju musim dingin. Dan aku minta untuk kau ambilkan"
Sabar Sehun, tinggal satu hari lagi masa trainee nya untuk jadi asisten resmi Baekhyun.
-Hari ketiga-
Sehun terkapar di sofa ruangan kerja Baekhyun dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Akhirnya tugasnya hari ini selesai juga. Dan baru saja Baekhyun menyatakan jika ia telah resmi menjadi asisten Baekhyun. Dan rencana nya akan berjalan dengan mudah.
"Hyung, baixian hyung" Sehun mulai melancarkan aksinya.
"Panggilan menjijikkan apa itu?" Baekhyun menyahut tanpa melepaskan pandangannya dari manekin didepannya serta kain merah maroon yang mulai dililitkan pada manekin itu.
"Baiklah, Baekhyunnie hyung. Sekarang bolehkah aku melihat data karyawan mu yang berada di cina?" Sehun berjalan menghampiri Baekhyun. "Oke, karena kau sudah menjadi asisten yang baik, kau boleh melihatnya dan memilikinya kalau mau. Ambil saja di laci mejaku." Baekhyun menunjuk mejanya dengan senyum. Sehun bekerja dengan penuh tanggung jawab rupanya. Tapi satu yang di benci Baekhyun. Mentang-mentang ini adalah butiknya, dengan seenak jidat Sehun berhenti dari universitasnya. Dengan alasan 'Aku sudah menjadi Asistemu'.
Sehun dengan secepat kilat mengambil Dokumen yang isinya adalah data dari orang yang diincarnya. Sepengetahuannya, orang ini adalah pegawai yang baru melamar untuk menjadi desainer Butik Baekhyun yang berada di cabang Cina.
NAMA : LUHAN XI
TEMPAT, TANGGAL, LAHIR : HAIDIAN, 20 APRIL 1990
TINGGI : 178 CM
GOLONGAN DARAH : O
ZODIAK : TAURUS
E-MAIL : LuhanXiao
Sehun membaca dengan teliti semua data-data Luhan dan menaruh dokumen itu didalam tasnya.
"Benar tidak apa-apa jika ini jadi milikku?" Tanya Sehun. "Tenang saja, aku sudah mebuat copy nya." Jawab Baekhyun yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
.
.
.
.
-SEOUL, KOREA SELATAN-
Beberapa bulan kemudian.
Seorang perempuan memasuki ruangan tempat CEO perusahaan majalah terkanal di Korea Selatan nya duduk berkuasa.
"Park sajangnim, ini adalah data-data dari seluruh desainer sukses di dunia yang kau minta" Sisekretaris menaruh dokumen itu diatas meja Sajangnimnya dan keluar dari ruangan itu setelah diperintahkan.
Park Chanyeol. Seperti yang kalian lihat. Dia telah menjadi CEO. Dengan watak tegas dan paling ditakuti oleh bawahannya. Tidak pernah senyum sama sekali dan jika dia kecewa dengan hasil kerja karyawannya, sudah pasti, tidak ada kata maaf untuk sang pegawai. Tetapi hari ini pekerjaannya sangat banyak dan lebih memilik melimpahkan semua tugasnya pada sekretarisnya, dan sekarang tugas baru datang lagi. Dia harus memilih desainer terkenal dan bagus yang baju nya akan ia pakai untuk pemotretan majalah nya dengan tema musim dinginnnya.
"Tugas-tugas brengsek! Tidak ada habisnya!" Chanyeol memaki tumpukan profil dari desainer-desainer itu lalu menyimpannya pada rak bersama dokumen-dokumen yang lainnya. Dan bersiap untuk pulang kerumahnya, walaupun ini belum jam pulang kerjanya.
"Pekerjaan ini membuatku mual. Tak ada habisnya" Chanyeol mengendarai mobilnya menuju starbuks untuk menikmati kopi sore nya. Chanyeol menelpon seseorang untuk menemaninya meminum kopi.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya orang yang ditunggupun datang dengan setelan jas yang masih melekat. Berbeda dengan Chanyeol, jasnya ia tinggalkan didalam mobil, dasi yang ia longgarkan. Dak tercermin sedikitpun bahwa ia adalah seorang CEO yang berwibawa.
"Menunggu lama, sajangnim?" Seseorang itu duduk disamping Chanyeol "Tak usah se formal itu Jongin. Aku sudah muak dengan panggilan sajangnim yang aku dengar setiap harinya." Jongin pun terkekeh mendengar umpatan Chanyeol. "Haruskah aku membawa Kyungsoo untuk menghiburmu?" Tawar Jongin, yang tentunya hanya candaan.
"Akan lebih baik jika kau membawa sahabatku untuk berdiri didepanku saat ini juga." Chanyeol menyesap kopi panasnya."Pemuda Byun itu? Kau belum melupakannya?"
"Bagaimana aku bisa melupakannya? Jika setiap malam aku selalu memimpikannya? Wajahnya bahkan selalu terbayang olehku. Bahkan saat ini saja aku seperti sedang melihatnya". Chanyeol menerawang jauh dan Jongin sudah bergidik ngeri melihatnya. "Kurasa kau mulai gila Park."
.
.
.
.
TORONTO – KANADA
"Hyung, aku sudah mengirim profilmu dan Butik ini pada pengusaha majalah terbesar di Korea. Semoga kau lulus seleksi dan dipilih untuk menjadi desainer yang akan merancang baju musim dingin untuk perusahaan majalah itu. Jika kau diterima, maka kita akan menetap di Korea dalam waktu satu bulan"
Sehun membacakan informasi yang ia dapatkan, setelah mendaftarkan Baekhyun lewat e-mail butiknya dan mendapatkan konfirmasi bahwa profilnya telah diterima dan telah diproses, Sehun langsung mencetak balasan dari perusahaan majalah tersebut.
"Baiklah, aku akan rajin berdoa agar kita yang terpilih. Walaupun peluang kita hanya sedikit. Sekitar 1:1.000.000. Pasti sangat banyak desainer dunia yang juga mendaftarkan diri". Ya, Baekhyun sedang berusaha untuk menjadi lebih terkenal lagi. Berusaha untuk menjadi desainer dunia yang sangat terkenal. Sudah berratus pasang gaun malam, pesta sampai gaun pengantin yang Baekhyun buat. Dan harganya juga tidak main-main. Satu gaun bisa berharga lebih dari $1.000.000 USD. Wow, nol yang banyak bukan? Tak sia-sia dia menjadi lulusan universitas terkenal di Kanada.
Sementara Sehun, dia benar-benar melaksanakan tugasnya dengan Baik. Tidak main-main. Dan Baekhyun suka dengan hasil kerja Sehun. Sehun sangat menjaga kinerjanya. Cukup tahu diri dengan posisinya yang satu tingkat lebih rendah dari Baekhyun. Namun tidak sama sekali melupakan niat awalnya untuk menjadi asisten Baekhyun.
Sehun sudah menghubungi desainer butiknya di Cina itu via e-mail, dengan embel-embel pekerjaan dari pusat butik yang dikelolanya. Dan pemuda itu selalu membalasnya. Terkadang pembicaraannya melenceng dari topik butik.
.
.
.
.
SEOUL – KOREA SELATAN.
Tak ada kata malas untuk Chanyeol hari ini. Karena kemarin dia sudah habis-habisan dimaki oleh ayahnya karena pekerjan yang terbengkalai. Mulai dari setumpuk dokumen penting tentang desainer yang akan bekerja untuk perusahaannya dengan tugas membuat 50 desain baju musim dingin dan akan bekerja diperusahaannya selama satu bulan atau bahkan bisa lebih.
"Ternyata sangat banyak peminat" Chanyeol memeriksa satu persatu profil desainer terkenal dan memisahkan profil yang menurutnya menarik yang nantinya akan diseleksi lagi olehnya.
Tetapi pandangannya terpaku ketika sebuah profil dari desainer asal kanada yang juga ikut mendaftarkan diri. Ngambil dokumen itu dan memeriksa dengan teliti apakah profil dari dokumen itu benar adanya. Dan ketika sudah dipastikan benar, Chanyeol langsung memisahkannya. Dan menyingkirkan kandidat desainer tadi dengan desainer pilihannya.
Senyum merekah dari bibinya. Ralat. Mungkin seringaian.
"I got you, Mr. Byun"
.
.
.
.
TORONTO – KANADA
"Hyung kau pasti tidak percaya dengan ini!"
Sehun memberitahukan Baekhyun dengan menggebu-gebu. Dia sudah membaca balasan e-mail dari Ceci magazine yang menyatakan bahwa Baekhyun terpilih menjadi desainer yang akan merancang baju musim dinginnya.
"Kau lolos, hyung! Kau di terima!" Sehun memeluk Baekhyun dengan sangat erat. "Benarkah? Kau tidak bercanda?" Dan sehun tidak menjawabnya dan langsung memberikan kertas hasil print dari balasan e-mailnya.
"Sehunnie! Aku sangat senang!" Kini Baekhyun yang memeluk Sehun dengan sangat erat. "Aku mengalahkan seluruh desainer terkenal didunia! Sungguh aku tidak percaya ini. Ngomong-ngomong siapa CEO nya? Aku tidak pernah tau."
"Mr. Park sajangnim." Sehun terdiam mengingat cerita terdahulu Baekhyun tentang masalalunya. Dan Sehun menyeringai.
"Mr. Chanyeol Park"
"APA?!"
.
.
.
.
.
TBC
Eaaaa TBC! Udah fast belum nih? Ini adalah Chapter terpanjang yang aku buat! Wahhh dan ini nulis seharian penuh. Sebenernya nulisnya jg berenti-berenti. Tergantung mood. Dan akhir nya selesai jugaaa.
Ini kan ceye nya udah gedeee udah dewasaaa baeknya jugaaaa, Chapter depan boleh kan dikasih adegan NC?
Aku deg degan sendirii nawarinnya. Tapi klo ga ada yang mau NC gpp kok gpp hehee.
Tetep review yaaa. Terus bangkitin semangat aku buat fast update heheee.
Semoga chapter ini tidak mengecewakan dan membosankan yaa
Yang berharap Ceye tersakiti, yaa semoga aja aku bisa buat ceye sengsara(?) hehee
PAII
