Attack on Titan/Shingeki no Kyojin

belongs to Hajime Isayama

Author hanya pinjam karakter dari Attack on Titan

.

.

.

.

Normal POV.

Angin dingin menerpa wajah Erwin. Langit rasanya mulai mendung. Ia pun masuk dan menutup pintu beranda, lalu berjalan kearah sofa besar yang menghadap langsung televisi.

Apartemen Levi sebenarnya tidaklah terlalu mewah. Hanya saja desain ruangan yang luas dan perabotan-perabotan di dalamnya yang tertata rapi dan senada, memberi kesan sederhana dan elegan, serta nyaman untuk ditinggali. Terlebih, sifat clean freak Levi yang sejak dulu tidak pernah berubah membuat apartemennya selalu bersih dan terawat.

Apartemen Levi memiliki dua kamar tidur, dimana salah satu kamarnya ia jadikan kamar tamu kalau-kalau ada teman ataupun tamu yang menginap di apartemennya. Terdapat meja makan dan dapur terbuka yang menghadap langsung ruang keluarga/ruang televisi. Beranda di sisi kanan ruang televisi, menjadi tempat untuk mesin cuci dan jemuran. Disebelah kanan dapur adalah kamar utama yang digunakan oleh Levi. Sementara disebelah kiri ruang televisi adalah kamar tamu. Ada dua kamar mandi di dalam apartemen Levi. Satu di dalam kamar utama, dan satu lagi di sebelah kamar tamu.

Erwin mengotak-atik ponselnya. Sepertinya ada beberapa pesan penting yang perlu ia balas sejak tadi. Levi datang membawa secangkir kopi panas dan secangkir teh hitam kesukaannya lalu menaruhnya di meja di hadapan Erwin.

Ia lalu mendudukan dirinya sendiri ke sofa lain disebelah kiri Erwin. Lalu mulai mengambil remote televisi dan mencari acara televisi yang menarik, seperti berita.

"Erwin, bagaimana kabar adikmu, Krista?", Levi membuka suara.

"Ah, dia baik-baik saja. Bulan depan adalah acara kelulusannya", jawab Erwin dengan mata dan tangan yang masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

"Oh ya? Rasanya baru kemarin aku melihatnya berseragam SD", ucap Levi, lalu kembali menyeruput teh hitamnya.

"Yah, aku juga masih belum percaya ia sudah sebesar itu. Oh ya, bagaimana kalau kau bulan depan ikut denganku ke Jepang untuk acara kelulusannya? Ia pasti akan senang bertemu denganmu", tawar Erwin.

"Entahlah, acaranya tanggal berapa?", tanya Levi.

"Tanggal 16 bulan depan", jawab Erwin.

"Aku harap aku bisa, di tanggal itu aku harus pergi ke Kota Maria untuk acara pertemuan dengan direktur perusahaan cabang", sesal Levi.

"Haahhh. Kau selalu sibuk seperti biasa. Hei Levi, bagaimana kalau kau pikirkan lagi untuk melamar pekerjaan di kantorku? Aku bisa memasukkanmu langsung ke jabatan yang tinggi dan lebih menjanjikan dibanding pekerjaanmu yang sekarang. Selain itu, kau bisa ambil cuti lebih banyak kalau kau bekerja di perusahaanku", tawar Erwin dengan senyum mode bisnisnya.

Bukan hanya karena alasan bahwa Levi adalah sahabat baiknya, dari kacamata Erwin yang telah sukses membangun kembali perusahaan Smith hanya dalam kurun waktu 4 tahun, Levi adalah seorang pekerja dengan prestasi hebat dan tingkat ketelitian yang tinggi. Baginya, Levi tak seharusnya masih berada di jabatannya yang sekarang. Juga Smith Co. sangat membutuhkan pekerja seperti Levi Ackerman agar lebih mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan tinggi yang menjadi rivalnya.

Namun bukan sekali dua kali ia mendapat penolakan yang sama.

"Erwin, kau tidak pernah menyerah", seringai Levi.

"Kau saja yang keras kepala", balas Erwin.

Ting tong. Bel apartemen Levi berbunyi.

Levi lalu berdiri dan berjalan kearah pintu depan. Erwin hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada layar ponselnya.

Levi pun melihat intercom-nya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata seorang pemuda berumur 23 tahun dengan setelan celana panjang levis hitam, kaos putih dengan ditutupi jaket tebal berwarna abu-abu, dan syal hitam mengelilingi lehernya. Jangan lupakan kedua tangannya yang tengah membawa dua kantung belanja yang terlihat cukup berat. Levi mengenal baik pemuda itu.

Eren? Bukankah sudah kubilang untuk tidak kemari akhir pekan ini, pikir Levi dalam hati. Ia pun lalu membuka pintu dengan santainya.

"Eren, kenapa kau kesini? Aku ingat kemarin aku sudah bilang kalau Erwin akan datang akhir pekan ini", tanya Levi.

"Iya, aku ingat. Tapi Erwin-san sendiri yang memintaku untuk datang. Oh ya, kalian belum makan, kan? Aku tadi belanja banyak di supermarket. Aku akan memasak", ucap Eren yang kemudian langsung masuk tanpa meminta izin dari sang tuan rumah.

Pemuda bernama lengkap Eren Yeager itu adalah kekasih dari Levi. Ia merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta ternama di Kota Sina. Mereka berdua sudah dua tahun menjalin hubungan.

Levi menghembuskan napas dengan berat. Erwin pasti sudah merencanakan ini sejak awal, pikir Levi. Ia pun menutup pintu, dan berjalan kembali ke ruang televisi. Terlihat Eren yang sedang menaruh barang-barang belanjaannya di dapur sembari mengobrol dengan Erwin, yang entah sejak kapan sudah tidak lagi memegang ponsel keparatnya.

"Ne, Levi. Cuaca di luar sangat dingin. Aku dan Erwin-san setuju untuk memasak sukiyaki, bagaimana menurutmu?", tanya Eren dengan riang tanpa memedulikan apa yang kini tengah dipikirkan laki-laki raven itu.

"Terserah kalian saja", jawab Levi seadanya. Ia lalu berjalan kearah kamar mandi.

Dibelakang Levi, kedua insan yang merasa polos tanpa dosa tersebut hanya bisa tertawa kecil sambil saling mengacungkan jempol tanda rencana mereka sukses.

Selama ini Levi tidak pernah mau membahas mengenai hubungannya dengan Eren kepada Erwin. Erwin mengerti itu, namun tidak pada Eren, awalnya. Di awal mereka berpacaran, dua tahun lalu, Eren selalu merasa kecewa dan curiga kepada Levi, karena ia tidak pernah dikenalkan atau dipertemukan dengan sahabat baik Levi, yaitu Erwin. Mulai dari Erwin adalah orang yang pernah dicintai Levi, sampai ke Eren yang tidak cukup berharga bagi Levi karena ia tidak pernah didekatkan dengan keluarga maupun teman-temannya, semua itu pernah memenuhi pikiran Eren.

Namun suatu hari, setahun yang lalu, Erwin menghubungi Eren dan mengajaknya bertemu tanpa sepengetahuan Levi. Alhasil, Eren pun mengerti keadaan yang sebenarnya, apa yang mengganggu pikiran Levi selama ini. Eren pun mulai bisa menerimanya.

Baik Erwin maupun Eren, keduanya sama sekali tidak ingin membuat Levi merasa tidak nyaman, sehingga keduanya memutuskan untuk tetap bersikap seolah tidak pernah bertemu di depan Levi.

Namun, mungkin, batas kesabaran Erwin dan Eren sudah habis, sehingga mereka memutuskan untuk mulai blak-blakkan saling bertemu dan mengobrol dengan akrab di depan Levi.

Levi keluar dari kamar mandi. Kini yang ia lihat kedua orang paling berharga baginya itu tengah berbincang seru seolah mereka telah lama dekat. Levi menghela napas lalu menghampiri keduanya.

"Ne Levi, Erwin-san bilang, kau tidak ikut reuni SMA kalian minggu depan, kenapa?", tanya Eren yang sudah menyadari keberadaan kekasihnya yang kini menatap intens interaksi antara ia dan Erwin.

"Aku sibuk", jawab Levi singkat.

"Oh ayolah, cebol, kau selalu seperti itu. Memang apa salahnya datang ke acara reunian yang hanya ada beberapa tahun sekali seperti ini. Lagipula Oluo mengabariku kalau Farlan akan ikut. Tapi aku masih belum dengar kabar dari Petra", ucap Erwin.

"Diamlah, Alis Ulat Sagu! Aku akan memikirkannya lagi minggu depan", jawab Levi.

Wajah Eren berubah menjadi sendu. Levi sudah beberapa tahun tidak pulang ke Shinganshina, kota kelahirannya. Di libur natal, libur tahun baru, dan beberapa libur panjang ia habiskan untuk mengerjakan proyek mandiri. Kalaupun ia ingin berlibur, maka Shinganshina tidak pernah masuk list tujuannya.

Eren sendiri heran. Beberapa kali ia pernah memaksanya untuk pulang meskipun hanya sebentar, namun Levi selalu enggan untuk menyetujuinya. Ia lalu pernah menanyakan hal ini kepada Erwin.

Erwin mengatakan bahwa Levi merasa tidak nyaman untuk kembali ke rumah, karena ia tidak pernah akur dengan ayahnya, terlebih setelah ibunya pergi meninggalkan rumah beberapa tahun silam. Bagi Levi, rumah bukanlah tempat kembali yang nyaman seperti kebanyakan orang bilang.

"Kalau begitu, aku saja yang ikut Erwin-san ke Shinganshina minggu depan. Kebetulan sabtu depan aku tidak ada acara", ucap Eren dengan riangnya.

Levi kaget.

"Eren! Untuk apa kau ikut kesana?", sahut Levi tak percaya.

"Aku belum pernah kesana. Jadi apa salahnya kalau aku ikut?", jawab Eren dengan santainya.

Erwin tertawa.

"Baiklah, kebetulan sekali Eren. Aku ingin menunjukkan indah dan damainya Kota Shinganshina kepadamu. Kalau si cebol itu tidak mau ikut, tidak masalah", ucap Erwin dengan nada kemenangan.

"Cih, terserah kalian saja", ucap Levi sekenanya lalu berjalan ke sofa ruang tv.

.

.

.

Malam kian larut. Jam menunjukkan pukul 1:00 dini hari. Levi masih sibuk dengan laptopnya sejak sejam yang lalu. Eren yang semula sudah tertidur, kini terbangun dan mendapati cahaya laptop disampingnya membuat silau.

"Levi", ucap Eren pelan karena ia masih setengah sadar.

"Iya, sayang", jawab Levi yang fokus matanya masih tertuju pada layar laptop.

Eren lalu membangunkan diri dan mengucek matanya.

"Levi, sudah berapa kali kubilang, jangan tidur terlalu larut. Ditambah lagi berada di depan laptop dengan keadaan ruangan gelap. Kau mau, minus matamu bertambah?", ucap Eren sedikit kesal sembari mengambil kacamata yang dipakai kekasihnya.

"Eren, sedikit lagi", pinta Levi berharap kacamatanya dikembalikan.

"Tidak, matikan laptopmu!", titah Eren.

Levi menghela napas berat.

"Oke, aku matikan laptopnya", ucap Levi pasrah, lalu menutup laptopnya dan menaruhnya di meja disampingnya.

Eren lalu mengembalikan kacamata Levi dengan senyum kemenangan. Levi lalu menaruh kacamata itu di samping laptopnya dan memposisikan tubuhnya untuk berbaring dengan sempurna disamping Eren.

"Levi, apa kau marah dengan keputusanku tadi sore?", tanya Eren tiba-tiba.

Levi membuka matanya yang semula menutup beberapa detik.

"Tidak, kau boleh kesana kalau kau mau. Asal kau harus pergi dan pulang dengan Erwin", jawab Levi.

"Syukurlah, aku takut kau marah. Aku sudah lama penasaran dengan kota kelahiranmu, Levi. Apa kau yakin kau tidak ingin kesana minggu depan?", tanya Eren sembari memeluk tubuh Levi dari samping dan menaruh kepalanya diatas bahu kanan Levi.

Tangan kanan Levi bergerak mengelus kepala Eren. Ia pun menjawab, "Ya, aku yakin".

Sebenarnya bukan itu jawaban yang ingin didengar oleh Eren. Sejujurnya ia masih berharap Levi akan berubah pikiran.

.

.

.

.

Hai hai, gimana fanficnya menurut kalian?

Apa terlalu pendek, bertele-tele, ngebosenin?

Jawab di komen ya!

Kritik dan saran yang mendukung, author terima dengan lapang dada demi kemajuan fanfic pertama ini ^^

Vote kalau suka. Nggak usah vote kalo nggak suka. Tenang aja fanfic ini bakal tetap berlanjut kok asal ada komen dan vote yang bersarang ^^