Hai… Minna~~! ^o^)/
Bagaimana kabar kalian? Syukur jika baik….
Nah bagaimana dengan Chap 1'a? Aneh ya? Kalau tak berkenan di hati para readers sekalian… ya Gomenne..~~! *Bungkukin badan, sujud-sujud* m(_ _)m
Ada yang bilang kalau prologue'a mirip dengan Brother X Sister karya Shera-nee, sebenarnya tuh Hazu gak ngikutin. Alur ceritanya akan berbeda walaupun prologue'a nampak sama. Ya… kalo begitu maaf ya Shera-nee jikalau nee-chan gak suka kalau Hazu gak sengaja bikin prologue yang sama…. (T^T)
Saatnya balas review~~!
Febri Feven : Sudah lanjuut~~! Bagaimana? Terima kasih atas reviewmu… \(^o^)/
Xiu Mei-chan : Kalau soal itu, tergantung dengan dirimu. Hazu tak bermaksud meniru siapa pun. Ini asli ide cerita Hazu. Ya… tak masalah jika ada yang bilang mirip. Hazu usahain… alur ceritanya kan berbeda kedepannya nanti…. :) Terima kasih atas reviewmu… ^^/
hanazono yuri : Sudah kilat belum, Yuri-chan? XD
Kyouka Hime : Mirip ya? Mirip dengan fict apa, Hime-chan? Ah… terima kasih banyak atas dukungannya…~~!^^)/
.9 : Already next~~! Bagaimana? Terima kasih yaa~~ :D
yuichi : Sudah lanjuuut! Bagaimana? Terima kasih…. ^^
finderella : Kamu tau atau cuma nebak aja? *smile* soal begitu, nanti akan kejawab dengan sendirinya di chapter-chapter berikutnya… baca terus ya…~ Makasih dah review… :)
hoshi : Engh~ banyak yang bilang ini mirip ya? *Pundung* Tenang… Hazu akan bedain alur ceritanya… Makasih dah review… :)
luppin : Mirip ya… Hazu gak ngikuti kok…~~ Klo soal BXS itu Hazu dah pernah baca, tp kalo look at me nii-san, Hazu gak pernah baca. Yg jadi masalah juga, kenapa bisa ya judulnya samaan? Ah~~ sudahlah…. Hazu akan berusaha lagi agar tidak mirip fict BXS dan look at me nii-san… Terima kasih atas reviewnya! :D
fuuzi : Syukurlah… Fuuzi-san…*Puk puk Fuuzi* walaupun begitu kamu punya kakak sedangkan aku tunggal hiks…. *Pundung* Kurang keterangannya ya? Mungkin akan terjawab di chapter-chapter depan. Kalau mengenai Sasu suka sama Saku… itu belum pasti… Sasori kali ini gak kupasangkan menjadi kakak... ya sekali-kali dong~~ Klo ada typo maklumi saja Hazu type orang yang baru baca setelah diupdate… Terima kasih atas reviewmu ini~~! ^,^)/
: Sudah lanjuuuut~! Incest tu apa ya? *Garuk-garuk kepala* Yang hot? OKE! Tapi gak sekarang ya… Terima kasih atas reviewmu~! XD
Ya sudah….
Enjoy reading ya…. ^^v
All Char Masashi Kishimoto-sensei
Story Uchiha Hazuna
{Jika ada kemiripan dengan unsur cerita, A/N, atau apa pun itu, Hazu minta maaf. Ini sebenarnya ide Hazu sendiri dan gak menyontek milik senpai-senpai sekalian… *Bungkukin badan*}
妹は...私を見て!
.
Nii-chan,…Watashiwomite!
(Kakak…. Lihatlah aku!)
.
.
.
Chapter 2 : He seems hate to take care of me
.
.
.
Sakura's POV
Cahaya matahari yang kian terang dan menyengat, memasuki celah jendela. Menerpaku yang masih setia meringkuk di balik pintu kamar. Kukerjapkan mata guna beradaptasi dengan cahaya, kurasakan sekujur tubuhku serasa lemas. Sangat lemas.
Dalam pikiranku kembali terbersit ingatan tadi… ingatan yang sangaaat ingin kuhapus bersih. Terus saja berputar berulang-ulang layaknya CD yang sedang di play berulang-ulang. Entah mengapa membuat kepalaku kembali berdenyut nyeri.
Kusentuh kepalaku dan mencoba memijitnya pelan. Rasa sakitnya tak kunjung hilang. Sedang asyik-asyiknya memijit dan menatap sekeliling kamar, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara yang kukenal.
Kualihkan pandanganku menuju kasur queen size milikku, dimana sumber suara tersebut muncul. Otakku berpikir untuk segera mengambilnya, namun tidak dengan tubuhku ini. Rasanya sangatlah berat hanya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur.
Kupaksakan tubuhku yang seperti sangat menerima penolakan ini.
BRUK. Kurebahkan tubuhku sembari mengutak-atik ponselku. Ponsel yang berwarna senada dengan rambutku dengan hiasan gantungan berbentuk bunga Sakura.
"Ternyata SMS dan dari…"
"… Itachi-nii ?"
Dari : Itachi-nii
Pukul : 09.43
Sakura, kau kenapa? Tadi kulihat kau berlari menuju kamar setelah dari kamar Sasuke. Sudah berapa kali pula aku mengetuk pintu kamarmu. Aku cuma ingin bilang, aku ada kerja dadakan dan Sai sedang ada urusan… yah kau tahu seperti apa kan? Hanya tinggal kalian berdua. Aku sudah bilang Sasuke untuk menjagamu.
Semoga kau senang… Santai saja di rumah ya… ^^)V
"Eh? Mengetuk pintu? Kapan?"
Tunggu dulu… pesan ini dikirimkan pada pukul 09.43 dan sekarang sudah pukul…
Langsung saja kulihat jam yang tertera pada ponselku. Alangkah terkejutnya diriku melihat jam yang ditampilakan.
"Haaaah?! Ja… jam 15.30?! Selama itukah aku tertidur?!" Aku histeris sendiri hanya karena melihat jam. Aneh? Mungkin ya.
"Hah… mungkin salah liat ya?" Mengkin ini efek tidur sehabis nagis ? Kukucek mataku. Beberapa kali pun kukucek, jam pada layar ponselku tetap saja menunjukkan pukul 15.30. Justru menitnya malah bertambah.
"Hah… ya sudahlah…" Aku menghela nafas pasrah dan kembali membaca pesan dari nii-san ku yang paling care itu. Alisku bertaut membaca untaian demi untaian kata pada kalimat terakhirnya.
Hanya tinggal kalian berdua. Aku sudah bilang Sasuke untuk menjagamu.
"… tinggal berdua… Sasuke-nii diminta menjagaku?"
Tu… tunggu… maksudnya a… aku hanya berdua dengan nii-san ku yang itu… emngh… ya… ya itu. Dan ia diminta Itachi-nii untuk menjagaku?! Yang bener?
Kucoba baca kembali dan tulisannya tetaplah seperti itu dan tak berubah.
OMG ! Mengapa takdirku harus begini siiih?! Begitu pulang nanti akan aku bogem Itachi-nii dengan jurus mautku! Cih! Itachi-nii yang kukira puaaaliiing care itu, tenyata seperti menjadikanku umpan untuk makan singa buas! Oh Itachi-nii… mengapa kau malah menyuruh Sasuke-nii - yang paling nyebelin untukku mulai sekarang- itu untuk menjagaku sih? Iya… memang kau perhatian… tapi jangan yang kayak gini juga kalii!
Tapi kalu dipikir-pikir kalau aku bilang tidak mau Sasuke-nii yang menjagaku…. Pasti Itachi-nii akan bertanya "Kenapa?" dan tentunya tak mungkin aku bilang kejadian yang sembenarnya kan?!
"Oh…. Tidak~~~!" Terpaksalah diriku untuk menerima kenyataan ini sekarang…. Percuma mau menyangkal bagaimana pun… Sudah terlambat… Sangat terlambat…
.
.
Seorang gadis berambut sebahu dengan warna langka- tentunya adalah Sakura- tampak menuruni satu per satu anak tangga dengan raut wajah ogah-ogahan. Sebenarnya dalam hati ia tak ingin turun apalagi keluar dari kamarnya. Namun, sepertinya perutnya tak bisa diajak kerjasama. Entah sudah keberapa kalinya terdengar melodi dari perutnya.
"Kenapa malah bunyi mulu sih?!" Gerutunya sambil menatap perut ratanya itu.
"Sebaiknya aku buat apa ya?" Sakura bertanya-tanya pada dirinya dan melangkah menuju dapur untuk melihat stok bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas.
Seperti biasa, sebelum hendak melakukan sesuatu di dapur, Sakura senang melihat sekeliling ruangan terlebih dahulu. Dan pandangannya berhenti pada sebuah kulkas yang dibuka oleh seorang pemuda dengan rambut beaksen pantat ayam.
Tunggu! Pantat ayam?
"Sa… Sasuke-nii?!" Sakura nyaris memekik membuat sang empunya nama nyaris terlonjak dari tempatnya lantaran kaget. Namun, ekspresinya mampu tertutupi oleh muka stoicnya.
"Hn." Sasuke hanya merespon dengan gumaman yang singkat, padat, dan tak jelas.
"A… ada apa nii-san ke dapur?" Sakura memberanikan dirinya bertanya dan mendekati sang kakak yang baru saja menutup pintu kulkas. Ia masih memperhatikan sang kakak yang mencuci benda bulat berwarna merah.
"Mengambil tomat." Jawabnya singkat dan langsung melahap tomat dalam genggamannya.
"Oh…" Sakura mengakhiri percakapan. Ia bingung setengah mati apa yang harus ia tanyakan pada sang kakak untuk mencairkan kebisuan yang melanda di antara mereka berdua.
Sasuke langsung saja melengos meninggalkan Sakura di dapur sendirian yang masih menundukkan kepalanya.
Kruyuuuuk~~~
Bunyi melodi perut kembali muncul. Membuat sang empunya bunyi, Sakura menepuk jidat. Menyadari kebodohannya yang lupa akan tujuan dirinya menuju dapur hanya karena bertemu sang kakak.
"Aiiish~~! Aku lupa deh~" Ucapnya. Sakura langsung membuka kulkas dan mengambil bahan masakan yang dipilihnya. Mulailah ia memasak… Entah apa yang akan dimasaknya… tanyakanlah pada dirinya…
.
.
"Ittadakimasu~!" Sakura mulai melahap semangkuk kecil nasi dan beberapa macam sayuran sebagai lauk pauknya. Tampak sekali ia menikmati masakan bikinannya sendiri.
'Hmm… memang enak! Siapa dulu dong yang masak…! Sakura gitu~~!'
Sudah berapa kali pula, Sakura bernarsis-narsis ria dengan membatin kata-kata seperti itu. Sifat Sakura mulai berbalik, yang biasanya paling anti dengan yang namanya narsis, kini sudah mulai terjangkit virus tersebut. Mungkin ini pengaruh karena saking tegang dan takutnya melihat kakaknya, Sasuke-nii. Tak disangka, Sasuke mampu membuat adiknya sendiri jadi konslet seperti sekarang. Mungkin kita harus membawanya ke Rumah Sakit terdekat. (Bener juga ya… XD *Dishannaro Sakura*)
Trek
Sakura membereskan peralatan sisa makannya dan menaruh di tempat cuci piring.
"Fuwaaah~~~! Kenyangnya~!" Sakura menghela nafas lega sembari mengelus-elus perut ratanya yang sudah tak meronta minta diisi lagi.
'Habis ini nonton aah! Mumpung gak ada Sai-nii yang pastinya bakalan menguasai televisi karena kepengen nonton kartun! Horeee!' Sakura mulai bersorak-sorai gaje.
Langsung saja ia berlari secepat kilat menuju ruang keluarga yang letaknya tepat bersebelahan dengan dapur yang merangkap ruang makan.
.
.
"Lalala…~~!" Sakura bersenandung riang.
"Berita kali ini…. Mengenai…."
Terdengar sebuah suara dari ruangan yang di tuju Sakura. Sakura langsung berhenti dan menajamkan pendengarannya. Tak salah dan tak diragukan lagi, itu adalah suara televisi. Sakura berjalan mengndap-endap memasuki ruang keluarga.
Benar dugaannya. Televisi tampak menyala dan Sakura tak menemukan siapa pun yang tampak menonton.
"Cih… ni televisi nyala, kok gak ada yang nonton?!" Sakura mendecih dan sewot sendiri.
Langsung saja ia berlari dan menduduki sofa paling panjang dan paling empuk- menurutnya-. Lokasinya juga lumayan sesuai untuk menonton televisi.
Sakura's POV
Kududukkan diriku di sofa terfavoritku. Ah… ini acara berita yang menurutku sangat membosankan. Ya, acara mengenai musik bermusik yang entah apa lah namanya itu. Acara yang paling disukai Sasuke-nii. Eh soal Sasuke-nii, apa kakakku itu yang menyalakan televisi ini ya?
Ah masa bodo lah dengan siapa yang menyalakan dan dimana orangnya berada. Sekarang saatnya menggantinya dengan channel acara kesukaanku! Ah senangnya~
Kuraba-raba sofa yang kududuki. Tak ada remote sama sekali. Justru yang ada, aku merasakan permukaan sofa yang sedikit kasar seperti celana jeans dan sesuatu yang keras ketika mulai kududuki sofa ini. Seperti keras tulang gitu.
Celana jeans? Keras? Aneh… biasanya halus nan lembut dan pula sangat empuk. Kok beda banget ya sofa ini dari yang biasanya?
Kulihat apa yang kududuki… Melihatnya langsung membuatku membelalakkan mataku sampai-sampai rasanya ingin lepas dari rangkanya. Nafasku tercekat. Sulit sekali menarik oksigen yang padahal sangat banyak. Benar-benar mengejutkan…. Sampai aku bingung ingin menjelaskan seperti apa lagi. Kulangsung terpekik- yang pasti membuat siapapun akan langsung menjauh dan menutup telinga (?)-.
.
.
"Sa… Sasuke-nii?!" Sakura memekik melihat apa yang ia duduki. Ya, sepasang kaki kakaknya telah ia duduki tanpa sadar. Otomatis ia langsung berdiri takut membangunkan singa yang sedang tertidur lelap.
"Hn. Berisik." Sang raja singa- yang terbuas- terbangun dari buaian alam mimpinya. Terbangun karena pekikan dan rasa berat pada kedua kakiknya, membuat moodnya langsung berubah memburuk. Kelopak matanya terbuka menampilkan sepasang onyx. Beberpa kali ia kerjapkan. Mata elang tajamnya, mencari siapa orang yang berani telah membangunkan dirinya dari tidur nyenyak.
Mendapati bahwa orang tersebut adalah adiknya, gadis -yang bahkan tak ingin ia anggap menjadi adik- berambut sebahu aneh. Siapa lagi kalau bukan tokoh utama cerita ini (Sakura)?
"Cih, berisik! Ngapain kau?!" Sasuke menatap tajam sembari bangkit duduk. Sakura meneguk ludahnya.
"A… ano… gomenne telah mengganggumu, nii-san!" Sakura mencoba balas menatap kakaknya.
Sasuke's POV
Shit! Aniki itu… benar benar! Sudah tau aku membenci si gadis pinky itu, malah disuruh jagain… Dasar!
Di saat begini… lebih baik aku memakan tomat. Kulangkahkan kakiku menuju dapur dan membuka kulkas.
Saat aku sedang sibuk menyari, tiba-tiba terdengar suara memekik.
"Sa… Sasuke-nii?!"
Aku sontak kaget mendengar pekikannya yang kencang itu. Kututupi rasa kagetku dengan tetap berkutat pada kulkas dan memasang tampang datarku.
"Hn." Responku.
"A… ada apa nii-san ke dapur?" Tanyanya sembari mendekatiku yang sedang menutup pintu kulkas dan mencuci tomat dalam ganggamanku.
"Mengambil tomat." Jawabku singkat dan cepat. Langsung saja kulahap tomat itu.
"Oh…"
Setelah ia mengucapkan itu, hening langsung melanda kami berdua. Kulirik dirinya yang sedang menunduk. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja kutinggalkan ia di dapur sendirian dan melangkah menuju ruang keluarga.
Kududuki sofa panjang yang paling nyaman. Setelah menyalakan televisi, aku mencari channel berita musik terkini. Dan menemukannya. Tiba-tiba rasa kantuk mulai menjalariku. Kurebahkan diriku di sofa tersebut. Tak kudengari lagi suara televisi yang menyala. Biarkan saja.
'Apa ini? Berat?' Aku merasakan sesuatu yang berat menipa kedua kakiku. Mengganggu tidurku saja.
"Sa… Sasuke-nii?!"
Setelah terdengar sebuah pekikan, tepat di dekatku, aku merasa berat di kakiku berangsur-angsur menghilang.
"Hn. Berisik." Kucoba membuka mataku. Kukerjapkan beberapa kali akibat cahaya yang sedikit menerpa wajahku. Setelahnya, kuedarkan pandanganku. Yang kutemukan adalah seorang gadis pinky yang menatapku dengan tatapan takut.
"Cih, berisik! Ngapain kau?!" Langsung saja kata-kata itu terlontar dari bibirku. Kutatap lekat-lekat dirinya.
"A… ano… gomenne telah mengganggumu, nii-san!" Ia balas menatapku walau sebersit ada rasa ragu. Cih! Ternyata dia yang telah mengganggu tidurku.
Kuhembuskan nafasku kasar. "Kau yang membuat kakiku terasa berat?!"
Ia tampak mengangguk. "Y… ya. Gomenne… ta… tadi aku tak sengaja menduduki kakimu, nii-san." Jawabnya pelan. Sangat pelan, nyaris seperti gumaman. Untungnya masih lumayan terdengar olehku.
"Kau!..." Kutunjuk wajahnya dengan jari telunjukku. Ia sontak kaget dan mundur satu langkah. Wajahnya tampak ketakutan. Bahunya mulai bergetar. Air matanya pun sudah mulai membanjiri pelupuk matanya. Satu kata yang tepat dariku untuk menggambarkan dirinya 'cengeng'.
"… menggangguku saja!" Seruku sembari menatap mata emeraldnya yang sudah berkaca-kaca. Langsung saja ku bangkit mengambil jaket hitamku yang memang sedari tadi tersampir di sofa dan berjalan keluar ruang keluarga.
Kulihat ia yang berlari kecil mengikutiku kemana aku melangkah. Kubuka pintu rumah yang sudah tepat berada dihadapanku. Kurasakan sebuah tangan memegang tangan kiriku.
"Nii… nii-san ingin kemana?" Kutolehkan sekilas pandanganku kearahnya. Wajahnya yang sudah memerah dan mata yang berkaca-kaca. Tak luput pula air mata yang bisa lolos kapan pun dari pelupuk matanya. Ia menatapku dengan tatapan memelas.
Kualihkan lagi pandanganku darinya dan menghentakkan tanganku yang langsung membuat pegangannya pada tanganku terlepas. Kulangkahkan kakiku keluar rumah tanpa menggubris panggilannya lagi. Kubanting pintu rumah dengan kasar.
Cih! Daripada melihatnya terus menerus, lebih baik aku keluar saja. Masa bodo lah dengan pesan aniki itu. Sudah tau aku paling benci dengan gadis pinky itu.
.
.
"Tadaima!"
"Okaeri… Sai-nii." Balas Sakura sembari tersenyum dipaksakan. "Sai-nii, ingin makan? Akan kubuatkan sesuatu." Tawar Sakura yang lansung dibalas gelengan oleh Sai.
"Ah… tidak usah, Sakura. Aku akan pergi lagi. Aku hanya mengambil barangku yang tertinggal." Tolak Sai sembari mengambil sebuah buku. "Kalu begitu aku pergi lagi… Ittekimasu, Sakura."
"Oh… begitu. Itterashai, Sai-nii." Sakura menundukkan kepalanya selepas kepergian Sai.
"Semuanya pergi… aku sendirian…" Gumamnya pelan.
Sakura pun beranjak menuju kamarnya.
.
.
"Ah… ada SMS lagi… dari Itachi-nii."
Sakura membuka pesan dari nii-sannya itu dan membacanya.
Dari : Itachi-nii
Pukul : 17.57
Sakura, gomenne… sepertinya aku akan pulang malam atau pun tak bisa pulang. Urusanku masih belum selesai. Apa Sai sudah pulang? Bagaimana dengan Sasuke? Ia tak berucap seperti tadi pagi kan?
Sakura tersenyum kecut membaca SMS dari nii-sannya itu. Langsung saja ia mengetik balasan SMSnya.
Untuk : Itachi-nii
Pukul : 17.58
Ah… tak usah meminta maaf padaku, nii-san. Tak masalah. Tapi aku berharap nii-san pulang walaupun malam. Sai-nii tadi pulang sebentar untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan ia sudah pergi lagi. Sasuke-nii tidak berkata seperti itu lagi. Tenang saja.
SMS terkirim. Sakura memejamka matanya. Baru beberapa detik, ponselnya sudah berbunyi menandakan adanya SMS masuk.
Dari : Itachi-nii
Pukul : 17.58
Oh… syukurlah jika begitu.
Sakura menatap miris SMS yang balasan dari Itachi. Ia tersenyum kecut. Tak lama, air mata mulai membanjiri pelupuk matanya dan segera tumpah.
"Gomenne… Itachi-nii… aku telah membohongimu." Gumamnya. Sakura memejamkan matanya. Ia sudah terlalu lelah mengalami hal ini dari pagi. Ia berharap begitu terbangun… hari sudah berganti…
.
.
Ciit… ciit…
Cahaya mentari menyusup masuk melalui celah jendela. Menerpa wajah Sakura yang tertidur lelap. Membuatnya merasa silau dan terbangun.
"Enngh~~ Sudah pagi…" Sakura langsung beranjak bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Tak lupa ia bawa handuk warna merah miliknya.
.
.
"Ohayou." Sapanya begitu menuruni anak tangga. Tak ada balasan apa pun. Hening. Sakura mengedarkan pandangannya. Tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya.
"Ternyata pada belum pulang…" Sakura merasa sedikit sedih. Dengan gontai, ia melangkah menuju dapur dan memakan masakan sisa kemarin.
Saat makan, Sakura merasa tak semangat. Walaupun makanan yang dimakannya saat ini terasa lezat, namun tetap saja ada yang kurang baginya. Ya, kehadiran ketiga kakaknya. Ia ingin makan bertiga dengan kakak-kakaknya itu.
Selesai makan dan membereskan sisanya, Sakura lngsung melangkah keluar rumah, tak lupa ia bawa tas ranselnya.
"Kalau begitu, kukunci saja pintu rumah dan taruh di tempat yang biasa." Gumamnya sembari mengunci pintu rumah.
Sakura langsung melangkah pergi setelah menaruh kuncinya di tempat biasa.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N :
Author : Akhirnya selesai chapter 2 dengan akhiran yang gaje. *Mengelap keringat*
Sakura : Fuuuh… dari tadi ditindas n harus nangis mulu…. O
Itachi : Aku gak muncul~~… Cuma kirim SMS *Sedih*
Sai : Aku Cuma datang ngambil buku yang ketinggalan doang.
Sasuke : Hn. Peranku banyak… ntar aku tindas lagi ah… *Lirik Sakura* *Smirks*
Sakura : Sasuke-kun! *menahan emosi*
Author : Yah… abaikan mereka yang disana. (-_-)
Nah… Readers, Bagaimana dengan chapter kali ini? Masih samakah dengan fict yang lain?
Sudahlah… kalau begitu, bisakah kalian tinggalkan jejak-jejak kalian… (REVIEW)?
Boleh apa aja isinya. Saran, kritik, penyemangat, de el el…
Sekian… Salam hangat selalu…. XD
Hazu
