UNKNOWN

Chapter 3: Across With Tales Of Telos And Thanatos

…Then I hear something, unclear, unreveal, and untouchable…

A Persona series fanfic.

Spotlight Minato A. & Ryoji M.

Warning: Contain Major SPOILERS.

Disclaimer: Persona series © ATLUS, related OST songs are not mine.


.:0:.

Two man with similiarities,

Eye fixed to one another,

Gazing as solemn growing in pain

Ache in the heart then

Fear released,

As the truth unfold

Without realizing,

That the beginning of an End is upon the world

.:0:.

Graveyard, Near Naganaki Shrine

19th December, 2011

11:28 – Daytime

Ryoji menutup matanya, mencoba meyakinkan bahwa semua yang terjadi saat ini hanyalah mimpi. Namun, ia sudah tahu sejak awal bahwa tidak ada tempat untuk lari.

Segala yang ada di hadapannya adalah kenyataan.

Membuka matanya kemudian menengadah ke langit yang biru. Apakah kedamaian ini akan sirna? Hanya karena keberadaannya di sini, sebagai salah satu bagian dari kehidupan?

Ia mengurung dirinya dalam kegelapan kembali saat kelopak matanya tertutup. "Apa yang kupikirkan? Bukankah sejak awal, tidak ada kehidupan apapun untukku?" batin Ryoji saat ia berusaha memikirkan jalan terbaik untuk keluar dari permasalahan ini, seperti yang ia berikan pada S.E.E.S. dulu.

Di tengah keheningan itu Minato tiba – tiba berbisik, "Psst… Ryoji!". Orang yang dituju menatap kakaknya dengan penuh kebingungan, "Ada apa, Nii-san?"

Untuk pertanyaan Ryoji, Minato hanya menunjukan jari telunjuknya ke arah pintu masuk pemakaman yang mereka lalui tadi. Ia menoleh ke arah yang dimaksud. Saat ini memang tidak ada siapapun di sana. Tetapi mereka dapat merasakan…

Kehadiran Persona-user lain yang datang mendekat… menuju tempat tersebut.

Ryoji, menyadari aura familiar yang ia rasakan, segera berbalik menghadap kakaknya dengan wajah antusias, "Nii-san, itu mere—wahhh!"

Sebelum ia selesai, dengan cepat Minato menarik lengan Ryoji dan langsung bersembunyi di balik pepohonan yang tidak jauh dari sana. Hanya mata yang terpasang dari balik persembunyian, Minato mengamati tempat yang baru saja ia dan Ryoji tinggalkan. Bersamaan dengan itu, sembilan orang, atau tepatnya tujuh orang dengan satu robot wanita dan seekor anjing, memasuki area pemakaman tersebut. Sebuah ikatan bunga terlihat dibawa oleh salah satu dari mereka, seorang robot wanita berambut pirang dengan aksesoris bando di kepala yang berjalan memimpin kelompok tersebut bersama anjing alpha-breed yang dengan setia mengikutinya.

Meski masih belum mengerti mengapa kakaknya begitu menghindari mereka, teman – teman terbaiknya sendiri saat di S.E.E.S. dulu, Ryoji tetap diam. Ia yakin Minato akan menjelaskan untuknya nanti. Kali ini lebih baik ia menunggu.

Tanpa menimbulkan suara apapun, keduanya berbalik menyembunyikan diri dan hanya memasang telinga mereka, berharap dapat menangkap sejelas mungkin percakapan kelompok tersebut tanpa diketahui, setelah mereka sampai di batu nisan yang bertuliskan, 'Minato Arisato'.

Baik ekspresi Minato maupun Ryoji tidak berubah. Topeng 'diam' mereka begitu kokoh terpasang, terutama Minato. Tidak ada rasa benci ataupun rindu yang meluap dalam dirinya. Semuanya terkunci rapat. Untuk semua tindakan yang telah dilakukan, hati kecilnya hanya dapat berkata, "Belum saatnya kami bertemu…"

~0~

Graveyard, Near Naganaki Shrine

19th December, 2011

11:50 – Daytime

"Pagi, dude!" sapa pria bertopi baseball. Suaranya yang ceria memecah keheningan yang terpaku di tempat itu termasuk dua orang di balik pepohonan. Keduanya hanya tersenyum dalam sepi, seakan tengah bertatap muka langsung dengan pemilik suara tersebut yang tak lain adalah Junpei Iori.

Sebuah suara lain menyusul dengan nada mengejek, "Duh! Buat kamu PAGI, Stupei!? Lihat jam berapa sekarang!". Mereka berdua membayangkan seorang wanita berambut pirang sebahu, dengan ciri khas heart-choker yang selalu ia pakai di lehernya. Sebuah kebiasaan yang hanya seorang Yukari Takeba lakukan.

Dalam keadaan biasa keduanya akan segera bertengkar sambil mengeluarkan celaan terhebat masing – masing. Namun tidak untuk kali ini, saat suara lain menghentikan kelanjutan cerita tersebut,

"Hei! Ada waktunya untuk hal ini!" tegas seorang pria. Intonasi suaranya yang rendah dan berwibawa dimiliki oleh Akihiko Sanada. Bersamaan dengan hal itu, Ryoji mengintip dari balik pepohonan dan mengamati kelompok tersebut. Sekilas ia melihat kakaknya yang kini tengah menatap ke arah dimana kelompok itu berada, dan menangkap perasaan yang tadi terkunci sekarang mulai terpancar di matanya. Perasaan rindu. Ryoji hanya tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya ke objek semula.

Tawa kecil wanita mengomentari kejadian tadi, "Ahahaha… kalian sama sekali tidak berubah.". Senior yang memakai kemeja putih berenda tersebut memperlihatkan gayanya yang anggun bahkan pada saat tertawa. Cantik dan elegan. Kata – kata itulah yang selalu mengiringi Mitsuru Kirijo.

Anak termuda di antara mereka, Ken Amada, ikut meramaikan suasana, "Benar kata Sanada-san, kalian seperti anak kecil saja." katanya tenang, tanpa menyadari bahwa kata 'anak kecil' yang diucapkannya secara tidak langsung menyindir kedua orang seniornya.

Junpei dan Yukari menatap Ken bersamaan, membuatnya memasang wajah bingung, "Ada apa?" sebelum memasang tatapan tajam lagi pada lawannya. Sebagian diri mereka belum puas selama belum menyerang balik, sebagian lagi merasa gengsi dikatakan 'anak kecil' oleh seseorang yang seharusnya lebih pantas menyandang kata itu sendiri. Digarisbawahi, setidaknya untuk di antara mereka.

Namun sepertinya perasaan tidak mau kalah dan keras kepala mereka melebihi segalanya. Mereka tidak saling mengejek, tetapi mata masih terpaku. Bila dilihat melalui indera keenam, terlihat sinyal – sinyal listrik terpercik dari mata mereka, saling tertuju satu sama lain.

Dengan nada bersahabat, seorang wanita berambut hijau dengan potongan yang pendek, ikut melerai keduanya, "Kita semua datang kemari bukan untuk bertengkar di depan dia, 'kan…". Kecewa karena kata – katanya tidak begitu didengarkan, ia langsung mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang lebih bisa menangani Junpei, "Chidori-chan juga, katakanlah sesuatu," kemudian pada teman sekamar Yukari, "Aegis-chan…"

Dengan memegang tangan kanan Yukari, robot bernama Aegis berusaha mengalihkan perhatian temannya itu dari Junpei, "Yukari-san…"

Chidori berdiri mematung dengan ekspresi muka yang datar dan menatap pria bertopi itu, "Kau berisik sekali, Junpei."

Hening.

Benar – benar ampuh. Junpei yang tadi masih mengirimkan kalimat perang pada Yukari, kini berbalik menatap pacarnya dengan ekspresi tidak percaya, "Chi-chidori…!?". Wanita berpakaian gothic-lolita itu hanya menatap Junpei, masih dengan ekspresi yang tidak berubah, "Hmm?"

Detik kemudian semuanya tertawa terbahak – bahak, begitu juga dengan Yukari. Dan untuk Koromaru, yang sejak mereka sampai di sana hanya duduk, kini berdiri dan menggoyangkan ekornya dengan antusias. Adegan itu pun tidak luput untuk menghibur Minato dan Ryoji. Mereka tertawa dengan suara yang amat kecil. Hanya punggung Junpei yang dapat mereka lihat, tetapi ekspresi kagetnya tergambar dengan jelas, menjadi alasan mengapa mereka ikut tertawa.

Ryoji yang kemudian menatap Minato berkata, "Mereka semua benar – benar tidak berubah."

Ia pun balas menatap adiknya, "Kau benar." jawab Minato.

Keduanya bertukar pandang sesaat dan kembali menatap kelompok tersebut yang memulai kegiatan mereka sebenarnya. Mengunjungi sahabat terbaik mereka, Minato Arisato.

Mengambil jalan memutar, Minato segera pergi dari area pemakaman itu tanpa berkata apapun pada adiknya. Sadar karena ditinggalkan, Ryoji langsung mengejar kakaknya sambil berbisik protes, "Jahat!"

~0~

Graveyard, Near Naganaki Shrine

19th December, 2011

12:21 – Afternoon

Kunjungan tersebut tidak berlangsung lama, tentunya karena itu hari Senin, mereka harus kembali ke kegiatan masing – masing. Setelah selesai memberikan perpisahan tiba – tiba,

"Arf!" Koromaru menggonggong, menyita perhatian mereka semua.

Aegis yang pertama menyadari langsung mengelus kepala anjing itu, "Ada apa, Koromaru-san?"

"Arf! Woof!" jawab Koromaru senang sambil menggoyangkan ekornya.

Yukari kemudian menghampiri keduanya, "Dia bilang apa sekarang, Aegis?" tanyanya bingung.

Aegis menatap mata merah anjing itu sejenak sebelum berkata, "Koromaru-san berkata, 'ia mencium kehadiran Minato-san'."

"Aww… kamu benar – benar manis, Koro-chan!" puji Yukari.

Junpei menimpali, "Heheheh, cowo satu itu bikin kamu kangen ya!?" katanya jahil.

"Kita semua merindukannya." koreksi Mitsuru yang juga tersenyum.

Akihiko hanya tertawa kecil, "Heh." diikuti dengan Ken di sebelahnya, "Kau benar – benar anjing yang setia, Koromaru!"

Fuuka dan Chidori beberapa saat memandang yang lain sebelum akhirnya Fuuka ikut dalam percakapan, "Koro-chan, kau yakin?" tanyanya sedikit ragu – ragu.

"Arf! Arf!" jawab Koromaru yang kemudian disusul oleh Aegis, "Ia bertanya, 'apa Fuuka-san dan Chidori-san juga merasakannya?'". Spontan semua langsung menoleh ke arah mereka berdua, "H-hei apa maksudnya?" dengan wajah terkejut Yukari menyuarakan isi hati semua orang di sana kecuali Fuuka dan Chidori, yang masih tetap tenang,

"Medea memberitahuku, Minato-san baru saja meninggalkan tempat ini setelah memperhatikan kita." Chidori kemudian menoleh ke sebelahnya untuk mendapatkan kepastian, "…Begitu pun dengan Juno." lanjut Fuuka disertai sebuah anggukan kecil.

.:0:.

Iwatodai District

19th December, 2011

12:26 – Afternoon

Tidak ingin diketahui, Minato mempercepat langkahnya menjauhi pemakaman Naganaki Shrine. Ia juga acuh apabila Ryoji masih di tempat itu, tetapi asumsinya salah saat sebuah suara menghentikannya,

"Mengapa kau lari?". Pertanyaan yang sederhana tetapi begitu kompleks. Kalimat itulah yang tengah mengganjal dalam hati Minato, dan Ryoji telah berhasil menariknya ke permukaan.

Memang tidak ada alasan berarti untuk menghindari mereka, bila kondisinya sangat jauh berbeda.

"Aku tidak lari, hanya saja tak ada yang kuperlukan dari mereka." jawab Minato.

Dari kalimat itu Ryoji tahu bahwa Minato sedang berusaha membohongi dia, dan dirinya sendiri, "Meskipun saat ini tak ada yang dapat mereka lakukan untuk kita — untukmu, apa sedangkal itukah kau menilai 'persahabatan' kalian selama ini?"

Pemuda berambut biru itu terdiam sejenak, untuk saat tertentu perkataan Ryoji selalu ingin mengujinya, dan ia benci hal itu. Ia yakin, bahwa dia sudah tahu, namun selalu mempertanyakannya lagi, "Kurasa aku tidak perlu menjawabnya — kau tentu tahu."

Merasa provokasinya berhasil, Ryoji kembali memancing perasaan Minato. Ia menggeleng kecil pertanda jawaban untuk kakaknya.

"Kau bohong." nada yang dingin mulai terdengar dari intonasinya.

"Lalu, apa bedanya denganmu?" tanya Ryoji. Ia tidak peduli bila karena ini Minato akan kehilangan kesabaran. Ia hanya ingin Minato jujur, paling sedikit, pada dirinya sendiri, "Bukan itu yang ingin kau katakan, bukan itu yang menjadi alasanmu menghindari mereka."

Mendengar Ryoji, Minato tidak berkata apapun. Tenggorokannya tercekat, tak sanggup membantah bahwa perkataannya memang benar. Entah bahaya apa yang menanti, ia hanya tidak ingin melibatkan teman – temannya seperti tragedi dua tahun lalu. Sama sekali tidak menginginkannya. Benarkah?

Ia mengaca lebih jauh lagi pada perasaannya. Ikatan dengan banyak orang yang berharga bagimu terkadang mengarahkan ucapan dan tindakan untuk tidak mau mengakui, bahwa kau sungguh – sungguh mencintai mereka dari lubuk hati yang terdalam — seperti yang baru saja ia lakukan. Dan alasan mengapa ia melarikan diri karena ingin melindungi mereka, sebagian besar itu adalah benar.

Namun sesungguhnya, ia sedang mempertahankan 'cangkang'nya mati – matian. Ia memang tahu, alasan kedualah yang paling mendasari alam bawah sadarnya — bahwa ia takut ditinggalkan sendirian lagi, ia hanya tidak ingin mengakuinya dan selalu menangguhkan dengan kata, 'tak kuperlukan' atau 'tak kubutuhkan'.

Ia lebih sanggup untuk melepaskan, daripada dilepaskan. Ia akui.

Tetapi kini ia tahu, bahwa ikatan yang telah ia jalin tidak akan semudah itu hancur, selebar apapun jurang yang telah memisahkan mereka. Pada kehidupan, maupun kematian.

Selain itu ada hal lain yang baru ia sadari.

Thou art I… and I am thou…

Idiot ini…

From the sea of thy soul I cometh.

…ternyata sejak awal memang sudah merencanakannya.

I am Orpheus Telos, Master of Strings…

Rasa hangat memenuhi tubuh tatkala Persona itu masuk dan bersemayam dalam lautan jiwanya.

"Kau benar – benar menyebalkan." ancam Minato yang anehnya, kini tersenyum.

"Pujian untukku!" kata Ryoji, kembali ke dirinya yang semula. "Kalau kau lari karena takut ditinggalkan sendiri lagi, kenapa tidak katakan dari awal?" tanyanya, berusaha menggoda Minato.

Terlihat sedikit warna merah yang merona di pipi kakaknya, "…Karena kupikir akan terdengar memalukan…"

"Cutie…! Nii-san, sayang sekali kamu laki – laki…" ucap Ryoji, nadanya terdengar sangat kecewa.

Minato sweatdropped. Menjijikan! Orang ini sudah gila, pikirnya. Berharap dapat menyelamatkan diri, Minato segera pergi dari tempat tersebut setelah berkata, "Idiot.", meninggalkan Ryoji untuk kedua kalinya.

"Nii-san, aku cuma bercanda!" teriak Ryoji protes sambil berusaha menyusul Minato, lagi.

~0~

Graveyard, Near Naganaki Shrine

19th December, 2011

12:32 – Afternoon

Keheningan tengah mengiringi tempat itu. Tetapi bukan aura ketenangan seperti sebelumnya, melainkan kesedihan. Semua terjadi hanya karena beberapa kata dari dua orang wanita pemilik field Persona, Fuuka dan Chidori. Keduanya terdiam, menunggu respon teman – teman mereka hingga salah satu dari kelompok tersebut berkata,

"Dasar, kupikir apa… kalian terdengar seperti Stupei barusan!" Yukari berkata, mencoba mengalihkan pembicaraan.

Kaget akan pernyataan Yukari, Fuuka bermaksud meyakinkan sahabatnya kembali, "Tidak! Aku serius, Yukari-chan!" teriaknya.

"Oke… oke… pertama kujelaskan bahwa semua usahamu percuma saja, Fuuka. Aku tidak pernah takut akan, kau tahu, hantu dan semacamnya," tegas Yukari. "…dan terakhir, itu tidak lucu! Jangan membuat lelucon untuk hal – hal yang berhubungan dengan dia."

Yukari memandang Fuuka tajam, menahannya untuk berkomentar lebih jauh. Tahu kalau ia tidak ingin disela, gadis itu menundukan kepalanya dan tidak berniat bicara apapun lagi.

Yang lain terlihat berpikir keras. Perkataan Yukari mungkin ada benarnya, bahwa hal tersebut hanya sebuah lelucon, tetapi haruskah membantah apa yang sudah diucapkan oleh seorang Fuuka, terlebih lagi, Chidori?

Sebelum mencapai penyelesaian suara Yukari kembali terdengar memecahkan lamunan mereka semua, "Sudahlah, tidak ada gunanya kita berlama – lama disini. Aku masih ada urusan, kalian juga 'kan? Terutama kau, Ken-kun, izin sekolahmu hanya sampai siang ini, jangan bolos." ucapnya sebelum berbalik lari, pergi dari tempat itu.

"Aku juga." susul Akihiko. "Jangan salah sangka, bukannya aku tidak mempercayaimu, Yamagishi, Yoshino. Mungkin kalian benar – benar merasakan dia — dari atas sana," tegasnya.

Dengan wajah kecewa karena tidak dipercayai untuk yang kedua kalinya, Fuuka berpikir, "Mungkin… memang hanya perasaanku, tetapi…"

"…tetapi, soal dia hidup kembali, maaf, aku tidak pernah mempercayai hal – hal seperti itu." lanjut Akihiko yang kemudian menatap Ken, "Ayo, kuantar."

Anak laki – laki berambut coklat tersebut menatap mereka satu persatu hingga akhirnya melangkah pergi, "Sampai nanti, semuanya."

Sekilas ia menatap ke belakang, mengecek keadaan Fuuka sebelum benar – benar menghilang dari pandangannya dan menemukan bahwa…

…gadis itu memang tidak berbohong.

Saat ia ingin kembali ke tempat itu, Akihiko langsung menariknya pergi menuju SMP Gekkoukan.

Tiga orang. Melihatnya Fuuka hanya dapat menghela napas putus asa, "Tak apa – apa bila kalian tidak percaya, hal ini memang, kurang masuk akal…" katanya pada yang lain.

"Aku percaya."

Fuuka menoleh dan menemukan sumber suara yang berasal dari seniornya, "…Mitsuru-senpai…"

Gadis itu hanya tersenyum dan melanjutkan, "Tak ada yang tidak mempercayaimu ataupun kau, Yoshino. Karena aku sendiri, meski tidak melalui Artemisia, juga merasakan kehadirannya… sedikit."

"Woaa! Senpai, kau juga!?" teriak Junpei kagum.

Mitsuru mengangguk, "Baik Akihiko, Ken dan Yukari, mereka hanya… belum siap…". Ia terdiam sebentar hingga berkata lagi, "… terutama Yukari."

"Yukari-san?" tanya Chidori.

Dengan enggan Aegis menjawab, "…Sewaktu hidup, Minato-san adalah… kekasih Yukari-san…". Untuk menguraikan kata tersebut pita suaranya terasa panas. Semenjak ia mendapatkan emosi dan hati manusia, ia selalu cemburu pada kenyataan itu. Namun tidak menyangka akan separah ini, terutama saat ia mengetahui kemungkinan bahwa Minato, telah hidup kembali.

"Pastinya Yukaricchi masih suka, meskipun masa pacaran mereka bisa dibilang yah, sebentar." lanjut Junpei, "Cowo satu itu benar – benar pengecualian buat dia."

"…Begitu rupanya…"

Junpei, melihat kesempatan lain untuk bicara tidak lagi membuang waktu, "Lalu, sekarang kita ngapain senpai?" tanyanya pada Mitsuru.

Mendengarnya wanita yang dituju tersenyum kecil, "Kita perlu sedikit… bukti." ungkapnya dengan nada rahasia.

"Arf! Arf!"

"Ahahah… maaf tapi kau harus menunggu sampai malam ini."

"Malam ini…?" kata Aegis yang juga tidak mengerti.

Mitsuru menjelaskan semuanya dalam satu kalimat, "Kita berkumpul lagi menjelang tengah malam… di asrama S.E.E.S. …"

~0~

Shinshoudo Antiques, Paulownia Mall

19th December, 2011

13:48 – Afternoon

"Meskipun sudah mendengar semuanya, tapi aku masih tidak percaya.". Wanita setengah baya itu kemudian duduk di kursinya, tersenyum.

"Sepertinya anda tidak terlalu terkejut?" tanya Minato.

"Tidak, aku terkejut, sungguh, walau sedikit banyak aku sudah memperkirakan bahwa cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi." jelasnya.

"Waw, Madam! Kau hebat! Apa kau peramal!?" susul Ryoji dengan mata yang berbinar – binar.

"Bukan, aku lebih tepat semacam… Persona-user consultant, tapi kalau kau ingin memanggilku begitu aku tidak keberatan, ohohohoho!" Mendengar tawanya Minato sweatdropped lagi. Meskipun sudah sering ke tempat ini, ia masih belum terbiasa dengan suara tawanya itu.

"Lalu, ada yang bisa kubantu?" lanjutnya ramah.

Minato langsung membicarakan intinya, "Madam, bisakah kau melakukan Persona Weapon Fusion, untuk hasil malam ini?"

Madam menaikan kedua alisnya, "Mengapa terburu – buru begitu?"

"Keadaan mendesak, Madam~" kata Ryoji seperti anak kecil, "Jadi, bisakah?

"Jangan meremehkanku, hanya butuh 6 jam," Madam meyakinkan kedua tamunya dengan tambahan, "Materialnya?"

"Ini," jawab Minato cepat sambil mengeluarkan sebuah senjata tongkat yang telah lebih dulu dibawa dari gudang senjata kamarnya, "…Dan, kupilih dia…". Minato menggerakan telapak tangan kanannya mulai dari muka, hingga dada bagian jantung kirinya. Beberapa detik kemudian cahaya biru muncul dan berkumpul di tangan tersebut. Saat dibalikan, tampak sebuah kartu dengan Persona Devil Arcana, Beelzebub.

"Nii-san seperti pesulap!" kagum Ryoji dalam hati.

Madam mengamati kartu Arcana di tangan Minato, "…Hmm… ok, tetapi hasilnya akan sedikit berbeda…" katanya ragu – ragu.

"Maksud anda?" tanya Minato dan Ryoji bersamaan.

Beliau mengerutkan alisnya sebelum menjawab, "…Bukan sesuatu yang aneh, masalahnya apa kau dapat menggunakannya nanti?"

"Bukan aku, si idi—maksudku, Ryoji yang akan memakainya," Minato lalu menjelaskannya lagi, "…Seperti aku, dia bisa menggunakan berbagai macam senjata. Aku asumsikan… hasilnya akan seperti 'itu'?"

"Benar.". Mendengar percakapan dua orang ini Ryoji hanya memasang tanda tanya. Dari Madam, ke Minato, kemudian ke Madam lagi, lalu kakaknya, namun tetap saja tidak mengerti, "Pusing, mereka seperti berada di dunia lain…"

"Kalau begitu tidak apa – apa." Minato meyakinkan.

"Ok," Madam menyetujuinya dan bangkit berdiri, "Biarkan aku bekerja sekarang, ingat, jam 9 malam ini, anak – anak."

"Terima kasih banyak, Madam," balas Minato sebelum keluar dari toko itu, "…Dan tolong jangan katakan pada siapapun tentang kami.".

"Tentu, sampai nanti." jawabnya.

"Dah! Madam~!" kata Ryoji melambaikan tangannya lalu beranjak dari tempat tersebut.

~0~

In Front Of Shinshoudo Antiques, Paulownia Mall

19th December, 2011

14:36 – Afternoon

"Nii-san, aku ingin tanya."

"Kalau ini mengenai bentuk senjatamu, tidak perlu khawatir, bukan sesuatu yang aneh." jawab Minato tenang.

Ryoji memegang kepalanya beberapa saat, "Bukan itu, aku tahu kita ke sana mencari senjata yang sesuai untukku, tapi…"

"Tapi apa?" desak Minato.

Dengan muka tidak bersalah Ryoji kemudian berkata lagi, "…Apa itu 'Persona Weapon Fusion'?"

Duh!

"Lalu…" lanjutnya lagi.

Minato yang sudah pusing, tanpa pikir panjang langsung menjawab setengah berteriak, "Apa!?"

Senyum Ryoji melebar, terlihat sekali kalau ia menginginkan sesuatu, "…Aku ingin pergi ke Mandragora!" teriaknya gembira mengalihkan pembicaraan, seraya menunjuk tempat karaoke yang tepat berada di sebelah toko antik.

"Kita tid—HEI!" terlambat, Ryoji sudah menghilang.

Anak itu…

~0~

Mandragora Karaoke, Paulownia Mall

19th December, 2011

14:40 – Afternoon

"Kau tidak bilang padaku kalau ini goukon!" teriak seorang wanita. Rambut coklatnya yang panjang, lurus tanpa poni terlihat berkilau meskipun tempat itu sedikit remang – remang. Ia membetulkan kacamata yang dipakainya, "Aku pulang! Aku harus belajar untuk ujian."

"Ya ampun Chi-chan… kalau aku bilang tentunya kamu tidak akan datang 'kan?" bujuk temannya, "Lagipula cowoku yang atur, kenapa kamu khawatir!? Percaya deh sama aku!"

"Benar, Chihiro-senpai, lagipula ketua OSIS sepertimu sudah terlalu baaanyak belajar dan berorganisasi, sekali – sekali main ngga masalah 'kan?" ujar seorang juniornya.

Gadis yang bernama Chihiro itu akhirnya luluh juga, "K-kau yakin tidak apa – apa?" balasnya curiga.

"Pasti!" teriak dua orang temannya, "Nah sekarang ayo! Cowoku menunggu di dalam! Dia bilang, teman – temannya keren, kaya, plus…"

"A-apa?" tanya Chihiro gugup selagi ia ditarik oleh keduanya menuju ruang 4 yang sudah dibooking.

"…mahasiswa!" lanjut juniornya genit.

Ketiga siswi SMA Gekkoukan itu akhirnya masuk ke ruang VIP Mandragora karaoke.

~0~

VIP Room 7 Mandragora Karaoke, Paulownia Mall

19th December, 2011

20:01 – Night

Satu jam sebelum pukul 9 malam. Tapi anehnya meskipun ada dua orang di ruangan itu, yang terdengar hanya suara satu orang, dan dapat dipastikan itu Ryoji.

Minato tidak habis pikir, bagaimana bisa idiot ini menyanyi tanpa henti di karaoke? Itu masih misteri…

"Nii-san, giliranmu!" ucap Ryoji sambil menyodorkan mic yang baru saja dipakainya.

"Teruskan." perintah Minato singkat untuk kesekian kali.

Kemudian, bagaimana mungkin malam yang nanti menjadi serius dapat diisi sebelumnya oleh karaoke!? Tentu saja mengesampingkan kenyataan bahwa idiot ini sudah menghabiskan seluruh uangnya, untuk ruangan VIP dan makanan kecil, ia tidak keberatan — sedikit balas budi atas Orpheus Telosnya. Tetapi satu hal yang menjadi masalah…

"Ah! Tampaknya ini menarik, PLAY!" teriaknya hyperactive.

Di layar TV tertera judul lagu, yang telah sukses membuat bulu kuduk Minato jauh lebih merinding dibandingkan sebelumnya.

'Muscles Blues'

'Atsushi Kitajoh'

Ia memang suka lagu – lagu Atsushi Kitajoh, sama seperti Shoji Meguro dan Lotus Juice, tetapi untuk yang satu ini, tidak.

…Selera idiot ini terlalu aneh.

~0~

VIP Room 4 Mandragora Karaoke, Paulownia Mall

19th December, 2011

20:09 – Night

Untuk ruang regular tentunya akan penuh bila dipadati oleh enam orang, tetapi tidak untuk VIP. Dalamnya luas, terdapat panggung performance dan 3 sofa ukuran sedang. Penempatan yang tepat untuk acara goukon, dimana dua orang, laki – laki dan perempuan, duduk di sofa yang sama.

"Giliran kita! Ayo!" teriak teman wanita Chihiro yang bernama Erika.

Alunan lagu dan suara tepuk tangan dapat terdengar di seluruh penjuru ruangan. Gugup, Chihiro hanya memfokuskan perhatian pada minumannya untuk gelas ketiga. "Kupikir akan jadi latihan yang baik, tetapi ternyata tidak semudah ini." pikirnya.

Teman duduknya, Takamichi Ryohei, justru berusaha menarik perhatian Chihiro meskipun gadis tersebut belum sekali pun menatap matanya, "Fushimi-san, ada orang yang kamu sukai?"

Spontan Chihiro kaget. Jawaban yang keluar membuatnya makin gugup, "Y-ya…"

"Siapa? Seniormu? Apa dia tampan?" tanyanya bertubi – tubi.

"Dia… sangat tampan, juga baik," mukanya memerah saat mengucapkan nama orang yang dimaksud, "…Dia seniorku, Minato-san…" ucapnya malu – malu.

"Oh ya? Meskipun begitu tentu aku masih punya kesempatan bukan!?" lanjutnya dengan penuh percaya diri.

"Ap—TIDAK!" teriak Chihiro, membuat semua orang menoleh ke arahnya, "U-um…"

Semua yang ada di ruangan itu tertawa, tak terkecuali Ryohei, "Ahahah, Fushimi-san, kamu terlihat manis sekali!" pujinya.

"Payah, langsung ditolak, Ryo!? Pamormu turun ya!" ejek pacar Erika.

"Ditolak! Ditolak!" kata temannya satu lagi.

Selagi mereka tengah beradu mulut, junior Chihiro tiba – tiba mengeluh, "Chihiro-senpai… aku ngantuk…", kemudian disusul Erika, "Ng… padahal baru jam… 8…" sebelum Chihiro menjawab keduanya langsung tertidur pulas di pangkuannya. Tidak terhindarkan, ketua OSIS tersebut pun, tidur seketika di tempat itu.

Sesaat setelah para wanita tertidur, senyum kemenangan milik tiga orang lainnya mulai terpasang.

"…No sanity, body aching, control your own fate…"

"Minato…san…" bisik Chihiro dalam mimpi, tidak menyadari bahaya yang ada di dekatnya.

"…Invisible, real enemy, ruin your mind…"

~0~

VIP Room 7 Mandragora Karaoke, Paulownia Mall

19th December, 2011

20:18 – Night

"…BURN MY DREAD~~! …BURN MY DREAD~~!" teriak Ryoji sambil bergaya seenaknya.

Minato cuek saja, meskipun suaranya bagus dengan iringan lagu 'Burn My Dread' favoritnya, pikirannya sudah tidak ada di ruangan itu karena sesaat tadi ia merasakan… sesuatu…

"I will BURN MY—!"

…Dan sepertinya Ryoji juga telah menyadarinya. "…DREAD…"

"Shadow." bisik Minato pelan. "This time I'll grapple down,"

"That God of Fear,". "…Tidak, mereka beda denganku." ungkap Ryoji.

"Arah Barat Daya…" lanjutnya. "And overthrow him into Hell's fire!"

Keduanya bertapapan dan mengangguk kecil, "…BURN MY DREAD…"

kemudian keluar dari ruangan itu, "I'll shrug the pain and run 'till I see the sunlight again!"

"Oh… I will run… burning all, regret and dread…", dengan player yang masih menyala.

"… and I will face the sun, with the pride of the living…"

~0~

VIP Room 4 Mandragora Karaoke, Paulownia Mall

19th December, 2011

20:19 – Night

Satu.

Pintu ruang karaoke itu terbanting keras.

BRAK!

Perhatian ketiganya teralihkan saat kedatangan dua tamu tak diundang… "!?—Brengsek!"

"—Down down to the base,", "Tiga kecoa.", "The sound you're about to hear is deep down hip hop,"

"RASAKAN INI! HAH!"

Tiga.

"What you gone do when they start to come up,", "…Oke!", "Well they've already come up to surround you up,"

BUK! BLETAK!

Delapan.

"To dis you at a world cup but I guess it depends,", "Idiot, belakang!", "On how you gone behave in that moment,"

"KURANG AJAR!"

Dua belas.

"Huh, a moment of truth tell me what's really happening,", "Okie-dokie!"

THWACK! BUG!

Lima belas.

"Their rhyme is nothing but you've got everything,", "Tukang pamer."

"DASAR SIALAN!"

Tujuh belas.

"Bro, you've got everything but you dunno anything…", "Ahahahahah!"

PRANG! BRUK!

Dua puluh.

Tiga orang tumbang dan semua selesai, dalam hitungan detik.

Sssss……

TV player yang selesai memainkan lagu berbunyi konstan.

"Ah~! Leganya… kau tahu Nii-san? Kita seperti pahlawan!" teriak Ryoji senang.

"Terserahlah…" Minato melihat ke sekeliling dan menemukan sosok yang ia kenal, "…Fushimi-san!?"

"Fushimi-chan? Ah!" teriak Ryoji lagi sebelum menghampiri gadis itu.

Minato mengecek Chihiro dengan seksama. Denyut nadinya, sedikit tidak normal dan dapat dipastikan bahwa… "Obat tidur." ucap Minato singkat.

"Kecoa ini? Pantas saja…" kata Ryoji sambil mengamati tiga laki – laki yang sedang terbaring pingsan, sudah pasti akibat 'pembantaian' yang telah kakak-adik itu lakukan. Otak jahil Ryoji mulai bekerja, "Hukuman mereka kurang berat…". Seketika itu juga, "Aha!"

Ryoji merogoh saku celana mereka masing – masing, dan menemukan apa yang ia cari — dompet. Dari isi tiga dompet yang ia temukan anehnya semua plastik, dan plastik, dan plastik lagi… dengan dua lembar uang kertas ¥5,000. Miskin sekali, pikirnya.

"Kalau kau berniat mengambilnya, batu nisanku akan kuubah menjadi namamu, Ryoji." ancam Minato yang sudah menyadari perbuatan adiknya itu.

Ryoji cemberut, "Tadinya, tapi ngga jadi. Siapa juga yang butuh sampah – sampah ini." ungkapnya sambil menunjukan plastik – plastik yang ia temukan.

Minato cuma menghela napas sebelum menjawab, "…Itu kartu kredit, idiot… terlebih lagi, Gold…"

"Wah!?" mata si adik mulai berbinar – binar.

Minato menatap tajam Ryoji sebelum dia berbuat lebih jauh, "Kembalikan ke tempat semula."

"Yah…" sahutnya kecewa.

"Bila hilang tentu Fushimi-san dan yang lain akan dituduh mencurinya." lanjut Minato, "…Selain itu… tentunya kau ingin hidup lebih lama 'kan?"

"Nii-san… sebaiknya kau perbaiki selera humormu…" kata Ryoji pasrah sambil menyimpan benda – benda temuannya ke tempat awal.

"Bantu aku." perintah Minato setelah adiknya selesai, "Sepertinya ruang sebelah kosong dan belum dikunci."

Senyum Ryoji kembali melebar, "Kuulangi, ternyata kau punya selera humor juga, Nii-san!". Ia bangkit dan mulai membantu menggotong laki – laki yang pingsan tersebut satu persatu ke ruang sebelah. Entah apa yang kedua orang itu lakukan pada mereka supaya jera, itu menjadi misteri berikutnya.

"Lalu, bagaimana dengan Fushimi-chan dan lainnya?" tanya Ryoji.

"Sebentar lagi mereka akan terbangun, kita pergi. Hampir jam 9."

"Yes, sir~" Ryoji keluar dari ruangan dan menuju Shinshoudo Antiques, diikuti Minato dari belakang sebelum terdengar…

……Sssss……

"…Anak… bodoh… kalian…TAHU APA!?"

……Sssss……

"—naka!?… KAU! … Brengsek!"

……Sssss……

"Sen—! Awas!"

……Sssss……

"……Persona…… IZANAGI!"

……Sssss……

…suara apa itu?

"Ada apa, Nii-san?" kata Ryoji, membuat orang yang dipanggil menoleh.

"Perasaanku saja…", "Bukan apa – apa." jawab Minato. Masih ragu, ia melirik ke ruangan mencari asal sumber suara namun hasilnya, nihil.

……Sssss……

Karena yang terdengar hanyalah suara dari TV karaoke player.

.:0:.


Author's note: Pengumuman readers! Ada perubahan pada tanggal lahir Minato pada chapter 2, aku sesuaikan dengan official birth berdasarkan post message dari nickname Dr Casey di Gamefaqs dari 28 November 1991 menjadi 12 April 1992, sesuai saran dari banyak orang dan member yang sudah mereview fanfic sejauh ini. Aku belum cek ke Atlus webpage tetapi untuk sementara aku ubah saja. Hanya karena kalimat kecil itu benar – benar membuatku mengerjakan ulang chapter 3 ini dari awal lagi, karena tanggal Minato terbangun sengaja aku pilih hari yang dekat dengan ulang tahunnya, semacam untuk dramatic scene di chapter 4, tetapi akhirnya ya tidak jadi. Sedikit kecewa juga karena ngga sama dengan hari ultahku, tapi, oh well.

Selain itu ada penambahan sedikit Disclaimer dan setting waktu serta tempat sedikit di chapter 2, keseluruhan di chapter 3, konsekuensi atas perubahan tanggal lahir Minato.

Chapter ini mungkin jadi (agak) sedikit song fic, terutama di bagian Minato dan Ryoji di VIP Room 4 Mandragora Karaoke. Sengaja dibuat seperti itu karena aku tidak merasa adegan tersebut sebagai sesuatu yang harus dijelaskan, bertempat di ruang karaoke, yang, mau tidak mau harus berpacu dengan ritme lagunya, 'Backside Of The TV' Persona 4 OST. Jadi bayangkan saja seperti apa adegan pertarungannya, ya.

Untuk lagu 'Muscles Blues' OST Persona 4 tentunya kalian tahu itu hanya musik tanpa lirik, tetapi anggap saja ada oke! :D

Persona Minato yang baru, Orpheus Telos (Orpheus Kai -- Japan version) adalah SPOILERS! Persona Arcana Fool dengan status Str terhadap semua elemen dan bisa diperoleh bila memaksimalkan semua Social Link Persona 3 dalam sekali Playthrough. Ada yang sudah punya?

Lagu 'Burn My Dread' tentunya Opening OST Persona 3, tetapi yang full versionnya. Lirik yang Ryoji nyanyikan itu ada di bagian sebelum akhir lagu. Dan ada satu kalimat liriknya yang tidak terdengar jelas serta menurutku kurang sesuai dengan lagunya, bila ada yang tahu aslinya tolong beritahu: "This time I'll grapple down,"

Di chapter 3 ini akhirnya terungkap juga kalau ini adalah CROSSOVER P3 & P4, apa kalian sudah sadar sebelum chapter ini keluar? Kalau iya, hebat! Tetapi setelah mereka bertemu terbayangkah akan seperti apa akhir tujuan yang harus mereka cari dan capai? (Halah…) Sengaja aku buat sesuai dengan judulnya, UNKNOWN. Yang sepertinya sudah tahu, ya, pura – pura ngga tahu aja. XD

Keluaran chapter 4: pemberitahuan, akan lebih lama dibandingkan sebelumnya karena Jumat nanti ada special kuis yang menanti, jadi anak baik dulu ah…

Bila ada ketikan yang salah beritahu juga ya, soalnya aku belum sempat edit cerita ini.

Pemberitahuan tambahan: Yang mengarang lagu 'Muscles Blues' adalah Atsushi Kitajoh, bukan Shoji Meguro. Maaf aku lupa, karena Shoji Meguro biasanya penyumbang terbesar untuk lagu - lagu Persona, maka aku jadi berpikiran ke arah sana (-_-;). Selain Shoji Meguro dan Atsushi Kitajoh tentunya juga ada Kawamura Yumi, Hirata Shihoko dan Lotus Juice (bila digabungkan hingga Persona 4).

Thanks bagi yang sudah mau baca fic UNKNOWN dan Special Thanks untuk 'T-800' MacTavish, WindPurpleDragon, lalapyon, AiNeko-chan, neraraaa-, Tetsuwa Shuujin dan clownKuma yang sudah mau meluangkan waktunya untuk memberi saran dan mereview.

Akhir kata tentunya: Review please…

Regards, Iwanishi Nana.