Disclaimer: All characters belong to Hajime Isayama. But this story purely mine. I don't take any material profit from this work. It's just because I love it.
Warning: drabble, au, kinda rush, miss typo(s), and other stuffs.
Note: day 3—farlan/isabel
i understand you;
Farlan mengerti begitu banyak—bahwa menaruh hati pada Isabel adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah.
Sesulit perasaannya yang teruar dulu, sesulit verbalisasinya yang tak kunjung mengungkap-ungkap cinta di tahun-tahun silam, sesulit tingkahnya berlaku romantis di depan muka Isabel yang terlampau childish.
Tanpa diminta pun, Isabel akan banyak menguarkan oposisi yang kemudian membuat Farlan bertanya-tanya, hal apa yang membuatnya jatuh cinta pada gadis itu. Meski ketika Isabel tersenyum, sekilas, atau ketika ia tidur dengan dengkur halusnya yang tipikal, Farlan tak perlu lagi tanya-tanya itu. Sebab di hadapannya, terpatrilah alasan atas pertanyaannya.
Sebab diri gadis itulah alasannya.
Ia mengerti bahwa mungkin, cinta terbentuk dari oposisi yang kemudian saling melengkapi. Mereka tak memerlukan hubungan serba searah, terlalu tenang, tak sarat dengan gelombang. Farlan tak perlu menjadi cerewet, atau, Isabel tak perlu berubah menjadi gadis dengan tenang-tenang khas dirinya dan redaman emosi. Mereka hanya mereka. Dua orang yang berbeda, kemudian saling jatuh cinta, dan semuanya baik-baik saja.
Farlan hanya perlu mengerti, ketika Isabel menangis hanya karena sebuah drama murahan di televisi. Atau, ketika Isabel begitu lama memilih menu makanan di kala ia sudah begitu lapar. Atau mungkin, ketika ia sedang banyak kerjaan namun Isabel tetiba datang ke ruangannya dan memeluknya dan tak mau melepaskannya. Atau hal-hal yang lebih berat, ketika Isabel mengingat mendiang orang tuanya, dan ia mengurung diri selama berhari-hari, tak ingin keluar kamar meski satu detik pun. Farlan hanya butuh mengerti.
Sebagaimana Isabel yang selalu mengerti dirinya yang tak menyukai pergi ke tempat ramai meski Isabel sangat menyukainya, atau ketika Isabel rela meninggalkan deadline pekerjaan dan menginap di rumahnya saat Farlan mengalami demam tinggi. Atau, seperti ketika Isabel resign dari pekerjaannya, dan lebih memilih untuk pindah flat dan mengambil kerja paruh waktu yang lebih fleksibel saat Farlan berkata, bahwa mereka tak punya masa depan jika masih menjalani relasi jarak jauh.
Sebab meski diiringi berbagai perbedaan, Farlan mengerti, hubungan mereka terlalu berharga untuk sekadar beradu egoisme. Mereka bukan anak kecil, dan bukan pasangan yang hanya ingin mengambil benefit kesenangan dari relasi yang mereka bangun. Bukan.
Tapi lebih dari itu.
Sebab akhir yang mereka inginkan, adalah sebuah masa depan.
"Maafkan aku karena selalu menjadi gadis yang menyebalkan." Isabel menatap Farlan, memainkan jemarinya yang terasa begitu hangat.
Farlan membalas dengan satu genggaman yang lebih hangat, menguar satu senyum lembut, dan balas berkata.
"Tidak apa-apa." Ia mengerti, selalu mengerti. "Aku mengerti."
.
.
[]
