DEAR MY FAMILY
Author : hikachaan21
Rating : T
Genre : Angst, Family
Cast :
- Lee Chaerin (as Kim Chaerin)
- Min Yoongi (as Kim Yoongi)
- Kim Himchan (GS)
- Kim Seokjin (GS)
- Kim Namjoon, etc.
Suga CL story! Typo(s)!
Chapter 3 updated!
.
.
Sinar matahari pagi masuk ke celah celah jendela kamar Chaerin. Semalam ia tertidur pulas setelah merapikan kamar barunya. Bergegas ia membersihkan diri dan bersiap untuk sekolah.
Chaerin turun ke ruang makan, terlihat Namjoon dan Seokjin disitu. Chaerin tidak mempedulikan keberadaan mereka berdua, ia langsung berjalan menuju rak sepatu dan duduk didepan pintu.
"Kau tidak makan Chaerinah?" tanya Namjoon.
"Tidak, aku tidak lapar" balas Chaerin sambil memakai sepatu.
"Kusiapkan bekal ne, Chaerin?" tawar Seokjin.
"Tidak, tidak perlu. Aku berangkat sekolah dulu, annyeong"
Setelah memakai sepatu, Chaerin langsung keluar dan mengambil sepedanya. Seperti biasanya ia berangkat ke sekolah memakai sepeda.
Namjoon terheran heran kepada Chaerin. Sebegitu tidak sukanya kah ia kepada Seokjin?. Seokjin dan Namjoon saling berpandangan. Seokjin menghela napas berat sambil mengisyaratkan 'aku tidak apa-apa'. Seokjin berjalan menuju kamar Yoongi. Seperti biasanya ia mengurusi Yoongi untuk bersiap pergi ke sekolah. Tak lama kemudian Yoongi keluar dari kamarnya dengan baju rapi. Ia berlari menuju Namjoon dan langsung ditangkap oleh Namjoon.
"Hmm anak appa sudah rapi eum" ucap Namjoon.
"Appa, Chaelin noona sudah berangkat?" tanya Yoongi.
"Ne, ia sudah berangkat"
"Yaahh.. Yoongi kira kita akan berangkat bersama"
"Chaerin noona kan sudah pakai sepeda, Yoongiah"
Merekapun makan pagi seperti biasanya. Namjoon sesekali membersihkan pinggir mulut Yoongi yang belepotan. Seokjin sedang menyiapkan bekal makanan untuk Yoongi. Tiba tiba ia mendapatkan suatu ide. Iapun menaruh 2 kotak bekal berisi makananan diatas meja makan.
"Yoongiah, sekolahmu dekat kan dengan sekolah Chaerin noona? Yoongi mau mengantarkan bekal ini pada Chaerin noona? kasihan Chaerin noona belum sarapan" tanya Seokjin lembut.
"Mau mau! Yoongi mau mengantarkan bekal untuk Chaelin noona!" balas Yoongi semangat
"Anak eomma memang pandai! begitu sana berangkat bersama Appa"
Seokjin membantu Yoongi memakai sepatunya. Ia mengantarkan Namjoon dan Yoongi sampai ke depan rumah. Namjoon mencium bibir Seokjin sekilas sebelum berangkat.
"Aku berangkat dulu ne, Annyeong!" ucap Namjoon.
"Eomma annyeong!" seru Yoongi.
"Annyeong! hati hati di jalan ne!" balas Seokjin.
.
.
Sesampainya di depan Taman Kanak Kanak, Yoongi turun dari mobil bersama Namjoon. Namjoon berjongkok mensetarakan tinggi mereka berdua.
"Yoongi ingat tadi eomma bilang apa?" tanya Namjoon.
"Mengantarkan bekal untuk Chaerin noona" balas Yoongi.
"Pintar! Yoongi tidak ingin appa mengantarkan?"
"Tidak, Yoongi ke sekolah Chaerin noona sendiri tidak apa apa"
"Yoongi yakin? kalau begitu appa tinggal ne. Jangan nakal"
"Baik, appa"
Namjoon mencium kepala Yoongi lalu kembali masuk ke dalam dan melajukan mobilnya. Sesaat setelah Namjoon pergi, Yoongi berjalan menuju tempat Chaerin bersekolah. Sekolah Yoongi memang dekat dari sekolah Chaerin, jadi Yoongi tidak masalah jika harus berjalan.
Chaerin memarkirkan sepedanya di tempat parkir. Ia melihat Dara dan Minji sedang berjalan di dekat pintu gerbang. Chaerin langsung menghampiri mereka berdua dan menyapa mereka.
"Dara, Minji, Annyeong!" sapa Chaerin.
"Hey, Chaerin!" balas Minji.
"Chaerin, kenapa tadi aku ke rumahmu yang keluar Taehyung samchon?" tanya Dara.
"Aku tidak tinggal disitu lagi" balas Chaerin.
Dara menaikkan sebelah alisnya. Jadi sekarang ia tidak akan berangkat bersama Chaerin lagi? Ia akan berangkat sendiri? Dan rumahnya jauh dengan tempat tinggal Chaerin sekarang? Oh ayolah, ia sudah terbiasa bersama Chaerin lebih dari 7 tahun.
"Lalu kau tinggal dimana?!" tanya Minji.
"Huuhhhh kalian harus tau, sekarang aku tinggal bersama appaku"
"Bukankah itu bagus?" sahut Dara
"Enggg tidak sama sekali! disana ada istri baru appaku, aku tidak menyukai wanita itu. mereka sudah mempunyai anak, dan kau tau siapa mereka?"
"Siapa?"
"Yoongi, bocah yang kita tolong saat diganggu Jiyong dan Youngbae dulu!"
"APA?! KAU SERIUS?!"
"Sangat serius. Jujur saja aku menjadi tidak suka pada Yoongi, huh aku tidak akan menganggap ia sebagai adikku"
Dara dan Minji menatap Chaerin tidak percaya. Meskipun Minji tidak pernah melihat Yoongi, ia yakin pasti sekarang Chaerin belum bisa menerima Yoongi. Sedangkan Dara, ia sudah merasa sejak awal karena wajah Chaerin dengan wajah Yoongi memang mirip. Tetapi ia tidak menyangka jika mereka benar benar bersaudara. Yoongi sampai di depan Sekolah Dasar tempat Chaerin. Iapun melihat Chaerin, Dara, dan Minji sedang bercakap cakap. Segera ia berlari menghampiri mereka bertiga.
"Chaelin noona!" seru Yoongi.
"Yak! mau apa kau kemari" balas Chaerin ketus.
"Aku disuruh eomma mengantarkan bekal ini pada Chaelin noona. Noona kan belum makan tadi"
"Aku tidak mau. Lebih baik kau kembali ke sekolahmu sendiri"
"Tapi noona-"
"Aku tidak mau"
Chaelin memegang kedua pundak Yoongi dan membalikan badannya. Mata Yoongi sudah berkaca kaca karena bekal yang akan ia berikan ditolak oleh Chaerin. Namun ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar.
"Kembalilah ke sekolahmu, bilang pada eommamu kalau aku tidak ingin menerima bekalnya" ucap Chaerin datar.
Chaerin meninggalkan Yoongi didepan gerbang sendiri. Dara dan Minji hanya mengikuti Chaerin. Sebetulnya mereka berdua kasihan pada Yoongi, namun mereka juga ingin menjaga perasaan Chaerin yang masih tidak suka pada keluarga barunya. Yoongi merasa kecewa. Ia kembali berjalan menuju sekolahnya kembali.
"Apa kau tidak sedikit keterlaluan tadi pada Yoongi?" ucap Dara.
"Kenapa kau tidak menerima saja bekalnya?" sahut Minji.
"Tidak, aku tidak mau. Bersikap sebaik apapun dia bagiku itu tidak ada artinya.." balas Chaerin
Dara dan Minji hanya terdiam. Chaerin benar benar terlanjur membenci Seokjin. Baginya Seokjin adalah penghancur hubungan Namjoon dan Himchan, penghancur keluarga kecilnya. Ia tidak mempedulikan bagaimana sikap Seokjin padanya.
Sesampainya di kelas, Chaerin langsung duduk di tempatnya. Tiba tiba Jiyong dan Youngbae mendekati meja Chaerin. Chaerin menatap Jiyong yang langsung duduk diatas mejanya.
"Wohooo~ kulihat tadi kau berbicara pada bocah kurangajar itu di depan gerbang" ucap Jiyong.
"Mau apa kau" balas Chaerin ketus.
"Kudengar kau sekarang tinggal dengan appamu dan... Istri barunya?"
"Jaga bicaramu Jiyong!" balas Dara.
"Hey aku tidak punya urusan denganmu!" bentak Jiyong.
Chaerin terkejut darimana Jiyong tahu jika ia tinggal bersama Namjoon. Apa dia menguping pembicaraannya dengan Dara dan Minji. Ia tak ingin menjadi target bullying baru bagi Jiyong dan Youngbae.
"Bocah itu adikmu?" ucap Youngbae.
"Bukan. Dia bukan adikku" balas Chaerin.
"Lalu siapa? bukankah ia anak appamu juga? ia juga memanggilmu dengan sebutan noona. 'Chaelin noonaaa' hahahah" sela Jiyong.
Chaerin langsung menarik kerah Jiyong dan mengangkatnya. Ia menatap tajam mata Jiyong. Bukannya takut, Jiyong tersenyum remeh pada Chaerin dan memasang wajah menantang. Amarah Chaerin benar benar sudah dipuncak. Ia benar benar tidak suka dengan orang yang ikut campur dengan urusan keluarganya.
"ITU SEMUA BUKAN URUSANMU KAU MENGERTI!" bentak Chaerin.
"Wohoo Nona Chaerin marah ternyata" balas Jiyong meremehkan.
"Jiyong berhentilah mengganggu Chaerin!" sahut Minji.
Chaerin melepaskan peganganya pada kerah Jiyong. Dara berusaha menenangkan Chaerin sedangkan Minji memisahkan pertengkaran antara Jiyong dan Chaerin. Chaerin tak habis pikir kenapa ia yang harus dicaci seperti ini. Chaerin berusaha meredam emosinya sambil terus memikirkan Himchan.
'Eomma, kenapa semua jadi seperti ini...'
.
Yoongi berdiri di depan pintu rumah sambil menunggu Seokjin membukakkan pintu. Tak lama kemudian pintu rumah terbuka dan menampakkan sosok Seokjin. Seokjin memandang Yoongi yang lesu. Raut wajahnya sedih dan sedari tadi hanya menunduk ke bawah. Ia menunduk dan mengelus rambut Yoongi dengan lembut.
"Appa dimana?" tanya Seokjin
"Appa sudah kembali ke kantor. Appa bilang kalau appa ada pekerjaan..." balas Yoongi.
"Yoongi kenapa sedih?"
"Chaelin noona.."
"Chaerin noona kenapa?"
"Ia tidak mau menerima bekalnya tadi.. dan ia menyuruh Yoongi pergi.."
Seokjin terkejut dengan cerita Yoongi. Ia pikir Chaerin akan menerima bekal pemberiannya. Seokjin menghela napas. Ia menatap Yoongi kasihan.
"Yoongi sehabis ini ganti baju ne, cuci kaki lalu tidur siang" ucap Seokjin sambil mengajak Yoongi masuk.
"Ne, eomma.." balas Yoongi.
Pukul 8 malam, Chaerin belum kembali ke rumah. Seokjin cemas memikirkan Chaerin yang tak kunjung pulang. Sedari tadi ia hanya duduk di ruang tamu untuk menunggu Chaerin pulang. Ia sudah menghubungi Namjoon tetapi Namjoon tidak tahu apa apa. Namjoon terus menyuruh Seokjin agar tenang, jika ia gelisah Namjoon juga akan gelisah memikirkan Chaerin. Tak lama terdengar suara dari garasi seperti orang menaruh sepeda. Seokjin langsung mengangkat badannya dan menatap pintu. Pintu rumah pun terbuka dan muncul sosok Chaerin. Setelah melepas sepatunya ia masuk ke dalam. Seokjin langsung menghampiri Chaerin.
"Kenapa pulangmu sangat larut? Kau sadar ini sudah jam berapa?" ucap Seokjin.
"Aku ada kegiatan klub" balas Chaerin.
"Kau tidak sedang berbohong padaku kan? Kau tahu aku sedari tadi duduk disana hanya untuk menunggumu pulang. Aku mencemaskanmu, Chaerin"
"Aku tidak peduli"
"Hey Chaerin dengarkan aku!"
Chaerin meninggalkan Seokjin sendiri di ruang tamu. Ia naik ke atas untuk menuju kamarnya. Seokjin mengikuti Chaerin dan menarik tangannya agar berhenti.
"Apa apaan—"
"Jawab jujur padaku Chaerin, kenapa kau pulang semalam ini"
"Okay! Setelah kegiatan klub aku hanya duduk di taman! Lalu aku bersepeda keliling kemana saja! Oh ayolah, Aku mencari sebuah ketenangan! Untuk apa kau bertanya terus seperti ini!"
"Aku khawatir padamu Chaerin!"
"Kau khawatir padaku?! Bahkan kau bukan siapa siapa! Kau bukan eommaku! Lepaskan tanganku, aku ingin tidur!"
Chaerin melepas paksa genggaman Seokjin dan masuk ke dalam kamarnya. Chaerin membanting pintu kamarnya dan membuat Seokjin berjengit terkejut. Seokjin hanya bisa terdiam setelah mendengar kata kata Chaerin. Ya, ia bukanlah eomma Chaerin, lantas apa salah jika ia mengkhawatirkan Chaerin? Seokjin menutup matanya dengan sebelah tangannya lalu ia menangis. Menangis dalam diam. Pintu rumah terbuka menampilkan Namjoon yang sedang memasuki rumah. Ia terheran kenapa Seokjin duduk di tangga sambil menutupi matanya. Iapun menghampiri Seokjin dan ikut duduk disebelahnya.
"Apa Chaerin sudah pulang?" tanya Namjoon.
"Hiks.. Ne, ia sudah pulang.." balas Seokjin sambil terisak.
"Astaga, kau kenapa?"
"Chaerin.. Ia membentakku, Ia bilang aku bukanlah siapa siapa, Aku bukan eommanya.."
"Chaerin berkata seperti itu?"
"Aku hanya cemas Chaerin pulang malam, dan ia berkata seperti itu.. Apa aku salah mengkhawatirkan Chaerin..?"
"Aku harus bicara pada Chaerin"
"Tidak, tidak usah. Biarkan saja, ia hanya masih belum bisa menerimaku. Aku tidak apa apa..."
Namjoon menatap Seokjin sedih. Ia membiarkan Seokjin menangis di pundaknya. Ia yakin Seokjin sakit hati jika dikatai Chaerin seperti itu. Namjoon benar benar bingung sekarang. Seokjin benar benar mencoba sabar untuk menghadapi Chaerin. Di sisi lain Chaerin sangat membenci Seokjin dan masih belum bisa menerimanya. Ia tidak bisa memihak karena memang mereka berdua tidak salah. Ia benar benar dilema sekarang.
.
.
Sudah satu bulan Chaerin tinggal di rumah Namjoon. Semua masih sama seperti dulu. Chaerin tetap tidak suka dengan Seokjin dan Yoongi. Ia sangat jarang berkomunikasi dengan mereka berdua. Hubungan Chaerin dan Namjoon sedikit membaik meskipun Chaerin masih tetap mempunyai rasa benci pada Namjoon. Namjoon senang mengajak Chaerin jalan jalan berdua, namun Chaerin lebih sering menolak ajakan Namjoon. Chaerin benar benar suka menyendiri sekarang. Jika hari libur ia bisa seharian berada di dalam kamarnya. Seokjin masih berusaha mendekati Chaerin namun hasilnya nihil. Chaerin terlalu keras kepala. Bahkan Chaerin sering tak menganggap Seokjin ada.
Namjoon masuk ke dalam kamar Chaerin. Terlihat Chaerin memasukkan buku buku pelajaran ke dalam tasnya. Chaerin yang baru saja selesai mengerjakan PR melihat ke arah Namjoon yang sedang berjalan kearahnya.
"Ini sudah malam, kau belum tidur?" tanya Namjoon lembut.
"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas. Sekarang aku ingin tidur" balas Chaerin.
"Mau Appa temani tidur?"
"Kenapa Appa tiba tiba ingin tidur bersamaku?"
"Apa tidak boleh appa tidur bersama putrinya?"
Namjoon mengelus lembut rambut Chaerin. Chaerin menampilkan senyum tipis. Sudah sangat lama sekali ia tidak tidur bersama dengan Namjoon. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kasur. Namjoon naik ke atas kasur dan tidur di samping Chaerin. Chaerin mendekat pada Namjoon dan menyembunyikan wajahnya pada dada Namjoon. Namjoon tersenyum karena tingkah putri kecilnya ini. Ia memeluk Chaerin dan mengelus lembut kepala Chaerin.
"Kau kenapa Chaerinah?" tanya Seokjin.
"Aku merindukan eomma.." balas Chaerin pelan
"Kau merindukan eommamu?"
Chaerin meneteskan air matanya. Namjoon mendengar isakan Chaerin. Menghadapi keadaan seperti ini benar benar membuat Chaerin mengingat masa lalu. Masa dimana keluarganya masih utuh tidak terpecah.
"Aku-Aku merindukan eomma. Sangat sangat merindukan eomma. Aku ingin kita berkumpul bertiga seperti dulu lagi, aku ingin eomma dan appa kembali seperti semula.. tapi itu semua tidak mungkin terjadi.." ucap Chaerin.
"Chaerinah.. maafkan appa.." balas Namjoon.
"Berada disini sangatlah berbeda.. kepergian eomma benar benar membuatku merasa kehilangan.. rasanya aku ingin menyusul eomma kesana.."
"Chaerin jangan seperti ini.."
"Jangan pernah memaksaku untuk menerima wanita bernama Seokjin itu.."
"Aku tidak akan memaksamu, Chaerin. Appa mengerti kau sangat menyayangi eommamu. Sekarang kau tidurlah, appa akan menemanimu disini"
.
Chaerin berjalan keluar dari sekolahan. Ia terpaksa pulang dengan berjalan kaki karena rantai sepedanya rusak. Ia yakin ada orang yang sengaja merusak rantai sepedanya. Chaerin benar benar merasa sial hari ini. Sebetulnya Dara menawari agar pulang bersamanya, tetapi Chaerin menolak ajakan Dara karena ia tak ingin meninggalkan sepedanya di sekolah. Chaerin menggerutu sepanjang perjalanan karena ia lelah harus berjalan kaki. Perhatian Chaerin tiba tiba tertuju pada sosok anak laki laki yang tak lain adalah Jiyong. Jiyong dan Youngbae sedang memojokkan anak kecil di jalanan kecil. Chaerin melihat dengan jelas jika bocah itu adalah Yoongi, namun ia tak mempedulikan hal tersebut. Chaerin pun tetap berjalan seolah olah tak melihat apa apa. Yoongi melihat Chaerin yang berjalan melintas di samping mereka.
"Hei, urusanmu denganku belum selesai bocah!" bentak Jiyong.
"Chaelin noona.." ucap Yoongi pelan.
"Chaelin noona? Oooh rupanya ada sang noona disini" teriak Jiyong.
Chaerin hanya melirik setelah Jiyong mengatakan kata kata itu. Ia benar benar tak ingin ikut campur. Sebetulnya ia merasa kasihan dengan Yoongi yang dipojokkan seperti itu, namun ego Chaerin memenangkan semuanya. Ia tetap berusaha tak mempedulikan Yoongi.
"Chaelin noona tolong.." ucap Yoongi sambil merengek ketakutan.
"Percuma kau meminta tolong karena noonamu sudah pasti tidak akan menolongmu!" balas Youngbae
"Asal kau tahu bocah! Noonamu itu membencimu! Tak mungkin ia menolongmu saat ini!" bentak Jiyong.
"HUAAAA CHAELIN NOONA TOLONG!"
Tangisan Yoongi pecah. Ia menangis sekeras kerasnya. Chaerin menghentikan jalannya. Ia benar benar bimbang saat ini. Chaerin membenci Yoongi, namun ia merasa sangat jahat sekali jika mengabaikan Yoongi yang sedang dalam kesulitan. 'Tidak.. aku tidak boleh seperti ini..'
"Diam bodoh!" teriak Jiyong
BUAAAKKK!
Seketika Chaerin langsung meninju wajah Jiyong hingga jatuh tersungkur. Ia berdiri didepan Yoongi untuk melindunginya. Jiyong mengusap bibirnya yang terluka karena ditinju oleh Chaerin. Jiyong naik darah. Ia langsung berdiri dan menarik kerah baju Chaerin.
"Berani beraninya kau!"
Jiyong membalas perbuatan Chaerin. Ia memukul wajah Chaerin dengan sangat keras hingga terluka. Chaerin memegangi pipinya yang terasa sangat perih. Terjadi perkelahian antara Chaerin dan Jiyong. Jiyong tak pandang bulu, tak peduli perempuan atau laki laki. Youngbae berusaha menarik Chaerin agar tidak memukuli Jiyong namun ia malah terkena sikutan dari Chaerin hingga pipinya lebam. Yoongi ketakutan melihat perkelahian Chaerin dengan Jiyong. Ia tak ingin melihat Chaerin terluka akibat pukulan Jiyong. Jiyong mendorong kasar tubuh Chaerin ke arah jalanan raya, tanpa sadar ada mobil yang sedang melaju ke arah mereka.
BRAAKKKK!
"CHAELIN NOONAAA!" teriak Yoongi.
Chaerin tertabrak mobil dan langsung tak sadarkan diri di aspal jalan. Darah mengalir dari kepalanya. Chaerin terbentur mobil sangat keras hingga kaca depan mobil tersebut retak. Jiyong shock dengan kejadian yang ia lihat barusan. Ia langsung kabur bersama Youngbae. Yoongi segera berlari ke arah Chaerin. Ia menangis ketakutan melihat tubuh Chaerin penuh darah. Sang pemilik mobil pun keluar. Ia shock karena menabrak seseorang.
"Biar kubawa dia kerumah sakit. Nak, ayo ikut denganku" ucap pria itu.
.
Sesampainya di rumah sakit Chaerin langsung dilarikan ke Unit Gawat Darurat. Operasipun berlangsung. Pria yang menabrak Chaerin berusaha menenangkan Yoongi yang terus menangis. Ia mengajak Yoongi untuk duduk.
"Nak, apa kau hafal nomor orangtuamu?" tanya pria itu.
"Ti-tidak.. tapi aku menulis nomor appa di bukuku" balas Yoongi sesenggukan.
Pria itu langsung membuka tas Yoongi dan mencari buku yang dimaksud. Yoongi menunjuk sebuah notes kecil. Pria itu membuka notes itu dan mencari nomor telepon. Segera ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Namjoon.
"Annyeonghaseyo"
"Annyeonghaseyo, siapa ini?"
"Eungg maaf, tetapi putri anda sekarang sedang di operasi. Segera datanglah ke Rumah Sakit, putra anda sedari tadi menangis"
"APA?! KENAPA IA MASUK RUMAH SAKIT?!"
"Nanti saya jelaskan, saya sedang menunggu putri anda di depan ruang operasi"
Pria itu kemudian menutup teleponnya. Ia terdiam beberapa saat. 'Sepertinya aku mengenal suara laki laki itu.. apa jangan jangan..
Tak lama kemudian Namjoon dan Seokjin sampai di rumah sakit. Ia langsung berlari menuju Unit Gawat Darurat. Disana ia dapat melihat sesosok pria dan Yoongi sedang duduk di depan ruang operasi. Pintu operasi belum juga terbuka membuat Namjoon bertambah khawatir. Seokjin datang menghampiri Yoongi dan langsung memeluknya. Yoongi sangat ketakutan karena ia melihat langsung bagaimana Chaerin tertabrak. Namjoon menghampiri pria itu untuk bertanya, namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah pria itu. Namjoon langsung menarik kerah pria itu dan mendorongnya ke tembok.
"Apa yang kau lakukan pada putriku?! Jawab! Bang Yongguk!" bentak Namjoon.
Pria bernama Bang Yongguk itu terkejut tiba tiba kerahnya ditarik oleh Namjoon. Ia tak menyangka jika ayah dari gadis yang ia tabrak tadi adalah Namjoon. Seokjin memeluk erat Yoongi agar tidak melihat perkelahian Namjoon dengan Yongguk.
"Ooohh jadi itu Chaerin, anakmu dengan Himchan!" ucap Yongguk
"Kurangajar! Apa yang kau lakukan pada Chaerin!" gertak Namjoon.
"Bisakah kau tenang sedikit?! Dan siapa wanita itu... Apa dia istri barumu?! Astaga Namjoon, jadi kau benar benar menceraikan Himchan?!"
"Itu bukan urusanmu! Kau yang telah menghancurkan hubunganku dengan Himchan!"
"Aku? Aku menghancurkan hubunganmu dengan Himchan?! Hahah aku menghancurkan hubunganmu atau kau yang terlalu bodoh hah?!"
Namjoon tercengang dengan kata kata Yongguk. Perlahan tangannya melepas kerah Yongguk. Yongguk menepis kasar tangan Namjoon agar menjauhi dirinya. Ia berusaha menahan diri untuk tidak tersulut kata kata Namjoon.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Aku mengurus administrasi rumah sakit dulu" ucap Yongguk.
Yongguk kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga di depan ruang operasi. Namjoon menghela napas berat sambil memijat kepalanya. Yoongi perlahan lahan tenang dan masih memeluk Seokjin. Ia tertidur karena terlalu lelah menangis. Kemudian Seokjin menggendongnya dan duduk di kursi. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi. Namjoon langsung menghampiri dokter itu.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya?" ucap Namjoon.
"Putri anda masih belum sadar. Saya tidak bisa memprediksikan kapan putri anda akan sadar, kemungkinan dalam beberapa hari ini. Ada beberapa luka memar di sekitar wajah putri anda, sepertinya ia sehabis dipukuli" balas dokter.
"Apa..?"
"Putri anda juga mengalami patah tulang kaki di daerah tulang kering, ia tidak dapat berjalan untuk sementara waktu. Masih dapat disembuhkan tetapi prosesnya lama, butuh berminggu minggu agar putri anda dapat berjalan seperti semula"
"Astaga.. kenapa Chaerin harus mengalami semua ini..."
"Anda sudah boleh menengoknya. Permisi saya tinggal dulu"
Dokterpun meninggalkan Namjoon sendiri. Seokjin dan Yoongi langsung memasuki ruangan Chaerin. Seokjin benar benar khawatir dengan keadaan Chaerin. Terlihat Chaerin masih menutup matanya rapat tak sadarkan diri. Seokjin miris melihat banyak perban terdapat pada tubuh Chaerin. Namjoon terduduk di depan ruangan Chaerin. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Chaerin dengan baik.
"Berada disini sangatlah berbeda.. kepergian eomma benar benar membuatku merasa kehilangan.. rasanya aku ingin menyusul eomma kesana.."
Namjoon tiba tiba teringat kata kata yang Chaerin ucapkan semalam. Ia langsung menggeleng gelengkan kepalanya. Ia meremas rambutnya frustasi dan hampir menangis. 'Tidak.. itu tidak boleh terjadi.. Chaerin tidak boleh pergi..'
"Namjoon"
Namjoon mendongakkan kepalanya ke atas. Yongguk sedang menatap dirinya. Yongguk memutuskan untuk duduk di depan Namjoon.
"Aku tidak sengaja menabrak Chaerin.. tiba tiba ada seseorang muncul di hadapan mobilku. Aku terkejut dan langsung mengerem mendadak, tetapi ia tetap tertabrak.. maafkan aku.." ucap Yongguk membuka pembicaraan.
Namjoon menatap wajah Yongguk. Terlihat penyesalan dari wajah Yongguk. Namjoon sadar ia tak bisa menyalahkan Yongguk sepenuhnya karena ia tidak sengaja.
"Aku tidak menyangka jika kau benar benar menceraikan Himchan"
"Itu bukan urusanmu. Seharusnya kau senang karena aku bercerai dengan Himchan"
"Untuk apa aku senang diatas penderitaan sahabatku sendiri"
"Hahah Sahabat? Kau bilang sahabat? Bahkan kalian terlihat seperti pasangan kekasih ketimbang disebut sahabat"
"Apa kau tidak bisa membedakan hubungan pasangan kekasih dengan hubungan sahabat?!"
Namjoon terdiam mendengar kata kata Yongguk. Namjoon merasa dibodohi. Ia masih ingat jelas kejadian 6 tahun yang lalu.
"Jadi kau menyangka Himchan berselingkuh denganku? Oh ayolah! Aku sudah menikah dengan Junhong! Untuk apa aku selingkuh dengan Himchan?! Aku dan Himchan sudah bersahabat sejak kecil, jauh sebelum kau bertemu dengan Himchan"
"Jadi.."
"Aku tidak mempunyai hubungan apa apa dengan Himchan. Untuk apa Himchan berselingkuh? Ia benar benar mencintaimu. Ia sangat sedih dan kecewa saat mengetahui kau mengencani wanita lain. Jika aku tidak menghentikannya saat itu pasti ia sudah mati bunuh diri"
"Kau bohong.."
"Untuk apa aku berbohong bodoh! Aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri ia memegang pisau dan hampir bunuh diri"
Namjoon terkejut dengan penyataan pernyataan Yongguk. Ia benar benar merasa menyesal sekarang. Ia telah menyia nyiakan Himchan. Namun semua sudah terlambat.
"Aku baru saja sampai di Korea kemarin. Aku baru sempat datang karena pekerjaanku di Amerika sangat banyak. Aku benar benar terkejut saat mendengar Himchan meninggal"
"Ya.. Himchan telah pergi.. aku melihat senyum terakhirnya sebelum ia pergi.."
"Himchan benar benar orang yang sangat baik. Aku bahkan masih ingat bagaimana dulu ia mengajakku berkenalan saat Sekolah Dasar. Aku benar benar pendiam dulu dan ia adalah orang pertama yang menyapaku.. dengan senyum polosnya.."
Namjoon merasa sakit. Ia menyesal tak pernah bertanya dahulu ke Himchan. Ia memutuskan untuk menceraikan Himchan secara sepihak. Ia merasa menjadi pria kurangajar karena telah mempermainkan perasaan wanita.
"Aku harus pulang, Junhong mencariku. Ia sudah mengirimiku pesan sangat banyak. Jaga istrimu yang sekarang dengan baik, sayangi dia, jangan sampai ia pergi. Kau juga harus menjaga Chaerin.. Kuharap kau bahagia dengan keluargamu yang sekarang. Aku permisi, Annyeong" pamit Yongguk.
Namjoon terdiam sesaat. Ia benar benar memikirkan kata Yongguk. Ia harus menjaga keluarganya yang sekarang. Ia juga sudah berjanji pada Himchan untuk selalu menjaga Chaerin dengan baik. Ia tidak ingin mengecewakan Himchan. Namjoon beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan Chaerin. Ia berjalan mendekati kasur Chaerin dan berdiri di sampingnya. Perlahan Namjoon menggenggam tangan Chaerin.
"Chaerinah cepatlah sadar.. appa benar benar menyesal karena tidak bisa menjagamu dengan baik.. appa sedih melihatmu terluka seperti ini.. kumohon cepatlah sadar.."
TBC
HAI HAI~~ :3 hehe akhirnya bisa update chap 3 ._.v haha . maaf ya kalo chapter ini mengecewakan atau kurang ngefeels :'v hahah. Makasih ya yang udah nyempetin baca, makasih juga yang udah ngasih review di ff ini :"3 ditunggu reviewnya ya~~
