Disclaimer
Naruto milik Masashi Kishimoto
DLDR
Aku Pulang
Chapter 2
.
.
.
.
.
Malam ini aku tidak ingin pulang ke apartemen Shion atau apartemenku? Aku tidak sempat bertanya kepada wanita itu mengenai kepemilikan apartemen yang kami, kami ya huft, tempati. Apakah itu adalah apartemen sewaan atau aku membelinya atau kami membelinya. Aku sama sekali tidak ingat apapun mengenai wanita itu dan tempat tinggal kami.
Setelah apa yang kulihat didepan rumah Sakura tadi. Aku benar-benar tidak bisa mengerti apa yang membuat Sakura sengaja melakukan hal itu didepanku. Tentu saja aku tahu itu disengaja! Dia menatap mataku selagi mencium panda merah sialan itu! Tidak pernah dalam kehidupan manapun Sakura membuka mata jika berciuman. Sakura-ku adalah seorang wanita romantis yang selalu menutup matanya dengan manis saat mencium walau hanya sekedar ciuman dipipi.
Dan tadi itu dia tidak bodoh. Dia menyadari keberadaanku. Sengaja agar aku melihat mereka. Aku tidak dapat menahan kemarahanku pada Rei Gaara. Aku ingin meninjunya dengan kepalan tanganku sendiri karena telah menyentuh Sakura-ku. Panda merah sialan itu! Tapi entah mengapa rasa sakit yang aku rasakan saat melihat mereka, membuat kedua kakiku berbalik dan menjauh dari sana. Awalnya.
Tapi aku kemudian kehilangan kontrol dan berbalik. Aku berlari. Mencengkram bahu Gaara dan meninjunya tepat di wajah putih mulus bungsu keluarga Rei tersebut. Gaara tidak membalas, dia tidak mungkin membalas dihadapan Sakura. Hanya akan membuatnya terlihat sepertiku, pria kasar, ringan tangan dalam pengertian yang buruk.
Kami sudah berpisah selama lima tahun. Aku mengerti bahwa Sakura mungkin sudah berhasil move on. Apa aku akan merasa sesakit ini jika aku tidak kehilangan sebagian memori diotakku? Apa sebenarnya aku sudah terlebih dahulu melupakan Sakura sebelumnya? Terlalu banyak yang hilang. Tapi walau begitu, rasa kecewa dan kesal ini nyata. Yang aku rasakan sekarang nyata. Perasaan bahwa aku tidak ingin Sakura menyentuh oranglain. Aku tidak ingin kehilangan Sakura, Sakura-ku.
"Aku pulang…" aku mencabut kunci pintu dan langsung masuk ke kamar.
Tanpa melepaskan pakaian bahkan tidak juga dasi, aku merbahkan diriku diatas kasur. Kamar ini begitu sempit. Dan tempat tidurnya adalah tempat tidur ukuran single seperti milik Sarada, anakku. Tunggu sebentar. Ini bukan kamarku. Ini kamar siapa?
Aku mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Rasanya familiar. Tetapi aku tidak ingat. Ini apartemen siapa? Bagaimana bisa aku memiliki kunci apartemen ini? Kamar ini hanya seluas tiga meter kali tiga meter. Kemungkinan bukan kamar utama. Kamar tamu kah? Ada beberapa buku diatas meja belajar dan satu lemari kecil.
"Sasuke? Ada apa kau kesini malam-malam begini?"
Sesosok wanita dengan piyama satin berdiri didepan pintu. Rambutnya yang berwarna merah senada dengan bingkai kacamata yang dipakainya. Wajahnya cantik dengan bola mata yang juga berwarna merah. Alisnya berkerut keheranan tetapi dia tersenyum karena kehadiranku. Dia terasa hangat. Maksudku auranya hangat. Apa aku dekat dengannya? Siapa dia?
"Maaf aku…"
"Sudahlah tidak apa-apa. Aku hanya heran kau datang tanpa pemberitahuan. Biasanya kau akan menelepon sebelumnya kalau ingin menginap…"
Wanita didepanku mengibaskan rambutnya. Kalau ingin menginap…?! Apa aku sering menginap disini? Apa dia…
"Anu, maaf nona. Apa kita… ehm… kau tahu… apa kita punya hubungan khusus?"
Wanita merah ini mendekap tangannya didepan dada. Alisnya semakin berkerut dan matanya menatapku tajam.
"Hah? Apa maksudmu Sasuke?" dia bersender didinding sebelah pintu kamar, Nampak tidak ingin mendekat atau sekedar masuk kedalam kamar ini.
"Anda berkata seolah aku sering menginap disini. Jadi apa kita memiliki semacam hubungan khusus?" aku menahan malu. Ini sungguh memalukan. Untuk tidak ingat bahwa aku sering menginap ditempat seorang gadis. Apa aku berselingkuh dari Sakura dengan wanita merah ini? Apa aku sungguh lelaki yang begitu bangsatnya?
"Aku tidak mengerti Sasuke. Kau sangat aneh malam ini. Apa kau sakit?" kali ini wanita berkacamata masuk dan menarik kursi dari meja belajar. Menyeret kursi tersebut tepat didepanku dan duduk disana dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
Tentu saja. Aku lupa memberitahunya tentang kondisiku. Segera kuceritakan kepadanya bahwa aku mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatanku. Ia mengangguk-ngangguk dan mendengarkan dengan seksama. Beberapa kali dia menanyakan apakah aku mengingat ini dan itu yang kujawab dengan anggukkan dan sebagian besar dengan gelengan kepala.
"Jadi kau bahkan tidak ingat bagaimana malam ini bukannya ke rumah keluarga besar Uchiha, kau malah berakhir di apartemenku ini begitu?" dia berbicara sambil menaikkan kacamatanya dengan satu jari telunjuk.
"Ya begitulah. Maaf aku bahkan tidak ingat namamu," ujarku pelan.
"Masa? Kau sama sekali tidak ingat apapun tentangku?" dia terdengar kecewa.
"Well, sesuatu dengan huruf 'U' kurasa…" siapa namanya, Umaru, Urara, U…
"Uzumaki Karin! Aku Karin!"
Dan saat ia menyebutkan namanya. Seolah semua memori tentang pertama kali bertemu, bagaimana akhirnya kami bisa dekat, acara yang kami datangi bersama, serta proyek-proyek yang berhasil sukses ditangani.
"Ah, ya, Karin, Uzumaki, sepupu si bodoh Naruto…" aku ingat sekarang, bahwa kami adalah teman sekolah menengah atas yang menjadi rekan kerja pada proyek kampus.
"Yap! Maaf aku menolak bekerja di perusahaan keluargamu Sasuke. Aku harus mengabdi pada Uzumaki corp sejak sahabat pirangmu itu berkata ingin fokus menjadi politikus…" ujarnya.
"Yang itu aku ingat. Tapi, sejak kapan aku sering menginap disini Karin?"
"Mungkin sekitar setahun yang lalu…"
Tanpa sadar aku menghembuskan napas lega. Itu berarti saat aku bersama Shion, bukan Sakura. Aku cukup yakin aku tidak akan pernah menginap ditempat seorang gadis saat aku memiliki Sakura. Tapi mengapa aku bisa sampai berpisah dengannya? Jika aku merasakan perasaan cinta yang sebesar ini untuknya, kenapa aku bisa bersama Shion?
"Setahun yang lalu aku bertemu denganmu di Taka bar. Kau ingat Taka bar? Tempat tim kita sering minum setelah menyelesaikan pekerjaan dengan Professor Orochimaru?" aku mengangguk, bar itu adalah bar yang sangat eksklusif milik professor eksentrik yang menjadi pembimbing kami.
"Kau sangat mabuk. Aku yang hanya tahu alamat rumahmu yang sekarang ditempati Sakura dan Sarada akhirnya membawamu pulang kesini. Keesokkan paginya kau minta diperbolehkan untuk menginap selama beberapa hari kedepan. Saat kutanya kenapa kau hanya bilang bahwa kau bertengkar dengan Shion, Shion kan namanya, kekasihmu itu?"
Karin berdiri dan keluar kamar. Aku mengikutinya ke dapur. Wanita itu menuangkan jus jeruk dan meletakkannya diatas meja makan.
"Aku ingin memberikanmu scotch namun besok adalah hari kerja dan ini hampir dini hari jadi minum saja jus ini dan jangan protes," aku menatap jus jeruk yang berwarna kuning seperti kepala sepupu Karin dan memutar-mutar gelasnya pelan.
"Baiklah-baiklah hanya satu gelas dan aku hanya mempunyai Glenfiddich!" aku mendengus, rupanya Karin benar-benar mengenalku dengan baik, scotch whiskey yang lembut akan lebih baik daripada jus jeruk. Pembicaraan kami sepertinya akan sedikit berat dan aku butuh alkohol.
"Kita tidak memiliki hubungan romantis jika itu yang ingin kau tahu Sasuke," ujar Karin saat menyerahkan gelas tulip berisi scotch dengan es batu. Es batu? Aku mengerutkan alis.
"Tenang saja itu batu whiskey," ujar Karin seolah mengerti apa yang kupikirkan. Aku tidak suka whiskey yang dingin karena akan sangat encer dan menutupi rasanya. Kalau batu whiskey lain cerita.
"Kita hanya teman baik. Itu saja," lanjut Karin, "Lagi pula aku dan Sui sudah pada tahapan serius sekarang. Meski long distance relationship…"
Ah, Suigetsu. Pria dengan rambut putih, salah satu teman sekolah dan tim di proyek kuliahku sama seperti Karin. Rupanya mereka masih bisa bertahan. Karin yang tidak suka dengan komitmen ternyata bisa ditaklukkan oleh Sui. Aku ingat Sui bekerja di kota sebelah, sekitar dua jam dari sini jika menggunakan kereta cepat.
"Kau, salah satu teman dari sedikit teman yang aku miliki bukan Karin?" tuturku setelah menyesap Glenfiddich yang manis, aku tidak suka manis, tapi ini terasa seperti kayu ek dan ceri. Sakura pasti akan menyukai ini.
Karin mengangguk, "Jika ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja Sasuke. Aku kan mencoba membantu sebisanya agar ingatanmu kembali."
Mungkin benar yang kuperlukan adalah trigger yang tepat. Sama seperti saat Karin menyebutkan namanya dan aku langusng bisa mengingat siapa dirinya.
"Apa kau tahu apa yang menyebabkan aku dan Shion bertengkar setahun yang lalu?" tanyaku.
Karin menggeleng, "Setahun yang lalu, beberapa bulan yang lalu, kalian bertengkar sangat sering Sasuke. Aku bahkan heran kenapa kau masih saja bisa bersama Shion. Tapi ayolah, kita berbicara tentang Uchiha Sasuke disini. Apa kau yakin kau menceritakan detail alasan mengapa kau dan kekasihmu bertengkar pada seseorang?" Karin berbalik bertanya padaku.
Logis, tentu saja. Aku tidak mungkin mengumbar apa yang ada dipikiranku. Bahkan masalah yang kualami mungkin hanya sedikit orang yang tahu. Terlebih masalah pribadi.
"Kau berteman dengan Sakura. Apa kau tahu mengapa kami berpisah?" Karin walaupun tidak pernah satu sekolah ataupun menjadi teman kuliah Sakura tetapi mereka cukup akrab. Sakura sebagai istriku memang bisa cepat menyesuaikan diri dengan teman-temanku. Dia ramah dan mudah disukai semua orang.
"Kami memang berteman tapi tidak seakrab itu sampai aku mengetahui kenapa kalian berpisah. Lebih-lebih saat itu seolah aku berada dipihakmu…" ucap Karin sambil meringis.
"Dipihakku?"
"Kau tahu Naruto. Dia sangat sangat marah kau menyakiti Sakura yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri bahkan melebihi aku yang sepupunya. Saat itu dia bahkan tidak ingin melihat wajahmu. Saat itu aku kebetulan berada di rumah keluarga besar Uzumaki. Naruto memukulimu sampai babak belur. Aku membawamu keluar dari sana sebelum kau terbunuh ditangan kekar milik Naruto. Itu benar-benar mengerikan. Melihat Naruto semarah itu…" Karin bergidik.
"Kalau begitu… Apa aku yang menyebabkan perpisahan itu?" jika sampai Naruto dobe ingin membunuhku, dia tidak akan membunuhku bahkan jika aku melakukan kesalahan fatal kepadanya, lain halnya jika aku sampai menyakiti Sakura dan Sarada sekaligus. Itu hanya berarti satu, yaitu aku telah benar-benar melakukan kesalahan luar biasa besar kepada anak dan istriku. Tapi apa?
"Semua orang pasti akan berpikiran seperti itu. Tapi aku kenal kau, dan harusnya Naruto juga bisa bersikap netral sepertiku, mengingat kalian sangat dekat. Aku tidak menyangkal bahwa kau sepertinya pihak yang sangat bersalah disini Sasuke. Namun aku yakin bahwa kau memiliki alasan dibalik itu…" Karin menghabiskan jus jeruk yang tadi dituangnya.
Alasan ya… Alasan pergi dari anak dan istri lalu tinggal bersama wanita lain. Adakah alasan yang baik untuk itu? Benarkah ada alasan selain aku adalah lelaki berengsek yang pergi meninggalkan istri yang sempurna dan anak yang luar biasa demi seorang wanita cantik?
"Apa kau mengenal Shion?" tanyaku tiba-tiba.
"Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Tidak ada yang pernah bertemu dengannya kurasa. Tidak keluargamu dan tidak juga teman-temanmu. Mereka mau tidak mau membenci Shion karena menganggap Shion wanita yang telah merebut Papa Sarada," ujar Karin lugas.
Jika Sakura mudah disukai, maka Sarada lebih mudah lagi dalam mendapatkan hati semua orang disekitarnya. Tentu saja keluarga dan teman-temanku membenci Shion. Membuat Sarada tumbuh tanpa Papa tidak bisa dimaafkan begitu saja.
"Kan kau juga?"
"Ya, dan aku juga. Begini Sasuke. Aku mungkin masih bisa menerimamu, karena kita teman. Tapi Shion…" Karin mengangkat bahunya tanda bahwa dia bahkan tidak perlu repot-repot membahas bagaimana perasaannya terhadap wanita itu.
Sebenarnya aku juga tidak mengerti. Saat aku melihat Shion, tidak ada satupun rasa yang terbersit. Shion seperti orang asing bagiku. Apa dulu aku menyukainya? Apa aku tinggal bersamanya atas dasar saling mencintai? Lalu mengapa aku yang penurut bisa-bisanya memilih tinggal bersama Shion dan mengabaikan kebencian orangtuaku terlebih Itachi? Dan Sakura serta Sarada, apa aku tidak memikirkan perasaan mereka?
"Aku tidak yakin bahwa perpisahan kalian hanya karena masalah Shion. Fakta bahwa kau tidak pernah terlihat keluar bersama wanita itu tetapi kalian tinggal bersama selama lima tahun begitu janggal. Benar bahwa Shion adalah seorang model, tetapi dia bukan aktris yang harus menutupi kisah cintanya terhadap publik," ucap Karin sambil terus memandangiku dengan tatapan menyelidik.
"Aku… Mencintai Sakura…"
"Hah? Apa maksudmu?"
"Aku mencintai Sakura. Aku tidak ingat apapun tentang Shion dan aku merasa bagaikan orang asing saat berada didekatnya. Dan aku… yang aku ingat adalah aku sangat mencintai Sakura, Karin…" aku menutup wajahku frustasi.
"Kau tidak bisa berkata seolah kau korban disini Sasuke!" Karin meninggikan suaranya, "Kau tinggal bersama Shion selama lima tahun, saat itu umur Sarada bahkan baru tujuh tahun!"
"Aku tahu. Sarada memberi tahu bahwa aku adalah Papa yang payah. Tapi aku tidak bisa hidup seperti ini. Dengan ingatan akan Sakura masih istriku. Dan ingatan itu membuat aku merasa bahwa sampai saat ini pun aku masih mencintai dan menginginkannya…" aku terdengar sangat melodrama tapi itulah yang kurasakan dan itulah yang aku ingat. Bahwa aku masih mencintai Sakura dan ingin bersamanya.
"Kalau begitu tanyakan kepada Sakura. Temui ia dan tanyakan apa yang ingin kau tanyakan," desak Karin.
Aku hampur tertawa, mengingat usahaku untuk menemuinya beberapa jam yang lalu berakhir dengan kekerasan terhadap kekasih Sakura, benar-benar awal yang buruk.
"Baru saja aku dari rumah Sakura, ah lebih tepat hanya didepan rumah…"
Karin yang mengambil entah apa dari dalam kulkas membalik badannya kearahku dan menatapku dengan pandangan yang tidak dapat aku artikan.
"Dan?" Karin menanyakan kelanjutan ceritaku dengan nada penasaran yang tidak ia tutupi.
"Aku melihatnya bersama Gaara," Karin menggelengkan kepalanya, membuat rambut merahnya berkilauan dibawah sinar lampu ruang makan yang temaram, wanita itu menghela napas, dari helaan yang berat ia sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi.
"Ya, kau benar. Tapi hal itu membuatku bersyukur kau tau…" ujarku entah kenapa terdengar riang.
"Tidak ada yang disyukuri dari kehilangan kontrol emosi dan menghajar seseorang tanpa berpikir Sasuke…" Karin menghempaskan diri diatas kursi makan di seberangku.
"Sakura marah kepada Gaara dan itu patut disyukuri," tuturku singkat.
"Kau yang membuat masalah dan Gaara yang dimarahi? Aku tidak mengerti," lagi-lagi Karin mengerutkan keningnya dalam.
"Setelah aku meninju Gaara, pria itu menghinaku. Dia berkata 'apa maumu Uchiha, kau marah aku mencium kekasihku sendiri hah?', aku tidak menjawab karena tentu saja jawabannya iya. Alih-alih menjawab aku malah menghajarnya sekali lagi. Sakura menarik tubuhku. Dan kau tau, melihat itu Gaara malah berkata 'kau telah membuang Sakura dari hidupmu dan aku memungutnya'. Sebuah pilihan kata yang payah mengingat Sakura adalah wanita yang sensitif…"
Aku menyeringai dan mengangkat gelas scotch yang isinya hanya tersisa sedikit. Menghabiskannya sekaligus dan kembali melanjutkan apa yang ingin Karin dengar.
"Kau tahu bagaimana Sakura. Dia terhenyak mendengar Gaara berkata seperti itu. Harga diri Sakura terluka hanya dengan kata 'memungut'. Jadi Sakura mengusir kami berdua tanpa berkata apapun lagi dan masuk ke rumah,"
"Dan itu tandanya ia marah?" tanya Karin.
"Ya," ucapku yakin. Sakura sekarang marah kepadaku dan kepada Gaara. Kepadaku tak mengapa, toh dia memang sudah marah jauh sebelumnya. Kepada Gaara, itu suatu keuntungan bagiku. Lagi pula, ini menjadikan Sakura tahu bahwa aku tidak suka ia disentuh oleh si panda merah. Ini akan membuat Sakura mengerti bahwa aku masih memikirkannya. Setidaknya itulah yang aku inginkan terjadi.
"Akan sulit membuat Sakura mau berbicara denganmu jika seperti itu bukan? Dasar. Berpikirlah sebelum bertindak, Sasuke!" Karin menerima gelas tulip kosong yang aku serahkan dan langsung mencucinya.
"Tidurlah Sasuke. Saranku hanya ini, jika kau memang ingin mengetahui masalah masa lalu-mu dengan Sakura maka sebaiknya kau tanyakan kepada sepupu pirangku Naruto. Istri Naruto si Hyuuga Hinata selain teman satu sekolah Sakura, mereka juga sekarang teman sebagai sesama wali murid, Boruto dan Sarada satu kelas kalau tidak salah ingat. Mainlah ke rumahnya besok setelah kau pulang kerja," ujar Karin sambil melenggang pergi dari dapur sekaligus ruang makan seluas empat kali lima meter ini.
Ke rumah Naruto ya…
Sudah berapa lama aku tidak bersua dengan Naruto dobe?! Benarkah dobe sampai memukuliku dengan dahsyat saat aku dan Sakura berpisah?! Apa hubungan kami setelah itu baik-baik saja?! Aku tidak ingat. Dipukuli Naruto. Aku bergidik ngeri. Naruto memang cengengesan tapi dia adalah seorang judan, pemegang sabuk hitam Dan 10. Well, aku bahkan tidak ingin berurusan dengannya jika harus memakai kekerasan fisik.
.
.
.
.
.
Ting Tong
"Boruto, bisa kau bukakan pintu sayang…"
Aku dapat mendengar suara lembut istri dari Naruto menyuruh anak sulungnya. Bagus. Seluruh keluarga Uzumaki berkumpul dan siapa yang tahu perbincangan apa yang akan aku miliki dengan Naruto. Semoga saja hari ini tidak menjadi salah satu cerita horror si merah Karin mengenai bagaimana aku dihajar habis-habisan oleh sepupunya.
"Ah, paman Sasuke!" fotocopy diperkecil dari Naruto membukakan pintu untukku. Senyumnya sama lebarnya dengan Naruto saat seusianya. Apa Hinata gagal menurunkan sedikit saja dari gen anggun keluarga Hyuuga pada Boruto?!
"Hn. Kau sudah besar Boruto," kataku terkejut akan tinggi badan Boruto yang sepertinya sudah hampir seratus lima puluh sentimeter.
"Tentu saja. Aku tumbuh tau! Paman yang kini jarang sekali kesini makanya tidak melihat dengan baik pertumbuhanku kan?!" ujarnya sambil menggembungkan pipi. Dia seumuran Sarada tapi sepertinya anakku lebih dewasa.
"Siapa Boruto? Kenapa tidak kau persilahkan masuk?" tanya Hinata. Mata lavendernya membelalak sempurna melihat kehadiranku didepan pintu masuk rumahnya.
"Paman Sasuke yang datang Bu…"
"Ya, Ibu bisa lihat…" Hinata menatapku tanpa berkedip, seolah aku adalah orang terakhir di bumi yang ingin dilihatnya hari ini, "Kau mencari Naruto? Sudah berjanji temu dengannya?" lanjutnya dengan nada datar yang aku heran bisa keluar dari seorang seperti Hinata.
"Apa dia tidak ada di rumah?" Naruto yang seorang anggota dewan yang sibuk, bisa saja tidak ada di rumah meskipun sudah jam pulang kerja. Apa lagi kini dia sedang menyiapkan diri untuk pemilihan Senator. Bisa-bisanya aku melupakan detail kecil seperti itu.
"Ada. Dia memberitahu bahwa akan ada tamu malam ini. Hanya tidak menyangka yang dia maksud adalah kau, Sasuke," Hinata berbalik dan masuk, tanpa meminta aku untuk mengikutinya kedalam dan justru anaknya-lah yang dengan sopan mempersilahkan aku masuk.
Hal ini hanya bisa berarti satu hal. Aku membuat tidak hanya Sakura membenciku tetapi seluruh teman wanitanya juga. Dan apa tepatnya yang aku lakukan itu? Oh, Tuhan semoga dobe memberikan jawaban yang aku inginkan segera. Lalu? Setelah itu apa? Menunggu ingatan yang hilang kembali utuh? Lalu kemudia apa? Setelah itu apa yang akan aku rasakan? Lebih tepatnya, apa setelah ingatanku kembali, aku akan tetap mencintai Sakura?
"Masuklah. Naruto menunggumu di ruangan kerjanya…" ujar Hinata didepan sebuah pintu kayu mahoni yang indah. Pilihan yang sangat tepat, kayu mahoni ini, kayu ini akan meredam banyak suara, yang berarti kebisingan dari luar ruangan tidak akan jelas terdengar dari dalam, begitu juga sebaliknya.
"Hai," sapaku setelah menutup pintu dibelakang punggung.
"Kau sudah datang? Duduk, duduk," Naruto terlihat luar biasa ceria seperti biasanya. Tetapi kantung mata yang menghitam dibawah safir birunya terlihat sangat jelas. Bukti kerja kerasnya setiap hari.
"Kau tahu?"
"Oh ayolah Sasuke. Tolong jangan remehkan jaringan informasi milikku. Kedatanganmu, kesehatanmu dan kondisi yang kau alami saat ini, aku tahu semuanya," Naruto tersenyum tulus, "Jadi apa yang ingin kau tanyakan terlebih dahulu?" ujarnya tanpa basa-basi lebih lanjut.
"Untuk awalnya, apa hubungan kita baik-baik saja? Maksudku setelah, katanya kau memukuliku tanpa ampun saat kau tahu aku dan Sakura berpisah?" aku tidak ingin ini menjadi pertemuan yang awkward, maksudku, yang aku ingat adalah hubungan kami sangat baik, jika pada kenyataannya hubungan kami merenggang itu akan menjadi hal yang menggangu Naruto jika aku berbicara hal yang terlalu pribadi padahal kami tidak lagi sedekat dulu.
"Oh ya. We are as good as always, as ever, Sasuke. Tapi kita jarang bertemu dirumah ini. Kau tahu, Hinata, dia membencimu…" ujar anak tunggal Minato dan Kushina ini sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ya, aku bisa merasakannya. Matanya seolah bisa melubangi punggungku saat aku masuk kesini," aku mengedarkan pandangan. Ruang kerja Naruto sama seperti yang ada dalam ingatanku. Kecuali kini ada lebih banyak buku tentang keuangan publik dan banyak buku tentang kemasyarakatan serta pembangunan society.
"Hahaha… Jujur saja Sasuke. Aku kurang lebih bersyukur kau mengalami hilang ingatan seperti ini," aku mengerling, apa maksudnya bersyukur atas ketidakberuntungan orang lain?!
"Tolong jangan memandangku seperti itu. Aku hanya merasa dengan hilangnya ingatanmu, kali ini aku bisa meyakinkanmu untuk tidak bersikap keras kepala atas hubunganmu dengan Sakura…" Naruto berjalan kearah kulkas mini diantara rak piala dan penghargaan-penghargaan miliknya, "Kau mau light beer?" aku mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak ingat apapun Naruto. Jelaskan dari awal. Mengapa aku dan Sakura bisa sampai mengalami hal ini? Mengapa bisa-bisanya kami bercerai?!" tanyaku saat botol bir dingin yang diserahkan Naruto berada digenggamanku.
"Bercerai?"
"Ya. Kenapa bisa sampai kami…?"
"Tunggu. Sebentar Sasuke… Sungguh tunggu sebentar… Kalian tidak pernah bercerai,"
"APA?!"
"Ya kalian berpisah. Tapi tidak, kalian tidak pernah secara resmi bercerai…" tutur Naruto.
"Apa maksudmu?" aku sangat kebingungan. Apa maksudnya semua ini?
"Kau pergi dari rumah. Sakura melemparkan cincin kawinnya kepadamu. Tapi kau tidak pernah ke pengadilan untuk menceraikan Sakura secara resmi. Begitu pula Sakura. Dia tidak pernah menuntut ke pengadilan untuk meminta diceraikan. Kupikir Itachi atau orangtuamu telah memberitahu hal ini," ujar Naruto lalu menegak birnya.
"Mereka hanya berkata bahwa kami telah berpisah…" gumamku pelan.
"Ya, itu memang benar,"
"Sarada mengatakan bahwa rumah itu adalah kompensasi untuk Sakura. Itu, bukankah hal seperti itu artinya kami telah resmi bercerai?" apa Sarada berbohong kepadaku? Atau Naruto yang sedang mempermainkanku?
"Oh ya ampun. Sarada hanyalah anak kecil Sasuke. Dia tidak mengerti apapun. Terlebih tidak ada yang tahu tentang apakah kau dan Sakura telah bercerai secara resmi di mata hukum selain aku, Hinata, kedua orangtuamu dan kakakmu. Secara hukum negara kita, kau masih suami sah dari Uchiha Sakura…"
Dan saat itu, entah dari mana datangnya, kilasan demi kilasan adegan Sakura yang menangis sambil melepaskan cincin berlian dan melemparkannya tepat diwajahku datang kembali.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Author's Note
Hallo… maaf aku lambat mengupdate cerita ini… Kehidupan RL sangat padat! Huks Huks… Yak gimana? Penasaran? Jika kalian merasa perkembangan cerita ini lambat maaf yak karena memang sudah aku bikin seperti ini kerangka ceritanya. Jadi mohon dinikmati aja yak perjalanan Sasuke mengembalikan ingatannya yang hilang ini hehehe
