Note singkat dari author :
Replay review
xtreme guavaniko : iya..., itu adalah sifat yang aku sukai dari Xing Cai. Tapi di sini Xing Cai-nya sedikit ooc. Dia jadi sedikit lebih cengeng dan gampang rapuh. Ya, salam kenal juga...! Semoga kamu senang sama ceritanya ya... :)
marrysykess : orang ini! ngapain pake review segala. kaukan bisa langsung review ke kasur sebelah... haha :D
.blossom : hehe..., gimana ya? pairingnya berubah-rubah kok... tapi yang disorot tetep Xing Cai-nya. Kalo penasaran, baca terus ya... :)
Nagi and Scarlett : Iya..., tapi ini baru cerita awalnya aja... jadinya masih so sweet2x nya. Nanti kalo udah jauh, agak sedikit menyedihkan. Hmm..., Guan Suo kemana ya? Nanti seiring jalannya cerita, akan muncul karakter-karakter baru kok... :D Semoga ceritaku ini gak mirip kayak sinetron-sinetron tv...
Terimakasih buat yang udah reviews...! Jadi semangat lanjutinnya... Hehe... Buat semuanya, salam kenal aja ya...! :D
Disclaimer : Dynasty Warriors adalah kepunyaan KOEI.
Chapter 3 : Feeling
Guan Ping menarik pergelangan tangan Xing Cai. Mereka berlari meninggalkan rumah mereka masing-masing menuju salah satu halte bus terdekat. Selesai membayar, Xing Cai segera melepaskan genggaman tangan Guan Ping dari tangannya. Ia menatap Guan Ping tajam, begitu juga sebaliknya.
"Kakak apa-apaan sih...?" tanya Xing Cai.
"Hari ini Xing pergi dengan kakakmu. Aku tidak punya teman yang akan menemaniku pergi membeli beberapa kaset di pusat kota. Jadinya aku mengajakmu, karena aku rasa... Siang ini kamu sedang tidak banyak kerjaan." jawab Guan Ping.
"Kenapa harus aku? Aku ini sedang sibuk membantu ayah merapikan rumah...!"
"Aku sudah ijin ayahmu kok... Dia bilang tidak apa-apa mengajakmu pergi. Sekalian memperkenalkanmu dengan tempat tinggalmu yang baru...!"
"Ayah keterlaluan!" ucap Xing Cai lirih sembari memalingkan wajahnya dari wajah Guan Ping.
"Memang kenapa sih...? Kau sepertinya sejak kemarin terus-terusan menghindariku...?" tanya Guan Ping. "Padahal aku ingin menjadi temanmu... Apa aku terlalu tua untukmu?"
"Bukan karena itu...! Aku hanya takut saja..." bantah Xing Cai.
"Takut kenapa...?"
Xing Cai terdiam... Ia tidak menjawab pertanyaan Guan Ping. Bingung harus mengatakan apa.
"Apa yang kau takutkan, Xing Cai...?" Guan Ping kembali bertanya.
"Tidak apa-apa..." balas Xing Cai.
Guan Ping menatap Xing Cai dengan penuh kebingungan. Ia mengusap-usap belakang kepalanya. Tangannya menarik tangan Xing Cai memasuki bus yang sudah berhenti di depan mereka.
"Mau mendengarkan lagu ini...?" tanya Guan Ping sembari menyodorkan sebuah headphone ke arah Xing Cai.
Xing Cai menganggukkan kepalanya. Guan Ping tersenyum kecil sembari memasangkan headphone yang ia bawa ke arah kedua telinga Xing Cai. Belum beberapa menit menggunakannya, Xing Cai segera melepas headphone itu dan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Guan Ping tertawa melihat tingkah Xing Cai. Ia meletakkan headphone itu kembali ke tempatnya kemudian mulai memilih kaset-kaset yang ada di toko itu.
"Apa yang kakak dengarkan...? Itu cuma suara orang teriak-teriak... Tidak ada melodinya." tanya Xing Cai.
"Berteriak itu menyenangkan..." jawab Guan Ping, ia tetap sibuk memilih kaset yang ada di depannya.
"Apanya yang menyenangkan...? Bikin tenggorokan sakit...!"
"Yang penting perasaan kita lega setelah berteriak-teriak seperti itu..."
Xing Cai menatap Guan Ping bingung. Guan Ping memalingkan wajahnya ke arah Xing Cai. Ia tersenyum kecil sembari menyodorkan headphone yang ia bawa. Segera Xing Cai menggelengkan kepalanya sembari menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Kau mau es krim...?" tanya Guan Ping.
Xing Cai menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu tunggu di sini... Aku akan belikan untukmu!" suruh Guan Ping.
Ia segera beranjak pergi. Namun tangan Xing Cai menarik pergelangan tangannya. Xing Cai menatap Guan Ping begitu juga sebaliknya.
"Kenapa...?" tanya Guan Ping bingung.
"Ja..., jangan lama-lama ya kak..." pinta Xing Cai.
"Ohh..., hanya itu. Aku pikir kenapa? Tenang saja, aku akan segera kembali tanpa kamu sadari." ucap Guan Ping sembari pergi meninggalkan Xing Cai sendirian.
Gadis itu hanya menatap punggung Guan Ping dari kejauhan. Entah firasat apa yang sedang menghantuinya. Tapi rasanya seperti akan ada sebuah kejadian yang datang menimpa mereka. Guan Ping segera kembali membawa dua buah es krim ke arah Xing Cai. Tiba-tiba seorang anak kecil menyebrang mendahului Guan Ping. Sebuah motor melesat dengan kecepatan tinggi ke arah anak itu. Melihat hal itu, Guan Ping segera berlari menolong anak itu. Xing Cai segera menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Pandangannya kabur. Ia tidak dapat mengingat apapun setelah itu. Ketika ia membuka matanya, ia sudah berada di tempat yang berbeda. Sebuah rumah sakit. Ia sedang berbaring di sebuah bangku tunggu rumah sakit. Di sebelahnya ada Zhang Bao. Melihat adiknya sudah sadar. Zhang Bao segera tersenyum dan membalikkan badannya ke arah Xing Cai.
"Kau sudah sa..."
"Apa yang terjadi dengan Kak Guan Ping...?" potong Xing Cai. "Kenapa kita ada di sini...? Jangan bilang kalau kak Ping..."
"Kau bicara apa Xing Cai...?" tanya Zhang Bao.
"Aku bicara tentang kutukan itu...!"
"Dia baik-baik saja kok..."
"Bohong! Kakak hanya ingin membuatku senang sajakan...?"
Zhang Bao menghela nafas pendek. Ia menarik pergelangan tangan Xing Cai dan mengajaknya ke sebuah ruangan. Di depan ruangan itu tampak Guan Xing sedang duduk termenung sendirian. Ia memalingkan wajahnya ke arah Zhang Bao. Kemudian berdiri dan menghampiri Xing Cai dan temannya itu.
"Rupanya Xing Cai sudah sadar..." ucap Guan Xing.
"Apa yang terjadi...? Di mana Kak Ping...?" tanya Xing Cai.
"Dia ada di dalam sana..." Guan Xing menunjuk sebuah ruang di depannya dengan telunjuk jarinya.
Xing Cai segera meninggalkan mereka berdua dan memasuki ruangan yang ditunjukkan oleh Guan Xing. Ia mendapati ayahnya dan Guan Yu ada di dalam sana. Kedua pelupuk matanya basah ketika melihat Guan Ping yang saat itu tengah menatap ke arahnya juga. Anak kecil yang ditolong oleh Guan Ping juga ada di situ bersama dengan ibunya. Tidak ada yang meninggal. Semuanya selamat dan hanya mengalami luka kecil saja.
