Gadis Air
Chapter 3
"Ayo cepat, Gray!" seru Lyon.
"Berisik! Aku juga sedang menyusulmu!" balas Gray. Mereka telah sampai di padang rumput tempat mereka bertemu Wakaba tadi. Awan kelabu gelap semakin banyak dan tebal, tanda hujan akan turun tak lama lagi. Melihat hal itu, Gray berusaha terus berlari meski sudah mulai kelelahan. Dia sama sekali tidak berhenti berlari.
Apa yang Gray dan Lyon khawatirkan terjadi. Titik-titik air lebih dulu menghujani mereka. Membasahi pakaian dan tubuh mereka.
"Lyon!" panggil Gray. "Terus berlari, Gray!" teriak Lyon sekeras mungkin agar Gray bisa mendengarnya.
"Tapi hujan sangat deras! Kita harus berteduh!"
"Sebentar lagi kita sampai di dekat pasar! Rumah kita tak jauh lagi!"
"Bagaimana kalau gadis air itu muncul?"
"Jangan takut! Kalau gadis air benar-benar muncul dari Hutan Berkabut, dia tidak akan bisa menangkap kita. Arah rumah kita ada di sebelah barat. Berlawanan dengan Hutan Berkabut!"
"Kalau disini sudah hujan, artinya gadis air berada tak jauh dari kita!"
"Justru karena dia dekat, kita harus menjauhinya!"
Terpaksa Gray menuruti Lyon. Dia memaksakan dirinya berlari. Lebih baik segera sampai di rumah daripada terjebak di tengah hujan lagi.
"Aku pulang!" seru Gray begitu sampai di rumah. Ul menyambutnya, "Ya ampun, Gray! Kenapa kamu bisa basah kuyup?"
"Maaf, Bu. Aku kehujanan lagi saat pulang."
"Ultear! Ambilkan handuk untuk Gray!"
Ultear muncul sambil membawa handuk dan menyerahkannya pada Gray "Ini!"
Gray menerima dan mengeringkan tubuhnya.
"Sekarang cepat ganti baju, nanti kamu bisa sakit." suruh Ul. Gray masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya yang basah. Dia melihat jendela kamarnya yang ditutup. Tetesan air hujan membuat pemandangan diluar tidak jelas. Gray mendengus, "Menyebalkan, gadis air itu merepotkan saja!"
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu.
"Gray, Lyon datang menemuimu." terdengar suara Ultear. Gray segera turun dan menemui Lyon di ruang tamu. Sama seperti Gray, Lyon juga sudah berganti pakaian. "Sepertinya kamu belum puas jalan-jalan." kata Gray.
"Memang, aku masih ingin berlama-lama di padang bunga itu."
"Bunga? Benar juga!" Gray menyadari sesuatu dan kembali ke kamarnya. Meninggalkan Lyon yang heran dengan tingkah Gray. Tak lama kemudian, Gray kembali sambil membawa bunga yang dipetiknya. "Hehehe, hampir saja aku lupa menyerahkannya."
"Kalau begitu, berikan saja sekarang."
"Tidak, nanti saja. Oh, ya, ada perlu apa kau kesini?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya berkunjung. Aku bosan di rumah. Ingin bermain keluar. Tapi malah hujan."
"Iya, ini semua gara-gara gadis air. Menyebalkan. Tapi…aku masih penasaran. Benar tidak, ya, yang dikatakan nenek Porlyusica itu."
"Kupikir ada benarnya juga."
Sejak pertemuannya dengan Porlyusica, Gray jadi lebih berhati-hati bermain di luar rumah. Sedangkan Lyon masih sedikit mengabaikannya. Namun Gray melihat Lyon berlari pulang jika melihat awan gelap di langit. Sebenarnya Gray sangat ingin menyelidiki kebenaran tentang gadis air. Ia ingin mencari tahu mengapa gadis air suka menculik anak-anak. Sempat terpikir di benak Gray untuk mencari dan menemui gadis air. Tapi tentu saja itu terlalu nekat. Gray tidak ingin membuat keluarganya cemas. Gray pernah mengatakan rencananya pada Lyon. Sayangnya Lyon menolak, "Bagaimana kalau menunggu beberapa tahun lagi? Mungkin tujuh atau delapan tahun?" tawar Lyon.
Gray terbelalak, "Itu terlalu lama!"
"Tapi lebih aman. Memperkecil kemungkinan kau diculik meskipun aku tidak yakin 100% aman."
Gray menimbang-nimbang usul Lyon sejenak. Masih tampak ragu.
"Tidak ada salahnya, kan?"
"Yah….sepertinya tinggal masalah waktu saja."
Untuk saat ini, Gray hanya bisa memendam rasa penasarannya.
8 tahun kemudian….
Gray berjalan menuju rumahnya. Lingkungan sekitarnya masih sama seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Ya, kini Gray sudah dewasa. Dia masih tinggal di rumah lamanya. Tetapi, kini dia sendirian. Ibunya meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan. Sedangkan Ultear pindah ke kota Clover untuk bekerja. Tiap bulan Ultear mengirimkan uang untuk Gray. Walaupun sebenarnya Gray tidak perlu dikirimi uang.
Gray bekerja sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Dia bekerja dengan giat. Hari ini Gray bekerja seperti biasa. Menjalankan tugasnya sebagai sekretaris.
"Akhirnya selesai juga." gumam Gray. Ia baru saja menyelesaikan laporan bulanan. Gray menuju ruang kepala desa untuk menyerahkan hasil kerjanya.
Tok! Tok! Tok!
Gray mengetuk pintu. "Masuk." Terdengar sahutan dari dalam. Gray membuka pintu dan langsung berhadapan dengan atasannya. "Ada apa, Gray?" Tanya sang kepala desa, Makarov Dreyar.
"Hanya ingin menyerahkan laporan bulan ini, Pak Makarov."
"Sudah selesai, ya. Bagus, kamu memang rajin, Gray."puji Makarov. Gray tidak terlalu bangga mendengarnya, ia sudah sering dipuji seperti itu. "Baiklah, sekarang kamu boleh pulang. Besok ada tugas baru untukmu."
"Baik." Gray pun meninggalkan ruangan dan bersiap pulang.
.
.
.
Pukul 4 sore, Gray tiba di rumah. Ia memandang halaman rumahnya. Mata Gray terpaku pada sekumpulan bunga matahari di sudut halaman. Itu adalah bunga yang dulu dipetiknya dari padang bunga matahari. Bunga itu mengingatkan Gray pada ibu dan kakaknya. "Benar juga, aku belum menyiramnya."
Gray beranjak dan menyalakan keran di halaman yang ujungnya telah disambung dengan selang. Setelah menyiram bunga kesayangannya, Gray menyiram bunga-bunga lain. "Akhirnya selesai."
Gray melihat Lyon berada di halaman rumahnya. Entah apa yang dia lakukan. Lyon hanya berdiri sambil memandangi halaman. "Lyon, apa yang sedang kau lakukan?" sapa Gray sekaligus bertanya. Lyon menanggapinya sambil tersenyum, " Tidak ada. Aku baru saja membersihkan halaman."
"Bukannya tiga hari yang lalu kau sudah merapikan halaman?" Gray tahu benar, Lyon selalu rajin mengurus halamannya setiap hari Minggu. Berbeda dengan Gray yang lebih suka bersantai di rumah. Jarang mengurus halaman.
"Lebih baik kau mampir dulu ke rumahku, Gray."
Gray menyetujuinya. Dia pun berkunjung ke rumah Lyon. "Sepertinya sudah lama aku tidak mampir kesini." ucap Gray sambil duduk di kursi teras. Lyon duduk di kursi teras lainnya, "Benarkah?"
"Seingatku, terakhir kali aku kesini saat tahun baru tiga bulan yang lalu."
"Ternyata kau masih ingat. Setelah itu kau sempat pergi ke kota Clover untuk mengunjungi kakakmu, kan?"
"Begitulah. Ngomong-ngomong, kenapa kau hari ini mendadak bersih-bersih halaman? Aku tahu kau tipe yang rajin, tapi…biasanya kau selalu melakukannya setiap hari Minggu."
"Sebenarnya…hari ini kunjungan terakhirmu, Gray."
"Apa maksudmu?"
"Mulai besok, aku akan pindah ke Crocus. Aku diterima bekerja di salah satu penerbitan surat kabar. Tentu saja aku harus tinggal di Crocus."
"Mula-mula Sherry, lalu Ultear-nee, dan sekarang kau." Gray teringat Sherry. Gadis bermarga Blendy itu pindah bersama keluarganya saat Gray berumur 15 tahun. Sherry pindah ke Orchid City, tempat dimana keluarga besarnya berada.
Lyon tertawa mendengar perkataan Gray, "Hahaha, kenapa kau tidak mencoba cari pekerjaan di kota?"
Gray terdiam sesaat. "Entahlah, kadang aku ingin pindah ke tempat lain. Tapi aku lebih suka di Rosemary. Lagipula, Ultear-nee menyuruhku menjaga rumah peninggalan ibu. Dia tidak mempercayai orang lain."
"Begitu, ya."
"Lalu, kalau kau pindah, apa yang akan kau lakukan dengan rumahmu? Menjualnya?"
"Tidak. Meski menetap di Crocus, aku bisa kembali kapan-kapan."
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang menjaganya sementara kau pergi?"
Lyon tampak terkejut, "Benarkah? Kau tidak keberatan?"
"Sama sekali tidak."
"Sepertinya itu akan merepotkanmu."
"Jangan khawatir. Tidak sulit mengawasi rumahmu. Lagi pula kita sudah lama bertetangga." Gray meyakinkan Lyon.
"Baiklah, kalau kau tidak keberatan."
"Tak masalah. Serahkan saja padaku."
"Nah, ini kunci cadangan rumahku. Kau boleh menggunakannya kalau ingin memeriksa rumahku." Lyon menyerahkan kunci cadangan rumahnya.
Keesokan harinya, Lyon pergi pagi-pagi sekali. Gray memang tidak melihatnya keluar rumah, tapi dia tahu Lyon sudah pergi. Rumah Lyon tampak lebih sepi, tanda tak berpenghuni.
"Sayang sekali, aku tidak sempat mengucapkan selamat jalan." Gray sedikit menyesal. Ia memandang rumah Lyon sejenak, lalu bersiap-siap untuk bekerja.
.
.
4 bulan kemudian, sepulang kerja, Gray menemukan sepucuk surat di teras rumah. Dipungutnya surat itu. Tak ada nama pengirimnya. Setelah masuk, Gray merobek amplop surat.
Gray, bagaimana kabarmu?
Ini aku, Lyon, tetanggamu yang dulu.
"Lyon!" seru Gray mengetahui nama pengirim surat. Dia melanjutkan membaca.
Terima kasih sudah mau menjaga rumahku.
Ini pertama kalinya aku mengirim surat untukmu. Harusnya banyak yang bisa kuceritakan, tapi aku punya satu berita untukmu. Aku punya kenalan dari organisasi intelijen di Crocus.
Kami bertemu saat aku sedang mencari informasi. Rupanya dia sedang membantu temannya mengumpulkan informasi tentang rumor-rumor di berbagai tempat untuk dijadikan buku. Karena aku dari Rosemary, aku menceritakan sedikit padanya tentang rumor di desa kita. Pasti kau masih ingat, kan, Gray? Si gadis air.
Beberapa hari kemudian, kenalanku mengatakan dia akan pergi ke Rosemary. Bersama temannya, tentu saja. Pasti mereka ingin cari tahu lebih banyak tentang gadis air. Informasi dariku memang tidak lengkap. Jadi aku menawarinya rumahku.
Kamu tahu, kan, apa artinya ini?
Gray berhenti sejenak. Mencoba berpikir. Dan ia menyadarinya, "Maksudmu…."
Itu artinya kau akan punya tetangga baru penggantiku. Pasti menyenangkan. Kau tidak akan kesepian lagi.
"Aku tidak kesepian meskipun tidak ada kau." Gray berkata seolah-olah surat itu benar-benar Lyon.
Aku sudah menyerahkan kunci rumahku pada mereka. Dan sudah berangkat hari Rabu kemarin. Pasti sampai di Rosemary dalam 2 atau 3 hari lagi. Aku ingin meminta bantuanmu. Sebelum mereka datang, bisakah kau membereskan rumahku, Gray?
Di surat ini, aku tidak memberitahumu nama kenalanku. Nanti kau akan tahu sendiri. Yang jelas, temannya bernama Freed Justine. Dan aku ingin kau tetap menyimpan kunci cadangan rumahku.
Maaf aku merepotkanmu.
Salam, Lyon.
NB : Tetangga barumu agak pendiam. Sepertinya kamu harus berusaha jadi lebih cerewet. Kuharap kau bisa akrab dengannya.
Selesai membaca, Gray kembali memasukkan suratnya ke amplop yang dipakai Lyon untuk mengirim suratnya. Dia sibuk menebak-nebak seperti apa tetangga barunya. Setidaknya Lyon sudah memberinya sedikit petunjuk. Gray menatap rumah Lyon sejenak melalui jendela rumah.
"Mungkin aku akan membersihkannya besok sore."
To be continue
Ada yang bisa menebak siapa tetangga baru Gray?
Clue : Mantan lawan Gray
Review, please!
