Gomen Nana updatenya lama. Tanpa basa-basi lagi ini ceritanya.

.

.

.

Disclaimer: Yusuke Murata & Riichiro Inagakiri

Reatreat

"Wah pemandangannya keren banget"

"Norak "

"Mou, biarin"

"Dari pada itu kerenan juga ini"

Hiruma memutar laptopnya dan terlihatlah Sena yang sedang mencium dahi Suzuna.

"Kau dapat dari mana? Kau edit ya?"

"Keh aku tidak akan melakukan hal serendah itu bodoh"

"Aku tidak bodoh Hiruma-kun"

"Manager Bodoh Sialan"

"Ah terserah kau saja"

Tapi, aku penasaran bagaimana ya rasanya seperti Suzuna. Aku coba membayangkan Hiruma memegang daguku, mencium dahiku lau kehidung dan sampai ke… Ah Mamorii jangan coba-coba membayangkan hal seperti itu. Hiruma itu kan setan tidak akan berbuat selembut itu.

"Sudah sadar Ma-mo-ri"

Tiba-tiba Hiruma sudah ada di depan mukaku. Tuhkan gara-gara aku banyak melamun

"A-Ada apa Hiruma-kun"

"Dasar Manager Bodoh Gila Sialan"

"Mou, aku ini tidak gila, bodoh, dan sialan Hiruma"

Kalau saja Hiruma berbuat lembut sedikit saja pasti hayalanku bisa jadi kenyataan. Haah tapi mau diapakan lagi sifat Hiruma kan memang seperti itu.

Tik tik tik plop

Sunyi sekali di bus ini hanya ada suara ketikan laptop dan permen karet yang dimakan Hiruma. Sedangkan yang lain tidur. Lebih baik aku tidu saja semoga bisa mimpi Hiruma yang berbuat lembut.

.

Hiruma

Dasar Manager Sialan hobinya melamun saja. Kuperhatikan lagi foto sialan yang baru saja kudapat beberapa menit yang lalu. Kekeke lucu sekali wajah kedua Cebol Sialan ini.

"Hei Manager Sialan," tak ada sahutan.

"Oi"

Cih, ternyata tertidur. Manis juga kalau dia tidur. Kulepas jaketku dan memakaikannya ke Manager Sialan. Kenapa aku mau melakukan hal sialan seperti ini. Masa aku jatuh cin… ah tidak mungkin. Masa bodohlah yang penting aku nyaman berbuat seperti ini.

"Selamat tidur Mamorii," bisikku di telinganya.

Kusingkirkan rambut sialan yang menutupi wajah sialannya. Entah apa yang membuatku seperti ini.

.

.

Mamorii

"Hei! Manager Sialan cepat bangun sudah sampai bodoh"

Apa aku tidur terlalu lama ya? Padahal lagi asik mimpi Hiruma.

"Iya-iya Hiruma-kun," kataku sambil menggeliat pelan.

Habis ini pasti Hiruma melaempar tasnya kepadaku.

Pluk

Tuhkan apa yang baru kupikirkan pasti Hiruma melempar tasnya padaku. Untung aku sudah siaga untuk menangkapnya. Eh! Tunggu dulu kenapa ada jaket berwarna hitam jatuh disini? Apa ini punya Hiruma? Sudahlah aku ambil saja dan membawanya ke Hiruma.

"Hiruma-kun, ini jaketmu?"

"Hn"

Entah kenapa terbesit dalam pikiranku ketika aku tidur Hiruma meminjamkan jaketnya kepadaku.

"Arigato,'' kataku pelan berharap Hiruma tak mendengarnya.

Kira-kira aku tidur di mana ya? Semoga sekamar dengan Suzuna. Ternyata kami retret di villa daerah pegunungan. Di villa ini ad ataman bunga dan lapangan.

"Mamo-nee ayo kesini jangan berduaan terus dengan You-nii"

"Jangan mengada-ada Suzuna mana mungkin aku ingin berduaan dengan Hiruma-kun"

"Manager Sialan antarkan dulu tasku baru jalan-jalan"

"Cie-cie You-nii ingin berduaan dengan Mamo-nee"

"Diam kau Cher Sialan atau kuberi tahu seluruh jepang kalau Suzuna Taki menyukai…"

"Hiee baik You-nii"

"Keh baguslah"

"Jangan begitu Hiruma-kun"

"Berisik"

Hiruma langsung berjalan ke kamarnya, langsung saja aku mengikutinya. Didalam kamar Hiruma ada TV LCD, kasur double bed, AC, pokonya lengkap deh. Dasar Hiruma licik pasti dia mengancam kepala sekolah supaya memberikan kamar VIP kepadanya.

"Kamarmu VIP ya?"

"Kenapa? Keberatan?''

"Tidak kok"

"Mau tidur disini?"

"E-eh"

"Denganku"

"Dasar Hiruma-kun mesum," langsung saja aku lempar tasnya kearahnya dan langsung pergi keluar kamarnya. Tas yang kulempar langsung ditangkap oleh Hiruma.

"Kekekekekekeke"

"Tidak lucu Hiruma-kun"

"Kekekekekekeke"

Dasar Hiruma menyebalkan. Tapi kenapa aku agak berharap? Aduh Mamorii jangan ikutan mesum dong.

"Anezaki," kata seseorang dibelakangku.

"Kenapa Musashi?"

"Kamarmu bukannya disana?" sambil menunjuk kamar disebelah kiri kamar Hiruma.

"Ah iya arigato Musashi"

Kamarku tepat disebelah kamar Hiruma. Jangan-jangan Hiruma merencanakan ini.

"Yaa~ Mamo-nee kenapa berdiri didepan pintu begitu? Ayo masuk"

"Iya"

Aku ini terlalu banyak menghayal. Lagi pula mana mungkin Hiruma bisa cinta padaku. Aku inikan bodoh, sialan, gendut, gila. Ah sudahlah pada intinya aku ini memang tidak pantas untuk Hiruma. Setelah aku masuk kamar, aku membereskan barang-barangku. Tak lama setelah aku selaesai membersekan barang-barangku terdengar pengumuman untuk segera ke taman bunga yang ada di villa ini.

"Para murid yang terkasih…"

"Sudah to the point saja,'' kata Hiruma yang keliatannya bosan. Padahal baru beberapa kata.

"Bapak akan membagikan jadwal selama kita mengadakan acara retret disini"

Para guru-guru mulai membagikan jadwalnya. Tapi, kenapa aku tidak dikasih? Kulihat Suzuna, Sena. Monta, Kurita, dan semua anggota DDB ikut tidak diberi.

"Ya-Ha bagi kalian teri-teri sialan kita akan melakuakn latihan disini dan sebagai imbalannya kalian semua tidak perlu mengikuti acara tidak berguna yang diadakan Kepala Sekolah Sialan"

Dasar dia mulai seenaknya saja.

"Aku beri waktu untuk kalian teri-teri sialan makan siang tigapuluh menit dari sekarang!''

Aku berjalan kearah pembagian makanan, akhirnya aku bisa menemukan Ako dan Sara.

"Hai Mamorii," sapa Sara.

"Mamori ayo kita makan sama-sama," ajak Ako.

"Ayo kan jarang-jarang kita bertiga bisa ngumpul," kataku.

"Itu karena kau selalu sibuk dengan klubmu," kata Sara.

"Yah kau tau sendiri kaptennya siapa"

Aku, Ako, dan Sara mulai mengambil makanan dan sudah memilih tempat duduk.

"Hei! Manager Sialan tak ada waktu untukmu bersantai-santai"

"Mou, kau kan memberi waktu untuk makan"

"Kau akan makan bersamaku sambil membahas strategi untuk minggu depan melawan Ojo"

"Baiklah, Ako Sara maaf aku tidak bisa makan bersama kalian tidak apa-apa kan?"

"I-iya tidak apa-apa kok"

"Sudah sana kau makan bersama kaptenmu saja tak usah pikirkan kami hehe"

Haah sama Hiruma lagi deh. Sejujurnya aku senang sih bisa dekat dengan Hiruma terus.

"Cepat habiskan makananmu lalu kita akan membahas strategi"

Selalu memerintah dengan kasar. Aku langsung melahap habis makananku.

"kekekeeke kau itu lapar atau rakus"

"Mou, tadikan di suruh cepat-cepat"

"Kekekekeke"

"Kau tidak makan Hiruma-kun?"

"Aku sudah makan dari tadi"

Hiruma

Sudah dari tadi berdiskusi atau lebih tepatnya berdebat sebentar lagi waktunya untuk latihan.

"Bagaimana kalau memakai playcard ini di awal pertandingan?"

"Cih, lebih baik memakainya pada akhir"

Tanpa sengaja tangan kami bersentuhan. Tubuhku seperti terkena sengatan listrik yang sanga aneh. Manager sialan langsung menarik tangannya dan aku mulai memakai poker face ku.

"Hei kau sudah memeriksa data shin bukan?"

"Ah iya sudah "

Sejenak aku lihat wajahnya kecewa tapi kenapa? Ngapain juga aku memikikan hal sialan seperti itu. Tak berapa lama akhirnya kami menemukan strategi yang cocok. Tepat waktu sekarang waktunya latihan neraka kekekeke.

"Sekarang siapkan handuk dan air cepat!''

"Tapi, latihankan belum dimulai"

"Kalau kukatakan siapkan ya siapkan tak usah cerewet!"

Mamori

Deg

Aku tahu Hiruma itu kasar tapi yang ini…. Ah sudahlah.

"Baiklah"

Aku langsung menyiapkan apa yang ia suruh. Selalu yang dipikiran Hiruma amefoto dan amefoto. Setelah aku menyiapkan semuanya aku langsung ditarik oleh Hiruma dan masuk kedalam truk. Disampingku ada Suzuna yang sudah mengoyang-goyangkan antenanya. Sedangkan Hiruma langsung keluar dari truk.

"Manager Sialan pegang setirnya!"

Cepat-cepat aku kemudikan truknya. Melalui kaca spion aku melihat semua anggota DDB mendorong truknya dari belakang menuju atas gunung. Sena juga ikut mendorongnya.

"Mamo-nee Sena itu kuat sekali," kata Suzuna.

"Eh"

"Kukira Mamo-nee berpikiran seperti itu"

Sena kuat? Ah iya aku hanya menganggapnya sebagai anak kecil sekarang Sena sudah besar bukan anak kecil lagi yang setiap saat harus dilindungi. Benar apa kata Hiruma Sena bukan anak kecil lagi. Setiap aku berfikir pasti yang muncul Hiruma. Padahal belum tenti Hiruma memikirkan ku.

"Manager Sialan jangan melamun terus"

Kok hiruma bisa tahu? Jangan-jangan Hiruma memperhatikanku. Ah jangan sampai aku melamun lagi nanti bisa-bisa ditegur lagi.

.

.

Sudah hamper empat jam mereka mendorong truk ini.

"Sudah cukup teri-teri sialan"

Aku turun dan tak lupa menarik rem tangannya.

"Istirahat 15 menit"

"Haah lelah max"

"Kau"

"Benar"

"Monyet"

"Fugo"

"Ini minuman dan handuknya"

Aku mulai membagikan minuman dan handuk ke semuanya. Hiruma ada dimana? Aku belum member minuman dan handuk kepada dia. Kuputuskan untuk mencari Hiruma. Ternyata dia tertidur di bawah pohon. Tampannya… Aku berinisiatif untuk mengelap keringatnya.

"Mau apa kau Manager sialan,'' Hiruma berbicara tanpa membuka matanya, aku sendiri sudah selesai mengelap keringatnya.

"Aku hanya melakukan tugasku itu saja"

"Apa menghawatirkan aku itu termasuk tugasmu?''

"tentu saja"

Ups aku salah ngomong. Pasti mukaku sekarang memerah.

"Kekekeke wajahmu seperti tomat busuk"

"Mou, Hiruma oh iya ini minumanmu"

"Hn, Sudah sana urusi saja Cebol Sialan itu"

Deg

Lagi-lagi perkataannya membuatku seperti ini lagi. Sepertinya aku agak sensitive hari ini.

"Yah baiklah"

Hiruma

Cih, tidak seperti yang ku harapkan. Seharusnya di marah-marah padaku lau berdebat lagi. Kuso kenapa aku ingin berdebat dengannya membuang waktuku saja.

"Istirahat habis, Kau Cebol Sialan lari menuruni gunung ini harus lebih cepat dari truk sialan ini yang lain naik ke truk!"

Semuanya menuruti perintahku. Memangnya ada yang berani membantahku. Manager Sialan saja yang biasanya melindungi Cebol Sialan diam saja. Ada apa dengannya biasanya dia cerewet dan lebih anehnya kenapa aku harus peduli dengan dia. Aku naik ke truk sedangkan yang lain ada dibelakang truk.

"Minggir Manager Sialan aku yang menyetir"

Dia langsung menyingkir.

"Ya-Ha"

Aku langsung menekan gasnya dengan kuat.

"Kya,'' manager sialan beteriak dan memeluk sebelah tanganku dan memejamkan matanya. Sedangkan cher sialan memegan sabuk pengaman dengan erat.

"Hiee"

Kekeke akan kubuat cebol sialan sulit untuk mengejar truk ini. Aku menekan gas lebih kuat lagi dan pelukan di tanganku menjadi lebih erat.

"Ini"

"Terlalu"

"Gila"

"Mukya"

Setelah sampai aku langsung menarik rem tangannya.

"Kya"

Lain kali akan ku ajak manager sialan melakukan hal seperti ini tingkahnya begitu lucu.

"Cie-cie Mamo-nee," kata Suzuna sambil menunjuk lengan yang dipeluk manager sialan.

"Ah reflek"

"Tak apa aku suka kok," bisikku.

"Eh kau bicara apa Hiruma-kun?"

"Memangnya aku bicara tadi?"

"Ah sudahlah"

.

Mamori

Apa tadi aku salah dengar ya? Tapi tadi terdengar jelas sekali. Tunggu dulu tadi saat menuruni gunung aku terus memeluk tangan Hiruma. Bearti sekitar satu jam setengah lebih aku memeluk tangan Hiruma. Tanpa melihatnya pun pipiku pasti memerah.

"Cepat turun Manager Sialan!"

"Baik"

Segera aku turun dari truk. Sekarang sih Hiruma tidak menyuruh kami apa-apa. Lebih baik aku mandi saja deh. Di dalam kamar aku melihat Suzuna sedang melamun.

"Dor, pasti lagi mikirin Sena"

"Hehe iya"

"Aku duluan mandi ya Suzuna"

"Ya Mamo-nee"

.

Aku sudah selesai mandi, Suzuna sedang mandi.

Tok tok Tok

"Iya tunggu sebentar"

Aku langsung membukakan pintu. Ternyata Sena.

"Ada apa Sena?"

"Eng ano eng…."

"Nyari Suzuna kan?"

"Ah i-iya," kata Sena gugup

"Suzunanya lagi mandi tunggu bentar ya"

"Mamori-neechan aku boleh masuk?"

"Silahkan"

Aku menutup pintu. Belum berapa lama aku mendengar suara pintu diketuk lagi.

Tok tok tok

"Biar aku yang buka Mamori-neechan," kebetulan Sena yang lebih dekat dengan pintu.

Setelah pintu dibuka terlihatlah setan bergigi tajam dengan anting yang menggantung di telingannya siapa lagi kalau buka Hiruma.

"Hiee Hiruma-san ada apa?"

"Keh tidak hany salah kamar saja," Hiruma langsung berbalik dank e kamarnya sendiri.

Sepertinya Hiruma tidak salah kamar dan ada perlu denganku. Kalau dia salah kamar kenapa dia mengetuk pintu terlebih dahulu? Ah sulit menebak apa yang dipikirkan Hiruma.

.

Hiruma

Ada apa denganku? Harusnya aku menarik Manager Sialan itu untuk membahas rapat strategi. Melihat Manager Sialan dan Cebol Sialan membuat hatiku panas saja. Cih apa yang kupikirkan memangnnya aku punya hati. Keh, Manager Sialan selalu saja membuat diriku menjadi aneh. Baka Kuso Mane. Kulirik jam dinding. Sudah waktunya rupanya. Kekeke bersiaplah teri-teri sialan.

.

"Teri-teri sialan cepat kemari dalam 10 detik," teriak Hiruma menggunakan toa.

Aku melihat Manager Sialan dan Cebol Sialan berlari bersampingan. Entah kenapa perasaan itu muncul kembali. Kuso apa yang terjadi padaku? Kulihat semuanya sudah berkumpul.

"Sekarang lari memutari villa ini 10 kali yang lambat akan mendapat hadiah dariku kekekeke," jelasku sambil menggosok-gosokan senjata kesayanganku.

"Hiee"

"Mukya "

"Ini"

"Terlalu"

"Gila"

"Hiruma-kun kau ini keterlaluan sekali"

"Memangnya kenapa heh?"

"Villa ini kan luas sekali"

"Lalu apa masalahya bodoh?"

"Mou, Susah ngomong sama kamu"

"Cerewet sudah sana urusi saja Cebol Sialan," aku langsung pergi dan memula latihan neraka.

" sudah sana Manager Sialan kerjakan saja yang menjadi tugasmu sehari-hari. Teri-teri Sialan bersiap menerima peluruku kekekeke"

Sepertinya Manager Sialan mengerti maksudku. Dia langsung mengambil handuk dan minuman. Ngapain juga aku harus memperhatikan dia. Aku mulai berlari mengelilingi villa ini sesekali menembaki Teri-teri Sialan.

Mamori

Dasar selalu seenaknya saja. Tapi dipikir-pikir kalau Hiruma tidak menekan kami sampai begini, kami semua tidak akan bisa sampai sejauh ini. Setelah selesai latihan lebih baik aku minta maaf dengan Hiruma.

.

.

"Latihan selesai Teri-teri Sialan, aku memberikan waktu bebas untuk kalian sampai besok"

Setelah berbicara begitu. Hiruma langsung mengambil minuman dan handuknya lalu pergi entah kemana. Aku mulai membagikan minuman dan handuknya. Setelah selesai aku melihat Hiruma masih tidak ada.

"Umm Suzuna kau tahu dimana Hiruma-kun"

"Cie-cie "

"Bukan begitu Suzuna"

"Gomen aku tidak tahu hehe"

"Ah Arigato"

Aku langsung mencari Hiruma. Kira-kira dia ada di mana? Ah itu dia, ada di belakang villa. Dasar Hiruma selalu saja menyendiri. Kulihat Hiruma sedang bermain dengan laptopnya.

"Gomen Hiruma-kun"

Kulihat Hiruma hanya menyeritkan alisnya.

"Yang tadi itu aku mungkin …"

"Sudahlah lupakan saja," Kata Hiruma sambil membereskan laptopnya.

"Eh"

Tiba-tiba titik-titik air turun dari langit awalnya hanya kecil tapi tiba-tiba menjadi deras sangat deras.

"Ah gawat hujannya deras sekali, Hiruma-kun ayo kita balik"

"Tanpa kau suruh aku juga akan balik bodoh"

Hiruma melepaskan jaketnya dan memberinya kepadaku.

"Walaupun bodohkau tetap bisa sakit bodoh"

"Kau sendiri?"

"Setan mana bisa sakit bodoh"

"Mou, bisa tidak kau hilangkan kata bodohmu itu"

"Tidak, ayo cepat," Hiruma berlari sambil memegang tanganku.

Aku dan Hiruma berlari bersama-sama. Kepalaku tertutupi jaket hiruma sedangkan Hiruma sendiri tidak memakai apapun untuk menghalangi air hujan. Akhirnya aku dan Hiruma sampai didepan kamar kami masing-masing.

"Cuci jaketku lalu kembalikan"

"Kau tidak apa-apakan?"

"Memangnya aku kenapa bodoh"

"Baguslah kalau kau tidak apa-apa"

Aku masuk kedalam kamarku. Kulihat Suzuna tidak ada. Bisa gawat kalau dia ada di luar kamar. Kulihat dikasur Sizuna ada catatan kecil.

Mamo-nee aku ke kamar Sena dan Monta.

Suzuna

Syukurlah Suzuna tidak kehujanan. Hujannnya besar sekali, lebih balik aku memasak sup hangat untuk Hiruma. Tapi sebelumnya aku harus mengeringkan badanku dulu. Aku meminta ijin kepada guru dan mulai memasak sup hangat. Selesai memasak sup hangat aku langsung ke kamar Hiruma. Kuketuk pintunya. Tak ada jawaban. Apa dia sedang tidur? Kuputuskan untuk langsung membuka pintu. Niatku kan baik.

"Hiruma-kun aku buatkan sup hangat kau mau?"

Kunyalakan lampu dan terlihatlah Hiruma sedang tidur. Pecuma dong aku buatkan sup hangat untuknya. Ku taruh sup hangatnya ke meja. Kuperhatkan wajahnya sangat tampan salah sangat amat tampan. Wajahnya tenang, damai, ingin aku terus melihatnya seperti ini. Tanpa sadar tanganku membelai kepalanya. Dahi Hiruma panas jangan-jangan Hiruma demam gara-gara hujan tadi.

"Kau mengganggu tidurku Manager Sialan"

"Kau demam Hiruma-Kun"

"Bukan urusanmu"

"Aku meng- Kau kan anggota DDB jadi itu adalah urusanku juga"

Hampir aku mau mengatakan menghawatikan Hiruma.

"Keh terserah apa katamu"

"Oh iya ini aku buatkan Sup Hangat untuk mu"

Pas sekali bukan aku membuatkan sup hangat aku membuatnya dengat cinta. Aduh Mamori aku ini mikir apa sih.

"Bagaimana rasanya Hiruma-kun?"

"Biasa saja"

Percuma aku mengharapkan Hiruma Untuk memuji masakanku.

"Kau tidur saja Hiruma-kun aku akan mengambilkan obat Demam dulu"

"Jangan pergi kau disini saja"

"B-baiklah"

Mustahil Hiruma berkata seperti itu. Dengan lembut pula. Kupikir dia akan berkata "sudah sana pergi aku tidak membutuhkan bantuaanmu" setelah kupastikan Hiruma tidur. Aku segera pergi untuk mengambil baskom beserta air dingin dan oba demam.

Hiruma

Tanpa melihatpun aku sudah tau yang tadi membelai kepalaku pasti Manager Sialan. Memangnya siapa lagi yang bisa membuat arus listrik dalam tubuhku saat bersentuhan dengannya. Dasar kenapa harus pakai demam segala sih merepotkan saja.

Pluk

Apa ini di dahiku terasa dingin. Aku membuka mataku.

"Ah kau bangun nih minum obat dulu"

Dasar obat sialan harusnya aku tidak membuka mataku.

"Tidak mau "

"Mou, kau itu harus minum obat"

"Kalau aku tidak mau?"

"Mamangnya siapa yang akan memimpin latihan selain kau, kaukan kaptenya"

"Sudah mulai berani rupanya"

"Sudahlah ini obatnya"

"Cih"

Dasar aku paling tidak suka obat. Obat itu baunya aneh dan pahit. Dengan cepat aku meminum obatnya, pahit.

"Keh lain kali aku tidak akan mau minum obat lagi"

"Jangan begitu Hiruma-kun sudah sana tidur lagi"

"Keh jangan mengaturku"

Aku mulai memejamkan mataku dan mulai tidur. Manager Sialan benar aku sangat membutuhkan tidur sekarang.

.

.

Mamori

Sudah jam 12 sekarang dan aku masih terjaga hujan sudah agak reda. Aku tidak boleh tidur.

"Ma-mo-ri," Gumam Hiruma.

"Hiruma-kun?"

Tadi Hiruma memanggil namaku. Kalau yang melakukannya itu bukan Hiruma sih biasa saja. Hiruma mengigau tantang aku. Kira-kira hiruma bermimpi apa tentangku? Kugantikan kain di dahinya dan kutaruh lagi. Rambut Hiruma sangat lembut dan harum. Andai saja aku bisa setiap hari bersamanya. Sudahlah lupakan saja. Mataku mulai tertutup. Entah jam berapa aku ketiduran.

Hiruma

Semalam aku bermimpi aku dan Manager Sialan serumah dan sangat mesra. Kepalaku dibelai olehnya. Cih seperti bukan aku saja memikirkan hal sialan seperti ini. Kulihat manager sialan tertidur pasti dia lelah menjagaku semalamman. Kupindahkan tubuhnya ke kasurku dan kuselimuti dia. Selesai melakukan hal sialan aku langsung mandi dan merencanakan sesuatu. Rencana itu harus aku laksanakan secepat mungkin. Aku sudah cukup menderita dibuatnya.

"Selamat tidur Manager Sialan, ketika kau bangun kau akan mendapatkan hadiah special dariku kekekeke"

TBC

.

.

Bagaimana apa lebih bagus dari yang sebelumnya?

Review ?