Hola Minna. semoga gak bosen dengan fic baru nan abal saya.

Karena lagi hilang minat ngelanjutin fic yang ada, ini sekadar refreshing aja.

Menuh-menuhin rate m aja deh... wkwkwkwk

DISCLAIMER : TITE KUBO

WARNING : OOC, AU, MISSTYPO(sulit hilang), GAJE, Ide pasaran, Mudah ketebak.

Attention : Fic ini hanyalah fiksa belaka. apabila terdapat kesamaan di dalam fic ataupun cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak sengaja. ini hanyalah inspirasi iseng yang nerobos masuk ke dalam kepala saja. mohon maafkan kalau terjadi kekeliruan.

.

.

.

"Ulquiorra kemari? Lalu... dimana dia?" tanya Rukia bingung.

Aizen, yang diketahui sebagai asisten suaminya itu masuk dengan ragu ke ruangannya sambil membawa sekotak cake. Cake ini adalah cake yang dijanjikan oleh kakek koboi itu untuk diberikan pada Rukia. Dan Rukia tak menyangka kalau cake ini dibawa oleh suaminya. Tapi kenapa...

"Schiffer-Sama bilang, kalau dia ada rapat dadakan dan harus segera ke sana. Makanya tidak sempat memberikan ini."

Rukia tertegun lesu. Ichigo sudah keluar dari ruangannya sejak lima menit yang lalu. Kemudian Aizen masuk memberitahu semua ini. dengan setengah hati, Rukia menerima kotak cake itu. Aizen keluar setelah menyelesaikan tugasnya.

Seharusnya... Ulquiorra masuk saja ke ruangannya. Selama menikah ini, Ulquiorra tak pernah sekalipun mengunjunginya. Rukia pernah mengunjunginya beberapa kali di awal pernikahan, tapi tak pernah bertemu karena Ulquiorra sibuk bukan main. Setelah ruangannya sepi hanya tinggal Rukia seorang, wanita mungil ini terduduk dengan lesu di kursi kerjanya. Sambil menatap kosong pada kotak cake itu.

Benarkah pernikahannya ini sama sekali tidak ada harapan lagi?

Mungkin kalau Ulquiorra sedikit saja bisa memahaminya, sedikit membuka hatinya untuk Rukia, dan sedikit perhatiannya pada Rukia, tentu saja kesalahan ini tak akan terjadi. Tentu saja Rukia perlahan-lahan akan mengerti suaminya dan memahami suaminya. Tapi selama ini Rukia-lah yang berusaha memahami Ulquiorra. Sejenak Rukia berpikir, bahwa Ichigo-lah yang dia cintai. Pria itulah yang menempati hatinya. Seluruh hati dan tubuh Rukia miliknya. Bukan suaminya.

Tapi kemudian pemikiran itu berubah ketika hatinya berubah jadi begini sakit saat suaminya pun sama sekali tidak memperhatikannya. Apa susahnya hanya mengantarkan kotak cake ini padanya? Apa susahnya berbasa basi sejenak pada Rukia? Padahal jarak tempuh dari tempat Rukia dan kantor Ulquiorra tak begitu jauh, apalagi dia naik mobil. Kalaupun rapat penting, masa sih tak bisa ditunda barang 20 menit sampai setengah jam?

Rukia menatap cincin pernikahannya di jari manis kirinya. Apakah pernikahannya tak ada lagi harapan?

.

.

*KIN*

.

.

Entah kenapa sejak hari itu, sejak kotak cake itu, Ulquiorra jadi jarang pulang. Dia selalu lembur di kantornya. Dia pulang setelah Rukia tidur dan pergi sebelum Rukia bangun. Ulquiorra juga tak pernah menghubunginya sama sekali. Rukia lelah seperti ini.

Kebetulan ini adalah hari peluncuran desain barunya. Rukia sudah berpesan pada Ulquiorra agar dia hadir via telepon. Tapi suaminya bilang tak mungkin datang karena begitu banyak rapat dan pekerjaan. Rukia akhirnya langsung menghentikan pembicaraan dan tidak membujuk suaminya lagi. Kali ini sudah diambang batas. Ini adalah batas yang Rukia sanggup tempuh selama ini. Bayangkan kalau galon yang setiap saat diisi oleh air, suatu saat air itu akan sampai ke mulut galon dan tumpah kan? Itulah Rukia saat ini. Dia tak sanggup lagi menghadapi suaminya. Kali ini Rukia akan mencari cara agar Ulquiorra segera menceraikannya. Dia tak peduli lagi apa kata keluarganya. Dia tak peduli lagi bagaimana reaksi kakek dan kakaknya nanti. Kalau memang karena perceraiannya dengan Ulquiorra bisa menimbulkan masalah, Rukia siap keluar dari Kuchiki. Siap hidup sendirian. Kalau perlu dia akan menetap di luar Jepang seperti saran Ichigo dulu. Dan kalau perlu, Rukia akan membawa Ichigo serta.

Ughh!

Rukia menutup mulutnya. Ada perasaan mual dalam perutnya. Padahal ini hari penting. Apa ada yang Rukia makan? Atau dia memang salah makan?

Rukia berkali-kali muntah di kamar mandi itu. Dan untungnya banyak orang yang belum sadar karena sibuk dengan show kali ini. keringat dingin mengucur dari keningnya. Rasanya seluruh isi perutnya sudah keluar akibat mual tadi. Kenapa dengan perutnya ini?

Rukia berusaha mengendalikan mual di perutnya dan berjalan biasa menuju aula show itu. Semuanya sudah siap dan model-model pun sudah selesai dia lihat tadi. Pakaian sudah tidak ada masalah. Suasana begitu ramai dan banyak sekali wartawan yang meliput. Rukia juga sempat memberikan salam dan mengobrol dengan beberapa desainer top lainnya. Juga beberapa pemilik brand terkenal yang tertarik dengan rancangan Rukia.

Ughh!

Jangan lagi. Tolong jangan sekarang. Rukia memohon penuh harap pada perutnya ini. jangan sampai mual di saat penting seperti ini. sambil berusaha menahan mualnya, Rukia melirik ke arah panggung. Ichigo keluar dari lantai catwalk itu sebagai model utama. Tentu saja banyak terpukau pada model terkenal itu. Sekilas Rukia melihat pria tampan itu tampak mengedarkan pandangannya. Dan ketika dari jarak yang lumayan dari atas panggung ke tempat Rukia itu, Ichigo berhasil menemukannya dan tersenyum lebar. Rukia tersenyum balik.

Puncak acarapun tiba. Semua model berjejer keluar dari belakang panggung dan Rukia juga keluar di temani oleh sang model utama. Dengan senyumnya, Rukia menyambut berbagai karangan bunga yang diberikan padanya. Dan saat itulah... karena kilatan lampu blitz kamera dan suasana yang tidak nyaman itu membuatnya kembali mual dan pusing. Puncaknya, Rukia tak sadarkan diri dan reflek jatuh di samping sang model utama.

Ichigo menangkap tubuh Rukia dan langsung panik.

.

.

*KIN*

.

.

"Pingsan katamu?"

Ulquiorra segera berdiri dari kursi ruangannya dan bergegas menuju rumah sakit yang dimaksud oleh salah satu karyawan isterinya itu.

Menurut info, Rukia jatuh pingsan saat acara puncak show-nya. Seharusnya Ulquiorra datang saja. Toh selama ini tugasnya tidak begitu banyak, malah terkesan kosong. Tapi Ulquiorra tak sanggup melihat isterinya setelah insiden kotak cake itu. Setiap kali melihat Rukia, Ulquiorra akan teringat kejadian itu, dan membuatnya berpikir kalau dia adalah pria jahat yang memisahkan wanita itu dari kekasih yang dia cintai. Bukannya marah karena isterinya selingkuh di depan matanya. Tapi ini adalah resiko yang harus Ulquiorra tanggung.

Panik. Tentu saja panik. Ulquiorra langsung menyetir mobilnya sendiri menuju rumah sakit itu. Dia belum berani memberitahukan kondisi Rukia pada keluarganya dan keluarga Rukia kalau kondisinya belum pasti. Dia tak ingin keluarganya panik. Apalagi kakek Ginrei tampak kurang sehat belakangan ini. Ulquiorra tahu itu karena kakek Barragan menghubunginya beberapa waktu lalu. Barragan juga berpesan agar jangan memberitahu Rukia supaya wanita itu tidak panik.

Ulquiorra sampai di rumah sakit itu dan langsung berlari panik mencari ruangan isterinya dirawat.

Menanyakan pada perawat dan akhirnya menemukan kamar itu. Tapi karena Ulquiorra sendiri masih panik, dia langsung menerobos ruangan isterinya tanpa ijin. Ternyata... isterinya sedang berbaring di ranjang rumah sakit itu. Tidak sendirian. Seorang pria berambut orange sedang duduk di sisi isterinya sambil menggenggam tangan Rukia dan mengelus rambut Rukia penuh sayang. Wajah pria itu juga nampak begitu senang dan bahagia. Apakah isterinya sakit, dia sesenang itu?

"Ulquiorra?" panggil Rukia menyadari suaminya ini sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan bingung. Pria berambut orange itu langsung memandang datar pada Ulquiorra. Tidak melepaskan genggaman tangannya pada Rukia.

"Ichigo... kau keluar dulu. Ada yang ingin kubicarakan dengannya." Ujar Rukia.

"Yah. Kau harus bicarakan. Aku tunggu kabar baiknya. Rukia..."

Ichigo langsung berdiri dan mengelus sekilas kening Rukia. Berjalan dengan wajah datar dan berpapasan pada Ulquiorra. Tampaknya pria itu tampak tak begitu menyukai Ulquiorra. Dan anehnya, kenapa pria itu tidak gugup atau takut begitu melihat Ulquiorra yang jelas-jelas adalah suami sah Rukia?

Ulquiorra berjalan pelan menuju ranjang isterinya. Rukia juga ikut memandangnya tanpa ekspresi. Datar saja.

"Dia Ichigo. Ini pertama kalinya kau melihatnya ya? Tapi Ichigo sering melihatmu." Jelas Rukia seperti mengartikan ekspresi tanya Ulquiorra itu. Padahal maksudnya, Ulquiorra ingin tahu apa yang ingin dibicarakan dengannya. Kelihatannya Rukia serius ingin mengenalkan selingkuhannya itu pada Ulquiorra.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ulquiorra datar pada isterinya. Dia hanya berdiri di sisi ranjang Rukia.

"Aku akan langsung saja. Sekarang... kau punya alasan untuk menceraikanku, Ulquiorra."

Kata-kata itu telak mengenai hati Ulquiorra. Sesaat wajahnya yang pucat dan datar itu berubah gugup dan terkejut. Apakah... saatnya memang sudah tiba?

"Rukia..."

"Aku..." Rukia meneguk ludahnya dengan susah payah dan menghela nafas yang tersendat. Bibirnya bergetar gugup. Beberapa saat kemudian dia menggigit bibir bawahnya lalu menghela nafas panjang. Dan akhirnya menatap Ulquiorra.

"Aku... hamil."

Seketika itu pula rasanya langit runtuh dan bumi terasa berguncang di sekitar Ulquiorra. Ingin sekali rasanya dia berteriak kencang dan membunuh pria sialan itu. Tapi kenapa? Kenapa Ulquiorra marah? Ini... bukan salah wanita ini. Ini salahnya.

Ulquiorra sudah pasti tahu anak yang dikandung Rukia bukanlah anaknya. Pasti itu anak pria berambut orange yang dipanggil Ichigo oleh Rukia tadi. Pantas saja wajah pria itu senang bukan main. Dan akhirnya Ulquiorra malah tertawa garing.

"Bolehkah aku memberikanmu selamat?" akhirnya justru kata itu yang keluar.

"Boleh." Jawab Rukia singkat.

"Selamat."

Mereka terdiam sesaat. Ekspresi pedih itu tak bisa dihilangkan dari wajah Ulquiorra. Seharusnya kau senang isterimu hamil. Tapi... kalau bukan milikmu... apa yang bisa kau senangkan?

"Jadi..." desak Rukia menyadari Ulquiorra hanya diam saja.

"Baiklah. Besok aku akan mengurusnya. Oh ya, kalau bisa, kau jangan katakan apapun soal kehamilanmu pada keluargaku atau keluargamu. Kita tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kan?"

"Aku tahu."

"Setelah kita... bercerai... apa rencanamu selanjutnya?"

"Pergi dari Jepang. Mungkin... kita tak akan pernah bertemu lagi."

"Bolehkah aku merindukanmu?"

Rukia menatap intens bola mata hijau itu. Mata Ulquiorra terlihat begitu serius padanya. Begitu tulus.

BRAAK!

"Ginrei Jii-Sama! Jii-Sama!"

Ulquiorra dan Rukia langsung serentak menoleh ke pintu masuk ruangan Rukia. Begitu Ulquiorra berlari membuka pintu, ternyata Byakuya tengah memapah kakek Ginrei yang mendadak tak sadarkan diri di depan pintu ruangannya. Mata ungu Rukia terbelalak lebar dan langsung turun dari ranjangnya menghampiri dua orang itu.

"Jii-Sama!" pekik Rukia.

Tapi Byakuya langsung mengabaikannya dan meminta perawat segera membawa kakeknya untuk segera diperiksa. Rukia jatuh terduduk di depan pintu ruangannya tak sanggup bergerak dan menangis histeris ketika melihat kakeknya dibawa pergi itu.

Ulquiorra serba salah menatap keadaan ini. bagaimana bisa kakak dan kakek iparnya datang di saat seperti tadi? Apa sebenarnya yang terjadi.

Mungkin karena histeris tadi, Rukia kembali tak sadarkan diri. Pasti berpengaruh pada janin dalam kandungannya. Dan untungnya pria berambut orange itu tidak ada di sekitar sini. Karena bisa saja Byakuya akan langsung mencincangnya.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia membuka matanya perlahan. Dia hanya sebentar kehilangan kesadarannya. Dan kini, matanya terbelalak lebar kala melihat kakaknya berdiri di dekatnya dengan penuh emosi itu. Ulquiorra berdiri di belakang Byakuya. Tapi sepertinya pria berkulit pucat itu tidak mampu menahan Byakuya. Rukia takut. Sungguh takut menghadapi kakaknya yang seperti ini.

"Katakan... katakan yang sebenarnya Rukia." Tanya Byakuya dengan nada dingin yang begitu menusuk. Seolah-olah ingin segera membunuh sesuatu.

Rukia yang langsung duduk di ranjangnya, masih menundukkan kepalanya dan menggenggam erat selimutnya. Tangan, bibir, bahkan tubuhnya bergetar hebat.

"Nii-sama. Kumohon tenanglah." Sela Ulquiorra.

"Katakan yang sebenarnya Rukia! Jangan diam saja! Anak siapa yang kau kandung itu!"

Rukia tersentak kaget mendengar pekikan kakaknya itu. Tanpa sadar Rukia malah menangis. Sepertinya yang kakak maupun kakeknya sudah mendengarkan semuanya.

"Kau sungguh jahat! Kau membuat malu nama Kuchiki! Kau membuat Ginrei Jii-Sama tidak sadarkan diri, dan kau... apa yang kau pikirkan Rukia?"

"Nii-sama. Bicara denganku saja. Tinggalkan Rukia dulu. Dia bisa―"

"Kau jangan membelanya! Bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan semua ini. Kalian berdua... kalian sudah setahun menikah dan menyembunyikan semua ini? Kalian anggap apa pernikahan itu?" bentak Byakuya. Wajar kalau kakaknya marah saat ini. sangat marah malah. Rukia masih menangis dan diam. Tak mampu mengatakan apapun lagi.

"Ini tidak ada sangkutpautnya dengan Rukia. Ini salahku. Karena aku tidak mencintainya, makanya Rukia begini. Ini salahku karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik. Tolong jangan menyalahkan Rukia. Dia sudah cukup menderita selama ini." masih Ulquiorra mengatakan hal yang baik. Dan sesuai janjinya kalau dia akan berusaha semaksimal mungkin agar Rukia tak disalahkan.

"Meskipun kau membelanya seperti itu, ini tetap salahnya. Sudah seharusnya dia menjalankan kewajibannya itu. Terserah kalian apapun yang kalian inginkan. Tapi ingat. Anak itu tetap tidak akan pernah diterima di keluarga Kuchiki. Dan jika hal buruk terjadi pada Ginrei Jii-Sama, itu adalah tanggung jawabmu Rukia!"

Byakuya langsung keluar dari kamar Rukia.

Ini adalah resiko yang harus Rukia terima. Buah dari perbuatannya selama ini. Ada sedikit penyesalan memang ketika melihat kakeknya tadi seperti itu. Tapi apa yang bisa Rukia lakukan? Tidak ada.

Ulquiorra serba salah menanggapi masalah ini. Dan dia sendiri tidak menyangka kalau masalah ini akan terungkap begini cepat dan begini besar. Kenapa harus ada dua orang itu. Melihat Rukia yang tetap menangis seperti ini rasanya sungguh menyakitkan.

Ulquiorra melangkah untuk mendekati isterinya itu. Mencoba menenangkannya.

"Akhh! Sakit... Ulquiorra... sakit. Perutku sakit..." erang Rukia memegangi perutnya begitu erat dan wajahnya kesakitan. Ulquiorra panik dan menghampiri isterinya itu. Sepertinya perut dan janinnya memang bermasalah. Ulquiorra dengan panik langsung keluar dari kamar Rukia dan mencoba mencegat dokter mana saja yang bisa dia temui. Bisa gawat kalau ada yang terjadi pada Rukia. Apalagi pada janinnya.

Nah... apa yang Ulquiorra pikirkan sekarang?

Janin siapa itu?

Bukan milik Ulquiorra. Bukan miliknya. Itu adalah milik orang lain.

.

.

*KIN*

.

.

"Syok dan stress. Kalau dua hal ini terjadi bersamaan, akan mempengaruhi kondisi janin dan ibunya. Di minggu awal kehamilan memang seperti ini. Rentan sekali. Jadi sekecil apapun kondisi yang bisa membuatnya syok dan stress akan berakibat fatal pada janinnya. Mulai sekarang, biarkan pasien istirahat dulu. Jangan dibebankan pada pikiran yang bisa membuatnya stress tiba-tiba dan syok." Jelas dokter itu.

Janin Rukia nyaris saja bermasalah karena hal ini. Ulquiorra mendesah lega setelah dokter itu menstabilkan kondisi isterinya yang sekarang sudah tertidur lelap. Mungkin karena pengaruh dari obat yang diberikan tadi. Setelah dokter itu keluar, Ulquiorra mengambil tempat duduk di sebelah kasur Rukia. Wanita mungil ini begitu lelap tertidur. Andaikan semua ini bisa lebih cepat diatasi, tentu saja tidak akan berbuntut panjang seperti ini. Lalu apa yang sebaiknya dia lakukan sekarang ini?

"Rukia-chan?"

Ulquiorra menoleh ke arah pintu masuk. Kakek Baraggan masuk dan langsung menerobos mendekati tempat tidur Rukia. Ulquiorra memberi salam pada kakeknya yang tampak begitu khawatir pada Rukia.

"Apa... apa yang terjadi padanya?" tanya Baraggan panik.

"Jii-Sama..."

"Ginrei juga ada masalah. Baru saja Byakuya memberitahuku. Ada apa sebenarnya ini Ulquiorra? Kudengar... ini ada hubungan dengan pernikahan kalian?"

Ulquiorra meminta Baraggan untuk keluar sebentar dan bicara dengannya. Ulquiorra membawa kakek koboi itu bicara di kantin rumah sakit. Meninggalkan Rukia sejenak yang masih tertidur lelap. Ulquiorra menceritakan semuanya pada kakeknya. Berharap Baraggan adalah satu-satunya orang yang mengerti kondisinya saat ini. Ulquiorra tahu kakeknya adalah orang yang fleksibel dan tidak memusingkan. Sekarang Ulquiorra sudah tak tahu harus bersikap bagaimana dengan masalah ini. Dia satu sisi dia ingin membiarkan Rukia bahagia. Tapi di sisi lain, dia tidak rela melepaskan wanita itu.

"Siapa pria sialan itu! Biar kutembak dengan senapanku karena berani membuat cucu kesayanganku begini menderita!" bentak Baraggan emosi. Sungguh bukan respon yang baik mau di dengar Ulquiorra.

"Jii-Sama..."

"Kalau kau laki-laki kenapa diam saja melihat isterimu disentuh laki-laki lain! Kau ini normal tidak hah? Bodoh sekali... wajar saja Ginrei sampai pingsan. Apa kau tidak tahu kondisi kakek itu sudah buruk. Malah kau tambah dengan masalah kalian yang konyol ini!"

"Lalu aku harus bagaimana? Rukia tidak pernah mencintaiku. Bagaimana mungkin aku―"

"Karena kau tidak mau berusaha! Rukia-chan itu bukanlah wanita yang sulit. Dia itu wanita yang begitu mudah diambil hatinya. Kau tinggal berikan perhatianmu padanya. Katakan kau mencintainya dengan tulus dan akan belajar memahami apa yang dia inginkan. Juga mencintai seluruh yang ada di dirinya. Kalau kau sudah begitu, wanita mana yang tidak akan luluh? Heh! Kau itu bukanlah pria mengerikan yang mirip terpidana kasus pembunuhan tahu! Ataupun mafia kelas kakap. Kau tampan. Masa tidak bisa meluluhkan hati satu wanita?"

Ulquiorra diam. Yah... selain seorang traveling, koboi, dan joki kuda yang hebat, kakeknya ini di jaman dulu adalah seorang playboy kelas kakap. Wajar saja bisa punya nasihat seperti itu.

"Aku bukan Jii-Sama. Lagipula... Rukia bukan wanita gampangan seperti itu."

"Kau pikir kenapa aku mau menjodohkanmu dengan Rukia-chan?"

Yah... yang Ulquiorra tahu adalah mereka dijodohkan karena masalah hubungan baik kedua kakek mereka.

"Karena aku mau melihatmu berusaha untuk mendapatkan hati seorang wanita. Aku sempat takut kau ini normal atau tidak. masa tidak pernah membawa satupun wanita untuk dikenalkan padaku? Dan aku memilih Rukia-chan untukmu karena dia adalah wanita baik. Dia tidak akan jadi seperti itu kalau bukan karena kau. Kalau kau memperhatikannya dengan sungguh-sungguh dia pasti akan jatuh cinta juga padamu. Dia itu bukanlah tipe wanita yang bisa berkhianat dengan mudah. Dan karena kecerobohanmu ini, masalahnya bisa jadi lebih rumit. Apalagi... astaga!"

Ulquiorra tahu itu. Setiap kali Ulquiorra mengatakan soal perceraian, Rukia pasti akan marah dan membencinya. Rukia memang sangat baik. Tapi buat apa kalau...

Yah... karena selama ini Ulquiorra-lah yang tidak mau membuat wanita itu mencintainya. Dia hanya takut. Takut kalau-kalau Rukia menolaknya. Hanya itu.

"Sekarang... terserah pada kalian mau apa. Aku tidak bisa ikut campur lagi. Ini sudah terlambat. Tapi Ulquiorra... jika nanti Tuhan memberikan kalian kesempatan kedua, kumohon jangan disia-siakan lagi. Buatlah Rukia-chan jatuh cinta padamu. Sesulit apapun, kau harus membuat Rukia-chan bahagia. Apa kau tahu sesulit apa berada di bawah tekanan Kuchiki? Dan aku akan selalu berdoa kalau kesempatan kedua itu akan datang sesulit apapun."

.

.

*KIN*

.

.

Rukia menyaksikan percakapan antara Ulquiorra dan kakek koboi-nya itu. Mereka tampak begitu serius.

Cepat atau lambat Rukia harus membuat keputusan.

Karena itu, dengan langkah tertatih dia menuju kamar rawat dadakan kakek Ginrei. Di sana masih ada kakak angkatnya yang menjaga kakeknya. Dengan linangan air mata, Rukia diam mematung di sana. Ada rasa bersalah menghiasi hatinya. Tentu saja rasa bersalah yang luar biasa.

Sambil mengelus perutnya, Rukia menunduk dalam di depan pintu ruangan itu.

"Rukia?"

Rukia menoleh dan mendapati Ulquiorra berdiri tak jauh darinya.

"Kau sedang apa? Kau masih sakit. Kembalilah dulu dan kita―"

"Selamat tinggal Ulquiorra."

Ulquiorra menghentikan langkahnya mendekati Rukia. Wanita itu tersenyum penuh arti padanya.

"Apa... maksudmu?"

"Aku sudah memutuskannya. Dan aku yakin ini keputusan yang terbaik."

"Rukia..."

"Aku sudah memutuskan akan keluar dari Kuchiki dan bercerai denganmu. Jadi... kita harus berpisah. Aku akan pergi dari Jepang dan hidup bersama... Ichigo. Aku tidak mau menyulitkan siapapun lagi. Kalau aku menghilang, tentu saja semua akan baik-baik saja bukan?"

"Tidak. tidak akan ada yang baik kalau kau menghilang."

"Lepaskan aku. Kumohon. Bisakah kali ini... kau mengabulkannya?"

Dihadapkan pada pilihan serba sulit begini memang menyakitkan. Ulquiorra sudah merasa tidak punya pilihan lain. Terlalu banyak pertimbangan justru akan menyakiti wanita ini lagi.

"Baiklah... aku... akan menceraikanmu. Besok." Begitulah yang akhirnya Ulquiorra putuskan. Sepertinya tidak ada yang bisa dia selamatkan lagi.

"Terima kasih."

"Tapi..."

Rukia berhenti dan menunggu kata-kata pria itu.

"Kalau ada... kesempatan kedua... bolehkah aku... berusaha sekali lagi?"

Rukia memandang penuh tanya pada Ulquiorra.

"Untuk apa?" tanya Rukia akhirnya.

"Bolehkah aku... berusaha untuk... membuatmu jatuh cinta padaku?"

Mereka hanya diam. Terlebih lagi Rukia.

Rukia tak bisa berkomentar apapun. Tapi di dalam hatinya dia ingin sekali berteriak kencang. Kenapa tidak dari awal pria ini berusaha seperti ini? kenapa tidak dari awal Ulquiorra mengatakan hal ini? kenapa tidak dari awal?

Tapi tidak. kalau Rukia seperti itu, hatinya akan goyah dan malah memberikan harapan muluk pada Ulquiorra. Dia tidak ingin membuat pria itu kembali kecewa dengan kenyataan mereka. Dan Rukia sama sekali tidak mengatakan apapun. Tidak.

.

.

*KIN*

.

.

Semenjak perceraian mereka, dan tentunya Ulquiorra-lah yang mengurus semuanya. Rukia hanya datang sekali ketika sidang terakhir mereka. Setelah surat perceraian mereka keluar, baik Ulquiorra maupun Rukia sama sekali tidak banyak bicara. Rukia juga sudah keluar dari Kuchiki. Meski Rukia tidak tahu apakah semua ini sudah disetujui oleh kakak dan kakeknya. Tapi Rukia tak ingin lagi mereka terlampau sakit hati pada Rukia. Byakuya juga tidak ingin bertemu Rukia lagi. Dan itu lebih baik. Meskipun Rukia tahu kondisi kakeknya sedang tidak bagus, tapi Rukia tahu kakeknya bisa bertahan.

Rukia juga tidak sanggup bertemu dengan kakek Baraggan. Kalau dia bertemu kakek itu, tentu akan ada banyak rasa bersalah datang padanya. Jadi... lebih baik, tidak perlu. Tidak perlu lagi berurusan dengan mereka.

Dan ini sudah berlalu satu bulan tepat. Setelah menyelesaikan proyek terakhir Ichigo, mereka akan pergi dari Jepang dan menikah secepatnya. Walaupun jadinya, gosip tidak sedap sedang melanda Ichigo. Tapi Ichigo tampak tak begitu peduli. Dia tinggal menyelesaikannya sedikit lagi. Dan untungnya Rukia sudah tinggal di apartemen miliknya. Melihat wanita yang dicintainya sudah datang padanya, Ichigo semakin membulatkan tekad untuk meninggalkan Jepang. Apalagi dengan benih yang mulai tumbuh di dalam diri Rukia.

Rukia juga sudah tidak lagi bekerja di butiknya dan butik itu juga diambil alih oleh desainer lain. Sekarang Rukia tak banyak menampakkan diri lagi sebagai desainer ternama. Dia... benar-benar ingin menghilang saja.

"Tadaima!"

"Okaeri..."

Ichigo langsung memeluk Rukia dari belakang menyadari wanita mungil itu tengah memasak makan malam. Kehidupan seperti inilah yang mereka inginkan.

Kandungan Rukia sudah menginjak bulan kedua. Memang belum sepenuhnya kelihatan. Tapi Ichigo cukup senang. Tidak ada lagi airmata yang turun dari mata indah Rukia. Hanya ada senyuman tulus untuk pria yang dicintainya.

Setelah makan malam itu, Rukia duduk bersandar di sofa, sedangkan Ichigo berbaring di sofa itu berbantalkan pangkuan Rukia. Sesekali Ichigo mengecup perut Rukia yang belum terlihat itu. Mereka tengah menonton TV. Rukia selalu menikmati momen seperti ini.

"Kau tidak kelelahan bukan?" tanya Ichigo.

"Tidak. seharian ada di rumah bagaimana bisa kelelahan?"

"Kata dokter kandunganmu masih sangat rentan Rukia. Jadi tidak boleh kelelahan dan stress. Kalau kau kelelahan dan stress bisa membahayakan―"

"Kau sudah ratusan kali mengatakan hal itu. Aku bosan tahu. Tenang saja. Selama ada kau aku akan baik-baik saja. Ok?"

"Lusa kita sudah bisa berangkat."

"Hmm... aku sudah tidak sabar.

Ichigo mengubah posisinya menjadi duduk dan menyandarkan kepala Rukia di dadanya. Mengecup puncak kepala wanita itu dan mengelus perutnya juga. Ichigo... sangat ingin bahagia bersama pemuda ini.

"Rukia..."

"Hmm...?"

"Aku sudah pernah bilang kan? Apapun yang kau inginkan adalah keinginanku juga. Aku selalu ingin kau bahagia. Makanya dulu... aku melepaskanmu untuk menikah dengan pria yang... mungkin bisa membuatmu bahagia. Sekarang... aku tidak mau melepaskanmu. Tapi... jika nanti ada saat dimana aku... tidak bisa membahagiakanmu, aku janji akan melepaskanmu lagi."

"Ichigo..."

"Asal kau bahagia Rukia. Jadi... sebelum kita benar-benar pergi, aku ingin kau benar-benar menetapkan hatimu. Jangan ada kebimbangan lagi. Kalau menurutmu, kau bisa bahagia ikut denganku, maka aku akan membawamu. Tapi... jika kau tidak bisa bahagia denganku, maka aku tidak akan membawamu."

"Kenapa kau bicara begitu?"

"Karena aku ingin yang terbaik untukmu. Ketahuilah Rukia, aku bukan pria egois. Jadi... kalau menurutmu ini tidak baik, maka kau bisa berhenti. Aku selalu mendoakan kebahagiaan untukmu."

"Kau ini bicara apa Ichigo! Aku tidak suka kau bicara begitu! Apa kau tidak menginginkanku? Menurutmu... aku menyesal ikut denganmu?"

"Rukia... bukan begitu..."

"Lalu apa! Kau... membuatku... serba salah..."

Ichigo memeluk Rukia begitu erat.

Sejak Rukia ikut dengannya memang wanita ini selalu terlihat bahagia. Tapi bagaimanapun, cara ini memang sedikit salah. Entah kenapa Ichigo merasa... sebentar lagi akan kehilangan wanita ini. entah kenapa... ada perasaan bahwa dia... tidak bisa mendapatkan wanita ini.

.

.

*KIN*

.

.

Sebulan lamanya Ulquiorra tak melihat wanita itu.

Keadaan rumahnya terasa begitu hampa dan kosong. Pagi-pagi sering ada ilusi yang membangunkannya. Entah apa saja. Ulquiorra begitu rindu suara berisik di dapur di pagi hari. Begitu rindu wanita itu membuatkannya sarapan. Begitu rindu... wanita itu menatap lembut padanya dan bicara apa saja padanya.

Setiap kali duduk di meja makannya, Ulquiorra selalu merasa Rukia juga ikut duduk di sebelahnya. Makan dengannya dan...

Ilusi itu terus ada setiap hari dan membuatnya pedih. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Setidaknya itulah yang selama ini Ulquiorra ketahui tentang pepatah kuno yang sudah terbukti itu. Jutaan bukti sudah terlampir di dalam kehidupan ini kalau penyesalan itu selalu terlambat. Yah... makanya disebut penyesalan. Kalau tidak terlambat, mana mungkin disebut penyesalan.

Sejak wanita itu pergi, setiap hari Ulquiorra merasa bertambah merindukannya. Merindukannya seperti ingin mati.

Kuchiki juga tak lagi membahas wanita itu. Seakan-akan, wanita mungil itu memang tidak pernah ada di sana. Meskipun hubungan Ulquiorra dan Kuchiki masih baik sampai sekarang. Ulquiorra juga masih menangani bisnis Kuchiki. Meskipun akhirnya setiap kali teringat wanita mungil itu maka kenangan buruk akan bertambah menyakitkan.

Bahagia.

Ulquiorra pikir jika dia tidak mencintai wanita itu, tentu saja mereka tidak akan menderita. Tapi ternyata, tidak mencintai wanita itu ternyata lebih dari menderita. Seandainya dulu dia bisa lebih berani dan yakin, dia bisa saja membuat wanita itu jatuh cinta padanya meski pernikahan mereka tidak diinginkan. Kakeknya benar. Rukia bukanlah wanita sulit. Asalkan bisa tahu apa yang dia inginkan dan memperhatikannya juga memperlakukannya dengan baik, tentu wanita itu akan luluh juga. Dan tidak akan sejauh ini.

Ulquiorra akan bersiap pergi ke kantor. Setiap pagi selama sebulan ini dia memang begini. Menyiapkan sarapan sendiri dan... selalu sendiri.

Tidak ingin teringat tentang segala macam kenangannya.

"... diketahui penyebabnya adalah kecelakaan. Untuk saat ini kedua korban mengalami luka serius. Model terkenal yang kini diterpa gosip tak sedap belakangan ini ditemukan dalam kondisi mengenaskan oleh beberapa warga yang melintas pagi ini. model yang bernama lengkap Kurosaki Ichigo, bersama seorang wanita yang diketahui seorang desainer..."

Ulquiorra menjatuhkan gelas kopinya begitu melihat berita itu. Mendengar nama model itu rasanya jantung Ulquiorra jatuh ke tanah dengan sukses. Apalagi... desainer katanya?

Kecelakaan apa! Apanya yang...

"Aizen! Kau dengar berita pagi ini? cari tahu dimana rumah sakitnya! Cari tahu sekarang juga dimana model bernama Kurosaki Ichigo itu dirawat!" perintah Ulquiorra panik lalu melesat keluar dari rumahnya dan membawa mobilnya dengan panik pula.

Astaga! Rukia... Rukia...

Ulquiorra sungguh berharap tidak terjadi apapun dengan wanita itu. Tidak!

Dia belum begitu siap dengan semua kemungkinan terburuk yang terjadi pada wanita itu. Sungguh!

"Rukia... tetaplah selamat. Kumohon tetaplah selamat..." gumam Ulquiorra cemas.

.

.

*KIN*

.

.

Ulquiorra hampir berputar-putar seluruh Tokyo selama kurang lebih satu jam. Mengabaikan fakta bahwa hari ini dia ada rapat penting.

Sudah tiga rumah sakit yang dia kelilingi tapi tidak ada satupun rumah sakit yang benar. Akhirnya, setelah menunggu lama, Ulquiorra mendapat berita dari Aizen tentang rumah sakit yang dimaksud.

Panik, cemas, khawatir... semuanya berbaur jadi satu di dalam kepalanya. Bayangan Rukia terus ada di dalam benaknya. Kalau sampai terjadi yang gawat pada wanita itu... sungguh Ulquiorra ingin memilih bunuh diri saja. Dia tak sanggup membayangkan wanita itu...

Ulquiorra tak peduli siapa saja yang dia tabrak, dia hanya fokus mencari ruang gawat darurat itu.

Tak peduli dengan rumah sakit yang begitu ramai karena banyaknya wartawan yang meliput itu, Ulquiorra tetap masuk.

"Tunggu! Anda dilarang masuk Tuan!" cegah salah seorang perawat.

"Minggir! Aku mau lihat Rukia!" bentak Ulquiorra balik, sekaligus panik.

"Tapi Tuan ini siapa? Kami tidak boleh membiarkan orang yang tidak punya hubungan dengan pasien masuk." Jelas perawat itu.

"Aku suaminya! Aku suami Rukia! Biarkan aku masuk!" bentak Ulquiorra geram. Tidak memikirkan lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri.

Mendengar kata suami itu, perawat itu mengangguk lalu menyilakan Ulquiorra masuk. Tentu saja karena ada banyaknya orang-orang yang meliput berita ini. Dan begitu sampai di ruang gawat darurat itu, sudah banyak dokter dan perawat yang berusaha keras di sana. Keadaannya sungguh panik dan tidak terkendali.

Dan ketika Ulquiorra mendekati salah satu ranjang pasien itu, hati Ulquiorra terasa miris sekali. Tidak menyangka akan jadi seperti ini.

"Sayang sekali... pasien sudah tidak bisa ditolong."

Pasien? Pasien mana maksudnya?

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Bingung kan?

Bingung gak?

heheheeh

Hola Minna saya memang bilang gak bisa update untuk beberapa minggu ke depan. tapi ternyata saya gak sanggup bertahan ya. abisnya fic ini udah rampung chap ini. dan mau segera saya uplod. karena takutnya... nanti kalo gak saya uplod pada ilang lagi kemakan virus. ini saya sedang berusaha mencari waktu luang lagi untuk melanjutkan fic-fic yang ada. hehehehe

tugas emang masih numpuk. taulah anak kuliah tugasnya lebih bejiibun dari tugas sekolah. hehehehee

dan karena fic ini sedang saya usahakan segera tamat, makanya mau saya dahulukan dulu. hehehe

oh ya, adakah senpai yang menunggu fic-fic hancur saya? hehehe

balas review dulu...

Mitsuki Ota gak bisa login : makasih udah review Alex~~ hehehe iya sih, saya buat begitu biar gak rumit. abisnya kan jelas-jelas ini UlquiRuki. hehehe makasih semangatnya. makasih juga pemberitahuannya kemarin ya... hehehe

ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai hehehe... nih udah lanjut. review lagi yaa...

Kina Echizen : makasih udah review Kina... yayaya setuju banget! saya emang suka UlquiRuki. gak tahu kenapa ya... walaupun kesannya CrackPair banget... tapi ternyata semenjak saya suka pake Ulqui buat peran-peran penting di fic saya buat Ruki, entah kenapa saya jadi mikir... kok cucok ya mereka bedua ini? hehehe oh ya Kina,,, rikues kamu sedang saya rampungin. ditungguin ya. soalnya saya belum selesai nontonnya. habis saya baru mikir, ternyata film Korea ini jadul banget ya? hehehehe walau ceritanya tetep nyentuh. terbukti udah lima kotak tisu abis dan mata bengkak saya...

Voidy : makasih udah review senpai... senpai bener banget... emang anaknya Ichi tuh. wuhahahaha... ok deh saya coba terima challenge-nya senpai. kalo misalkan bisa buat pas lima chap, berarti saya sukses ya... tapi kalo gak.. hehehehe maaf... karena saya gak pernah bikin cerita pendek. makanya saya gak bisa bikin oneshoot. masih agak canggung. tapi kalo lebih satu ato dua chap... gak papa ya? hehehe

Sai : makasih udah review senpai... perasaan Ulqui? sakit dong. jelas banget tuh... heheheheh tapi biarlah. kalo Ulqui gak sakit, mau sampe kapan dia diem aja begitu? heheheh

yutha45 : makasih udah review senpai... jelas aja nyesek. tapi karena sikapnya yang pasif itu dia gak bisa berbuat apapun. kasian sih memang. tapi dengan itu harusnya Ulqui bisa sadar kalo dia tuh gak rela liat Ruki begitu. hehehehe review lagi yaa...

Ok deh. makasih banyak yang udah review dan baca. beneran deh saya terharu banget masih ada yang setia mengikuti semua fic saya walau hancur dan gak karuan... heheheh pokoknya... youre my everything deh senpai... heheheheh

Jadi... mohon review-nya... biar saya tahu apakah cerita ini layak lanjut atau nggakk..

dan buat yang udah setia nyemangatin saya... saya sangat menghargainya. nggak ada yang lebih berarti selain semangat yang senpai berikan pada saya selama ini. tanpa kalian, mungkin saya gak akan pernah membuat fic sampai sejauh ini. hehhe

Jaa Nee!