Interfector

.

Lotus Rubra

.

"Bagaimana keadaan 'teratai merah' kita?"

"Sedang mekar dengan indahnya," ia menunjuk seseorang di seberang sana. "Wah, baru kali ini aku lihat manusia kehilangan akal sampai begitu," senyumnya takjub.

Beberapa orang yang berada di dekat 'teratai merah' menjerit, menatap ngeri. Tapi, mereka enggan membantu. Mereka takut pada manusia yang kehilangan akal, takut akan terjadi kekerasan jika dekat dengannya.

'Teratai merah' berjalan pelan, lemas, dan dengan satu tatapan yang hampa. Ya, satu tatapan saja. Karena ia hanya punya satu bola mata utuh pada dirinya. Satunya lagi, ia genggam. Tepat ada digenggamannya, entah apa yang tersisa. Mungkin seperempat matanya saja yang tersisa digenggamannya, yang akan ia habiskan kelak jika perutnya sudah meronta.

Ya, orang itu memakan bola matanya sendiri. Darah yang sudah mengering di bagian wajahnya, juga jemarinya. Tubuhnya kotor, pakaian tak jelas adanya, mukanya yang menyeramkan. Kebanyakan manusia yang berpapasan takut melihatnya.

Ketika ada yang mendekatinya untuk membantu pun, dia hampir memukulinya. Terdapat trauma besar pada dirinya, dan tidak lagi peduli pada tubuhnya. Rasa lapar datang, ia raih apa yang bisa ia makan. Manusia kehilangan akal, seperti itulah.

"Sayang, semua 'teratai merah' tidak akan bertahan lama. Oh, iya! Bagaimana keadaan frāter?"

"Baik-baik saja, tidak kusangka dia sangat kaku dan old fashioned person. Selanjutnya, apa kau akan menjadikannya 'teratai merah'?"

"Sudah kubilang, bukan? Yang cocok dijadikan 'teratai merah' hanya orang yang tak pantas untuk hidup! Orang yang tamak! Dan orang yang tidak menghargai hidupnya… seperti para pelacur itu. Mereka pantas mati tanpa membawa uterus-nya ke dalam peti mati mereka, seperti yang mereka pinta."

"Frāter hanya cocok dijadikan Rosa Rubra," sambungnya dengan seringaian yang lebar.

.

"Daerah sepanjang sungai sudah diperiksa? Sudah kalian angkut semua?"

"Sudah, Tuan! Semua sudah diungsikan!" jawaban mantap dari bawahannya, membuat William senang, walau wajahnya susah untuk tersenyum.

"Whoa—ada apa ini? Kalian semangat sekali," Knox penasaran.

"Tuan William menugaskan semua anggota untuk mengungsikan para tunawisma serta orang gila, agar terawasi dan meminimalisir kasus kriminal sementara,"

"Begitu? Hebatnya," gumam Knox.

"Tuan!" salah satu petugas baru saja datang dengan pakaian yang berantakan. William menatapnya dengan isyarat langsung katakan apa yang terjadi.

"Sa-salah satu pengungsi mengamuk,"

.

"Dia sudah diberi obat penenang, keadaannya cukup parah—bahkan sekarat. Bola matanya ia makan sendiri, terjadi pembusukan juga pada beberapa luka di tubuhnya." Jelas dokter yang menangani.

"Dia keturunan darah biru. Aku pernah melihatnya saat perayaan dibukanya rumah sakit beberapa bulan yang lalu," lanjut sang dokter.

"Apa dia punya musuh?" William paham kenapa keadaan sang darah biru menjadi seperti itu. "Nak, para pejabat serta bangsawan tentu ada pesaingnya, entah dia terlibat apa sampai seperti ini, mungkin berhubungan dengan kasus yang kalian tangani,"

"Ya, karena itu dia menyuruh tunawisma serta orang gila diungsikan. Ketemu juga dengan korbannya, begitu bukan tujuanmu?" tanya Knox.

"Ya," William tak begitu tertarik dengan pembicaraan Knox. "Dokter, tolong awasi dia, setelah sadar aku akan menanyakan beberapa hal padanya. Akan kucoba walau dia sudah tidak punya akal,"

"Baik, kau benar, siapa tahu dia punya petunjuk,"

.

"Sial, 'teratai merah' kita terancam 'layu',"

.

"Hari ini anugrah! Tidak ada kasus baru~!" Knox tersenyum ceria karena ia berhasil menjaga kedamaian kota; itu yang ia rasakan. William hanya sekejap melirik anak muda enerjik itu. "Sir, bagaimana penelusuranmu? Membuahkan hasil?" goda Knox.

"Secara keseluruhan tidak. Tapi, dokter itu mungkin punya informasi,"

"Informasi apa?" Knox menggebu-gebu, hasrat untuk menuntaskan kasus ini sangat besar. "Dia bilang, terakhir bertemu dengan orang gila itu tepat di rumahnya. Dan temannya sebelum menjadi gila, ia berbicara sesuatu yang aneh,"

Knox menyimak baik-baik, menatap lekat lawan bicaranya sembari menelan ludah, ia mendramatisir dirinya sendiri.

"Dia bilang; dia akan membuatku cantik kelak, sekalipun aku kotor. Dokter itu juga pernah melihat temannya berkali-kali pergi ke dalam rumah yang tidak ia ketahui,"

"Whoa—petunjuk!" celetuk Knox.

"Teratai," ujar William. "Teratai bisa hidup di atas air kotor sekalipun. Doktor itu juga ingat sesuatu dari rumah itu. Lambang teratai di dinding atas pintu masuknya,"

Knox bergumam mengingat sesuatu. "Di kota ini hanya ada dua rumah seingatku yang di atas pintunya berukir teratai,"

William langsung bergegas mengambil barang seperlunya. "Kita ke sana!" perintahnya. "O-okay!" Knox ikut terburu-buru.

.

.

.

-Lotus Rubra end-