Chapter 3

FIX YOU

Wolfy present…

Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Oh Taeoh, Do Kyungsoo, Wu Yifan, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Hwang Tiffany, Kim Taeyeon, Yoon Bomi, Kim Taehyung and many more.

Pair: HunKai, HunSoo, KrisKai, ChanBaek

Genre: drama and romance

Warn: Yaoi, boys love, m-preg, impolite words and typos

Rate: T, almost M

Summary: Sehun dan Jongin menikah bukan karena saling mencintai. Ketika bercerai pun, Sehun dan Jongin masih harus terikat karena hadirnya Taeoh. Jongin yang konyol dan Sehun yang bodoh. Hingga akhirnya Sehun menyadari bahwa Jongin dan Taeoh adalah rumah, Sehun harap ia belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. "Katakan pada ku, apa yang harus aku lakukan untuk mu?" -Lights will guide you home and I will try to fix you- (This is HunKai story, with slight HunSoo and KrisKai. BL. DLDR and RnR)

Disclaimer: Casts are not mine but this fanfiction belongs to me, don't copy, don't bash, click close button if you don't like, critics are accepted but with polite words, review if you like it. I don't respect silent readers. Thank you.

Happy reading

Jongin menghela nafasnya. Ia baru saja menerima telepon dari tuan muda Oh itu, yang memintanya menjadi tempat curhatnya. Kalau saja Jongin mematok harga untuk semua curhatan Sehun, pasti Jongin sudah kaya raya sekarang. Sayangnya, Jongin terlalu baik. Entah mengapa, setiap Jongin ingin menolak semua permintaan Sehun, ia teringat pada wajah manis dan polos Taeoh. Tidak, wajah Sehun tidak polos dan manis loh ya. Hanya saja, Jongin merasa wajah Sehun dan Taeoh sedikit mirip, walaupun lebih banyak mirip dengan Jongin.

Jongin mengedarkan pandangan nya ke seluruf cafe miliknya. Hari memang masih pagi, tapi para pelanggan mereka sudah memenuhi seluruh sudut cafe. Mulai dari para ibu-ibu muda yang mampir setelah mengantar anak nya sekolah, para ayah yang sepertinya ingin menyesap kopi hangat sebelum bekerja atau para sejoli yang sedang bercanda mesra. Jongin tersenyum sendiri.

Jongin memandang ke arah lain, ia menemukan seonggok manusia bernama Bomi yang sedang terduduk di kursi cafe sambil memandang ke luar jendela dekat kursi yang ia duduki saat ini sambil memangku Taeoh yang asyik mengemut empong nya, tidak tau saja jika yang memangku nya saat ini sedang galau, gundah gulana.

Jongin mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Bomi menyendiri begitu. Pasti ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. "Hey Baek, dia kenapa?" tanya Jongin saat Baekhyun menghampirinya sambil membawa sepiring red velvet.

Baekhyun mengikuti arah pandang Jongin. "Oh, dia sedang galau. Ia menelepon ku tadi malam, katanya ia menerima telepon dari seseorang yang mengaku adalah kakaknya, dari China. Pria itu bilang akan berkunjung ke Korea untuk menjenguknya, ia bilang ia sangat terkejut mengetahui ayah mereka sudah meninggal dunia."

"Kakak? Bagaimana bisa?"

Baekhyun hanya mengangkat bahunya. "Dia juga baru menceritakan nya padaku tadi malam. Ia tidak sekuat seperti apa yang kita lihat, Jongin."

Jongin terdiam. Ia memandangi Bomi dari tempatnya dan Baekhyun duduk saat ini. Wajahnya memang berbeda hari ini, bukan seperti Bomi yang biasanya. Bomi memang menyimpan banyak rahasia tentang hidupnya. Gadis itu tidak benar-benar seperti yang terlihat. Yang Jongin dan Baekhyun tau, Bomi adalah anak bungsu dari kedua orang tuanya. Sejak mereka saling mengenal, Bomi hanya tinggal bersama ayahnya. Bomi pernah bercerita bahwa ia memiliki ibu keturunan China dan kakak laki-laki. Ibu Bomi adalah anak dari konglomerat di China, yang saat itu bersikeras untuk menikah dengan ayahnya yang hanya seorang pegawai di perusahaan biasa, yang tentu saja kekayaan nya tidak sebanding dengan istrinya. Saat Bomi berumur 5 tahun, ibunya meninggalkan nya dan ayahnya begitu saja. Hanya kakak Bomi lah yang ibu nya bawa serta ke China dan hingga saat ini Bomi tidak pernah lagi bertemu dengan keduanya. Itulah mengapa Bomi sangat membenci ibunya, ia akan sangat sensitif jika berbicara masalah ibu. Tapi, Bomi tidak pernah benar-benar membenci kakak nya, walaupun kakak nya pun tak pernah memberinya kabar selama belasan tahun hingga membuatnya lama-lama jengah juga. Ayah Bomi meninggal enam bulan yang lalu, gadis itu sebatang kara sekarang. Kau bisa bayangkan sendiri rasanya, bagaimana keluarga yang sudah tega membuang mu begitu saja, sekarang ingin kembali seolah tidak pernah ada luka yang sebegitu dalam di hati gadis itu?

"Bomi, kami menyayangi mu." Jongin berhambur memeluk sahabatnya itu, Baekhyun pun turut serta. Bomi yang tiba-tiba mendapat pelukan dari sahabat-sahabatnya itu pun hanya kaget, belum mengerti apa yang terjadi.

"Tidak apa Bom, kami disini kok." itu Baekhyun.

"Heh? Apa sih?" Bomi sepertinya masih belum mengerti. "Aku sudah mendengar semuanya dari Baekhyun. Kau ini jahat sekali sih? Kenapa hanya Baekhyun yang kau beri tau?" Jongin melengkungkan bibirnya, berniat protes pada Bomi. "Ooohh, astaga kalian ini! Aku kira kenapa!" Bomi hanya manggut-manggut.

"Salah sendiri, aku sudah menelepon mu semalam. Kau saja yang seperti mayat kalau tidur!" Bomi menghadiahi jitakan di telinga Jongin yang membuat sahabatnya itu meringis manis. "Aku tidak apa-apa kok." lanjut gadis itu sambil tersenyum.

"Jangan bohong!"

"Aisshh, aku benar tidak apa. Kalian saja yang berlebihan. Aku hanya bingung saja, aku sudah belasan tahun tidak pernah bertemu dengannya. Kris pergi saat ia berumur 8 tahun, akan seperti apa ia sekarang. Bahkan, aku lupa seperti apa wajahnya. Apa yang harus aku katakan saat bertemu dengannya nanti?" Bomi terlihat galau, ia memainkan kuciran Taeoh yang masih berada di pangkuan nya.

"Jadi namanya Kris? Tampan tidak?"

Jongin melemparkan death glare nya pada Baekhyun yang tidak tau waktu dan suasana itu. Dasar tjabe. "Lalu, kapan ia akan ke Seoul?"

"Hari ini. Terakhir ia mengirimkan sms padaku, bahwa mungkin ia akan sampai besok karena pesawatnya mengalami delay." jawab Bomi. Jongin mengelus pelan pundak sahabatnya itu, mencoba memberi tau bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Kami menyayangi mu Bom. Walaupun kau seperti nenek lampir, kau tetap sahabat kami. "

"YAK BYUN BAEKHYUN!"

Mereka berpelukan lagi, seperti teletubbies kartun kesukaan Taeoh, namun kali ini diawali dengan Baekhyun yang lama-lama tidak tega juga melihat wajah Bomi yang biasanya terlihat menyebalkan menjadi murung hari ini.

Oh tunggu, sepertinya kita melupakan satu hal. Lihatlah putra tuan Oh yang sekarang sedang terjepit dalam pelukan tiga manusia itu. Matanya mengerjap lucu, empong yang bertengger manis di mulutnya, wajahnya yang polos seakan belum mengerti apa yang terjadi hingga mereka menjepitnya seperti sandwich sekarang. Kalau saja ia sudah bisa berbicara ia pasti akan berteriak pada ibunya.

…..

Jongin setengah berlari menuju tempat terdekat yang bisa ia gunakan untuk berteduh. Huh, tau hujan nya akan sangat deras begini, tadi ia menunggu Sehun di cafe saja. Hari mulai sore, hujan mengguyur kota Seoul dengan derasnya. Jongin memutuskan untuk pulang lebih cepat dari Baekhyun dan Bomi yang masih berada di cafe. Sehun menelepon nya tadi, mengatakan berniat menjemput Jongin saat ia pulang kerja. Jadi, Jongin memutuskan untuk menunggu di restoran ayam cepat saji favoritnya sambil menunggu Sehun. Taunya malah hujan begini. Nasib mu kurang beruntung, Jong.

Jongin melirik Taeoh yang tertidur dalam gendongan nya. Untung saja, anak itu tidak rewel diajak berhujan-hujanan begini. Jongin meneduh di depan sebuah minimarket. Restoran yang dituju Jongin masih lumayan jauh, kalau ia ingin kembali ke cafe itu juga sudah melewati beberapa blok. Kasihan Taeoh kalau ia sampai kehujanan dan sakit. Jongin mengusap-usap tangannya. Sial, ini dingin sekali. Jaketnya sudah ia gunakan untuk menutupi tubuh Taeoh agar tidak kehujanan dan jadilah sekarang ia yang hampir membeku karena cuaca hujan dan angin yang bertiup lumayan kencang.

Oh God, please save Jongin!

"Permisi, apa kau kedinginan? Kau bisa pakai jaket ku jika kau mau."

Jongin menoleh kaget pada seorang pria di sebelahnya, sepertinya juga meneduh seperti dirinya.

"Eh? Tidak usah. Aku baik-baik saja." Bohong sih kalau Jongin bilang begitu. Nyatanya, tubuhnya benar-benar menggigil.

Pria itu tersenyum, menampilkan deretan gigi nya yang terlihat bersih dan rapi. "Tidak apa, pakai saja. Tenang saja, aku bukan om-om mesum atau pencopet kok. Lagipula, kasihan putra mu nyonya jika kau sakit nantinya."

Jongin memandangi pria yang masih tersenyum ramah padanya itu. Tampang nya sih memang bukan tampang kriminal. Terlihat juga dari jam tangan dan sepatu kulit nya yang terlihat mahal.

"Apa kau tidak apa-apa jika aku memakainya?" tanya Jongin ragu.

Pria itu mengangguk pelan. "Tentu saja. Jemputan ku akan datang sebentar lagi, aku tidak akan kedinginan." Pria itu melepas jaket nya dan menyerahkan nya pada Jongin. Jongin yang memang kedinginan itu pun, tanpa pikir panjang lagi segera menerima jaket pria itu dan memakainya.

"Terima kasih. Aku Jongin, Kim Jongin." Jongin menganggukan sedikit kepalanya, memberi salam pada pria baik hati itu.

"Aku Yifan, Wu Yifan. Senang bertemu dengan mu Jongin-ssi." Pria itu membalas anggukan kepala Jongin seraya tersenyum. Rambut brown nya yang agak basah terlihat berantakan diterpa angin, alisnya yang memberi kesan tegas, garis rahang nya yang tajam benar-benar membuat Yifan terlihat seperti tokoh kartun manga kesukaan Jongin semasa SMA. Dan mata sipit itu, entah kenapa terlihat mirip dengan milik Bomi.

"Yifan? Kau bukan orang Korea?" tanya Jongin saat mendengar nama Yifan yang terdengar asing.

"Ya, aku dari China. Aku baru sampai di Seoul hari ini." Yifan menunjuk koper besarnya. Jongin hanya mengangguk-anggukan kepala, pantas saja bahasa Korea Yifan tidak terlalu lancar dan terdengar kikuk. "Orang hotel baru akan menjemputku besok karena jadwal pesawat yang molor, tapi ternyata aku bisa sampai disini lebih cepat. Jadilah aku harus menunggu mereka lagi."

"Kau sendiri, Jongin? Sedang apa hujan-hujan begini?"

"Aku? Aku juga sedang menunggu jemputan ku, aku baru pulang bekerja. Aku mempunyai cafe dekat sini." jelas Jongin. Entah kenapa ia merasa tidak keberatan berbicara banyak dengan Yifan walaupun baru saja mengenal pria itu.

"Benarkah? Adik ku juga memiliki cafe." Yifan terlihat antusias.

Tiinn..tiinn..

Jongin menengok saat mendengar suara klakson mobil di seberang sana. Ah, itu dia mobil Sehun. Pria itu memang sedari tadi diterror Jongin lewat ponsel untuk segera menjemputnya.

"Ah, sepertinya jemputanku sudah datang. Aku duluan, Yifan. Jika kau ada waktu luang, mampirlah ke cafe ku." Jongin tersenyum seraya membungkuk pada Yifan. "Ya, tentu aku akan mampir Jongin-ssi." Yifan membalas senyuman Jongin dan melambaikan tangan nya pada pria itu ketika ia sudah sampai di seberang jalan dan hendak memasuki mobil.

…..

"Siapa itu?"

"Oh, namanya Yifan. Ia meminjamkan ku jaketnya karena tidak tega melihat ku kedinginan." jawab Jongin cuek. Ia menatap butiran-butiran hujan di luar sana lewat kaca jendela mobil Sehun.

-TBC-

Heheee, maap yaa TBC nya harus di tengah-tengah gini wkwk. Maap juga wolfy jarang update FF karena baru balik dari hiatus karena kesibukan yang melanda ku. Untuk chap depan, mohon maaf kalau masih belum bisa di update karena masih banyak yang harus diedit lagi ceritanya. Mohon para readers sabar menanti dan jangan bosan menunggu yaahh. Untuk FF yang lain, akan segeranya di update hehe dan kebetulan wolfy buka request buat drabble It Always Gotta Be You yaa, karena lagi kehabisan ide buat oneshoot FF. Atau mau minta sequel dari drabble yang kemarin juga oke lah~

Terima kasih review dan kesabaran menunggu nya:"

With love, wolfy mwahhh:*