"Kalian akan menemukan catatan kedua ku, SEKARANG!"
Kini suara mencekam keluar dari bibir Hinata, mata gadis itu mendadak kosong dengan wajah yang di lukis sebuah senyuman, lebih tepatnya sebuah seringaian yang sangat mengerikan, kini sudut bibirnya yang tadi terluka kembali mengeluarkan darah segar. Hinata, kau kenapa? Aku tahu kau bukan Hinata! tapi kuharap kau bisa berhenti melukai gadis ini.
"k-kau, k-kau ss-si-siapa?" Tanya ku tak henti menatap Hinata. aku tak bisa membiarkan dia lebih lama lagi menyakiti Hinata.
"aku? Hahaha! Aku? Bukannya kau berharap jika aku bisa membantu kalian menemukan catatan kutukan itu!?" Desisnya galak, wajah Hinata kini tampak begitu pucat, surai indigonya itu bergerak acak mengikuti arah angin, aku mencoba menggenggam tangan nya untuk memberikan ia kesadaran. Namun yang aku rasakan hanya tangan yang sedingin e situ.
"K-KAU! Kenapa kau menyakiti Hinata!?" bentak ku, aku sudah tak tahan kalau begini! Dia menyakiti gadis ku!
"euh… Kau peduli? Apa hak mu memedulikan gadis yang telah kau buat menderita ini? Gadis yang telah kau buat menjadi gadis yang paling di benci di seluruh SMA Bangsat ini?!" Ledek nya dengan nada sinis, suaranya di tinggikannya di akhir kalimat.
Deg!
Aku, aku membuatnya menderita?
"kau tidak menyadari itu, sialan!" bentaknya
Aku, aku selalu membuat hatinya sakit?
"Berhentilah bersikap seperti itu! Jika kau masih ingin gadis ini hidup!" bentaknya lagi, kini tubuh hinata di buatnya bergetar, seperti cahaya kusam mendadak mengelilingi tubuh Hinata.
"Kau! Alasan apa yang akan kau buat untuk menyakiti nya lagi!" berhenti! Aku mohon berhenti, kau sudah lebih dari cukup memberi tahu ku perbuatan yang telah ku lakukan padanya!
"Kau! Aku aka-," kini separuh roh gadis itu keluar dari tubuh Hinata
"AKU MENCINTAINYA! APA ALASAN ITU CUKUP UNTUK MEMBUATMU DIAM?"
The Note
A NaruHina Fanfict.
Disclaimer : The Character in this fict is belong to Masashi Kishimoto, THIS FF IS BELONG TO ILA
Rate : T (SEMI-M?)
Genre : Mystery, horor (?),Romance.
A/N : Ini ff genre horror GAJE pertama saya, so…. Harap maklum karena Saya gak tau apakah ini genre horror atau mistery. NO EYD ,(ALWAYS) Typo, Gaje, OOC AKUT!.Harap baca dengan TEMPO lambat.
THE NOTE [NARUTO'S SIDE]
Tubuh Hinata tampak tak seimbang saat seluruh Roh gadis itu keluar dari tubuh nya, dengan sigap kutangkap tubuh mungil gadis bodoh ini agar tak terjatuh ke lantai perpustakaan yang dingin ini, mata amethysnya terlihat menutup rapat.
"Alasan mu, begitu membekas padaku!" Seru Roh Gadis haruno itu, mendadak ia hilang di telan cahaya, menyisakan sebuah kertas yang terlihat usang tergeletak dilantai tempatnya menghilang. Masih dengan Hinata yang berada dalam pelukanku, kuraih Kertas itu lalu ku simpan ke saku celana, kemudian aku membawa Hinata menuju ruang Kesehatan.
Perlahan mata nya tebuka dan membuat kekhawatiran ku yang tadinya memuncak kini dapat sedikit reda.
"daijoubu?" tanya ku padanya. Dia hanya mengangguk lemah, aku pun membantu nya untuk duduk. "apa kita mendapat catatan ke dua?" tanya Hinata. aku tidak mengerti dengan gadis ini,
"yah, begitulah.." jawab ku seadanya. Dengan cepat wajah nya terlihat seperti sedikit terkejut. Ada apa?
"haaa… jam berapa ini? Waktu istirahat sudah berakhir ! gomen senpai, aku harus masuk kekelas…argh! Ittai!" sudah kuduga kalau dia pasti akan merasakan sakit di tubuh nya. Saat menggendong nya tadi aku melihat sedikit memar di lutut nya dan mungkin itu akibat kerasukan tadi.
"kau ini bodoh? Kau tadi kerasukan, makanya tubuh mu sedikit sakit saat di gerakkan. Dan juga lutut mu…" aku malas utntuk melanjutkan nya , namun tanpa ku duga ia malah menutupi lutut nya dengan tangan sehingga wajah nya meringis saat tangan nya bersentuhan dengan memar. Lalu ia hanya tersenyum, dan menggaruk kepala nya yang aku rasa mungkin tidak gatal sama sekali.
"kenapa kau tersenyum?" 'kau bisa membuat ku mati jika kau tersenyum seperti itu' gumamku dalam hati setelah aku bertanya pada nya. Dia terlihat sedikit ragu untuk menceritakan nya. Dan satu-satunya cara untuk membuat ia buka mulut adalah dengan tatapan membunuh andalan ku.
"hah…..aku terjatuh" jawab nya. Dan aku yakin itu bohong, karena wajah nya itu paling tidak bisa berbohong.
"bohong! Aku hitung sampai tiga maka jika kau tidak memberi tahukan yang sesungguh nya, aku akan memberi kan mu Hukuman. Ichiiii…. Niii….Saaaaaaan"
"baiklah. T-Ta-Tadi saat aku masuk kelas di pagi hari kaki ku di sandung Shion-san dan aku terjatuh sehingga lututku terhempas. Membuat ku tak bisa berjalan. Tapi tadi kau memaksa ku untuk berjalan, jadi mungkin lutut ku terasa sakit lagi. Tapi ku mohon jangan beri aku hukuman, senpai…" gadis ini membuat ku gila! Tak mungkin aku akan menghukum mu. Aku sadar tubuh ku tak bisa lagi melakukan semua seperti biasa, setelah aku sedikit menyadari perasaan ku. Aku tahu sebab Shion menyandung nya, tak lebih dan tak bukan karena belakangan ini aku lebih sering memanggil Hinata dan itu membuatnya cemburu. Bukan nya bermaksud menjadi seorang yang pede nya selangit. Tapi sudah beberapa kali dia menyatakan cintanya aku hanya menganggap angin lalu.
"apa sekarang kau bisa jalan?" tanya ku memastikan. Bagaimanapun, tadi aku memaksa nya untuk berjalan.
"yah, sepertinya baik-baik saja. senpai boleh keluar sekarang. Aku minta maaf karena sudah merepotkan mu." Ujar nya dengan nada bicara bersalah, tapi aku masih ingin bersamanya. Tadi aku berteriak aku mencintainya, aku masih tidak tahu apakah ini benar-benar cinta hanya karena aku tidak ingin ada orang lain di sampingnya selain aku. Perlahan ku keluarkan ponsel ku dan menelpon Shikamaru
"Shikamaru, bisakah kau membawa tas Hyuuga ke ruang kesehatan? Ya, aku akan menraktirmu" gadis ini hanya dapat tertegun melihat ku. Aku hanya bisa memberikan smirk ku padanya.
"Senpai?" ia memanggilku dengan nada bingung.
"Aku tidak akan melakukan apapun pada tas mu, lagi pula aku sedang malas sekolah jadi mengantarmu bisa ku jadikan alasan untuk bolos" jelas ku, lalu aku mulai berdiri dari tempat tidur yang ada di sebelah ranjang Hinata. ia Hanya memandangiku, lalu berangsur turun dari tempat tidur dan mencoba menapaki kaki nya ke lantai. Wajah nya sedikit tersenyum saat tak merasakan apapun saat ia menginjak kan kaki ke lantai. Namun saat ia mulai melangkahkan kaki nya wajah ya meringis kesakitan, dan itu membuat ku khawatir.
"kau masih belum bisa jalan?" tanya ku. Terselip nada khawatir di perkataan ku. dia hanya mengangguk dan aku tahu kalau dia ini keras kepala.
"yah, aku masih bisa jalan sendiri" ucap nya dengan tersenyum. Terlalu banyak senyum di hidupnya, dengan gemas aku menggendongnya ,awal nya tubuh nya sedikit menolak tapi ia tidak bisa apa-apa saat ini.
"rumah mu dimana?" tanya ku pada Hinata, tapi aku masih belum mendapat kan jawaban. Aku pun mencoba sekali lagi.
"rumah mu diman _" belum sempat aku selesai bicara aku merasakan tubuh nya hampir jatuh jika saja aku tidak memegang tangan nya yang merangkul ku lemah. Aku rasa dia sedang tertidur, mungkin tubuh nya lelah. Motor ku berhenti tepat di lampu merah, aku tidak tahu di mana rumah nya. Aku juga begitu enggan untuk membangunkan nya karena aku tahu dia begitu lelah. Apa aku harus membawanya ke rumah? Tapi nanti dia akan berpikiran yang aneh-aneh tentang ku. Atau harus ku bawa ke hotel? Ini akan lebih membuat nya berpikir aku ini pria cabul. Jadi aku putus kan utuk ke rumah ku, lagi pula aku kan hanya mencoba berbuat baik padanya. Akhirnya lampu hijau pun menyala dan aku melaju santai membawa motorku dengan sebelah tangan yang msih memegang tangan Hinata agar ia tak jatuh.
Hanya butuh beberapa menit dari lampu merah meuju rumah ku, lebih tepatnya aku sekarang tinggal di apartemen sendiri karena orang tua ku tinggal di inggris untuk mengurus perusahaan. Akhirnya setelah melalui beberapa lantai dan mendapat tatapan aneh dari resepsionis, aku sampai di apartemen ku. Perlahan ku tekan nomor kombinasi yang membuat pintu apartemn ku terbuka. Aku sedikit lelah karena harus menggendong Hinata, tubuh gadis ini tidak terlalu berat, Tapi mendengar dengkur nafas nya saat tidur membuat ku sedikit berhenti bernapas.
[Hinata pov]
Langit-langit berwarna putih, lampu yang membuat mata ku silau, dan aroma yang wangi dari aromateraphy. Ha, aku merasa sangat nyaman berada disini. Tunggu dulu! Langit-langit berwarna putih? Langit-langit kamarku berwarna biru muda! Lalu aku selalu mematikan lampu saat tidur. Aku di mana? Aku merasa aneh, ini ranjang sementara aku hanya menggunakan futon. Aku pun Tersentak, Aku harus keluar dari kamar ini, aku mencoba turun perlahan dari ranjang agar tak mencurigakan, tapi saat aku mulai memijak kan kaki di lantai, aku merasa menginjak sesuatu yang bukan lantai. "ittaaaaaaaaiiiii!" aku pun kembali terduduk di ranjang itu saat aku mendengar teriakan setelah aku menginjak sesuatu. Ku palingkan wajahku kesumber suara dan aku melihat Naruto senpai yang sedang meringis kesakitan memegang kaki nya.
"ah, g-gomen senpai. Aku tidak sengaja…" ucap ku menyesal, lagi pula untk apa dia berada disini? Kenapa juga dia tidur di lantai? Atau,,
"KYAAAA" aku berteriak sebisa ku, dan dengan panic Naruto senpai menutup mulut ku dengan tangan nya
"kau, jangan berpikir yang aneh-aneh!" bentak nya kesal dan itu seukses membuat ku berhenti memberontak.
"tadi kau tertidur saat aku sedang mengantar mu, aku juga tak tahu rumah mu, jadi aku membawamu kerumah ku. Jelas?" ini bukan jelas lagi, tapi terlalu rinci.
"t-tapi, apa tidak mengganggu keluarga Senpai?" tanya ku, sebenarnya aku tidak suka dalam posisi sebagai pengganggu ketentraman orang lain.
"Mereka tinggal di inggris. Aku tinggal sendirian" dia tinggal sendirian? Pantas saja dia suka seenak nya.
"apa senpai tidak kesepian?" aku tanya apa sih?kenapa aku ingin tahu banyak? Saat kulihat, wajah nya berubah meredup
"yah, mungkin, sedikit" jawabnya seadanya lalu tersenyum canggung.
"kita sudah mendapatkan catatan kedua, bagai mana jika kita baca?" lanjutnya sambil mengambil catatan yang kami dapatkan di perpustakaan tadi. Perlahan dia membuka catatan itu dan aku pun sedikit mendekat padanya untuk membaca catatan itu.
jika dia tidak membenciku, kenapa dia selalu membuat semua orang menggangguku?aku tidak mengerti dimana kesalahan ku, tapi mungkin aku pernah melakukan kesalahan, mengingat pertemuan pertama kami tidaklah baik. Semoga besok baik-baik saja
P.S: semoga dalam waktu dekat ia berubah, masih ada harapan kan?
"heeee?" seru kami saat membaca catatan ini, kami semakin tidak mengerti dengan catatan ini. Ini lebih mirip dengan catatan harian atau semacam nya. Dan juga kertas pada catatan ini berbeda dari catatan pertama yang aku temukan.
Aku memandang Naruto senpai dan Naruto senpai balik memandangku. Seketika kamar ini berubah jadi lapangan olah raga SMA kami, aku bisa melihat banyak siswa yang tengah bermain bola dan sebagainya tanpa menggunakan seragam olah raga, jika bisa ku tebak ini adalah jam istirahat. Masih seperti biasa ini seperti bayang-bayang yang tak jelas, hanya warna seperti sepia yang mewarnai ingatan ini. Aku dan Naruto senpai kembali saling memandang lalu mulai berdiri dari posisi duduk kami. Jika tadi kami duduk di ranjang, sekarang kami tengah duduk di bangku taman yang berada di pinggir lapangan. Aku menyerngitkan dahi merasa tak mengerti dengan semua ingatan ini, begitu pula Naruto senpai dia hanya memasang tampang bodoh nya saat melihat tidak ada apa-apa, sampai akhirnya kami melihat gadis bersurai pink bernama Sakura itu sedang berjalan di koridor menuju gedung lama. Jika ini adalah ingatan saat tahun 2010, maka gedung lama masih belum di tutup. Berarti, itu adalah gedung serbaguna. Untuk apa dia ke gedung serbaguna?
"kau terlalu banyak pikir, Hyuuga. Ayo kita ikuti dia!" ujar Naruto Senpai yang memecahkan lamunanku, lalu ia menarik tangan ku tergesa mengikuti gadis bernama sakura itu. Kami mengikutinya dengan cepat dan tergesa, kami tak perlu tenang dan senyap karena kami tidak mungkin dilihat oleh nya, sama seperti sebelum nya. Hanya kami yang dapat melihat nya dan dia tidak dapat melihat kami. Tapi tiba-tiba dia berhenti dan itu membuat kami sedikit terkejut.
"kenapa dia berhenti?" bisik Naruto senpai, ia menahan napas dan langkah nya. Aku hanya menggeleng, sama seperti naruto senpai aku juga menahan napas dan langkahku. Seperti nya Naruto senpai punya reflex bagus, hingga ia menarik tubuh ku ke lorong lain yang menghubungkan lorong itu ke gedung A.
"siapa itu!?" Seru gadis itu. Ia terlihat sedikit khawatir, mungkin saja ia sadar kalau kami mengikutinya. Hidungku terasa gatal, karena rambut ku berterbangan membuat mereka mengganggu indra penciuman ku ini, mata ku sudah berair karena berusaha menahan bersin. Aku sudah tidak tahan lagi ingin bersin. Sampai akhirnya.
"Hatchiiim.." satu bersin yang cukup uat itu sukses membuat dia-gadis bersurai pink- itu kembali menoleh kebelakang. Membuat Naruto senpai membungkam mulutku dengan tangan nya.
"bakaaaa!kenapa kau bersin disaat seperti ini" bisik Naruto senpai geram, dengan sedikit kesal ia mencubit pipi ku. Aku hanya bisa diam walau sedikit kesal. Gadis itu pun mulai berjalan lagi dan akhirnya berhenti tepat di pintu yang menghubung kan koridor dengan atap. Ia pun naik ke atap. Saat kami mulai menuju ke tempat gadis itu, naruto senpai menahan ku, saat ia melihat seorang pria berambut raven ia seperti sedang terluka tengah menaiki tangga menuju atap. Kami pun mulai lagi langkah kami menuju atap Dimana gadis bersurai pink itu berada.
[author's pov]
'bruukk'
Suara, seseorang terjatuh sukses membuat gadis bersurai pink itu berhenti memakan bento nya untuk melihat sumber suara. Sedikit terkejut memang. Tapi ia berusaha tetap menyimpan keterkejutannya setelah melihat seorang siswa yang terjatuh itu mengeluarkan darah dari sudut bibir nya. Tanpa suara dia mendekat dan mengeluarkan sapu tangan dari saku jas nya.
"aww" ringis pria itu saat gadis itu berusaha menyandarkan pria itu ke dinding.
"gomen, tapi aku harus mengobati mu..kau kenapa" ujar gadis itu. Dengan pelan ia mengusap darah yang keluar dari sudut pipi pria berambut raven itu.
"aww, shhh… ittai, aku terkena dampak kepopuleran ku" jawab nya dengan meringis saat gadis itu mengenai luka nya.
"haaah, kau terlalu rumit. Apa kau habis berkelahi?" tanya gadis itu, Ia sangat benci hal yang rumit.
"yah, begitu lah." Jawab pria itu, tapi gadis itu malah acuh tak acuh hingga ia selesai memberi plester pada luka pria itu. Lalu beranjak membuka pintu.
"hey, kau mau kemana?" tanya pria berambut Raven itu.
"aku mau ke kelas karena waktu istirahat sudah hampir mau berterima kasih, jangan pernah mengganggu makan siang ku lagi." Jawab gadis itu datar. Tapi pria itu masih tidak ingin gadis itu pergi
"hey, dari mana kau mendapatkan plester?" tanya pria itu.
" aku punya banyak,"
"kau tidak kenal aku?"
"tidak,"
"kau tidak mengenalku?"
"tidak"
"kenapa kau tidak mengenalku" urat marah pria itu terlihat jelas, tetapi gadis itu masih terlihat datar.
"karena aku tidak mengenal mu"
"kau, benar-benar menyebal kan! Aku Uchiha Sasuke kelas 2-2. Kau?"
"uchiha sasuke? Aku juga tidak pernah mengenal nama itu. Aku Haruno sakura kelas 1-1" jawab nya lalu segera pergi dari tempat itu.
"hei! Kau masih adik kelas!? Kurang ajar! Kenapa kau tidak memanggil ku senpai?" Teriak Pria itu sebal, berharap jika gadis bersurai pink yang berhasil mencuri hatinya itu bisa mendengarkan suara nya. Mencuri hatinya? Tulisan itu sudah di cetak tebal, benar. Gadis itu sudah berhasil mencuri hati nya. Dia juga berharap bisa bertemu dengan gadis itu sesering mungkin.
Kita beralih pada dua orang muda-mudi yang masih tercengang melihat romansa yang telah terjadi di atap sekolah ini. Mereka masih mengerjapkan mata tak percaya jika pria yang dalam catatan pertama sudah menghajar Haruno sakura habis-habisan itu terlihat sedikit manis pada gadis itu. Apakah ini pertemuan pertama mereka? Jika benar. Mungkin memori ingatan ini masih sangat panjang. Dan mungkin masih banyak catatan yang harus mereka temukan untuk menghentikan kutukan itu.
TO BE CONTINUED
HALAH, NO KOMEN DAH! Aku gak tahu ini chapter bagus atau nggak. Karena aku harus menghabiskan waktu 2 minggu untuk membuat chapter ini.
Sedikit cerita, awal nya ff ini judul nya the Death Note, tapi karena ada beberapa faktor aku merubah nya jadi the note.
Dan juga mungkin aku akan lama mempublish chapter 4 karena aku lagi dalam masa-masa hidup dan mati alian UJIAN KENAIKAN KELAS. Arigatou dan Gak muluk-muluk…
Tentu saja REVIEW di perlukan
Salam hangat dari saya :*
