"Yah, kecewa deh. Kupikir cuma aku yang pernah denger Hinata nyanyi…" kata Naruto sambil cengengesan. "Oh ya, ngomong-ngomong sudah lama ya, sejak terakhir kali aku mengiringimu bernyanyi. Kalau tidak salah, sudah hampir sebulan."

"Habis aku sibuk sih. Tak ada waktu untuk itu, aku harus menyusul semua mata pelajaran yang tertinggal selama aku tidak masuk sebelumnya." Kataku pelan. "Tapi terkadang aku masih bernyanyi kok. Kalau sendirian di kamar atau di kamar mandi."

Ino menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. "Percuma kalau nyanyi di kamar mandi. Kan suaranya jadi keredam shower. Nggak bakal ada yang denger lagi."

"Ya karena aku nggak ingin ada yang dengar makanya aku nyanyi di kamar mandi."

Sakura tertawa mendengarnya. "Jangan paksakan idealisme pada orang lain, Ino. Tak semua orang punya suara emas sepertimu. Apalagi Hinata kan orangnya pemalu." Katanya membelaku sambil tersenyum mengerti. "Mungkin bagi Hinata, membiarkan suaranya terekspos bebas sama dengan membiarkan wajah difoto tanpa make up bagimu, Ino."

"Ok, kuakui difoto tanpa make-up memang mengerikan. Tapi ayolah, ini kan cuma bernyanyi! Lagipula kau telah membuatku penasaran ingin mendengar suaramu. Kau mau aku jadi arwah gentayangan apa kalau sampai mati tak bisa mendengar suaramu."

"Berlebihan, seperti biasa." Sasuke membuka mulutnya, tapi hanya untuk mengeluarkan komentar sinisnya. "Kau pikir untuk apa Naruto membawa gitar ke sini, Ino?"

"Aku tahu, Sasuke. Makanya aku membujuk Hinata untuk bernyanyi!" katanya dengan suara setengah oktaf lebih tinggi. "Lagipula kalau tidak dibujuk dan dipaksa, mana mau dia melakukannya! Iya kan Sakura?!" dia meminta persetujuan dari gadis berambut gulali di sampingnya. Namun gadis itu hanya mengangkat pundaknya saja sambil tersenyum enigma penuh misteri tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk membantah atau menyetujui kata-kata putri Yamanaka itu.

"Ukh! Ino-nee, kalau bicara di rumah sakit itu jangan keras-keras. Berisik tahu!" tukas Konohamaru sambil menutup telinganya. "Kecuali kalau Ino-nee mau bikin jantungan semua nenek-nenek dan kakek-kakek di sini." Tambahnya sinambi menjulurkan lidah.

Ino memanyunkan bibirnya sambil menyilangkan tangan di dada. Sebuah gerutuan kecil terlontar dari bibirnya yang berwarna kemerahan disapu lipgloss. "Dasar anak kecil. Kenapa Hinata mau-maunya mengangkat anak bandel kaya dia menjadi anak angkatnya sih. Kalau aku pasti sudah kulempar dia ke laut merah."

"Sudahlah, Ino. Kalau kau marah-marah, nanti cepet tua lho. Lihat tuh, kerutan di samping matamu semakin bertambah banyak!" kata Naruto sambil terkekeh kecil saat melihat reaksi salah seorang teman gadisnya yang langsung merogoh tasnya dan mengambil tempat bedak untuk mengecek kebenaran dari kata-kata Naruto. Yang seperti diketahui, hanyalah kebohongan semata. "Hei, Hinata. Hari ini aku sedang berbaik hati lho, jadi kuijinkan kau untuk memilih lagu yang kau suka." Katanya mengalihkan perhatian kembali padaku.

Aku terdiam sejenak. Lagu apa yang harus kupilih? Lagu yang pandai kunyanyikan atau lagu yang ingin kunyanyikan? Atau lagu yang menggambarkan keadaanku saat ini? Apa maksud di balik kata-kata yang Naruto ucapkan dengan gamblang itu?

"Pilihlah lagu yang menurutmu cocok untuk perasaanmu saat ini…" tambahnya.

"Lagu yang cocok untuk… perasaanku?" beoku dengan nada tak mengerti.

"Ya."

Aku kembali diam sambil menatap tiap-tiap wajah yang kini menatapku dengan intens. Wajah cantik Sakura yang mengingatkanku pada kehangatan seorang ibu. Wajah imut Ino yang menggambarkan rasa percaya diri yang tinggi. Wajah datar Sasuke yang menyembunyikan setiap perasaan di baliknya. Wajah-wajah polos yang sudah tercemar kerasnya kehidupan milik Konohamaru dan Moegi. Wajah menenangkan cerminan wajahku sendiri milik Neji. Wajah Sai yang terlalu banyak tersenyum akibat menanggung beban tekanan masyarakat di sekitarnya dan wajah Naruto yang menyiratkan rasa peduli dan ketulusan yang besar saat melihatku.

Wajah-wajah yang jujur tanpa dosa. Wajah-wajah yang telah mewarnai hidupku selama bertahun-tahun aku bersama mereka. Merah muda, ungu,biru, merah, hijau,coklat, kelabu dan orange. Warna-warna indah yang telah melukiskan kebahagiaan di kanvas lavenderku. Para tokoh yang telah meramaikan panggung sandiwara hidupku. Aku tersenyum sedih, dua puluh persen. Hanya dua puluh persen yang kumiliki untuk bisa terus bersama mereka.

Mungkin benar kata para pujangga, 'aku masih ingin hidup seibu tahun lagi!'. Aku masih ingin menambah wajah dalam kehidupanku. Aku ingin menambah warna dan gambar dalam lukisanku. Aku ingin meramaikan sandiwaraku dengan ratusan tokoh lagi. Tapi apa aku mampu?

Apa aku sanggup bertahan?

Apa aku masih memiliki harapan untuk hidup?

Selama ini yang kuyakini adalah dokter bukanlah Tuhan. Mereka tak boleh seenaknya meramalkan umur dan nasib orang. Dan aku melawannya, melawan takdir yang dituliskan dokter mengenai nyawaku. Lihatkah! Aku sanggup hidup di usia nyaris tujuh belas tahun! Lipat tiga dari prediksi awal masa hidupku.

Naun aku telah lelah.

Aku lelah melihat manusia saling caci dengan sesamanya. Aku lelah merasakan tekanan yang menghimpitku dari segala arah. Aku lelah merasakan sakit dan kekecewaan yang tiada batasnya.

Namun di satu sisi, aku juga masih terus berharap.

Berharap jika aku masih dapat melihat matahari terbit di esok pagi. Berharap saat terbangun nanti manusia akan menjadi makhluk yang lebih baik dan mau menggandeng mereka yang berbeda. Berharap suatu saat nanti, aku bisa hidup normal seperti layaknya manusia pada umumnya. Tanpa terikat adat yang membelitku lagi, tanpa terhimpit tekanan masyarakat yang membuatku tak dapat bernafas dengan bebas. Aku ingin hidup! Hidup yang sesungguhnya! Bukan boneka seperti ini!

Dan jika suatu saat nanti aku membuka mataku lagi, kuharap saat itu semua telah berubah.

Di saat itu Sakura tak perlu lagi menahan dirinya dan membiarkan orang lain melihat sisi lain saat itu Ino tak lagi terikat pada topeng yang selama ini dipakainya. Di saat itu sebuah senyum akan tersungging di bibir Sasuke. Di saat itu masyarakat mau membuka telapak tangannya pada orang-orang yang kurang beruntung seperti Moegi dan Konohamaru. Di saat itu Neji akan mulai bisa melepaskanku dan menjalani hidupnya tanpa perlu lagi terikat padaku. Di saat itu Sai sudah dapat menggantikan senyum bekunya dengan senyum tulus dan berkata, 'Aku adalah aku. Tak ada yang bisa mengaturku untuk menjadi apa yang kalian ingin.' Dan di saat itu, kuharap aku dapat menggenggam tangan Naruto erat dan berjalan di sisinya dan aku dapat dengan lugas mengatakan semua pikiranku padanya sama seperti dia mengatakan semua pikirannya padaku.

"Aku sudah memilih lagu. Naruto-kun." Kataku dengan tegas. "Berhenti berharap. Sheila on 7."

Naruto tampak ragu sebentar mendengar lagu pilihanku. "Kau yakin?" tanyanya memastikan.

Aku mengangguk pelan. "Ya." Jawabku tegas. Dia menatap mataku sebentar, mencoba menebak apa yang ada di dalam pikiranku.

"Baiklah." Jawabnya sambil mulai memetikkan jarinya di atas senar-senar gitar itu melantunkan nada-nada intro dari lagu yang kupilih. Kubuka bibirku saat gitar itu melantunkan nada yang tepat,

Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar disini
Tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Yang dulu mampu terangi
Sudut gelap hati ini

Aku menyanyikan bait pertama lagu itu dengan seluruh penghayatan yang kupunya. Tak kupedulikan nada-nada yang meleset akibat bibirku bergetar menahan tangis ataupun air mata yag mulai membasahi sudut-sudut mata dua gadis dan dua anak kecil di sana. Aku terus bernyanyi, mengeluarkan keputus asaan yang terpendam.

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan

Kurasakan dua tetes air mengalir di pipi kananku. Aneh, kenapa hanya satu mataku saja yang menangis? Kenapa aku merasa bahagia dan sedih di saat yang sama saat menyanyikan nada itu? Melantunkan kata-kata itu? Seakan-akan jiwaku ikut meresapi setiap lirik lagu indah itu. Ikut menangis dan tertawa di saat bersamaan.

Aku pulang...
Tanpa dendam
Ku terima kekalahanku
Aku pulang...
Tanpa dendam
Ku salutkan kemenanganmu

Tuhan, jika hari ini adalah hari terakhirku menatap wajah mereka, izinkanlah aku kembali padamu tanpa ada penyesalan sedikitpun. Akan kuagungkan namaMu dan kemenanganMu atas nyawaku. Akan kubesarkan dan kulantunkan terus namaMu jika aku dapat berpulang ke sisiMu tanpa perlu menyesali perbuatanku yang telah membuat mereka menangisi kepergiaanmu.

Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukan aku bahagia
Kau tunjukan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita

Jangan biarkan mereka menangisi aku, Tuhan. Jika perlu hapuskanlah kenangan mereka tentangku. Aku tak ingin mereka menangis mengingat ukiran manis yang tercipta bersamaku. Aku tak ingin mereka terus hidup denganmelihat bayangan keberadaanku di sekitar mereka.

Aku pulang...
Tanpa dendam
Ku terima kekalahanku

Aku mengaku kalah, aku harus mengakui kalau aku menyerah untuk melawan menghadapi takdirku. Aku tak peduli jika Kau jebloskan aku dalam neraka terdalam asal kau bawa mereka yang telah bersamaku ke surga tertinggi. Ke tahta terindah yang Kau miliki, sayangilah mereka, karena kebahagiaan mereka adalah kemenanganku. Kemenangan yang jauh lebih indah dibandingkan kemenanganku saat menghadapi malaikat mautMu.

Rebahkan tangguhmu
Lepaskan perlahan
Kau akan mengerti
Semua...

Kudengar Naruto menyanyikan bagian yang biasa dinyanyikan perempuan dalam versi originalnya sambil menatapku dalam-dalam, mencoba membagi harapan yang baik dia ataupun aku tahu bahwa itu adalah sesuatu yang sulit. Harapan untuk aku tetap hidup.

Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat

Kuselesaikan bait terakhir dengan air mata jatuh. Mata kiriku pun kini basah. Aku tak peduli jika nanti di bawah mataku akan ada kantung mata sembab berwarna kehitaman ataupun suaraku yang kian serak. Aku tak peduli jika emosi yang kuat ini dapat membunuhku. Aku tak peduli! Aku tak peduli!

Kulihat Sasuke merangkul pundak Sakura mencoba menenangkan isakan gadis itu. Sementara di samping Neji yang tetap menatap lurus padaku meski air mata jatuh teratur di wajahnya ada Ino yang berjongkok sambil menutup wajahnya agar isakan keras tak terdengar keluar. Moegi dan Konohamaru memeluk lenganku lemah sambil menangis dan setengah meraung. Di sudut ruangan Sai berdiri tegak tanpa menangis atau apapun namun kuperhatikan senyum beku di wajahnya menghilang digantikan wajah tanpa ekspresi datar yang menakutkan. Namun di atas semua itu kulihat Naruto tersenyum pelan sambil membelai rambutku lembut.

Aku mahluk yang berbahagia Tuhan, tak peduli jika keluargaku mengacuhkanku. Tak peduli jika teman sekelasku membullyku. Tuhan, katakanlah jika aku adalah orang yang egois, kenapa tak pernah kusadari jika aku dikelilingi begitu banyak orang yang peduli padaku.

"Mukamu jelek kalau sedang menangis." Sebuah kata-kata kasar membuatku melayangkan pandangan mata mengancam terbaikku pada makhluk pucat yang masih setia di sudut ruangan. "Kau memang bodoh, kau pikir kalau kau mati semua akan berakhir begitu saja? Konyol. Dokter-dokter itu pasti akan meratap karena tiket pengakuan untuk mereka sudah hangus. Sebagai kelinci percobaan yang baik seharusnya kau bisa bertahan hidup kan?"

Aku menggeram singkat, "Kalau begitu berikan aku satu alasan untuk bertahan hidup darimu. Aku tak merasa rugi jika harus tak melihat wajah menjengkelkanmu lagi, kok." Dengusku dengan nada kesal.

"Kalau kau bertahan hidup, aku akan membatalkan pertunangan kita."

"…"

"…"

"…"

"…"

Hening…

"APA?!" ternyata bukan Cuma aku saja yang berteriak kaget. Ino dan Sakura ikut bersamaku bertanggung jawab jika ada beberapa lansia yang mati serangan jantung mendadak karena koor suara kami.

"Aku akan membatalkan pertunangan kita, bagaimana?"

Aku mencoba menenangkan diriku karena kata-kata yang terlontar dengan ringan dari bibirnya. "Tampaknya kau sudah berhasil menambahkan satu lagi alasan untukku agar tetap hidup." Aku memberi jawaban, kututup bibirku selama beberapa menit mencaoba menyelami kedalaman pikiran sepasang mata suram di hadapanku. Kami memang menjalin hubungan secara terpaksa. Pertunangan atas dasar keluarga dan bisnis. Namun melupakan waktu seumur hidup yang dijalaninya dengan status sebagai tunanganku itu tak mudah. Sama seperti aku yang tak akan pernah lupa jika aku pernah memiliki dia sebagai tunanganku. Seuntai kata meluncur dari bibirku dengan nada penyesalan terdengar jelas di sana. "Maaf."

"Tak ada yang perlu ku maafkan. Prioritasku adalah membahagiakanmu." Katanya sambil pergi meninggalkankan ruangan tempatku dirawat. Sebelum keluar dia sempat menoleh sebentar padaku, "Kau harus bertanggung jawab atas memar yang nanti kuderita, Hinata."

Aku menelan nafas. Tak diragukan lagi satu atau dua pukulan pasti akan bersarang di tubuh pemuda itu saat bicara pada ayahnya.

"Sai!" kudengar Naruto memanggil tunanganku mencegahnya pergi. Tanpa menunggu Sai membalikkan kepala, dia berkata, "Selama ini aku diam saja karena kau tunangannya. Tapi, nanti… izinkan aku mengambil Hinata."

Sontak wajahku memerah. Kutatap punggung Sai lekat-lekat saat pemuda itu berjalan pergi sambil melambaikan tangan.

Selamat tinggal Sai.

Selamat tinggal, tunanganku.

Aku akan memulai hidupku yang baru. Kali ini jika Tuhan tetap mengizinkanku untuk hidup, aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dan ini terjadi karena dirimu juga. Aku tak akan melupakanmu selamanya, Sai. Terimakasih.

Kutatap wajah sahabat-sahabatku dengan sebuah tatapan yakin. "Tunggu aku kembali."

.

.

.

Normal POV

"Tunggu dulu, Naru-nii! Jangan terburu-buru! Kau pikir jarak Konoha-Tokyo selebar jengkal tagan apa?! Aku masih capek tahu!" protes gadis berambut pink muda sambil berlari-lari di belakang kakak lelakinya yang berambut pirang.

"Mana bisa tidak terburu-buru! Ini soal HINATA!" teriak si pirang sambil menarik lengan adik perempuannya agar berjalan lebih cepat. "Kau dengar sendiri kan kata Neji, dia sampai menangis saat mengatakannya! Aku ingin segera melihat Hinata!"

Sakura mengangguk mengerti. "Hinata tak kan kemana-mana, Naru-nii. Dia tak kan bisa kemana-mana. Kau ingat?"

"Hinata… tak kusangka dia akan secepat ini…"

"Naru-nii…"

Di salah satu ruang tunggu kakak beradik itu melihat seorang pemuda berambut coklat panjang berdiri menghadap jendela pintu sebuah kamar dengan air mata menetes dari matanya. Dialah Neji Hyuga. Dari kantung mata yang mengantung di bawah bulan pemuda itu, Sakura menebak setidaknya pemuda cantik itu sudah tidak tidur selama tiga hari, menunggu kabar baik datang dari adik sepupunya yang baru saja melakukan oprasi.

"Neji! Hinata…" panggil Naruto sambil mensejajari pemuda itu. "Kami langsung datang dari Konoha ke Tokyo setelah mendengar kabar darimu. Tak kusangka secepat ini Hinata akan…"

"Ya, Hinata dia… dia memang gadis yang kuat…" bisik Neji dengan suara parau.

Sakura menepuk pundak sahabatnya pelan. "Istirahatlah, ganti kami yang akan menunggui Hinata. Kau harusnya lega karena gadis itu sudah bebas sekarang."

"Ya. Dia memang gadis yang mengagumkan. Dia hanya tertidur sehari sebelum benar-benar sadar. Aku ingin tahu bagaimana reaksi para Dokter itu ketika sekali lagi Hinata berhasil mengalahkan predksi mereka." Kata Naruto sambil tersenyum saat melihat gadis di dalam ruangan itu tersenyum padanya dengan sorot mata mengatakan.

'Aku telah membuka mataku lagi…'

.

.

.

The End

Sekali lagi saya minta maaf karena belum dapat membalas Review kalian. Tapi terimakasih karena telah menyempatkan diri membaca FF ini.

Arigato…

Mai Narazaki