Kyungsoo menatap Baekhyun dengan pandangan curiga. Lelaki manis di depannya ini hanya menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Kelas mereka tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang mengingat sebentar lagi jam istirahat berakhir. Dan, Kyungsoo, laki-laki bermata doe itu, masih setia menatap Baekhyun, dengan pandangan curiga. Dan tajam.

"Ah wae? Apa yang salah dengan itu, hah?," teriak Baekhyun kesal. Dia seperti diinterogasi oleh polisi karena telah membunuh seseorang.

"TENTU SAJA SALAH. KAU INI BODOH ATAU APA, HAH?," Kyungsoo balas teriak tak kalah kerasnya.

Baekhyun terdiam. Kembali menunduk. Dengan wajah merona dan memerah. Kyungsoo memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas – takut kalau-kalau matanya salah lihat.

"Kau merona? KAU MERONA?," Kyungsoo langsung memegang wajah Baekhyun dengan kedua telapak tangannya dan mengangkat wajah Baekhyun. Dilihatnya wajah lelaki di depannya ini semakin merona.

"Kau menyukainya?," kali ini Kyungsoo berseru kesal.

Baekhyun membelalakkan matanya. "Ani. Aku tidak menyukainya, kok."

"Lalu kenapa tadi pagi kau bergandengan tangan dengannya saat ke sekolah?."

"Itu…," Baekhyun berusaha melepaskan tangan Kyungsoo yang masih memegang kedua pipinya.

"Kyung, bisa kau lepaskan dulu tanganmu? Kita terlihat seperti… kau tahu?," Baekhyun berkata pelan, takut membuat Kyungsoo semakin marah. Oh, sekarang dia terlihat seperti seorang anak yang sedang diinterogasi oleh ibunya karena ketahuan berpacaran. Oke, itu berlebihan.

Kyungsoo mengalah, melepaskan tangannya dari Baekhyun. Dia menghela nafas sejenak sebelum kembali memandang Baekhyun dengan intens.

"Baek, kau tahu kalau aku menyayangimu, kan? Aku mengatakan hal ini karena tidak ingin kau kembali terluka. Chanyeol bukan orang yang setulus itu, dan bisa saja dia memanfaatkanmu untuk suatu hal."

Baekhyun memutar bola matanya mendengar perkataan Kyungsoo. "Ayolah, Kyung. Kau selalu saja berprasangka buruk terhadap orang lain…"

"Chanyeol. Aku hanya berprasangka buruk pada Chanyeol, Byun-ssi," sergah Kyungsoo.

"Jangan memanggilku dengan sebutan Byun-ssi," ujar Baekhyun dengan suara pelan, sambil kembali menunduk, menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul kembali diwajahnya.

"Wae? Apa karena itu panggilan sayang dari si brengsek itu untukmu, eoh?" cecar Kyungsoo kembali. Baekhyun hanya tertunduk diam. Kalau dia menjawab, bisa-bisa Kyungsoo akan menggeplak kepalanya.

Terdengar helaan nafas Kyungsoo. Lalu, berlanjut dengan suaranya yang pelan namun tajam. "Jika terjadi apa-apa denganmu karena si Park itu, jangan mencariku. Dasar keras kepala."

Baekhyun hanya memandang punggung Kyungsoo yang beranjak keluar kelas dengan tatapan kosong.

.

.

.

Author : cherylion

Title : Recognition

Main Cast : Park Chanyeol – Byun Baekhyun (ChanBaek/BaekYeol)

Length : Chapter

Genre : YAOI

Rate : T

"Baek, aku dan Jongin akan ke kedai Bubble Tea, kau mau ikut?," Kyungsoo mensejajarkan langkahnya dengan Baekhyun yang lebih dulu keluar kelas. Dibelakangnya Jongin mengekor kedua lelaki mungil tersebut.

"Aku…"

"Baekhyun akan menemaniku ke toko buku. Ada beberapa buku yang aku butuhkan. Iya kan, Baek?," tiba-tiba Chanyeol muncul dan dengan seenaknya memotong ucapan Baekhyun. Oh, jangan lupakan tangannya yang seenaknya merangkul bahu Baekhyun. Jongin yang melihatnya dari belakang langsung membelalakkan matanya dan langsung berlari ke depan, menghadang langkah Baekhyun, Chanyeol. Dan jangan lupakan Kyungsoo yang menatap mereka semua datar.

"Wae?," Chanyeol memandang Jongin kesal.

"Kau, merangkul Baekhyun? Oh tuhan! Katakan apa yang sedang terjadi disini. Seseorang bisa menjelaskannya padaku?," Jongin menatap ketiga manusia yang berada di depannya.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Dan Chanyeol, bisa kau lepaskan tanganmu dari bahu Baekhyun? Aku melihat bahwa Baekhyun sebenarnya tidak nyaman dengan hal itu," Kyungsoo ikut berdiri disamping Jongin sambil bersedekap.

Chanyeol memandang Baekhyun heran. "Kau tidak nyaman jika aku merangkulmu seperti ini?."

Baekhyun hanya menundukkan wajahnya. Tidak berani menjawab. Salah-salah, dia bisa dipukul Chanyeol lagi.

Chanyeol yang melihat Baekhyun hanya diam, lalu menghela nafas. "Seharusnya kau mengatakan kalau kau tidak nyaman. Maafkan aku, lain kali katakan saja apa yang mengganggumu, oke," Chanyeol mengusak kepala Baekhyun lembut.

Jongin yang melihat adegan itu hanya melongo. Sementara Kyungsoo hanya menatap tajam kearah Chanyeol. Melihat suasana yang sepertinya sangat canggung, akhirnya Jongin berinisiatif bicara duluan.

"Kalau begitu ayo kita pergi. Luhan hyung dan Sehun pasti sudah menunggu disana," ajak Jongin sambil menarik tangan Kyungsoo lembut.

Chanyeol langsung membelalakkan matanya mendengar perkataan Jongin. "Jadi kalian akan pergi bersama Luhan sunbae dan uumm..?."

"Pacarnya. Oh Sehun," sambung Kyungsoo dingin. Dan oh, jangan lupa tatapan tajamnya pada Chanyeol. Chanyeol hanya mengangguk-angguk. Entah kenapa tiba-tiba dia jadi kesal.

"Kalau begitu, ayo kita juga pergi, Baek. Tidak apa-apa kan kalau aku dan Baekhyun ikut?," tanya Chanyeol. Jongin langsung mengangguk dengan semangat.

"Lebih banyak orang lebih seru," sahut Jongin ceria.

"Terserah," dan itu jawaban dingin dari Kyungsoo. Lelaki bermata doe itu langsung berlalu begitu saja, mengabaikan tiga orang lainnya disana.

"Maafkan Kyungsoo hyung ya. Dia memang seperti itu," Jongin menepuk bahu Chanyeol dan segera berlari menyusul Kyungsoo. Chanyeol hanya mengedikkan bahunya. Lalu, lelaki tinggi itu langsung menoleh kearah Baekhyun yang dari tadi hanya diam.

"Kalau begitu, ayo!."

Dan lagi-lagi Baekhyun harus berusaha keras menyembunyikan rona merah di pipinya saat tangan besar Chanyeol menggenggam lembut tangannya. Hangat.

.

.

Baekhyun berusaha untuk memejamkan matanya, namun yang terdengar hanyalah grasak-grusuk dari kasur yang ditidurinya. Dia bahkan sudah mencoba untuk memejamkan matanya rapat-rapat, bahkan sudah memanjatkan doa – hal yang sangat langka dilakukannya – agar dia bisa segera tidur. Namun, kejadian tadi sore masih terbayang di benaknya.

Saat di kedai bubble tea tadi, dia bahkan hanya bisa menundukkan kepalanya, berusaha mengumpat pelan dan mencoba tidak menghiraukan tatapan tajam Kyungsoo yang duduk berhadapan dengannya. Sementara Kyungsoo, sudah sejak awal mereka tiba di kedai tersebut, tidak mengalihkan tatapannya sama sekali dari Baekhyun dan sesekali menatap – atau lebih tepatnya mengawasi – Chanyeol. Luhan yang sudah tahu situasi tersebut hanya menghela nafas berkali-kali sepelan mungkin dan sesekali berbicara dengan pelan kepada Sehun yang tidak peduli dan masih sibuk dengan bubble tea nya. Dan Jongin, satu-satunya orang yang peduli namun bingung karena tidak tahu situasi macam apa ini, hanya melihat semua orang yang ada di meja itu bergantian sambil tetap menyesap bubble tea nya.

Baekhyun bahkan yakin itu adalah situasi tercanggung dalam hidupnya. Tidak ada yang mau memulai pembicaraan, sampai akhirnya Sehun dengan ketidakpekaannya langsung berdiri dan berkata dengan seenaknya bahwa acara kumpul kali ini sangat membosankan dan dia ingin berkencan berdua dengan Luhan. Lalu setelah itu, dia menarik tangan Luhan keluar dari kedai tersebut, meninggalkan mereka berempat dengan tatapan Kyungsoo yang semakin tajam. Sampai akhirnya Chanyeol bilang dia ada urusan mendadak dan menyuruh Baekhyun pulang bersama Kyungsoo dan Jongin.

Tidak. Baekhyun tidak marah. Dia juga tidak kesal. Dia hanya merasa ada yang aneh dengan Chanyeol. Tapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa tidur. Dia mulai merasakan sekujur badannya sakit kembali. Memang luka-luka hasil tonjokan Chanyeol tempo hari hanya tinggal bekas nya saja. Tapi justru saat sudah lebam itulah dirinya merasakan sakit lagi. Baekhyun memutuskan untuk duduk dan meraih gelas air putih yang berada di nakas samping tempat tidurnya lalu meneguknya sampai habis. Saat akan meletakkan gelasnya kembali, dilihatnya ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Dia terbelalak melihat nama pengirim pesan tersebut. Baekhyun langsungmengambil ponselnya dan membuka pesan itu. Dia kembali terbelalak saat membaca isi pesannya. Dia meletakkan ponselnya, menepuk pipinya untuk menyadarkan bahwa dia tidak sedang bermimpi, lalu kembali melihat ponselnya yang masih menampilkan isi pesan dari seseorang tersebut. Baekhyun berusaha menahan senyumannya dan langsung meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan tersebut. Dia kembali membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya sampai sebatas dagu, sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya sambil tetap mempertahankan senyumnya.

Sementara itu, seseorang berdecih pelan di salah satu sudut ruangan. Dia belum tidur dan melihat semuanya. Awalnya dia ingin bertanya apa ada sesuatu saat Baekhyun bangun, namun dia kembali terdiam saat melihat Baekhyun mengambil ponselnya dan tersenyum lebar, lalu setelah itu langsung tertidur.

Dia lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mengendap-ngendap menuju tempat Baekhyun. Mengambil ponsel Baekhyun, dan langsung terbelalak saat membaca pesan tersebut. Dia buru-buru meletakkan ponsel itu kembali dan memandang Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya dia menghela nafas pelan, membenarkan letak selimut Baekhyun dan kembali ke tempat tidurnya.

"Selamat malam, Baek," ucapnya lirih.

.

.

Park Chanyeol

Besok aku akan menjemputmu lagi. Jadi, selamat malam Baekkie~~

.

.

.

Um... well, ini sudah hampir setahun sejak terakhir kali aku update Recognition dan The Memory From The Past. Sejujurnya aku mengalami banyak waktu yang sulit dalam setahun terakhir ini, tapi beberapa waktu yang lalu aku akhirnya memutuskan untuk kembali menulis. Karena itu aku memutuskan untuk coba mengupdate fanfiction baru. Karena sebenarnya cerita Antagonisitu sudah selesai aku garap sampai tamat, karena itu aku bisa mempostingnya setiap hari. Itu hanya awalnya saja untuk membangkitkan kembali intuisi menulisku karena setahun tidak menulis cerita dan hanya menjadi pembaca pasif di ffn ini.

Tapi, sebuah komentar dari Blacknancho membuatku memutuskan untuk kembali melanjutkan Recognition dan The Memory From The Past. Walaupun kolom review pada ceritaku tidak seberapa, tidak sebanding dengan para penulis yang kolom review nya sudah mencapai ribuan, namun aku mengerti, sangat mengerti perasaan para pembaca ataupun silent readers yang kadang merasa kesal jika sang penulis tidak melanjutkan ceritanya lagi. Karena aku juga begitu. Aku belajar satu hal dari sini, bahwa aku harus konsisten. Ketika aku sudah menulis satu cerita, aku harus menyelesaikannya, apapun yang terjadi. Entah itu sesuai harapan pembaca atau tidak, namun setidaknya aku sudah menentukan ending dari ceritaku untuk pacar pembaca.

Mungkin banyak yang sudah lupa dengan cerita ini. Aku maklum. Jika kalian masih ingin membaca, silahkan ulangi lagi dari awal *pasang muka polos* biar ingat alur ceritanya *karena aku pun baca dari awal supaya ingat alurnya lols*. Namun, jika kalian tidak ingin baca lagi rapopo. Aku maklum kok. Aku bukan tipe author yang gila review. Dengar kalian maksa aku buat lanjut cerita ini aja aku udah seneng banget~

Buat kalian yang nunggu The Memory From The Past, ini janjiku: Terhitung seminggu seak hari ini, aku akan update kembali cerita itu, okay? Jadi, tunggu maksimal seminggu terhitung sejak hari ini. Dan aku pastikan The Memory From The Past akan nongol di searching FFN dengan chapter yang baru.

So, mind to review?

Sincerely,
Cherylion