Ada yang pernah baca CCS fanfic; "In the Shoes of a Shopaholic"? OwO
gak ada? Gak apa, Mikan cuma nanya X3
=v=; kabut asap benar-benar bikin susah
Mikan maksain pergi sekolah hari ini, tapi gak belajar dan disuruh pulang lagi -.-'
yang nunggu Cinderella and the Beast sabar dulu ya, Mikan kehilangan catatannya TwT
dan fic Mikan yang lain masih setengah jadi, Mikan lagi beruasaha menyelesaikan semuanya satu-satu
Discalimer: kalau Mikan punya Vocaloid maka kabut asap akan menghilang sekarang juga "=A=/
Chapter 2: Pertemuan dengan takdir
Gaia, Derio Village, Kagene mansion.
Mansion megah itu terlihat cerah dan ramai di tengah sunyinya malam. Semua orang yang berada di desa berkumpul dan berpesta di sana. Menyambut pernikahan anak pertama dari keluarga Kagene yang terpandang, Kagene Rinto.
Semua makanan yang dihidangkan dimakan dengan lahap. Ratusan gelas minuman telah habis. Orang-orang tertawa dan menari bersama. Semuanya bersenang-senag. Tak ada seorangpun yang hanya berdiam diri.
Kecuali satu orang.
Di salah satu kamar di mansion Kagene. Seorang gadis muda hanya duduk di jendela besar yang menghadap langsung ke tempat dimana pesta digelar. Sinar bulan menerpa tanah dan juga tubuhnya membuat dirinya terlihat bercahaya. Dia menutup mata dan menikmati tawa bahagia orang-orang dan musik indah yang mengalun. Senyum pahit terpatri di bibirnya.
"Aku ingin keluar..." bisiknya. Cukup untuk di dengar oleh dirinya sendiri.
"Maaf, ayah dan ibu takut orang-orang akan ketakutan melihatmu."
Gadis itu menoleh, senyum pahitnya telah berganti menjadi senyum bahagia saat melihat kedua kakak lelakinya dan juga pengantin wanita dari kakak tertuanya datang mengunjunginya. Gadis itu berdiri dan membungkuk singkat pada ketiga kakaknya. Dress berwarna cream yang dipakainya menyapu lantai karena begitu panjangnya pakaian itu.
"Aku mengerti Rinto-niisan, Rei-niisan..." ucapnya pelan.
Gadis itu berjalan menuju kakak tertuanya dan memeluknya erat. "Selamat atas pernikahan Rinto-niisan. Aku senang Rinto-niisan bisa menemukan jodoh yang sangat cantik." pujinya. Sang pengantin wanita tersipu.
Rinto balas memeluk adiknya. Berbeda dengan adiknya yang tersenyum, Rinto justru berwajah murung, pelukannya pun sangat erat seakan tidak ingin melepaskan adik bungsunya ini. Di belakangnya, Rei dan juga sang mempelai wanita hanya menyaksikan drama kakak-beradik itu dalam diam.
"Besok aku akan pergi jauh. Haah, seandainya aku bisa tetap tinggal disini."
Adiknya segera menggeleng."Tidak. Kamu punya keluarga baru dan kerajaan yang membutuhkanmu. Lenka-nee telah meninggalkan keluarga dan kerajaannya terlalu lama. Lagi pula ada Rei-niisan yang menjagaku.
Rei mengangguk setuju. Tapi Rinto tetap kelihatan tidak yakin. Gadis itu melepaskan pelukannya dan memeluk singkat Lenka, sang mempelai wanita. Lenka terkejut dan sedikit takut, dia bahkan tidak sempat membalas pelukan adik iparnya itu.
"Kuharap kalian menjadi suami istri yang baik, dan saat kalian mengunjungi kami lagi akan ada mini Rinto dan mini Lenka." godanya.
Rinto tersipu, begitu pun Lenka. Adik bungsunya itu tertawa melihat reaksi kakaknya yang sangat jarang terlihat itu. Rei bahkan tersenyum kecil tanpa seorang pun yang menyadari.
"Rin!" wajah Rinto merah padam dan dia sama sekali tidak dapat menyembunyikannya.
Rin, adik bungsunya itu terus saja tertawa selama beberapa menit. Setelah itu dia melambaikan tangan pada mereka dan tersenyum manis.
"Aku tidak apa-apa, Rinto-niisan. Aku memiliki Rei-niisan, otousan, okaasan, para pengawal dan ini." Rin menepuk pahanya. "Aku akan baik-baik saja." lanjutnya.
Rinto melihat Rin dalam jangka waktu yang lama, laku mendesah pasrah. Dia mengangguk perlahan. Suara seorang wanita tua terdengar dari balik pintu memanggil sang mempelai wanita dan pria.
"Besok kami akan pergi pagi-pagi sekali. Aku ingin kau hadir untuk mengantarku."
Rin mengangguk. "Aku akan datang meskipun nyawa taruhannya."
Rinto memandang imoutonya sekali lagi dengan tatapan sendu. Dia lalu berbalik dan keluar dari kamar Rin sambil menggenggam erat tangan istrinya. Kini tinggallah Rin berdua saja dengan Rei.
"Aku ingin ke taman belakang." Rin berkata pelan. Cukup pelan untuk didengar Rei.
"Tapi Rin-"
"Tidak akan ada yang akan menemukanku di sana. Kau tidak perlu terlalu khawatir." Rin berkata sebelum Rei sempat protes. Dia tau kalau kakaknya sangat menyayanginya, tapi mendengar ceramah Rei setiap dia berkata ingin keluar dari mansion mereka cukup membuatnya sakit kepala. Orang-orang yang mengatakan Rei itu 'irit bicara' dan 'pendiam' jelas tidak tahu apa-apa.
Rei melihat adiknya meloncat keluar dari jendela kamar dalam diam. Manusia normal pasti kaget dan segera berlari menuju jendela untuk memastikan keadaan Rin, mengingat kamar ini berada di lantai 3. Tapi Rei tidak menunjukkan apapun. Dia berjalan pelan menuju jendela saat melihat Rin melayang di udara dengan sepasang sayap putih di punggungnya.
"Jangan pulang larut malam lagi." pesan Rei.
Rei melihat mata adiknya, matanya yang indah itu, terus berubah dan berubah warna membuat Rei pusing setiap kali menatap dalam mata Rin. Tapi di balik matanya yang penuh tipuan itu Rei tahu bahwa adiknya adalah gadis polos dan jujur.
Rin mengangguk dan mencium kening kakaknya. Lalu segera terbang menuju hutan pinus yang tak jauh dari mansion Kagene. Dia sampai di tepi hutan dalam waktu 10 detik. Disana terdapat reruntuhan taman yang ditinggalkan. Senyumnya mengembang saat melihat taman yang terselubung oleh puluhan pohon pinus itu. Dengan anggun dia mendarat di rerumputan. Sayapnya segera berubah menjadi kelopak bunga sakura dan menghilang saat kakinya menginjak tanah berumput.
Rin mengelilingi pancuran tua yang telah kering di tengah taman. Dia ingat saat pertama kali dia menemukan taman ini. Saat itu dia masih berumur 8 tahun. Salah satu maidnya yang baru bekerja padanya menggunjing dirinya dibelakangnya dan Rin tanpa sengaja mendengar. Kata-kata yang diluncurkan wanita muda itu padanya membuatnya sedih dan lari dari rumah.
Sejak kecil Rin tahu dia bukan anak biasa. Dia bahkan tidak termasuk dalam ras manusia seperti keluarganya. Tidak ada yang tau bagaimana manusia bisa menghasilkan seorang skizard. Dan kata-kata Allen sebelum mati membuat dia ditakuti dan terancam dibunuh. Untung saja keluarganya menyayanginya dan berusaha sekuat tenaga melindunginya dari orang-orang. Mereka memperlakukannya seperti anak biasa, memanjakannya dan menyayanginya seperti seharusnya, membuat Rin merasa bahagia.
Dan saat mendengar maid itu mengatainya sebagai 'iblis' dan 'skizard pembunuh' membuat luka lama di hati Rin terbuka kembali. Dia pun lari dari rumah dan berakhir di hutan pinus di belakang dia menemukan taman ini, bentuknya sangat jelek, tidak teratu dan kotor. Air pancuran yang kering di tengah-tengah taman kehilangan patungnya, temboknya retak di berbagai sisi, bunga-bunga dan rumput liar tumbuh sesuka hatinya. Dan lantar marmernya kotor. Sejak pertama kali Rin melihatnya, dia merasa terpesona. Sejak saat itu Rin selalu datan dan merawat tempat ini sebagai kegiatan untuk menghabiskan taman itu terlihat lebih indah, teratur dan bersih.
Rin memetik sekuntum mawar dan menghirup aroma manis dari bunga merah itu. Sejak kecil Rin percaya taman ini dibuat untuknya. Rin sangat terhanyut dengan kedamaian tempat ini hingga dia tidak menyadari seseorang atau seruatu mengintainya dari belakang. Rin baru tesadar saat sepasang tangan memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Tawa dark menggema di telinga Rin saat orang itu menyibak rambut Rin ke belakang.
"Gadis manis, tidak baik berada sendirian di sini. Tapi tidak apa, kau akan menjadi makan malam yang lezat bagiku."
'Vampir!' terik Rin dipikirannya.
'Oh, kami sama, kenapa kau mengirimkan monster padaku?' Rin menutup mata dan berteriak saat taring-taring putih dan tajam itu menusuk kulit lehernya.
"GAH!"
Rin jatuh terduduk saat orang itu melepaskannya. Luka yang baru saja terbuat segera mengering dan menutup. Sayapnya yang tadinya hilang dan muncul dan melindunginya dari orang itu.
Rin melihat orang itu terduduk dan terbatuk- batuk, darah keluar dari mulutnya, Rin tidak tau apakah itu darahnya atau pria itu. Jubah hitam yang dikenakannya bersinar, dan entah dari mana bulu-bulu berwarna hitam muncul dan menyatu diatasnya menjadi sepasang sayang hitam. Rin tercengang.
"Skizard," bisiknya.
Mata yang tajam itu melihatnya. Dia mendesis.
"Kau juga skizard."
