Aka-chan to Boku!
A Katekyo Hitman Reborn! Fanfiction
By : Nekomois
Disclaimer:
Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira
Baby and Me © Prime Entertainment
Warnings:
Hints Shounen-ai. AU. Melenceng dari EYD. Kemungkinan jayus dan abal.
Berasa mual? Segera klik tombol back sebelum telat!
Enjoy~
Pagi hari yang cerah itu masih menyisakan udara segar untuk dihirup para insan yang baru saja menjejakkan langkahnya ke luar dari peraduannya, seperti Asari dan Knuckle ini. Keduanya berjalan riang ke luar dari kos mereka setelah dapat mandat dari Giotto, untuk membeli barang-barang kebutuhan buat bayi yang ditemuin sama doi kemarin.
Karena supermarket terdekat itu masih berjarak puluhan kilometer, mereka memutuskan buat mampir ke pangkalan ojek terdekat.
"Bang, bang, ngojek dong! Ke Vongomaret!" Ucap Knuckle sambil noel-noel si abang ojekan.
Abang ojekan yang rambutnya udah ubanan semua padahal masih tergolong muda itu menoleh. "Oh, oke," melihat ada dua pelanggan, si abang ini membangunkan patner ngojeknya yang masih molor di sebelahnya. "Chi, Shoichi, noh ada pelanggan."
Si rambut merah itu masih nggak bergeming.
"Shoichi-kun~"
Masih tetep anteng.
Si abang ini lalu menghela nafas, "yaudahlah, kalo gitu bonceng bertiga aja ya," katanya.
"HAH! KALAU KENA TILANG GIMANA?" Tanya Knuckle nggak nyante.
"Nggak bakal, yang penting pake helm," balasnya dengan absurd, sambil menyodorkan helm ke Asari dan Knuckle. Mereka pun menyamankan helm itu di kepala masing-masing.
Di tengah-tengah aktivitas ini mata Knuckle menangkap sosok Daemon yang berjalan ke arah mereka. "HOI DAEMOOON, MAU KEMANAAA?" sapa Knuckle dengan penuh capslock.
"Nufufu," respon Daemon sambil melengos, pura-pura nggak kenal.
Setelah Daemon mendekat, dia melihat duo di pos ojekan itu dengan penuh rasa penasaran.
"Nufufu, kalian nggak salah pakai helmnya?" tanyanya dengan mata yang makin memincing.
"Hah? Salah apanya?" Asari merespon sambil meraba-raba helmnya, memastikan kalau udah terpasang dengan benar.
"UDAH BENER NIH!" respon Knuckle.
"Helm itu kan buat ngelindungin otak, nufufu," jawab Daemon sambil kibas poni. "Kalian tuh harusnya pakenya di sini nih," tambah Daemon sambil menunjuk dengkulnya.
Dan Daemon pun berlalu.
"EKSTRIM!"
Kamar mandi di kos kecil di sebuah gang terpencil itu diwarnai oleh tangisan darah oleh remaja pria bertampang ganteng dan berambut blonde yang tak lain dan tak bukan adalah Giotto. Mau bagaimana lagi? Saat ini dia lagi ada di tempat bersangkutan bersama bayi yang baru boker, Tsuna.
"Hiks, apa salahku, apa salah ibuku?" dendang Giotto terisak-isak sambil membuka popok si bayi dengan tampang nggak rela. Bau semerbak langsung menyapa Giotto waktu popok itu terbuka seutuhnya. 'Hiks, anak ini dikasih makan apa sih sama bokap nyokapnya?' batin Giotto ngenes.
Setelah bermenit-menit perjuangan berdarah-darah itu, Giotto langsung tergeletak tak berdaya di depan kamar mandi. "G..." ucapnya lirih dengan tenaga terakhirnya.
Mendengar panggilan temannya yang nggak biasa itu, G langsung tanggap dan berlari ke arah sumber suara. Alangkah kagetnya si G melihat kondisi Giotto yang sungguh menggenaskan.
"Woi! Giotto! Giotto!" G menggoncang-goncangkan tubuh Giotto.
Mata Giotto yang tidak fokus itu malah terarah ke luar jendela, "wah, langitnya bagus ya." Ucapnya mulai ngelantur.
G yang sadar akan kemungkinan adanya efek sakau terselubung dari bau boker Tsuna langsung memutar otak buat mengembalikan Giotto ke kondisi semula.
'Aha!' Lampu neon muncul dengan ajaib di atas kepala G.
"ALAUDE! GIOTTO BIKIN JEMURAN LAGI DI DALEM KOSAN!" teriak G dengan absurdnya.
Alaude yang mendengar itu langsung keluar dari kamarnya mencari tersangka dan mendaratkan bogem mentah di mukanya.
DUAGH
"Ugh, ada apa ini?" Giotto terhuyung-huyung setelah terlempar beberapa meter gara-gara bogem dahsyat Alaude. Si pelaku pemukulan melenggang balik ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
BRAAK
"Lo udah sadar, Giotto?"
"Eh?"
"Lo tadi sempet tepar gitu di depan kamar mandi," jelas G.
"Oh," respon Giotto singkat sedikit roaming sambil mengambil Tsuna yang tadi ketinggalan di dalem.
#Meanwhile, di luar kosan
Asari dan Knuckle sudah kembali dari acara shopping mereka dengan membawa dua kresek hitam besar yang masih ditambah kardus-kardus besar yang memenuhi bagian depan ojek. Anehnya dengan muatan berlebih yang nggak masuk akal itu, mereka bisa kembali dengan selamat dan sehat walafiat.
"Bang Byakuran! Berapa nih?" tanya Asari dengan berbinar-binar.
"Seikhlasnya aja," jawab abang ojekan yang ternyata namanya terlalu kece untuk jadi tukang ojek ini, berusaha menampilkan imej baik hati, lumayan lah buat nambah langganan, pikirnya.
Gocengan pun melayang dari tangan Asari, "makasih ya bang!" ucapnya riang sambil berlalu.
Byakuran menatap horor duit goceng yang sudah ada di tangannya itu.
"HOI, KAMI PULAAANG!" teriak Knuckle membahana.
Giotto dan G melirik ke arah datangnya suara itu, dan melihat Asari dan Knuckle yang membawa kardus-kardus dan plastik-plastik yang nggak main-main jumlahnya.
"ITU BELANJAAN?" teriak G horor.
Asari memberikan dompet Giotto yang sudah lunglai itu kembali ke sang pemilik. 'Ah, duitku...' ratap Giotto.
"Oh ya, aku sekalian mau ngampus ya!" Teriak Knuckle yang berlari ke kamarnya dan mengambil tas rangselnya. Giotto melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 08.00 itu.
"Eh, aku jugaa!" kata Giotto, yang kemudian memandang naas ke arah Tsuna yang masih di gendongannya itu.
"G, nggak ada kuliah kan? Tolong urusin Tsuna dong," ucap Giotto sambil mewek.
"OGAH! Gue gak tahu cara ngurusin bayi!"
Giotto membalasnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Hahaha, kalau gitu aku urusin aja!" ucap Asari tiba-tiba.
"HAH! Nggak apa-apa nih?" jawab Giotto, "kamu emang sahabat sejatiku, Asari!"
"Lo nggak kuliah, emangnya Ri?" Bukan, nggak ada tokoh yang namanya Riri di sini.
"Aku kan udah di DO!" jawab Asari dengan ekspresi bahagia yang sangat tidak sinkron sama kata-kata yang baru aja diucapin.
"HAH! SEJAK KAPAN!?"
"Oh," respon G singkat sambil memandang Asari dengan penuh penghinaan.
Dan dengan itu Tsuna pun sukses berpindah tangan dari Giotto ke Asari.
"Bye Giotto, Knuckle! Belajar yang bener ya!" Kata Asari.
"WOI, NGACA!"
Asari dan G sedang duduk-duduk santai di depan TV yang ada di ruang tengah itu. Asari memangku Tsuna sedangkan G sibuk memindah-mindah channel TV. Tapi saat-saat tenang coretdanromantiscoret itu runtuh seketika gara-gara tangisan Tsuna.
"HUUEEE! HUEEEEE!"
"Waduh, ini anak kenapa ya?" Tanya Asari kebingungan.
"Boker lagi kali?" Respon G acuh tak acuh.
"Nggak tuh." Jawab Asari setelah ngecek.
"Laper kali?"
"Oh ya!" Jerit Asari, "dari kemarin belum di kasih apa-apa ya?"
"Untung nggak mati." Kata G dengan ngawurnya.
"Ya udah, aku beliin nasi bungkus dulu," kata Asari sambil melangkah ke arah pintu keluar.
G terbelalak, "BUAKA! Bayi ompong kayak gini lo suruh makan nasi!"
"Oh iya ya, lupa," Asari mesam-mesem.
"Pantesan lo di DO," kata G dengan muka sangat merendahkan.
"Hahaha."
G facepalm, "ya udah sana bikinin susu," kata G datar. Asari pun mulai mengobok-obok kresek hasil belanjaannya dengan Knuckle tadi pagi. Dia melenggang ke dapur setelah menemukan botol dan kardus susu bayi.
G pun melanjutkan acara pindah-pindah channel TV dan misuh-misuh saat nggak menemukan acara yang beres.
"Nufufu, mana Tsuna?" terciumlah aroma buah-buahan segar dari arah pintu.
"Udah deh semangka pedo, nggak usah macem-macem, entar lo dibokerin lagi," kata G.
"Apa katamu, G?" Daemon nggak terima dan tetap mendekati Tsuna.
"Nufufufu," Daemon memangku Tsuna sambil berusaha menahan nosebleed yang udah di ujung hidung.
"HUEEEEE!" Merasakan aura kepedoan Daemon, Tsuna tentu saja makin rewel. Daemon tetap kalem dan berusaha menenangkan Tsuna dengan menaikkan dan mengayun-ayunkan Tsuna di gendongannya.
'Kehangatan ini... Aroma ini...'
CRUAAAATT
Dan darah pun memuncrat dari hidung Daemon. Daemon tepar dengan muka mesum bahagia (?).
"Nista banget nih orang," kata G dengan tampang datar.
Giotto itu orang yang lurus, warga negara yang baik, bayar pajak tepat waktu, nggak pernah golput, taat lalu lintas. Tapi kenapa dia bisa dapet cobaan segede ini?
Kemarin malam, dia menemukan bayi yang entah bayi siapa, apes banget dia. Ditambah dia harus merawat doi sampai orang tuanya ketemu. Giotto mengacak-ngacak rambutnya lagi.
'Aduh, mau sampe kapan?' Giottto pun hanya bisa meratapi nasib.
Di tengah perjalanannya ke kosan, Giotto menangkap sosok Knuckle yang melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan.
"GIOTTO! GIOTTO!"
Dan mereka pun akhirnya berjalan pulang beriringan.
"Kenapa Giotto? Kau kelihatan suram! Ekstrim!" Knuckle memecah kesunyian.
"Yah, masalah Tsuna itu lho, Knuckle" jawab Giotto sambil menghela nafas.
Mendengar ini Knuckle langsung menepuk pundak Giotto, "anak itu anugrah lo, To."
'Nggak ada gunanya ngomong sama ini orang,' Giotto sweatdrop.
"Kalau dirawat baik-baik, terus anak itu jadi anak yang sholeh, bermanfaat bagi nusa bangsa, kita, G, Asari, Alaude, sama Daemon, sebagai orang tua dia pasti bangga lo!" Knuckle mulai ceramah dengan ngawurnya.
"Hah! Sejak kapan kita jadi orang tua dia!?" Giotto mendelik.
Knuckle masang senyum lima jari.
"Enak aja, aku masih mau nikmatin masa muda! Kagak mau main keluarga-keluargaan, apalagi sama kalian." Giotto bergidik ngeri membayangkan keluarga macam apa yang terbentuk dari lima -minus dia sendiri- orang absurd itu.
Knuckle langsung muram.
"Enak aja itu orang tuanya Tsuna, main bikin aja langsung buang! Kalo kita bersedia ngasuh Tsuna keenakan merekanya!" Giotto mulai mencak-mencak.
"Pokoknya polisi harus cepet nemuin orang tua bocah itu."
Giotto pun berlalu meninggalkan Knuckle yang masih termenung.
To Be Continued
G: Cuih, gue kira kenistaan kita nggak bakal dilanjutin
Giotto: Iya tuh, liat aja updetan terakhir 2012 men!
Author: Yaudah sih, nggak usah dibahas *galau sambil showeran* tapi tenang aja, cerita ini nggak bakalan discontinued kok, muahahaha *ketawa setan*
G+Giotto: THEDAAAK!
Author notes: Maaf udah nelantarin fic ini, sempet stuck dan yah, kesibukan di real life juga sih. Makasih banget buat semua reviews, alerts, fave, and loves! Kalian yang bikin fic ini balik dari kubur (?), so mind to leave some reviews, again?
